Posted in AU, Chapter, Comedy, Family, Fanfiction, FF : Complicated Fate, PG-15, Romance, Sad, Tragedy

FF : Complicated Fate Part 1 [The Tragedy and First Meet]

wpid-kim-hyerim-request-complicated-fate.jpg

Complicated Fate 

〈 Part 1 : The Tragedy and First Meet 〉

Cast :

Hyerim (OC) as Oh Hyerim || Luhan EXO-M as Xi Luhan || Sehun EXO-K as Oh Sehun || Sulli F(x) as Choi Jinri

Genre : Family, Romance,  Comedy, AU, Sad, Tragedy || Lenght : Multi Chapter || Rating : PG-15 / Teens || Poster By : ZHYAGAEM06 @ Yoora Art Design || Backsound : SM The Ballad Vol.2 – When I was where u were | Taylor Swift – Sad Beautiful Tragic | Romantic J (Juniel ft.CNBLUE Jonghyun) – Love Falls

Summary :

Berawal dengan mendapat beasiswa di Korea, Luhan pun mengantongi misi untuk menemukan adiknya yang hilang 19 tahun lalu di Korea. Di Korea, Luhan bertemu juga jatuh cinta pada pandang pertama pada Oh Hyerim—aktris nan tengah naik daun, pertemuannya dengan Sang Gadis, menghantarkannya mengenal sosok Oh Sehun yang secara tak langsung mengingatkannya akan sosok adiknya. Adapula Choi Jinri yang sangat menyukai Luhan dan berambisi memilikinya. KeempatnyaOh Hyerim, Xi Luhan, Oh Sehun, dan Choi Jinri harus menerima sebuah takdir yang sangat memusingkan. Takdir yang harus mengubah sebuah perasaan, takdir tentang keluarga dan cinta. Akankah keempatnya menerimanya atau menentangnya? Lantas apakah Luhan akan menemukan adiknya?

Previous
Teaser

©2014 HyeKim’s Fanficton Story

“Satu, dua, tiga. Hanya dalam waktu tiga detik, aku jatuh cinta” — Love Rain


Pyeongtaek-si, Gyeongi-do, South Korea

16th April 1995

“Kau ingin pulang ke Beijing sekarang? Baru 4 hari yang lalu kau melahirkan,” ucap seorang pria memakai bahasa mandarin pada wanita yang berstatus istrinya itu.

“Mama menyuruh kita pulang secepatnya setelah kelahiran
Shixun, dan 4 hari lagi bukannya ulang tahunnya Luhan? Kita kan sudah janji merayakan ulang tahun Luhan tetap di Beijing dan secepat mungkin pulang dari liburan kita di Korea ini.” ucap wanita tersebut yang tengah menggendong balita yang baru berusia 4 hari itu.

Pria yang berstatus sebagai suaminya itu hanya menghembuskan napasnya berat, terlalu mendadak baginya untuk pulang sekarang, lagipula sekarang ia dan keluarga kecilnya baru saja berjalan-jalan di daerah Pyeongtaek-si, Gyeongi-do di Korea Selatan hanya sekedar untuk memakan makanan yang ada di sana, membeli barang-barang, mengunjungi rumah mertua atau rumah orang tua istrinya, dan mengelilingi Pyeongtaek.

“Baiklah, ayo kita naik bus dan bergegas menuju Seoul dan mengepak barang kita. Lalu kita pulang ke Beijing,” ucap pria itu akhirnya dan menarik anak laki-lakinya yang baru berusia 1 tahun yang sedari tadi berada digenggaman tangannya.

Bus pun datang, keluarga kecil itu masuk ke dalam bus yang akan membawa mereka menuju Seoul. Saat bus itu melaju, tiba-tiba sebuah truk dari arah berlawanan datang dan sepertinya supir truk itu mengantuk, lantas menyebabkan truk itu berjalan ke arah bus. Supir bus yang terkejutpun langsung membelokan bus serta membuat penumpang bus sedikit terguncang dan sebagian berteriak. Tapi sayangnya, truk itu malah menabrak sisi kanan bus dan membuat bus itu terguling ke jurang yang berada di sisi kiri jalan beberapa kali.

Kyaaaaa!!!” teriakan penumpang bus terdengar.

Kelurga Xi—keluarga kecil itu— mencoba berlindung agar tidak terluka. Tuan Xi memeluk anak laki-laki sulungnya dan ia tampak membungkukan badannya. Nyonya Xi memeluk erat anak laki-lakinya yang baru berusia 4 hari itu dan ia berpegangan pada tiang bus. Makin lama bus itu terguling ke bawah semakin kencang, dan membuat Nyonya Xi tak sengaja menjatuhkan anak balitanya yang terjatuh entah ke mana.

‘Brak!

Brak!

BRAAKKK!!!’

