Posted in AU, Chapter, Comedy, Fanfiction, FF : This Love, PG-15, Romance, Sad

FF : This Love – Chapter 2

ir-req-this-love-21

This Love Chapter 2

©2016 HyeKim’s Fanfiction Story

Starring With : Luhan as Luhan || Hyerim (OC) as Kim Hyerim

Genre : AU, Romance, slight!Sad, a bit Comedy || Lenght : Chapter || Rating : PG-15

Poster By : IRISH @ Poster Channel

Summary :

Ketika 2 pasukan tentara dari negara berbeda disatukan dalam lika-liku hubungan cinta. Keduanya dipertemukan namun jarak yang memisahkan serta restu dari orang tua pun menjadi penghalang. Hanya sepenggal kisah antara Luhan, salah satu pasukan khusus dari China dan Hyerim, seorang dokter tentara dari Korea Selatan. Bagaimana kelanjutan kisah keduanya?

Note :

FF ini terinspirasi dari kisah cinta Yoon Myeong Ju dan Seo Dae Young dari drama korea populer descendant of the sun serta lirik dari soundtrack drama tersebut. Namun dari segi cerita yang ada sudah diubah oleh saya sendiri. Bila ada adegan yang dicetak miring/italic itu menandakan sebuah kilas balik/flashback.

Disclaimer :

This is just work of fiction, the cast(s) are belong to their parents, agency, and God. The same of plot, character, location are just accidentally. This is not meaning for aggravate one of character. I just owner of the plot. If you don’t like it, don’t read/bash. Read this fiction, leave your comment/like. Don’t be plagiat and copy-paste without permission.

HAPPY READING

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║


I don’t wanna lose you

Be without you anymore

No matter what i think, I still don’t know

How can I live without you

I love you, deep inside my heart

Don’t let me cry

[Mad Clown ft. Kim Nayoung – Once Again (ost.Descendant of The Sun)]


Uhuk… uhuk…” Jieun tersedak kacangnya dan kemudian tangannya terangkat untuk memukul-mukul dadanya, sementara Hyerim hanya menatapnya tanpa dosa padahal wanita tersebut sampai tersedak karena perkataannya. “Ya! Kamu ini jangan gila! Mana mungkin kamu bisa ke Urk juga!” pekik Jieun sambil menatap Hyerim tak percaya sementara yang ditatap hanya melipat tangan diatas perut dan mengedikan bahu.

“Siapa yang tahu…” ujar Hyerim membuat Jieun geleng-geleng akan tingkahnya. “Asal kamu tahu, Letnan Oh Jieun. Korea Selatan juga mengirimkan pasukan PBB ke Urk. Ayahku ah tidak maksudku, Komandan Kim sudah menerima laporan dari Kapten tim alpha.” Hyerim mengetuk-ngetuk jari telunjuknya di atas meja dengan raut penuh rencana.

“Jadi kamu akan…” Jieun menggantungkan kalimatnya dengan binar mata penasaran pada Hyerim. Gadis tersebut menatapnya balik dan mengangguk.

“Jadi aku akan ikut ke sana sebagai dokter, bagaimanapun caranya. Dan Kapten Choi bisa kujadikan tameng menghadapi ayahku.” senyum cerah akan idenya tersebut tercetak jelas diparas Hyerim membuat Jieun berdecak-decak.

“Kamu ini benar-benar, ckckck…” decak Jieun sambil geleng-geleng, “Kapten Choi dijadikan kambing hitam,”

“Intinya, tunggu keberangkatanku ke Urk!” seru Hyerim semangat dan kemudian dirinya berdiri dari duduk manisnya serta melepaskan jas dokternya, menyisakan seragam loreng dengan name tag Kim Hyerim kebanggaannya. Detik berlalu, Hyerim melangkahkan kaki keluar ruangannya meninggalkan Jieun yang terus menatapi punggungnya dengan tatapan salut.

“Dirinya benar-benar mencintai lelaki itu,” gumam Jieun kemudian memasukan satu kacang kembali kemulutnya.

