Posted in Chapter, Comedy, Fanfiction, FF : My Cinderella, Friendship, PG-15, Romance, School Life

FF : My Cinderella Chapter 7 [Behind Story of Cinderella]

mycinderella

My Cinderella Chapter 7

└Subtitle : Behind Story of Cinderella ┘

A Fanfiction Written By :

Hyekim

Genre : Romance, Comedy, School life, Friendship || Rating : PG-15 || Lenght : Multi Chapter

Starring With :

-Hyerim (OC) as Oh Hyerim

-Luhan as Xi Luhan

-Victoria f(x) as Victoria Song

-Changmin TVXQ as Shim Changmin

-Yuri SNSD as Kwon Yuri

-L INFINITE as Kim Myungsoo

Summary : Bagi Luhan, Hyerim adalah Cinderella dalam hidupnya. Cinderella yang terlahir dari keluarga berada, mempunyai ibu dan sudara tiri yang menyayanginya. Tapi, Sang Cinderella merasa kesepian. Apakah bisa perbedaan antara Luhan dan Hyerim menyatukan keduanya dalam hubungan cinta?

Disclaimer : This is just work of fiction, the cast(s) are belong to their parents, agency, and God. The same of plot, character, location are just accidentally. This is not meaning for aggravate one of character. I just owner of the plot. If you don’t like it, don’t read/bash. Read this fiction, leave your comment/like. Don’t be plagiat and copy-paste without premission.


“Tapi aku lupa satu hal. Hidup itu layaknya roda dan roda selalu berputar. Kadang kala kita di atas dan di bawah…”


HyeKim ©2016

║♫  

PREVIOUS : 

Teaser || Chapter 1 The Rich Girl] ||  Chapter 2 [Be Her (boy)friend] || Chapter 3 [I’ll Protect you] || Chapter 4 [What’s Wrong With Her?]  || Chapter 5 [Perfect Guy For Her] ||Chapter 6 [Love and Friendship] || (NOW) Chapter 7 [Behind Story of Cinderella]

Luhan mengusap wajahnya gusar, tak habis pikir apa yang telah ia lakukan dengan Hyerim tadi siang. Bagaimana bila ada yang melihatnya?

“Ishh, jinjja baboya!(sungguh bodoh)” Luhan memukul-mukul kepalanya sendiri dan mulai jalan mondar-mandir di depan pintu kamar mandi, setelah dirinya membersihkan badan beberapa menit lalu.

Saat masih gelisah dengan kelakuannya, tiba-tiba Yohyun muncul ke arahnya. “Luhan! Apa yang kamu lakukan? Membuat orang tidak bisa masuk kamar mandi saja!” tegur Yohyun.

Luhan segera berhenti dan menyingkir, mengira Yohyun ingin masuk ke kamar mandi. Tapi ibunya itu malahan berhenti di sebelahnya dengan mata mengerjap-ngerjap. Luhan menatap aneh tingkah ibunya.

“Ada apa umma?”

Umma ingin bilang, besok umma ingin mengantarmu ke sekolah,” Yohyun mencodongkan tubuhnya sembari mengedipkan matanya.

Sementara Luhan mengangga lebar mendengarnya. Diantar? Oleh ibunya? Dengan apa? Dan apakah pantas remaja pria sepertinya diantar oleh ibunya?

“Di..antar? Dengan…a..pa?” tanya Luhan lambat-lambat.

Yohyun menyengir lebar, lantas menjawab. “Tentu saja sepedah!”

Sudah Luhan duga, ibunya akan mengantarnya dengan s-e-p-e-d-a-h. Dengan sepedah bututnya. Luhan bukan minder, tapi apakah itu masuk akal? Diantar oleh ibunya? Memangnya dirinya anak TK?

Umma, utkjima (jangan melucu),” ucap Luhan memelas. Yohyun menatapnya dengan mata kucingnya ala memelas.

“Ayolah, Luhannnn…. umma hanya ingin melihat pacarmu itu.”

Luhan menghela napasnya. “Ummaa, jeballl, Yuri nuna hanya berbohong aku berpacaran dengan Hyerim.”

Luhan berusaha membujuk ibunya dan lantas menambahkan, “Kenapa tidak Yoonra saja yang umma antar? Kan dia anak gadis,”

Yohyun seperti tidak termakan omongan Luhan dan menatap anaknya dengan pandangan memohon. Akhirnya Luhan menyerah.

“Baiklah, umma boleh mengantarku, hanya untuk besok,”

Setelah mendengar putranya mengucapkan itu, Yohyun langsung bersorak tanpa suara dan melompat-lompat kegirangan. Luhan hanya menggeleng melihat tingkah childish ibunya, lalu beranjak ke kamarnya.

**

‘Dia menciumku tepat dikening, seperti yang selalu Changmin oppa lakukan padaku. Oh Lu, aku menyayangimu sungguh. Tolong bantu aku, aku kesepian, aku tertekan. Jemput aku dari kesepianku ini’

Hyerim menatap lagi deretan hanggul yang baru saja ia tulis di halaman diarynya. Kemudian, ia tutup buku tersebut dan memasukannya ke laci meja belajarnya. Hyerim termenung sambil menopang dagunya, perlahan tangannya menyentuh kening yang dicium oleh Luhan. Lantas membuat Hyerim kembali tersenyum.

Hyerim mengambil bingkai foto dirinya dan Luhan yang diletakan di meja belajar. Hyerim dan Luhan tampak sedang di taman sekolah, dengan Luhan mencubit pipi kanan Hyerim sambil tersenyum lebar, sementara Hyerim memasang wajah cemberut karena Luhan main mencubitnya. Foto itu difotokan oleh Joohyun.

“Lu, selamat tidur,” ucap Hyerim sambil mengusap foto tersebut dan meletakkannya kembali ke tempatnya. Hyerim beranjak dari meja belajarnya dan menuju kasur untuk tidur.

**

“Luhan! Pelan-pelan!” teriakan Yohyun terdengar di belakang Luhan.

Luhan sedang manggayuh sepedahnya menuju sekolah, dan ibunya juga memakai sepedah mengikuti Luhan dari belakang. Tadi pagi, Luhan berencana bangun pagi-pagi untuk menghindari ibunya. Tapi ibunya tahu gelagatnya dan mematikan alrmnya saat Luhan tidur, membuat Luhan bangun bukan karena alrm tapi teriakan dahsyat ibunya di pagi hari.

