Posted in AU, Chapter, Family, Fanfiction, FF : Complicated Fate, PG-15, Romance, Sad, Tragedy

FF : Complicated Fate Part 11 [Lost Control]

image

Title : Complicated Fate Part 11

Subtitle : Lost Control

Genre : Family, Romance, AU, Sad, Tragedy

Lenght : Multi Chapter

Rating : PG-15

Author : Kim Hyerim

Cast :

-Hyerim (OC) as Oh Hyerim

-Luhan EXO-M as Xi Luhan

-Sehun EXO-K as Oh Sehun

-Sulli F(x) as Choi Jinri

-Subin Dal Shabet as Park Subin

-Yoonjo Hello Venus as Shin Yoonjo

-Jonghyun CNBLUE as Lee Jonghyun

-Chen EXO-M as Kim Jongdae

-Jungshin CNBLUE as Park Jungshin

-Krystal F(x) as Jung Soojoong

Backsound : SM The Ballad Vol.2 – When I was where u were | Byul – I Think I Love You

Seorang gadis kecil berumur 14 tahun tampak sedang memetiki bunga dendelion di halaman belakang rumahnya yang luas. Gadis itu tertawa-tawa senang, saat ia meniup bunga dendelion itu dan membuat serbuk bunga itu terbang mengikuti semilir angin musim semi.

Nunaaa!!!” teriak anak laki-laki yang lebih muda darinya. Anak lelaki itu berlari-lari kecil ke arahnya.

“Sehun!” seru gadis itu saat melihat anak lelaki itu yang tak lain adiknya. Hyerim pun tertawa-tawa riang berasama Sehun, sembari memetiki bunga dendelion dan meniupkan serbuk bunga tersebut.

Sehun tiba-tiba mengambil jepitan  yang bertengger dirambut Hyerim, membuat kakaknya menatapnya galak.

Yak! Kembalikan!” teriak Hyerim, Sehun menyeringai dan menjulurkan lidah.

Shireo! Kalau nuna mau jepitan ini, ayo ambil, kejar aku.” Sehun langsung berlari dan Hyerim pun mengejarnya. “Nuna lelet sekali seperti siputttt!” ledek Sehun.

Hyerim menatap tajam ke arah adiknya, dan mempercepat larinya. Tiba-tiba Hyerim merasakan dada kirinya sakit, ia tidak menyadari tubuhnya sudah jatuh terduduk di rerumputan halaman rumahnya.

“HYERIM!” teriakan Nyonya Oh terdengar, kemudian ia berlari ke arah putri sulungnya itu. “Ya ampun Hyerim, dengarkan umma, tenang, tenang, dan tarik nafasmu, hembuskan perlahan.” Hyerim mengikuti intruksi ibunya sampai jantungnya kembali normal, Nyonya Oh langsung memeluknya.

“Kamu pasti akan sembuh, umma janji,” bisik Nyonya Oh.

***

“HAH!” Hyerim mengatur napasnya yang memburu. Hanya mimpi, untung saja, ia merasa mimpi itu sangat nyata.

Hyerim mengedarkan pandangannya, ia tertidur di cafe ibunya, kepalanya juga pusing karena efek alkohol. Sesaat Hyerim menyadari ia tertidur dibahu seseorang dan orang itu mengenggam tangan kanannya erat, menyalurkan sebuah rasa hangat padanya. Ia baru menyadari orang itu Luhan.

Hyerim memperhatikan Luhan yang masih tidur dari samping, ia merasa tenang melihat wajah polos pria itu ketika sedang tidur. Senyum terukir diwajah Hyerim. Saat ia hendak beranjak, Luhan mengeliat dalam tidurnya. Hyerim pikir pria itu akan bangun, tapi yang ada pria itu malah menariknya kedalam pelukannya.

“Eunggggg… Hyerim.” igau Luhan. Seketika pipi Hyerim memanas mendengar namanya disebut oleh Luhan.

‘Tap! Tap! Tap!’

Terdengar suara langkah kaki, muncul lah sosok Sehun di anak tangga memperhatikan Hyerim dan Luhan dengan mata membulat.

