Posted in Chapter, Comedy, Fanfiction, FF : My Cinderella, Friendship, PG-15, Romance, School Life

FF : My Cinderella Chapter 6 [Love and Friendship]

mycinderella

My Cinderella Chapter 6

└Subtitle : Love and Friendship┘

A Fanfiction Written By :

Hyekim

Genre : Romance, Comedy, School life, Friendship || Rating : PG-15 || Lenght : Multi Chapter

Starring With :

-Hyerim (OC) as Oh Hyerim

-Luhan as Xi Luhan

-Victoria f(x) as Victoria Song

-Changmin TVXQ as Shim Changmin

-Yuri SNSD as Kwon Yuri

-L INFINITE as Kim Myungsoo

Summary : Bagi Luhan, Hyerim adalah Cinderella dalam hidupnya. Cinderella yang terlahir dari keluarga berada, mempunyai ibu dan sudara tiri yang menyayanginya. Tapi, Sang Cinderella merasa kesepian. Apakah bisa perbedaan antara Luhan dan Hyerim menyatukan keduanya dalam hubungan cinta?

Disclaimer : This is just work of fiction, the cast(s) are belong to their parents, angency, and God. The same of plot, character, location are just accidentally. This is not meaning for aggravate one of character. I just owner of the plot. If you don’t like it, don’t read/bash. Read this fiction, leave your comment/like. Don’t be plagiat and copy-paste without premission.


Hanya karena sebuah cinta, sebuah persahabatan pun bisa hancur


HAPPY READING

HyeKim ©2016

║♫  

PREVIOUS :

Teaser || Chapter 1 The Rich Girl] ||  Chapter 2 [Be Her (boy)friend] || Chapter 3 [I’ll Protect you] || Chapter 4 [What’s Wrong With Her?]  || Chapter 5 [Perfect Guy For Her] || (NOW) Chapter 6 [Love and Friendship]

 

Luhan mondar-mandir tidak jelas di depan pintu masuk toilet. Baru saja dirinya keluar dari toilet, tapi ucapan ambigu Hyerim masih terngiang diotaknya. “Aku hanya ingin denganmu. Denganmu, Luhan,”

Luhan mengusap wajahnya gusar dan mengacak-acak rambutnya frustasi. “Akhh!!” serunya tertahan. Oh Hyerim, gadis itu benar-benar membuat Luhan pusing tidak kepalang.

Sangking tidak fokusnya, Luhan sampai menabrak beberapa orang di koridor. Luhan hanya ekedar membungkuk dan meminta maaf. Sampai dirinya menabrak seorang gadis yang sedang membawa tumpukan buku.

“Maaf,” ucap Luhan singkat tapi membantu gadis tersebut mengambili buku yang berjatuhan akibat tabrakan tadi.

Tangan keduanya tak sengaja bersentuhan. Seketika Sang Gadis merasakan perasaan aneh merasuki dirinya dan akhirnya memberanikan diri mengangkat kepalanya.

“Luhan?” gumam Yuri, gadis tersebut. Luhan mengangkat kepalanya dan sama terkejutnya.

Nuna?” gumanya seketika salah tingkah. “Ah nuna, sudah lama kita tidak bertemu ya,”

Yuri hanya mengangguk membuat poninya bergoyang-goyang dan mengambil bukunya yang berada ditangan Luhan.

“Bagaimana hubunganmu dengan Hyerim?” tanya Yuri dengan nada agak sinis.

Luhan terdiam mendengarnya dan mengigit bibir bawahnya. “Baik.”

“Oh.”

Setelah respon singkat dari Yuri tersebut, gadis itu langsung bangkit sambil membawa tumpukan bukunya. Luhan mengerjapkan mata beberapa kali dan ikut berdiri seraya memutar tubuhnya ke arah Yuri.

Nuna!” panggilnya membuat langkah Yuri terhenti dan memutar tubuh ke arah Luhan. “Ingin ke mana?”

“Belajar di cafe depan sekolah sambil bersantai,”

Luhan mengangguk-angguk paham, kemudian menyunggingkan seulas senyum. “Bagaimana bila kutemani? Buku-buku yang nuna pinjam dari perpustakaan kan sangat berat.”

Yuri tampak menimbang-nimbang dan akhirnya tersenyum cerah ke arah Luhan. Raut wajahnya yang tadi ditekuk sama persis saat dirinya menanyakan hubungan Hyerim dan Luhan, seakan menghilang bagaikan butiran debu yang terbang kian menjauh.

“Boleh, ayo!” ajak Yuri dan langsung menarik tangan Luhan. Demi apapun, Luhan sangat senang sekarang. Baginya, ini seperti sebuah kencan dengan Yuri.

***

Dentingan piano terdengar memenuhi ruang musik di sebuah rumah mewah. Kedua insan tampak sedang menghayati permainan yang mereka mainkan. Victoria sesekali tersenyum dan tertawa bersama dengan Changmin.

“Vic, lihat baik-baik buku not baloknya. Kamu salah menekan tutsnya, harusnya yang itu.” Changmin angkat suara saat permainan keduanya selesai.

