Posted in Chapter, Comedy, Fanfiction, FF : My Cinderella, Friendship, PG-15, Romance, School Life

FF : My Cinderella Chapter 5 [Perfect Guy For Her]

my-cinderella-quotes.jpg

My Cinderella Chapter 5

└Subtitle : Perfect Guy For Her┘

A Fanfiction Written By :

Hyekim

Genre : Romance, Comedy, School life, Friendship || Rating : PG-15 || Lenght : Multi Chapter

Starring With :

-Hyerim (OC) as Oh Hyerim

-Luhan as Xi Luhan

-Victoria f(x) as Victoria Song

-Changmin TVXQ as Shim Changmin

-Yuri SNSD as Kwon Yuri

-L INFINITE as Kim Myungsoo

Summary : Bagi Luhan, Hyerim adalah Cinderella dalam hidupnya. Cinderella yang terlahir dari keluarga berada, mempunyai ibu dan sudara tiri yang menyayanginya. Tapi, Sang Cinderella merasa kesepian. Apakah bisa perbedaan antara Luhan dan Hyerim menyatukan keduanya dalam hubungan cinta?

Disclaimer : This is just work of fiction, the cast(s) are belong to their parents, angency, and God. The same of plot, character, location are just accidentally. This is not meaning for aggravate one of character. I just owner of the plot. If you don’t like it, don’t read/bash. Read this fiction, leave your comment/like. Don’t be plagiat and copy-paste without premission.


“Dia lelaki yang sempurna untukmu, kamu pantas dengannya,”


HAPPY READING

HyeKim ©2016

║♫  

PREVIOUS : 

Teaser || Chapter 1 [The Rich Girl] | Chapter 2 [Be Her (boy)friend] || Chapter 3 [I’ll Protect you] || Chapter 4 [What’s Wrong With Her?] || (NOW) Chapter 5 [Perfect Guy For Her]

‘TRINGGG!!’

Bunyi itu menggema diseluruh penjuru SMA Shinhwa. Hanya dengan bunyi tersebut, para siswa-siswi bisa menghembuskan napas lega dan memasukan buku pelajaran mereka kedalam tas. Bell tanda pulang telah berbunyi. Ruang kelas 10 langsung bising oleh para siswa-siswi yang berdesakan keluar kelas.

Luhan baru saja selesai memasukan buku Bahasa Inggrisnya, saat tiba-tiba Jonghyun menepuk pundaknya keras dan menyeretnya keluar kelas. Diluar, sudah ada Joohyun yang menunggu keduanya. Luhan yang salah paham langsung mendengus.

“Jangan libatkan aku dalam kencanmu dengan gadis ini,” ucap Luhan sambil menatap sinis Jonghyun.

“Siapa yang mau kencan?” Jonghyun berujar santai sambil menyilangkan tangannya dibelakang kepala. “Kita ingin mengajakmu menjenguk Hyerim, ini usulnya Joohyun.”

Luhan langsung menatap keduanya. Ia gembira bisa menjenguk Hyerim, artinya ia bisa melihat gadis itu nanti. Luhan sudah benar-benar merindukannya walau baru tidak bertemu sehari.

“Menjenguk Hyerim? Hari ini? Aku bahkan tak membawa apapun untuk menjenguknya…” ucap Luhan sedikit protes walau hatinya berteriak senang. Ia baru ingat tidak membawa sesuatu untuk menjenguk gadis itu.

“Kalau begitu kita mampir dulu ke suatu tempat untuk membelikan Hyerim sesuatu,” ucap Joohyun sambil tersenyum simpul.

“Baiklah nona manis, kami akan mengikuti ucapanmu.” ucap Jonghyun.

Luhan lagi-lagi mendengus, tak habis pikir dengan tingkah playboy Jonghyun, dan lihat! Sekarang pipi Joohyun sudah bersemu-semu merah karenanya.

***

Dengan menggunakan mobil audi A4 milik Jonghyun. Luhan, Joohyun, dan Jonghyun pergi ke toko bunga, membeli bunga untuk Hyerim. Luhan melihat-lihat bunga di toko itu, tapi tak tahu harus membeli yang mana, ia tidak tahu bunga kesukaan Hyerim.

Sementara Jonghyun malah asyik menggoda Joohyun dengan mengatakan bunga-bunga disini secantik gadis itu. Benar-benar playboy cap ikan teri! Gumam Luhan dalam hati. Setelah hampir 15 menit berjalan-jalan di toko bunga. Tiba-tiba, Joohyun menghampiri Luhan.

“Dia suka bunga melati, belikan saja untuknya bunga itu,” suara Joohyun terdengar disertai seulas senyuman, lantas Luhan menatapnya.

