Posted in AU, Chapter, Family, Fanfiction, FF : Complicated Fate, PG-15, Romance, Sad, Tragedy

FF : Complicated Fate Part 13 [I Finally Find You]

image

Title : Complicated Fate Part 13

Subtitle : I Finally Find You

Genre : Family, Romance, AU, Sad, Tragedy

Lenght : Multi Chapter

Rating : PG-15

Author : Kim Hyerim

Cast :

-Hyerim (OC) as Oh Hyerim

-Luhan EXO-M as Xi Luhan

-Sehun EXO-K as Oh Sehun

-Sulli F(x) as Choi Jinri

Backsound : SM The Ballad Vol.2 – When I was where u were | SM The Ballad Vol.2 (Taeyeon SNSD) – Set me free

Hyerim mengemudikan mobilnya sangat kencang. Diliriknya sekilas hasil test DNA yang diterimanya beberapa menit lalu.

“Tidak ada kesalahan dalam test DNA itu, Hyerim. Hasilnya sudah benar-benar akurat. Sehun bukanlah adikmu.”

Hyerim menginjak pedal gas dengan kencang membuat speedmometer mobilnya melaju dalam kecepatan 100 km/h. Perkataan Dokter Kwon tadi terputar kembali diotaknya. Memang Hyerim sendiri sudah memperkirakan bahwa hasilnya akan begini, tapi menerima kenyataan jauh lebih sulit dibandingkan dengan memikirkannya.

“Akhhh!!!” 

Hyerim merasakan dada kirinya nyeri. Ia mulai kehilangan kendali, mobilnya ia belokan ke kanan dan ke kiri. Penglihatannya mulai mengabur seakan tak bisa melihat apapun di malam yang hanya disinari cahaya rembulan. Untung saja seberkas cahaya lampu jalanan dapat membantunya melihat sesuatu.

***

“Jigeum neo pappayo?(Sekarang kau sibuk, ya?)” ucap Luhan ketika masuk ke appartemen Jongdae, dan mendapati sahabatnya sedang berkulat dengan foto-foto dan kertas.

“Eung(ya),” jawab Jongdae sekenanya sambil menganggukan kepala.

Luhan mengamit kedua tangannya didepan mulut dan mulai meniup-niupkan udara ke tangannya, dalam hal untuk menghangatkan diri. Diluar sangat dingin, tapi Luhan berencana ingin mengajak Jongdae keluar karena ia jenuh. Ia ingin mengajak Sehun, tapi ia agak enggan karena sudah lama ia tidak pergi bersama Jongdae.

“Kamu mengerjakan apa sih? Keliatannya sibuk sekali,” Luhan pun ikut duduk di sofa bersebelahan dengan Jongdae. Sahabatnya itu masih sibuk dengan perkerjaannya, lalu melirik sekilas Luhan.

“Membuat laporan saat event charity di Pyeongtaek tempo itu. Tadinya aku ingin mengerjakannya bersama Yoon Bomi, ketua jurnalistik yang mewadahi majalah kampus kita. Tapi Bomi beberapa kali tak bisa, dan hasil dokumen ini diminta oleh anggota senat secepatnya dalam minggu ini.” jelas Jongdae.

Luhan hanya mengangguk-anggukan kepalanya paham dengan mulutnya sedikit terbuka membentuk huruf O. Luhan menyipitkan matanya saat melihat sebuah foto yang menarik perhatiannya, tanpa disadarinya, tangannya menarik foto itu untuk melihatnya lebih jelas. Foto sebuah pohon mapple di halaman yang sangat luas.

“Kau suka objek pohon mapple di kebun panti asuhan Sunny Green? Halamannya memang luas, enak dan nyaman untuk bersantai,” ucap Jongdae yang menangkap Luhan memperhatikan foto pohon mapple tesebut.

“Pohon ini…pohon di halaman Sunny Green?” tanya Luhan

“Eung.” jawab Jongdae sambil mengangguk. “Baguskan? Pohonnya sangat rindang, kata kepala panti Jin Hyewon, pohon itu sudah ada sejak lama.”

Luhan tidak mendengarkan ocehan Jongdae selanjutnya. Ia mengerutkan alisnya memandangi foto pohon mapple tesebut, seakan pernah melihatnya. Dan akhirnya Luhan pun ingat, pohon itu adalah pohon yang sama pada foto Hyerim dan Sehun saat masih kecil.

 

“Memangnya foto itu di ambil dimana?”