Bus itu berhenti terguling dan banyak korban jiwa yang berjatuhan, dan sebagian hanya luka ringan. Lalu tercium bau asap dari mesin bus, bus itu terbakar. Penumpang bus yang masih sadar pun berdesakan keluar dari bus melalui pintu depan dan pintu belakang bus.

Yak! Hyejin! Cepat keluar!” teriak Tuan Xi pada istrinya yang terlihat sedang mencari-cari anak bungsunya di sekitar bus.

“Shixun hilang!” panik wanita paruh baya itu.

“Cepat keluar! Bus ini terbakar!”

“Tidak! Aku harus menemukan anakku!”

Tuan Xi pun akhirnya memutuskan menarik anak sulungnya —Luhan— keluar dari bus. Luhan tampak terluka dibagian paha sebelah kanannya, dapat dilihat sebuah luka gores dari kaca bus yang pecah dan kepalanya tampak berdarah karena terbentur.

“Kamu tunggu di sini, papa ingin menolong mama,” ucap Tuan Xi dan Luhan hanya mengangguk mengerti.

Tuan Xi langsung masuk lagi ke dalam bus yang bagian depannya sudah terbakar. Ia dapat melihat istrinya sedang berjongkok di dekat tempat duduk nomor 4 dari depan.

“Shixun!” ucap Nyonya Xi yang mendapati Shixun berada di kolong tempat duduk nomor 4 dari depan.

Balita itu menangis dan dapat terlihat bahwa kaki kirinya terkena luka bakar yang tercipta dari kebakaran di bus yang makin lama menyebar ke seluruh bus.

“Ayo ikut mama,” Nyonya Xi pun menggendong Shixun dalam pelukannya. Tuan Xi bernapas lega. Tapi lama kelamaan api mulai menyebar ke arah istrinya.

“Hyejin! Ayo cepat keluar!” teriak Tuan Xi lalu berlari ke arah istri dan anak balitanya.

Ia memeluk dan mendorong tubuhnya bersama tubuh istrinya ke arah jendela di sebelah mereka serta memecahkannya. Merekapun berhasil keluar, Nyonya Xi tampak tergeletak di tanah bersama Tuan Xi yang memeluknya.

“Shixun?” gumam Nyonya Xi lemah. Karena saat meloncat dari jendela bus, Shixun kembali terjatuh karena Nyonya Xi tidak memeluknya sangat erat karena tiba-tiba ia didorong keluar oleh Tuan Xi.

“Shixun hilang.” ucap Nyonya Xi hampir tidak terdengar.

****

“Sudah 2 minggu kalian mencari tapi tidak kunjung juga menemukan anakku!?” bentak seorang pria paruh baya kepada orang-orang suruhannya. Pria itu membetulkan letak kacamatanya dan menghembuskan napas berat untuk menenangkan dirinya.

“Maafkan kami Jaksa Oh, penculik itu sangat handal. Bahkan di CCTV rumah sakit pun kami tidak mendapati rekaman dirinya yang menculik anakmu,” ucap salah satu orang suruhan Jaksa Oh, jaksa yang sangat terkenal se-Korea itu.

“Ingat! Walau kita sudah melapor pada polisi, jangan sampai ketahuan publik! Ditambah lagi jaksa Choi Inhwa, 2 minggu yang lalu dinyatakan kelahiran seorang putri. Dan publik masih mengetahui bahwa istriku masih mengandung.” Jaksa Oh memperingati dengan tegas.

“Baik, sajangmin.” ucap orang-orang itu kemudian pergi dari hadapan Jaksa Oh.

Lagi-lagi Jaksa Oh menghembuskan napasnya kasar. 2 minggu yang lalu istrinya baru melahirkan anak keduanya dan naasnya anak kedua mereka diculik dengan orang yang iri padanya.

****

Sebuah truk yang mengangkut barang-barang tampak melaju di jalur menuju kota Pyeongtaek. Lalu laju truk itu berhenti karena ada kemacetan di depan sana.

Ck ada kecelakaan!” decak supir truk itu.

“Hue… hue….” terdengar suara tangisan bayi. Supir truk itu sedikit terkejut mendengar tangisan bayi pada malam hari seperti ini.

“Bayi siapa itu?” gumamnya dan berusaha meyakinkan mungkin ia salah dengar.

“Huee… huee… huee…” tangisan itu terdengar kembali. Karena penasaran, supir truk itu pun turun dari truk dan berjalan ke arah sumber tangisan tersebut.

Semakin mendekat, tangisan itu semakin jelas, lalu dirinya menemukan seorang balita yang sekitar baru berusia beberapa hari sedang menangis, tubuhnya dibalut oleh kain berwarna biru langit dan baju yang dipakainya juga berwarna sama tetapi sedikit robek, dan terdapat luka bakar di kaki kirinya.