“Hmm…” Victoria bergumam seraya melihati buku not balok yang ada di tangan kanannya, sambil mengangguk. “Aku tidak fokus karena terlalu berdekatan denganmu,”

Ledakan tawa Changmin terdengar karena pengakuan terlalu jujur Victoria. “Ya, kamu memang terlalu mencintaiku Nona Song,” ucapnya sambil menyeringai.

Victoria hanya mendelik ke arah Changmin, malas bila sifat terlalu percaya diri kekasihnya keluar. “Ah, ngomong-ngomong cinta. Myungsoo sudah kembali,”

“Ya aku tahu,” respon Changmin, lalu menatap Victoria yang di sebelah kanannya. “Akankah Myungsoo menangih janji Hyerim dulu?” tanyanya mendadak khawatir.

Victoria balas menatap Changmin, awalnya dia bingung. Apa yang dijanjikan Hyerim pada sepupunya itu?

“Oh.” Victoria mejentikan jarinya pertanda ingat sesuatu. “Janji Hyerim karena sudah merubah hatinya untuk mencintai Myungsoo dan menerimanya?”

Changmin mengangguk masih dengan mimik khawatir. “Aku rasa tidak mungkin itu terjadi. Persahabatan kita tidak bisa utuh lagi seperti dulu karena Hyerim yang tak kunjung membuka hatinya dan juga ya… Hyerim sudah berubah total.”

Victoria terdiam sebentar mendengar penuturan Changmin. “Hhh… maksudmu Hyerim masih menyukai..-”

“Bukan!” Changmin dengan cepat memotong, membuat Victoria lagi-lagi bingung. “Hyerim sudah mengganti haluan hatinya… kamu pasti tahu siapa orang itu,”

Changmin menatap lekat Victoria yang sedetik kemudian melebarkan matanya. “Luhan? Maksudmu Luhan?” ucapnya, Changmin mengangguk.

“Persahabatan Hyerim dan Luhan bisa diuji karena kehadiran Myungsoo. Begitupula peperangan dalam hati Hyerim yang entah aku benar atau tidak, mulai menyukai Luhan,”

Keduanya terdiam dan tidak tahu harus bagaimana, bisa-bisa kejadian di masa lalu terulang. Sebuah persahabatan pecah hanya karena sebuah cinta. Dan persahabatan lama yang tidak bisa utuh lagi hanya karena cinta. Tapi mungkin saja perkiraan itu bisa berubah.

***

Luhan menikmati sorenya bersama dengan Yuri. Setelah tugas gadis itu selesai, keduanya malah asyik bercanda dan mengobrol sambil tertawa cekikikan.

“Lu, kamu dulu sangat lucu bila sedang bertengkar dengan Yoonra. Oh ya, apa kabar omoni dan Yoonra? Aku merindukan mereka,” ucap Yuri sambil meminum kopinya.

Luhan meneguk secangkir mocha sebelum menjawab. “Ahahah ya lucu sekali mengingat masa lalu. Kabar umma dan Yoonra sangat baik.”

Yuri mengangguk-anggukan kepalanya. “Ah aku merindukan mereka, titipkan salamku ya,”

“Iya, aku akan sampaikan bila ingat,”

“Oh ya Luhan,” Yuri berucap tiba-tiba sambil menatap Luhan sedikit lekat. “Kamu tahu Kim Myungsoo kan?”

Mendadak Luhan merasa malas mendengar nama pria yang membuat dirinya seakan bisa kehilangan sosok Hyerim.

“Hmm..” jawab Luhan sambil memutar-mutar jarinya diatas meja seakan membuat lingkaran dan menundukan kepalanya. “Dia adalah sepupu Victoria sunbae kan? Kenapa memangnya?”

“Iya, dia sepupu Victoria” ucap Yuri. “Myungsoo sangat menyukai Hyerim. Persahabatan mereka pecah hanya karena sikap Hyerim yang terang-terangan menolak Myungsoo karena menyukai seseorang. Hyerim berjanji akan menerima Myungsoo bila ia kembali ke Korea. Menyangka hatinya akan berganti haluan padanya.”

Mendengarnya seakan membuat Luhan terhantam sesuatu. Kemudian, ia mengangkat wajahnya menatap Yuri.

“Myungsoo pantas bersama dengan Hyerim,” ucapnya. “Mereka berdua cocok. Terlahir dari keluarga kaya raya. Tidak sepertiku.”

Yuri menatap heran Luhan kemudian meraih tangan pria tersebut dan mengusap-usapnya. Perilakunya tersebut membuat Luhan mati kutu.

“Jangan berbicara seperti itu,” Yuri mulai berfrasa. “Persahabatanmu dan Hyerim bisa terancam, genggamlah dia sekuat mungkin. Jangan biarkan persahabatan kalian hancur layaknya Hyerim, Myungsoo, Victoria dan Changmin. Tapi… jangan lupakan keberadaanku.”

Luhan mengingit bibir bawahnya. ‘Tapi jangan lupakan keberadaanku’, ucapan itu seakan membuat hati Luhan terhantam sesuatu untuk kesekian kalinya.