“Panti asuhan Sunny Green, tepatnya di Gyeongi-do,”

“Kamu pernah tinggal di Gyeongi? Oh ya! Hyerim kan lahir disana. Kamu tinggal di daerah mana Sehun-ah? Nenek dari mamaku tinggal di Gyeongi juga,”

“Di daerah Pyeongtaek.”

“Dia diangkat oleh keluarga jaksa terkenal, aku hanya bisa memberitahukan itu, maaf.”

“Yang ketiga, anak dari pasangan jaksa Oh Daejun dan desainer Park Seyoung, Oh Hyerim dan adiknya Oh Sehun,”

Semua perkataan itu teringat lagi oleh Luhan dengan jelas. Pyeongtaek, Gyeongi, Sunny Green, keluarga jaksa terkenal, dan Sehun sebagai kanidat adiknya. Luhan menelan salivanya, seakan baru menemukan sebuah jawaban, lebih tepatnya sedikit lagi menemukan sebuah jawaban.

Luhan pun langsung berdiri dan pergi meninggalkan appartemen Jongdae. Foto pohon mapple tesebut masih berada digenggaman tangannya, walau Jongdae sudah berteriak-teriak padanya untuk mengembalikannya. Luhan mengambil ponselnya, SMS dari Hyerim masih ada disana.

From : Oh Hyerim

Apa kau punya foto adikmu saat kecil? Bisa kau kirimkan padaku? Mungkin aku bisa membantumu menemukan adikmu.

Luhan membaca pesan itu untuk kedua kalinya. Hyerim sepertinya tahu tentang hal yang baru diyakininya. Jari-jari Luhan bergerak menyentuh layar sentuh ponselnya, lalu ia pun menempelkan ponselnya ke telinganya.

“Hallo? Mama?” ucap Luhan saat sambungan terangkat. Luhan  berjalan cepat menuju lift dan memencet tombol lantai bassement.

“Ya? Luhan? Ada apa?” suara Ibunya terdengar disebrang sana.

“Ma, benarkan keluarga kita dulu kecelakaan didaerah Pyeongtaek, Gyeonggi?”

“Iya, mama kan sudah memberitahumu saat kamu menanyakan lewat telepon saat itu. Apa kurang jelas?”

Luhan terdiam sebentar saat pintu lift terbuka, ia langsung keluar dengan buru-buru dan dengan cepat mengambil kunci mobil di saku celananya.

“Ah..aku hanya memastikan saja. Terimakasih, Ma,”

Luhan pun memutuskan sambungan telepon tersebut dan langsung berlari menuju mobilnya dan mengendarainya menuju suatu tempat. Ia melirik sekilas foto yang berada digenggaman tangannya. Tak salah lagi, pikirnya.

***

“HAH!! HAHH!!” Hyerim mengatur napasnya yang tersenggal-senggal. Keringat dingin mebanjiri seluruh tubuhnya.

Hyerim tadi hampir mengalami kecelakaan, bila saja ia tidak menyadari bahwa jalan yang dilintasinya sudah dekat dengan rumahnya. Dan untung saja Hyerim langsung bisa menepikan mobilnya didepan rumahnya. Hyerim melepas sabuk pengaman yang terasa mencekiknya dan turun dari mobil.

“Akh!” jerit Hyerim tertahan. Baru saja dua langkah ia keluar dari mobil, tubuhnya sudah terhuyung jatuh.

Hyerim memejamkan matanya dan meremas ujung bajunya kuat, keringat dingin tambah bercucuran disekitar wajahnya, jantungnya berdenyut nyeri seperti akan lepas sekarang juga.

“Kuatlah Hyerim, kuat! Kau adalah gadis yang kuat,” ucap Hyerim pada dirinya sendiri dan kemudian membuka matanya dan perlahan berdiri, lalu Hyerim mulai berjalan lagi kearah rumahnya.

“Umma, Sehun, Appa,” seru Hyerim dengan suara paraunya begitu sudah berada didalam rumah.

“Hyerim? Ya ampun, kau tak apa?” Seyoung-ibu Hyerim-muncul dengan wajah khawatir, disusul oleh Sehun dibelakangnya. Keduanya mendekati Hyerim.

“Umma, ige mwoya?” tanpa mempedulikan raut khawatir Ibu dan Adiknya. Hyerim melihatkan hasil test DNA dirinya, Sehun, dan Luhan.

Seyoung melebarkan matanya saat melihat kertas yang berada di tangan Hyerim, Sehun yang membacanya menggelengkan kepala tanda tak percaya. Sehun dengan cepat menyambar kertas hasil test DNA tersebut dari tangan Hyerim dan membacanya lebih seksama, tangannya mencengkram kertas itu dengan kuat.