Akhirnya keduanya sampai di Shinhwa SHS, sekolah yang termasuk top 10 di Seoul. Yohyun tampak membuka mulutnya lebar sekali melihat bangunan megah Shinhwa SHS dari gerbang sekolah. Luhan menatap ibunya dari samping.

Umma sekarang pulang saja, ya,” ucap Luhan karena sekolahnya sudah ramai dengan siswa yang berlalu lalang dan menatap Luhan atau lebih tepatnya Yohyun, ingin tahu.

“Hoh Lu!” tiba-tiba terasa tepukan dibahu Luhan yang berasal dari Jonghyun yang baru keluar dari mobil Surbaru XV-nya.

Eoh, Jonghyun,” Luhan menyapa balik sambil ber-high five dengan Jonghyun. Pria itu langsung merangkul bahu Luhan setelahnya.

“Eh nuguya?” Jonghyun melirik Yohyun yang memandangi keduanya.

“Uri umma,”

Jonghyun hendak mengenalkan dirinya, saat suara melengking terdengar memanggil Luhan. Dan beberapa detik kemudian, Hyerim sudah memeluk Luhan erat dari samping.

Joheun achim, Luhan (selamat pagi),” sapa Hyerim dengan senyum lebar. Luhan tampak salah tingkah dan melirik Hyerim yang sudah melepaskan pelukannya.

Eoh?” seru Hyerim saat menengok dan mendapati Yohyun yang bengong melihatnya dan Luhan. “Pasti anda ibunya Luhan? Annyeong haseyo, Oh Hyerim imnida. Omoni jinjja neomu yeppuda.”

Hyerim membungkukan badannya sambil tersenyum manis. Sementara Yohyun tersenyum malu-malu mendengar pujian Hyerim. Luhan hanya memasang wajah datar melihat Ibunya.

“Kamu lebih cantik, Hyerim,” Yohyun balas memuji membuat pipi Hyerim bersemu. “Oh ya, omoni izin pamit ya.”

Yohyun mulai menggayuh sepedahnya menjauh lagi dengan senyumannya. Setelah kepergian ibu Luhan, ketiganya langsung berjalan menuju kelas. Hyerim tampak bergandengan dengan Luhan menyusuri koridor, sementara Jonghyun mengekor di belakang.

“Pagi Joohyun-ah,” sapa Jonghyun saat ketiganya memasuki kelas. Joohyun mengangkat wajahnya dan tersenyum sangat manis ke pria yang menyapanya tadi.

“Pagi,” Joohyun membalas disertai senyum lebar yang menampakkan deretan gigi putihnya. “Kamu sangat tampan Jonghyun-ah.”

“Eoh? Benarkah, ya aku memang..─”

Luhan sudah tidak mendengarkan lebih lanjut ucapan sahabatnya itu yang mulai tebar pesona. Dirinya masih sibuk memikirkan kejadian kemarin siang. Bagaimana bila ada yang melihatnya? Luhan pun melirik sekilas Hyerim yang sedang berkulat dengan buku sejarahnya, tampak tak pusing dengan kejadian kemarin. Luhan pun menghela napasnya.

**

Di sebuah ruangan yang cukup mewah di sisi paling ujung bangunan Shinhwa SHS, dipadati oleh ketujuh pria tampan yang sedang asyik bercengkrama sembari bermain kartu. Infinite. Nama geng yang terkenal seantreo Shinhwa, ditambah Kim Myungsoo mempunyai hubungan baik dengan keluarga pemilik Shinhwa. Membuat kawan-kawannya bisa menikmati ruangan ini yang jarang dipakai.

“Myungsoo-ya, kau kalah lagi ahaha,” suara Sungjong yang baru saja melemparkan kartunya ke meja, tampak membunyarkan lamunan Myungsoo.

“Jarang sekali kamu ini kalah terus, Myung,” ucap Hoya. Myungsoo hanya menghela napasnya sambil mengocok-ngocok kartu yang dipakainya main bersama teman-temannya.

“Apakah ada masalah?” tanya Dongwoo. Myungsoo tampak bergeming dan menghentikan kegiatannya mengocok kartu.

“Kalau ada masalah, katakan saja,” tambah Sungyeol.

“Kami pasti akan membantumu,” Woohyun pun menambahkan.

Yedura (teman-teman),” Myungsoo menatap temannya satu persatu. Ia tahu, teman-temannya pasti bisa memberikannya solusi. Maka ia harus menceritakan masalahnya. “Kalian tahu Xi Luhan?”

Para member infinite seperti terganggu mendengar nama Luhan keluar dari mulut Myungsoo. Tentu mereka tahu, Luhan bahkan pernah berkelahi tempo itu dengan Sunggyu, sebelum Myungsoo datang kembali ke Korea.

“Anak sok aksi itu? Tentu aku tahu!” timpal Sunggyu yang masih menyimpan rasa kesalnya pada Luhan. Dan yang lainnya pun mengangguk mengiyakan dengan raut sangar.

“Ya, aku tahu kalian mengenalnya,” Myungsoo memberi jeda seraya menarik napas. “Luhan, kemarin aku melihatnya mencium Hyerim. Hanya dikening sih. Tapi ya…”

Yang lainnya sudah membulatkan mata terkejut mendengarnya. Sementara Myungsoo hanya menghela napasnya berkali-kali terlihat frustasi. Pasalnya, Hyerim benar-benar dingin dengannya. Sementara dengan Luhan? Bagaikan permen karet dirinya selalu mengikuti pria bernama Xi Luhan itu dan layaknya Luhan adalah orang yang sudah mengenalnya lama, membuat gadis bermarga Oh itu selalu menampilkan mimik ceria.

“Xi Luhan itu benar-benar…” Sungjong berkomentar sambil menggelengkan kepalanya. “Yuri sunbae saja dia dekati. Tidak tahu diri memang.”

Huft Myungsoo-ya sepertinya kita harus melakukan sesuatu,” ucap Seungyeol sambil menunduk dan menangkupkan kedua tangannya di bawah dagu.

Myungsoo melirik Seungyeol yang sepertinya baru ditempeli sebuah ide diotaknya. “Apa?” tanya pemuda Kim itu.

