Posted in AU, Chapter, Family, Fanfiction, FF : Complicated Fate, PG-15, Sad, Tragedy

FF : Complicated Fate Part 9 [One Step Closer]

image

Title : Complicated Fate Part 9

Subtitle : One Step Closer

Genre : Family, Romance, AU, Sad, Tragedy

Lenght : Multi Chapter

Rating : PG-15

Author : Kim Hyerim

Cast :

-Hyerim (OC) as Oh Hyerim

-Luhan EXO-M as Xi Luhan

-Sehun EXO-K as Oh Sehun

-Sulli F(x) as Choi Jinri

-Subin Dal Shabet as Park Subin

-Yoonjo Hello Venus as Shin Yoonjo

-Jonghyun CNBLUE as Lee Jonghyun

-Hyewon 5dolls as Jin Hyewon

-Chen EXO-M as Kim Jongdae

-Jungshin CNBLUE as Park Jungshin

-Krystal F(x) as Jung Soojoong

Backsound : SM The Ballad Vol.2 – When I was where u were

“Jinri-ya kamu sudah dengarkan ada event charity untuk lusa?” ucap Soojoong kepada Jinri yang duduk di sebelahnya.

Sekarang keduanya sedang berada di salon langganan mereka. Jinri tampak membolak-balik majalah saat rambut pendek sebahunya sedang ditata oleh pegawai salon.

“Hmm ya aku sudah tahu.” jawab Jinri masih terpaku pada majalahnya.

“Kamu tidak mau menyumbangkan dana atau mengamen untuk panti asuhan dan panti jompo? Aku dengar Semi mengeluarkan dana besar-besaran untuk menyumbang,” ucap Soojoong. Jinri memberhentikan aktifitasnya dan menaruh majalahnya di meja rias salon.

“Memangnya aku harus mengikuti nenek lampir itu huh?! TIDAK! dan tidak akan pernah, untuk hal sumbang menyumbang aku bisa lakukan nanti tanpa mengikuti event charity ini.”

“Jadi… kamu tidak mau ikut event ini?” tanya Soojoong sembari menatap Jinri dari samping.

“Tidak juga sih.” jawab Jinri sembari menatap pantulan wajahnya di cermin. “Aku hanya akan menyumbang dan tidak ikut mengunjungi panti, karena aku tidak pantas untuk itu.”

Soojoong hanya geleng-geleng kepala, saat sudah berhasil berpacaran dengan Luhan. Jinri makin kekanak-kanakan, egois, dan sombong.

“Tapi Oh Hyerim-ssi ikut dalam event ini, masa kau tidak?”

Seketika Jinri meresakan darahnya naik keubun-ubun saat mendengar nama Hyerim, ia jadi ingat kejadian beberapa hari lalu saat Luhan memeluk Hyerim di tempat syuting.

“Jangan bahas dia!” seru Jinri, setelah membayar dan rambutnya sudah beres ditata, Jinri melangkah keluar dari salon sendiri karena Soojoong dijemput supirnya.

To : Luhan oppa

Oppa, kau ingin menemaniku tidak ke sungai Han hari ini? Aku sungguh bosan

Jinri mengirim sms itu pada Luhan sebelum melajukan mobilnya. Tak lama ada balasan dari Luhan yang berisi, Maaf Jinri-ya aku harus mempersiapkan diri untuk event charity dan setelahnya aku harus ke rumah Hyerim untuk menemani adiknya. Maaf

Tangan Jinri sudah terkepal sempurna, Luhan selalu menganggapnya sampah. Setiap ia mengajaknya untuk jalan-jalan, pasti Luhan menolak dengan beribu-ribu alasan. Dan sekarang? Ia menolak karena akan ke rumah Hyerim untuk menemani adiknya.

“Akhhh!!!” jerit Jinri. Ia benar-benar kesal setengah mati sekarang, ia ingin menghabiskan waktu sorenya dengan Luhan, itu saja.

Seketika ponselnya menampilkan wallpaper fotonya bersama Jungshin, foto saat di kedai milkshake tempo itu. Semenjak beredar berita Jinri berpacaran dengan Luhan, ia jarang bertemu dan berhubungan dengan Jungshin, lelaki itu seakan menghindarinya. Bahkan katalk, sms, dan telepon darinya tidak pernah dijawab oleh lelaki itu. Jinri merasakan sebuah kerinduan terhadap lelaki itu.

Jari-jarinya mulai menekan layar touchscreen ponselnya, dan memencet tombol call saat ia menemukan kontak Jungshin. Nada tunggu pun terdengar, Jinri harap Jungshin menjawab teleponnya. Dan harapannya terkabul! Lelaki itu menjawab telepon darinya, jantung Jinri seakan berdetak sangat cepat apalagi saat lelaki itu mengucapkan salam padanya.