“Yuri-ah,” seseorang memanggil Yuri.

Yuri menatap pemuda itu dan tersenyum lebar. “Donghae oppa!” serunya yang detik berikutnya sudah saling mendengkap erat satu sama lain dengan Yuri.

Luhan hanya tersenyum miris melihat pemandangan dihadapannya. “Kurasa persahabatan kita juga bisa hancur karena cinta, nuna,” Luhan bergumam dalam hati.

***

Hyerim sudah rapi dengan seragamnya, setelah sarapan-walau hanya beberapa suap- Hyerim melangkah gontai ke luar rumahnya.

“Hyerim-ah,” sebuah panggilan membuat Hyerim kaget dan terlonjak ke balakang.

Hyerim memutar dua bola matanya malas dan menatap datar Myungsoo yang tersenyum cerah di hadapannya.

“Mau apa kau?” tanya Hyerim datar.

“Mengantarmu, memangnya mau apa lagi?”

“Aku saja tidak mau diantar oleh supir pribadiku, apalagi denganmu!”

“Ayolah, mana mungkin kamu menaiki bus,” Myungsoo berkata dan main menarik tangan Hyerim.

“Hey lepaskan!” seru Hyerim tapi apa daya, Myungsoo berhasil menariknya masuk ke mobil limosin miliknya.

Hyerim hanya menekuk bibirnya dan terus menggerutu walau mobil limosin tersebut sudah melaju di jala raya Seoul.

“Hyerim-ah, kau tahu apa yang membuatku kembali?” tanya Myungsoo sambil melirik sekilas Hyerim yang lebih memilih membuang pandangan kearah luar. “Aku ingin memperbaiki persahabatan kita berempat.”

Hyerim hanya mendengus mendengarnya. Persahabatan katanya? Omong kosong. Hyerim masih asyik memandangi jalan raya Seoul yang mulai ramai walau masih pagi.

“Apa kamu mendengarkanku?” Myungsoo angkat suara sambil melirik Hyerim dengan ekor matanya. Gadis itu tampak menghela napas.

“Sampai kapanpun, persahabatan kita tidak akan terbaiki lagi selagi perasaan yang terpendam dalam diri kita berdua masih tertanam.” Hyerim melafalkan hal tersebut dengan rasa sesak membuncah dan mata terpejam, membuat seorang Kim Myungsoo diam seribu bahasa.

“Maka dari itu, terimalah cintaku,”

“Kau sudah tahu jawabannya, menyerah saja.” Hyerim berkata sambil melirik Myungsoo sinis.

Myungsoo menyerah berkata lebih lanjut pada gadis di sebelahnya, keheningan pun tercipta. Sampai akhirnya mereka sampai di Shinhwa SHS. Setelah keduanya turun, para siswi langsung berteriak histeris walau ada pula yang menggerutu kesal dan iri saat melihat Hyerim bersama Myungsoo. Hyerim berusaha berjalan cepat menjauh, tapi Myungsoo langsung menyambar tangannya dan berjalan sambil bergandengan tangan.

“Heh! Lepaskan! Kita jadi pusat perhatian tahu!” Hyerim berucap jengkel sambil berusaha menarik tangannya. Myungsoo hanya berlagak santai sampai mereka berada di depan ruang kelas Hyerim, 10-1.

“Sudah ya sampai sini saja, my sunshine. Sayang sekali kita beda kelas,” ucap Myungsoo seraya mencubit pipi kanan Hyerim, layaknya yang ia lakukan dulu semasa SMP, kemudian pergi menuju kelasnya, 10-3.

Masih dengan kekesalannya, Hyerim berjalan masuk ke kelas 10-1. “Hyerim-ah,” sapa Joohyun saat dirinya duduk di sebelah gadis itu.

“Kenapa menekuk wajahmu?” Joohyun bertanya dengan raut khawatir. Hyerim hanya menghela napas.

“Sungguh, sampai kapan pun aku tidak mau bersahabat lagi dengan seorang Kim Myungsoo,”

Joohyun menatap Hyerim penuh arti, lalu berucap. “Apa sih yang membuatmu jadi tidak mau berteman dengannya lagi? Karena tidak bisa membalas cintanya?”

Hyerim hanya diam pura-pura tak mendengarkan dan sibuk dengan buku diarynya. Joohyun yang melihat respon Hyerim hanya memajukan bibirnya.

“Rim-ah, aku ingin bertanya,” Joohyun kembali bersuara.

“Apa?” Hyerim menoleh sekilas pada Joohyun.

“Siapa sih pria yang kamu sukai? Sampai Myungsoo kamu tolak. Apa kamu tidak bisa melupakannya? Apa salahnya balas mencintai Myungsoo dan menjalin persahabatan kalian berempat lagi?”

Hyerim terdiam kembali. Bibirnya seketika kelu untuk menjawab pertanyaan Joohyun. Ya, dirinya masih mencintai lelaki itu, lelaki yang masih terukir dengan rapi dihatinya. Joohyun mengembungkan pipinya saat Hyerim mengacanginya lagi.