“Melati? Kau tahu darimana?” tanya Luhan

“Aku liat hampir semua buku tulisnya bercover bunga melati. Jadi ya, aku pikir dia suka bunga itu,”  Joohyun berucap sambil mengangkat bahu.

Luhan terkekeh mendengarnya. “Kau sampai memperhatikan hal seperti itu tentang Hyerim, ahaha…”

“Hei! Aku ini teman sebangkunya. Jadi wajar saja kalau tahu,”

Hmmmm…” Luhan hanya bergumam dan mengalihkan pandangan pada bunga melati-yang sudah dibungkus oleh plastik bening-yang berjajar di dekatnya. “Melati ya? Baiklah.” ucap Luhan.

***

‘PRANG!’

“PERGIII!!!”

Suara pecahan, teriakan, amukan, kesesakan tercampur menjadi satu didalam kamar bernuansa putih itu. Hyerim menatap tajam Victoria yang sedang memumuti pecahan mangkuk yang dipecahkan oleh Hyerim dan membuat bubur yang tadi ada disitu berceceran, ia diam-diam menangis.

“KAU! JANGAN COBA MASUK KE KAMARKU! JANGAN PERNAH MENDEKATIKU LAGI!” teriak Hyerim.

Victoria masih menunduk dengan air mata yang masih mengalir. Bubur ini ia siapkan khusus untuk adiknya itu tapi sekarang malah menjadi tidak terbentuk sebelum sesuapun dimakan oleh Hyerim. Para pelayan segera masuk ke dalam kamar Hyerim dan membersihkan bubur yang tumpah dan pecahan mangkuk.

“CEPAT SANA KAU PERGI!” Hyerim  kembali menumpahkan amarahnya melalui teriakan, dan para pelayan pun selesai membersihkan. Victoria mengangkat wajahnya yang sudah sembab, kemudian berdiri.

NEO WAEYO? (KAMU KENAPA?) NAE HYERIM EODILYO? (DIMANA HYERIMKU)” jerit Victoria tak tahan dengan sikap adiknya.

NEO HYERIMNEUN OPSEO (HYERIM MU TIDAK ADA) DIA SUDAH MATIII!!!” Hyerim menjerit tak mau kalah.

“Nona,” tiba-tiba seorang pelayan masuk ke kamar Hyerim, sambil mengigit bibir bawahnya saat majikannya itu menatapnya bengis. “Ada 3 teman Nona yang mau menjenguk Nona. Mereka menunggu di ruang tamu.”

Setelah mengatakan itu. Pelayan itu langsung berlalu. Hyerim mengernyit. Teman? Siapa? Setelah berpikir keras, susana hati Hyerim langsung ceria mengetahui pasti Luhan yang menjenguknya!

Saat ingin berjalan keluar kamarnya. Hyerim langsung kepeleset karena lututnya yang masih lemas itu. Victoria langsung cepat menarik dan membopongnya kembali ke kasur.

“Kamu tunggu di sini saja. Biar aku yang menyambut tamumu.” ucap Victoria. Walau Hyerim tidak mengiyakannya, gadis itu sudah pergi menuju ruang tamu.

***

Dengan hati berdebar kencang. Luhan bersama kedua temannya itu memasuki rumah keluarga Oh. Luhan selama ini baru melihat  luarnya yang sudah cukup megah dan sekarang ia menatap dalam rumah itu yang seperti istana kerajaan di Eropa.

“Kita tunggu saja di sini. Pelayan tadi sedang memberitahu Hyerim bahwa kita datang,” ucap Joohyun yang sudah duduk manis di kursi ruang tamu keluarga Oh bersama Jonghyun. Luhan pun ikut duduk sambil tetap menatapi rumah keluarga Oh yang terbilang sangat mewah, bahkan atapnya pun menjulang ke atas.

Annyeong,” lalu datanglah sosok Victoria sambil tersenyum mendekati ketiganya. “Ingin bertemu Hyerim? Ayo kuantar ke kamarnya,” lanjutnya.

Ketiganya langsung membungkuk membalas sapaan Victoria dan ikut ke lantai dua. Keempatnya pun mendekati pintu kayu berwarna coklat tua yang dihiasi oleh pahatan hanggul kecil-kecil bertulisan Oh Hyerim ditengah-tengahnya.

“Masuklah, Hyerim pasti senang melihat kalian,” Victoria mempersilahkan ketiganya masuk.

Khamshamnida sunbae,” Joohyun berterimakasih sambil membungkuk, Luhan dan Jonghyun juga ikut membungkuk. Victoria hanya mengangguk sambil tersenyum.

Luhan memasuki kamar itu bertiga dengan Joohyun dan Jonghyun. Kemudian, sosok Hyerim terlihat dari balik selimut menatap ketiganya dengan senyum riang, atau lebih tepatnya menatap Luhan.