“Umma, bisa kau jelaskan?” tanya Hyerim menatap Ibunya lekat. Seketika tangis Seyoung pecah, tubuhnya merosot kelantai tepat dibawah Hyerim.

“Jikyung hiks…diaa…hilang…” ucap Seyoung, lalu mengangkat wajah untuk menatap Hyerim yang memasang wajah bingung. “Jikyung, dia adalah adikmu, adik kandungmu, Hyerim. Ia lahir 29 Maret 1995.”

“Jikyung? Adikku? 29 Maret 1995?” gumam Hyerim. Sementara Sehun memandangi Kakak dan Ibunya dengan ekpresi tak biasa.

“Saat baru melahirkan adik perempuanmu, Oh Jikyung. Ia langsung diculik oleh orang yang tidak menyukai popularitas Ayahmu. Aku dan Ayahmu mencari-cari Jikyung, kami benar-benar panik, lalu terdengar kabar jaksa Choi Inhwa, jaksa saingan Ayahmu, kelahiran putri pertama mereka yang bernama Choi Jinri. Mereka tidak mempublikasikan tentang bayi mereka karena langsung pergi ke Amerika,” Seyoung mulai menjelaskan.

“Dan disaat itu pula sudah berminggu-minggu Jikyung hilang, demi menjaga image keluarga kita agar tak kalah dari Jaksa Choi. Kami mengadopsi Sehun.” Seyoung melirik putranya yang memandangnya dengan tatapan kosong.

“Usia Sehun barulah beberapa hari, ia mengalami kecelakaan yang menyebabkan adanya bekas luka bakar di kaki kirinya. Hari itu tepat tanggal 16 April 1995, hari ulang tahun pertamamu, Hyerim. Kami menganggapnya juga sebagai datangnya seorang bayi lelaki di keluarga kami yang akan menjadi putra kami, Oh Sehun.”

“Jadi… aku…adalah…adiknya Luhan hyung?” gumam Sehun lambat-lambat. Seyoung menatapnya dan mengangguk dengan air mata yang mengalir.

“Umma tidak tahu bahwa Luhan adalah kakak kandungmu, Sehun. Maafkan Umma dan Appa yang tidak pernah memberitahukan ini sebelumnya. Umma hanya ingin menutup luka dimasa lalu karena hilangnya Jikyung. Umma selalu mendoakannya dan pada tanggal 29 Maret umma selalu meminta Tuhan untuk mengembalikannya.” ucap Seyoung kemudian beralih menatap Hyerim.

Hyerim memasang ekpresi yang sulit diartikan dan tatapan matanya kosong. Keringat dingin membasahi pelipis dan telapak tangan Hyerim yang bergetar. Jantungnya kembali berkontraksi saat mendengar pernyataan mengejutkan dari Ibunya. Sehun bukan adik kandungnya dan adik kandungnya entah dimana keberadannya sekarang.

“HAH! AKHHH!!” Hyerim menjerit kesakitan sambil meremas dada kirinya dan kemudian tubuhnya terhuyung jatuh.

Seyoung dan Sehun terkejut melihatnya. Keduanya langsung mendekati Hyerim yang menerima serangan jatung karena terkejut.

“Nuna! Nuna!!!!” jerit Sehun sambil berusaha mengangkat tubuh Hyerim.

“Sa…kitt…,” rintih Hyerim pelan hampir tak terdengar dengan bibir begetar. Seyoung yang berada disebelah Sehun sudah menangis histeris melihat keadaan putri sulungnya yang seakan sedang melanda maut.

“Umma, palli! Kita bawa Nuna ke rumah sakit!” seru Sehun sambil menatap Ibunya.

Seyoung mengangguk dan dengan cepat berdiri untuk mengambil kunci mobil. Sementara Sehun mengangkat tubuh Hyerim dan menggendongnya secara bridal dan mulai berjalan keluar rumah. Sehun hampir saja menjatuhkan tubuh Hyerim saat keluar rumah karena terkejut, Luhan sudah ada dibalik pintu masuk rumahnya dan menatapnya dengan tatapan kosong.

“Luhan hyung?” seru Sehun masih dengan keterkejutannya.

Seyoung yang sudah menemukan kunci mobil, menyusul Sehun keluar, ia juga tak kalah terkejutnya melihat Luhan sudah ada di pintu rumahnya.

“Luhan? Apa yang kau lakukan?” tanya Seyoung. Luhan menelan salivanya sebelum mengeluarkan suara.

