Posted in Chapter, Comedy, FF : My Cinderella, PG-15, Romance, School Life

FF : My Cinderella Chapter 1 [The Rich Girl]

my-cinderella-quotes.jpg
poster by Charisma Girl (https/triskaaprilia.wordpress.com/)

Title : My Cinderella Chapter 1

Subtitle : The Rich Girl

Genre : Romance, Comedy, School life

Author : HyeKim

Rating : PG-15

Lenght : Multi Chapter

Summary : Bagi Luhan, Hyerim adalah Cinderella dalam hidupnya. Cinderella yang terlahir dari keluarga berada, mempunyai ibu dan sudara tiri yang menyayanginya. Tapi, Sang Cinderella merasa kesepian. Apakah bisa perbedaan antara Luhan dan Hyerim menyatukan keduanya dalam hubungan cinta?

Disclaimer : This is just work of fiction, the cast(s) are belong to their parents, angency, and God. The same of plot, character, location are just accidentally. This is not meaning for aggravate one of character. I just owner of the plot. If you don’t like it, don’t read/bash. Read this fiction, leave your comment/like. Don’t be plagiat and copy-paste without premission.

Cast :

-Hyerim (OC) as Oh Hyerim

-Luhan as Xi Luhan

-Victoria f(x) as Victoria Song

-Changmin TVXQ as Shim Changmin

“Aku memang gadis kaya raya, tetapi aku ingin kamu menjadi temanku, memangnya tidak bisa?”

HAPPY READING

HyeKim ©2016

║♫ ║ ♪ ║  ♫ ║ ♪ ║

PREVIOUS : 

TEASER 

Luhan mengeliat dalam tidurnya, ia benar-benar tidak bisa tidur malam ini. Besok akan menjadi hari yang baru untuknya, karena ia sudah resmi menjadi siswa SMA. Yang membuat Luhan berbangga hati adalah ia masuk ke ShinwaKodeunghakkyo (SMA Shinwa) dengan beasiswa, ditambah lagi sekolah tersebut adalah salah satu sekolah elit yang ada di Seoul. Bagi Luhan yang terlahir dari keluarga menengah kebawah, ia sangat bangga bisa sekolah disana.

“Luhan, kau belum tidur?” suara lembut ibunya terdengar dari ambang pintu. “Cepatlah tidur, kau besok harus sekolah kan? Jangan sampai terlambat,” belum sempat Luhan bersuara, ibunya sudah berucap lagi dan lalu pergi.

“Ya aku harus tidur sekarang, hari esok menungguku.” gumam Luhan lalu mulai memejamkan matanya.

**

“Luhan!!! Palli ireona!”

‘BUK!’

Teriakan ibunya membuat Luhan bangun dan terjatuh dari kasur, ia hanya mengusap-usap kepalanya dan melihat jam dinding di kamarnya.

“Apa?! Sudah pukul segini?! Aku hampir telat!!!” seru Luhan lalu ia buru-buru menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.

Dengan hitungan menit, Luhan sudah selesai mandi dan memakai seragam sekolah berserta almematernya. Luhan berlari ke halaman rumahnya dan menaiki sepedah birunya, tidak mempedulikan teriakan ibunya yang menyuruhnya sarapan terlebih dahulu.

Yang penting sekarang, ia harus sampai ke sekolah tepat waktu, maka dari itu Luhan mempercepat laju sepedahnya menuju Shinwa Koduenghakkyo.

**

Di rumah besar nan elit bak istana itu, terlihat seorang gadis berambut panjang menggunakan seragam SMA, keluar dengan wajahnya yang ditekuk dan bibirnya bergerak-gerak kesal.

“Nona, ayo naik mobilnya, anda bisa terlambat,” ucap seorang pengawal rumahnya pada gadis itu.

Gadis yang bernama lengkap Oh Hyerim itu membalikan badannya dan menatap tajam para pengawalnya.

“AKU BILANG AKU TIDAK MAU!” teriak Hyerim, membuat para pengawalnya menunduk takut.

Hyerim mulai berjalan dengan langkah lebarnya meninggalkan pekarangan rumahnya, tetapi para pengawalnya tetap mengejarnya agar mau menaiki mobil untuk berangkat ke sekolah.

“Nona, ayolah, Tuan yang memberi kami amanat untuk mengantarmu menggunakan mobil,” ucap salah satu pengawalnya.

