Posted in AU, Chapter, Family, Fanfiction, FF : Complicated Fate, PG-15, Romance, Sad, Tragedy

FF : Complicated Fate Part 12 [When The Fact Is In The Air]

image

Title : Complicated Fate Part 12

Subtitle : When The Fact Is In The Air

Genre : Family, Romance, AU, Sad, Tragedy

Lenght : Multi Chapter

Rating : PG-15

Author : Kim Hyerim

Cast :

-Hyerim (OC) as Oh Hyerim

-Luhan EXO-M as Xi Luhan

-Sehun EXO-K as Oh Sehun

-Sulli F(x) as Choi Jinri

Backsound : SM The Ballad Vol.2 – When I was where u were | SM The Ballad Vol.2 (Taeyeon SNSD) – Set me free

Jinri bersandar pada pintu gudang untuk menahannya walaupun sudah ia kunci, tapi ia berpikiran mungkin saja Hyerim bisa mendobrak pintu tersebut.

“Kau tahu, aku sudah bersabar selama ini padamu. Tapi karena kejadian pada malam ulang tahunku itu, aku tidak bisa diam begitu saja. Kau maupun Luhan Sunbae telah menginjak-injak harga diriku!” Ucap Jinri keras, berharap Hyerim mendengarkannya dari dalam.

“Aku tak menyangka bisa menggeretmu kesini, kau kan Oh Hyerim yang kuat seperti preman pasar. Tapi nyatanya kau lemah! Kau cacat!” Ucap Jinri dengan nada sinis. “Kau harus tahu diri, sekarang Luhan Sunbae itu milikku! Dasar gadis sial!” Umpat Jinri sambil mencengkram erat gagang pintu gudang.

“Jauhi Luhan Sunbae atau kau akan dapat yang lebih dari ini, Oh Hyerim-ssi. Kau mendengarkanku tidak?” Ucap Jinri, tak ada jawaban dari dalam. Jinri membalikan badannya menatap heran pintu gudang.

“Heh! Oh Hyerim! Kau masih ada didalamkan?” Jinri berseru. Tiba-tiba perasaan takut mejelajarinya, bagaimana bila Hyerim mati sial didalam karena kehabisan oksigen? Jinri langsung menggeleng kuat menyangkal pikiran anehnya.

“Oh Hyerim,” Panggil Jinri, tak ada jawaban juga. Akhirnya, Jinri memutuskan membuka kunci pintu gudang dan dengan perlahan membukan pintu tersebut.

OMO!” Jerit Jinri tertahan karena terkejut. Saat ia membukakan pintu, tubuh Hyerim langsung jatuh ketanah karena bertumpu pada pintu gudang, gadis itu tampak setengah membuka matanya, napasnya memburu, bibirnya pucat pasi.

Appha, neomu appha, jeball sallyeojwo (sakit, sangat sakit, kumohon selamatkan aku),” Ucap Hyerim lemas. Jinri panik seketika melihat Hyerim yang seperti mayat hidup itu, Hyerim tampak merangkak untuk mengambil tas selempangnya yang tadi jatuh didepannya.

Jinri langsung berjongkok mengambil tas Hyerim mendahului gadis itu. Ia mengeluarkan ponsel Hyerim dari dalam tas dan menekan-nekan layar ponsel tersebut dengan panik, mencoba menghubungi seseorang dari sana tapi ponsel Hyerim terkunci oleh password.

Yak! Apa passwordnyaaa?!!! YAKKK!!! OH HYERIM!” Teriak Jinri, tetapi Hyerim malah menghembuskan napasnya yang pendek-pendek, dan perlahan matanya mulai menutup. Jinri membelalakan matanya kaget.

YAK! JANGAN TUTUP MATAMU!” Teriak Jinri tambah panik, tiba-tiba ponsel Hyerim yang ada digenggamannya berdering menampilkan id kontak Luhan. Jinri menatap ponsel itu takut-takut dengan tangan gemetaran. Haruskah ia mengangkatnya?

***

Luhan mencari-cari Jinri di kampus hari ini. Ia harus meminta maaf karena tidak datang ke pesta ulang tahunnya kemarin malam dan membuat gadis itu kesal.