“LUHAN! AKHIRNYA KAMU DATANG!” seru Hyerim setengah berteriak dan langsung loncat dari kasur, kemudian diberikan olehnya sebuah pelukan erat pada Luhan.

Joohyun dan Jonghyun yang melihatnya hanya melongo parah. Sementara Luhan, dengan susah payah mengendalikan detak jantungnya dan membalas pelukan Hyerim.

“Hyerim-ah,” Luhan memanggil Hyerim dengan sedikit terbata. Sementara Hyerim tambah mengeratkan pelukannya.

Bogoshippo jukeseyo (aku merindukanmu sampai ingin mati rasanya),” bisik Hyerim.

Luhan menjadi salah tingkah. Ya ampun! Gadis ini selalu bisa membuatku seperti patung tak berdaya karena ulahnya! Umpat Luhan dalam hati. Hyerim melonggarkan pelukannya dan menatap Luhan.

“Kamu tidak merindukanku juga?”

“Ah…aku….juga..”

“Juga apa?” Hyerim memiringkan kepalanya menatap Luhan dengan manik mata polosnya.

“Merindukanmu..” Luhan memalingkan mukanya, tak sanggup menatap manik mata Hyerim lama.

Hyerim tersenyum riang, dan mendapati bunga melati yang berada ditangan kanan Luhan. “Nan hante? (untukku?)” Hyerim bertanya dengan nada penuh harap.

Eung..ya..” Luhan menyodorkan bunga melati itu sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Hyerim menerimanya dan menghirup harum bunga melati tersebut.

Hyanggi…nan johanika, (harum, aku suka)”

Luhan tesenyum mendengarnya. Entah keberanian darimana, Luhan mengelus-elus rambut Hyerim, gadis itu tersenyum ceria dan masih menikmati harum bunga melati. Keduanya seperti sepasang kekasih. Joohyun dan Jonghyun yang seperti obat nyamuk, hanya memperhatikan keduanya dengan mulut terbuka lebar.

Aigoo, tak kusangka Luhan dan Hyerim seperti ini,” gumam Jonghyun sambil menggelengkan kepala.

“Mereka serasi…” Joohyun berkomentar sambil tersenyum, lalu ia mendekati keduanya yang sudah duduk di atas ranjang empuk milik Hyerim, gadis itu pun membanting bokongnya pada ranjang Hyerim.

“Hyerim-ah,” sapa Joohyun membuat Hyerim menoleh padanya, Joohyun tersenyum lebar. “Semoga lekas sembuh…” Joohyun memberikan sebuket mawar putih.

Hyerim balas tersenyum dan menerima buket mawar tersebut. “Gomawo, Joohyun-ah..”

Joohyun tersenyum senang kala Hyerim menerima pemberiannya. Victoria diam-diam memperhatikan dari luar kamar, mau tak mau ia pun tersenyum.

“Kurasa, kau jatuh cinta padanya…” gumam Victoria sambil menatap Luhan.

***
Hampir setengah hari ini  Luhan, Jonghyun, dan Joohyun menghabiskan waktu di rumah Hyerim. Walau pada nyatanya, Hyerim hanya mepedulikan Luhan dan mengabaikan dua temannya yang lain.

“Aku ingin ke toilet…” tiba-tiba Luhan berdiri, keempatnya sedang bercanda gurau di ruang tengah sambil menonton telivisi. “Toiletnya di mana?”

“Dari lorong itu lurus saja, lalu belok kiri, setelah itu cari pintu berwarna coklat dengan ukiran hanggul kecil bertulisan ‘kamar mandi’,” jelas Hyerim sambil menunjuk sebuah lorong di samping kanannya.

Luhan mengucapkan terimakasih, kemudian berlalu menuju lorong tesebut. Rumah ini benar-benar membingungkan, rutuk Luhan. Luhan jadi tak habis pikir bagaimana Hyerim mengenal setiap sudut rumahnya. Luhan yakin rumah ini hanya penuh diisi para pelayan, karena anggota keluarga Oh yang tinggal di sini pasti tidak mencapai 20 orang. Walau sampai 20 orang pun, rumah ini masih terlalu besar.

Tiba-tiba, Luhan menghentikan langkahnya dan berjalan sedikit mundur. Luhan melihat sebuah meja panjang berwarna coklat-yang memang dari awal ia menyusuri lorong sudah ada-. Awalnya, Luhan tak tertarik pada meja yang memajangkan beberapa barang antik dari belahan dunia manapun. Tapi makin ke sini, meja tesebut memajangkan figura-figura berisi foto.