Keenam member infinite yang lain pun mendekat ke arah Seungyeol saat lelaki itu mengintruksi dengan gerakan tangan untuk mendekat padanya. Saat itu juga, Seungyeol menumpahkan apa yang ada diotaknya. Dan disambut anggukan mantap oleh kawannya yang lain.

**

Matahari sudah mulai akan tenggelam. Waktu menunjukan senja hari. Daun-daun kecoklatan berserakan di aspal dingin  yang menjadi ciri khas musim gugur yang juga menjadi saksi bisu jam pulang siswa-siswi SMA Shinhwa. Xi Luhan. Dirinya melangkah menuju parkiran sepedahnya. Tak lupa, seorang gadis berparas manis mengikutinya di belakang.

“Lu,” Hyerim memanggil, membuat Luhan berbalik padanya.

“Hmmm?”

“Hari ini kita tidak bisa pulang bersama,” Hyerim berucap kecewa disertai kerucutan dibibirnya. “Katanya ibuku hari ini pulang.”

Luhan tampak mengangguk-angguk mengerti. Dari informasi yang diberikan Jonghyun dan cerita-cerita Hyerim. Meski Hyerim mempunyai seorang ibu tiri, Hyerim sangat dekat dengan beliau.

Arra, lebih baik sekarang kamu pulang untuk menyambut ibumu,”

Disertai senyuman dibibir Luhan, Hyerim balas tersenyum pada lelaki tersebut. Gadis itu memeluk Luhan, dan lagi-lagi berhasil membuat pacuan jantung Luhan berdebar karenanya. Sentuhan apapun yang Hyerim berikan seakan menjadi candu sekaligus siksaan untuknya sendiri. Hyerim pun sudah menghilang pergi dengan sepedahnya.

Luhan lagi-lagi mengukir seulas senyum, lalu menggeret sepedahnya dari perkarangan sekolah. Saat decitan ban sepedah dan aspal mulai terdengar, segerombolan pemuda yang sedaritadi memperhatikan Luhan, mulai keluar dari tempat persembunyian. Ketujuh pemuda tersebut mengikuti Luhan. Tapi tidak ada kode apapun yang diterima Luhan, membuatnya tetap santai tidak seperti tujuh orang yang layaknya sudah kesetanan melihat ‘mangsa’ mereka. Hingga…

‘BUK!’

Sebuah tendangan melayang mengenai tubuh Luhan, membuat tubuh tak bersalah itu tepental jatuh dijajaran aspal dingin yang dihiasi daun kecoklatan. Luhan meringis kala menyadari darah keluar dari sudut bibirnya.

Cih!” Luhan membuang ludah kala mengangkat kepala dan melihat siapa pelaku yang membuat dirinya jadi tak berdaya saat ini. Dirinya memandang sinis ketujuh anak infinite. “Kalian sukanya main keroyokan ya?” ucap Luhan disertai nada remehnya.

Ketujuh pemuda di hadapannya hanya menyunggingkan senyum tak kalah meremehkannya. “Kau harus ini tahu diri hey! Xi Luhan! Jauhi Hyerim!” seru Dongwoo.

Luhan perlahan berdiri dari posisinya dan menatap Dongwoo dengan mata menyipit. “Memangnya siapa dirimu menyuruhku menjauhi Hyerim?”

“Oh… sepertinya dirinya belum tahu siapa kita,” ucap Hoya. Dapat dilihat Myungsoo hanya menatap datar dengan wajah sinis pada Luhan.

“Lakukanlah…” ucap pemuda bernama lengkap Kim Myungsoo tersebut dan perlahan menjauh.

Luhan hanya mengerutkan kening bingung, hingga sekon selanjutnya dapat dirasakan pukulan, tendangan, siksaan bertubi-tubi pada tubuhnya oleh keenam anak infinite. Luhan benar-benar tidak bisa dan tidak diberi kesempatan untuk melawan. Sementara Myungsoo hanya menyungingkan smirknya dari kejauhan melihat Luhan makin lama tidak berdaya. Dirasa sudah cukup, Myungsoo mengangkat tangannya menandakan untuk berhenti.

Perlahan tapi pasti, Kim Myungsoo mendekati Luhan yang bahkan seperti tidak bisa merasakan tubuhnya saat ini. Saat sudah berada di hadapan sasaran mangsa teman-temannya barusan, Myungsoo berjongkok di hadapan Luhan masih dengan senyum miringnya.

“Jauhi Hyerim, apa itu belum jelas?” ucapnya dan Luhan tampak mengatur napasnya yang tersenggal-senggal menahan amarah. “Atau…” Myungsoo tampak mengeluarkan sesuatu dari saku celana seragamnya, sebuah foto yang menampilkan jepret seorang gadis. Oh Hyerim. “Aku bisa saja melakukan apapun padanya bila kau tidak mau menjauhinya.” Myungsoo pun merobek foto Hyerim tersebut menjadi dua bagian dan membuangnya tepat diwajah Luhan.

Setelah itu, Myungsoo diikuti rekannya yang lain, pergi meninggalkan Luhan yang terkapar tak berdaya. Luhan tampak menutup mata dan menghela napas frustasi. Dipandangi foto Hyerim yang sudah terbelah dua tersebut dengan tatapan sendu.

“Hyerim-ah,” gumamnya.

**

Malam sudah datang menyelimuti. Tapi seorang Oh Hyerim belum juga ingin memejamkan matanya. Bersama Sang Ibu, Kim Haera. Anak gadis itu tampak sedang menonton sebuah drama. Sementara ayah dan kakak laki-lakinya sudah terlelap sedaritadi.

Umma…” panggil Hyerim yang tiduran dipaha Haera.

“Hmmm?”

“Aku mempunyai satu sahabat baik loh sekarang,” Hyerim berucap antusias membuat Haera memandangnya.

“Siapa gerangan sahabat baru putri manis umma hmm?” Haera bertanya disertai belaian lembut di mahkota hitam panjang milik Hyerim.

“Namanya Luhan,”

Haera lagi-lagi memandang putrinya disertai satu alis yang terangkat sedikit heran. “Jadi dia lelaki?” Hyerim mengangguk antusias dengan wajah berbinar-binar, Haera hanya tersenyum simpul menanggapinya.