“Apa peduliku bila orang tua itu yang menyuruh. “ucap Hyerim tampak acuh. Para pengawalnya yang lain saling tatap lalu mengangguk secara bersamaan.

“YAK!! APA YANG KALIAN LAKUKAN?! LEPASKAN AKU!! YAKKKK!!!” Hyerim berteriak saat para pengawalnya menggapit kedua tanggannya dan menggeretnya.

Sesuai perintah Tuan Oh, bila Hyerim keras kepala tidak menuruti amanatnya, para pengawalnya boleh saja bertindak keras dengan menggeretnya.

“LEPASKAN AKU, HEY! KALIAN MAU KUPECAT YA?! YAKK!!” Hyerim tetap berseru tetapi ia sudah digeret masuk kedalam mobil limosin hitamnya.

Hyerim menggertakan giginya kesal, ia menatap kearah depan, supirnya hendak bersiap masuk ke dalam mobil. Masih ada waktu, pikirnya. Lalu dengan nekad, Hyerim keluar dari mobil dan berlari secepat mungkin.

Para pengawalnya yang melihatnya, langsung mengejarnya. Hyerim dengan gesit langsung menaiki sepedahnya yang berada di pekarangan rumahnya, dan mulai menggayuh sepedah itu dengan kecepatan ekstra.

Dari arah berlawanan, Luhan juga menggayuh sepedahnya dengan kecepatan ekstra. Ia tidak mau terlambat di hari pertamanya.

“Cepat! Cepat! Cepat!” gumam Luhan. Tanpa ia ketahui dari arah yang berbeda, meluncurlah sepedah merah Hyerim dengan kecepatan yang tak kalah kencangnya.

“AKHHH!!” jerit Hyerim saat sepedahnya hendak bertabrakan dengan sepedah Luhan.

Luhan membulatkan matanya dan berusaha memberhentikan laju sepedahnya. Tetapi terlambat, sampai akhirnya tabrakan antara 2 sepedah itu pun terjadi.

“BRAK!

BUK!

PLUK!”

“Akh! Appayo,” rintih Hyerim.

Hyerim terpental dari sepedahnya, dan menyebabkan beberapa luka ditangan dan kakinya, sementara sepedahnya masuk ke dalam selokan karena posisinya tadi memang agak dekat selokan.

Sementara Luhan, ia hanya terkena luka dikakinya dan sepedahnya baik-baik saja. Ia kemudian melihat arlojinya, sekarang Luhan hanya punya waktu 20 menit untuk tidak terlambat kesekolahnya.

“Agassi, jeoseonghamnida, aku terburu-buru, maaf.” ucap Luhan yang sudah berdiri dan membungkuk pada Hyerim. Ia langsung  mengambil sepedahnya dan menggayuhnya sangat cepat.

“YAK! KENAPA MAIN PERGI?!” ucap Hyerim yang berusaha berdiri dan mengejar Luhan, tapi apa daya lututnya terluka dan terlalu lemas, sampai saat Hyerim sudah berdiri, ia pun terjatuh lagi.

“Pria itu ishh! Mana sepedahku jatuh ke selokan, aish!” gerutu Hyerim, ia merasa sial hari ini.

**

“Hosh! Hosh! Akhirnya aku sampai” ucap Luhan sembari terengah-engah. Ia berhasil datang sebelum 1 menit bell masuk berbunyi, sekarang Luhan sedang memarkirkan sepedahnya di parkiran sekolah.

Setelah memarkirkan sepedahnya, Luhan berjalan tergesa-gesa menuju sebuah ruangan yang dikhususkan untuk orientasi siswa baru. Saat masuk ke ruangan yang dituju, semua orang terpaku menatap Luhan, bahkan para siswi perempuan menatapnya dengan mata berbinar.

“Jalsaengkyeosseo (ganteng sekali),” bisik para murid perempuan

“Tapi aku dengar dia adalah anak yang mendapat beasiswa itu, anak miskin itu.” bisik salah 1 murid perempuan

“Eoh jinjja?” murid yang lain pun berkomentar dan menatap Luhan seakan merendahkan.

Luhan hanya menghela napas mendengar bisikan itu, ia tahu pasti ada yang memandang rendah dirinya karena status sosial, tapi ia tidak peduli. Luhan pun memilih duduk di pojok ruangan dibanding harus bergabung dengan yang lain.

