Posted in Childhood, Comedy, Ficlet, Marriage Life, PG-13, Romance, Series

FF : Diary of Childhood Memories – Traumatic of Lift #2 {Ficlet-Series}

PicsArt_02-11-09.06.28.jpg

Title : Diary of Childhood Memories – Traumatic of Lift #2

Author : HyeKim

Genre : Romance, Childhood, Slice of life, failed Comedy, slight! of Marriage Life

Rating : PG-13

Lenght : Ficlet – Series

Main Cast :

-Kim Hyerim (OC)

-Luhan

Disclaimer : This is just work of fiction, the cast(s) are belong to their parents, angency, and God. The same of plot, character, location are just accidentally. This is not meaning for aggravate one of character. I just owner of the plot. If you don’t like it, don’t read/bash. Read this fiction, leave your comment/like. Don’t be plagiat and copy-paste without premission.

Summary : “Intinya aku tidak mau naik lift lagi!”

Note : Ini adalah sebuah FF berseri yang bakal langsung habis tapi akan ada kelanjutan cerita yang lain dalam tema berbeda. Blod-italic menandakan flashback!

HAPPY READING

HyeKim ©2016

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

PREVIOUS SERIES :

The First Kiss?!

Hyerim berguling-guling ria di atas ranjang empuk kamar pribadinya dan Luhan. Liburan musim panas sudah dimulai membuat gadis 19 tahun tersebut bosan setengah mati di rumah. Sang Suami, Luhan, sedang berkerja saat ini. Jarum jam berdetak menunjukan waktu 12 siang. Hyerim kembali memainkan ponsel bercasing bunga-bunganya.

‘Everyday you in my heart~’

Nada dering ponselnya terdengar, ‘Luhan ahjussi jelek ♥’. Kening Hyerim berkerut, ada apa gerangan si suami yang 7 tahun lebih tua darinya menelponnya siang bolong seperti ini? Karena ponselnya terus berdering, Hyerim mengangkat sambungan tersebut.

“Ada apa ahjussi?” sapa Hyerim setelah sambungan terangkat.

Di sebrang sana Luhan mendengus mendengarnya, “Bocah! Kamu pasti bosan kan? Aku sudah dijalan menuju rumah, aku ingin mengajakmu jalan-jalan. Siap-siap sekarang!”

‘Tut!’

Sambungan terputus, Hyerim menatap layar ponselnya dengan kedua alis terangkat. Sekon berikutnya, Hyerim langsung panik bukan main. Luhan sedang dijalan menjemputnya?! OH MY GOD! Hyerim bahkan baru bangun setengah jam lalu-akibat tidur kembali setelah mengantar Luhan berkerja. Dirinya bahkan belum mandi, rambut panjang hitamnya kusut belum disisir sama sekali, wajahnya pun belum dibasuh. Lansung saja Hyerim loncat turun dari kasur-membuat kasur tersebut goyang hampir terjungkir.

Dengan kekuatan ekstra, Hyerim berlari masuk ke kamar mandi dan menutup pintunya kencang. Membasuh muka, menyisir dan mengikat rambut, menggosok gigi, dan mandi secepatnya.

**

Luhan menggeret kakinya masuk ke dalam rumahnya, membuka jas dan tali dasinya. Rumah minimalisnya terasa sunyi, membuat dahi Luhan berkerut bingung. Di mana gerangan istri kekanak-kanakannya itu?

“Hyerim-ah,” panggil Luhan menggema tak ada respon. Langkah kaki Luhan terburu-terburu menuju kamarnya. “Hyerim, kamu di ma…-“ Luhan membuka pintu kamarnya dan seketika menganga lebar.

“Aku di sini,” ucap Hyerim yang tengah mengerjap-ngerjap centil kearah Luhan.

Luhan masih membuka mulutnya lebar, seakan rahangnya bisa copot detik itu juga. Apa benar yang berdiri di hadapannya adalah Kim Hyerim, istri yang 7 tahun lebih muda darinya? Luhan sangat tahu bahwa Hyerim sangat modis, mengingat koleksi fashion Hyerim terdiri dari barang bermerk, seperti zara, manggo, minimal, dan lainnya. Tapi kenapa penampilan Hyerim jadi begini?

Rambut panjang hitam itu sudah berubah warna menjadi coklat kekuning-kuningan, ditambah rambut Hyerim diikat semua ke atas menampilkan leher putihnya. Baju dress tanpa lengan berwarna merah terang yang sangat pas dan sangat tipis melekat ditubuh langsing Hyerim. Make up yang teroles diwajah Hyerim sangat tebal ditambah lipstick merah menyalanya. Dress yang panjangnya 5 cm diatas lutut membuat setengah paha mulus Hyerim terlihat. Kaki jenjangnya dipakaikan high heels berwarna emas.

