Posted in AU, Chapter, Family, Fanfiction, FF : Complicated Fate, PG-15, Romance, Sad, Tragedy

FF : Complicated Fate Part 10 [I Think I Love You]

image

Title : Complicated Fate Part 10

Subtitle : I Think I Love You

Genre : Family, Romance, AU, Sad, Tragedy

Lenght : Multi Chapter

Rating : PG-15

Author : Kim Hyerim

Cast :

-Hyerim (OC) as Oh Hyerim

-Luhan EXO-M as Xi Luhan

-Sehun EXO-K as Oh Sehun

-Sulli F(x) as Choi Jinri

-Subin Dal Shabet as Park Subin

-Yoonjo Hello Venus as Shin Yoonjo

-Jonghyun CNBLUE as Lee Jonghyun

-Jungshin CNBLUE as Park Jungshin

Backsound : SM The Ballad Vol.2 – When I was where u were | Byul – I Think I Love You

Hyerim meringkuk-ringkukan badannya di dalam selimut tebalnya, sudah 2 hari ia terjebak di dalam rumah dan disuruh beristirahat penuh. Syukur saja Yoonjo mengatakan dirinya demam ke orang tuanya, bukan mengatakan bahwa ia kembali mengidap jantung koroner.

“Hyerim…” suara lembut ibunya, Seyoung terdengar memasuki kamar. “Ayo makan buburnya.” Seyoung menaruh nampan mangkuk berisi bubur di naskas sebelah ranjang.

“Iya umma,” jawab Hyerim dari dalam selimut, karena ia juga menutupi wajahnya dengan selimut tebalnya.

“Jangan lupa dimakan ya, umma harus ke butik karena ada yang memesan dress yang kau pakai di tempat syuting.” ucap Seyoung.

Setelah Seyoung benar-benar pergi, Hyerim membuka selimut yang menutupi wajahnya. Ia bangkit dan duduk bersandar ke kepala ranjang, Hyerim berusaha mengambil mangkuk buburnya, tapi tak sampai, seakan tenaganya dikuras habis.

Hyerim menghela napasnya, tiba-tiba ponselnya yang berada di atas bantal bergetar, Hyerim langsung mengambil ponselnya yang terdapat 1 pesan dari Jonghyun, seketika senyum mengembang diwajah Hyerim.

From : Jonghyun oppa

Kudengar kau sakit, Hye-ah. Semoga cepat sembuh ya, dan tetap semangat!^^

Masih dengan senyum lebarnya, Hyerim membalas pesan tersebut sampai teriakan Sehun terdengar memenuhi rumah mereka yang sepi.

NUNA!!! ADA YANG MENJENGUKMUUUU!!!” Sehun tampak berlari menuju tangga dengan seseorang yang Hyerim yakini orang yang menjenguknya.

Hyerim mengira yang menjenguknya pasti Yoonjo atau teman fakultasnya yang lain, tapi kenapa Sehun mesti seheboh ini? Jangan-jangan yang menjenguk dirinya adalah…

Aish! Jangan bilang orang itu,” umpat Hyerim, dan langsung buru-buru menarik selimut menutupi seluruh badannya.

“NUNA! NUNA! NUNA!” teriak Sehun setelah memasuki kamar Hyerim bersama seseorang. “YAK! JANGAN PURA-PURA TIDUR! INI SUDAH SIANG! BANGUN!” Sehun dengan teganya menarik selimut Hyerim dengan kuat, sangking kuatnya membuat Hyerim ikut terjatuh.

“Aduh, bocah ini.” umpat Hyerim saat kepalanya membentur lantai cukup keras karena jatuh.

Luhan-orang yang menjenguk Hyerim- hanya tertawa tertahan melihat tingkah adik dan kakak tersebut. Hyerim langsung bangun dan menatap Luhan dan Sehun bergantian, ia mendesah, dugaannya memang benar bahwa yang menjenguknya pasti Luhan.

Yak! Bocah! Aku ini sedang sakit! Tega sekali dirimu!” teriak Hyerim

“Maka dari itu nuna cepat bangun dan Luhan hyung akan menemanimu agar cepat sembuh,” ucap Sehun

“Sembuh apanya yang ada aku malah tambah sak..-” ucapan Hyerim terpotong saat tiba-tiba ia didorong oleh Sehun ke arah Luhan, untung pria itu sudah siap memeluknya agar tidak jatuh.