Eoh Luhan Sunbae,” Suara Soojoong sahabat Jinri terdengar ditelinga Luhan. Pria itu membalikan badannya menghadap Soojoong yang sedang berkacak pinggang menatapnya.

Eoh annyeong Soojoong-ssi, apa kau melihat Jinri?” Tanya Luhan. Entah mengapa, Soojoong yang biasanya pendiam dan bersikap ramah dan lembut, sekarang sedang menatap Luhan tajam, padahal Luhan yakin sudah bertanya kepadanya seramah mungkin.

“Dasar brengsek!” Umpat Soojoong membuat Luhan melebarkan matanya kaget. “Masih bisa-bisanya tebal muka untuk mencari Jinri?! Huh?! Apa Sunbae tidak tahu? Bahwa harga diri Jinri telah diinjak-injak oleh Semi di pesta ulang tahunnya sendiri?! Itu semua karena Sunbae dan Hyerim Sunbae! Jangan salahkan Jinri yang bisa saja melakukan apapun kepada orang yang membuat harga dirinya diinjak-injak, ia paling tak suka itu!”

“Apa maksudmu? Harga diri Jinri diinjak-injak? Dan dia bisa melakukan apapun pada orang yang melakukan itu padanya?” Luhan terlihat bingung tapi juga merasa bersalah, karena dirinya, Jinri telah diolok-olok di pestanya sendiri.

Soojoong mengangguk mantap. “Bila terjadi sesuatu padamu karenanya, harap wajar, dia memang seperti itu. Maafkan saja dia. Tapi bila terjadi sesuatu pada Hyerim Sunbae…-”

“Apa yang dia lakukan pada Hyerim?” Luhan langsung memotong ucapan Soojoong. Gadis itu tampak menghela napas.

“Jinri bilang ingin memberi pelajaran pada Hyerim Sunbae.”

Tangan Luhan langsung terkepal dengan sendirinya mendengar ucapan Soojoong. Ia langsung melangkah lebar-lebar meninggalkan Soojoong, kemudian meronggoh saku celananya untuk mengambil ponselnya, lalu ia langsung menelpon Hyerim. Ia jadi khawatir pada gadis itu.

Nada sambung terdengar tapi tak kunjung juga Hyerim mengangkat panggilannya. Yang terdengar hanyalah suara operator. Luhan mengacak-acak rambutnya frustasi. Ia mulai berjalan kesana-kemari mencari Hyerim.

Jamsinayo (permisi), apa kalian melihat Oh Hyerim atau Choi Jinri?” Tanya Luhan pada seorang mahasiswa.

“Tadi aku lihat Jinri-ssi bersama Hyerim-ssi pergi ke halaman belakang fakultas teknik.” Jawab mahasiswa tersebut.

Eoh, khamshamnida.” Luhan berterimakasih dan langsung pergi ke halaman belakang fakultas teknik.

Akhirnya Luhan sampai ke tempat tujuan. Matanya melebar kaget, ia langsung mempercepat langkahnya kearah 2 gadis yang berada didepan gudang.

“HYERIM!” Teriak Luhan khawatir melihat gadis itu tergeletak di tanah dengan keadaan setengah sadar.

Jinri yang berjongkok disebelah tubuh Hyerim, tampak sedang menahan nyeri di dada kirinya yang tiba-tiba terasa sakit, entah mengapa. Luhan sudah mendekati tubuh Hyerim dan mengangkat gadis itu kepangkuannya, ia menepuk-nepuk pipi Hyerim.

“Hye-ah, Hye-ah, bangun! Kumohon bangun!” Ucap Luhan masih menepuk-nepuk pipi Hyerim.

Appha,” Gumam Hyerim pelan nyaris tak terdengar. Luhan langsung menatap Jinri yang ada disebelahnya dengan tatapan murka.

“APA YANG KAU LAKUKAN PADA HYERIM HAH?! KAU BENAR-BENAR KETERLALUAN CHOI JINRI!” Bentak Luhan. Jinri hanya mendesis mendengarnya dan menatap Luhan tajam.

