Posted in Chapter, Comedy, FF : My Cinderella, Friendship, PG-15, Romance, School Life

FF : My Cinderella Chapter 2 [Be Her (boy)friend]

poster by Charismagirl
poster by Charismagirl

Title : My Cinderella Chapter 2

Subtitle : Be Her (boy)friend

Genre : Romance, Comedy, School life, Friendship

Author : HyeKim

Rating : PG-15

Lenght : Multi Chapter

Sumarry : Bagi Luhan, Hyerim adalah Cinderella dalam hidupnya. Cinderella yang terlahir dari keluarga berada, mempunyai ibu dan sudara tiri yang menyayanginya. Tapi, Sang Cinderella merasa kesepian. Apakah bisa perbedaan antara Luhan dan Hyerim menyatukan keduanya dalam hubungan cinta?

Disclaimer : This is just work of fiction, the cast(s) are belong to their parents, angency, and God. The same of plot, character, location are just accidentally. This is not meaning for aggravate one of character. I just owner of the plot. If you don’t like it, don’t read/bash. Read this fiction, leave your comment/like. Don’t be plagiat and copy-paste without premission.

Cast :

-Hyerim (OC) as Oh Hyerim

-Luhan as Xi Luhan

-Victoria f(x) as Victoria Song

-Changmin TVXQ as Shim Changmin

“Baiklah, aku mau menjadi teman laki-lakimu,”

HAPPY READING

HyeKim ©2016

║♫   ♪ ║

PREVIOUS : 

TEASER || Chapter 1 [The Rich Girl] || (NOW) Chapter 2 [Be Her (boy)friend] 

Hari ini orientasi sudah selesai. Luhan dengan cepat meninggalkan kelas. Ia malas berhadapan dengan Hyerim. Gadis itu memang aneh. Setiap ada anak perempuan dan laki-laki yang mengajaknya mengobrol dan berteman, Hyerim membalasnya dingin dan menolak mentah-mentah pertemanan tersebut.

Luhan mungkin harus menolak gadis itu menjadi temannya. Bukan kenapa-napa. Hanya saja mereka berdua benar-benar berbeda. Orang-orang akan mengira bahwa Luhan memanfaatkan Hyerim dan berusaha memikat gadis itu bila ia berdekatan dengannya. Ini semua karena status sosial keduanya.

“Huft,” Luhan menghela napasnya. Ia hendak menaiki sepedahnya, sampai ekor matanya melihat Hyerim berjalan sambil membawa sepedahnya yang penyok.

“Gadis itu benar-benar bodoh, kenapa tidak meminta Changmin sunbae atau supirnya mengantarnya pulang,” gerutu Luhan.

Saat Luhan hendak pergi dengan sepedahnya, ia kembali menengok kearah Hyerim. Oke mungkin sekarang rasa simpatiknya terlalu besar, karena sekarang Luhan menggayuh sepedahnya menuju kearah Hyerim.

“Hey! Gadis ganas!” seru Luhan membuat Hyerim menoleh kearahnya dengan wajah cemberut.

“Katamu aku ganas?!” ucap Hyerim jengkel. Luhan hanya mengangkat bahunya.

“Entahlah,” ucap Luhan. “Ayo cepat naik!” perintah Luhan kemudian, membuat Hyerim mengerutkan keningnya.

“Naik? Naik kemana? Memangnya disini ada tangga yang bisa membawaku naik?” ucap Hyerim bingung.

Yak! Kau ini bodoh, dungu, atau idiot?! Maksudku naik ke jok belakang sepedahku! Aku akan mengtarmu pulang, bodoh,” ucap Luhan kesal akan kelemotan Hyerim.

‘PAK’

“Aduh!” Luhan meringis saat Hyerim mengetuk keras keningnya. “Sakit tahu!” seru Luhan yang sedang mengelus-elus keningnya.

“Jangan sebut aku bodoh, dekil!” Hyerim berkacak pingang

“Hah? Dekil? Kau mengataiku?! Tck kurasa niat baikku mengantarkanmu, kau tolak ya. Ya sudah aku pergi saja,”

Saat Luhan hendak menganggyuh sepedahnya pergi. Hyerim menarik belakang seragam Luhan, menyuruhnya untuk berhenti.

“Aku ikut!” seru Hyerim dan langsung naik ke jok belakang sepedah Luhan. Luhan hanya tersenyum kecil dan mulai menggayuh sepedahnya keluar dari SMA Shinwha.