“WHOAAAA!!!!!” teriakan Sehun tersebut membuat Luhan terbangun dari tidurnya, dan menatap sekitar.

“Ya ampun,” ucap Luhan terkejut

“APA YANG KALIAN LAKUKAN DI SINI?!” seru Sehun. Luhan dan Hyerim saling pandang, dan lalu melepaskan pelukan mereka. Keduanya tampak salah tingkah dan mengedarkan pandangan mereka ke arah lain.

“YA AMPUN! KALIAN SUDAH MENGHABISKAN SEMALAMAN DI SINI, JANGAN-JANGAN…..-”

YAK! ALBINO! TENTU KAMI TIDAK MELAKUKAN… AKH APAPUN ITU.” potong Hyerim dan lalu melangkah pergi dari sana.

“Kenapa harus marah? Dasar ahjuma tukang marah!” gerutu Sehun. Untung Hyerim tidak mendengarnya, kalau iya, pasti ia akan kena timpuk wajan dapur cafe. Luhan hanya tertawa kecil melihat tingkah keduanya.

Yak! Sehunnie, jangan buat nunamu marah terus, nanti dia makin seperti ahjuma.” ucap Luhan sembari tertawa kecil. Sehun hanya nyengir dan mendekati Luhan.

Hyung!!!” rengek Sehun yang sudah duduk di sebelah Luhan. “Dosa apa aku mempunyai kakak sepertinya, andai saja hyung jadi kakakku.” ucap Sehun sambil manyun, tapi itu membuat hati Luhan terhantam sesuatu.

“Eh? Kamu ini! Yang penting Hyerim itu menyayangimu,” ucap Luhan sambil tersenyum.

“Hnggg… iya juga sih, Hyerim nuna walaupun galak, ia selalu ada untukku. Dari kecil kita selalu bersama, kadang aku sedih orang-orang mengatakan aku tidak mirip dengan nuna dan bilang aku bukan anak keluarga Oh. Tapi Hyerim nuna selalu meyakinkanku bahwa aku adiknya.” cerita Sehun sambil menerawang melihat langit-langit cafe. Luhan melihatinya dari samping.

“Eiy, kau dan Hyerim itu mirip,” ucap Luhan membuat Sehun langsung menatapnya.

“Benarkah?” Luhan mengangguk lalu tersenyum yang entah mengapa seperti menahan tawa.

“Kalian itu mirip, sama-sama galak. Selalu berteriak seakan tinggal di hutan yang sepi yang hanya ada kalian berdua, padahal orang-orang bisa terganggu oleh teriakan kalian,” ucap Luhan membuat Sehun melongo.

HYUNG KIRA KITA TARZAN?!!!” teriak Sehun, Luhan pun akhirnya tertawa terpingkal-pingkal membuat Sehun cemberut.

“Lihat! Kamu baru saja berteriak, mirip sekalikan dengan Hyerim, ahahah.” tawa Luhan menggema di starlight cafe yang masih belum buka.

Shikereo! (Berisik)” seru Sehun masih cemberut dan Luhan masih saja tertawa. Luhan pun memberhentikan tawanya.

“Ahahah, iya, iya,maaf Sehunnie, maaf,” ucap Luhan masih dengan cengengesan.

“Heuh! Hyung harus tahu! Aku benar-benar sedih dibilang bukan anak kandung keluarga Oh. Sedih karena kalau itu benar, aku tidak tahu siapa orang tuaku yang sebenarnya, dan kalaupun aku punya kakak, siapa kakakku itu.” Sehun menekuk lututnya dan memandang lantai dengan sedih. Luhan yang mendengarnya terasa sesak, teringat oleh adiknya.

“Andai saja kau benar-benar Shixun,” gumam Luhan pelan tapi Sehun mendengarnya, kemudian kembali menatapnya.

“Shixun? Adikmu ya hyung? Mungkin saja aku adikmu.” ucap Sehun polos. Luhan pun memalingkan wajah menatap Sehun yang ada disampingnya.

“Kalau kau adikku, ayo buktikan, seberapa mirip kita berdua,” ucap Luhan dengan senyum lebar, ia hanya main-main dengan ini, dan Sehun pun mengangguk mantap.