“KAU YANG KETERLALUAN! DIA PANTAS MENDAPATKANNYA! DIA HANYA KUKURUNG DI GUDANG, YANG TAK AKAN MEMBUATNYA MATI!” Teriak Jinri

“KAU BILANG TAK AKAN MATI? KAU TIDAK LIHAT SEKARANG HYERIM TERLIHAT SEKARAT!”

“BIARKAN DIA SEKARAT! BIARKAN DIA MATI! AKU MEMBENCINYA!”

“KAU HOOBAE KURANG HAJAR!”

“AKU TIDAK MENGANGGAPNYA DAN MENGHORMATINYA SEBAGAI SEOARANG SUNBAE! SAMPAI KAPAPUN AKU MEMBENCINYA!”

“KAU TAHU, AKU SUDAH MUAK! KITA PUTUS!” Setelah mengatakan itu. Luhan langsung megendong tubuh Hyerim dengan bridal style, ia juga mengambil tas Hyerim yang tadi terjatuh.

Luhan langsung melangkah pergi meninggalkan Jinri yang terpaku, gadis itu menangis pilu menatap kepergian Luhan. Tiba-tiba sosok Soojoong datang menghampiri Jinri yang sedang menangis.

“Jinri-ya, gwenchana?” Tanya Soojoong khawatir. Jinri segera menghentikan tangisnya dan mengusap air matanya kasar.

“Aku benci orang itu! Aku bahkan tidak mau menghormatinya sebagai seorang kakak, walau ia lebih tua dariku!” Ucap Jinri penuh kebencian sambil membayangkan wajah Hyerim. Ia benar-benar membenci sosok Oh Hyerim.

***

“Hye-ah, kamu mendengarkanku? Tetap sadar!” Ucap Luhan pada Hyerim yang terbaring di ranjang dorong rumah sakit Myungwoo. Gadis itu tidak menjawab karena sudah menutup rapat matanya.

Luhan segera berhenti melangkah saat tubuh Hyerim dibawa masuk ke UGD. Tadi Luhan sudah menghubungi Sehun bahwa tiba-tiba Hyerim drop, Sehun agak histeris mendengarnya untung Luhan bisa menenangkannya langsung.

Luhan duduk termenung di kursi tunggu rumah sakit. Ia mengamit kedua tangannya sambil menundukan kepalanya, sampai sosok Yoonjo muncul. Yoonjo berdiri dihadapan Luhan sambil mengatur napasnya karena habis berlari.

“Dimana Hyerim?” Tanya Yoonjo pada Luhan

“UGD, sedang dipriksa, ia pingsan,” Jawab Luhan. “Darimana kau tahu Hyerim disini?” Tanya Luhan pada Yoonjo yang sudah duduk disebelahnya.

“Dokter Shin Wonho itu adalah Ayahku, beliau yang merawat Hyerim dari penyakitnya selama ini,” Jawab Yoonjo

“Penyakit? Penyakit apa?” Luhan kembali bertanya karena ada yang aneh dari jawaban Yoonjo yang mengatakan Hyerim sakit.

Yoonjo langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya, ingin sekali ia menampar mulutnya yang keceplosan. Ia tak punya pilihan lain selain memberitahu Luhan.

“Saat berumur 14 tahun, Hyerim mengidap penyakit jantung koroner, penyakit itu dicegah dengan pemasangan cincin. Tapi setelah 5 atau 7 tahun berlalu, panyakit itu akan kembali lagi. Penyakit itu sekarang kembali, kumohon jangan beritahu keluarga Oh tentang ini.” Tubuh Luhan seketika menengang mendengarnya, ternyata Hyerim-nya selama ini mengidap penyakit mematikan seperti itu?

***

“Jikyung-ie, Jikyung-ie,” Hyerim memandangi sosok seorang wanita yang berada diatas ranjang rumah sakit. Wanita itu tetap menggumamkan nama ‘Jikyung’ sambil menangis.