Hyerim menatap wajah Luhan yang sangat dekat dengannya, keduanya saling bertatapan untuk waktu yang lama. Hyerim merasakan perasaan aneh dalam dirinya, tak mungkin ia menyukai laki-laki ini.

“WHOOOO~~ KALIAN SUNGGUH ROMANTIS!” teriak Sehun, membuat Hyerim dan Luhan tersadar. Luhan segera melepaskan pelukannya pada Hyerim.

“Sehun, kamu jangan seperti itu pada Hyerim, untung aku menangkapnya, kalau tidak, ia bisa terjatuh.” ucap Luhan, Sehun hanya tersenyum tanpa dosa dan mengangguk. Hyerim hanya manyun dan perlahan berjalan ke ranjangnya.

“Aku tinggal kalian berdua yaaa~,” ucap Sehun dengan cengirannya dan lalu pergi.

Setelah kepergian Sehun, Hyerim menatap lapar mangkuk buburnya. Luhan yang menyadari apa yang Hyerim tatap, langsung mengambil posisi duduk di samping ranjang Hyerim dan mengambil mangkuk bubur tersebut.

“Buka mulutmu, aku akan menyuapkanmu bubur ini, kamu laparkan.” ucap Luhan sambil menyodorkan sesendok bubur, Hyerim membuka mulutnya dan Luhan mulai menyuapinya bubur.

“Bagaimana kemarin saat mengunjungi panti asuhan? Apa kamu mencari adikmu?” tanya Hyerim sembari menatap Luhan yang masih menyuapinya.

“Eung, ya…” ucap Luhan, Hyerim yang sedang mengunyah buburnya menatapnya, sungguh ia jadi penasaran dengan adiknya Luhan. “Aku jadi mengetahui adikku, diadopsi oleh keluarga jaksa.”

Hyerim hampir tersedak mendengar ucapan Luhan. “Keluarga jaksa? Apakah kecurigaanku ini benar?” gumam Hyerim dalam hati.

“Aaa~ buka mulutmu,” perintah Luhan sambil menyodorkan sesendok bubur, Hyerim hanya menurut dan mulai mengunyah buburnya.

Luhan tak tahu kenapa ia bisa langsung memberitahu informasi yang ia dapatkan kemarin tentang adiknya pada Hyerim. Sehun yang dekat dengannya saja tidak ia beritahu, entah kenapa ia ingin merahasiakan itu kepada orang lain.

“Memangnya adikmu dari panti asuhan mana? Kamu tahukan aku berasal dari Pyeongtaek, Gyeongi,” ucap Hyerim

“Panti asuhan Sunny Green,” jawab Luhan lancar. Hyerin merasa jantungnya berdetak begitu keras mendengarnya.

Panti asuhan Sunny Green, panti asuhan yang dulu dekat dengan rumahnya. Bahkan kepala pantinya, Jin Hyewon sangat mengenal Sehun dan Hyerim, sampai mempunyai foto dirinya menggendong Sehun saat balita dipantinya.

Hyerim merasakan kepalanya pening saat ia mengetahui hal itu, jantungnya tak bisa berhenti berkontraksi saat ia mengetahui hal yang mengejutkan.

“Rim-ah, gwenchana?” tanya Luhan khawatir saat melihat wajah Hyerim pucat. Hyerim menatapnya dan mengangguk lemah. “Apa perlu kutelepon dokter?”

Hyerim menggeleng, tetapi Luhan malah merasa ia harus menghubungi dokter. Saat hendak pergi, Hyerim menahan tangan Luhan membuat Luhan menatapanya.

“Aku baik-baik saja, sungguh, tetaplah di sini menemaniku,” ucap Hyerim sembari tersenyum, senyum yang selalu membuat Luhan terpaku dan akhirnya memilih duduk ditepi ranjang dan megenggam erat tangan kanan Hyerim. Genggaman keduanya terasa hangat.

***

Jinri memasang wajah masam saat menerima telepon dari Luhan, mendengar alasan apalagi yang akan diberikan pria itu sekarang untuk tidak menemaninya jalan bersama.

“Maafkan aku, Jinri-ya, aku tadi habis menjenguk Hyerim jadi tidak membuka ponsel saat kamu mengirimku pesan untuk bertemu.