“Kamu ini kenapa bersikap dingin kepada semua orang? Aku bingung jika kamu seperti ini tapi menyuruhku menjadi temanmu,” ucap Luhan sambil sekilas melirik Hyerim.

“Karena orang kaya itu menyeramkan,” jawab Hyerim membuat Luhan melongo bingung.

“Ya benar orang kaya itu menyeramkan, seperti dirimu. Kamu seperti monster,” ucap Luhan berusaha sedikit bergurau walau ia mengatakan itu sesuai kenyatannya.

Hyerim hanya mendengus mendengarnya. “Terserah kamu lah dekil! Kamu membuatku kesal terus menerus! Tapi beriskap layaknya malaikat! Kamu ini setan atau malaikat sih?”

“Menurutmu aku ini apa?” tanya Luhan balik, membuat Hyerim berpikir sesaat.

“Kamu ini iblis!” jawab Hyerim membuat Luhan melajukan sepedahnya kencang diatas rata-rata. “YAKKK! MICHINGGEOYA? (KAU GILA YA)” teriak Hyerim sambil mengeratkan pengangannya pada pinggang Luhan.

Luhan hanya tertawa kecil karena berhasil mengerjai Hyerim. Rasa nyaman menyelimuti keduanya, yang berboncengan dengan sepedah Luhan menyusuri jalan kearah rumah Hyerim.

Stop!” seru Hyerim membuat Luhan mengerem sepedahnya mendadak dan terlonjak kaget. Tanpa merasa bersalah, Hyerim meloncat turun dari sepedah Luhan.

“Terimakasih Luhan. Aku turun disini saja. Tinggal nanti berjalan. Dadah temanku,” ucap Hyerim sambil tersenyum lebar dan melambaikan tangannya. Luhan hanya tersenyum kikuk dan melambai pelan sampai akhirnya sosok Hyerim pergi meninggalkannya.

***

Chinggu? Chingguya musun? (Teman apanya) Ck!” decak Luhan setelah selesai menggosok giginya. Teman? Hyerim memanggilnya teman? Sungguh tidak bisa dipercaya.
“Apa aku harus meminta saran dari umma tentang ini?” gumam Luhan, lalu berpikir tentang reaksi ibunya setelah ia menceritakan semuanya.

“Apa?! Gadis kaya raya yang ternyata pemilik sekolahmu mengajakmu berteman?” ucap ibu Luhan dengan mata melebar. Luhan menganggukan kepalanya lesu.

“Dia anaknya aneh sekali, umma. Ke orang lain dia dingin dan dia agak anti sosial. Nah kepadaku malah mengajak berteman,” ucap Luhan

“BUKANNYA ITU BAGUS?! JANGAN-JANGAN DIA MALAH MENYUKAIMU! KAMU HARUS MAU BERTEMAN DENGANNYA! KELAK KITA AKAN MENJADI KELUARGA KAYA SEPERTINYA! AHAHAHA.”

“AH TIDAKKK!” seru Luhan saat memikirkan hal tersebut.

Tentu ibunya tidak akan memberikam saran yang bagus, lalu bagaimana dengan adik perempuannya, Xi Yoonra? Luhan mulai berpikir kembali.

“APA OPPA BILANG? YA AMPUN, BEGINI-BEGINI JUGA GADIS KAYA MAU MELIRIK OPPA. BERTEMAN SAJA DENGANNYA! LALU BERPACARAN, DAN KITA AKAN MEMPUNYAI BANYAK UANG NANTINYA. HUUUUU!!!” jerit Yoonra tepat di hadapan wajah Luhan.

Luhan langsung menggeleng kuat-kuat memikirkan 2 hal tersebut. “Kenapa aku harus mempunyai ibu dan adik yang mata duitan sih? Ish!” Luhan mengacak-acak rambutnya frustasi.

Oppaa!” pekikan Yoonra terdengar dari luar kamar mandi. Luhan langsung membukakan pintu kamar mandi.

“Cepat keluar dari kamar mandi. Daritadi lama sekali. Apa oppa sedang memikirkan sesuatu? Mungkin saja seorang gadis?” ucap Yoonra dengan alis terangkat.

“Eh apaan sih? Gadis apanya?” ucap Luhan salah tingkah, karena adiknya tepat sasaran. Yoonra mengedikan bahunya.