Luhan melupakan tujuan awalnya. Ia keasyikan memandangi setiap foto yang ada di sana. Foto keluarga Oh saat masih dengan Ibu kandung Hyerim dan Hyerim kecil. Luhan tersenyum melihatnya. Foto disaat Hyerim kecil yang terpajang dengan berbagai pose dan latar yang berbeda. Foto Hyerim kecil bersama seorang anak perempuan, yang Luhan yakini adalah Victoria. Keduanya terlihat akrab dengan bahu saling merangkul, berbeda dengan keadaan sekarang. Foto Hyerim beranjak remaja bersama seorang pria yang menyentuh kepalanya dan Hyerim menyender pada pundaknya, keduanya menggunakan seragam SMP. Melihat itu, Luhan cemburu, pasalnya pria itu bukanlah Changmin. Luhan jadi teringat Kim Myungsoo yang diceritakan Jonghyun.

“Mungkin dia…” Luhan bergumam dalam hati dengan perasaan kesal.

Lalu, Luhan melihat figura Hyerim duduk di taman bersama seorang gadis, keduanya tersenyum sambil berpegangan. Awalnya Luhan tak yakin, tapi setelah melihat lebih jelas, gadis yang berfoto bersama Hyerim itu adalah Oh Seungah! ‘Apa hubungannya dengan Hyerim? Mereka sekarang terlihat tidak akur sama sekali,’ Luhan bergumam dalam hati dengan bingungnya. Kemudian ia mengabaikan foto tersebut, dan beralih kepada foto Hyerim dan Changmin. Hyerim tampak memejamkan matanya dan Changmin mencium pipinya.

Luhan langsung memalingkan mukanya. Ia terbakar api cemburu. Walau Changmin dan Hyerim adik dan kakak, tapi status mereka hanya sudara tiri. Hyerim telah menceritakannya pada Luhan, terlebih lagi, ia juga sudah curiga karena marga kedua adik-kakak tersebut berbeda. Luhan kembali memperhatikan foto-foto tesebut, ia melihat sebuah foto. Foto keempat remaja-2 lelaki dan 2 perempuan-memakai seragam SMP. 1 lelaki bermata sipit yang paling dekat karena ia yang memegang kamera, dan di sampingnya ada Changmin yang berdiri agak di belakangnya dan sedikit membungkuk. Dan Victoria yang berdiri jauh di belakang Changmin sambil membentuk V sign dengan tangan kanannya. Dan di belakang Victoria, ada Hyerim yang duduk di sebuah tembok sambil sedikit mecodongkan tubuhnya ke depan agar ikut terfoto.

Tanpa sadar, Luhan mengambil foto tesebut dan memperhatikan pria bermata sipit di situ. Lalu, ia melirik lagi foto Hyerim bersama Myungsoo. Ya, pria bermata sipit itu adalah Myungsoo. Tak bisa Luhan pungkiri, Myungsoo sangatlah tampan, dan ia yakin dirinya pun kalah.

“Sudah ke toiletnya?” Luhan tersentak mendegar suara tesebut, lalu menengok dan mendapati Hyerim berdiri tak jauh darinya sambil meyilangkan tangan di depan dada. “Aku menunggumu tahu! Kenapa lama sekali?”

“Ah maaf…aku…eungg,” Luhan berkata gugup dan menggaruk belakang kepalanya, salah tingkah.

Hyerim memincingkan matanya saat mendapati Luhan memegang figura fotonya bersama 3 sahabatnya, lebih tepat mantan sahabatnya. “Kamu terlalu asyik memperhatikan foto-foto ini?” Hyerim melirik sekilas foto-foto di meja panjang tersebut.

“Hmm…” Luhan menjawabnya dengan gumaman sambil mengangguk.

Hyerim menatapnya lama, membuat Luhan tambah salah tingkah. “Abaikan foto-foto ini, semuanya hanya masa lalu.”

Luhan mengangguk kembali dan mengembalikan foto itu ke tempat asalnya. Hyerim langsung menarik tangan Luhan dan mengamitnya erat, gadis itu seakan sedang mencari kekuatan untuk bertahan dari sesuatu yang membuatnya resah. Luhan tahu itu.

***

Sudah lewat 5 hari dari kunjungan Luhan ke rumah Hyerim, gadis itu sudah masuk sekolah seperti biasanya. Sekarang, gadis berambut panjang dengan poni dijepit ke belakang itu, sedang tesenyum lebar di hadapan Luhan.

“Lu, coba ini, spagheti bolognesse kesukaanku. Kamu setiap hari hanya makan ramen saja…” Hyerim menyodorkan segarpu spagheti yang dimakannya.