“Minuman kesukaan hyung apa?”

“Bubble tea, kau juga kan? Berarti 1 poin kita sama. Dan eummm… kau suka main sepak bolakan?”

Sehun mengangguk mantap. “Tentu! Aku sangat suka, apa golongan darah hyung?”

“Golongan darahku O, kau?”

“Aku juga O!” jawab Sehun semangat. Keduanya masih saja bermain seberapa miripnya mereka, Hyerim ternyata memperhatikan keduanya dari tadi dari kaca ruangan pribadi ibunya dilantai 2.

Hyerim menatap keduanya dengan penuh arti. Pikirannya melayang begitu saja. Mungkinkah orang yang selama ini ia miliki ternyata tidak terikat olehnya? Ia ingin tahu jawaban dari kecurigaannya ini, tapi biarkan saja takdir yang menjawabnya.

***

Soojoong mengikuti Jinri dari belakang seperti ekornya. Jinri tengah membagikan undangan berwarna cream dengan sebuah pita berwarna emas disamping atas kirinya, terdapat pula tulisan “Choi Jinri’s Birthday Invitation’ didepan undangan tersebut.

“Ya ampun, Jinri-ya, berapa undangan lagi sih ini?” gerutu Soojoong yang keripuhan membawa setumpuk undangan. Jinri yang ada didepannya hanya cuek tak peduli.

“Nona Choi, kau tega tidak memberikanku undangan?” suara lengking Semi terdengar, membuat langkah Jinri berhenti dan memutar bola matanya malas. Ia berbalik dan tersenyum miring kepada Semi yang memasang tampang ‘sok imut’.

“Ini, datang ya pada tanggal 29 Maret nanti, terimakasih banyak,” ucap Jinri dengan nada selembut mungkin sambil memberikan undangan tersebut.

“Akan kuusahakan datang.” Semi tersenyum atau lebih tepatnya menyeringai pada Jinri.

Jinri pun langsung melangkah pergi, tak peduli akan sikap Semi yang makin lama makin membuatnya muak. Kemudian Jinri mendekati sebuah kursi yang ditempati seorang perempuan dan lelaki.

“Subin unni,” sapa Jinri dengan senyum ramahnya. Subin dan Jonghyun, menoleh kearah Jinri.

“Kenapa Jinri-ya?” tanya Subin balas tersenyum. Jinri menyerahkan sebuah undangan pada Subin, dan diterima oleh Subin.

“Datang ya bersama kekasih barumu itu juga boleh,” goda Jinri membuat Subin tersipu dan Jonghyun hanya tertawa. Hari ini Jonghyun mengantar Subin ke kampus dan menungguinya, membuat seisi Dongguk heboh tak karuan.

“Pasti kami akan datang, iyakan chagi?” Jonghyun menoleh pada Subin dengan senyum jahil, Subin langsung menyubitnya dan mengatakan jangan memanggilnya seperti itu dan Jonghyun hanya tertawa.

Tak jauh darisana, Hyerim memperhatikan pasangan baru itu. Sakit, persaannya sangat sakit, minuman yang ada digenggamannya pun sudah jatuh bececeran dilantai. Air matanya sudah ada dipelupuk matanya, tangan kirinya yang memegang sebuah undangan pun ia remas kuat. Hyerim langsung berlari dari tempatnya.

Jeoseonghamnida.” Hyerim membungkuk meminta maaf saat ia tak sengaja menabrak seseorang.

“Hyerim? Kau kenapa?” suara Luhan terdengar. Hyerim langsung mengangkat kepalanya dan benar, orang yang ia tabrak ternyata Luhan.

Air mata Hyerim jatuh begitu saja tanpa ia perintah. Luhan terkejut melihat gadis itu menangis, ia segera mengangkat tangannya menghapus air mata Hyerim.

“Sstttt jangan menangis, aku tahu kamu patah hati karena Jonghyun dan Subin. Sudahlah.” ucap Luhan. Hyerim merasakan sebuah sengatan saat Luhan menyentuhnya, membuat pipinya memerah.

“Akh ahniya,” ucap Hyerim dan lalu menepis tangan Luhan, ia tak mau terlihat lemah, ia memalingkan wajahnya karena pipinya sudah sangat merah jika Luhan terus menyentuhnya untuk mengusap air matanya.