“Hmmmm…” gumam Jinri, tangannya yang tidak memegang ponsel sedang meremas ujung  roknya dengan kesal saat mendengar ucapan Luhan.

“Maafkan aku, aku benar-benar minta maaf,” ucap Luhan dari sebrang sana.

“Ya, ya, urusi saja kekasih tercintamu itu.” ucap Jinri penuh penekanan pada kata ‘kekasih tercintamu’.

Apa maksudmu?” terdengar Luhan sedikit terganggu oleh ucapannya.

“Hah, opso, nan arra, (tidak, aku tahu) kau masih mencintai gadis sok cantik itu. Tapi ingat! Bila kesabaranku sudah habis, bisa kukacaukan gadis itu!” ucap Jinri tajam

Yak! Apa maksudmu?! Jangan coba-coba kau mengusik Hyerim, dia lagi sakit. Awas saja kalau…-”

‘PIP!’

Jinri langsung memutuskan sambungan itu, ponselnya ia lempar ke ranjang sangat keras sampai casing belakangnya terbuka. Jinri mengacak rambutnya dan menghembuskan napas kesal.

“OH HYERIM! OH HYERIM! DAN SELALU OH HYERIM! DARI DULU SAMPAI SEKARANG KAU MENJADI KEKASIHKU PUN TETAP SAMA! APA PERLU KU KACAUKAN DULU DIRIMU HAH HYERIM-SSI? DASAR GADIS SIAL!” jerit Jinri dan kemudian menghempaskan tubuhnya ke ranjang.

Ddal, gwenchanayo?” tiba-tiba suara Seo Inkyung -ibu Jinri-, terdengar dan memasuki kamar putri semata wayangnya. “Nae ddal (putriku), tidak baik menjerit-jerit mengumpat seperti itu.” nasehat Inkyung yang duduk diujung ranjang.

“Aku kesal, umma! Aku kesal!” seru Jinri sembari menatap langit-langit kamarnya.

Inkyung hanya tersenyum tipis menghadapi putrinya, “Daripada kamu kesal, sana lebih baik keluar, temanmu yang mengantarmu pulang beberapa hari yang lalu datang.” ucap Inkyung, Jinri yang mendengarnya langsung bangun dan duduk di atas ranjang menatap ibunya.

“Maksud umma, Jungshin? Park Jungshin?” tanya Jinri, Inkyung mengangguk.

Wajah Jinri yang tadi masampun berubah menjadi ceria dan dihiasi oleh senyuman. Jinri langsung beranjak dari kasurnya dan menemui Jungshin di ruang tamu.

Ekhem,” dehem Jinri saat melihat Jungshin sedang melihat-lihat foto keluarganya yang tersebar di ruang tamu. Jungshin langsung menoleh pada Jinri, lalu tersenyum.

“Ya, anak manja,” sapa Jungshin membuat Jinri manyun.

“Apa?! Anak manja?! Yang benar saja?!” seru Jinri membuat Jungshin tertawa

“Aku hanya bercanda nona Choi,” ucap Jungshin sembari tersenyum dan mengacak-acak rambut Jinri. Jinri masih saja manyun.

Eoh Jungshin-ah, ini silahkan diminum tehnya.” tiba-tiba Inkyung datang sembari membawa nampan berisi teh dan menaruhnya di meja.

“Ah khamshamnida omoni, maaf jadi merepotkanmu,” ucap Jungshin sembari membungkukan badannya.

“Ah gwenchana, temani Jinri ya, dia sedang darah tinggi tadi,” ucap Inkyung sembari tersenyum dan lalu pergi tak mempedulikan wajah Jinri yang sudah ditekuk karena ucapannya.

“Ish! Umma apaan sih!” gerutu Jinri

“Ahaha, kamu marah-marah terus nanti cepat tua.” Jungshin menyentil dahi Jinri membuat gadis itu kembali manyun.

“Ah kamu menyebalkan!” gerutu Jinri sembari melipat kedua tangannya didepan dada.

“Ahaha, neo jinjja gwiyeopta (kamu benar-benar lucu). Ayolah jangan marah terus, hmm?” ucap Jungshin sembari menatap Jinri dari samping, membuat pipi gadis itu memerah.

