Posted in AU, Chapter, Family, Fanfiction, FF : Complicated Fate, PG-15, Romance, Sad, Teaser, Tragedy

FF : Complicated Fate Part 14 [Set Me Free]

image

Title : Complicated Fate Part 14

Subtitle : Set Me Free

Genre : Family, Romance, AU, Sad, Tragedy

Lenght : Multi Chapter

Rating : PG-15

Author : Kim Hyerim

Cast :

-Hyerim (OC) as Oh Hyerim

-Luhan EXO-M as Xi Luhan

-Sehun EXO-K as Oh Sehun

-Sulli F(x) as Choi Jinri

Backsound : SM The Ballad Vol.2 – When I was where u were | SM The Ballad Vol.2 (Taeyeon SNSD) – Set me free

Hyerim mengerjapkan matanya saat seberkas cahaya mengenai matanya. Hari sudah pagi, Hyerim mengedarkan pandangan kesekitar dan ia baru menyadari, saat ini kepalanya tidak tertidur diatas bantal, melainkan di dada bidang Luhan. Tadi malam, Hyerim tidak bisa berhenti menangis sampai akhirnya tertidur.

“Eung..,” gumaman kecil lolos dari bibir Luhan. Hyerim pun bangun dan menatap kekasihnya lama.

“Yak! Lu, cepat bangun!” seru Hyerim seraya mencubit hidung Luhan. Bukannya bangun, Luhan malah menarik Hyerim kepelukannya.

“Oh Hyerim, eung…..”

Hyerim ingin sekali menjitak Luhan, sampai akhirnya ia tersadar. Luhan tidak memakai bajunya! Dirinya bertelanjang dada dan hanya menyisakan celananya saja untuk tidur. Sementara dirinya? Hyerim sudah berganti pakaian! Seingatnya ia tidak tidur menggunakan baju panjang putih yang seakaan seperti jubah. Tersadar akan keanehan ini, Hyerim menjerit.

“Yak! Bodoh! Apa yang kau lakukan padaku tadi malam hah?!” Hyerim menjerit seraya memukuli Luhan dengan guling.

Luhan terbangun dan mengerjapkan mata, belum sempat nyawanya terkumpul, Hyerim yang berada dipelukannya memukuli dirinya brutal.

“Hey! Kamu ini kenapa? Jangan menyerangku! Ini masih pagi!”

Luhan menyingkirkan guling yang dipakai Hyerim untuk ‘menyerangnya’. Hyerim menatapnya tajam, sementara Luhan menatapnya bingung dengan wajah polos.

“Kamu kenapa hey?” tanya Luhan seraya mendorong dahi Hyerim dengan telunjuknya.

“Kamu tidak sadar hah? Kamu juga ‘menyerangku’ tadi malam kan? Sebagai alibi, kamu meganti pakaianku dan dirimu seakan hanya bertelanjang dada saja, padahal..-”

“Rim-ah, apa yang kamu katakan?” potong Luhan menatap Hyerim yang sedang memajukan bibirnya, kemudian ia tertawa setelah mengerti ocehan Hyerim tadi.

“Yak! Kamu kenapa tertawa? Kamu pikir lucu hah?!”

“Ahahah! Byuntae Hye(mesum), neo jinjja byuntae(kamu benar-benar mesum) ahaha,” Luhan tertawa sampai rasanya perutnya sakit.

“Apa?!” Hyerim menatap Luhan tak terima.

“Aku tidak melakukan apapun padamu, Hyerimku sayang~ tadi malam, setelah kamu selesai menangis dan tertidur, suhu tubuhmu naik sampai seluruh tubuhmu berkeringat. Aku panik, dan meminta suster megantikan bajumu. Aku bertelanjang dada karena merasa gerah. Ahahah.”

Pipi Hyerim langsung memerah, membuat Luhan tertawa makin keras. “Berhenti tertawa, Mr.disaster Lu!”

Luhan menghentikan aksi tawanya dan menatap Hyerim tajam, membuat Hyerim bergidik ngeri. “Kamu bilang apa? Disaster? Kamu pikir aku ini pembawa sial?”

“Tentu, kamu ini menyebalkan, menyusahkan, pembawa petaka, berbeda dengan Jonghyun oppa yang baik, ramah, murah seny…-”

Ucapan Hyerim berhenti ketika Luhan membungkam bibir Hyerim dengan bibirnya. Hyerim membulatkan matanya, tak habis pikir dengan kekasihnya ini. ‘Apa-apaan menyebutku mesum, tapi dirinya sendiri seperti ini!’Rutuk Hyerim dalam hati.