“Ah ya, apa Sehun sudah memberikanmu undangan perayaan kesuksesan appa dalam menyelesaikan persidangan penggelapan dana Wonder Corporation?” Hyerim mengalihkan pembicaraan karena ia teringat Sehun ingin mengundang Luhan dalam acara tersebut.

Luhan tampak menggeleng membuat Hyerim mengernyit bingung. “Sehun tiba-tiba disuruh ke kantor jaksa di Incheon oleh Dosen Kim, mungkin ia tak sempat memberikan undangannya padaku.” ucap Luhan. Hyerim hanya ber-oh ria dan melirik sekilas undangan yang digenggam olehnya, undangan yang tadinya ingin ia berikan pada Jonghyun.

Eoh, ini undangannya, bila Sehun memberikannya juga bilang saja sudah dapat dariku. Kuharap kau datang, diselenggarakan pada 29 Maret pukul 18.30.” ucap Hyerim menyodorkan undangan putih dengan hiasan bunga-bunga berwarna cream dipojok atasnya. Luhan menerima undangan tersebut dengan agak terkejut karena Hyerim yang mengundangnya.

Hyerim segera pergi, meninggalkan Luhan yang masih memandangi undangan tersebut. Ia tersenyum lebar dan lalu melangkah pergi.

***

“Ya ampun dosen Hwang tak kira-kira dalam memberi tugas, membuatku terjebak di kelas selama 5 jam penuh, padahal aku ingin buang air kecil,” gerutu Yoonjo dari bilik kamar mandi.

“Subin-ah, aku dengar tadi Jonghyun oppa menghampiri Hyerim.” suara cempreng Woohee terdengar. Yoonjo yang hendak meraih gagang pintu kamar mandi terhenti, saat nama sahabatnya disebut.

Eoh? Geuraeyo? Aish kau tenang saja, Jonghyun oppakan sekarang sudah menjadi milikku,” terdengar suara Subin. Yoonjo mengerutkan keningnya, ternyata terkurung lama dikelas membuatnya ketinggalan berita.

“Kudengar juga Hyerim menyukai Jonghyun oppakan?” Woohee mengalihkan pandangannya dari kaca menatap Subin. Subin tampak tersenyum remeh.

“Dia berhak mendapatkan karma. Lelaki tak selalu tertarik padanya. Sudahlah, ayo cepat kita pergi, Jonghyun oppa sudah menungguku.” Subin dan Woohee pun akhirnya pergi, dan saat itulah Yoonjo baru keluar dari biliknya.

Raut muka Yoonjo sangat panik mendengar percakapan Subin dan Woohee barusan. Ia langsung mencari-cari Hyerim, dan akhirnya menemukan gadis itu duduk termenung di taman kampus sambil menatap langit hitam yang sebentar lagi akan turun hujan.

“Rim-ah,” panggil Yoonjo, Hyerim pun menoleh dan tersenyum.

“Njo-ya,” panggil Hyerim kurang ceria. Yoonjo pun duduk disebelahnya.

“Kamu tidak apa-apakan? Tentang kabar hubungan Subin dan Jonghyun?” tanya Yoonjo khawatir.  Hyerim tersenyum simpul dan mengangguk.

“Aku tak apa, awalnya sih sakit tapi sekarang sudah tidak. Entah mengapa, karena kejadian beberapa waktu lalu saat tak sengaja Luhan menemaniku saat patah hati, aku merasa hangat dengan pria itu yang bersedia menemaniku,” ucap Hyerim sambil memandang kedepan dengan senyumannya. Yoonjo melihatinya dari samping.

Solma (jangan-jangan), kamu sudah menyukai Luhan sekarang?” Hyerim menoleh pada Yoonjo yang memasang ekspresi tidak percayanya. Hyerim mengangkat bahunya pertanda ia tidak tahu.

“Entahlah, benang dihatiku belum tersusun rapi dan masih agak kusut untuk mengetahuinya.” Yoonjo hanya tersenyum dan mengangguk menggerti.