“Ah ya ya ya aku tidak marah, berhenti menatapku!” ucap Jinri kelabakan, “Bagaimana kalau kita melihat taman bunga rumahku saja?” ucap Jinri gugup.

“Boleh juga,” jawab Jungshin mengangguk setuju sembari menatap Jinri aneh.

“Ayo ikut aku.” Jinri langsung berjalan duluan, Jungshin mengikutinya dari belakang.

“Nona Choi! Jalanmu cepat sekali!” Jungshin meraih tangan Jinri dan mengenggamnya untuk berjalan bersama. Tanpa ia ketahui, pipi Jinri sudah seperti kepiting rebus.

“Whoaa yeppuda~,” gumam Jungshin yang melihat taman bunga rumah keluarga Choi yang terletak di belakang rumah.

Jinri langsung melepaskan genggaman tangan Jungshin, karena ia merasa tangan itu memberikan aliran listrik yang sampai membuat jantungnya berdetak sangat cepat.

Jangmi-neun (bunga mawar),” seru Jinri dan lalu berlari ke sekumpulan bunga mawar dan menghirup wangi bunga tersebut. Jungshin yang melihatnya hanya tersenyum dan mendekatinya.

“Kamu suka bunga mawar ya?” tanya Jungshin sembari memperhatikan Jinri dari samping, gadis itu tampak mengangguk sembari memetiki beberapa bunga mawar.

“Bunga mawar seperti tanda cinta, apalagi mawar merah, merah seperti warna hati, dan hati adalah lambang cinta. Maka banyak sekali lelaki memberikan bunga ini untuk kekasihnya,”

“Tapi bunga mawar bukannya berduri? Seseorang bisa saja tertusuk durinya, dan merasa sakit kan?” ucap Jungshin, membuat Jinri menoleh kearahnya sembari mengangkat alis. “Aku tidak akan memberikan bunga mawar pada kekasihku, tetapinya bunga matahari.”

Haebaragi? (Bunga matahari) wae ?” Jungshin tersenyum sembari menatap Jinri, membuat tatapan mereka bertemu.

“Karena bunga matahari itu berwarna kuning, bersinar layaknya matahari. Dan bagiku kekasihku itu matahariku, yang selalu menyinari hari-hariku.” ucap Jungshin

Neo taeyanggie, nuguya? (Siapa mataharimu?)” tanya Jinri penasaran

“Dirimu,”awab Jungshin dalam hati. “Bimil saram (orang rahasia).” ucap Jungshin sembari tersenyum.

“Entah mengapa aku ingin menjadi mataharimu itu, dan perasaan apa ini? Apakah ini cinta? Lalu apa perasaanku pada Luhan oppa kalau begini?” gumam Jinri dalam hati sambil memperhatikan Jungshin yang sedang memetik setangkai bunga mawar dan lalu menyelipkan bunga tersebut dibelakang telinga Jinri. Perasaan itu datang lagi ketika mereka bersentuhan saat Jungshin memasangkan bunga ditelinganya.

***

From : Jonghyun Oppa

Ayo kita bertemu kalau kamu sudah sembuh

Hyerim memandangi pesan yang dikirimkan Jonghyun padanya. Hari ini Hyerim sudah sembuh total, dan tadi ia sudah mengirim pesan pada Jonghyun untuk bertemu. Ibunya dan Sehun sedang berada di cafe, dan rumahnya terasa sepi sekarang

Setelah meninggalkan post-it di pintu rumah untuk ibunya dan Sehun, yang berisi bahwa ia pergi. Hyerim langsung mengunci pintu rumahnya dan menaiki mobilnya untuk menemui Jonghyun.

***

“Sehun! Jaga kasir dulu untuk sementara! Jieun tadi izin pulang karena anaknya sakit!” teriak Nyonya Oh. Sehun yang sedang berbaring malas di sofa ruang kerja ibunya pun terpaksa bangun dan keluar dari ruangan tersebut yang berada di dekat dapur.

Nyonya Oh tampak sedang memotongi daging untuk steak pesanan pelangan, dan lalu melirik sekilas Sehun. “Yak! Sana kekasir! Kerjakan tugasmu!” seru Nyonya Oh.

Sehun hanya mengangguk dengan wajah datar dan berjalan keluar menuju kasir, dan mulai melayani pelanggan. Banyak pelanggan wanita terpesona padanya, bahkan saat ingin membayarpun wajah mereka terlihat memerah dan ada pula yang menunduk karena malu.