Luhan melepaskan tautannya dan menatap Hyerim seraya menampilkan smirknya, lagi-lagi Hyerim ngeri melihatnya. “Kamu tidak boleh memuji lelaki lain didepanku, apalagi membandingkannya denganku. Kalau ya, aku akan mencium bibirmu itu sampai kamu kehabisan oksigen!”

Luhan mendekatkan wajahnya ke wajah Hyerim, membuat Hyerim sedikit mecodongkan tubuhnya kebelakang. Helaan napas Luhan bisa ia rasakan, dan rasanya ia bisa gila bila merasakan sensasi itu.

“Yak! Tega sekali kau!”

“Kamu juga! Aku yang sudah menyelamatkanmu di gudang tempo itu, ingat? Masih bilang aku jahat huh? Aku malaikat pelindungmu, bodoh!”

Hyerim rasanya mual mendengarnya. “Malaikat? Ur dream Mr.Xi! You’re one of a devil!”

“Yak!” Luhan menjitak Hyerim keras membuat gadis itu meringis sakit sambil mengusap kepalanya.

“Sakit bodoh!”

“Ahahah,” Luhan tertawa kemudian berhenti karena teringat sesuatu.

“Rim-ah, tadi malam aku bermimpi. Mimpi yang sangat buruk, kamu pergi meninggalkanku, lebih tepatnya ragamu masih ada tapi dirimu tidak sadarkan diri. Membuatku gila dan seperti mayat hidup. Aku menantimu untuk bangun dan mengajakmu bicara, tapi kamu hanya diam, matamu tertutup, bibirmu bungkam.”

Luhan menatap Hyerim seakan meminta gadis itu tak jauh darinya, dan Hyerim menatapnya balik dengan tatapan kosong. Kemudian, Hyerim memeluk Luhan sangat erat.

“Aku akan sembuh, Lu. Aku tak akan pergi,” Luhan balas memeluk Hyerim tak kalah erat, demi apapun, ia tidak mau kehilangan gadis ini 

***

Lampu berkelap-kelip itu menyinari suatu ruangan yang di penuhi beberapa orang yang asyik dengan gerakan menari mereka di lantai dansa, seakan musik yang menggema membuat mereka bergairah. Minuman-minuman keras tercium mendominasi club malam tersebut.

“Wine! Aku minta 1 wine lagi!” seru Jinri sambil mengacungkan gelasnya, dirinya sudah mabuk parah.

“Nona Choi, anda sudah mabuk, lebih baik anda pulang,” ucap seorang pelayan yang mengenal indentitas Jinri sebagai keluarga terhormat.

Jinri mengetuk-ngetukan gelasnya diatas bartender, sambil menatap sinis pelayan tadi. “Ambilkan aku segelas wine lagi! Aku bisa menuntut club ini! Ingat! Ayahku seorang jaksa terhormat!”

Seketika Jinri tertawa sinis mendengar ucapannya sendiri. Pada nyatanya, dirinya bukan dari keluarga terhormat tersebut, Choi Inhwa bukanlah Ayahnya. Inilah yang membuat Jinri depresi sampai minum sebanyak ini.

“Wineee!!!” seru Jinri saat pelayan itu tak kunjung memberinya 1 minuman keras yang disukai kebanyakan pengunjung club.

“Anda sudah mabuk, lebih baik anda..-”

“Ya, ya, aku pulang. Ini uangnya, aku yakin kelebihan, ambil saja kembaliannya. Kau benar-benar bawel seperti seorang ibu, ahaha,” ucap Jinri sambil melempar beberapa uang berjumlah 500ribu won kepada pelayan itu. Kemudian berlalu keluar club dengan kepala berat dan pening.

***

Jinri berjalan sempoyongan disebuah gang yang menanjak. Ia tidak membawa mobil, karena ia muak menikmati kenikmatan yang diberikan orang yang menculiknya. Baru selangkah Jinri melangkah, lagi-lagi tubuhnya oleng ke kanan ataupun ke kiri, terus seperti itu. Rasanya pening, ditambah dress hitamnya yang sedikit terbuka, membuat angin musim semi menjelajari kulit putih Jinri dan membuatnya kedinginan.

“Aish!” rutuk Jinri saat tubuhnya oleng jatuh ke tanah dengan posisi duduk.

Jinri mengangkat badannya susah payah sambil bertumpu pada besi jembatan. Sekarang dirinya sudah berada di Banpo Bridge. Melihati pemandangan sungai Han yang terhampar luas, ditambah lampu-lampu yang berkelipan di Banpo Bridge. Jinri menaikan satu kakinya keatas besi jembatan, menundukan kepala memandangi pantulan wajahnya di air bening sungai Han.