Jikyung-ie, jebal derowajo (kumohon kembalilah).” Tangis wanita itu semakin menjadi-jadi. Hyerim hanya berdiri memandangi wanita itu dari samping, tapi wanita itu tak dapat melihatnya. Seketika Hyerim menyadari bahwa wanita itu adalah Ibunya, tetapi terlihat lebih muda.

“Seyeonggie,” Tiba-tiba sosok Ayahnya muncul dari  balik pintu kamar rawat Ibunya. Hyerim hanya bisa memandanginya, karena Ayahnya juga tak dapat melihatnya.

“Jikyung akan kembali, dia pasti akan ditemukan.” Hibur Tuan Oh yang sudah memeluk Nyonya Oh yang tampak menangis histeris.

“Hyerim, iriwa (kemarilah).” Panggil Tuan Oh. Pandangan Hyerim seketika berpindah dari Ayahnya kepada sosok gadis kecil berumur 1 tahun yang duduk di sofa pojok ruangan.

Gadis kecil yang Hyerim yakini adalah dirinya saat kecil dulu, melangkah kearah kedua orang tuanya. Hyerim kecil segera dibawa kedalam pelukan Ayahnya dan Ibunya, ketiganya-dengan Hyerim kecil ditengah- saling berpelukan, kedua orang tuanya menangis membuat Hyerim kecil juga ikut menangis. Ayah dan Ibunya terus mengucapkan kata-kata, ‘Jikyung kau dimanana, nak?’ ‘Jikyung cepatlah kembali’

“Jikyungneun nuguya?(Jikyung itu siapa?)” Gumam Hyerim melihati pemandangan keluarganya yang tampak muram itu. Perlahan ia berlangkah mundur dan tiba-tiba terjatuh karena tersandung kakinya sendiri.

Hyerim mengangkat tubuhnya, dan memandang sekitar. Ia tampak mengenali tempatnya berada sekarang, ya benar, tempat ini adalah rumahnya saat di Pyeongtaek dulu.

“Bagaimana bila namanya Hyerin?” Terdengar suara Ibunya yang sedang duduk di sofa ruang tengah, dan Ayahnya yang duduk disebelahnya sambil mengusap-usap perut istrinya yang membuncit.

Hajima, itu hampir sama dengan nama uri Hyerim,” Ayahnya menatap sekilas Hyerim kecil yang sedang mewarnai dengan tidur tengkurap diatas karpet.

“Bagaimana dengan Oh Sejin?” Ayahnya kembali menggeleng. “Oh Hara? Oh Hyera? Oh Sara? Oh Haneul? Oh Jaemi? Oh Gyoeul? Apa Gyoeul saja ya? Karena ia akan lahir di musim dingin.” Ayahnya tetap menggeleng.

“Oh Jikyung!” Suara Hyerim kecil terdengar seakan berseru. Kedua orang tuanya saling tatap dan kemudian tersenyum simpul.

“Baiklah nama adikmu adalah Oh Jikyung, Hyerim.” Ucap Ibunya sambil tersenyum pada Hyerim kecil yang berloncat-loncat girang karena nama yang ia usulkan disetujui orang tuanya.

“Jikyung? Adikku? Apa-apaan ini? Bahkan diriku yang memberikan namanya?” Hyerim yang melihatinya semakin bingung.

Saat kepala Hyerim merasa pusing memikirkan itu semuanya, pemandangan dihadapannya memudar seakan ditelan oleh waktu dan digantikan oleh latar rumah sakit, tempat ia melihat keluarganya muram.

Tuan Oh mengangkat tinggi-tinggi seorang balita laki-laki, sementara Ibunya hanya tersenyum bahagia melihatinya walau ada sedikit gurat kesedihan diwajahnya, dan Hyerim melihat dirinya sendiri saat berumur 1 tahun tengah merengek kepada Ayahnya untuk diangkat tinggi-tinggi juga seperti balita itu.

“Kira-kira siapa nama anak baru kita? Sayang, kita mendapatkan anak laki-laki, bukannya perempuan seperti semestinya,” Ucap Nyonya Oh. Tuan Oh memandang istrinya sekilas.