“Ya ampun, kasian sekali dirimu,” ucap supir truk itu lantas mendekat ke arah balita itu dan menggedongnya.

Sang Supir pun membawa balita tersebut masuk ke truknya. Saat lalu lintas di depan sudah mulai lancar kembali, ia melajukan kembali truknya. Tapi dia malah membelokan truknya ke arah kiri, bukannya kanan untuk mengantarkan pesanan barangnya.

Setelah berjalan begitu lama, truk itu sudah sampai di sebuah bagunan kecil dengan halaman yang luas nan terdapat pohon sakura yang besar. Di depan bangunan sederhana itu tertulis papan besar yang bertulisan “Sunny Green”

Supir truk tersebut membawa balita nan digendongnya menuju Sunny Green, setelahnya menekan bel panti asuhan itu beberapa kali, lalu terbukalah pintu panti tersebut oleh seorang wanita.

Annyeong haseyo,” sapa wanita yang tampak masih berusia 20 tahunan itu.

Eo? Sungmin-ssi? Kau mau mengantar barang apa? Aku merasa tidak memesan barang apapun,” ucap wanita itu pada Sang Supir Truk.

Ahniya Hyewon-ah, aku tidak mengantar barang ke sini,” ucap Sungmin.

“Lalu?” Hyewon bertanya, heran.

“Ini, aku menemukan bayi ini di jalan. Tampaknya baru berusia beberapa hari, kasihan sekali.” Sungmin menyerahkan bayi yang berada digendongannya pada Hyewon, Hyewon sedikit terkejut kemudian mengambil alih menggedong bayi itu.

“Ya ampun, bahkan kaki kirinya terluka,” gumam Hyewon menatap bayi itu iba. Bayi yang berada digendongannya tampak sudah tertidur lelap karena lelah menangis.

“Kuharap kau bisa mengurusnya dengan baik.” setelah mengucapkan itu, Sungmin hendak pergi tetapi pertanyaan Hyewon membutanya memberhentikan langkahnya.

“Kau menemukan bayi ini di mana?” tanyanya

“Di pinggir jalan yang tadi sedang ada kecelakaan.” selesai menjawab itu, Sungmin pun langsung pergi untuk mengantar barang pesanan.

****

~19 years latter~

Beijing, China

Seorang pria tampak berjalan gontai menuju rumah yang sudah 20 tahun ia tinggali bersama keluarganya.

“Mama!” sapa pria itu saat memasuki rumah tersebut.

Eoh? Luhan-ahAiguu umma adeul neomu kwiyeopta (anak ibu sangat tampan),” ucap Sang Ibu menggunakan bahasa Korea, karena memang ibunya Luhan adalah asli orang Korea.

“Ahaha mama bisa saja,” balas Luhan menggunakan bahasa mandarin “Umma, kau tahu?” ucap Luhan yang tiba-tiba memakai bahasa Korea.

Mwoya? (Apa)” tanya Sang Ibu penasaran

“Aku mendapat beasiswa di Universitas Dongguk di Korea!” ucap Luhan girang

Eoh? Jinjjayo? Sugehaesso uri Luhannie,  (Eh? Benarkah? Selamat Luhan-ku)” ucap Sang Ibu. Namun, detik berikut, Sang Ibunda menunduk sedih.

“Mama kenapa?” tanya Luhan bingung akan raut sedih ibunya.

“Luhannie sepertinya kau harus tahu satu hal.” Luhan mengerutkan alisnya bingung kemudian ibunya menariknya untuk duduk di sofa.

“Ada apa ma?” tanya Luhan dengan mimik heran.

“Sebenarnya kau bukanlah anak tunggal,”

“Maksud mama?” Luhan tampak semakin bingung.

“Dulu saat umurmu 1 tahun, kau tahu kan kita berlibur ke Korea? Saat itu kita mengalami kecelakaan, dan kepalamu terbentur membuatmu melupakan kejadian itu. Saat itu mama melahirkan adikmu di Korea, dan kita ingin bergegas pulang tetapi kita mengalami kecelakaan dan membuat adikmu hilang.” Luhan mendengarkan cerita ibunya dan tampak sangat tekejut karena mengetahui ia mempunyai adik yang sudah hilang selama 19 tahun.

“Mama yakin adikmu masih hidup, mama yakin sekali, adikmu hanya mengalami luka bakar di kaki kirinya dan mempunyai tanda lahir berbentuk bulan sabit di dada kirinya. Saat meloncat keluar bus pun mama menggendongnya dan tak sengaja menjatuhkannya. Saat mama dan papa melapor untuk mencarinya, polisi tidak menemukannya dan tidak ada tanda-tanda jasad adikmu,” terang Nyonya Xi. Luhan tampak terdiam mencerna semuanya.