“Boleh aku ikut duduk?” tanya seorang pria. Luhan mengakat wajahnya, mendapati seorang pria yang tersenyum padanya. “Naneun Lee Jonghyun imnida.”

“Ah ye, Xi Luhan imnida.” ucap Luhan sembari tersenyum. “Kau boleh duduk disini.” ucap Luhan kemudian.

Akhirnya Jonghyun duduk di sebelah Luhan, Jonghyun tidak terlalu mementingkan status sosial Luhan. Keduanya saling berbagi cerita tentang diri masing-masing, sampai 1 orang perempuan dan 1 orang laki-laki, yang ternyata seorang senior masuk ke ruangan tersebut. Kedua orang itu membuat para siswa dan siswi terkagum-kagum akan wajah sempurna keduanya.

Joheun achim yeoreobeun! (Selamat pagi semua)” seru senior perempuan tersebut, dengan senyum yang menghiasi wajahnya dan membuatnya makin bersinar.

Luhan terpaku menatap senior perempuan itu. Perempuan yang sudah lama ingin ia temui, dan sekarang bagaikan bidadari, perempuan itu datang di hadapannya.

“Perkenalkan aku Kwon Yuri, dan ini temanku Shim Changmin.” ucap Yuri memperkenalkan laki-laki disebelahnya. Changmin segera menebar senyum, membuat para siswi perempuan terpesona.

“Kau tahu tidak? Shim Changmin sunbae itu pemilik sekolah ini,” bisik Jonghyun pada Luhan.

“Pemilik?” ulang Luhan. Jonghyun mengangguk.

“Aku dengar adik perempuannya juga akan sekelas dengan kita. Aku harus menarik perhatian adiknya, aku dengar adik Changmin Sunbae sangat cantik.” ucap Jonghyun membuat Luhan menatapnya datar.

**

“AISH JINJJAAA!!!!” seru Hyerim sambil berjalan membawa sepedahnya.

Hyerim sudah benar-benar terlambat ke sekolah, tapi berhubung sekolah ini adalah milik ayahnya, ia dengan mudah masuk. Tapi yang memprihatinkan adalah penampilannya. Rambut yang acak-acakan, luka ditangan dan kaki, bahkan sepedah kesayangannya yang sudah penyok itu. Entah apalagi nanti yang terjadi padanya.

“Hyerim!” panggilan seseorang membuat Hyerim memberhentikan langkahnya dan meniup-niupkan poninya kesal. Ia benar-benar tidak mau bertatap muka ataupun bicara pada sosok yang memanggilnya itu. Orang yang sudah mengkhianatinya.

“Kamu tidak apa-apa? Hwang ahjussi bilang kamu lari dengan sepedahmu,” suara lembut perempuan itu semakin mendekat dan sudah berada dibelakang Hyerim. Ia menyentuh pundak Hyerim.

Hyerim membalikan badannya dan menatap sengit perempuan itu. “Apa urusanmu? Urusi saja pacarmu itu! Jangan urusi aku!” ucap Hyerim tajam dan lalu pergi meninggalkan perempuan itu.

Perempuan bernama Victoria itu menghela napasnya menatap kepergian Hyerim. Ia rasa adik kecilnya itu benar-benar sudah membencinya sekarang.

**

“Kita akan mengabsen kalian sekarang,” ucap Changmin sambil memegang sebuah kertas dan mulai menyebut nama-nama siswa dan siswi. “Oh Seungah?”

“Hadir!”

“Seo Joohyun?”

“Hadir!”

“Joo Hyunjin?”

“Hadir!”

“Oh Hyerim?”

Tidak ada jawaban sama sekali, membuat para siswa dan siswi bertatap-tatapan mencari tahu pemilik nama Oh Hyerim tersebut. Changmin mengangkat wajahnya dari kertas absen, menatap penjuru kelas tapi tak menemukan apa yang ia cari.

“Apa Oh Hyerim tidak hadir? Apakah ia sakit?” tanya Yuri sambil menatap Changmin khawatir.

“NAEGA WASSEOOO!!! (Aku sudah datang)” teriakan seorang gadis dari ambang pintu terdengar, membuat seluruh perhatian terarah kearahnya.