“Oh ya! Rim-ah!” Yoonjo berseru, membuat Hyerim menatapnya lekat. “Aku sampai lupa, appa bilang eh maksudku dokter Shin mengatakan kamu harus check up ke rumah sakit untuk memastikan jantungmu baik-baik saja atau tidak. Katanya kau ini malas sekali untuk check up, mentang-mentang artis,” ucap Yoonjo sambil terkekeh, menyampaikan pesan ayahya yaitu dokter Shin Wonho.

Hyerim hanya nyengir mendengarnya. “Arraseo, bilang pada ayahmu aku akan check up minggu depan.” ucap Hyerim, Yoonjo pun menganggukan kepalanya untuk menyampaikan itu pada ayahnya. “Ngomong-ngomong apa kau bisa membantuku Yoong?”

“Membantu apa? Selagi aku bisa, akan kulakukan.”

“Kamu bisa tidak membantuku menyuruh salah satu teman dokter ayahmu, memeriksa 3 rambut orang atau istilah lainnya test DNA.”

“Untuk apa kamu melakukan test DNA?” Yoonjo tampak bingung

“Nanti akan kuberitahu, tapi bisakan?” Yoonjo mengangguk pertanda ‘iya’.

***

Kediaman keluarga jaksa Oh Daejun tampak ramai. Tepat pada tanggal 29 Maret sekarang, jaksa yang paling disegani di Korea itu tengah menggelar acara pasal kesuksesannya menyelesaikan masalah penggelapan dana Wonder Corporation, salah satu perusahaan terbesar di Seoul bahkan Korea Selatan.

Ucapan selamat terdengar dari para tamu undangan, dan sesekali mereka menanyakan dimana Nyonya Oh yang tampak tidak muncul dari tadi.

“Hyerim,” panggil Tuan Oh menghampiri putrinya yang sedang duduk ditengah ruangan.

“Ya appa?” jawab Hyerim sambil menoleh pada ayahnya.

“Apa ummamu belum mau keluar dari kamar?” tanya Tuan Oh dengan raut khawatir. Hyerim menganggukan kepalanya membuat sang ayah mendesah. “Memangnya sekarang tanggal berapa?”

“29 Maret,” setelah mendengar jawaban Hyerim, Tuan Oh seperti teringat sesuatu.

“Jikyung,” gumam Tuan Oh pelan, tapi telinga normal Hyerim masih bisa mendengarnya.

“Jikyung?” ulang Hyerim merasa asing dengan nama itu.

“Ah… Bukan siapa-siapa,” elak Tuan Oh cepat seperti tertangkap basah, lalu pergi.

Hyerim berpikir tentang siapa itu Jikyung? Dan ada apa dengan ibunya? Dan kenapa dengan tanggal 29 Maret? Banyak sekali pertanyaan diotaknya, membuat kepalanya jadi pusing sendiri.

***

Oppa kenapa tidak bisa datang lagi hari ini huh?” suara kesal Jinri terdengar. Ia sedang didalam kamarnya dan beteleponan dengan Luhan.

“Begini, ada acara keluarga di rumah Hyerim. Dan Hyerim langsung yang mengundangku, aku tak enak menolaknya,” jawaban Luhan membuat telinga Jinri panas.

“JADI OPPA MEMILIH PERGI KE RUMAH SUNBAE SOK CANTIK ITU?! INI HARI ULANG TAHUNKU OPPA!” teriak Jinri menggema di kamarnya.

“Maaf, aku akan membelikanmu hadiah, selamat ulang tah..-”

“TERIMAKASIH!” seru Jinri memotong ucapan Luhan, dan memutuskan sambungan tersebut.

Jinri mencengkram erat ponselnya, ia mengatur napasnya. Di hari spesialnya ini ia tidak boleh darah tinggi, walau Luhan dan dalang utamanya Hyerim, telah membuatnya kesal setengah mati.

Jinri keluar dari kamarnya yang bernuansa pink fanta itu, setelah dapat mengendalikan diri. Ia tersenyum seramah mungkin pada tamu undangannya.

“Ini dia yang berulang tahun, saengil chukkhae hamnida Choi Jinri,” suara Semi terdengar. Jinri berbalik badan menghadap rivalnya itu yang datang ke acara spesialnya ini, Semi tampak tersenyum miring dan tangan kanannya memegang gelas berisi cola.