“Sudah kuputuskan bila anak kita laki-laki, namanya adalah Oh Sehun,” Tuan Oh tersenyum simpul menatap istrinya dan bergantian menatap Hyerim kecil yang tampak cemberut, karena diabaikan oleh Ayahnya dari tadi. “Hye-ah, nama adikmu adalah Sehun, Oh Sehun.” Ucap Tuan Oh pada Hyerim kecil.

“Sehunnie, ayo turun dari gendongan Appa. Ayo gantian dengan Nuna.” Ucap Hyerim kecil sembari menarik-narik ujung baju Ayahnya. Membuat kedua orang tuanya tertawa.

Hyerim makin bingung sekarang. Bukannya tadi pertama kali ia melihat bahwa orang tuanya sedih karena kehilangan Jikyung, tapi sekarang ia melihat keluarganya bahagia karena kehadiran adiknya, Sehun. Tubuh Hyerim seketika didorong sesuatu dan terjatuh entah kemana.

.

.

.

HAH!” Hyerim membuka matanya dan terbangun dari mimpinya. Keringat dingin membanjiri wajahnya, mimpi tadi benar-benar seperti nyata dan seakan pernah terjadi.

Hyerim merasa napasnya tercekat, tenggorokannya kering, ia baru menyadari bahwa dirinya berada di rumah sakit. Hyerim juga dapat merasakan genggaman hangat di tangan kanannya. Barulah Hyerim menengok dan menyadari Luhan yang menggenggam tangannya erat, seakan takut kehilangan dirinya, pria itu sedang tertidur dengan posisi duduk.

Hyerim tersenyum memandangi Luhan, tak bisa ia pungkiri lagi sekarang bahwa dirinya memang sudah jatuh cinta pada pria itu. Saat hatinya mengakui bahwa ia mencintai Luhan, benang kusut yang berbelit dalam dirinya seakan terlepas dan hilang tersapu angin musim semi.

Eung…” Luhan mengeliat dalam tidurnya dan membuka matanya. Seketika matanya sedikit melebar melihat Hyerim sudah sadar. “Hyerim!” Serunya.

Dahaengida(syukurlah), akhirnya kau sadar. Kau ingat apa yang Jinri lakukan padamu?” Ucap Luhan. Otak Hyerim langsung memutar kejadian sebelum ia pingsan, Jinri yang menggeretnya ke gudang dan mengatakan ia harus menjauhi Luhan.

Hyerim langsung menepis tangan Luhan yang ada digenggamannya. “Kka!(Pergi!)” Seru Hyerim, membuat Luhan terkejut. “Karago! (Pergi kataku!) Kamu bisa membuat Jinri patah hati lagi dan aku akan jadi korbannya!”

Luhan memandangi Hyerim dengan perasaan terluka. Gadis itu yang biasanya tampak galak, sekarang malah terlihat benar-benar lemah dan terluka dengan mata berkaca-kaca.

Manhil himdeulji(pasti berat kan),” Gumam Luhan, “Berat menghadapi penyakit mengerikan seperti itu, aku sudah tahu dari Yoonjo kau mengidap penyakit jantung koroner. Tenang, orang  tuamu dan Sehun tak akan kuberitahu,” Hyerim melebarkan matanya terkejut, Luhan sudah tahu gumamnya dalam hati. “Gurigo(dan), aku sudah mengakhiri hubunganku dengan Jinri.”

Wae?” Tanya Hyerim saat Luhan berdiri dan hendak pergi.

Iraseo naega johahae, Oh Hyerim (karena aku menyukaimu).” Jawab Luhan dan lalu keluar ruangan, sesuai perintah Hyerim tadi. Setelah kepergian Luhan, Hyerim terisak sambil memeluk guling.

***

‘KRAK! BUK! PRANG!’

Jinri membanting semua barang yang ada disekitarnya. Dirinya telah larut akan emosi. Telah beredar beritanya yang mengakhiri hubungannya dengan Luhan.

“AKHHHH!!!!!” Jinri menjerit frustasi dan terus menerus melempari barang apapun.