“Yeboseyo Jinri-ya?”

Jinri merasa lidahnya kelu untuk berbicara, ia merasa perutnya digelitiki sejuta kupu-kupu dan ia merasa senang saat mendengar suara Jungshin.

“Jinriiiiii????” suara berat Jungshin kembali terdengar membuat Jinri tersadar.

“Apa kau ada waktu sore ini? Ayo temani aku jalan-jalan di Sungai Han, aku merindukanmu.”

Jungshin tampak terkejut dan dadanya bergemuruh cepat, dan Jinri merasakan pipinya panas saat mengucapkan kata-kata itu, ia seakan malu mengucapkannya.

“Ah ya, tentu saja untuk tuan putri yang manja sepertimu aku ada waktu. Ayo kita bertemu di Sungai Han,”

Setelah Jungshin menyetujui untuk bertemu, sambungan telepon itu terputus. Jinri hanya tersenyum-senyum sendiri karena senang akan bertemu Jungshin, ia segera melajukan mobilnya menuju Sungai Han.

***

Hari yang ditunggu-tunggu oleh Luhan pun tiba. Hari dimana beberapa mahasiswa yang beratisipasi mengikuti event charity mengunjungi panti asuhan dan panti jompo. Beberapa diantara mereka boleh memilih ingin ke panti jompo atau ke panti asuhan, dan tentu saja Luhan memilih untuk mengunjungi panti asuhan.

“Kamu tampak sangat gembira,” ucap Jongdae yang duduk di sebelah Luhan.

“Seperti yang kau lihat.” ucap Luhan masih mengembangkan senyum lebarnya.

Hari ini para mahasiswa akan mengunjungi panti asuhan dan panti jompo di Pyeontaek dengan menggunakan mini bus. Ada 2 mini bus, karena para mahasiswa yang mengunjungi panti asuhan dan jompo dipisahkan busnya.

Hyerim tampak baru masuk ke dalam mini bus untuk para mahasiswa yang akan berangkat ke panti asuhan, ia seketika beradu tatap saat mendapati Luhan berada di bangku tengah. Hyerim langsung duduk di bangku paling depan. Kemudian disusul datangnya Yoonjo yang duduk di sebelah Hyerim.

“Sehun jadi ikut rombongan ke panti jompo?” tanya Yoonjo kepada Hyerim yang sedang memejamkan matanya, gadis itu hanya mengangguk sebagai jawaban.

Hyerim merasakan kepalanya pusing, tadi malam ia pulang sangat larut karena terjebak di tempat syuting. Mungkin karena terlalu lelah, Hyerim merasa jantungnya mulai berkontraksi.

“Hah…” Hyerim menghembuskan napasnya, keringat dingin mulai bercucuran dari pelipisnya. Hyerim merasakan napasnya tercekat, dada kirinya terasa nyeri.

“Hye-ah, gwenchana, Hye-ah?” ucap Yoonjo panik sembari menatap Hyerim khawatir. Hyerim merasa tubuhnya oleng ke samping dan untungnya langsung ditahan oleh Yoonjo yang ada di sampingnya.

“Lebih baik kamu tidak ikut, jantungmu pasti mulai berkontraksi lagi kan? Bagaimana kalau kamu pingsan di sana? Aku akan meminta izin pada panitia bahwa kamu sakit.” ucap Yoonjo, Hyerim hanya menggangguk nurut, ia tidak mau pingsan dan jadi merepotkan yang lainnya.

Yoonjo membopong tubuh Hyerim dan membawanya keluar mini bus, setelah meminta izin kepada panitia, Yoonjo membawa Hyerim pulang. Luhan memperhatikannya dari jauh, ia dapat melihat wajah pucat Hyerim, ia mendadak khawatir.

“Hyerim sakit, Yoonjo tadi meminta izin pada panitia,” celetuk Jongdae seperti tahu bahwa pikiran Luhan terarah pada Hyerim.

Luhan terus memikirkan Hyerim selama perjalanan menuju panti asuhan Sunny Green di Pyeongtaek-si, Gyeongi-do. Tapi akhirnya ia memfokuskan pikirannya untuk menemukan adiknya.

“Lu, kita sudah sampai. Ayolah jangan memikirkan Hyerim terus, dia pasti baik-baik saja.” ucapan Jongdae membunyarkan lamunan Luhan. Rombongan mereka memang sudah sampai di tempat tujuan, beberapa mahasiswa pun sudah ada yang turun.

“Ah iya, ayo kita turun,” ucap Luhan. Ia berusaha fokus untuk mencari adiknya sekarang.

Luhan dan Jongdae pun turun dari mini bus, dan  segera melangkah masuk ke bangunan asri yang terdapat plang bertulisan “Sunny Green Orphange”  di depannya, panti asuhan yang terletak di Pyeongtaek itu terlihat tampak asri dengan kebun belakang yang luas dilengkapi taman bermain anak-anak.