“Entahlah, semoga saja gadis yang oppa pacari cantik dan kaya agar bisa membelikanku banyak cat kuku dan boneka,” Yoonra berucap dengan mata berbinar. Membuat Luhan menepuk jidatnya, benar-benar sesuai apa yang ia pikirkan tadi. Adiknya sungguh mata duitan.

***

“Tadi pagi kenapa tidak bersama Joowoon ahjussi saja berangkatnya? Lalu sepedahmu itu? Jadi penyok?” ucapan seorang pria terdengar di tengah ruang makan sebuah rumah mewah yang ada di daerah Kangnam.

“Apa pedulimu, cish,” desis gadis yang pria itu ajak bicara. Gadis bernama Hyerim itu tampak memasang tampang dinginnya sambil memakan makan malamnya.

Changmin hanya menghela napas melihat tingkah adiknya. Lebih tepatnya adik tirinya. Ibu Hyerim sudah meninggal dunia sejak gadis itu berusia 9 tahun. Dan saat Hyerim berusia 13 tahun, Ayah dari Hyerim menikahi Ibunya Changmin. Walau Hyerim adik tirinya, Changmin sangat menyayanginya.

“Aku tentu saja peduli. Appa dan umma bisa memarahiku bila melihat putri kesayangan mereka lecet sedikitpun dan aku yang akan disalahkan bila terjadi sesuatu padamu,” ucap Changmin. Hyerim hanya mendelik menatapnya.

“Kau,” Hyerim berteriak, ia berdiri dan mengebrak meja makan. “Jangan berprilaku layaknya seorang kakak kepadaku! Urusi gadismu dan hal lainnya, Shim Changmin-ssi,” ucap Hyerim sembari menatap Changmin tajam dan beranjak dari meja makan.

Hyerim memasuki kamarnya. Ia mengunci pintu dan diam-diam menangis. Ia lelah sungguh, selama ini ia bisa menahan semua isak tangisnya. Merelakan orang yang percaya, kasihi, dan ia sayangi pergi dari kehidupannya.

Hyerim menatap nanar bingkai foto yang menampilkan 3 remaja dengan seragam SMP tengah tersenyum riang. Itu adalah dirinya, Changmin, dan Victoria. Hyerim berada ditengah keduanya yang merangkul bahunya.

“Kamu ini adik kita. Iya kan Vict?”

“Tentu kamu ini adik kita,

Tanpa Hyerim sadari. Tangannya sudah terkepal kuat mengingat masa lalunya yang indah itu dengan dua orang yang telah mengkhinatinya. Hyerim mengambil figura tersebut dan membantingnya ke lantai, membuat suara pecahan kaca figura terdengar memenuhi kamarnya.

“Kalian bukan kakakku sekalipun,” desis Hyerim

***

Pagi ini, Hyerim dengan susah payah harus berlari dari kejaraan bodyguardnya dan berusaha mati-matian menuju halte bus. Sedikit gila memang mengingat pagi-pagi ia sudah berlari marathon melewati jalanan.

Hosh! Ya ampun aku benar-benar lelah.” Hyerim mengatur napasnya yang tersenggal-senggal.
Hyerim mulai mengedarkan pandangannya dan hendak menaiki satu bus yang baru muncul. Tapi seketika dirinya melihat sosok seseorang yang sangat ia kenali. Yup, Luhan! Tanpa berpikir dua kali, Hyerim langsung berlari layaknya orang gila seperti sebelumnya, mengejar Luhan yang menaiki sepedah.

Yak!! Xi Luhannn!!!” Hyerim berteriak memanggil-manggil nama pria itu dan terus berlari mengejarnya. “Ya ampun, kurasa si dekil itu tuli,” decak Hyerim

“XI LUHANNNNNN!!!” Hyerim berteriak dahsyat membuat orang-orang memandangnya kasihan dan mengira ia pasien rumah sakit jiwa yang melarikan diri.

Dan kali ini, berhasil! Luhan menghentikan laju sepedahnya dan menengok kearah Hyerim yang sudah berhenti berlari dan tampak mengatur napasnya.

“Kau Oh Hyerim kan? Bukan pasien rumah sakit jiwa yang mirip gadis ganas itu?” seru Luhan sambil menaikan satu alisnya. Hyerim menggertakan giginya kesal dan mengangguk, kemudian menghampiri pria itu.