Jalsaengkyeosseo (ganteng sekali),” Sehun yang sedang berjongkok untuk mengambil uang receh yang jatuh pun mengerutkan alisnya bingung.

Sehun sudah yakin yang mengucapkan kata itu pasti wanita yang terpesona olehnya, tapi yang membuatnya bingung adalah suara itu bukan suara wanita tapi suara lelaki. Sehun langsung berdiri dan menatap orang yang tadi mengucapkan kata-kata tersebut yang ternyata benar laki-laki.

Jalsaengkyeosseo nae namdongsaeng (ganteng sekali adikku), sampai para wanitapun terpesona padamu walau wajahmu datar begitu.” ucap Luhan -lelaki tersebut-

Hyung! Tumben kau ke sini!” seru Sehun, wajahnya berubah drastis menjadi ceria.

Luhan hanya tertawa kecil melihat ekpresi Sehun yang tiba-tiba berubah. “Hanya bosan, jadi aku memutuskan ke sini, aku pesan greentea ya,” ucap Luhan

Greentea 1!” teriak Sehun melalui jendela yang menjadi penghubung kasir dan dapur. “Totalnya 20ribu won, hyung.” ucap Sehun.

“Ini,” Luhan menyerahkan beberapa lembar uang. Setelah membayar, Luhan duduk di salah satu kursi cafe, dan tak lama Sehun datang membawa greentea pesanannya.

“Tumben kamu menjaga kasir,” ucap Luhan sambil menyeruput greenteanya kepada Sehun yang duduk di hadapannya.

“Jieun omonim tadi izin, jadi terpaksa aku yang menggantikannya,” Sehun berucap sebal sembari memasang ekpresi jengkel yang menurut Luhan lucu. “Hyung, apa kau sudah menemukan hasil tentang adikmu?” tanya Sehun membuat Luhan hampir tersedak.

“Ah keugae, eungg…” Luhan berucap ragu sembari menggaruk belakang kepalanya, membuat Sehun menatapnya heran.

“Apa? Katakan saja padaku!” desak Sehun.

“Saat mengunjungi panti di Pyeongtaek kemarin, aku menemukan fakta bahwa adikku diadopsi oleh seorang jaksa. Aku sudah mesearching jaksa-jaksa tersebut, dan tentu saja ada dirimu dan eung… aku pikir mungkin adikku diadopsi oleh jaksa yang jarang disorot publik.” ucap Luhan ragu. Karena ia masih bingung akan keberadaan adiknya, walau ia agak sedikit curiga bahwa adiknya itu Sehun, tapi ia segera menyangkalnya.

“Oh begitu, mungkin aku bisa membantumu, hyung. Nanti akan kucaritahu siapa saja jaksa yang mempunyai anak laki-laki seumuran denganku,” ucap Sehun, Luhan melebarkan matanya dan detik berikutnya ia memeluk Sehun erat.

“Gomawo Sehunnie, gomawo.” ucap Luhan. Sehun balas memeluknya, untuk kesekian kalinya Luhan merasa nyaman akan pelukan ini dan bebannya seakan terangkat begitu saja.

***

Hyerim berjalan sembari menundukan wajahnya, walau ia sudah memakai kacamata hitam dan topi, tapi ia harus hati-hati karena orang-orang bisa saja langsung mengenalnya. Ia mengembangkan senyum lebar dan lalu melangkah ke sebuah meja dan duduk.

“Oppaaa!” seru Hyerim membuat Jonghyun mendongak dan tersenyum.

“Pelankan suaramu, itu bisa saja membuat nyamuk lari ketakutan,” gurau Jonghyun. Hyerim hanya memajukan bibirnya.

“Sembarangan saja oppa bicara,” gerutu Hyerim membuat Jonghyun tertawa

Kajja, kita jalan-jalan,” Jonghyun mengulurkan tangannya, tetapi Hyerim masih saja cemberut dan menerima uluran tangan itu sembari menatap datar Jonghyun.

“Heh jangan seperti itu, ada apa dengan adikku yang manis ini?” ucap Jonghyun sembari tersenyum dan megenggam tangan Hyerim untuk berjalan bersama.