Woah~ panti asuhan ini sangat nyaman,” takjub Jongdae, lalu ia mulai mengambili gambar panti tersebut dengan kamera digital, karena ia ditunjuk sebagai dokumentasi oleh panitia.

Luhan pun mengikuti rombongan yang lainnya memasuki panti dan memberikan sumbangan, dan kemudian memberikan motivasi untuk anak-anak panti. Luhan hanya tersenyum simpul melihat wajah anak-anak panti yang tersenyum ceria walau mereka sudah tidak memiliki orang tua,  Luhan jadi teringat pada adiknya yang hilang yang mungkin bernasib sama dengan anak-anak panti itu.

Sillyehamnida (permisi), apakah anda pemilik panti ini?” ucap Luhan kepada seorang wanita yang berumur sekitar 30 tahun yang berdiri di sampingnya.

Wanita itu membalikan tubuhnya ke arah Luhan dan menatap pemuda itu. “Ya, saya Jin Hyewon kepala panti Sunny Green, ada yang bisa saya bantu?” tanya Hyewon dengan senyum ramahnya.

“Sebelumnya maaf, bisakah saya melihat-lihat daftar anak panti yang tinggal di sini?” ucap Luhan dengan tatapan berharap. Hyewon tampak berpikir sejenak lalu menganggukan kepalanya.

“Tentu saja boleh, ayo ikut denganku,” ucap Hyewon lembut. Dengan senyum lebar, Luhan mengikuti langkah Hyewon menuju sebuah ruangan.

Saat sampai di ruangan tersebut, Luhan disajikan dengan foto-foto anak-anak panti yang terpasang di sepanjang dinding ruangan. Luhan memperhatikan foto-foto tersebut masih dengan senyumannya, sampai tiba-tiba matanya membelalak kaget saat melihat sebuah figura foto berisikan seorang balita berusia beberapa hari yang sedang berada digendongan Hyewon.

Luhan mengambil figura foto itu dan menatapnya seksama, lalu ia mengambil dompetnya dan mengeluarkan foto Shixun dari sana. Ia mencocokan foto Shixun dan foto balita yang ada di figura tersebut, dan tak salah lagi bahwa yang ada di figura tersebut benar-benar adiknya! Luhan merasakan perasaan sesak dan bahagia diwaktu bersamaan saat ia sudah selangkah menemukan adiknya.

“Apa yang kau lihat, Nak?” suara lembut Hyewon menyadarkan Luhan. Pemuda itu menatap Hyewon dengan mata agak berkaca-kaca.

Omonim tahu balita ini kan? Balita yang hilang saat 16 April 1995, yang mempunyai luka bakar dikaki kirinya dan tanda lahir berbentuk bulan sabit didada kirinya,” ucap Luhan sambil memperlihatkan 2 foto dikedua tangannya pada Hyewon. “Dia Xi Shixun adik kandungku, aku kakak kandung dari balita ini. Bisakah omonim memberitahuku di mana dia sekarang?”

Hyewon tampak terkejut mendegar ucapan Luhan yang mengaku sebagai kakak seorang balita yang pernah ditampung di panti asuhannya. Hyewon menatap Luhan yang memandangnya dengan tatapan berharap, ia tampak menghela napasnya sebelum memberitahu Luhan tentang adiknya.

“Aku tidak bisa memberitahumu tentang keberadaan adikmu. Adikmu baru semalam di panti asuhanku, tapi ia langsung diadopsi oleh salah satu keluarga jaksa terkenal di Korea, keluarga barunya memintaku tidak memberitahukan hal ini untuk menjaga image keluarga mereka,” ucapan Hyewon barusan membuat Luhan menjatuhkan figura yang ada ditangan kirinya, foto Shixun yang ada ditangan kanannya ia remas-remas, ia merasa kosong sekarang.

“Keluarga jaksa?” ucap Luhan sembari menatap Hyewon, wanita itu tampak mengangguk. “Apa aku tidak boleh tahu keberadaan adikku?” Luhan mendesak, Hyewon segera menggeleng.

“Maafkan aku Nak, ini yang terbaik untuk adikmu dan dirimu sendiri. Dulu adikmu dibawa oleh supir truk kenalanku yang bernama Lee Sungmin, ia menemukan adikmu di pinggir jalan yang sedang terjadi kecelakaan, dan kaki kirinya terkena luka bakar. Asal kau tahu, aku sangat kasihan padanya dan sangat bersyukur saat ada orang yang ingin mengadopsinya, apalagi keluarga adikmu sekarang sangat mapan, biarkanlah ia bahagia.”