“CHOI JINRI!” Teriakan Tuan Choi terdengar membuat Jinri menghentikan aktifitasnya. “Ije keumanhae! (berhenti sekarang)” Bentak Tuan Choi

Jinri hanya mendengus dan berlalu pergi kearah kamarnya di lantai 2. Para pelayan rumahnya sibuk membersihkan apa yang Jinri kacaukan.

Saat sampai di kamarnya, Jinri mengunci pintunya rapat-rapat dan langsung meloncat keatas tempat tidurnya. Ia mengacak-acak rambutnya frustasi, kenapa ia jadi begini? Hanya karena Luhan dan Hyerim ia jadi begini, ia sangat menginginkan Luhan. Tapi apakah hanya sekedar menginginkan? Apakah ini hanya obsesinya belaka? Apakah ini artinya ia sama sekali tidak menyukai Luhan?

‘Drtt~Drtt~’

Getaran ponselnya membuat Jinri dengan malas mengambil benda mungil tersebut dan mengangkat panggilan yang berasal dari sahabat baiknya, Soojoong.

Wae?” Tanya Jinri malas setelah mengangkat sambungan itu.

Neon gwenchana?” Suara Soojoong terdengar khawatir

Ohk (ya),”

Geotjimal hajima, (jangan berbohong),”

Nan jinjja gwenchana, kau saja yang berlebihan!”

“Baguslah kalau begitu. Jinri-ya kuharap kamu tidak marah saat aku mengatakan ini. Kamu sebenarnya tidak menyukai Luhan Sunbae, kamu hanya menginginkannya, itu hanyalah sebuah obsesi belaka, bukanlah cinta.”

Perkataan Soojoong ditelepon membuat Jinri terdiam, ia rasa sahabatnya itu benar. Dia tidak pernah sama sekali mencintai Luhan, ia hanya kagum akan ketampanan pria itu sampai berobsesi memilikinya.

“Kurasa kamu benar.” Ucap Jinri

***

Hyerim akhirnya dibolehkan pulang dari rumah sakit. Hyerim dituntun oleh Sehun dan diantar kedua orang tuanya menuju kamarnya. Setelah Hyerim berbaring di ranjangnya, kedua orang tuanya menatapnya.

“Istirahat yang cukup. Jangan sampai over lagi dalam berkerja dan kuliah. Syutingmu sudah selesaikan,” Ucap Nyonya Oh sambil menyelimuti putrinya. Hyerim mengangguk dan tersenyum.

Ne Umma, arrasoyo,” Ucap Hyerim

“Lebih baik kamu tidak kuliah dulu selama beberapa hari, Dokter Shin bilang kondisimu lemah.” Ucap Tuan Oh. Hyerim tiba-tiba merasa takut bila Dokter Shin sudah memberitahukan tentang penyakitnya kepada keluarganya.

“Shin baksa terlalu berlebihan, aku baik-baik saja,”

“Yang penting Nuna istirahat, Luhan Hyung bilang ingin menjengukmu.” Ucap Sehun membuat Hyerim terpaku saat mendengar nama Luhan.

“Baiklah, Appa dan Umma harus pergi.” Ucap Tuan Oh dan kemudian berlalu pergi bersama istrinya.

Hyerim berusaha beristirahat dan memejamkan matanya, ia tidak berharap untuk bertemu dengan Luhan. Entah kenapa, walau hatinya sudah mengakui ia mencintai pria itu, tapi pikirannya menolak untuk mengungkapkan, ia seakan trauma atas kejadian Jinri menggeretnya.

Nuna, jangan tidur,” Ucap Sehun sambil meguncang-guncang tubuh Hyerim

Hng? Kamu menganggu saja! Sana pergi!” Ucap Hyerim ketus

Nuna galak!”

“Terserah!!!” Hyerim menarik lagi selimutnya sampai menutupi seluruh badannya.

“Aku tadi hanya bercanda Luhan Hyung ingin menjenguk Nuna,” Aku Sehun, “Luhan Hyung sedang sibuk,” Hyerim hanya mendengarkan adiknya mengoceh. “Aku ingin kalian berpacaran sungguh-sungguh, kan Luhan Hyung sudah putus dengan Jinri. Kelak kalian bisa bersama, aku benar-benar bisa menjadi adiknya Luhan Hyung. Bukannya itu mengasyikan?”