“Adik lagi?” gumam Hyerim pelan tapi masih bisa didengar oleh Jonghyun, pria itu menoleh ke arahnya dengan alis terangkat.

“Kamu kan memang adikku, Hye-ah.” ucap Jonghyun santai. Tidak mengetahui bahwa ucapannya itu membuat hati Hyerim teriris.

Eoh, nan arra.” Hyerim tersenyum paksa, menyembunyikan rasa sakitnya.

Mereka berdua akhirnya sampai ditaman Youido. Hyerim melepaskan genggaman Jonghyun dan memejamkan mata menikmati semilir angin musim semi. Jonghyun memperhatikannya dari samping, kemudian tersenyum.

“Hye-ah,” panggil Jonghyun membuat Hyerim menoleh kearahnya dengan senyum manisnya.

“Wae?” tanya Hyerim

“Hmm… oppa ingin memberitahukan kabar gembira padamu.” ucap Jonghyun sembari menatap ke depan, di mana terdapat sebuah pohon sakura. “Oppa ingin menyatakan perasaan oppa pada seorang gadis.”

Jantung Hyerim serasa berhenti berpacu saat mendengar itu. Ia menatap lekat profil Jonghyun dari samping.

Keum yeojaneun, nuguya? (Siapa gadis itu?)” tanya Hyerim, hatinya seakan teriris kembali.

“Park Subin.” jawab Jonghyun semangat dengan senyum lebar, yang malah membuat luka dihati Hyerim kian menganga. “Oppa akan mengajaknya kencan hari ini, membuatkannya suprise dan lalu menyatakan perasaan oppa,” lanjut Jonghyun.

“Oh geuraeyo, chukkhae oppa.” ucap Hyerim dengan intonasi dibuat sesenang mungkin. Jonghyun pun menatapnya lalu memeluknya.

“Terimkasih, Hye-ah. Kau tahu? Dari awal aku sudah menganggapmu sebagai adik, kau tahu sendirikan aku anak tunggal.” ucap Jonghyun. Hyerim hanya mengangguk pelan dalam pelukan Jonghyun.

“Saranghae oppa.” gumam Hyerim dalam hati.

***

Luhan mengotak-atik ponselnya, layar ponselnya itu menampilkan hasil pencarian anak-anak jaksa yang berumur 1 tahun lebih muda darinya. Tapi hasilnya nihil, sulit menemukan jaksa yang sering disorot publik mempunyai anak kelahiran 1995. Hasil yang selalu ditampilkan adalah hasil yang Jongdae sebutkan padanya.

Hyung, kita sudah mau tutup,” ucap Sehun. Luhan pun melirik sekilas ke arah Sehun dan menyeruput kopinya.

Arra, aku akan segera pergi,” ucap Luhan. Sehun hanya mengangguk dan turun dari lantai 2-tempat Luhan berada-, karena ia harus membantu ibunya menutup cafe.

“Hah,” Luhan menghela napas karena tidak berhasil menemukan apapun, ia menggeletakan ponselnya ke meja dengan keras karena frustasi, kemudian meminum kopinya lagi.

“Lebih baik aku pulang.” ucap Luhan saat melihat arlojinya menunjukan pukul 08.30 malam. Ia kemudian bergegas untuk pergi.

Eoh Luhan? Kamu ingin pergi? Hati-hati ya.” ucap Nyonya Oh dengan senyum ramahnya. Luhan balas tersenyum.

Nde omoni, nan josimimnida(aku akan berhati-hati).” Luhan sedikit membungkuk dan keluar menuju  mobilnya, dan mulai menstarternya pergi.

***

“Doakan oppa supaya berhasil ya mengungkapkan perasaan oppa pada Subin,” ucapan Jonghyun sebelum mereka berpisah masih terputar dikepala Hyerim seperti sebuah rekaman.

Hyerim membanting stirnya ke arah kiri, speedmometernya sudah diatas rata-rata, kemudian ia menepi disebuah cafe, cafe milik ibunya. Starlight cafe sudah tutup dari setengah jam yang lalu, tapi Hyerim dengan mudah masuk ke dalam karena mempunyai duplicate kunci starlight cafe.

Hyerim menyalakan lampu, dan berjalan ke arah dapur dan membuka lemari yang berisi soju, wine, dan beberapa minuman keras lainnya. Hyerim mengambil sebotol soju dan berjalan naik ke lantai 2, ia membuka botol sojunya dan mulai meminumnya. Ia ingin melupakan semua rasa sakit yang ia rasakan sekarang.