“Ma, bila adikku memang masih hidup, aku akan mencarinya,” ucap Luhan dengan tekad bulatnya. Nyonya Xi pun menatap anaknya itu lekat.

“Kau serius?” Luhan menganggukan kepalanya mantap.

“Apa mama mempunyai foto adikku?” Nyonya Xi mengangguk, lekas beliau berjalan menuju kamarnya dan kembali dengan selembar foto balita laki-laki.

“Ini fotonya, nama adikmu adalah Xi Shixun.” ujar Nyonya Xi seraya memberikan foto itu pada Luhan. Luhan memperhatikan foto itu yang sekilas mirip dengannya.

“Aku pasti menemukanmu, Shixun.” gumam Luhan.

****

Tomorrow….

Incheon Airport, South Korea

Hari ini Luhan sudah sampai di negara kelahiran ibunya. Ia menggeret koper dan berjalan santai menggendong tas ranselnya.

“Apakah anda Tuan Xi Luhan?” ucap seorang pria paruh baya.

Nde naya (ini aku),” jawab Luhan

“Ah perkenalkan aku Lee Jaehwan, suruhan ayahmu,” ucap Jaehwan membungkuk hormat dan Luhan pun ikut membungkuk.

“Tuan muda mari kita menuju mobil,” ucap Jaehwan.

Luhan pun mengangguk lantas sibuk memainkan ponselnya seraya membuka inbox pesan, terdapat pesan dari sahabatnya, Jongdae.

 

From : Kim Jongdae
Maaf, aku berangkat ke Korea tadi malam dan tidak berangkat bersamamu. Nenekku yang tinggal di Changwon sedang sakit. Jika kau sudah sampai di Korea, hubungi aku.

Luhan pun menekan tombol reply untuk membalas pesan sahabatnya itu.

 

To : Kim Jongdae
Aku sudah sampai di Korea.

Setelah mengetik pesan tersebut, Luhan langsung mengnekan tombol send.

Annyeong hangguk (Hallo Korea) dan juga, hallo adikku yang kuyakini masih ada dan tumbuh besar di negara ini.” Luhan menggumam dengan tatapan jatuh pada suasana luar yang tersaji melalui kaca mobil.

****

Seoul, South Korea

Hyakkk!! Dasar makhluk albino menyebalkan! Main saja meninggalkanku!” omel seorang gadis sembari memakai sepatu ketsnya dan menalikan tali sepatunya asal.

“Liat saja kalau bertemu dengannya, akan kucabik-cabik muka datarnya itu,” gadis tersebut terus mengomel bahkan saat ia berjalan di tortoar.

Penampilan gadis tersebut bisa terlihat sedikit acak-acakan. Rambutnya yang belum sempat tersisir rapi, tergerai begitu saja menutupi sebagian wajahnya, ia memakai topi berwarna pink, dan tubuhnya berbalut kaos warna putih polos serta dirinya memakai celana jeans panjang, sepatu kets berwarna putih yang sebagian talinya terikat dan sebagian tidak, dia pun membawa tas selempang berwarna putih.

“Kenapa aku harus punya adik sepertinya!? HUH DASAR OH SEH—” omelan Sang Gadis pun terpaksa terhenti tatkala ia menyebrangi zebra cross dan ada sebuah mobil marcedess putih melaju ke arahnya.

Suara klakson mobil terdengar sangat jelas di telinganya, gadis itu menutup kedua telinganya dan mobil marcedess itu pun menabraknya, untung saja tidak kencang dan hanya menyebabkan gadis itu terjatuh di atas aspal dengan kaki yang terluka.

YAK! MICHEOSEOOO! (Heh! Sinting!)” gadis bernama Oh Hyerim itu berteriak keras sembari menatap mobil yang menabraknya.

Sang Pengemudi Mobil pun keluar dan berjalan ke arah Hyerim yang memandangnya dengan tatapan marah.

“Jeoseongham— (maa—)”

‘Buk!’

Belum sempat pengemudi mobil itu meminta maaf, Hyerim sudah memukul wajah pria itu. Lantas Sang Pria menatap Hyerim tapi seketika ia terdiam sekaligus terpana melihat sosok Hyerim.

****

Luhan bersikeras ingin langsung berkuliah di Dongguk University karena ini hari pertamanya. Walau Jaehwan mengatakan sebaiknya ia beristirahat karena baru tadi subuh dirinya sampai di Korea. Tetapi Luhan tetap ingin berkuliah, dan kini pun dengan menggunakan marcedess —yang menjadi mobil pribadinya selama di Korea—, Luhan pun memantapkan tujuan menuju Dongguk University.

Saat berada di perempatan jalan, lampu lalu lintas menunjukan lampu hijau, Luhan pun mejalankan mobilnya dan tanpa diduga adanya eksitensi seorang gadis nan menyebrang begitu saja di zebra cross. Luhan menekan klakson mobilnya, Sang Gadis malahan hanya menutup kedua telinganya dengan kedua tangan dan Luhan pun tak sengaja menabraknya.