“Aku sudah mendengar semuanya,” ucap Luhan, kemudian menatap Sehun. “Sudah kuduga bahwa kau orang yang selama ini kucari, adikku yang sudah lama hilang.” Luhan menatap dalam mata Sehun seakan ingin menangis, ia bahagia pada akhirnya telah menemukan adiknya.

Sehun sudah siap menjatuhkan air matanya seperti Nyonya Oh yang sudah kembali dibanjiri air mata. Akan tetapi, tubuh berat Hyerim yang berada digendongannya, menyadarkan Sehun bahwa Nunanya sekarang sedang dalam keadaan sekarat.

“Umma, Luhan hyung! Ayo kita segera ke rumah sakit, Hyerim nuna sudah tak sadarkan diri!” seru Sehun panik saat melihat Hyerim sudah menutup matanya.

Ketiganya langsung tergesa-gesa menuju mobil saat mengingat Hyerim yang tak sadarkan diri.

“Pakai saja mobilku!” seru Luhan. Sehun dan Nyonya Oh langsung masuk kedalam mobil Luhan.

Luhan segera melajukan mobilnya dengan cepat. Diliriknya dari kaca spion, Nyonya Oh dan Sehun yang sedang menatap khawatir wajah pucat Hyerim.

“Hyerim bertahanlah,” gumam Luhan dalam hati dan menaikan kecepatan laju mobilnya menuju rumah sakit.

***

Sesampainya di rumah sakit, Hyerim langsung dibawa ke ruang ICU untuk menerima perawatan. Bahkan tadi, napas Hyerim sempat tidak ada sama sekali. Luhan, Sehun, dan Nyonya Oh menunggu di ruang tunggu sambil duduk dibangku yang disediakan.

“Sebenarnya, kenapa Hyerim nuna tiba-tiba drop? Bahkan sampai sempat tak bernapas?” ucap Sehun membuat Luhan yang ada disebelahnya menoleh.

“Hyerim…eung…” Luhan bersuara mencoba memberitahu sesuatu.

“Hyerim kenapa?” tanya Nyonya Oh sambil menatap Luhan. Luhan merasa napasnya tercekat dan seakan sulit mengeluarkan suara.

“Hyerim…menderita jantung koroner…” ucap Luhan akhirnya berhasil memberitahukan informasi itu.

Sehun hanya memasang wajah tanpa ekpresi antara terkejut atau meminta penjelasan lebih. Sementara Nyonya Oh sudah kembali menangis mendengarnya.
“Hyung! Nongdamhajima(jangan bercanda)! Hyerim nuna sudah sembuh dari penyakit itu!” Sehun meninggikan intonasi bicaranya.

“Dengan pemakaian cincin? Yoonjo sudah menjelaskan padaku, pemakaian cicin hanya bersifat sementara, karena tidak berfungsi untuk membuang plak. Maka setelah 5 atau 7 tahun berlalu, serangan jantung koroner akan datang lagi.” jelas Luhan.

Sehun hanya menundukan kepala memandang lantai dengan tatapan kosong. Tangisan Nyonya Oh masih memenuhi koridor rumah sakit tersebut, sambil mengumamkan kata-kata “Hyerim anakku yang malang.” Luhan menggeser duduknya mendekat kearah Sehun, kemudian merangkul bahunya membuat pria itu menoleh padanya, Luhan tersenyum tipis.

“Janganlah bersedih, Hyerim akan baik-baik saja. Percayalah, ada aku disini sebagai kakakmu untuk selalu menemanimu,” ucap Luhan.

Detik berikutnya, Sehun sudah memeluk Luhan erat. Luhan membalas pelukan adiknya, air matanya sudah siap jatuh. Tak menyangka orang yang berada dipelukannya adalah adiknya yang sudah lama hilang.

“Hyung, aku bersyukur, ternyata kakak kandungku adalah dirimu. Walau Tuhan jahat memisahkan kita. Tapi karena ini aku jadi tahu betapa kau menyayangiku dengan berusaha keras mencariku. Dan aku dapat bertemu keluarga Oh yang sangat luar biasa,” ucap Sehun

“Aku juga bersyukur ternyata adik kandungku adalah kamu. Tuhan sudah mempertemukan kita kembali,”

Luhan menintikan air mata bahagianya, begitupun dengan Sehun. Nyonya Oh memperhatikan keduanya dengan tatapan haru. Malam ini, kedua adik-kakak yang sudah lama berpisah dipersatukan kembali.

***

Hyerim memandang sekitar. Ia kebingungan dimana sekarang dirinya. Orang-orang berlalu lalang tanpa mempedulikannya. Hyerim seketika menangkap sosok perempuan berambut pendek sabahu sedang berjalan membelakanginya.