“Luhan, dia anak yang baik, umma. Dan demi apapun, aku tidak ingin kehilangan dirinya,”

“Maka dari itu genggamlah dia seerat mungkin, meskipun dia berusaha berjalan pergi meninggalkanmu,” penuturan Haera dijawab anggukan mantap Hyerim.

Umma, ceritakan lagi dongeng Cinderella dong, ehehehe,” Hyerim menatap ibu tirinya tersebut dengan puppy eyes andalannya. Haera tersenyum dan kembali mengusap lembut rambut Hyerim.

“Baiklah, dengarkan ya bila umma bercerita,” Haera pun kembali mendongengkan dongeng tersebut meskipun sudah beribu kali dirinya menceritakan dongeng Cinderella pada Hyerim.

**

Luhan tampak berjalan lesu dengan helaan napas yang keluar dari mulutnya. Dirinya tampak frustasi. Menjauhi Hyerim? Biar hatinya dan semua organ tubuhnya yang menjawab, bahwa dirinya tidak bisa sama sekali menjauhi gadis bernama lengkap Oh Hyerim tersebut. Sosok bayangan Hyerim seakan menjadi candu sendiri pada dirinya. Akhirnya Luhan sampai juga ke kelasnya dan dirinya pun duduk di kursinya.

Kelasnya kali ini sudah ramai, Luhan memang datang agak siang hari ini. Dapat dilihatnya Hyerim sedang bercanda dengan Joohyun. Ditahan hasrat dalam dirinya untuk menyapa gadis tersebut. Dirinya berusaha menghindar, mengingat ancaman Myungsoo.

“Hoi Lu! Kamu kelihatan aneh hari ini,” ucap Jonghyun dan Luhan hanya menengok ke arahnya sambil tersenyum.

“Aku baik-baik saja kok Jong.” Jonghyun tidak berkomentar lanjut lantaran bell sudah berbunyi ditambah Jihyun saem sudah datang. Pelajaran pun dimulai dan Luhan lagi-lagi menghela napasnya.

**

“Hyerim-ah kamu ikut tidak acara kemping di hutan lindung Yumyeongsan?” pertanyaan keluar dari bibir manis Joohyun. Yang ditanya tampak mengetuk-ngetuk pulpen di atas meja dan memfokuskan intensinya pada punggung lelaki di hadapannya.

Hyerim tampak cemberut lantaran Luhan mengacanginya seharian penuh. Dirinya jadi teringat ucapan ibunya yang mengatakan genggamlah seorang seerat mungkin bila dirinya berjalan menjauh. Dan Hyerim merasa Luhan menjauhinya sekarang. Gadis itu pun menghela napas.

“Aku malas pergi,” tutur Hyerim masih cemberut.

“Kenapa? Padahal Luhan ikut,” Joohyun berkata bingung dengan satu alis terangkat heran.

Hyerim pun memandang Luhan dari ekor matanya, lelaki itu sedang bersanda gurau dengan Jonghyun sambil keluar kelas. “Luhan mendiamkanku tahu, aku malas!” seru Hyerim membuat Joohyun membuka mulutnya apalagi saat gadis Oh itu menyentak kakinya berdiri dan pergi dari kelas.

Hyerim pun berjalan sambil menunduk lesu di koridor, hari ini moodnya benar-benar buruk. Hingga sebuah tangan merangkul bahunya mesra dan berjalan di sampingnya.

“Hyerim!” orang di sebelahnya yang tak lain seorang lelaki berseru riang menyapanya. Hyerim pun menoleh dan tatapannya berubah sinis pada lelaki tersebut yang tak lain Myungsoo.

“Lepaskan rangkulanmu!” sinis Hyerim dan Myungsoo hanya bersikap santai.

“Kamu saja sering bersentuhan dengan Luhan. Mulai sekarang kamu tidak akan bisa seperti itu lagi dengannya. Karena ada aku sebagai kekasihmu,” Myungsoo berujar sambil mengedipkan sebelah matanya. Hyerim mendengus keras karena ulahnya.

“Berhenti beromong kosong, kau ini…─” ucapan Hyerim terhenti kala gadis itu menghadap ke arah depan dan disuguhi pemandangan yang membuat organnya berhenti seketika.

Di bangku taman yang berjarak beberapa jengkal di hadapannya, terdapat Luhan sedang berpelukan dengan seorang gadis yang tak lain seorang Kwon Yuri. Hyerim rasa lidahnya kelu dan matanya panas kala dirinya harus didiami oleh Luhan namun lelaki itu meladeni gadis lain. Luhan tampak menoleh ke belakang dan mendapati Hyerim menatapnya sayu. Sementara Myungsoo hanya tersenyum miring.

**

Hari dimana kemping ke hutan Yumyeongsan diselenggarakan pun datang. Beberapa bus tampak beriringan menuju tempat tujuan dari Seoul. Hyerim pun akhirnya ikut saat Joohyun terus merengek atau lebih tepatnya menerror gadis itu untuk ikut. Di barisan paling depan ditempati Oh Seungah berserta kawanannya yang menatap sinis Hyerim karena gadis itu terus diperhatikan Myungsoo yang duduk di sebelahnya bersama Hoya.

“Hyerim-ah, sapalah Myungsoo dia melihatimu terus,” bisik Joohyun yang duduk di sebelah Hyerim yang duduk dekat jendela dan sedang mendengarkan musik dari earphonenya sambil menghadap jendela.

“Sampai matipun aku tidak mau!” tegas Hyerim membuat Joohyun menghela napas.

Lalu pandangan gadis Seo itu tearah ke barisan 4 bangku di belakangnya. Tampak Luhan sedang bercengkrama ria bersama Jonghyun dan Yuri. Sesekali ketiganya tertawa. Melihatnya Joohyun merasa pedih karena gadis di sebelahnya merasakan kesepian tanpa hadirnya seorang Luhan, yang dengan mudahnya tertawa riang tanpa Hyerim.

**

Akhirnya rombongan Shinhwa SHS sampai ke tempat tujuan. Tak terasa waktu sudah menunjukan senja hari. Luhan sedang berjalan di sekitar hutan untuk mengambili kayu bakar, beberapa waktu lalu Guru Son menyuruh para murid mengambili kayu bakar untuk pesta api unggun nanti malam. Luhan mendongakan kepala dan menatap takjub hamparan sungai di hadapannya.