“Kenapa takdir yang di susun oleh Tuhan untukku sangat membingungkan!? Apalagi setelah ini yang menimpaku!?” teriak Jinri sambil menintikan air matanya.

Dirinya tak kuat, sungguh. Mengetahui siapa jati dirinya saja sudah membuatnya gila. Pantas saja, wajah cantiknya ini tidak satupun yang melekat dari wajah Inkyung ataupun Inhwa. Karena dirinya bukanlah putri kandung keduanya.

“AKHHH!!!” Jinri berteriak histeris dan detik itu juga, dirinya melompat dan menerjunkan dirinya kedalam sungai Han.

‘BYUR!

BYUR!’

Jinri merasa bebannya terangkat sedikit saat tubuhnya basah sempurna, karena terjun ke sungai Han. Ia berharap akan tenggelam lebih jauh dan jauh kedasar, agar semua yang membebaninya hilang. Sampai sebuah tangan menarik tubuhnya yang dingin ke sebuah dekapan hangat.

***

Jungshin sedang berjalan-jalan disekitar Hangang Park, hanya untuk relax di malam minggu. Di rumahnya sangat sepi. Ayah dan Ibunya sibuk bekerja di kantor hukum. Nunanya, Park Subin, sibuk berkencan dengan kekasihnya, Lee Jonghyun.

Saat sedang asyik berjalan-jalan sekalian jogging. Jungshin menemukan 1 objek, seorang gadis akan melompat ke sungai Han dari Banpo Bridge. Gadis itu akan melakukan aksi bunuh diri. Jungshin berlari kearah Banpo Bridge, tapi terlambat, gadis itu keburu melompat. Lalu, disusulah Jungshin.

Jungshin meraih gadis berdress hitam itu kedalan pelukannya. Barulah ia menyadari, gadis ini adalah Choi Jinri. Betapa terkejutnya dirinya mengetahui bahwa Jinrilah yang melakukan aksi bunuh diri. Jungshin buru-buru berenang ke daratan dan meletakkan tubuh Jinri ditanah.

“Yak! Jinri-ya! Sadarlah!” seru Jungshin panik seraya menepuk-nepuk pipi Jinri dan memompa dada gadis itu agar air dalam tubuhnya keluar. Jinri tak kunjung membuka matanya, membuat Jungshin panik.

“Uhuk, Uhuk,”

Sampai akhirnya, Jinri terbatuk dan mengeluarkan air dari tubuhnya melalui mulut. Jungshin menghela napas lega.

***

“Jinriii!! Putriku!” seru Inkyung saat Jungshin datang ke rumahnya membawa Jinri yang sudah tak sadarkan diri dengan seluruh tubuh yang basah.

Jungshin meletakkan tubuh Jinri, yang digendong bridal olehnya, ke ranjang empuk di kamar gadis itu. Inkyung meminta tolong beberapa pelayan untuk megantikan baju Jinri.

“Jungshin-ah, gamshamnida telah menolong Jinri,”

Jungshin tersenyum dan mengangguk, “Terimakasih kembali omonim, apa yang terjadi pada Jinri sampai ia depresi?”

Inkyung menggigit bibir bawahnya sebelum menjawab, “Jinri baru mengetahui fakta bahwa dirinya bukan anak kandungku dan Inhwa.”

Jungshin membulatkan matanya kaget. Ia langsung menatap Jinri, yang sudah berganti pakaian dan masih tertidur, dengan lekat, lalu menatap Inkyung sekilas. Kedua ibu dan anak ini memang tidak mirip, begitupun wajah Jinri dan jaksa Choi Inhwa yang sering tersorot di telivisi.

***

Hyerim mengeliat dalam tidurnya. Tubuhnya ia balikan ke kanan dan ke kiri. Rasanya tidak nyaman dan kepalanya serasa pusing, ditambah suasana kamar inapnya yang terasa panas.

“Rim-ah, kamu tak apa?” tanya Luhan, yang lagi-lagi tidur menemani Hyerim di ranjang rumah sakit. Sementara Sehun sudah terlelap di sofa di pojok ruangan.

“Eung… Lu, panas,”

Luhan mengernyitkan dahi bingung. Hyerim bilang panas? Padahal AC dalam ruangan ini sudah 15 derajat celcius, yang berarti sudah sangat dingin. Selimut yang menyelimuti tubuhnya dan tubuh Hyerim juga tidak terlalu tebal.

“Panas?” ucap Luhan heran, Hyerim mengangguk. Luhan pun menyibakan selimutnya dan Hyerim. “Masih panas?” Hyerim menggeleng.