“Jikyung! Jikyung!”

Entah bagaimana bisa mulutnya meneriakan nama itu, Hyerim juga tidak tahu. Gadis yang dipanggil Jikyung oleh Hyerim, malah kian pergi menjauh. Hyerim berlari mengejarnya dan tetap meneriakan nama Jikyung. Sampai sebuah tangan menarik tangannya.

“Luhan?” gumam Hyerim saat melihat orang yang menariknya.

“Dia telah menyakitimu selama ini,” ucap Luhan kemudian pergi meninggalkan Hyerim.

“Lu….! Luhan!!” Hyerim berteriak memanggil pria itu, tapi Luhan tak juga menengok atau membalikan badannya untuk kembali pada Hyerim.

“LUHANNNN!!!” Hyerim berteriak keras, kemudian membuka matanya. Langit-langit kamar rumah sakit lah yang pertama menyambut pandangan Hyerim.

“Hah! Hah!” Hyerim mengatur napasnya yang tersenggal-senggal seakan habis berlari. Keringat dingin bercurcuran dipelipisnya.

Sebuah tangan mengenggam tangan Hyerim erat, tangan itu sudah dari tadi menggenggam tangannya. Hyerim menoleh dan mendapati Luhan duduk disamping ranjangnya, menatapnya lembut dan tersenyum hangat padanya. Hyerim seakan mau mati melihat senyuman itu.

“Kau tak apa?” tanya Luhan, Hyerim mengangguk lalu perlahan bangun dan mendudukan dirinya menyandar pada kepala ranjang.

“Hanya mimpi buruk,” jawab Hyerim. Lalu Luhan menariknya kedalam pelukannya, Hyerim agak terkejut dibuatnya.

“Tenanglah, aku tak akan pergi,” ucap Luhan sambil mengelus rambut Hyerim.

“Hah? Apa maksudmu?” tanya Hyerim tak paham. Luhan menatap Hyerim yang juga menatapnya bingung.

“Kamu pikir aku tidak dengar? Kamu menyebut namaku dalam mimpimu. Jadi, mimpi burukmu adalah aku meninggalkanmu,”

Pipi Hyerim sudah merah sekali mendengar ucapan Luhan. ‘Memalukan!’ rutuk Hyerim dalam hati. Sementara Luhan sudah tersenyum geli melihat Hyerim yang sudah seperti kepiting rebus itu.

“Jadi Nona Oh… bagaimana perasaanmu padaku sekarang?” tanya Luhan sambil menatap Hyerim lekat.

Hyerim yang ditatap seperti itu menundukan kepalanya, menyembunyikannya di dada bidang Luhan.

“Eung…. sebelumnya apa perasaanmu masih sama padaku?”

“Kalau itu sih… eung bagaimana ya. Memalukan memamg mengingat aku pria yang tampan mengemis cinta padamu. Tapi memang itu kenyataannya. Perasaanku tak pernah berubah padamu walau ya masih banyak gadis cantik dikampus, mungkin salah satunya Im Yoona, primadona fakultas akting,”

Hyerim hanya terkekeh mendengar ucapan Luhan, lalu memukul lengan kanan Luhan. “Perasaanku padamu masih sama yaitu membencimu, malah sekarang bertambah jadi sangat membencimu. Dalam artian aku mencintaimu,”

“Jadi, apa kamu mau menjadi pacarku?”

Mendengar pertanyaan itu, Hyerim mengangkat kepalanya untuk menatap Luhan. Lalu tertawa geli.

“Tutup dulu matamu, aku akan memberitahukan jawabannya,” ucap Hyerim sambil tersenyum geli. Luhan menaikan sebelah alisnya bingung.

“Baiklah.”

Luhan menutup matanya. Hyerim melepaskan diri dari pelukan Luhan. Luhan ingin sekali menariknya kembali kepelukannya tapi diurungkan niatnya itu. Chu~ sebuah ciuman mendarat dipipi kanan Luhan, membuat pria itu kaku untuk sesaat.

“Iya aku mau, ahahah,”

Setelahnya terdengar suara Hyerim. Gadis itu langsung menarik selimutnya menutupi seluruh tubuhnya dan mengambil posisi berbaring diranjang. Luhan membuka matanya dan menyipitkan matanya melihat Hyerim tertawa geli dibalik selimut.

“Hey kekasihku, kau jahil sekali ya,” ucap Luhan kemudian naik keatas ranjang dan menarik selimut Hyerim.