“Indah sekali, pasti Hyerim suka tempat ini,” Luhan bergumam sambil tersenyum membayangkan Hyerim memasang raut ceria ketika dirinya mengajak gadis itu ke mari.

Luhan langsung tersadar dan teringat ancaman Myungsoo. Lelaki itu memejamkan mata sesaat dan mendesah frustasi. Sesungguhnya dirinya tak tega membiarkan Hyerim jadi tambah pendiam layaknya saat pertama kali sekolah. Dirinya tak tega melihat gadis itu terus menatapnya sayu. Ingin sekali Luhan bersama dengannya, namun…

Akhirnya Luhan memilih mengambili kayu bakar kembali dibanding memikirkan Hyerim yang malah membuatnya makin tersiksa. Hingga saat sedang larut dengan kegiatannya itu, sebuah suara disertai orang meloncat membuat Luhan terkejut hingga rasanya akan mati.

“YAAA!!!!!!!!” suara teriakan dari perempuan yang meloncat tadi sukses membuat Luhan terlonjak ke belakang dan sebagian kayu bakar yang dipegangnya jatuh. “AHAHAHAHA!” gerak reflek Luhan yang terkejut menimbulkan suara tawa yang mengagetkannya tadi.

Luhan menggerutu dan mengambili kayu bakarnya. Sepasang kaki sudah berdiri tegak di hadapannya yang tak lain pelaku yang mengagetkannya. Luhan pun mendongak dan matanya membulat sempurna saat mengetahui yang mengagetkannya adalah Hyerim.

“Jangan terkejut begitu ahahah,” ujar Hyerim disertai tawa singkatnya. Luhan mengedarkan pandangan ke sekitar takut-takut salah satu dari Infinite melihatnya bersama Hyerim.

“Aku harus pergi…” ucap Luhan langsung berdiri dan berjalan pergi, Hyerim yang menyaksikannya hanya termenung dan menggigit bibir bawah menahan tangis.

“Eh…” seruan gadis Oh itu membunyarkan konsentrasi Luhan. Lelaki itu berbalik lagi dan mendapati Hyerim sedang memeriksa tubuhnya dan lahan tempatnya berpijak seperti mencari sesuatu. “Kalung salibku hilang,” ucapnya yang benar-benar ingin menangis saat ini dan gadis itu mulai berjongkok dan meraba-raba guguran daun di sekitarnya.

“Kalung salib? Memangnya kamu punya?” tanya Luhan karena seingatnya Hyerim tidak pernah memakai kalung seperti itu.

“Itu kalung milik ibu kandungku. Aku jarang memakainya. Aku memakainya disaat merasa kesepian atau takut,” jawab Hyerim tanpa menoleh pada Luhan dan tetap mencari kalungnya. Luhan menatap gadis itu sedih, karena merasa Hyerim sangat kesepian disebabkan olehnya yang mengabaikan gadis itu selama 2 minggu terakhir ini.

“Aku akan mencarinya untukmu, kembalilah ke tenda,” Luhan pun akhirnya memutuskan dan berjalan ke arah Hyerim, lalu menarik gadis itu untuk berdiri.

“Tapi…─”

“Jangan membantahku! Hari mulai gelap, tidak bagus wanita keliaran di hutan malam-malam. Biar aku yang mencarinya dan kamu kembali ke tenda!” Luhan bersikeras sambil mencekal lengan kanan Hyerim dan menatap gadis itu tajam. Dirinya merasa bersalah telah mengabaikan gadis ini selama 2 minggu dan dengan mencarikan kalungnya lah Luhan ingin meminta maaf. Hyerim pun akhirnya memilih menuruti Luhan.

**

Hari makin gelap. Namun Luhan belum juga kembali dan menghampiri Hyerim bila menemukan kalung milik ibunya. Hyerim tampak sedikit khawatir, gadis itu sedang duduk sambil memeluk boneka teddy kesayangannya di tenda tempatnya dan Joohyun tidur.

“Apa dia masih peduli padaku?” gumam Hyerim sambil menatap bonekanya yang berada dalam pelukannya. Gumamannya dimaksudkan untuk Luhan yang bersikeras menyari kalung milik ibunya padahal pria itu mengacanginya selama 2 minggu ini.

“Hyerim!” seruan panik terdengar dengan masuknya dua orang wanita ke tenda Hyerim dengan tidak santainya. Oh Seungah dan Kim Jaekyung, raut keduanya tampak panik sekali membuat Hyerim jadi takut.

“Luhan…. Luhan belum kembali dari hutan sejak sore!” seru Jaekyung membuat Hyerim membulatkan mata.

“Apa?” seru Hyerim. Kedua gadis di depannya mengangguk.

“Kita ingin melaporkan ke Song saem. Tapi lebih baik kamu cari dulu Luhan di hutan, yang terakhir bersamanya kan kamu.” Seungah berucap membuat Hyerim jadi tambah khawatir.

“Hyerim, cepat cari Luhan!” seru Jaekyung. Layaknya robot, Hyerim pun mengangguk dan berdiri.

“Baiklah, kalian laporkan ke Song saem, oke?” Hyerim berucap sebelum pergi. Keduanya mengangguk.

Saat punggung Hyerim menjauh. Seungah serta Jaekyung tersenyum sinis penuh kemenangan. Seungah yang sudah kepalang kesal karena Hyerim memblock jalannya untuk mendekati Myungsoo. Ingin sekali mencelakai gadis itu. Maka dirinya menyuruh Jaekyung mengikuti Hyerim sampai gadis itu mengageti Luhan dan kehilangan kalung salibnya. Jaekyung menceritakannya pada Seungah, membuat gadis itu mendapatkan ide licik.

“Semoga dia tersesat di hutan dan tidak bisa pulang,” ujar Seungah sinis. Jaekyung mengangguk setuju.

“Dan kalau bisa sampai dia mati di hutan,” Jaekyung menambahi.

**

Langit benar-benar sudah gelap. Luhan tampak mengitari daerah tenda-tenda anak sekolahannya untuk mencari Hyerim. Hingga intensinya terfokus pada Joohyun yang sedang bicara serius dengan Song saem, ditemani Victoria dan Changmin. Merasa Joohyun pasti tahu di mana Hyerim, Luhan mendekatinya.

“Yang benar? Hyerim hilang?” seru Victoria membuat mata Luhan membulat dan langkahnya terhenti.