Luhan pun tersenyum, lalu mencium kening Hyerim lama. “Kembali tidurlah.” ucap Luhan setelah melepaskan ciumannya. Hyerim mengangguk.

Baru selang 30 menit, Hyerim kembali membuka matanya dan menatap wajah Luhan yang sudah tertidur, tepat dihadapan wajahnya. Hyerim sekarang merasa kedinginan dan menggigil.
“Lu, dingin, Lu… uhuk,” Hyerim terbatuk, rasanya pusing, ini bukan pengaruh dari penyakit jantungnya.

“Eung…?” Luhan kembali membuka matanya dan langsung membulatkan mata saat melihat wajah pucat Hyerim. “Wae?” tanya Luhan panik.

“Dingin,”

Luhan kembali mengernyit bingung. Tadi Hyerim kepanasan dan sekarang malah kedinginan. Luhan meletakkan punggung tangannya di dahi Hyerim, panas. Gadis ini demam, pantas saja.

“Kamu demam, ya ampun. Sehun-ah,”

Sehun mulai membuka matanya dan bangun. “Eung..apa?”

“Hyerim demam, panggilkan dokter Shin,”

“Tidak usah, aku tidak mau dirawat dokter Shin. Aku ingin dirawat olehmu, Lu,” rengkek Hyerim.

“Hah? Olehku?” Luhan menatap Hyerim, gadis itu mengangguk dengan wajah ditekuk.

“Turuti saja,” ucap Sehun sambil menatap Hyerim penuh arti.

Mau tak mau, Luhan pun menurutinya. Ia bangun dari tempat tidur dan berjalan kearah kamar mandi, mengambil handuk kecil dan menyalahkan air panas. Setelah memeras handuk yang sudah ia sirami air panas, Luhan keluar kamar mandi, dan menaruhnya diatas dahi Hyerim. Luhan kembali naik ke ranjang dan memeluk gadis itu, menjalarkan kehangatan yang ada dan menarik selimut untuk menutupi sebagian badan mereka.

“Lu,”

“Hmm..”

“Kenapa aku bisa tiba-tiba demam?”

“Tidak tahu, kamu terlalu lelah memikirkanku,”

“Bodoh,”

“Tidurlah,” Luhan mengeratkan pelukannya, beberapa menit kemudian Hyerim sudah terlelap.

***

Hari ini, Hyerim sudah dibolehkan pulang dari rumah sakit. Setelah membereskan barang-barangnya, Hyerim merasa pusing yang luar biasa dan mual. Langsung saja dirinya berlari ke kamar mandi, dan menundukan kepalanya ke wastafel, isi perutnya pun dikeluarkan. Hyerim mencuci tangan dan membasuh mulutnya.

Makin hari, penyakitnya makin parah. Sering sekali ia mual, muntah-muntah, sakit di tangan kanan dan lengan kiri, serta bagian tubuh lainnya. Hyerim tak berani mengungkapkannya, karena memang itu serangan umum jantung koroner. Tapi Dokter Shin mengatakan kondisinya melemah, ia bisa saja koma berbulan-bulan bila terkena serangan jantung yang hebat.

“Rim-ah,” suara lembut Luhan terdengar. Hyerim memejamkan matanya sebentar untuk mengatasi rasa pusingnya, lalu keluar kamar mandi.

“Iya?”

“Sudah siap? Ayo kita pulang,” Luhan tersenyum dan meraih tangan Hyerim, lalu megandengnya keluar kamar inap.
Luhan membukakan pintu depan mobil, mempersilahkan Hyerim masuk. Lalu, ia membuka bagasi untuk meletakkan koper. Sampai sebuah tangan menepuk bahunya, Luhan menoleh dan tersenyum kepada Sehun.

“Hyung, Hyerim nuna sangat aneh,”

“Aneh apa maksudmu?” Luhan mengerutkan alisnya bingung.

“Dia bersikap manja padamu tadi malam saat tubuhnya panas. Ia biasa seperti itu ketika merasa keadaannya benar-benar sekarat,”

Luhan membulatkan matanya, “Jangan bercanda!”

“Aku serius!” Sehun memasang wajah serius. Tapi akhirnya, Luhan memilih masuk ke mobil dan begitu pula Sehun. Luhan langsung mengandarai mobilnya ke rumah keluarga Oh.

***

“Kamu bukan anak kandung kami,”

Jinri menggelengkan kepalanya dalam tidurnya, tubuhnya ia balik ke kanan dan ke kiri, dan detik berikutnya matanya terbuka menatap langit-langit kamar. Ia pikir tadi malam ia sudah mati dan meninggalkan kenyataan pahit itu. Bisa dirasakannya handuk di dahinya untuk mengompresnya, yang tadi malam demam.