YAK! MICHEOSEOOO!” teriakan Sang Gadis menggelegar. Luhan segera turun dan memeriksa keadaan gadis tersebut.

“Jeoseongham—”

‘Buk!’

Belum sempat Luhan meminta maaf, gadis itu sudah memukul wajahnya. Luhan menatap Sang Gadis tapi seketika ia terdiam sekaligus terpana melihat sosok gadis di hadapannya. Cantik, itulah kata-kata yang terbesit diotak Luhan saat melihat gadis di hadapannya yang bisa dibilang sempurna dengan kulit seputih susu, rambut panjang hitam yang lebat berkilauan, tinggi yang semapai, wajah yang sangat manis.

Ck! Satu lagi masalah,” gadis yang berhasil membuat Luhan terpana ini, menggerutu dengan mimik nan tertekuk habis-habisan.

Setelah tersadar akan keterpanaannya, Luhan pun berucap dengan terselipi protesan pada Sang Gadis. “Yak! Kenapa kau memukulku!?”

Gadis bernama Oh Hyerim itu memberi lirikan judesnya pada Luhan seraya merespon tak acuh bin dingin. “Sesukaku.”  lantas dirinya hendak melangkah meninggalkan Luhan, tetapi Luhan menahannya.

“Lihat! Bibirku berdarah! Cepat obati!” ucap Luhan.

Shireo! (Tidak mau) Aku sudah terlambat ke kampus, malah makin terlambat meladenimu,” Hyerim menolak dan melepaskan genggaman tangan Luhan dengan kasar.

“Aku tidak mau tahu, kau harus tanggung jawab!” Luhan bersikeras serta menarik lengan Hyerim lagi.

Yak! Lepaskan!” Hyerim lagi-lagi menepis tangan Luhan. Namun Luhan malah menghalangi Hyerim dengan berdiri di hadapannya.

Yak! Pikyeo! (Minggir!)” Hyerim sedikit membentak Luhan dan merasa jengkel dengan sikap pria di hadapannya ini.

Shireo! (Tidak mau)” Luhan tersenyum jahil dan Hyerim menatapnya sinis.

Neo jugullae? (Kau mau mati?) Aku mohon minggir dari jalanku!” kata Hyerim dengan intonasi dingin dan di detik berikut, ia pun mendorong bahu Luhan dan berjalan cepat-cepat meninggalkan pria itu.

“Gadis yang menarik.” gumam Luhan sembari terkikik. Ia telah tertarik dengan sosok Hyerim yang meskipun terlihat seperti preman pasar.

****

“Ke mana Oh Hyerim? Apakah dia tidak niat melaksanakan orientasi untuk ajaran baru?” gadis bernama Park Subin itu mengomel di ruangan yang berisi senior-senior yang akan melakukan orientasi, menunggu Sang Ketua —Hyerim— datang.

“Mungkin ia kelelahan karena tadi malam sehabis syuting episode terakhir drama Winter Fantasy,” ucap Yoonjo menyahuti omelan Subin untuk membela karibnya, Hyerim.

Yak! Nona Shin! Memangnya hanya dia di sini yang syuting episode terakhir drama Winter Fantasy? Aku juga syuting drama itu, tapi aku hanya kon—sis—ten pa—da wak—tu! Tidak seperti ketua senat yang seenaknya datang ke kampus, seakan kampus ini adalah rumahnya!” ucap Subin tegas serta sinis. Yoonjo hanya bisa terdiam dan menunggu sahabatnya itu datang, karena orientasi tidak akan dimulai sebelum Hyerim datang.

“Lebih baik kita mulai saja orientasi kita walau tanpa Hyerim. Jadi semuanya mari kita ke lapang—”

‘Brak!’

Ucapan Myungsoo selaku wakil ketua senat barusan, terpotong, saat tiba-tiba pintu ruang senat terbuka lebar dan menampakan seorang gadis dengan penampilan acak-acakan. Hyerim —gadis tersebut— tampak mengatur napasnya yang tersenggal-senggal dan menatap semua pengurus senat yang berada di ruangan tersebut.

“Maaf, aku terlambat,” ucap Hyerim sembari mengangkat wajahnya dan tersenyum.

Hyerim meneggakan tubuhnya dan merapikan rambutnya, ia berjalan perlahan karena kakinya masih terasa sakit. Saat berpas-pasan dengan Subin, Hyerim merasa Subin menatapnya dengan mata laser, tetapi Hyerim tidak mempedulikannya.

Aiguuu!!! Kenapa penampilanmu berantakan seperti ini?” Yoonjo mengomel dan Hyerim hanya memasang ekspresi flat facenya pada Yoonjo. “Sini aku perbaiki penampilanmu. Myungsoo-ya, selaku wakil ketua, kau wakili dulu Hyerim karena dia harus bersiap-siap.”