Yak! Kalau kamu tidak bisa mencintai Myungsoo, cintai saja Luhan! Daripada orang yang mengabaikan cintamu itu!” seru Joohyun yang terbawa rasa betenya pada Hyerim.

“Hm…” Hyerim hanya bergumam membuat Joohyun tambah dongkol.

Tetapi luapan kekesalan itu mereda saat Jonghyun memasuki kelas dan menghampirinya. Joohyun langsung memasang senyum terbaiknya.

“Jonghyun-ah!” panggilnya seraya melambaikan tangan.

“Hey princess,” Jonghyun balas menyapa setelah menaruh tasnya di bangkunya yang berada di depan Joohyun. Pipi gadis itu sudah memerah. Jonghyun yang duduk di depannya dengan tubuh menghadap ke belakang lengkap dengan seulas senyum.

Kiyowo (lucu),” Jonghyun dengan gemas mencubit pipi Joohyun membuat gadis bernama lengkap Seo Joohyun itu tambah tersipu malu.

Shit! Mereka tidak tahu tempat apa?!” gerutu Hyerim dalam hati yang melihat adegan lovey dovey di hadapannya. “Luhan mana?” tanyanya akhirnya.

Baru saja Jonghyun ingin membuka mulut untuk menjawab pertanyaan Hyerim, Luhan pun datang dan berjalan kearah mereka bertiga. Hyerim yang melihat kedangannya, tersenyum sangat manis. Sementara Luhan yang disenyumi, sudah salah tingkah diiringi degup jantungnya yang meningkat.

“Ya ampun! Ada apa denganku? Oh Hyerim, sungguh dia selalu berhasil membuatku tercenggang seketika layaknya menaiki roller coster,” gumam Luhan dalam hati.

“Hey Lu!” sapa Jonghyun saat Luhan sudah duduk di sebelahnya.

Kemudian Jonghyun mulai berbicara hal-hal yang tidak penting dan sama sekali Luhan tak mengerti. Tentunya lelaki itu menceritakan tentang wanita yang ia temui dan ah entahlah Luhan tak ingat, intinya membicarakan wanita dari kalangan atas seperti dirinya.

Luhan sesekali melirik Hyerim yang tampak sibuk dengan diarynya. Lalu bunyi bell pun terdengar diikuti langkah kaki Kang seosaengnim yang memasuki kelas. Pelajaran sejarah yang membosankan pun dimulai.

***

Tak terasa, waktu bergulir dengan cepatnya. Bell pulang pun terdengar, Hyerim langsung saja menyambar tangan Luhan dan menyeretnya keluar kelas. Luhan sudah tidak terkejut dengan perilaku Hyerim yang kadang seenaknya megenggamnya, tapi jantungnya sepertinya selalu terkejut karena organ tersebut akan berdetak lebih cepat saat Hyerim menyentuhnya.

“Mereka selalu main pergi begitu saja,” gerutu Jonghyun yang memperhatikan Hyerim dan Luhan.

“Jonghyun-ah, ayo kita juga pergi,” ajak Joohyun. Jonghyun pun mengangguk dan berjalan keluar kelas bersama Joohyun.

“Hye-ah,” panggil Luhan lembut membuat Hyerim menoleh padanya dengan mimik yang polos. “Jangan buru-buru, aku tidak mau kamu terjatuh.”

Arraseo,” ucap Hyerim sambil menyunggingkan senyum dan mulai berjalan lagi dengan masih megandeng Luhan.

“Myungsoo-ssi, Myungsoo-ssi,” panggilan lengking terdengar di ujung koridor, membuat Luhan menoleh dan ternyata suara tersebut berasal dari Oh Seungah.

Myungsoo menatap malas Seungah. “Apa?” tanyanya ketus.

“Ini untuk..-”

“Hyerim!” Myungsoo langsung berseru memotong ucapan Seungah saat melihat Hyerim tak jauh darinya.

Myungsoo langsung menghampiri Hyerim yang makin mengeratkan genggamannya pada Luhan. Seungah menatapnya tajam dan dalam hati ingin sekali rasanya membasmi Hyerim dan begitupula Joohyun yang makin akrab dengan Jonghyun.

“Kamu ingin pulang, cinderellaku?” tanya Myungsoo dengan senyum penuh kharismanya, membuat Luhan menelan salivanya merasa tak bisa menyainginya.

“Tidak, aku ingin ke rumah Luhan,” jawab Hyerim, menarik Luhan kembali untuk menjauh tapi langsung saja Myungsoo menariknya.

“Hey!” seru Hyerim saat tangannya sudah terlepas dari Luhan dan dicekam erat oleh Myungsoo.

“Kamu harus pulang denganku!” ucap Myungsoo menatap tajam Hyerim.

Luhan pun tak tahan dan lantas berseru, “Terserah dirinya ingin pulang bersama dengan siapa!”

Myungsoo mendelik kearah Luhan dengan tajam. “Oh begitu…” lelaki itu mengangguk sambil menatap penuh arti Luhan. “Bila disuruh memilih, kau akan memilih Hyerim atau Yuri sunbae?”