“Iya, tadi aku tinggal dia sebentar di tenda. Saat kembali Hyerim sudah tidak ada. Namun sampai saat ini Hyerim belum kembali. Ponselnya sulit dihubungi,” jelas Joohyun dengan raut khawatir. Luhan pun turut merasa khawatir.

“Dari informasi, ada yang melihat Hyerim berlari ke arah hutan,” ucap Guru Song.

Mendangar hal itu, tanpa pikir dua kali, Luhan langsung bebalik badan dan berjalan dengan langkah lebar menuju hutan. Yang penting adalah menemukan Hyerim saat ini juga.

**

“LUHANNN!!” seruan Hyerim tampak memecahkan malam. Kedua indranya menelisik liar ke seluruh penjuru hutan. Hanya dengan bantuan cahaya layar ponsel dirinya dapat melihat jelas. “Di mana sih pria itu?” gerutunya kesal bercampur frustasi.

Hyerim akhirnya menghela napas, mungkin Luhan sudah kembali ke perkemahan dan sedang mencarinya. “Apa aku kembali saja ya?” ujarnya, karena Hyerim merasa sudah masuk ke pelosok hutan lebih dalam. Suara burung hantu terdengar membuat bulu kuduknya berdiri merinding.

“Ya, lebih baik aku kembali,” gumam Hyerim yang mulai berjalan menuju perkemahan kembali ditemani cahaya ponselnya.

Namun penerangan minim itu tidak membantu sama sekali. Hingga akhirnya Hyerim merasa memijaki tanah yang salah. Tubuhnya perlahan tertarik jatuh ke sebuah kubangan di hadapannya yang membuat dunia Hyerim terasa berputar kala dirinya lenyap bersama gelapnya malam disertai teriakan pilunya.

**

Persetanan dengan hawa dingin, kegelapan, serta binatang malam yang bergerak liar membuat prediksi konyol akan makhluk halus yang lewat. Luhan mengedarkan retinanya ke seluruh penjuru hutan. Binarnya memancarkan kekhawatiran luar biasa. Luhan tak tahu bagian hutan mana yang sekarang ia jamah, karena pikirannya hanya terfokus pada satu nama. Oh Hyerim. Gadis yang dua minggu ini membuat hatinya bak diacak-acak oleh perasaan candu untuk selalu di sampingnya namun tak bisa karena ancaman sialan infinite. Gadis yang membuatnya merasa spesial dengan selalu ingin bersama dengannya dan bersikap hangat saat dengannya. Gadis yang membuatnya dua minggu terakhir merasa bersalah dan mengorbankan diri mencari barang pemberian ibu kandungnya sampai gelap menyapa. Gadis yang membuatnya berlari kembali layaknya orang gila ke hutan.

“OH HYERIM!” teriak Luhan yang menimbulkan efek gema. Hanya suara jangkrik dan burung hantu terdengar sebagai jawaban tersebut, bukan suara riang Hyerim.

Luhan mengacak rambut gusar dan mulai menyerah. Sampai kaki kanannya menginjak sesuatu. Entah apa yang ia injak sangatlah keras. Luhan menurunkan pandangan ke bawah disertai kakinya yang terangkat. Sebuah ponsel dengan layar menyala menampilkan lockscreen wajah gadis yang membuatnya frustasi tingkat dewa saat ini sedang berselfie bersama dirinya.

“Ini…” Luhan menggantungkan kalimatnya seraya mengambil ponsel tersebut. “Ini ponsel Hyerim.” ucapnya kemudian tatapannya melayang ke seluruh penjuru mencari gadis itu yang pasti berada di dekat sini. “Oh Hyerim!” Luhan berseru kembali berharap adanya sahutan.

“Luhan…” suara lirih itu membuat dada Luhan seakan terhantam sesuatu. “Uhuk… di bawah sini,” Hyerim kembali membuka suara.

Mendengar kata di bawah, Luhan langsung menoleh ke bawahnya dan tepat di depannya terdapat sebuah kubangan. Matanya melebar kala menyadari Hyerim terduduk lemas di bawah sana dengan penampilan acak-acakan, wajah gadis itu bahkan tampak pucat. Tanpa berpikir lagi karena sudah kelewat khawatir, Luhan meloncat ke kubangan tersebut dan berjongkok di hadapan Hyerim. Tangannya langsung menarik tangan gadis itu dan memeriksa apakah Hyerim terluka atau tidak, kemudian memeriksa anggota tubuh yang lain. Diperlakukan seperti itu, Hyerim hanya diam.

“Kamu ke mana saja? Aku mencarimu,” ucap Hyerim dengan nada serak. Luhan mengangkat wajah menatapnya dengan bingung.

“Aku tentu di perkemahan dan mencarimu,” ucap Luhan balik.

“Katanya kamu belum kembali dari pertemuan terakhir kita. Katanya kamu hilang, jadi aku…─”

“Kamu benar-benar dungu, aku tadi disuruh Guru Song mencari kayu bakar di hutan sebelah. Bukannya hilang. Malah dirimu yang hilang!” Luhan berkata sambil mendorong dahi Hyerim, gadis itu pun cemburut karena ulahnya.

“Tapi Seungah dan Jaekyung mengatakan kamu hilang. Tanpa pikir dua kali aku lari ke hutan untuk mencarimu!” Hyerim berusaha membela diri, Luhan berdecak mendengarnya.

“Kamu tahu sendiri mereka tidak suka padamu dan mencoba melukaimu,” Luhan berucap membuat Hyerim terdiam dan mengiyakan hal tersebut, kenapa dirinya sangat bodoh?

Luhan tiba-tiba membalikan pungungnya dan berjongkok di hadapan Hyerim. “Naiklah,” ucapnya.

“Eh?” Hyerim kebingungan menatap punggung itu.

“Aku tahu kakimu terkilir, jadi naik sekarang juga dan jangan keras kepala,”

Hyerim tak punya pilihan lain selain naik kepunggung Luhan dan melingkarkan kedua tangannya dileher pria itu. Kepalanya ia taruh dibahu kanan Luhan yang perlahan berdiri dan berjalan menuju perkemahan. Hening menyapa keduanya, hanya langkah kaki Luhan yang terdengar serta suara binatang malam yang lain.

“Apa kamu tidak berat menggendongku?” Hyerim yang jenggah pun bertanya.