Seluruh kelas menatapnya dengan mata membulat dan mulut ternganga lebar, karena penampilan gadis itu yang sangat kacau. Sementara hanya 1 orang yang menatapnya terkejut sekaligus tak percaya, orang itu adalah Luhan.

“Dia? Gadis yang kutabrak tadikan?” gumam Luhan dalam hati. Ia tak menyangka gadis itu juga 1 sekolah dengannya, Luhan tadi tak memperhatikan seragam yang dipakai gadis itu.

“Oh Hyerim-ssi, kenapa kau terlambat?” tanya Changmin sambil menatap Hyerim yang masih setia diambang pintu.

“Tadi aku mengajaknya mengobrol dan lupa waktu. Kalau kalian ingin marah, marah saja padaku.” terdengar suara lembut seorang gadis yang baru muncul di belakang Hyerim.

Gadis itu berjalan masuk ke kelas, diikuti oleh Hyerim di belakangnya dengan wajah ditekuk kesal. Lagi-lagi para siswa dan siswi mengangumi gadis itu, seakan sekolah ini menampung wajah-wajah sempurna yang ada di Korea.

“Gadis yang baru muncul itu namanya Victoria Sunbae. Dia pacarnya Changmin Sunbae, padahal aku sangat menyukai tipe wanita sepertinya,” bisik Jonghyun pada Luhan.

Sementara Luhan masih terpaku pada sosok Hyerim yang ada di depan kelas. Ia bisa melihat beberapa luka ditangan dan kaki gadis itu, perasaan bersalah mulai menyelimutinya.

“Baiklah Hyerim, kau boleh duduk sekarang,” ucap Changmin. Hyerim pun langsung duduk dikursi yang berada di belakang Luhan dan Jonghyun, yang ditempati oleh gadis berambut hitam panjang.

Luhan sempat beradu tatap dengan Hyerim. Gadis itu langsung menyipitkan matanya saat bertatapan dengan Luhan.

“Dia adalah pria yang tadi!” gumam Hyerim dalam hati, sampai akhirnya ia sudah duduk dikursi pilihannya.

“Annyeong naeun Seo Joohyun imnida,” gadis yang berada di sebelah Hyerim memperkenalkan diri. Hyerim menengok kearahnya dan hanya tersenyum.

“Tak usah sok akrab padaku karena kau tahu aku ini pemilik sekolah ini. Aku benci orang kaya yang sok akrab sepertimu,” desis Hyerim membuat Joohyun melongo tak percaya.

**

Orientasi dan senioritas. Hal yang paling dibenci oleh siswa dan siswi baru, apalagi saat sesi pembullyan senior pada juniornya. Hal konyol yang harus diterima oleh para siswa-siswi baru.

Begitu pula dengan Luhan. Ia benar-benar sudah lelah setengah mati harus mengupas kacang dan mengitungnya, setelah selesai ia harus melaporkannya pada para senior. Tapi berhubung ia masuk karena beasiswa, ia tak mau banyak mengeluh.

“Yak! Pria sialan!” terdengar pekikan lengking seorang gadis dari arah belakang Luhan.

Luhan membalikan badannya dan mendapati Hyerim sedang menatapnya geram sambil membawa baskom berisi kacang.

“Kau memanggilku?” ucap Luhan sambil menyipitkan matanya menatap Hyerim.

“Eo, niga! (Ya, kau)” Hyerim menunujuk Luhan dengan telunjuknya membuat pria itu menjadi kesal dan berdiri, balas menatap Hyerim sengit.

“Apa alasanmu memanggilku dan menunjukku dengan cara tidak sopan seperti itu? Apa orang kaya tidak punya sopan santun?” ucap Luhan sinis

“Kau benar-benar kerterlaluan!” ucap Hyerim keras. Keributan antara keduanya mengundang orang-orang untuk memperhatikan mereka.

Hyerim sudah berjalan setengah berlari kearah Luhan. Luhan melebarkan matanya saat Hyerim tiba-tiba sudah ada dihadapannya dan…

‘BLUR!’

“Yak!” teriak Luhan saat ia merasa satu baskom penuh kacang mendarat di atas kepalanya. Hyerim dengan tega menumpahkan isi baskomnya ke kepala Luhan.

“Itu balasannya karena kau membuatku jadi terluka seperti ini, membuat sepedahku penyok, dan malah main meninggalkanku!” ucap Hyerim tajam dan saat hendak melangkah pergi, Hyerim terjatuh karena lututnya yang terluka membuatnya susah menjaga keseimbangan.