“Hey! Aku butuh tumpanganmu!” ucap Hyerim yang main naik ke boncengan sepedah Luhan.

Yak! Yak! Yak! Neon mwoya? (Kamu ini apa-apaan) kenapa main naik ke sepedahku?” seru Luhan

“Sudahlah, ayo jalan! Cepat jalan!” seru Hyerim yang sudah mengambil posisi nyaman untuk duduk.

Luhan hanya menggertakan giginya kesal dan mulai menggayuh sepedahnya. Gadis ini memang merepotkan! Umpat Luhan dalam hati. Saat keduanya sampai ke sekolah, beribu pasang mata menatap keduanya. Ya tentu karena mereka berdua datang bersama dengan berboncengan!

Gheudeul mwoya? (mereka apaan sih) menatap kita seperti itu,” ucap Hyerim ketika turun dari sepedah Luhan. Luhan juga merasa risih ditatapi seperti itu.

“Ah molla, mungkin terpesona olehku,” ucap Luhan membuat Hyerim menatapnya datar.

“Terpesona olehmu? AHAHAHA! LUCU SEKALI!” seru Hyerim mengejek Luhan.

“Kenyataannya seperti itu,” ucap Luhan percaya diri.

“Kau bahkan kalah tampan dengan…- ah lupakan,” ucap Hyerim tak melanjutkan kata-katanya karena menyebut nama ‘itu’ saja sudah dapat dirasakan kembali rasa sesak didadanya, dan Hyerim pun berlalu pergi.

“Kenapa gadis itu?” gumam Luhan bingung.

“Luhan? Ini kau kan? Ya ampun!” seruan seorang gadis terdengar di belakang Luhan membuat pria itu membeku seketika. Ia kenal suara itu, suara bidadarinya.

Luhan membalikan badannya dan mendapati Kwon Yuri tengah tersenyum selebar mungkin kepadanya. Cantik! Ya ampun! Gumam Luhan dalam hati. Gadis yang dulu menghiasi kenangan masa kecilnya dan gadis yang pergi meninggalkannya karena pria yang dicintainya, kini berdiri di hadapannya. Gadis yang membuat dirinya jatuh cinta dan patah hati sekaligus.

“Yuri nuna? Ah lama tak berjumpa,” ucap Luhan. Yuri masih tersenyum dan kemudian memeluk Luhan, pria itu sedikit terkejut.

“Bogoshipeo.” bisik Yuri. Luhan merasakan badannya kaku untuk bergerak.

“Nado bogshipeo nuna,” Luhan balas memeluk Yuri dan tersenyum senang. Sudah lama ia tak merasakan perasaan seperti ini, tak peduli banyak pasang mata menatap mereka tak suka.

***

Hyerim tampak tak minat memperhatikan ke depan kelas. Pelajaran matematika. Oh demi apapun gadis itu membenci pelajaran ini. Ingin sekali ia meleyapkan mata pelajaran itu. Berbeda dengan Luhan, pria itu tampak semangat karena ini adalah pelajaran favoritnya.

“Heh Lu! Luhan!” bisik Hyerim sambil mencolek pundak Luhan, ia duduk bersama Joohyun tepat dibelakang Luhan dan Jonghyun.

Mwoya?(apaan sih?)” ucap Luhan sambil melirik sekilas kearah Hyerim.

“Nomor 13 apa? Nanti pulang sekolah atau saat istirahat, ajari aku cara mengerjakannya,” bisik Hyerim.

Aish! Shireo!” tolak Luhan

Aih! Aku kan minta diajari setelahnya!” Hyerim mulai menarik-narik kerah seragam Luhan. “Kamu kan temanku, ayolahhhh.” Hyerim memelas.

Luhan berusaha mati-matian menahan rasa simpatiknya dan meladeni gadis itu. Ya, Luhan berusaha menghindar, ia tahu akan kena banyak masalah bila berurusan dengan gadis itu mengingat banyak orang yang melihat keduanya berangkat bersama.

Hyerim memajukan bibirnya saat Luhan tak merespondnya sama sekali. Joohyun yang sedari tadi memperhatikan pun, memberikan bukunya kepada Hyerim.
“Itu jawabannya, nanti kuajari caranya,” ucap Joohyun sambil tersenyum manis kearah Hyerim. Hyerim hanya menaikan alisnya sedikit bingung menatap gadis itu.