“Jinri-ya, syukurlah kamu sudah sadar. Umma khawatir. Tadi malam, Jungshin membawamu dengan keadaan basah kuyup dan tak sadarkan diri,”

Inkyung megenggam tangan Jinri. Jinri duduk menyender di kepala ranjang dan menatap Inkyung dalam. Jungshin menyelamatkannya? Kenapa hatinya jadi berdesir begini?

“A..pa? HARUSNYA AKU MATI!” berbeda dengan hatinya, mulut Jinri berteriak tak terima.

“Jangan begini, kumohon,” Inkyung seakan mau menangis. “Umma akan memberitahukan siapa keluarga aslimu. Umma belum sempat memberitahunya. Tenang, keluarga aslimu berasal dari keluarga terhomat juga, bahkan lebih dari keluarga kami.”

Jinri menatap Inkyung penasaran. Keluarga aslinya keluarga terhormat? Bahkan lebih dari Choi Inhwa? Memang siapa orang tua kandungnya? Akankan dirinya bisa menerima semua ini setelah tahu siapa keluarga aslinya yang lebih dari keluarganya selama ini?

“Memang siapa orang tuaku?” tanya Jinri lambat-lambat.

Inkyung menarik napas dan menghembuskannya. “Ayahmu adalah jaksa nomor 1 di Korea Selatan, jaksa Oh Daejun. Ibumu adalah, salah satu desainer top di Asia bahkan Amerika, desainer Park Seyoung. Dan kakakmu adalah actress pendatang baru yang sedang naik daun, actress Oh Hyerim.”

Jinri merasa rohnya terbang ke awang-awang meninggalkan tubuhnya di bumi. Dirinya lagi-lagi harus menelan pil pahit bernama kenyataan. Dirinya…adik kandung Oh Hyerim? Orang yang selama ini dibenci dirinya sepenuh hati? Kenapa takdir senang sekali bermain-main dengannya? Apa salahnya?

“Dia? Orang yang kubenci? Orang yang sangat tidak kusukai selama ini? Adalah kakak ku!?” gumam Jinri dalam hati. Ia mengutuk Tuhan dan takdir membingungkan yang menimpanya ini. Lebih baik ia tidak lahir dari pada harus menimpa takdir seperti ini.

***

Setelah mengetahui fakta pahit tentang keluargnya. Jinri mengikat rambut pendeknya asal dan duduk di meja makan sambil menyantap serealnya tanpa selera. Ia ingin semua ini hanya mimpi. Apakah Tuhan berusaha menghukumnya dengan menariknya ke pusaran takdir seperti ini? Benar-benar hukuman yang sangat pas!

“Berita mengejutkan datang lagi dari keluarga jaksa terhotmat, Oh Daejun. Setelah terdengar berita bahwa putri sulungnya, Oh Hyerim menerima serangan kecil dan masuk rumah sakit. Sekarang, terdengar berita bahwa Oh Sehun putra bungsunya bukanlah anak kandungnya. Anak kandung perempuannya, Oh Jikyung, diculik 19 tahun yang lalu. Kasus penculikan ini dibuka kembali oleh departemen polisi distrik Kangnam,”

Jinri mendongakkan kepalanya menatap layar televisi tajam. Berita entertainment yang diucapkan oleh MC terbaik SBC, Park Gyuri. Rasanya membuat amarah Jinri naik ke ubun-ubun. Oh Jikyung yang dimaksud adalah dirinya, dirinya! Adik dari Oh Hyerim!

‘Bak!’

Sebuah amplop coklat tebal terlempar keatas meja makan. Jinri menatap Inkyung yang melempar amplop tersebut.

“Apa ini omoni?”

Inkyung sedikit terluka mendengar Jinri menyebutnya omoni atau bibi, bukannya umma.

“Ini tanda bukti kamu anak Oh Daejun dan Park Seyoung, aku menemukannya di brankas Inhwa. Entah darimana Inhwa mempunyai foto jaksa Oh dan istrinya bersama dirimu saat balita. Dan disitu ada rekaman CCTV yang diambil Inhwa, rekaman bukti bahwa dirinya yang menculikmu saat di rumah sakit,”

Jinri hanya menatap kosong amplop itu, kemudian menatap televisi yang sudah menayangkan updatean berita artis K-POP. Setelah berpikir lama, Jinri mengambil amplop itu dan pergi.

***

Hyerim membaca novel fiksi di kamarnya sambil duduk menyender di kepala ranjang. Saat sedang asyik-asyiknya membaca novel, Sehun masuk ke kamarnya dan menghempaskan tubuhnya ke kasur dengan sedikit kencang.