Luhan menatapnya ragu. Bukan karena dirinya tidak suka makanan itu. Hanya foto-foto di rumah Hyerim masih mengusik pikirannya. Apalagi foto yang paling aneh adalah foto Hyerim dan Seungah yang tampak akrab. Dan yang membuat Luhan cemburu setengah mati juga, foto Hyerim bersama Myungsoo.

“Lu..” panggilan Hyerim menyapa telinganya, membuat Luhan tersadar dari lamunannya.

“Ah…” Luhan berucap dan tersenyum, kemudian membuka mulutnya. Dengan senyum lebar, Hyerim menyuapinya.

“Enak sekali, lain kali aku akan pesan makanan itu,” ucap Luhan setelah Hyerim menyuapinya.

Senyum Hyerim makin lebar, gadis itu selalu menampilkan wajah ceria dan senyum yang membuat Luhan juga ikut tersenyum. Luhan selalu merasa bangga karena Hyerim hanya akan tersenyum ceria di hadapannya. Maka tak heran bila Luhan kadang kala tak suka dan cemburu ketika Hyerim tersenyum dan tertawa saat mendengar lolucon Jonghyun.

KYAAA!!! DIA SUDAH DATANG!!”

AIGOOO!! AYO CEPAT KE GERBANG!”

“AKU HARUS MELIHATNYA SETELAH SEKIAN LAMANYA DIA DI NEW YORK!”

Teriakan siswi perempuan terdengar di sekitar Luhan dan Hyerim. Kantin yang semulanya padat, langsung tersapu rapi dengan para siswi yang berlarian menuju gerbang sekolah. Entah ada apa. Luhan hanya mengerutkan kening bingung melihatnya. Sementara Hyerim memasang wajah ditekuknya, seakan tahu apa yang terjadi.

“Apa ada artis yang datang?” Luhan bergumam dengan raut bingung sambil menatap kepergian para siswi tersebut. Hyerim masih memakan spaghetinya dengan cuek.

Teriakan itu kembali terdengar, membuat Luhan yang tadi sudah sibuk memakan ramennya lagi, melihat ke sekitar. Tampak segerombolan siswi berdesakan mengelilingi sesuatu. Lalu, munculah sosok pria tinggi dan tentu saja tampan dengan mata sipit disertai senyuman yang menawan. Luhan hampir tersedak lemon teanya saat melihat pria itu.

Pria yang berhasil menarik segerombolan siswi itu memasuki kantin yang mulai ramai kembali dengan teriak-teriakan histeris. Masih dengan senyum menawannya, pria itu berjalan ke arah meja Luhan dan Hyerim. Perasaan tak enak mulai menyelimuti Luhan.

“Hallo Hyerim, lama tak bertemu. Aku merindukamu, my sunshine,” lelaki yang menjadi fokus perhatian itu bersuara disertai dengan senyum bak malaikatnya, saat sudah berada di dekat meja Luhan dan Hyerim. Dia adalah Kim Myungsoo.

Luhan menatap Myungsoo dengan tatapan lasernya. Siapa dirinya? Yang seenak jidatnya memanggil Hyerim dengan embel-embel ‘my sunshine’. Kemudian Luhan menatap Hyerim untuk melihat reaksi gadis tersebut yang untungnya hanya memasang wajah dingin. Hyerim menaruh garpunya di atas meja dengan membantingnya. Gadis itu langsung menatap sinis Myungsoo.

“Oh…” hanya itu respon dari Hyerim. Luhan tersenyum menyeringai melihatnya.

“Kamu tidak merindukanku, Cinderellaku?” tanya Myungsoo dengan mimik kecewa yang dibuat-buatnya, membuat Hyerim tersenyum kecut melihatnya. “Kamu tak ingin memelukku apa?” Myungsoo bertanya lagi sambil merentangkan kedua tangannya.

Hyerim yang mendengarnya pun merasa jengah dan berdiri dari duduknya dalam satu kali sentakan setelah meneguk habis chocolate milkshakenya.

“Siapa dirimu harus kupeluk? Dan mimpi saja sana aku ini Cinderellamu,” Hyerim tertawa sinis sambil memandang Myungsoo remeh, para siswi yang melihatnya ingin sekali menerkam Hyerim. Tapi ditahan sekuat tenaga karena ada Myungsoo di sana. “Aku malah berharap kau tidak kembali lagi ke Korea!”

“Kamu sungguh jahat padaku, Hyerim…” Myungsoo berkata sambil menatap Hyerim terluka.

“Aku? Jahat? Hanya menolakmu apakah itu artinya aku jahat?!” sentak Hyerim dengan mata menyala-nyala. Luhan yang melihatnya merasakan amarah dalam diri gadis itu.