Oi! Kamu seperti melihat hantu!” seru Hyerim dengan mata menyipit. “Tutup mulutmu! Nanti ada lalat masuk!” Luhan segera menutup mulutnya dan berdehem.

“Kamu ingin fashion show? Kenapa tampilanmu jadi begini? Ingin menggodaku hah dengan dress tipis dan pendek itu?!”

Hyerim nyengir dan menghampiri Luhan lalu bergelayut manja dilengan kanan Luhan. “Aku ingin belanja hari ini, jadi jalan-jalan ke mall, ya, ya, ya.” Hyerim mengerjap-ngerjapkan matanya dan Luhan menatapnya datar.

“Kamu ingin belanja bilang saja bocah! Tidak perlu dandan layaknya ahjumma-ahjumma seperti sekarang,” tutur Luhan sambil mendorong dahi Hyerim dengan telunjuknya. Hyerim memajukan bibirnya.

“Habisnya kamu ini suka tidak mengizinkanku shopping! Jadi ya sudah aku pakai taktik ini!”

Luhan memutar bola matanya malas. “Kalau kamu sudah beli baju, kadang tidak kira-kira!” seru Luhan, Hyerim memberengut dengan wajah memelas. “Ganti baju sana! Jangan menggodaku!” teriak Luhan.

Oppa tampannn~,” Hyerim memanggil dengan suara manja dan bibir dimajukan. Membuat Luhan menelan ludah, tergoda dengan bibir manis Hyerim.

“KIM HYERIM!”

**

Setelah melewati beribu rengekan Hyerim, akhirnya Luhan bisa berjalan-jalan juga dengan istrinya tersebut. Sambil megumpat dalam hati dengan tas belanjaan Hyerim yang sangat banyak dipegang olehnya. Ya, Luhan mengizinkan Hyerim belanja. Kalau tidak mana mungkin penampilan seorang Kim Hyerim saat ini sudah kembali normal dengan memakai kaos bunga-bunga, rok pendek kota-kotak, serta rambut yang kembali hitam terurai, ditambah tas selempang keluaran berskha yang tersampirkan. Bila keinginannya sudah terpenuhi oleh Luhan.  Luhan menghela napas setelah keluar dari toko colorbox. Entah toko kebarapakah ini yang diinjaki Hyerim sedaritadi.

“Sudah belanjanya?” tanya Luhan pada Hyerim yang hanya membawa segelas bubble tea vanilla late ditangan kanannya. Berbeda dengan Luhan yang membawa banyak tas belanjaan.

“Mungkin sudah, sedikit kan aku belanja?” ucap Hyerim sambil menatap Luhan dengan senyum tanpa dosanya.

Sedikit? Gadis ini bilang sedikit?! Bahkan Luhan merasakan tangannya hampir putus megenggam tas belanjaan sebanyak ini. Hyerim hendak melangkah ke elevator sampai Luhan, dengan ripuhnya menarik Hyerim agar tidak menginjakan kaki di atas tangga berjalan tersebut. Hyerim membalikan badan dengan tatapan bingung.

“Kenapa? Kita kan ingin makan, dan restoran chinanya ada di bawah lantai ini,” ucap Hyerim heran.

“Masa sudah mahasiswa kamu tidak bisa baca?” ucap Luhan dengan tatapan datar dan menunjuk dengan mata tulisan attention bahwa elevator tersebut dalam perbaikan.

Hyerim pun membaca attention tersebut dan mengangguk-angguk mengerti. Beberapa detik berikutnya, Luhan menarik Hyerim berjalan menjauh dari elevator tersebut.

“Aku lapar, kita naik lift saja.” ucap Luhan masih menarik tangan Hyerim. Hyerim melebarkan matanya.

Andwaeee!” teriak Hyerim yang langsung menjatuhkan diri di atas lantai mall. “Aku tidak mau naik lift!” seru Hyerim membuat pengunjung mall memperhatikan Hyerim yang sudah menendang-nendangkan kakinya ke depan, Luhan menepuk dahinya dan malu setengah mati.

“Hyerim! Bangun! Jangan seperti itu! Kita harus naik lift!” bisik Luhan.

Hyerim malah menangis dan guling-guling tidak jelas. “Aku tidak mau naik lift!” seru Hyerim. Luhan menghembuskan napasnya frustasi.

Lelaki berumur 26 tahun itu menaruh tas belanjaan yang dibawanya dan menarik Hyerim agar berdiri untuk naik lift, walau gadis itu tetap menangis menjerit-jerit. Seketika Luhan teringat sesuatu kenapa Hyerim tidak mau naik lift seperti sekarang.