“Sebenarnya iya,” jawaban Luhan membuat Hyerim mencibir.

“Dulu aku sering merengek untuk digendong Changmin oppa,” Hyerim tersenyum samar saat mengatakannya, Luhan hanya menanggapinya dengan gumaman. “Dulu hidupku sangatlah sempurna, telahir dari keluarga kaya raya yang harmonis.” Luhan tetap diam mendengarkan saat Hyerim menceritakan masa lalunya.

“Oh Seungah, kamu pasti melihat figura foto yang melihatkan aku akrab dengannya. Dia adalah sahabatku, dulu sekali,”

Bila Luhan tak dapat mengontrol diri, mungkin Hyerim sudah terjatuh dari gendongannya. Jadi keduanya dulu bersahabat? Luhan kira masa lalu Hyerim tidak akan bersangkutan dengan gadis angkuh itu.

“Yang benar?” Luhan meyakinkan dan dirasakannya Hyerim mengangguk pelan.

“Sebelum aku bersahabat dengan Seungah. Aku mempunyai sahabat sekaligus sosok kakak dalam hidupku. Victoria. Kita bertetangga sejak kecil, ayahku dan ayahnya rekan kerja yang memiliki hubungan baik. Kita selalu bersama. Bila ibu marah padaku, aku selalu mengadu padanya dan dirinya pasti menghiburku walaupun diriku yang salah. Bila aku kesepian, aku selalu berlari ke rumahnya dan dirinya akan senang tiasa menerima kehadiranku,” entah perasaan Luhan atau apa, dirinya merasa Hyerim merindukan masa-masanya bersama dengan Victoria.

“Tapi aku lupa satu hal. Hidup itu layaknya roda dan roda selalu berputar. Kadang kala kita di atas dan di bawah. Saat umurku menginjak 9 tahun, ibu pergi. Aku masih terlalu kecil untuk ditinggal dalam usia segitu,” Hyerim bercerita dengan nada bergetar menahan tangis, Luhan sendiri ingin menintikan setetes air mata karena teringat momen saat ayahnya pergi meninggalkan keluarganya.

“Tentu aku menangis seharian dan mogok makan berminggu-minggu. Tapi Victoria selalu di sisiku, menghiburku dan mengatakan bahwa sesulit apapun keadaannya aku harus menerimanya. Ibu akan sedih bila melihatku sedih. Dia juga menambahkan, masih ada dirinya yang bisa menjadi sosok sahabat, kakak, bahkan ibu sekalipun. Aku sungguh beruntung memilikinya saat itu. Seorang kakak yang selalu ada untukku,”

Dan Luhan baru menyadari bahwa Hyerim tidak memanggil Victoria dengan sebutan kakak, namun diakhir kalimat dirinya mengatakan beruntung dengan adanya Victoria dalam hidupnya kala itu. Luhan jadi penasaran, apakah Hyerim tidak menyesal mengabaikan Victoria yang sangat menyayanginya? Tapi dirinya lebih memilih diam, karena tahu Hyerim ingin menumpakahkan seluruh perasaan dalam hatinya setelah semua hal yang Luhan belum ketahui, menimpa gadis manis yang berada digendongannya sekarang.

“Hingga saat aku beranjak SMP. Ayah mengatakan aku akan memiliki ibu baru. Saat itu aku sedikit khawatir, takut ibu tiriku layaknya dicerita Cinderella. Jahat dan suka menyiksaku. Kekhawatiranku bertambah kala calon ibu tiriku datang ke rumah dan mengenalkan putranya yang akan menjadi kakak tiriku. Aku suka cerita Cinderella, tapi tidak mau mengalaminya dalam hidupku,” Luhan tersenyum tipis mendengarnya. “Tapi saat ayah sudah sah menikahi ibu tiriku. Dia ternyata bukanlah sosok yang jahat layaknya ibu tiri Cinderella. Haera umma sosok yang hangat dan penyayang. Termasuk…” Hyerim berhenti berucap, Luhan tahu maksudnya.

“Changmin sunbae,” Luhan lah yang melanjutkan ucapan tertunda Hyerim. Tahu bagaimana sulit dan sakit hatinya gadis itu untuk sekedar menyebutkan nama Changmin.

“Ya, sangking baik dan perhatian. Aku terjatuh dalam pesonanya. Terperangkap dalam perasaan cinta yang salah dan tak tahu harus lari ke mana. Namun, semua pupus kala Changmin mengenal jauh Victoria. Mereka memang dari awal sering mengobrol di depan pagar rumah keluarga Song sampai lupa waktu serta tertawa bersama. Keduanya saling tertarik dalam perasaan asmara. Aku saat itu hanya diam memendam rasa, apalagi kedua orang tuaku dan Victoria menyetujui hubungan keduanya,” Hyerim mencengkam erat bahu Luhan seakan merasakan kembali sakit hati itu. Luhan tahu rasanya, layaknya dirinya mendapatkan kabar Yuri sudah menjalin kasih.

“Sebelumnya, aku sudah mengatakan menyukai Changmin pada Victoria. Dia terkejut dan mengatakan akan berusaha membuat Changmin menyukaiku. Namun dia terlena dan lupa saat makin dekat dengan Changmin. Dia melupakan perasaanku, apalagi saat Changmin membalas perasaannya.” Hyerim tertawa pelan dan malah terdengar seperti meringis sedih. Luhan jadi terluka mendengarnya.

“Kedua orang itu serasa memiliki dunia berdua saat mulai menjalin hubungan. Dari sinilah aku mencari sahabat baru dan datanglah seorang Oh Seungah. Kita bersahabat sangat baik. Namun dirinya memiliki topeng sendiri. Aku dulu hanya anak polos yang lugu. Mau saja disuruh apapun olehnya, ditambah aku pemalu dan tidak terlalu banyak memiliki teman. Dirinya membuatku secara tidak langsung menjadi tukang bully di sekolah, aku lupa bagaimana cara liciknya membuatku terjerumus begitu. Hingga akhirnya satu persatu temanku menjauhiku. Seungah hanya iri padaku yang selalu disanjung oleh teman serta guru. Maka dia berniat menjatuhkan citraku dan itu berhasil,”

Luhan pun akhirnya mengerti kenapa Hyerim dulu mengatakan bahwa orang kaya itu mengerikan. Gadis itu bermaksud pada Oh Seungah. Memang terkadang terlahir dari keluarga serba ada membuat orang sekitar iri dan berniat ingin menjatuhkan. Bila Luhan boleh jujur, Hyerim itu gadis yang cantik dan bila tersenyum layaknya malaikat. Dan Luhan yakin 100%, Hyerim di masa lalu memiliki pribadi yang riang dan membuat semua orang nyaman di dekatnya. Seperti perilaku Hyerim selama di dekatnya, dan jujur Luhan sangat nyaman berada di sisi gadis ini. Karisma yang dimilikinya begitu kuat.