“Hyerim-ah,” Myungsoo memanggil nama gadisnya dengan nada memelas. “Naega dangsineul eolmamankeum saranghaneunji dangsineun alji motamnida (Betapa besar aku mencintaimu, namun kau tetap tak tahu).”

Hyerim hanya menatap lelaki yang dulu menjadi kepingan memori masa kecilnya, dengan tatapan datar.  Luhan yang mendengar pengakuan Myungsoo hanya menatap Hyerim khawatir kala gadis itu hanya bergeming layaknya patung.

“Terserah dirimu,” desis Hyerim dan menginjakan kaki keluar dari kantin.

Siswi-siswi yang melihatnya hanya mencibir pada Hyerim. Sementara Myungsoo tampak menunduk dan menghela napasnya berat. Luhan hanya menatap Myungsoo tanpa minat, lalu berdiri dan berniat menyusul Hyerim. Dan Luhan pun berpas-pasan dengan Myungsoo yang menatapnya tajam dan Luhan pun melakukan hal yang sama. Aura tak bersahabat terpancar diantara keduanya.

“Hyerim-ah…” Luhan bersuara memanggil Hyerim yang mulai jauh dari pandangannya dan dirinya pun berlari ke arah Hyerim yang mengabaikan panggilannya.

Myungsoo hanya menatap lekat punggung Luhan. Lelaki itu berhubungan juga dengan Hyerim. Itulah yang disimpulkan oleh Myungsoo pada seorang Luhan.

***

Hari ini lapangan Shinhwa SHS sangat ramai oleh hiruk pikuk para siswa yang umumnya para wanita, untuk melihat tim basket andalan sekolah berlatih. Kim Myungsoo yang baru 4 hari bersekolah di Shinhwa, dengan mudahnya mendapat gelar sebagai kapten basket. Hyerim tampak berdecak kesal di pinggir lapangan, bila saja Joohyun tidak main menariknya ke mari, Hyerim tidak mau dan tak akan mau menonton Myungsoo yang dengan lihainya melempar bola ke ring dan selalu masuk.

“Kim Myungsoo memang hebat…” komentar Joohyun dengan senyum yang mengembang lantaran kagum. Hyerim yang melihatnya merasa jengah. “Hyerim-ah, kenapa kamu harus menolaknya sih? Dia itu sangat sempurna. Kaya, tampan, atlet basket yang lihai. Apalagi kekurangan seorang Kim Myungsoo?” Joohyun berucap sambil sekilas menatap Hyerim yang pura-pura memandang keluar lapangan.

“Kekurangannya adalah tidak bisa merebut hatiku…” Hyerim berucap sinis, lalu berdiri dari duduknya. “Jika kau ingin menonton Si Sipit Perusak Hidupku itu, silahkan saja. Tapi aku ingin ke lapangan tempat latihan klub sepakbola.”

Hyerim berbalik dan berjalan pergi, mengabaikan panggilan dari Joohyun yang ditunjukan untuknya. Diarahkan kakinya menuju lapangan di mana para tim sepakbola Shinhwa biasanya berlatih. Tujuannya hanya satu, yaitu melihat Luhan. Sampailah Hyerim pada tempat tujuannya tersebut, dilihatnya Luhan tersenyum sehabis berlatih dengan keringat yang mengucur dan sedang berjalan ke arahnya.

“Oi!” Luhan menyapa sambil menaruh handuk yang digunakannya mengelap keringat di atas kepala Hyerim dan menutupi seluruh wajah gadis itu.

Dibalik handuk tersebut, Hyerim cemberut karena bau menyengat yang dihasilkan benda yang menutupi wajahnya. “Ganti baju sana! Baumu kecut,” gerutu Hyerim sambil menarik paksa handuk tersebut dan melemparkannya kembali pada Luhan sambil menekuk bibir manisnya.

Luhan hanya tersenyum dan mencubit pipi kiri Hyerim gemas. “Arra, tunggu aku berganti baju, oke? Atau kamu ingin ikut aku ganti baju?” Luhan bertanya dengan senyum miring.

“Mimpi saja sana aku mau ikut ganti baju denganmu!” gerutu Hyerim. “Cepat ganti baju sana!” Hyerim menginjak kaki kanan Luhan dan membuat pria itu berseru kesakitan.

Anggota klub sepakbola yang lain hanya menggelengkan kepala melihat tingkah kedua anak manusia tersebut, yang sudah biasa terjadi bila Hyerim mengekor Luhan latihan. Luhan pun berjalan menuju ruang ganti. Hyerim hanya cekikikan saat mengingat wajah Luhan yang merintih kesakitan saat kakinya diinjak tadi.