“Yak! Kamu membuat gempa lokal disini!” protes Hyerim saat kasurnya bergoyang karena berat tubuh Sehun yang sudah tiduran.

“Aku tidak seberat itu nuna!” rengek Sehun manja dan meletakkan kepalanya di paha Hyerim, ia bisa mencium wangi parfum bunga mawar Hyerim.

Sehun menarik napas dalam-dalam mencium wangi khas nunanya, sosok kakak yang megantikan sosok Luhan selama 19 tahun ini. Mungkin Sehun akan merindukan wangi ini nantinya, wangi yang selalu ia cium saat memeluk Hyerim. Dia juga akan  merindukan saat dirinya dan Hyerim bercanda bersama dan bermain di taman komplek mencari bunga dendelion dan meniupkan serbuk-serbukanya, lalu tertawa bersama saat serbuk itu terbawa semilir angin.

Atau saat dirinya dan Hyerim kecil masuk ke dalam kolam ikan belakang rumah dan mencoba menangkap ikan yang ada disana, lalu harus dimarahi oleh Ibu mereka dan dihukum untuk mencuci piring. Bahkan saat dihukum mencuci pun, keduanya masih bercanda meniup-niupkan busa-busa sabun cuci piring yang menempel di tangan keduanya. Ah sungguh kenangan yang manis bersama sosok kakak perempuan yang selalu menemaninya dalam keadaan apapun selama 19 tahun, waktu yang bisa dibilang tidak sebentar.

“Kenapa senyum-senyum sendiri seperti orang sinting seperti itu?” pertanyaan Hyerim menyadarkan Sehun dari lamunannya tentang kenangan-kenangan manis bersama nunanya itu.

“Mengingat masa kecil yang kita lalui bersama sebagai adik dan kakak. Aku jadi merindukannya,”

“Bagian mana yang kamu ingat? Apa disaat dirimu berumur 8 tahun dan aku 9 tahun, saat kamu pertama kali belajar sepedah roda 2. Dan kamu yang belum terlalu lancar harus jatuh terpental ke selokan? Ah kenangan yang sangat manis,”

Sehun bengong sebentar mendengarnya, lalu berteriak. “Yak! Nuna! Bukan yang itu!” Sehun mempoutkan bibirnya.

“Emmm…kalau begitu, apa saat umurku 12 dan kamu 11. Dimana kita jalan-jalan ke komplek sebelah, lalu ada seekor anjing, kamu meganggu anjing tersebut yang ternyata anjing liar. Akhirnya kamu dikejar-kejar, dan bokongmu digigit anjing itu. Ahahaha!”

“Nuna!!!” Sehun menggerak-gerakkan kepalanya yang masih tiduran di paha Hyerim.

“Yak! Geli!” teriak Hyerim. Sehun hanya memanyunkan bibirnya.

“Ahahaha! Lucu sekali. Ah, aku merindukannya. Aku ingin menjadi anak kecil lagi dan menghabiskan waktu bermain denganmu, mencari dendelion, berlari-lari di rumput ilalang, bersepedah, ke danau untuk memancing ikan walau dulu tak mengerti cara memakai alat pemancingan,”

Sehun dan Hyerim tesenyum senang sekaligus sedih mengingatnya. “Nuna, lusa aku akan berangkat ke Beijing,”

“Benarkah? Berarti kamu akan bertemu Ibu dan Ayah kandungmu? Apakah besama Luhan?”

Sehun mengangguk senang. “Luhan hyung tidak ikut, katanya masih mau di Seoul. Aku akan bertemu calon mertuamu,”

Sehun menatap Hyerim dengan tatapan jail. Hyerim jadi malu dan salah tingkah, lalu menjitak kepala Sehun sambil memanyunkan bibirnya, membuat Sehun protes dan berteriak-teriak. Saat keduanya masih ribut, ponsel Hyerim berdering. Hyerim mengambil ponselnya yang diatas bantal, dengan raut bingung, ia mengangkat panggilan tesebut.

“Yeboseyo, nuguseyo? Choi Jinri? Darimana kau dapat nomorku? Bertemu di Lotteria Jamsil sekarang? Untuk apa? Ck! Baiklah. Iya, aku akan segera kesana.”

Hyerim menutup sambungan itu. Kemudian loncat dari kasur, dan pergi meninggalkan Sehun yang berteriak-teriak memanggilnya.