Arraseo! (Baiklah)” jawab Myungsoo, lekas keluar dari ruang senat diikuti yang lain.

“Kakimu juga terluka?” tanya Yoonjo. Hyerim pun hanya mengangguk malas. “Baiklah akan kuobati juga.” Yoonjo berucap.

“Terima kasih, Yoonjo-ya.” respon Hyerim. Rasanya kepalanya pening saat ini dan ia hanya bisa memijat-mijat keningnya saat Yoonjo mengobati kakinya dan memperbaiki penampilannya.

****

“Ahhh!! Kenapa lama sekali sih para senior itu? Hanya ingin membully dan mengasih pengarahan pada kita saja harus selama ini!” runtuk seorang gadis bernama Choi Jinri. Gadis Choi ini tampak sedang mengipasi dirinya dengan kipas lipat yang ia bawa karena terik sinar mentari yang sangat panas.

“Heh! Lihat! Itu Park Subin sunbae! Dia actress idolamu itukan? Actress yang sedang naik daun seperti Oh Hyerim-ssi,” celetuk Jung Soojung —sahabat karib Jinri—, seketika.

Jinri sontak menengokkan kepalanya ke arah senior-senior yang tampak berjalan memasuki lapangan dan menuju atas panggung yang berada di tengah lapangan, tampak Park Subin berjalan dengan anggun dan senyum yang menghiasi wajahnya.

“Hey! Itu Hyerim-ssi!” pekik Soojung saat ia melihat seorang gadis tampak berlari di belakang pengurus senat yang lain. “Dia benar-benar cantik, ya.” puji Soojung.

“Oh Hyerim maksudmu?” ucap Jinri, nadanya terdengar jengkel “Aku tidak suka dengannya! Kau tahukan? Bahwa dia itu seakan dibanding-bandingi dengan Subin unni dan seakan ia lebih sempurna dibanding Subin unni. Dia tomboy dan kadang terlihat seperti preman pasar, cih menjijikan! Terlebih lagi saat aku ke cafe di daerah Myeongdong, aku melihat dia dan Subin unni terlihat seperti rival, aku benci Oh Hyerim!” Jinri berucap panjang lebar sembari melihat Hyerim dengan tatapan lasernya. Singkatnya, dia merupakan anti fan dari Oh Hyerim. Well, hal lumrah bila aktris mempunyai haters, bukan? Apalagi Park Subin —nan natabone idola Jinri— ialah saingan Hyerim di dunia entertainment.

“Ya, terserahmu saja.” sahut Soojung, ia sudah biasa menghadapi sifat sahabatnya yang kekanak-kakanakan itu dan terkadang juga egois.

Annyeong haseyo yerobeun! (Apa kabar semuanya)” sapa Hyerim menggunakan mic saat ia sudah berada di atas panggung, tak lupa dengan senyum manisnya. Penampilannya sekarang lebih rapi, rambutnya yang tersisir rapi dibiarkan tergerai dan dipakaikan bondu berwarna hitam, serta tubuhnya dibaluti dress selutut berwarna biru langit, dan jaket rajut berwarna biru tua.

“Selamat datang di Dongguk University. Perkenalkan aku Oh Hyerim, ketua senat di universitas ini,” ucap Hyerim dan tampak beberapa mahasiswa juga mahasiswi bersorak-sorak menyambut ucapan Hyerim dan Hyerim hanya tersenyum.

“Mungkin kalian sudah tahu siapa aku, eheheh,” Hyerim terkekeh sejenak, “Aku di sini bersama rekan-rekanku selaku pengurus senat akan meng-orientasikan mahasiswa dan mahsiswi untuk tahun ajaran baru.”

“Dongguk University tidak kalah dengan Yonsei University ataupun Korea University. Di sini tersedia berbagai fasilitas yang bisa kita gunakan dan nikmati. Sebagai generasi muda penerus bangsa, kita harus giat dan rajin berkerja untuk memajukan bangsa. Dan Dongguk University bisa menghimbau kalian untuk menjadi generasi muda penerus bangsa dengan berbagai fasilitas yang ada di universitas ini,” orasi Hyerim.

Ditengah orasinya, Hyerim menangkap seorang pria sedang tersenyum padanya dan menggepalkan kedua tangannya, mulutnya seakan mengucapkan kata ‘Fighting!’. Hyerim hanya tersenyum melihat pria itu yang tak lain adalah Sehun, lalu dirinya kembali melanjutkan orasinya.

****

Luhan tampak berjalan tergesa-gesa, dia sudah tahu bahwa ia terlambat pada hari pertama masuk ke Dongguk University. Berkali-kali ia menabrak orang-orang yang dirinya lewati dan ia hanya mengucapkan kata maaf, kemudian lanjut berjalan secepat kilat menuju fakultas seni, Luhan tidak mau mendapat masalah karena terlambat di hari pertamanya.