Luhan mengambil posisi tidur menyamping, lalu ia membalik tubuh Hyerim untuk menyamping menghadapnya. Hyerim masih saja tertawa, tawanya baru berhenti saat Luhan mengelus pipinya.

“Apa?” tanya Hyerim gugup sambil menatap Luhan. Pria itu hanya tersenyum dan mendekatkan wajahnya ke wajah Hyerim dan mencolek hidung Hyerim dengan hidungnya.

“Yak! Apa sih?” Hyerim memanyunkan bibirnya.

Luhan terkekeh geli, kemudian mendeketakan lagi wajahnya, bukan untuk mencolek hidung Hyerim. Tetapi mencium bibir gadis itu. Hyerim melebarkan matanya kaget, tapi akhirnya membalas ciuman itu juga. Luhan mengangkat dagu Hyerim kemudian melumat bibir gadis itu, Hyerim membalas lumatannya. Ketika ada kode untuk masuk, Luhan memperdalam ciumannya dengan memainkan lidah Hyerim.

“Eung…hey…” ucap Hyerim disela-sela ciumannya.

“Hmmm..” Luhan hanya bergumam dan memiringkan kepalanya ke kanan dan ke kiri begitu pula dengan Hyerim.

“LUHAN HYUNG APA HYERIM NUNA SUDAH…-”

Tiba-tiba pintu kamar dibuka lebar-lebar, datanglah sosok Sehun sambil berteriak, tapi terpotong saat melihat adegan dihadapannya dengan mulut terbuka lebar. Hyerim tersadar dan langsung mendorong Luhan sedikit menjauh, dan bangun dari tidurnya, menatap Sehun sambil menggigit bibir bawahnya. Luhan hanya menengok kebelakang sambil menatap Sehun dengan tatapan terganggu.

“..–Sadar,” Sehun melanjutkan ucapannya yang sempat terpotong.

Luhan kemudian ikut bangun dan duduk diatas ranjang seperti Hyerim. “Iya, Hyerim sudah sadar. Hush! Hush! Pergi sana!” usir Luhan.

“Oh ya, ya,” ucap Sehun dengan tampang bodohnya dan kemudian pergi.

“Jangan lupa tutup pintunya!” teriak Luhan. Sehun pun menutup pintu kamar. “Ahahah akhirnya pergi juga.” Luhan tertawa senang tapi tiba-tiba Hyerim menimpuknya dengan batal.

“Dasar sinting!” ucap Hyerim kesal.

“Hey! Oh Hyerim, kamu menikmati ciuman itu juga kan,” Luhan merebut bantal yang dipakai Hyerim untuk menimpuknya.

Hyerim salah tingkah dan membalikan badan memunggungi Luhan. “Ah terserah, kamu sudah tahu belom kalau Sehun adalah…-”

“Adikku? Sudah, aku mendengar percakapan Ibumu dan kamu kemarin malam,” ucap Luhan memotong ucapan Hyerim.

“Oh..”

Luhan tiba-tiba memeluk Hyerim dari belakang dan meletakkan dagunya di bahu Hyerim. “Ayahmu akan memberitahu publik tentang identitas Sehun yang bukan anak kandungnya dan akan mulai mencari Jikyung. Kau yang kuatlah,” Luhan tambah mengeratkan pelukannya saat merasakan tubuh Hyerim bergetar karena menangis.

***

Jinri menyisir rambut pendek sebahunya, tatapannya kosong menatap pantulannya di cermin, seakan sesuatu telah diambil dari dalam dirinya.

“Kamu bukan anak kandungku, Jinri-ya. Dari awal umma memang tidak bisa mempunyai anak karena mengidap penyakit mandul. Tiba-tiba pada suatu malam, Inhwa membawa bayi perempuan tepat pada tanggal 29 Maret 1995. Dia bilang bayi itu dari panti asuhan, tapi ternyata dia menyulikmu,”

Jinri mengeratkan pegangannya pada sisir yang ia pegang. Rasanya perasaannya kacau saat mengingat perkataan ibunya malam itu. Kenyataan pahit yang sulit diterimanya.

“Umma bohong!” Jinri berteriak menatap Inkyung dengan mata menyala-nyala. Sementara sang ibu makin terisak sambil menundukan kepalanya.

“Ige maja anniya! (Ini tidak benar) geotjimal! Geotjimal!(bohong) bbeong chijine! (pembohong)” Jinri menjerit-jerit dengan air mata yang mulai jatuh. Inkyung menggeleng kuat.

“Kenyataannya kamu bukanlah anak kami, Jinri.”

“Akhhhh!!” Jinri berteriak dan melempar sisirnya dengan keras hingga terpotong menjadi dua.