Hyerim akhirnya memilih berjalan keliling lapangan sambil menunggu Luhan. Hingga sebuah tangan kekar memeluk dirinya dari belakang. Hyerim hanya menampilkan senyum simpulnya karena mengira yang memeluknya adalah Luhan. Namun saat dirinya berbalik, pupilnya melebar kala menyadari pelaku yang memeluknya tersebut adalah Kim Myungsoo. Dengan sekuat tenaga, gadis bermarga Oh itu mendorong tubuh Myungsoo dan menyebabkan pelukan pada tubuhnya terlepas.

“Apa-apaan kau ini?” Hyerim berteriak marah dengan tatapan mata yang melihatkan amarah yang membara.

Myungsoo hanya memasang wajah cueknya dan tersenyum kecut. “Salahkah diriku memeluk gadisku sendiri?” tanyanya frontal membuat Hyerim mendelik sinis.

“Gadismu? Ahahaha, betapa lucu dan mengenaskan dirimu, Myungsoo-ssi,” ucap Hyerim diiringi tawa remehnya.

“Oh Hyerim! Aku ingin menagih janjimu!” Myungsoo pun mengeluarkan kata-kata yang selama ini ingin dia katakan pada seorang Oh Hyerim kala menginjakan kaki kembali di Korea. Mata sayunya bersibobrok dengan mata Hyerim yang menatapnya tajam.

Janji. Janji itu… Hyerim seketika bergetar mendengar Myungsoo mengucapkan kata janji. Binar kedua kelereng beririsnya pun perlahan turut bergetar, tatapan tajam yang sekon lalu terpancarkan perlahan memudar.

“Aku tidak bisa…” Hyerim berucap pelan dan Myungsoo kembali menampilkan senyum kecutnya.

“Kenapa? Apa karena pria miskin itu?” Myungsoo berseru dengan nada lantangnya dan menatap Hyerim lekat. “Apa bagusnya dia? Ayahnya meninggal dan membiarkan dirinya serta ibu dan adiknya jatuh miskin karena hutang yang melilit banyak. Dirinya tak punya apa-apa dibanding aku! Lihat aku, Hye!”

Hyerim menatap Myungsoo terkejut dengan mata melebar, “Jangan bicarakan Luhan seperti itu!” Hyerim berseru tak terima. Myungsoo menatap Hyerim dingin dengan senyum meremehkannya.

“Sepertinya kamu ini suka sekali dengan orang bawahan…” Myungsoo kembali berucap, tak peduli akan mata Hyerim yang menatapnya seakan-akan berapi-api. “Dan ah.. ya namanya Luhan kan? Dia tak pantas berteman ataupun bersanding denganmu. Yang lebih layak itu adalah aku, akan kubuktikan hal tersebut.”

Myungsoo mulai berjalan ke arah Hyerim, membuat gadis itu melangkah mundur. Akhirnya Hyerim merasa tak menemukan jalan keluar kala punggungnya bersentuhan dengan pagar lapangan dan tubuh Myungsoo yang sudah beberapa jengkal di hadapannya.

“Mau apa kau hah?!” Hyerim berseru takut-takut.

Myungsoo mencekam kedua lengan Hyerim dengan kuat, membuat gadis itu berseru. “Lepaskan aku bodoh!” Hyerim memberontak apalagi saat Myungsoo mulai mendekatkan wajahnya berniat untuk mencium bibir manis miliknya.

“MENJAUH DARINYA!” sebuah seruan menyentil kuat indera Hyerim. Diiringi tubuh Myungsoo yang tersungkur karena sebuah pukulan yang diterimanya dari seseorang yang Hyerim kenal sebagai Luhan.

Hyerim menatap Myungsoo dan Luhan bergantian, ekpresi wajahnya masih shock akan hal yang dilakukan Myungsoo padanya dengan desakan tadi. “Kau boleh menghinaku sepuas hatimu! Tapi jangan sakiti dia!” Luhan menunjuk Hyerim dengan pandangan marah tertuju pada Myungsoo yang sedang duduk di atas lapangan sambil menggerak-gerakan kepalanya santai karena efek setelah ditinju Luhan beberapa sekon lalu.

“Aku mendengar semuanya. Ya, aku memang tak layak berteman dengan Hyerim. Tapi dirinyalah yang memilihku. Dan kau tak bisa melakukan apapun untuk hal itu,” ucap Luhan membuat Hyerim menatapnya tak enak karena lagi-lagi status sosial Luhan disinggung dan ternyata lelaki itu mendengarkan apa yang dikatakan Myungsoo mengenai dirinya.

Luhan pun menatap Hyerim yang juga menatapnya. Pandangan keduanya bertemu dengan sayunya. Luhan meraih tangan Hyerim dan mengamitnya lembut, kemudian membawa gadis itu pergi meninggalkan Myungsoo yang menatap punggung keduanya sangat tajam. Luhan memberhentikan langkah di anak tangga yang menuju lantai atas. Saat dirinya berbalik, tiba-tiba Hyerim langsung memeluknya erat.