***

Jinri menyeruput soft drinknya, dengan secara bersamaan pintu restoran Lotteria terbuka dan tampaklah Hyerim menggunakan masker dan kacamata, berjalan ke meja nomor 30 dipojok ruangan. Jinri sengaja memilih mengobrol di pojok ruangan, berwaspada bila ada netizen atau fans yang melihat keduanya.

“Ada apa mencariku?”

Hyerim sedikit menurunkan kacamatanya dan duduk di kursi didepan Jinri.

“Minumlah dulu,”

Jinri memasang wajah datarnya sambil menunjuk soft drink dihadapannya menggunakan mata.

“Terimakasih, tapi aku ingin langsung ke inti saja. Waktuku sangat berharga,” ucap Hyerim dingin.

Jinri berdeham sebentar, lalu menarik napasnya dan menghembuskannya perlahan. Kemudian, menatap Hyerim serius dan sedikit menusuk, membuat Hyerim jadi risih.

“Aku dengar kamu kehilangan adik bernama Oh Jikyung,”

Meski heran dengan alis berkerut, Hyerim mengangguk. “Ya, kenapa?”

“Oh Jikyung..eungg,” jari-jari Jinri bergerak gelisah diatas meja, membuat Hyerim menatapnya lekat.

“Apa? Kamu tahu dimana adikku? Cepat katakan!” desak Hyerim, sedikit meninggikan intonasi suaranya.

“Aku lah Oh Jikyung,” ucap Jinri sambil menatap Hyerim anggkuh, seraya mengangkat dagunya. Tubuh Hyerim seakan melemas mendengarnya. Yang benar saja? Orang yang membencinya adalah adiknya?

“Kau bohong!” Hyerim menatap sinis Jinri dan gadis itu hanya mengangkat bahunya, lalu melempar amplop coklat dari tasnya ke meja.

“Lihatlah, itu buktinya,”

Dengan tangan gemetaran, Hyerim mengambil amplop coklat tersebut dan membukanya. Foto Ibu dan Ayahnya bersama Jikyung dan ada pula foto Seo Inkyung dan Choi Inhwa bersama Jinri balita, dan benar! Balita di kedua foto itu sama. Hyerim membalik foto Jikyung bersama kedua orang tuanya, terdapat tulisan, “29 Maret, lahirlah anak manis bernama Oh Jikyung dikeluarga kecil kita. Sekarang kami mempunyai 2 tuan putri.”

Tubuh Hyerim langsung sedikit tercegang, ia berusaha menguatkan diri dan membalik foto yang satunya lagi dengan tangan gemetaran hebat. “Choi Jinri, nama putri tunggal kami, anak angkat yang berarti segala-galanya untuk keluarga ini. Selamat datang putri kecilku.”

Mata Hyerim memanas, kemudian ia meremas kedua foto itu, lalu melirik sebuah DVD yang berasal dari amplop coklat tadi.

“Apa itu?”

“Tanda bukti bahwa ‘orang biadap itu’ menculikku. Itu rekaman CCTVnya,” Jinri menekankan setiap kata-katanya.

“Orang biadap? Jaksa Choi? Ayahmu?” Hyerim sedikit menatap heran kearah Jinri. Jinri mengangguk sambil melihati kukunya, tak berniat menatap Hyerim.

“Kamu boleh melaporkan penculikan itu agar ayah gadunganku itu masuk penjara. Tapi, ingat! Jangan akui pada publik, bahwa aku adikmu! Aku akan tinggal di New York, USA bersama ibuku, Seo Inkyung, setelah ini. Aku tak akan pernah menjadi adikmu!”

Jinri menatap Hyerim tajam. Hyerim meneguk ludahnya. Ingin sekali ia memeluk adiknya ini, adik yang tak teringat dalam memorinya. Ingin memeluk sambil membisikan, “kakak menyayangimu, maaf tidak bisa mengingatmu.”

Melihat kedua orang tuanya sangat meyayangi Jikyung lebih dari apapun. Maka Hyerim juga akan melakukannya. Siapapun itu Jikyung, ia akan menerimanya, walaupun itu Choi Jinri yang selama ini tidak ia sukai dan sangat membencinya sepenuh hati. Yang penting, orang tuanya bahagia dan keluarganya utuh kembali.

Jinri berdiri dan hendak pergi. Walau dada kiririnya sekarang nyeri ditambah pusing, Hyerim menarik tangan kanan Jinri saat melewatinya, dan menatap gadis itu sendu.

“Ireokhae hajima, jebal (jangan seperti ini, kumohon),” Hyerim memelas. Jinri menatap Hyerim sinis dan menepis tangannya.

Jinri kembali berjalan, membuat Hyerim berdiri dan berlutut dihadapannya dengan mata berair. “Apa maumu gadis sial?”