“Terimakasih atas ucapan dan kedatanganmu ke hari spesialku ini, Oh Semi-ssi.” ucap Jinri dengan senyum miringnya, kemudian hendak melangkah pergi.

Eiyy, mana kekasih kebanggaanmu itu? Xi Luhan-ssi? Disaat kekasihnya berulang tahun ia tidak datang?  Apa ia sibuk mengurusi praimisurinya yang cantik jelita itu? Ah ya Oh Hyerim-ssi sangat cantik dibandingkan dirimu Choi Jinri-ssi.” kata-kata pedas terdengar dari mulut Semi, Jinri menghentikan langkahnya kembali, tangannya sudah meremas ujung dress hitam selututnya.

Jinri membalikan badannya, ia menyipitkan matanya menatap Semi. “Dia ada urusan yang harus diurusi, jadi tidak bisa datang. Jangan sok tahu kau!”

“Oh geuraeyo? Keundae, aku dengar Luhan sunbae diundang Oh Hyerim ke acara keluarganya dan datang kesana malam ini, bertepatan dengan ulang tahunmu.” Semi tersenyum penuh kemenangan, Jinri mengatur napasnya berusaha sabar. “Lihat! Xi Luhan lebih memilih Oh Hyerim walau mereka sudah menjadi mantan kekasih. Itu namanya baru cinta. Kuakui, Oh Hyerim lebih sempurna dibanding kau! Kau itu tidak ada apa-apanya!”

KEUMAN!” teriak Jinri, para tamu undangan hanya diam sedaritadi melihat adu mulut kedua rival tesebut. “Jangan membuat keributan dipestaku! Ini pestaku, mau kekasihku datang atau tidak, harusnya kau tidak perlu mempedulikannya!”

“Aku memang tidak peduli, tapi hanya iba melihatmu seperti sisir yang hanya dipakai saat diperlukan lalu ditinggal kalau tidak diperlukan oleh Luhan sunbae. Berbeda dengan Oh Hyerim,”

“Iya Semi benar,” suara Woori-salah satu teman Semi- terdengar.

“Kau hanyalah sampah dimata Luhan sunbae!” tambah Jaekyung. Semi, Woori, dan Jaekyung tertawa meremehkan Jinri, bahkan para tamu yang setuju akan ketiganya pun ikut tertawa.

Jinri merasakan harga dirinya dinjak-injak oleh Semi, di hari spesialnya ia dikalahkan oleh 2 gadis, yaitu Hyerim dan Semi. Ia sangat ingin menangis mengadu, tapi pada siapa?

‘PLAK!’

Tiba-tiba sebuah tangan melayang menampar Semi. Itu bukan berasal dari Jinri, tetapi berasal dari Soojoong yang murka karena sahabatnya dilecehkan. Bahkan disitu juga ada Jungshin yang entah sejak kapan ada disana, ia menahan Soojoong yang tampak marah besar.

“Jaga omonganmu wanita jalang!” teriak Soojoong. Semi memegangi pipinya yang berdenyut nyeri.

“APA KAU TIDAK BISA MENGACA BAHWA DIRIMULAH YANG JALANG!?” teriak Jaekyung memihak Semi, membalas ucapan Soojoong. Jungshin berusaha melerai dan menahan Soojoong yang hendak menyerang Jaekyung, sampai ekor matanya melihat Jinri pergi keluar.

“Jinri!” seru Jungshin, ia langsung menyusul Jinri yang ternyata kehalaman belakang rumahnya.

Gadis itu tampak sedang duduk didekat jajaran bunga matahari, ia menutup matanya, isakannya dapat Jungshin dengar. Jungshin menghampiri gadis itu dan menyentuh bahunya.

“Heh, tenanglah,” ucap Jungshin lembut. Jinri menoleh kearahnya dengan mata sembab, lalu langsung memeluknya dan menangis dalam pelukannya.

“Jungshin-ah,” lirih Jinri. Jungshin memeluk gadis itu erat.