“Maaf atas perkataan bajingan sialan tadi mengenai dirimu,” ucap Hyerim menenggelamkan wajahnya didada bidang Luhan.

Luhan mengangkat tangannya dan mengelus surai hitam panjang milik Hyerim sambil menghela napas dan tersenyum pahit. “Dia benar, aku tidak mempunyai apapun sepertinya. Dia lelaki yang sempurna untukmu, kamu pantas dengannya,”

Hyerim tertegun sesaat karena Luhan, ditatapnya wajah pria tersebut yang masih setia membelai lembut rambutnya, kemudian Hyerim menggeleng. “Aku tidak ingin dengan Myungsoo…” ucap Hyerim membuat Luhan berhenti mengelus rambutnya.

Luhan menatap manik mata Hyerim yang menatapnya balik. Detik berikutnya, Hyerim menenggelamkan kembali wajahnya didada bidang Luhan. “Aku hanya ingin denganmu. Denganmu, Luhan…” ucap Hyerim yang membuat waktu seakan berhenti bagi Luhan. Pernyataan Hyerim yang begitu ambigu.

To be Countinued


Cuap-Cuap Elsa : Ya akhirnya FF ini pede diterbitin setelah dirombak sedemikan rupa dengan cakepnya walau masih terasa anehhh. Jujur FF My Cinderella menurutku makin ngaco -_- serius chapter 7 ini aku edit lagi. Aku tambah-tambahin beberapa adegan biar gak berasa ini cerita terlalu ngelantur. Jujur ane nulis FF ini dari chapter 1-7 (setengah) itu di note HP, ini ff chapter ketiga (setelah complicated fate dan ff yang masih galau mau dilanjut atau gak sad beautiful story) debut di wordpress. Jadi HARAP WAJAR, INI PENULISAN FF MASIH LACK, ALAY, ANEH, ETC GITU GAK KAYAKK FF BEAUTY AND THE BEAST YANG BENER-BENER FRESH FROM THE OVEN, bahasanya udah agak tertata dengan sedikit diksi alay menghampiri. FF ini mungkin chapter 7 ke sana akan ada cara penulisan ala aku yang sekarang. Dan chapter 6 ini naujubilah pas liat di draft alay sekali ceritanya dan aku ingin merombak chapter 6 my cinderella. Jadi harap sabar gaes, FFku yang pending tuh numpuk! Dan untuk My Cinderella bisa napas lega karena udah ada chapter 6 sama 7, peru bukti?

123sc
Bukti 1 udah ada di draft naskah di wordpress ini karena perpindahan dari note hp yang lama ke laptop.

 

111sc
Bukti 2, udah ada di file ms.word ane, bergabung dengan FF-FF absurd ane yangg lain. Ini artinya sedang proses edit untuk My Cinderella dan akan siap publish ke pasaran. (P.s : bila mata kalian jeli dan menemukan bahwa chapter 6 my cinderella gak ada di mari, itu karena chapter 6 masih ada di draft wordpress dan belum aku pindahin ke file ms.word)

P.s : selamat menjalankan ibadah puasa semuanya (bagi yang menjalani). Maaf bila author absurd ini selama ini menyebarkan FF astral yang buat mata sakit. Maafkan istri sah Luhan yang unyuh ini /langsung ditendang masal/

P.p.s : Ane publish ini setelah mati-matian ngapalin ulangan harian peta amerika dalam bahasa spanyol. Lalu menclok publish ini jam 3 dini hari waktu Spanyol. Waktu sahur di Eropa tapi berhubung ane dapet jadi gak puasa.

P.p.p.s : Janji ini note terakhir LOL. Ane edit chapter ini dan mempublishnya sambil denger lagu Alex ft.Sierra – little do you know. Tau lagunya? Ane aja baru tau pas tadi ngoprek youtube denger lagu mbak Taylor, langsung keputer lagu ini yang galau LOLOL.

P.p.p.p.s : Maaf PHP karena belum ngingetin kalian dengan hal ini. RCLNYA JUSEYOOOOO. Karena respon kalian di kolom komentar mempengaruhi kelanjutan FF-FF saya.

Thankchu ~♡

-with love, HyeKim-
Advertisements

Author:

A tinkerbell who dream to be Luhan's future wendy — Also an amature author, k-drama trash, k-running man freak, eternal ELF, ahjussi and korean actor addict in the same time

36 thoughts on “FF : My Cinderella Chapter 5 [Perfect Guy For Her]

Write ur Love Letter . . . <3

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s