Pertanyaan tersebut membuat hati Luhan tersentak dan Hyerim langsung menoleh padanya dengan pandangan yang sulit diartikan.

“Apa maksudmu?” Luhan berseru.

“Ahhh… kau harus tahu dulu sepertinya,” Myungsoo berkacak pinggang dengan angkuhnya. “Yuri sunbae tadi berkelahi dengan kekasihnya di parkiran sekolah. Dan hmmm… aku dengar dia menangis,”

Perkataan tersebut sukses membuat Luhan serta Hyerim membulatkan matanya.

“Ber..kelahi? Menangis?” ucap Luhan agak ragu, pria Kim itu mengangguk mantap membuat Luhan kalang kabut.

Mendengar Sang Bidadari dalam hidupnya menangis membuat Luhan hilang akal dan tanpa berpikir dua kali sudah mengangkat kakinya dari tempatnya sekarang, meninggalkan Hyerim yang menatap punggungnya yang perlahan mulai menjauh.

“Luhan!” Hyerim meneriakinya tapi tak dirubis sama selali oleh lelaki itu. Myungsoo tersenyum puas dan lantas menarik Hyerim untuk ikut bersamanya. “Yak! Lepaskan!”

***

Suara isak tangis itu makin terdengar membuat Luhan semakin melangkah mendekat ke arah Yuri yang duduk membelakanginya. Perlahan tangannya menyentuh pundak gadis itu membuatnya menoleh dengan mata sembab.

Nuna,” panggil Luhan seraya tersenyum. Yuri menghapus air matanya.

“Luhan-ah, Donghae dia…hiks”

Luhan langsung memeluknya dan menenangkannya. “Sudahlah, lebih baik nuna kuantar pulang sekarang, oke?”

Yuri mengangguk. Luhan megandengnya ke sepedahnya. Lalu, keduanya sudah berboncengan menyelusuri jalanan Seoul. Saat-saat seperti ini yang dirindukan Luhan, saat Yuri berboncengan dengannya dan memeluk pinggangnya erat.

“Lu,” ditengah perjalanan Yuri memanggil, membuat Luhan sedikit menoleh. “Jangan langsung pulang ke rumahku, aku ingin mengunjungi rumahmu dan bertemu omoni dan Yoonra. Aku merindukan mereka berdua.”

Luhan yang mendengarnya mengangguk dan membelokkan sepedahnya ke kiri menuju rumahnya.

***

Yohyun, ibu Luhan tampak melebarkan matanya saat melihat Yuri di hadapannya. Yuri tampak membungkukan badannya seraya menyapa Yohyun.

Annyeong omoni, lama tak berjumpa,” sapa Yuri.

Yohyun masih membuka mulutnya sangat lebar, sapu yang dipegangnya sudah jatuh begitu saja. Matanya mengerjap beberapa kali lalu berucap.

“Yuri?” Yohyun mulai mendekat ke arah Yuri, gadis itu mengangguk. Detik berikutnya Yohyun menjerit heboh.

“Akhhh!!! Akhirnya bertemu denganmu lagi! Omoni sangat merindukanmuuu!!! Kamu sangat cantik sekarang! Ya ampun! Sekarang kamu kelas berapa huh? Kamu sudah sangat tinggi ya, ya ampun!!! Kamu masih berpacaran dengan si Lee…Lee ah itu lah. Akhh!! Tak menyangka bisa bertemu denganmu lagi!!”

Yohyun lantas memeluk erat Yuri yang tampak melongo akan tingkahnya yang berlebihan itu. Para tetangga sampai berlari keluar karena jeritan lengking Yohyun. Luhan hanya menepuk keningnya dan menatap para tentangga dengan senyum malu.

Omoni,” ucap Yuri saat dirinya tak bisa bernapas karena pelukan erat Yohyun. Wanita paruh baya itu lantas melepaskan pelukannya dan memasang wajah berbinar.

“Ayo masuk, ayo!” ajak Yohyun dan langsung menarik Yuri yang masih shock.

Luhan langsung buru-buru masuk ke rumah karena sudah malu dengan tatapan para tetangga yang mulai berbisik-bisik tentang tingkah Ibunya.

“Aduh maaf, rumah kami sangat berantakan. Maklum Bibi baru ingin membersikannya tapi kamu keburu datang, eheh,” ucap Yohyun sambil mengepuk-ngepukan bantal kursi di ruang tamu dan mepersilahkan Yuri duduk.

“Membersihkan apanya? Rumah ini memang selalu berantakan kok!” gerutu Luhan dalam hati.

Yuri sudah duduk manis dan mulai bercengkrama dengan Yohyun karena sudah lama tidak berjumpa. Luhan mengambil kesempatan itu untuk mengganti pakaiannya.

“Luhan, ayo kemari.” panggilan Yohyun menyapa telinganya membuat Luhan yang sudah selesai berganti pakaian, berjalan ke ruang tamu dan duduk di sebelah Yuri. “Ah jadi ingat dulu kita bertetangga dan Luhan mengaku-ngaku sebagai pacarmu.” Yoohyun mulai bernostalgia.