“Aishii (sial).” umpat Hyerim saat merasakan lututnya mulai mengeluarkan darah lagi.

Luhan yang tadinya hendak marah, seketika menatap Hyerim iba, ia tidak tahu bahwa tabrakan tadi pagi membuat sepedah gadis itu jadi penyok, pantas saja dirinya marah. Hyerim tampak memegangi lututnya, dan entah Luhan salah lihat atau apa. Bahu Hyerim bergetar seperti menahan tangis, membuat Luhan makin merasa bersalah.

“Neon gwenchana?” tanya Luhan. Orang-orang yang tadi memperhatikan mereka sudah bubar entah kemana.

“Hey, kau tak apa kan? “Luhan menyentuh pundak Hyerim, khawatir akan gadis itu.

Seketika, Hyerim membalikan tubuhnya, matanya terlihat berkaca-kaca walau wajahnya sekarang terlihat jengkel. Ia menepis tangan Luhan yang ada dipundaknya.

“Jangan sentuh aku!” seru Hyerim mengundang orang-orang menengok lagi padanya dan Luhan. Hyerim segera berdiri walau kakinya lemas dan lututnya sakit, ia langsung berlari meninggalkan Luhan yang menatap kosong kepergiannya.

“Daebak!” ucap Jonghyun sembari bertepuk tangan, entah dari kapan ia sudah berada di sebelah Luhan. Luhan menengok kearahnya dengan kening berkerut.

“Hebat sekali Xi Luhan, kamu telah membuat adik Changmin Sunbae berbicara denganmu, walau dia marah sih sebenarnya padamu, dan kamu sudah bisa menyentuh pundaknya tadi. Waw!” ucap Jonghyun takjub.

“Mwo? Adik Changmin Sunbae? Jadi, Oh Hyerim itu pemilik sekolah ini?” ucap Luhan dengan raut wajah sangat terkejut. Jonghyun hanya mengangguk dengan santai.

“Sudah kubilang dia cantikan? Tapi sayang dia sedikit anti sosial,” ucap Jonghyun. Luhan tak mempedulikan ucapan Jonghyun barusan, ia menatap lurus tempat Hyerim tadi menghilang.

**

Hyerim memejamkan matanya dan membiarkan angin musim semi menerpa wajahnya dan memainkan rambutnya yang seakan berkibar karena angin. Hyerim sekuat tenaga menahan tangis, selama ini ia sudah bertahan dengan tidak menangis sedikitpun.

‘KLEK’

Pintu balkon atap sekolah, tempat Hyerim berada sekarang, terbuka. Luhan yang membuka pintu tersebut, perlahan mendakati Hyerim. Gadis itu menoleh dan hanya memasang tampang jengkelnya.

“Eummm… Hyerim-ssi aku mencari-carimu dari tadi,” ucap Luhan sambil menganggaruk belakang kepalanya.

“Apa maumu?” tanya Hyerim dingin dan mengalihkan pandangannya kedepan.

“Eung.. sebenarnya dari tadi aku ingin meminta maaf padamu, maafkan aku soal kejadian tadi pagi, aku hampir terlambat jadi main meninggalkanmu. Soal sepedahmu, aku bisa menganti rugi,” ucap Luhan tulus.

Hyerim kembali menatap Luhan yang juga balas menatapnya. Ada ketulusan dari bola mata pria itu. Luhan benar-benar tulus meminta maaf padanya. Hyerim berdeham sebelum mulai berbicara.

“Aku memaafkanmu,” ucap Hyerim membuat Luhan bernapas lega. “Soal sepedahku, tak usah repot-repot menganti rugi. Sepedah itu dari Paris. Ayahku yang membelikannya untukku saat bertugas ke sana. Aku dengar kau dari keluarga kalangan bawah, jadi kau tak mungkin mampu menganti ruginya.”

Luhan tampak membuka mulutnya lebar, ia merasa direndahkan oleh status sosialnya. Ia rasa orang kaya seperti Hyerim selalu saja memandang rendah dirinya, padahal ia dengan rendah hati mau menganti rugi dan meminta maaf.

“Ahniya! Tetap saja aku harus mengantinya, sepedahmu penyok kan karena diriku. Akan kuusahakan untuk mengantinya,” ucap Luhan ngotot.