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

Rasanya perjalanan dari China ke Urk hanya seperempat jam. Tak terasa Luhan yang berangkat subuh tadi sudah sampai di negara tersebut pada sore hari waktu setempat. Urk adalah negara pesisir dengan jalanan bergunung-gunung, serta warganya merupakan campuran antara ras Kaukasia dan Arab, banyak sekali beragam bangunan kuno bergaya neo-klasik dan gothik. Bisa dibilang negara yang sangat indah. Mobil militer yang membawa pasukan tim delta tersebut berhenti setelah sampai di camp militer. Luhan berserta yang lainnya turun sambil membawa tas punggung dan barang yang lainnya untuk dibawa ke barak.

Huh, panas sekali di sini,” keluhan Yixing terdengar sambil menatap mentari yang beberapa waktu kedepan akan tenggelam.

Dan keluhan Sersan Mayor tersebut disambut prajurit lain yang sudah menggerakan tangan mengipasi diri yang sudah keluar peluh keringat. Dalam hati Luhan menyetujui betapa panasnya negara ini yang bahkan salju turunpun 100 tahun sekali.

“Ayo semua menuju barak!” seruan riang Jackson terdengar, kemudian suara langkah kaki para pasukan tersebut terdengar berisik menuju barak.

Sesampainya di barak, pasukan tersebut menyebar menuju tempat tidur yang akan mereka pilih dan sesekali terjadi perdebatan kecil. Luhan hanya tersenyum tipis dan geleng-geleng kepala, dirinya pun sudah mendapatkan tempat tidur tepat di tengah-tengah. Dibukalah oleh Luhan lemari besi miliknya dan dimulailah penataan barang miliknya di lemari tersebut.

“Kapten Lu,” tiba-tiba sebuah suara menyapa telinga Luhan yang sedang memasukan barang terakhirnya ke lemari, sekon mendatang Luhan menoleh ke arah anggotanya tersebut.

“Ada apa?” tanya Luhan yang lalu menutup lemarinya.

Si Anggotapun menyodorkan surat kepada Luhan yang kemudian menerimanya dengan alis menyatu bingung diiringi fokus penuh pada surat tersebut. “Surat tersebut datang dari Seoul dan sepertinya sudah dikirim dari kemarin malam dengan perangko kilat.” lapor Si Prajurit.

Seketika Luhan menegang mendengar kata Seoul. Kepalanya pun terangkat, lalu Luhan pun mengulum senyum walau kentara kaku kepada anggotanya tersebut yang masih berdiri tegap di depannya. “Terimakasih,” ujar Luhan.

“Ya, Kapten. Hormat.” balas Si Prajurit diakhiri tangan terangkat untuk hormat, kemudian mengundurkan diri dari sana.

Sepeninggalan anggotanya, Luhan memandangi surat beramplop putih tersebut dan dibalik-balikan olehnya. Setelah merasa bisa mengontrol diri, Luhan menghembuskan napas dan membuka amplop tersebut serta menarik isinya keluar. Dirinya pun membuka perlahan lipatan demi lipatan kertas tersebut, hingga netranya pun disuguhkan deretan hanggul yang Hyerim torehkan dengan rapi dan kemudian dibaca olehnya seksama.

‘Untuk Luhanku yang sudah berada di Urk.

Hallo Kapten. Kamu sekarang sudah sah menjadi kaptenkan? Ahahaha, selamat atas naiknya pangkatmu itu. Pasti kamu terkejutkan dengan suratku yang langsung datang di hari pertamamu di Urk? Ya memang aku sengaja mengirimkannya langsung malam ini sebelum subuhnya kamu berangkat dengan perangko kilat pula.