***

Luhan melangkah masuk kedalam rumah keluarga Oh. Ia agak memikirkan Jinri yang tadi marah kepadanya. Tapi toh, ia tidak bisa menyangkal bahwa hatinyalah yang membawanya kesini.

“Luhan hyunggg!!!!!!” teriak Sehun lalu berlari kearah Luhan, membuatnya tersenyum. “Kenapa baru datang? Aku menunggumu tahu!” ucap Sehun.

“Tadi agak macet di jalan,” jawab Luhan. Sehun hanya mengangguk-angguk mengerti, lalu menarik Luhan.

Appa, ini dia pacarnya Hyerim nuna, namanya Xi Luhan.” ucap Sehun. Tuan Oh memandang Luhan sambil tersenyum ramah.

Luhan langsung membungkuk dan mengenalkan diri. “Xi Luhan imnida. Bangapseubnida abeonim.

“Kau sangat tampan Luhan-ssi, dan kau agak mirip dengan Sehun. Pantas Hyerim luluh padamu,” ucap Tuan Oh sambil terkekeh. Luhan hanya tersenyum salah tingkah, pada nyatanya ia belum pernah berpacaran dengan Hyerim dan bahkan ia tidak yakin gadis itu luluh padanya.

Hyung, ayo kita hampiri Hyerim nuna,” ucap Sehun yang lalu menarik Luhan lagi berjalan kearah Hyerim yang sedang mengobrol dengan Yoonjo.

“Sehelai rambut lagi, itu baru 2, baru kau uji, oke?” ucap Hyerim pada Yoonjo, ia tak menyadari Sehun dan Luhan yang sudah berdiri dibelakangnya.

Arra,” jawab Yoonjo sambil memasukan 2 helai rambut yang berada di plastik bening kedalam tasnya. Kemudian ia mendapati Luhan dan Sehun yang ada dibelakang Hyerim. “Eoh Sehun? Luhan-ssi?

Hyerim langsung menengang saat Yoonjo memanggil nama kedua orang itu. Ia langsung membalikan tubuhnya menghadap dua pria tersebut.

“Eh? Luhan, kapan kau datang?” tanya Hyerim

“Baru saja,” jawab Luhan pendek.

“Yoonjo nuna, kajja,” tiba-tiba Sehun menarik Yoonjo untuk pergi bersamanya.

Eoddikayo?” Yoonjo berucap bingung.

“Kita tinggalkan Hyerim nuna dan Luhan hyung berdua. Aku ingin mereka berpacaran lagi tahu!” bisik Sehun pelan tepat ditelinga Yoonjo. Yoonjo hanya berdecak dan pasrah ditarik pergi oleh Sehun.

Hyerim dan Luhan hanya memandangi kepergian keduanya dan menggelengkan kepala bersamaan. “Kukira kau tidak akan datang,” ucap Hyerim.

“Memangnya kenapa?” tanya Luhan

“Kudengar Jinri berulangtahun malam ini,”

“Oh itu, aku tak enak menolak datang ke acara ini apalagi kau yang mengundangku langsung,”

“Begitu ternyata. Oh ya Luhan,” Hyerim menatap Luhan yang balas menatapnya heran. Hyerim melangkah mendekati Luhan.

“Heh kamu mau apa?” ucap Luhan gugup merasakan gelagat aneh Hyerim. Hyerim semakin mendekat, dan sudah ada tepat dihadapan Luhan, lalu tangannya menjambak rambut Luhan keras.

YAK!” seru Luhan setengah berteriak karena sakit, rambutnya bahkan sampai ada yang tercabut karena ulah Hyerim. “Apa-apaan kau ini Nona Oh?”

Ahniya, tidak apa, hanya balas dendam akan sikap menjengkelkanmu selama ini.”

“Tapi tidak begitu juga!”

“Sesukaku!”

“Dasar preman!”

“Lalu apa masalahmu?”

“Karena aku yang dijadikan korban olehmu, bodoh,” Luhan menjitak kepala Hyerim. Gadis itu meringis dan mengusap kepalanya, ia menatap Luhan lalu mencubiti pria itu.