Sehun berucap riang, membuat Hyerim terdiam mendengar ucapannya. Adiknya ingin menjadi adiknya Luhan, ia jadi mengingat sesuatu karena itu.

Test DNA.” Gumam Hyerim pelan

***

Hyerim memasukan beberapa bukunya kedalam tas saat jam kuliahnya beres. Mulai hari ini, ia sudah full mendapat jadwal kuliah yang padat. Pekerjannya sementara ia abaikan, mengingat juga kondisi jantungnya yang makin lama makin lemah.

Saat Hyerim mengangkat wajahnya, ia tak sengaja beradu pandang dengan Luhan. Hyerim langsung membuang mukanya, sementara Luhan menatapnya sayu.

“Rim-ah,” Panggilan Yoonjo terdengar membuat Hyerim menghela napas, kemudian menatap sahabatnya itu.

“Ada apa?” Tanya Hyerim, ekor matanya diam-diam memperhatikan Luhan yang keluar dari kelas.

“Kata Dokter Kwon, hasil test DNA-nya sudah bisa diambil.” Ucap Yoonjo membuat tubuh Hyerim menegang mendengarnya.

Jeongmalyo?” Yoonjo segera mengangguk, Hyerim langsung milirik arlojinya, belum terlalu sore untuk mengambilnya hari ini juga. “Gomawoyo, Yoonjo-ya, aku akan mengambilnya sekarang juga.”

Keundae(tapi), 3 helai rambut itu milik siapa saja? Kamu belum menjelaskannya padaku.” Ucap Yoonjo saat Hyerim hendak pergi, Hyerim lagi-lagi menghela napas dan menatap sahabatnya lekat.

“3 helai rambut itu adalah milikku, Sehun, dan Luhan. Entahlah, aku curiga bahwa Adik Luhan yang hilang adalah Sehun, ciri-ciri Adiknya Luhan sangat mirip dengan Sehun.” Jelas Hyerim. Membuat Yoonjo melebarkan matanya dan tak berkomentar sama sekali.

***

Jinri melangkahkan kakinya kedalam rumah mewahnya itu dan berjalan menuju kamarnya, saat sudah berada di kamarnya, ia melemparkan tasnya asal. Sampai sebuah suara mengangetkannya.

“Inhwa-ya! Neon jeongmal!? KAU BILANG APA?! PUTRI KITA…?!” Teriakan Inkyung terdengar dari kamar sebelah, yang tak lain adalah kamar kedua orang tua Jinri.

Jinri penasaran apa yang sedang didebatkan kedua orang tuanya, dengan iseng ia menempelkan telinganya ke dinding, untuk mendengar lebih jelas.

“KAU MENCULIKNYA?! KAU TEGAA?” Teriakan Ibunya terdengar lagi, Jinri membekap mulutnya dengan kedua tangannya.

“Menculik? Menculik siapa?” Gumam Jinri dalam hati. Terdengar suara barang pecah, disusul oleh langkah lebar Ayahnya yang pergi meninggalkan kamar.

Jinri jadi panik akan keadaan Ibunya. Ia langsung melesat ke kamar kedua orang tuanya dan benar saja, Ibunya sedang menangis sambil duduk di lantai, menatap nanar lantai kamar. Jinri mendekati Ibunya dan ikut duduk dihadapannya.

Umma wae irae? (Kenapa begini)” Tanya Jinri khawatir. Inkyung mengangkat wajahnya dan menatap Jinri nanar, lalu tangan kanannya meraih pipi Jinri dan kembali terisak.

“Choi Jinri, putriku yang malang.” Gumam Ibunya membuat Jinri bertambah bingung.

***

Hyerim mondar-mandir tidak jelas dikoridor rumah sakit, ia tadi sempat check up ke Dokter Shin dan sekarang ia sedang gelisah menunggu Dokter Kwon memberikan hasil test DNA.

“Oh Hyerim-ssi,” Panggilan berat seorang Dokter lelaki berkacamata dan bekepala botak itu membuat Hyerim menolehkan kepalanya.