Ketika kamu membaca ini, kuharap keadaanmu sehat-sehat saja dan tidak mendadak sakit karena syok mendapatkan surat dariku. Meskipun jarak diantara kita makin terkikis, kuharap rasa cinta ini masih sama. Naegen yeongwonhangeoryo,  ajik geudae soksanghan mame nal jugeum miwohado gwaenchanhayo amu pyohyeondo piryo eopjyo (kau akan selamanya ada untukku, tidak mengapa bila hatimu masih merasa jengkel dan sedikit membenciku)

Haru tto haru na saragadaga (hari demi hari aku menjalani hidupku), aku pun semakin merindukanmu. Aku merasa menyesal dulu tidak megenggammu erat hingga kita berpisah dengan tembok pertentangan serta jarak seperti ini. Dan maafkan aku yang masih setia megenggammu padahal dirimu jelas menyentakku pergi.

Siganeul doedollimyeon…. (jika waktu kembali) akankah kita bisa bersatu lagi? Akankah kita sekarang bisa tersenyum lebar karena terus bersama? Mianhae, neol himdeulge haettgo (Maafkan aku, aku membuatmu lelah)

Aku harap ini surat pertama dan terakhirku untuk menyapamu dalam jarak yang jauh seperti sekarang. Aku ingin bersama denganmu bagaimanapun caranya. Bila memang tembok penghalang karena seragam kita, restu ayahku dan juga jarak yang ada tidak bisa diruntuhkan. Setidaknya percayalah pada Tuhan yang bisa menyatukan kita. Kuharap diriNya mempertemukan kita adalah untuk disatukan. Sekali lagi maaf bila cintaku membebanimu serta membuatmu lelah.

Eonjega uliga dashi hamkke hal geosirago midgo, yuilhan sarangeun nareul haengbokhage mandeulsu. (percayalah suatu hari kita bisa bersama lagi, hanya cintamu yang bisa membuatku bahagia)

Yeongwonhi neorul saengil igasumman pumgo sara galkkoya, nan neol saranghae jeosonghabnida (Aku akan hidup selamanya denganmu dihatiku, maaf jika aku mencintaimu)

Saraenghae, johahae, bogoshipoeo. Imal hatjima, arrachi? (Aku mencintaimu, aku menyukaimu, aku merindukanmu. Jangan lupakan perkataanku ini, oke?)

With love,

Kekasih atau mungkin mantan kekasihmu, Kim Hyerim’

Luhan pun mulai melipat kembali surat tersebut ketika selesai membacanya. Bayang-bayang sosok Hyerim yang duduk di hadapan meja belajarnya dengan balutan dress putih selutut dan sedang menuliskan surat ini, terbayang-bayang oleh Luhan sedaritadi dirinya membaca surat tersebut. Hyerim meminta maaf karena dirinya mencintai Luhan membuat rahang pria itu mengeras sekarang. Malahan Luhan lah yang merasa bersalah membuat Hyerim mencintainya dan begitupun sebaliknya yaitu membuat dirinya jatuh cinta pada Hyerim. Dicekal erat oleh Luhan kertas tersebut disertai pandangan matanya yang sayu. Keberuntungannya adalah di barak hanya tersisa dirinya, maka tak akan ada yang menanyakan perihal Luhan yang mendadak mental breakdown seperti sekarang.

“Maaf telah membuatmu jatuh cinta padaku,” gumam Luhan sambil menatap dalam kertas surat dari Hyerim yang sudah setengah lusuh karena diremas olehnya.

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

“Aduh, ke camp militer sebelah mana ya?” gumaman terlontar dari bibir ranum milik Wu Lian yang sedang mengelilingi tempat dirinya bersinggah selama menjadi relawan.

Lian memiliki janji untuk bertemu Yixing maupun Luhan setelah dirinya sampai di Urk. Karena para relawan berangkat 2 jam setelah para pasukan khusus. Tempat mereka bertiga singgahpun tidak berjauhan. Diedarkan oleh Lian pandangannya ke sana-ke mari hingga fokus matanya untuk berjalan tak terkendalikan. Sampai finalnya adalah gadis Wu tersebut menabrak badan kekar seseorang.