“Aku terpuruk di sekolah. Hingga saat semester akhir di tingkat pertama. Si Sipit itu datang kembali setelah lama belajar di Barcelona. Percayalah, dirinya itu suka pindah-pindah ke luar negri,” Hyerim sedikit mendesis saat mengatakannya. Luhan tahu siapa Si Sipit yang Hyerim maksud dan tak lain itu adalah Myungsoo. “Aku merasa ada seberkas cahaya masuk ke hidupku. Aku mulai bermain dengan Myungsoo dan membuat Victoria serta Changmin juga mulai tidak asik dengan dunia mereka berdua. Kita bertiga yang tak lain aku, Victoria, serta Myungsoo. Memang bersahabat dari dulu, Changmin saat itu menjadi bagian yang baru dalam persahabatan kami.”

Luhan pernah mendengar hal ini dari Jonghyun dan Joohyun. Namun dirinya pura-pura tidak tahu. “Di suatu hari, tak diduga olehku bahwa Myungsoo mengatakan menyukaiku tepat di depan Changmin dan Victoria. Aku bingung karena masih menyukai Changmin. Namun Myungsoo memaksa. Akhirnya karena tak tahan selalu memendam rasa, aku meledakan semuanya dan mengatakan menyukai Changmin…”

“Ketiganya terkejut bukan main. Changmin mengatakan itu salah dan menyebutku harus tahu posisi. Entah kenapa aku sakit hati. Victoria bahkan tidak menanggapiku padahal dia yang paling tahu perasaanku. Ditambah Myungsoo megangguku terus hingga aku hilang kendali dan mendempaknya. Semuanya rumit. Dari situ aku memutuskan menjauhi semuanya. Aku sudah terlalu lama memendam rasa dan hanya mendapat tanggapan kedua pasangan itu makin mesra dan tidak mempedulikanku dengan alasan agar perasaanku terhapus. Aku trauma berteman lagi dengan orang yang berada sepertiku, takut kejadian bersama dengan Seungah muncul kembali,”

Luhan diam seribu bahasa. Cerita gadis ini, kenapa layaknya Cinderella yang berbeda? Ibu tiri dan suadara tirinya menyayanginya, kekayaan yang dimiliki olehnya, serta pangeran tampan yang bersedia bersamanya. Namun Si Cinderella ini mengabaikan semuanya.

“Aku dari dulu selalu kehilangan orang yang kusukai. Ibuku, sahabat dekatku yang berkhianat, bahkan cinta pertamaku. Aku tak ingin kehilangan lagi, aku… merasa… aku akan kehilangan lagi sekarang.” ucapan Hyerim ini menyadarkan Luhan bahwa itu tertuju padanya. Pria itu diam seribu bahasa merasa dirinya jahat untuk meninggalkan gadis ini.

“Kita sampai,” Luhan akhirnya berujar saat mulai memasuki daerah perkemahan. Beribu pasang mata menatap keduanya.

“HYERIM!” teriakan Joohyun di depan tenda Hyerim dan dirinya terdengar. Luhan mulai mendekati tenda tersebut.

“Kumohon jangan jauhi aku lagi,” Hyerim berbisik pelan tepat ditelinga Luhan.

Pria itu pura-pura tidak mendengarkan dan memasuki tenda Hyerim. Ketika sudah berada di dalamnya, Luhan mendudukan tubuh Hyerim perlahan. Luhan berbalik dan tersenyum simpul, tangannya terangkat mengusap pipi kanan Hyerim.

“Maaf telah menjauhimu selama 2 minggu. Maaf,” ucapnya. Luhan berjanji seberapapun rintangannya, dirinya tidak akan menjauhi Hyerim lagi. Sudah banyak yang menimpa gadis itu hingga membutanya menjadi anti sosial. Luhan akan megenggamnya mulai sekarang.

─To Be Countinued─


Hai, hai, hello. Akhirnya ada niatan edit Chapter 7 bahkan lanjutin nulis setelah sekian lamanya LOLOL. Bila kalian ada yang komen dan mengatakan ini kurang panjang aku gantung kalian -_- for me it’s veryyyyy veryyy loooonggg chapter. Dengan 17 halaman dan kait kata 4999 (hanya ceritanya aja) gilak nulis sebanyak itu nanggung banget ya 4999 wkwkwk. Bila dihitung tulisan TBC dan header fanfic ada 5247 words. Tapi karena beberapa faktor, jadi ada kata yang ane tambahin jadi ada kait kata 5000 untuk isi cerita. INI SANGAT PANJANG GAES! AKU TAKUT KALIAN SUNTUK BACANYA ASLI WKWKWK. Mending sambil ngemil enak bacanya ahahaha (sadar woy puasa) dan noh di sini udah aku kasih tau kenapa Hyerim begitu sikapnya. Karena marah memendam rasa serta trauma berteman gara-gara Seungah. Plss bila kalian lupa Seungah nuguyak, baca chapter awal dia yang songong banjur si Hyerim -_- Btw, FF ini adalah post ke 100 ku di blog ini untuk post-postanku saat ini! HORAY 100 POSTS, semoga ini still postan ke 100 mengingat ada postan gak jelas di blog ini yang mungkin bakal ane hapus dan bumi hanguskan :v

Last, selalu kuingatkan untuk mendoakan hubungaku dan Luhan lancar /salah, salah/ -_-v maksudnya selalu kuingatkan untuk RCL. Telimakacih ^^

-with love, HyeKim-
Advertisements

Author:

A tinkerbell who dream to be Luhan's future wendy — Also an amature author, k-drama trash, k-running man freak, eternal ELF, ahjussi and korean actor addict in the same time

42 thoughts on “FF : My Cinderella Chapter 7 [Behind Story of Cinderella]

Write ur Love Letter . . . <3

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s