Walau Jinri menyebutnya seperti itu, Hyerim tidak akan membalasnya, karena ia tahu, walau seperti ini, Jinri mempunyai hati yang lembut dan lemah, karena Jinri adalah adik kandungnya, Oh Jikyung.

“Kumohon pulanglah. Bagaimanapun juga kau adikku, anak dari umma dan appa yang sama denganku,”

Hyerim memohon sambil bersujud, Jinri hanya menatapnya sinis dan mendesis, lalu berjalan lagi melewati Hyerim yang sudah terisak. Baru 3 langkah, terdengar suara teriakan pilu yang membuat Jinri menghentikan langkahnya dan membalikan badannya.

“Akhhh!!! Dadaku sakit! Aku tak bisa bernapas, akhhh…hahh,” teriak Hyerim sedikit menarik pengunjung restoran. Hyerim meremas dada kirinya dan menundukan kepalanya, tatapannya kabur.

Jinri panik dan melangkah kearah Hyerim yang sudah tak berteriak lagi. Berhubung Lotteria hari itu sepi, maka para pengunjung sudah sibuk kembali. Hyerim menghembuskan napasnya yang tersenggal-senggal, dan kemudian tubuhnya ambruk di paha Jinri yang duduk disebelahnya.

“Yak! Oh Hyerim! Kau kenapa hah?” seru Jinri panik, ini sudah 2 kali ia melihat Hyerim sekarat seperti ini.

Tubuh Hyerim panas bahkan sangat panas, hampir seluruh tubuhnya dibanjiri keringat. Napasnya tidak teratur, seakan-akan bisa berhenti detik itu juga. Jinri menggigit bibir bawahnya khawatir, ia membongkar tas Hyerim dan mengambil ponsel silver milik gadis itu.

“Aku harus menghubungi siapa? Ya ampun. Ah eottokhae?” ucap Jinri sambil menatap sekitar dengan cemas. Belum ada yang menyadari kekacauan ini, Jinri bisa menghubungi seseorang untuk membantunya mengurus Hyerim.

Jinri akhirnya menekan tombol 1 untuk panggilan darurat, karena ponsel Hyerim dikunci oleh password. Jinri melebarkan matanya saat mengetahui daftar 1 dalam panggilan darurat Hyerim adalah nomor Luhan. Saat ingin mematikan sambungan tersebut, Luhan keburu mengangkatnya dan berbicara.

“Yeboseyo? Hyerim-ah? Hye-ah?”

Jinri menutup matanya sambil memegang keras ponsel Hyerim. Ia membuka matanya perlahan dan meletakkan ponsel itu ketelinga kanannya.

“Ha…hallo,” ucapnya dengan suara gemetar hebat.

“Choi Jinri?”

To be Countinued

Slow down! Read this, chapter 15 will be protect.

Hallo semuanya. Karena ff ini sudah menjamur jadi langsung aku publish chapter 14-nya. Dan next chapter say goodbye to this fic series eheheh. Ya chapter 15 adalah chapter terakhir 🙂 dan aku ada informasi penting! Chapter 15 akan aku proteksi. Ya kenapa? Banyak siders kakak dan aku gak kuat-__- cara buat dapetin password? Gampang dengan kalian udah meninggalkan komentar/jejak di 3 chapter complicated fate. Setelah itu baca cara-cara dapetin password di How To Get Password INGAT KALIAN HARUS UDAH 3 KALI KOMENTAR DI SETIAP CHAPTER BERBEDA YA(MAAF CAPS, KUKESEL SAMA SIDERS)

Buat yang gak ngeh kok Jinri itu adeknya Hyerim. Kalian bisa re-read dari chapter 1. Setelah adegan kecelakaan keluarga Luhan. Ada adegan bapak-bapak kehilangan anaknya dan itu adalah Ayahnya Hyerim yang kehilangan Jikyung. Dan clue kedua, di chapter 7, Hyerim ngerasa sakit dan begitupula Jinri. Batin mereka kuat karena adik-kakak yakan.

Sekian dan terimakasihhh^^ /tebar love sign bareng Luhan/

Advertisements

Author:

A tinkerbell who dream to be Luhan's future wendy — Also an amature author, k-drama trash, k-running man freak, eternal ELF, ahjussi and korean actor addict in the same time

50 thoughts on “FF : Complicated Fate Part 14 [Set Me Free]

  1. Aduh gmn nih? Hyerim sekarat lagi! Seseorang tolong panggil dokter! Apa ada hubungannya ama mimpi luhan? Aigoo hyerim harus selamat!

    Like

Write ur Love Letter . . . <3

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s