Luhan yang mendengar ucapan ibunya jadi salah tingkah, sementara Yuri tertawa. “Ish! Ummaa! Jangan bicarakan itu!” ucap Luhan seraya menggaruk belakang kepalanya karena malu.

“Memangnya kenapa eoh? Kamu kan memang suka pada Yuri.” Yohyun berkata dengan tampang menggoda putranya yang makin malu saja.

“Ahaha, itu hanya candaan anak kecil, omoni,” Yuri pun merespon masih dengan tawanya. Luhan menundukan kepalanya malu. “Oh ya? Yoonra mana?” tanyanya kemudian.

“Yoonra sedang tidur di kamarku.” Luhan menjawab saat mengingat tadi ia melihat adiknya tertidur di kamarnya.

“Iya, tadi dia sedang mencari buku astronomimu yang super lengkap itu untuk bahan belajarnya,” Yohyun menjelaskan. Yuri hanya menganggukan kepalanya.

Saat Yohyun dan Yuri sibuk menceritakan masa lalu sambil sesekali menggoda Luhan dengan tingkah lucu pria itu saat kecil dulu, hingga sebuah teriakan terdengar memasuki gendang telinga ketiganya.

OPPAAA!!! IGE MWOYA? (INI APAAN?)”

Ketiganya terkejut mendengar teriakan Yoonra dan beberapa detik kemudian gadis itu sudah ada di ruang tamu. Walau menyadari kehadiran Yuri, tapi Yoonra tidak bisa mengekpresikan kehebohannya karena sesuatu yang ada ditangan kanannya.

“Kamu ini kenapa sih? Tak lihat ada tamu?” gerutu Luhan yang kembali malu karena tingkah ibu dan adiknya.

Yoonra tak peduli dan mengacungkan ponsel Luhan yang tadi ia otak-atik saat baru bangun dari tidurnya, hasratnya tidak bisa ditahan saat melihat benda mungil itu tergeletak di meja belajar begitu saja.

“Ini foto siapa?” Yoonra langsung melayangkan pertanyaan pada Luhan sambil menyodorkan ponsel kakaknya yang menampilkan galeri dan tepat di sebuah foto seorang gadis dengan senyum yang manis menggunakan seragam SMA Shinhwa.

Luhan menbuka dan menutup mulutnya berkali-kali saat adiknya menemukan foto Hyerim di ponselnya. Ya, Luhan memang pernah sengaja memfoto Hyerim saat gadis itu menoleh ke arahnya.

“Itu…” ucapan Luhan megantung. Yohyun langsung mengambil ponsel Luhan dan menatap berbinar layar ponsel tersebut.

Omo, yeppuda (ya ampun, cantiknya),” komentar Yohyun. Luhan menganggruk belakang kepalanya yang tak gatal.

Duh! Kenapa foto itu bisa dilihat Yoonra? Ish!” umpat Luhan dalam hati. Yuri yang penasaran pun ikut nimbrung bersama Yohyun.

“Ah…” Yuri bergumam membuat Yohyun menatapnya dan begitupula Yoonra yang dari tadi menatap Luhan dengan tatapan curiga. “Dia Oh Hyerim, putri pemilik sekolah dan dia adalah pacarnya Luhan,” ucap Yuri.

Detik berikutnya, ibu dan adiknya menatap Luhan dengan mata membulat. Lalu, seperti yang Luhan tebak. Keduanya menjerit histeris.

AAKHHH!! KENAPA KAU TIDAK BILANG PADA UMMA HAH?!” jerit Joohyun.

OPPAA! DIA SANGAT CANTIK!” jerit Yoonra membuat Luhan menutup kedua telinganya. Yuri hanya tertawa melihatnya.

***

Jarum jam sudah menunjukan pukul 7 malam. Yuri pun berpamitan seusai makan malam di rumah Luhan. Gadis itu diantar oleh Luhan keluar dari gang rumahnya.

“Lu, aku sangat senang bisa berkumpul lagi dengan omoni dan Yoonra…” ucap Yuri sambil menatap Luhan lekat, lantas membuat pria itu menunduk salah tingkah.

“Tapi, mereka membicarakan Hyerim terus sepanjang makan malam. Aku tidak suka topiknya. Sepertinya aku salah berucap bahwa Hyerim adalah pacarmu, padahalkan bukan, dirimu saja yang menyukainya.” Yuri berkata demikian sambil menekukan bibirnya, ia sedikit cemburu saat Hyerim dibahas terus oleh Yohyun dan Yoonra.

Luhan mengangkat kepalanya menatap Yuri yang masih berwajah masam. “Kalau nuna tidak suka dan misalnya nuna cemburu, apakah nuna menyukaiku?” Luhan berucap dalam hati.

Yuri seketika tersenyum saat sebuah mobil limosin hitam berhenti dichadapan keduanya. “Lu, supirku sudah menjemput. Aku pulang ya.”

Yuri mengacak-acak rambut Luhan dan masuk ke dalam mobil tanpa tahu telah membuat Luhan seakan struk mendadak karena prilakunya. Yuri membuka kaca sambil tersenyum dan melambai ke arah Luhan.