Jinri berdiri dari duduknya dan mengebrak meja riasnya. Ia menatap pantulan wajahnya di cermin dengan mata merah.

“Sebenarnya siapa aku?” kemudian Jinri pergi meninggalkan kamarnya.

***

“Nuna sudah merasa baikan?” tanya Sehun yang duduk di kursi sebelah ranjang Hyerim sambil megenggam tangan Hyerim.

“Hmm…” jawab Hyerim sambil mengangguk.

“Dahaengida (syukurlah),” Sehun menghela napas lega. “Akhirnya nuna pacaran serius dengan Luhan hyung, uwooo!!” Sehun sudah bersorak-sorak seperti orang gila membuat mukanya terkena timpuk bantal.

“Aduh, nuna wae irrae? Aku kan senang. Jadi nuna tetap menjadi kakakku!”

Hyerim hanya memutar bola matanya menanggapi ucapan Sehun. Bocah itu masih sama saja, selalu bertingkah berlebihan. Lalu, masuklah Luhan ke kamar inap Hyerim sambil sibuk bertelponan.

“Iya ma, ini dia Shixun. Ingat bicaralah dengan bahasa Korea,”

Hyerim dan Sehun menatapi Luhan yang sedang bertelponan kelewat penasaran, karena pria itu menggunakan bahasa Mandarin. Luhan menoleh kearah Sehun sambil tersenyum, kemudian menyodorkan ponselnya kepada Sehun.

Uri umma ingin bicara dengamu, tenang, beliau orang Korea jadi bisa berbahasa Korea” ucap Luhan.

Sehun mengambil ponsel Luhan dan mulai menempelkannya ke telinga. Jantungnya berdebar keras, karena ini kali pertamanya berbicara dengan ibu kandungnya.

“Yeboseyo?”

“Apa benar ini Shixun?”

“Shixun? Eh ne umma, naya(ini aku). Tapi namaku saat ini adalah Oh Sehun,”

“Ah Sehunnie,” terdengar suara isak tangis dari sebrang sana.

“Umma menangis? Uljima,”

“Ah iya. Bagaimana kabarmu selama ini?”

“Sangat baik, umma. Selama ini aku di adopsi oleh jaksa terbaik di Korea, jaksa Oh Daejun. Aku mempunyai kakak perempuan yang sangat galak, dia actress Korea yang sedang naik daun, namanya Oh Hyerim. Hyerim nuna itu pacarnya Luhan hyung. Awalnya mereka pacaran hanya karena skandal lalu putus. Luhan hyung memacari gadis lain, tapi pada akhirnya putus juga dan berpacaran lagi dengan Hyerim nuna, walau Hyerim nuna galak dan kejam,”

‘buk!’

Tak tahan oleh ocehan Sehun pada ibunya, Hyerim melempar guling tepat mengenai belakang kepala Sehun. Sehun menoleh dan meringis sambil mengusap belakang kepalanya.

“Pergi atau kubunuh!” desis Hyerim dengan tatapan kejam, membuat Sehun langsung buru-buru keluar kamar. Luhan terkekeh geli sambil geleng-geleng kepala melihatnya.

Hyerim melipat kedua tangannya didepan dada dan meniup-niupkan poninya kesal. “Dasar mulut ember!” gerutu Hyerim.

Luhan tersenyum geli melihat tampang jengkel Hyerim, lalu naik ke ranjang Hyerim dan memeluk gadis itu dari belakang. Hyerim menoleh pada Luhan yang menaruh kepalanya di pundaknya.

“Apa?” tanya Hyerim

“Bagaimana kalau kita menonton dramamu, walau sudah berakhir di telivisi, aku membeli DVDnya,” Luhan menunjukan plastik berisi DVD yang ia bawa sedari tadi, tapi Hyerim tidak memperhatikannya.

“Arraseo, kajja,”

Luhan pun turun dari ranjang dan menyalahkan TV dan DVD player. Setelah selesai menyetel DVD drama Confusing Love. Luhan kembali keatas ranjang dan duduk menyender ke kepala ranjang, sementara Hyerim tiduran menyender pada dada Luhan. Drama Confusing Love pun dimulai.

“Jaehyun oppa,” panggil Hyerim-Jung Semi- pada Jonghyun-Kim Jaehyun-

Semi yang di perankan oleh Hyerim tampak sedang sibuk memasak makan malam di dapur. Kemudian, datanglah Jaehyun yang langsung memeluk Semi dari belakang.