Saat Hyerim larut dalam kesedihannya, tiba-tiba bayangan Luhan melintas dibenaknya. Senyum, tingkah konyol dan menyebalkannya, Hyerim ingat semuanya. Dan entah mengapa ia berharap pria itu di sini, memeluknya. Ia merindukan sosok Luhan disisinya. Perlahan Hyerim terisak dalam diam.

***

Luhan langsung memutar stirnya saat 10 menit lagi ia sampai ke appartementnya, dikarenakan ia baru menyadari ponselnya tertinggal di meja starlight cafe. Luhan harap di cafe masih ada Sehun atau Nyonya Oh ataupun pelayan cafe.

“Lampu lantai 2 menyala,” gumam Luhan saat ia sudah sampai didepan starlight cafe. Tanpa ragu-ragu, ia melangkah keluar mobil dan mendorong pintu cafe yang ternyata tidak dikunci.

Luhan pikir masih ada pelayan yang lembur, jadi ia main masuk dan berjalan ke lantai 2. Saat baru sampai di lantai 2, Luhan melihat botol soju bergelinding ke arahnya. Luhan mengernyitkan dahi bingung.

“Heuk!” terdengar suara cekukan, Luhan langsung mengedarkan pandangannya dan mendapati Hyerim di pojok ruangan bersandar pada tembok, beberapa botol soju bergeletakan di sekitarnya.

“Ya ampun, Hyerim!” seru Luhan terkejut, dan segera berlari ke arah gadis itu dan lupa akan tujuan pertamanya k emari.

Gwenchana? Yak! Kenapa kamu minum banyak sekali? Wae gurrae?” ucap Luhan khawatir, tanggannya meraih kedua pipi Hyerin agar gadis itu menatapnya.

“Hah! Apa itu cinta?! Kenapa sangat menyakitkan?! ahahah selamat oppa, kuyakin Subin menerimamu sebagai kekasihnya.” racau Hyerim. Luhan terpaku, ia baru menyadari Hyerim sedang patah hati sekarang. Lalu beberapa detik selanjutnya, gadis itu kembali terisak.

Uljima, aku tidak suka saat kamu menangis, wajah cantikmu bisa luntur,” ucap Luhan sambil tersenyum dan mengusap air mata yang turun dari kelopak mata Hyerim.

Hyerim menatap Luhan, begitupun sebaliknya, tatapan mereka bertemu untuk kesekian kalinya. Tiba-tiba, Hyerim mendekatkan wajahnya kewajah Luhan, membuat bibir mereka bersentuhan. Ciuman kedua mereka. Luhan hanya melebarkan matanya tidak percaya. Diluar kendali, Luhan memiringkan kepalanya dan melumat bibir Hyerim lembut dan Hyerim balas melumat bibir Luhan, ciuman mereka sedikit terasa asin karena tercampur air mata Hyerim. Ciuman itu pun berakhir setelah 10 menit.

“Saranghae,” ucap Hyerim sembari menatap lurus mata Luhan, ia tulus mengatakan itu. Tapi Luhan pikir Hyerim sedang meracau karena efek alkohol.

“Nado.” jawab Luhan tanpa ia sadari, lalu membawa Hyerim kedalam pelukannya.

To Be Countinued

Akhirnya aku update setelah 1 bulan lamanya ahahahaha. ASOLELE JOS, Hyerim mulai suka tuh sama Luhan :3, ayoooo siapa yg ngarep mereka berdua balikan lagiii? Don’t forget to comment ♡

Advertisements

Author:

A tinkerbell who dream to be Luhan's future wendy — Also an amature author, k-drama trash, k-running man freak, eternal ELF, ahjussi and korean actor addict in the same time

17 thoughts on “FF : Complicated Fate Part 10 [I Think I Love You]

  1. Kyaaa itu kiss scenenya omegot! Hyerim mulai cinta ma luhan? Amin. Btw i think i love you itu ostnya full house kan?#soktauseason3#

    Like

  2. jinri lebih baik ama junsin aja ketimbang di gantungin luhan… kasihan hyerim patah hati soalnya jonghyun mau nembak subin

    Like

Write ur Love Letter . . . <3

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s