Eoh? Gomawo Joohyun-ssi,” ucap Hyerim mulai menyalin jawaban Joohyun.

Joohyun hanya tersenyum kecil dan mengangguk. Ia benar-benar melihat perbedaan sikap pada Hyerim saat gadis itu bersama Luhan. Joohyun rasa ia bisa juga membuat Hyerim berteman dengannya.

***

Luhan hendak pergi dari tempat duduknya menyusul Jonghyun ke kantin. Tapi pandangannya seketika teralihkan pada Hyerim. Gadis itu setelah diajari matematika oleh Joohyun, langsung terlelap entah lelah atau apa.

“Nuna masih berpacaran dengan Lee Donghae?”

“Eumm… masih, dia berniat melamarku saat aku lulus, Luhan!” Yuri berseru sambil memasang wajah berbinar gembira. Luhan hanya tersenyum miris melihatnya.

“Chukkhae, nuna,”

“Ahhh gomawo Luhannie. Kau adikku yang terbaik! “Yuri tersenyum manis kepada Luhan. Membuat pria itu tak bisa membuang pandangannya.

Luhan kembali teringat percakapannya tadi pagi bersama Yuri. Sakit. Ya sakit, sudah 3 tahun lamanya mereka tidak bertemu, malah jadi sesakit ini. Yuri adalah teman masa kecil Luhan, mereka bertentangga dan satu sekolah. Sampai akhirnya keluarga Luhan pindah setelah ayahnya meninggal dan bangkrut karena terlilit banyak hutang. Sudah lama Luhan menyukai Yuri, walau gadis itu hanya menganggapnya sebatas adik.

“Hummm…” sebuah gumaman lolos dari bibir Hyerim. Luhan langsung tersadar dari lamunanya dan kembali menatap gadis itu.

Wajah Hyerim tampak terhalangi oleh helain rambutnya. Entah apa yang ada dipikiran Luhan. Ia memandangi gadis itu sejenak, dan menyibakan beberapa helai rambut Hyerim agar tidak sepenuhnya menutupi wajahnya.

Wajah Hyerim yang tenang saat tidur membuat Luhan terasa damai. Rasa sakitnya akan Yuri hilang begitu saja. Ia perlu teman berbagi, mungkin gadis ini bisa ia jadikan teman berbagi walau masih ada Jonghyun. Tapi Luhan yakin Jonghyun lebih memilih bermain dengan banyak wanita dibanding dengannya, ya lelaki itu adalah seorang playboy.

“Rim-ah,” Luhan memanggil Hyerim sambil menarik-narik sehelai rambut gadis itu, berharap Hyerim bangun. Tapi rasanya Hyerim benar-benar tertidur nyenyak sampai tak bangun.

Luhan mendengus karena Hyerim tak kunjung bangun. “Dasar tukang tidur!” gumam Luhan, kemudian ia menangkap sebuah buku berwarna coklat tua.

Tangan Luhan mulai mengambil buku itu dengan hati-hati, karena posisi buku itu berada dibawah kepala Hyerim. Tangan Luhan mulai membuka lembaran buku itu sampai ia membaca halaman terakhir.

‘Dasar lelaki miskin yang sombong! Aku kan hanya ingin menjadi temannya! Sekian lama aku mencari orang sepertinya untuk dijadikan teman tapi ia malah menolak! Yak! XI LUHAN MENYEBALKAN!’

Luhan hanya terkikik geli membaca tulisan itu di buku Hyerim. Rasanya lucu saja membayangkan wajah jengkel Hyerim saat menulisnya. Baru 2 hari mengenalnya, ternyata gadis itu lumayan lucu juga, suatu sisi yang ia lihatkan hanya pada Luhan. Luhan juga tak tahu kenapa. Ia mulai membuka lembaran kebelakang.

‘Memangnya mereka berdua siapa?! Shim Changmin dan Victoria Song? Cah! Mereka kakakku?! Jangan harap aku menganggap kalian kakak lagi setelah kalian mengkhianatiku! Aku mencintainya! Kenapa kalian malah bersama?’

Luhan tertegun. Hyerim, gadis yang selalu bersikap dingin dan tak peduli ternyata mencintai seseorang. Tapi orang itu sepertinya tidak menerima cintanya dan mungkin penyebabnya adalah Victoria dan Changmin. Luhan menatap iba Hyerim, seakan tahu perasaan itu. Luhan mendekatkan wajahnya ketelinga gadis itu dan berbisik.