Nuna,” panggil Luhan sebelum mobil limosin tersebut melaju. “Aku menyukai orang lain, ah…. dia..  adalah … dia…” lidah Luhan seakan kelu saat ingin mengatakan bahwa Yuri lah yang ia sukai.

Yuri mengangkat alisnya. “Siapa? Hyerim? Memang iya kan?” lagi-lagi Yuri cemberut saat mengucapkannya. “Aku ini sahabatmu, Luhan. Aku tahu kamu menyukai gadis itu.”

Yuri langsung menutup kacanya dan detik berikutnya mobilnya melaju membelah malam, meninggalkan Luhan yang masih mematung. Sepertinya cinta yang dihadiri dari sebuah persahabatan itu memang merumitkan bagi Luhan, setidaknya itulah yang dipikirkannya. Seperti Hyerim dan ketiga sahabatnya, hanya karena cinta bertepuk sebelah tangan, sebuah persahabatan menjadi kaku dan kemudian pecah. Luhan menghela napasnya dan kemudian berbalik jalan menuju rumahnya.

***

‘Aku masih mencintainya, aku tak ingin apapun selain perasaan ini yang semestinya hilang. Aku juga ingin persahabatan kita berempat kembali seperti dulu’

Hyerim menatap deretan hanggul di buku diarynya yang tadi ia tuliskan di sekolah. Hyerim menutup buku berwarna coklat itu dengan gerakan sedikit kasar. Tiba-tiba, hatinya terasa perih kembali saat mengingat tadi siang Luhan main meninggalkannya karena mendengar Yuri menangis. Lelaki itu dengan mudahnya melupakan Hyerim dan berlari pergi ke gadis lain.

Hyerim menghela napas berat, kemudian berdiri dari meja belajarnya dan mengambil ponselnya. Sambil mengambil posisi berbaring, Hyerim mulai mengotak-atik ponselnya dan berhenti di ID kontak Luhan. Sekarang sudah pukul 10 malam, semoga saja Luhan belum tidur. Hyerim pun menghubungi Luhan sambil mengigit bibir bawahnya keras. Sampai sambungan terhubung.

“Halo?” Hyerim menyapa ragu. Namun hanya keheningan yang menyapa membuat Hyerim mengerutkan keningnya. “Luhan, kamu sudah tidur saat mengangkat telpon ini? Dasar dekil! Ya sudah, selamat malam, jangan lupa mimpikan aku,” Hyerim mengakhiri panggilan tersebut dengan perasaan bingung. Tak mau ambil pusing, gadis itu pun memilih tidur menjelajahi alam mimpi.

***

Luhan menghembuskan napas kelewat lega saat menepikan sepedahnya di parkiran sekolah. Tadi pagi, ibu dan adiknya sudah berteriak histeris dan penyebabnya adalah telpon Hyerim tadi malam. Semalam, Luhan sudah tidur jadi tidak mengangkat panggilan Hyerim. Pagi harinya, Yoonra mengatakan kekasihnya menelpon dan Yoonra yang mengangkatnya. Yoonra mengatakan Hyerim itu sangat manis mengatakan selamat malam dan menyuruh Luhan memimpikannya.

Luhan sudah dikeroyoki oleh berbagai ucapan atau lebih tepatnya jeritan dan seruan adik dan ibunya, padahal menurutnya hal tersebut hanya perkara sepele, adik dan ibunya saja yang selalu berlebihan. Maka, Luhan langsung memilih kabur sebelum sarapan di rumah, walau sekarang masih pagi, tapi ini lebih baik daripada dirinya harus meladeni adik dan ibunya yang konyol itu.

Luhan melewati ruang musik di lantai 3 dan seketika menghentikan langkahnya di depan ruangan tersebut saat dirinya melihat kedua sosok wanita yang dikenalinya. Ruang musik tersebut terdapat sebuah kaca besar yang menampilkan isi ruangan, membuat Luhan yang berdiri di depannya bisa melihat sosok Hyerim dan Victoria yang sedang berdiri saling berhadapan di dalam. Ada apa keduanya pagi-pagi berada di ruang musik? Bahkan murid yang lain pun belum datang, kecuali dirinya. Karena penasaran, Luhan berjalan perlahan ke arah pintu dan membukanya sedikit untuk mendengar percakapan keduanya.

“Ada apa kau memanggilku?” Hyerim yang memunggungi Luhan mulai bertanya, sementara Victoria menatap Hyerim lekat.

“Myungsoo telah kembali dan…-”

“Ya aku tahu dia sudah kembali,” Hyerim memotong atau lebih tepatnya ia malas membahas pria bermarga Kim tersebut.

Victoria menarik napas sebelum melanjutkan ucapannya yang terpotong. “Setiap hari ia selalu bertanya padaku, kapan kamu bisa menepati janjimu. Janjimu, Hyerim. Menerima seorang Kim Myungsoo dalam hatimu,”

Luhan tambah mempertajam pendengarannya, sepertinya dia sudah menjadi penguping dadakan sekarang. Ia sudah kelewat penasaran apa yang akan Hyerim ucapkan. Walau Luhan berharap Hyerim tidak mengucapkan akan menerima Myungsoo, hatinya seakan tak bisa menerimanya.