“Tidak perlu! Sudah kubilang kau tidak bisa!” Hyerim balas ngotot. Keduanya saling bertatapan dengan mata melotot satu sama lain, dengan pendirian masing-masing.

Luhan akhirnya menghela napas, karena lelah beradu tatap seperti itu. “Aku akan menganti rugi dengan cara apapun, sekarang, aku akan mengobati lukamu,” ucap Luhan.

“Eh? Apa?” ucap Hyerim sedikit bingung. Tapi Luhan langsung menarik tangannya untuk duduk di atas lantai atap sekolah.

Luhan duduk di hadapan Hyerim, dan mengeluarkan kantong plastik dari jas almematernya. Dan mengambil obat antiseptik dan juga kapas dari dalam sana. Luhan menuangkan obat antiseptik pada kapas dan mulai mengoleskannya pada kaki dan tangan Hyerim yang terluka.

Hyerim memperhatikan wajah Luhan yang sedang serius mengobati lukanya. Ia rasa pria ini mempunyai hati yang tulus.

“Sudah selesai. Sekali lagi aku minta maaf. Aku akan meganti rugi sepedahmu,” ucap Luhan sambil tersenyum pada Hyerim, membuat gadis itu salah tingkah.

“Bagaimana kalau kau meganti rugi dengan cara yang lain. Dengan kau menjadi temanku, kuanggap ganti rugimu selesai,” ucap Hyerim. Reaksi Luhan pertama kali adalah memasang tampang bodohnya yang kebingungan.

“Apa?! Aku menjadi temanmu?! Menjadi sahabatmu? Teman dari gadis kaya raya sepertimu?” ucap Luhan masih kaget. Hyerim menganggukan kepalanya.

“Aku memang gadis kaya raya, tetapi aku ingin kamu menjadi temanku, memangnya tidak bisa?” tanya Hyerim menatap berharap kearah Luhan.

“Tentu tidak bisa! Kita berdua sangat berbeda!” tolak Luhan dan langsung pergi meninggalkan Hyerim.

Luhan bingung akan gadis itu. Hyerim benar-benar aneh. Disaat anak orang kaya yang lain berbaur dengan anak orang kaya yang lainnya. Tapi ia meminta Luhan yang notabenya bukan dari keluarga kaya, menjadi temannya. Apa Hyerim ingin memanfaatkannya?

“Dasar gadis kaya yang aneh.” gumam Luhan pelan

To Be Countinued

Hallo semuanya, saya bawa FF baru nih ahahahha. Biar tenang aja jadi publish Chapter 1nya LOL.

oh ya, Complicated Fate mungkin belum aku publish ya maaf walau tuh FF udah di tulis chapter akhirnya /dilindes/

 

oke last, jangan lupa komen/likenya thankyouuuu~ ❤

tumblr_inline_nn29faaaDc1t079ku_500

Advertisements

Author:

A tinkerbell who dream to be Luhan's future wendy — Also an amature author, k-drama trash, k-running man freak, eternal ELF, ahjussi and korean actor addict in the same time — Adorable since 2001

57 thoughts on “FF : My Cinderella Chapter 1 [The Rich Girl]

  1. Abis baca beauty and the beast, sekarang cinderella.. Duh dongeng princess ala k elsa hehe rekomen dong ff princess lainnya hehe. Cem putri duyung, yg sekarang lg buming drama legend of the blue sea pasti seru..

    Like

    1. Wakakak iya emang kadang aku remake dongeng princess ala-ala aku. Dari beauty and the beast sekarang ke cinderella XD XD ahahah putri duyung? Seketika kebayang Hyerim dijadiin putri duyung dodol macem Sim Cheong dan Luhan jadi penipu ulung macem Heo Jeon Jae XD XD

      Like

  2. DAEBAK!!! Eonni bikin aku serasa di dunia dongeng! hyerim kan adiknya changmin tapi kok beda marga? Ato aku harus baca next chap ya biar tau? Ya udah deh

    Like

  3. Ckckck Luhan saking buru*nya smpe ninggalin hyerim gitu aja 😀
    ffnya anti mainstream, jarang2 gitu si rusa jd org kere biasanya jd ank sekolahan tajir, jahil, IQ tinggi dan sdh pasti tampan heheh

    Like

Write ur Love Letter . . . <3

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s