“Selamat datang di Dongguk University. Perkenalkan aku Oh Hyerim, ketua senat di universitas ini,”

Saat Luhan melewati lapangan utama Dongguk University, Luhan mendengar suara yang ia kenali. Luhan menoleh ke arah lapangan dan mendapati banyak mahasiswa juga mahasiswi baru yang akan diorientasi, pandangan Luhan langsung tertuju pada gadis yang sedang berorasi.

“Mungkin kalian sudah tahu siapa aku, eheheh. Aku di sini bersama rekan-rekanku selaku anggota senat akan meng-orientasikan mahasiswa dan mahsiswi untuk tahun ajaran baru.”

“Dia… gadis yang kutabrak tadi bukan? Yang memukulku sampai bibirku memar seperti ini?” gumam Luhan, dirinya takjub pada gadis yang ia ketahui bernama Oh Hyerim itu. Penampilan gadis itu tampak berbeda dibanding saat bertemu dengan Luhan tadi.

Luhan tampak terpesona pada Hyerim, dia memang sudah tertarik dengan gadis itu saat awal mereka bertemu. Jantungnya saja bahkan sudah mau copot saat melihat Hyerim.

“Dengan demikian saya buka orientasi ini.” Hyerim mengakhiri orasinya dan terdengar tepuk tangan dari beberapa mahasiswa dan mahasiswi. Luhan sedari tadi memperhatikan gerak-gerik Hyerim saat berorasi, ia hanya bisa tersenyum memperhatikan gadis itu.

****

Hyerim menyeka keringatnya dan mengambil botol berisi air mineral dan lantas meminumnya. Lelah, itulah satu kata yang bisa menggambarkan keadaan Hyerim saat ini. Orientasi sudah berjalan selama 2 jam, ia dan anggota senat yang lain sudah memperkenalkan fasilitas yang ada di Dongguk University pada mahasiswa dan mahasiswi baru juga mengajak mereka keliling universitas. Sekarang, para senior sedang melakukan senioritas atau bisa disebut sesi pumbullyan pada junior.

“Kau tampak lelah sekali,” ucap Yoonjo menghampiri Hyerim.

“Ya, aku benar-benar lelah,” Hyerim merespon dengan diafragma naik-turun.

“Hyerim-ah! Ayo kita akhiri orientasi hari ini!” teriakan Lee Byunghee —salah satu pengurus senat— terdengar.

Arraseo,” Hyerim menyahut, lalu berjalan ke tengah lapang serta mengatur napasnya.

Ekhem!” dehem Hyerim membuat para mahasiswa dan mahasiswi yang tadi sibuk sendiri pun terdiam dan siap mendengarkannya. “Terima kasih untuk hadir pada orientasi hari ini dan kurasa sudah cukup. Dengan demikian orientasi hari ini saya akhiri dan kalian semua dibolehkan pulang.” Hyerim berucap.

Beberapa mahasiswa dan mahasiswi tampak bersorak seraya pergi meninggalkan lapangan. Hyerim pun berjalan gontai meninggalkan lapangan sampai sebuah tangan menarik tanggannya. Hyerim menoleh dan tersenyum pada sosok yang menarik tangannya itu.

Nuna, kau lelah?” tanya Sehun dan Hyerim hanya menganggukan kepalanya. “Aku juga cukup lelah dengan orientasi hari ini.” ucap Sehun.

Eoh nuna, kau berkeringat banyak sekali, ckckckckck,” Sehun pun mengambil handuk kecil dari tas ranselnya, lekas menyeka keringat Hyerim dengan handuknya, Hyerim hanya diam diperlakukan seperti itu oleh adiknya, ya adiknya.

Nuna, kau pasti hauskan? Ini minuman untukmu,” Sehun menyodorkan cup berisi white coffee favorit Hyerim pada nunanya itu.

“Terima kasih adikku,” ucap Hyerim sembari menerima cup itu dari tangan Sehun, ia mengacak-acak rambut Sehun kemudian meminum white coffeenya. “Kajja (ayo), kita pulang bersama. Jangan seperti tadi pagi kau main meninggalkanku.” kata Hyerim sembari mencibir.

“Habis nuna lama sekali dan susah sekali bangun pagi.”

Yak! Makhluk albino! Kau harusnya mengerti kenapa aku susah sekali bangun pagi. Baru tadi malam aku selesai syuting episode drama Winter Fantasy dan baru sampai rumah jam 1 pagi.” Hyerim melayangkan jitakan pada Sehun.