“Aku akan menjadi temanmu kalau begini. Tak peduli apa kata orang yang akan menganggapku menfaatkanmu atau apa. Kau hanya terlihat kesepian, Hyerim.”

***

“Hyerim-ah, kamu ingin pulang bersama dengan mobilku tidak?” tawar Joohyun. Bell pulang sudah berbunyi beberapa detik yang lalu.

Hyerim yang sudah selesai membereskan buku-bukunya menatap Joohyun dengan tampang datarnya seperti biasa.

“Tak usah repot-repot, terimakasih,” ucap Hyerim langsung melesat pergi meninggalkan Joohyun yg memasang raut kecewa.

“Eh ganas!” seru Luhan saat Hyerim sudah berada di luar kelas. Hyerim menoleh kearah Luhan, pria itu langsung menarik tangan kanannya.

Yak! Eodikkayo?! (Mau kemana)” seru Hyerim tak terima main ditarik begitu saja.

“Aku mau memperbaiki sepedahmu,” Luhan menoleh kearah Hyerim sambil mengedipkan sebelah matanya.

“Aaaa~~~~ baiklah,” ucap Hyerim gagap melihat tingkah Luhan.

‘Sial! Kenapa dia jadi tampan seperti itu?’Umpat Hyerim dalam hati.

Tanpa mereka ketahui. Seorang gadis memperhatikan mereka dengan berkacak pinggang. Oh Seungah. Ia tampak menatap sinis Luhan dan Hyerim.

***

Bengkel. Hyerim bersumpah tak akan ke tempat ini lagi. Bau oli di mana-mana, kotor sana-sini, suara mesin perbaikan yang menggema. Untuk anak penyendiri seperti Hyerim, ia merasa terganggu dengan suara bising seperti ini.

Sementara Luhan sedang memperbaiki sepedah merah Hyerim. Pria itu tampak biasa saja, tak seperti Hyerim yang terganggu.

“Selesai!”seru Luhan akhirnya sembari mengelap keringatnya dengan handuk kecil.

Eoh?” Hyerim menoleh kearah sepedahnya. “Huaaa~ seperti baru! Gomawo, gomawo, gomawo Luhan!” ucap Hyerim antusias sampai tak sadar ia langsung memeluk Luhan.

Luhan merasa ada yang salah, organ tubuhnya terasa beku. Oh ayolah, jangan sampai ia menyukai gadis yang memohon-mohon menjadi temannya ini.

“Kalau begini, kamu menerima tawaranku sebagai temanmu kan? Kamu akan menjadi teman laki-lakiku, oke?” ucap Hyerim dengan senyum lebarnya menatap Luhan.

Luhan tersenyum dan mengangguk. “Baiklah, aku mau menjadi teman laki-lakimu.”

Setelah mendengar itu. Hyerim kembali memeluk Luhan. Ah sial! Umpat Luhan dalam hati saat dadanya mulai berdesir.

To Be Countineud

hallo All! Miss me? ahahaha. Yup! Karena respon yang lumayan My Cinderella pun sudah dipublish nih Chapter 2nya. Bilang apa dulu? XD yeah…. jangan lupa feedback berupa like/komen ya ^^

Advertisements

Author:

A tinkerbell who dream to be Luhan's future wendy — Also an amature author, k-drama trash, k-running man freak, eternal ELF, ahjussi and korean actor addict in the same time

50 thoughts on “FF : My Cinderella Chapter 2 [Be Her (boy)friend]

  1. Huuuh hyerim kamu kl jd yeoja jgn galak2 napa! Eh ngomong2 hyerim mencinta i siapa ya? ekhem ekhem… Namjachingu apa namja chingu tuh… Kisah cinta yg unik.

    Like

  2. Huuuh hyerim kamu kl jd yeoja jgn galak2 napa! Eh ngomong2 hyerim mencintai siapa ya? ekhem ekhem… Namjachingu apa namja chingu tuh… Kisah cinta yg unik.

    Like

  3. oh jadi hyerim itu suka ama changmin makanya g suka kalo jadi saudaranya…
    tapi hyerim lucu, nolak semua orang yang mau berteman denganya malah deketin luhan

    Like

Write ur Love Letter . . . <3

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s