“Wae?” tanya Jaehyun dengan mata setengah terpejam sehabis bangun tidur. Semi menoleh dan tertawa kecil, lalu mencolek hidung Jaehyun.

“Saranghaneun Jaehyun-i, jal channi? (Jaehyun tercinta, tidurmu nyenyak)”

Jaehyun langsung membuka kedua matanya dan memutar tubuh Semi untuk menghadapnya. “Geurae, aku memimpikan dirimu,”

“Jinjja? Aku tidak percaya.” Semi memiringkan wajahnya menatap Jaehyun.

“Geurom.” Jaehyun mendekatkan wajahnya ke wajah Semi dan bibir keduanya mulai bersentuhan.

“YAK! EPISODE BERAPA INI?!” tiba-tiba Hyerim berteriak. Luhan menatapnya, Hyerim memasang wajah ditekuknya.

“Ini episode 14, saat pada akhirnya Sena mengalah dan membiarkanmu eh maksudku Semi bersama dengan Jaehyun. Dimana Semi menginap di appartemen Jaehyun. Inikan dramamu, masa kamu tidak tahu?” ucap Luhan, Hyerim mengembungkan kedua pipinya.

“Nan joah ahni(aku tidak suka), cepat ganti, adegannya meganggu,”

Luhan menaikkan satu alisnya menatap Hyerim yang masih memasang wajah risih. “Harusnya aku yang tak suka, kenapa jadi kamu? Atau jangan-jangan kamu masih menyukai Jonghyun-ssi?”

Hyerim langsung kelabakan, sementara Luhan menatapnya lekat dengan mata memincing. “Ahnia, hanya aku…melihatnya jijik saja. Cepatlah ganti episode!”

“Arraseo,” Luhan pun mengalah dan mengambil remote di naskas sebelahnya. Lalu menekan-nekan remote tersebut sampai kesuatu adegan.

Munculah wajah Jinri yang beperan sebagai Jung Sena dengan wajah penuh amarah dan mata berair. “Unni jinjja napeun saramia!(Kakak benar-benar orang jahat)”

Sena pergi meninggalkan Semi yang menatapnya nanar. “Sena-yaa!!” Semi berteriak mencoba mengejar sang adik.

Tapi pungung Sena berjalan semakin menjauh meninggalkannya. Hyerim yang menonton adegan itu membulatkan matanya, punggung ramping dan rambut pendek sebahu Jinri itu, mengingatkannya akan seusatu.

“Jikyung..” Hyerim megumamkan nama itu. Benar, sosok Jinri itu persis seperti sosok Jikyung dalam mimpinya.

Luhan yang mendengar gumaman Hyerim, menoleh menatap gadisnya yang menatap layar TV dengan mata berkaca-kaca, terpaku pada sosok Jinri-Sena- yang mulai berjalan menjauh.

“‘Jikyung’? Ada apa, Hye-ah?” tanya Luhan khawatir.

Hyerim menoleh kearah Luhan yang menatapnya khawatir. Seketika tangis Hyerim pecah. Luhan tidak tahu apa yang terjadi pada gadisnya, dan langsung memeluknya dan mengusap kepalanya berusaha menenangkan Hyerim.

“Jikyung-ah,”

To Be Continued

Hallo! Akhirnya ff ini di publish. Oke aku ini males publish. Walau sebenernya FF ini udh selesai sampai part 15 dari kapan tau-_- maaf tadinya mau publish desember eh gara2 kepindahanku ke spanyol  /ekhem pindah ke eropa/ jadilah late update. Aku usahain januari ini complicated fate akan end 🙂 jangan lupa RCL

Advertisements

Author:

A tinkerbell who dream to be Luhan's future wendy — Also an amature author, k-drama trash, k-running man freak, eternal ELF, ahjussi and korean actor addict in the same time

17 thoughts on “FF : Complicated Fate Part 13 [I Finally Find You]

  1. Yeaay aku seneng bgt luhan akhirnya bener2 pacaran. Huuu senengnya diriku. Semuanya hampir tuntas. Benang merah perlahan mulai terlepas, kebenaran mulai menampakkan dirinya.

    Like

  2. Yeaay aku seneng bgt luhan akhirnya bener2 pacaran. Huuu senengnya diriku. Semuanya hampir tuntas. Benang merah perlahan muncul, dan kebenaran mulai menampakkan dirinya.

    Like

  3. Yeaay aku seneng bgt luhan hyerim akhirnya bener2 pacaran. Huuu senengnya diriku. Semuanya hampir tuntas. Benang merah perlahan muncul, dan kebenaran mulai menampakkan dirinya.

    Like

Write ur Love Letter . . . <3

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s