“Aaaa!!! Nuna appoooooo!!! (Sakit)”

Hyerim malah terus mengganggu adiknya itu dan tanpa mereka sadari, beberapa pasang mata telah memperhatikan mereka dan yang tidak mengetahui mereka adalah sepasang adik-kakak malah mengira mereka sepasang kekasih. Salah satu yang mengira mereka sepasang kekasih adalah pria yang  berdiri menyender di tiang tembok koridor di sekitar lapangan, pria itu adalah Luhan dan rasanya sakit melihat kemesraan antara Hyerim dan Sehun.

“Eh, Hyerim sunbae dan Oh Sehun itu berpacaran, ya?” tampak seorang mahasiswi yang lewat di depan Luhan, berucap kepada temannya.

Yak! Pabboya! (Bodoh!) Mereka itu adik dan kakak.” imbuh teman mahasiswi itu.

“Benarkah?” mahasiwi itu memastikan. Temannya pun merespon dengan menganggukan kepalanya.

“Whoooaa!! Pantas saja Oh Sehun sangat tampan, ternyata dia adiknya Oh Hyerim sunbae. Adiknya tampan, kakaknya cantik sekali, ibu mereka sangat beruntung melahirkan anak seperti mereka berdua.” ucap mahasiswi itu.

“Dan aku dengar Park Jungshin-ssi adalah adik dari Park Subin sunbae.” sahut teman mahasiswi tersebut.

Luhan tampak tersenyum mendengarkan obrolan kedua mahasiswi yang tadi lewat di hadapannya. Ternyata ia salah paham mengira Hyerim dan Sehun adalah sepasang kekasih.

‘Zeng jing de wo tai guo
Zi si zhi zhao gu wo zi ji
Zeng jing de wo tai sha
Bu dong de ni de xin’

Nada dering ponsel Luhan terdengar, ia langsung mengambil ponselnya yang berada di saku celana jeansnya, ternyata itu telepon dari Jongdae, ia langsung mengangkat panggilan tersebut.

Yeboseyo, (Hallo)” sapa Luhan pada peneleponnya.

Eoh Luhan-ah, aku berada di kantin kampus, cepatlah ke sini, berhubung hari ini orientasi makanya bebas sekali.” terdengar suara Jongdae.

“Kantinnya ada di sebelah mana?”

“Dari lapangan utama kau tinggal lurus saja, nanti juga kau menemukan kantin. Kutunggu kau secepatnya ya.”

‘Pip’

Jongdae langsung memutuskan panggilan tersebut. Luhan hanya mendengus kesal karena sahabatnya itu main saja memutuskan sambungan teleponnya. Luhan pun memasukan ponselnya ke saku celana jeansnya, lekas dirinya berjalan di koridor menuju kantin. Tatkala Luhan berjalan di koridor, terlihat seorang gadis berambut lurus dan pendek sebahu sedang menundukan kepalanya dan fokus pada ponselnya kemudian tanpa sengaja ia menabrak Luhan karena saking fokus pada ponselnya.

‘Brak!’

Tabrakan itu terjadi dan menyebabkan buku yang dibawa gadis tersebut jatuh.

Aiguuu!!” desah Sang Gadis dengan bibir mengerucut.

Luhan dengan sigap membantu mengambilkan buku yang tergeletak di lantai dan memberikannya pada gadis yang ia tabrak.

“Ini bukumu,” Luhan memberikan buku itu pada gadis di hadapannya yang segera diterima Sang Gadis.

Jeoseonghamnida gurigo khamshamnida, (maaf dan juga terima kasih)” gadis tersebut berkata sembari membungkuk hormat dan menatap Luhan yang sedang tersenyum padanya.

“Tak jadi masalah.” jawab Luhan, masih dengan menyungging senyumannya.

Gadis yang nyatanya bernama Choi Jinri itu bergeming di tempatnya. Dirinya seperti terhipnotis saat melihat senyuman Luhan dan waktu seakan berhenti saat itu juga. Jinri menyadari ia jatuh cinta pada pandangan pertama.

To Be Continued

Advertisements

Author:

A tinkerbell who dream to be Luhan's future wendy — Also an amature author, k-drama trash, k-running man freak, eternal ELF, ahjussi and korean actor addict in the same time — Adorable since 2001

33 thoughts on “FF : Complicated Fate Part 1 [The Tragedy and First Meet]

  1. Shixun itu sehun kan? Btw namanya kok xi shixun ya? Aku rada aneh dengernya, trus dibacanya kyk gmn? Lidahku belibet nih. Ehe

    Like

  2. first time gw komen di complicated fate, stlh sblmnya jd sider smp chap 14, krn chap 15 gw males nyari passwordnya, ntar aja.but gw jadi nostalgia. pertama kali baca di blog kak els ini, gara2 di rekomen sm tmn, stlh ngeliat foto mantan yg bikin nangis berderai2 *numpang curcol

    Like

Write ur Love Letter . . . <3

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s