Luhan mencerna semua penjelasan Hyewon. Pencariannya selama ini membuahkan hasil walaupun hasilnya sangat menyesakan untuknya. Fakta bahwa adiknya selamat dari kecelakaan dan masih hidup belum cukup membuatnya bahagia, karena ia tidak bisa bertemu dengan adiknya dan membawanya pulang untuk berkumpul bersama keluarganya yang sudah lama merindukannya.

Omonim, kumohon beritahu aku keberadaan adikku, aku hanya ingin bertemu dengannya, bila ia sudah nyaman dengan kehidupannya sekarang, aku tak akan meganggunya, tapi izinkan aku untuk bertemu dengannya,” ucap Luhan sembari memohon-mohon dan berlutut di hadapan Hyewon.

Hyewon hanya menatap Luhan iba, dan tersenyum tipis. “Dia diangkat oleh keluarga jaksa terkenal, aku hanya bisa memberitahukan itu, maaf. Dari informasi tersebut kau bisa mencari adikmu,” setelah mengucapkan itu, Hyewon pergi meninggalkan Luhan yang sibuk dengan pikirannya sendiri.

“Hey Lu! Ternyata kau di sini! Aku mencarimu ke mana-mana tahu!” terdengar suara Jongdae yang baru memasuki ruangan tersebut.

Jongdae bingung melihat Luhan yang berlutut di lantai dan menatap kosong ke arah depan.

“Kamu kenapa?” tanya Jongdae seraya menepuk bahu Luhan.

Luhan pun bangun dan menatap sahabatnya itu dengan senyuman miris. Jongdae segera mengantar Luhan untuk duduk di sofa yang disediakan di pojok ruangan.

“Aku menemukan adikku…” ucapan Luhan membuat Jongdae menatapnya antusias, “Tapi sayangnya aku tak bisa menemuinya, dia diangkat oleh keluarga jaksa terkenal, tentu saja aku tak bisa menemuinya untuk menjaga image keluarga baru Shixun.” lanjut Luhan dengan nada sedih, Jongdae hanya menatap sahabatnya iba.

“Yang penting adikmu selamat dan hidup dengan baik,” hibur Jongdae, Luhan hanya mengangguk pelan. Lalu seketika Luhan menatap Jongdae seperti teringat sesuatu.

“Jong-ah, apakah kau bisa mensearching anak-anak jaksa terkenal di Korea yang memiliki anak 1 tahun lebih muda dari kita? Ah aku tidak kepikiran bisa langsung mencarinya lewat internet daripada berkeliling ke kantor hukum.” ucap Luhan

Keurom! Aku bisa mencarikannya untukmu.” Jongdae pun mengambil ponselnya dan mulai menjelajahi dunia maya untuk mencari informasi yang diinginkan Luhan, tak sampai 2 menit ia telah mengumpulkan informasi tersebut.

“Pertama, anak dari pasangan jaksa Park Seungjon dan pengacara Kang Yerin, Park Subin dan adiknya Park Jungshin. Kedua, anak dari pasangan jaksa Choi Inhwa dan istrinya Seo Inkyung, Choi Jinri. Ketiga, kau pasti sudah tahu yang ini, dia mantan kekasihmu tercinta.” Jongdae menatap Luhan jahil sambil terkekeh, Luhan hanya menatapnya tajam.

“Oke, oke. Yang ketiga, anak dari pasangan jaksa Oh Daejun dan desainer Park Seyoung, Oh Hyerim dan adiknya Oh Sehun.” ucap Jongdae membereskan membaca artikel tersebut, karena Luhan terus menatapnya tajam saat ia bergurau tadi.

Luhan terdiam sejenak, ternyata adik yang ia cari berasal dari keluarga yang tidak jauh dari lingkungannya, bahkan semuanya berada 1 kampus dengannya di Dongguk University. Luhan pun mulai berpikir dari 3 kanidat tersebut, yang jelas dan pasti adiknya bukanlah Jinri karena Shixun adiknya adalah lelaki.

Lalu bagaimana dengan Jungshin? Luhan sering mendengar bahwa Jungshin sangat mirip dengan jaksa Park, mungkin saja Jungshin bukan adiknya. Dan yang terakhir, Sehun adik dari Hyerim, lelaki yang selalu menemaninya dan membuatnya merasakan perasaan aneh seakan sebuah ikatan pada lelaki itu. Bahkan dirinya selalu dibilang mirip dengan Sehun.

“Mungkinkah…. Sehun?” gumam Luhan pelan

To Be Countinued

Advertisements

Author:

A tinkerbell who dream to be Luhan's future wendy — Also an amature author, k-drama trash, k-running man freak, eternal ELF, ahjussi and korean actor addict in the same time

13 thoughts on “FF : Complicated Fate Part 9 [One Step Closer]

Write ur Love Letter . . . <3

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s