Nde baksanim? Apa Anda sudah mengambil hasilnya?” Tanya Hyerim, Dokter Kwon mengangguk dan menyerahkan sebuah map coklat kepada Hyerim. Hyerim menerimanya dengan tangan gemetaran.

Khamshamnida baksanim.” Ucap Hyerim sambil membungkuk hormat setelah menerima map tersebut. Dokter Kwon hanya tersenyum simpul dan mengangguk, kemudian pergi.

Masih dengan tangan gemetaran, Hyerim membuka map tersebut, dan perlahan membaca hasil test DNA yang tercantum pada kertas putih yang ada didalam map. Hyerim berharap ia salah baca atau apapun, jantungnya sudah bergemuruh cepat, disitu dinyatakan…. Hasil DNA Sehun dan Luhan, positif cocok, sementara hasil test DNA dirinya dan Sehun, tidak cocok sama sekali.

Tubuh Hyerim merosot seketika, dengan sisa tenanganya ia mengambil ponselnya dan mengirim SMS kepada Luhan.

To : Xi Luhan

Apa kau punya foto Adikmu saat kecil? Bisa kau kirimkan padaku? Mungkin aku bisa membantumu menemukan Adikmu.

Pesan itu terkirim. Hyerim harap ia bermimpi atau apapun itu, ia hanya tidak bisa menerima, bahwa laki-laki yang selama ini ia anggap Adik bukanlah Adik kandungnya. Tapi harapan Hyerim pupus sudah dengan foto balita laki-laki yang dikirimkan oleh Luhan. Foto balita itu mirip dengan Sehun, dan Hyerim rasa balita itu memang Sehun.

Tanda lahir berbentuk bulan sabit, lahir pada bulan april, sebuah luka bakar, muka yang mirip dengan Luhan, foto saat balita yang mirip sekali, dan…. Hyerim kembali menatap kertas yang ada digenggamannya yang sudah lusuh karenanya. Dan hasil test DNA itu menyatakan, Sehun dan Luhan benar-benar Adik dan Kakak kandung. Tak bisa dipungkiri. Hyerim memegangi dada kirinya, tiba-tiba napasnya tercekat, terkejut mengatahui kenyataan yang ada.

Takdir macam apa ini? Kenapa Tuhan memberikan takdir seperti ini padanya?

To Be Continued

Halloha! HyeKim back! Sebelum UTS jd update dulu complicated fatenya ahahah :D. Sudah terjawab bahwa adiknya Luhan adalah  ….. Sehun!  Kalian semua bener karena udah ngira dari awal bahwa itu Sehun(emang keliatan banget kali ya)dan siapa disini yg nunggu Hyerim-Luhan balikan?:p mungkin akan terkabul nanti. Tapi mungkin loh ya belom tentu mereka balikan(author jahat wkwkwk) Dan konflik demi konflik mulai terjawab. Next chapter akan dijelaskan lebih rinci apa yg terjadi di keluarga Hyerim 🙂 jangan lupa tinggalkan jejak kalian^^

Advertisements

Author:

A tinkerbell who dream to be Luhan's future wendy — Also an amature author, k-drama trash, k-running man freak, eternal ELF, ahjussi and korean actor addict in the same time

19 thoughts on “FF : Complicated Fate Part 12 [When The Fact Is In The Air]

  1. Wow wow wow… Akhirnya semuanya terjawab, i mean hampir terjawab. Menurut analisa saya/halah/ jikyung itu jinri, shixun itu sehun. Jadi yg chap kemaren yg appanya hyerim ngomong jikyung pada tgl 29 april itu menunjukkan jinri yg berulangtahun pd tgl tsb/apaan sih/ nah yg di teaser itu yg ada kata2 aku adalah adik dari orang yg kubenci selama ini itu adalah perkataan jinri yg ditujukan kpd hyerim saat ia mengetahui faktanya.#soktauseason5# lantas apa yg dimaksud appanya jinri yg mengatakan kpd eommanya jinri bahwa dia telah menculik putri mereka? Lantas siapa sbenernya putri mereka?/apa bgt sih ni orang/

    Like

Write ur Love Letter . . . <3

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s