**

Hyerim turun dari mobil audi milik ayahnya. Gadis cilik berumur 7 tahun itu berlari masuk ke gedung yang tak lain perusahaan milik ayah Luhan. Saat bermain ke rumah keluarga Lu, dirinya mendapatkan informasi bahwa Luhan ikut ke kantor ayahnya karena sekolah libur. Maka dari itu, Hyerim merengek pada ayahnya untuk diantarkan ke kantor ayahnya Luhan. Mengacuhkan tatapan heran orang-orang pada dirinya, Hyerim berjalan kearah tangga. Tapi langkahnya terhenti saat melihat segerombolan karyawan keluar dari lift.

“Lebih baik naik lift saja biar tidak cape,” gumam Hyerim yang meganti arah tujuan yang semula kearah tangga, menuju lift.

Kebetulan saat bocah cilik 7 tahun tersebut naik lift, lift tersebut kosong dan hanya ada diri Hyerim seorang. Pintu lift tertutup. Hyerim masih tersenyum riang dan mencoba menekan tombol lantai 5, tapi sialnya tombol lift tersebut sangat tinggi untuk anak 7 tahun. Hyerim sudah berjinjit dan loncat-loncat beberapa kali. Tapi hasilnya nihil. Apa karena tombol liftnya terlalu tinggi atau Hyerim yang terlalu pendek? Intinya gadis cilik itu sudah putus asa.

Sampai ‘cklek’, lampu lift pun mati secara otomatis karena lift tidak berjalan-jalan sedaritadi. Mungkin hal tersebut tidak jadi masalah bila liftnya tidak ada orang satu pun, tapi sekarang di dalam lift ada bocah 7 tahun yang tengah panik. Kegelapan yang mendominasi membuatnya tambah takut.

“HUAAA! TOLONG! MATI LAMPUUUU!!!” Hyerim berteriak histeris sambil menangis dan memukul-mukul pintu lift.

Untung selang 10 menit kemudian, ada yang menekan tombol lift dari lantai 5. Lampu lift pun kembali menyala diiringi tujuannya pada lantai 5 tersebut. Hyerim masih menangis dengan posisi jongkok dan menyender pada dinding lift. ‘ting!’ pintu lift pun terbuka menampilkan sosok yang sangat dikenali Hyerim. Gadis itu mengangkat wajahnya dengan mata sembab, menatap Luhan yang bengong menatapnya.

“Hyerim?” panggil Luhan masih dengan keterkejutannya.

“OPAAA!!” Hyerim berseru dan langsung memeluk Luhan.

**

Hyerim memegang erat kerah baju Luhan saat keduanya berdesakan di dalam lift. Luhan hanya tersenyum menahan tawa melihat Hyerim ketakutan setengah mati seperti sekarang. Tas belanjaan yang dibawanya sekarang terasa ringan kala melihat wajah ketakutan Hyerim yang menurut Luhan sangat lucu. Pintu lift terbuka membuat Hyerim menghembuskan napas kelewat lega. Dengan langkah seribu, Hyerim keluar dari  lift. Luhan menyusulnya dengan tertawa kecil.

“Bagaimana sensasinya Nyonya Lu?” tanya Luhan dengan kekehannya. Hyerim menatap lelaki itu geram.

“Intinya aku tidak mau naik lift lagi!” seru Hyerim sambil menggertakan giginya.

“Kalau begitu jangan shopping terlalu banyak lagi dan menjadikanku pembantumu saat belanja. Ditambah jangan menggodaku lagi seperti saat di rumah. Kalau ya, akan kugeret kau ke lift lagi!” ancam Luhan.

Yak!” seru Hyerim jengkel dan membuat Luhan tetawa.

-FINISH-

awalnya aku males publish ff ini, tapi bersyukurlah karena kepikiran mau buat diary of childhood memories buat valantine, jadi aku publish ini ahahah. Jangan lupa RCLnya yaps ^-^

tumblr_n19m4uS8ZO1rbbbm2o1_250

Advertisements

Author:

A tinkerbell who dream to be Luhan's future wendy — Also an amature author, k-drama trash, k-running man freak, eternal ELF, ahjussi and korean actor addict in the same time

36 thoughts on “FF : Diary of Childhood Memories – Traumatic of Lift #2 {Ficlet-Series}

  1. Ahahah kocak bgt… Aku ngakak pas bgn hyerim yg guling2 pas diajakin luhan naek lift. Itu beneran guling2 di lantai mall gt? Masa org kaya guling2 gt? Gk elit bgt, ahah

    Like

Write ur Love Letter . . . <3

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s