“Aku tidak akan pernah bisa menerimanya, sunbae,” Hyerim menjawab dengan penuh penekanan, membuat Luhan tanpa dirinya sadari tersenyum senang.

Victoria menatap Hyerim penuh arti. “Apakah kamu masih mencintainya?” gadis itu pun bertanya dengan kelopak mata seakan ingin menangis.

Tubuh Luhan menegang seketika saat mendengar ucapan Victoria. Apa jawaban Hyerim? Dan siapa lelaki yang disukai Hyerim? Hyerim memalingkan wajahnya ke samping saat merasa air mata akan siap jatuh diiringi dengan tangannya yang sudah terkepal dengan sendirinya.

“Ya, aku masih mencintainya!” jawab Hyerim tegas.

Hyerim kembali menatap Victoria dengan mata berair. “Ya, aku masih mencintainya! Mencintai Kakak tiriku sendiri! Mencintai kekasihmu! Mencintai seorang Shim Changmin! Aku benci perasaan ini! Tapi aku tidak bisa menghilangkannya! Persahabatan kita hancur karena perasaan lebih diantara kita berempat! Cinta adalah hal yang paling mengerikan bagiku!” Hyerim berseru dengan tetesan bening itu mulai melihatkan wujudnya dan Victoria hanya menatapnya sendu.

Luhan membekap mulutnya karena terkejut mendengar ucapan Hyerim. Jadi Hyerim menyukai…. Luhan langsung tersadar dari keterkejutannya saat Hyerim berjalan ke arah pintu. Luhan ingin beranjak pergi, namun terlambat karena Hyerim sudah membuka pintu dan berdiri di hadapannya. Luhan terpaku melihat Hyerim yang menatapnya dengan mata yang dilengkapi uraian kristal bening, kemudian gadis itu berlari pergi. Tanpa pikir dua kali, Luhan mengejar gadis itu.

“Hyerim! Hyerim!” teriak Luhan berusaha memanggil Hyerim. Dan akhirnya Luhan dapat menyusul Hyerim dan berada tepat di samping gadis itu, Luhan pun langsung menarik tangan Hyerim.

Hyerim membalikan tubuh menghadap Luhan dan kemudian terisak. “Lu, aku..benci diriku sendiri…” Hyerim berucap disela tangisannya, mata indahnya karap mengeluarkan tetesan itu makin deras.

Luhan langsung menarik Hyerim kepelukannya. Mendekap tubuh gadis itu dengan hangat. “Aku tahu bagaimana perasaanmu. Karena kita berdua sama.” ucap Luhan lalu memandang Hyerim yang balik menatapnya, dan air mata gadis itu karap tidak berhenti, membuat Luhan sakit melihat gadis yang berada didekapannya ini menangis.

Kemudian tanpa sadar, Luhan mendekatkan wajahnya dan mendaratkan ciumannya dikening Hyerim cukup lama. Masih dengan saling berpelukan, keduanya tidak menyadari apa yang sedang mereka lakukan. Hyerim masih mengeluarkan air matanya sambil menatap bola mata Luhan lekat.  Tanpa mereka sadari seseorang mangawasi keduanya.

─To be Countinued─


HALLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLLOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!!!!!!!!!! Akhirnya meluncurlah satu FF astralku satu lagi LOLOL. Ini udah aku edit sama sedikit perombakan karena merasa naskah sebelumnya sangat alay TROLOLOLOL. Dan cie posternya baru juga nih buatan sendiri pula /gak penting/ Ane bela-belain loh ini publish sampe tengah malem melek (sebenernya karena adek ultah dan faktor males tidur juga sih LOL) Jangan lupa RCLnya ya, chapter 7 on progres kok tenang

P.S : Selagi ngeedit FF dan ngepublish FF ini, aku dengerin lagu Jimin Ft. Xiumin – Call You Bae /ceritanya kudet baru dengerin lagunya/ceritanya shipper baru Jimin-Xiumin/dan p.snya gak penting banget/ 

-With Love, HyeKim-
Advertisements

Author:

A tinkerbell who dream to be Luhan's future wendy — Also an amature author, k-drama trash, k-running man freak, eternal ELF, ahjussi and korean actor addict in the same time

48 thoughts on “FF : My Cinderella Chapter 6 [Love and Friendship]

  1. Tuh kan bener, hyerim suka ma changmin. Hidup hyerim sangat amat rumit ne? Kasian. Semoga luhan dan hyerim bisa saling mencintai ya.

    Like

  2. Disatu sisi miris liat L diabaikan sm hyerim tp gmna nasib luhan nnt klau hyerim sm myungsoo
    tpi disisi lain sebel sm luhan yg msih labil
    Astaga! Beneran ternyata hyerim suka sm changmin

    Like

  3. bener kata orang kalo cewek sama cowok itu g bisa berteman. pasti ada sedikit rasa pada salah satunya… kasihan luhan ama hyerim

    Like

Write ur Love Letter . . . <3

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s