“Kau ingin aku bodoh ya makanya menjitakku!? Awas kauuu!!” Hyerim terus mencubiti Luhan. Keduanya menikmati kebersamaan mereka dengan canda tawa malam itu, tak peduli pada para tamu yang kadang melihati mereka dengan aneh.

***

Hyerim tersenyum-senyum saat berjalan dikoridor kampus. Kejadian tadi malam saat bersama Luhan masih terngiang dikepalanya, seperti potongan film yang diputar terus menerus.

“Ternyata gadis itu masih saja bisa tersenyum saat secara tak langsung mengacaukan acara ulang tahunku,” ucap Jinri dari balik tembok, memperhatikan Hyerim.

Jinri melangkah mendekati Hyerim. Ia sudah fokus untuk menghabisi ‘mangsanya’ itu, selama ini ia masih bisa sabar. Tapi saat harga dirinya diinjak-injak, ia bisa saja melakukan hal ekstrem.

Yak!” seru Hyerim saat tiba-tiba Jinri menarik tangannya dan mengenggamnya erat. “Jinri?” desis Hyerim, Jinri hanya menatapnya penuh kebencian, kemudian ia menarik paksa Hyerim.

“Kita mau kemana?!” seru Hyerim, karena ia tidak bisa melawan Jinri. Tenaganya melemah karena penyakit jantungnya, yang membuat Jinri dengan mudah menariknya kemanapun.

Jinri tak menjawab pertanyaan Hyerim dan tetap menarik paksa Hyerim. Hyerim berusaha menetralkan jantungnya yang sudah berdetak abnormal karena ketakutan. Merekapun sampai di halaman belakang fakultas teknik yang terdapat sebuah gudang yang sesak.

Andwae! Yeogineun andwae!(jangan disini) Jinri-ssi jeball, andwae! Nan teryupta, jinjja teryupta(aku takut, benar- benar takut)” seru Hyerim sambil menggelengkan kepalanya, Jinri hanya tersenyum sinis dan menarik paksa Hyerim masuk kedalam gudang itu.

ANDWAEEE!!! JEBAL JINRI-SSI, JALMATHAESEUMNIDA(MAAFKAN AKU)” Hyerim berteriak memohon-mohon pada Jinri. Tetapi dengan teganya, Jinri mendorongnya masuk kedalam gudang membuat Hyerim jatuh terduduk dilantai gudang yang dingin.

Mianhaerago? (Maaf katamu) Utkhishine?(bercanda ya) Ahahahaha! Jinjja utgida(benar-benar lucu), Oh Hyerim-ssi.” Jinri tertawa renyah, dan perlahan menutup pintu gudang, Hyerim menggeleng dengan keringat dingin membanjiri tubuhnya.

Hyerim merasakan dada kirinya nyeri, jantungnya sedang berkontraksi. Pintu gudang sudah tertutup rapat. Gelap, sunyi, mencengkram, dan sesak telah menjadi satu untuk Hyerim. Ia merasa kebahabisan napas, gudang ini memang tidak punya fantilasi udara. Hyerim merasa kehilangan kesadarannya dan tubuhnya bertumpu pada pintu gudang dengan tangannya yang memegang gagang pintu.

To Be Continued

ohhh tidak apa yang terjadi oleh Hyerim?! Apakah Hyerim akan mati?! Atau Hyerim akan…. entahlah. Ah akhirnya update juga. Fyi, ff ini udah ada chapter akhirnya dan hye kasih tau aja complicated fate berakhir di part 15. Hanya bingung apakah disini ada readersnya-_- harap jgn jadi siders biar Hye tau:”””) don’t forget to RCL♡

Advertisements

Author:

A tinkerbell who dream to be Luhan's future wendy — Also an amature author, k-drama trash, k-running man freak, eternal ELF, ahjussi and korean actor addict in the same time

20 thoughts on “FF : Complicated Fate Part 11 [Lost Control]

  1. Issh jinri jahat bgt sih jadi orang. Hyerim gk papa kan? Awas kl hyerim ampe knp2 kutabok kau jinri.. Omo sehun ama luhan kpn ketauannya? Sehun itu pasti adeknya luhan, iya kan?pasti iya. #soktauseason4#

    Like

Write ur Love Letter . . . <3

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s