“Ahhh… I’m sorry, sir. I’m so…” ketika kepalanya terangkat, iris Lian langsung disuguhi perawakan lelaki berseragam militer Korea Selatan─dirinya tahu karena jelas dibahu lengan baju lelaki tersebut tertera tulisan ‘Republic of Korea’.

Lelaki yang sukses membuat Lian ternganga hanya melempar senyum karena sedang berteleponan melalui ponselnya, “Kamu memang gila,” ujar Si Lelaki pada ponselnya kemudian dirinya menurunkan sedikit ponselnya dan berujar, “Maaf,” dan hal tersebut tertuju pada Lian yang masih setia bengong akan pesona Choi Minho─namanya tersebut tertera jelas diname tag seragamnya.

Minho pun berlalu dengan kepala menunduk. Lian menggerakan kepalanya mengikuti arah Minho pergi dan terus memperhatikan punggung lelaki itu. Kepalanya tergerak bergantian memiring ke kanan dan ke kiri, layaknya orang mabuk cinta melihat Sang Pujaan Hati.

“Lian, kenapa kamu bisa masuk ke camp Korea Selatan?” suara lain menyentil indra Lian yang tak lain suara tersebut milik Hwang Meilin. “Wu kenapa denganmu?” tanya Meilin sambil menoel-noel rekannya tersebut. Lian tak berkutik selain tubuhnya yang bergoyang karena disentuh Meilin.

“Ternyata benar ya, lelaki Korea itu pesonanya sangat-sangat membius. Song Joongki, Lee Jongsuk, Hyunbin. Mereka semua tampan termasuk lelaki Korea biasa. Ya ampun! Beruntung sekali camp negara kita dekat camp  militer Korea Selatan. Aahhh, aku bahagia,” ujar Lian dengan nada antusias dan fokus mata terarah ke tempat Minho terakhir menghilang. Tangan Lian terangkat megenggam tangan Meilin dan menggoyang-goyangkannya membuat rekannya itu menatapnya ngeri.

“Dia salah minum obat atau bagaimana?” gumam Meilin dengan raut ngeri yang masih terpatri jelas. Lian yang sibuk mengedarkan pandangan mencari Minho, tentu tidak mendengar gumamam gadis Hwang tersebut.

Sementara di sisi lain, Choi Minho tampak masih beradu argumen dengan orang yang bertelepon dengannya. Disenderkan oleh Minho punggungnya ke tembok bangunan kantin dan tangan yang tidak memegang ponsel dibiarkan olehnya dimasukan ke saku celana. Wajahnya kelewat frustasi menangani letnan kepala batu yang pernah ia jumpai yang sejak lahir diberi nama Kim Hyerim.

“Ayolah, Kapten Choi Minho. Bilang pada ayahku kamu dan aku memutuskan untuk lebih dekat makanya ingin bersama-sama bekerja di Urk. Ayahku pasti mau mendengarkan menantu kesayangannya ini.” Hyerim tetap bersikukuh membuat Minho memejamkan mata sejenak dan menghela napas.

“Asal kamu tahu, pasti ayahmu mengetahui adanya pasukan PBB China di sini. Bahkan camp militer kita bersebelahan karena tidak ada tempat lagi. Sangat-sangat dekat asal kamu tahu,” Minho pun sama tetap bersikukuh.

“KAPTEN JAHAT! SUNGGUH JAHAT! JAHAT! JAHAT! KATANYA AKAN MEMBANTU PERCINTAANKU! TAPI APA?! JAHATTTT!” strategi kedua Hyerim terpakai dengan membombardir telinga Minho oleh teriakan dahysatnya yang sukses membuat Kapten Choi tersebut menjauhkan ponselnya dari telinganya dan memasang raut tersiksa sebelum menempelkan kembali ponselnya.

“Ya, ya. Aku memang akan membantu percintaanmu karena aku tidak mau dijodohkan olehmu. Tapi bila begini, ayahmu malah curiga,” Minho memberikan pengertian dan tanpa sepengetahuannya, Hyerim sudah cemberut di sebrang sana.

“Makanya berusaha atau aku akan nekad! Selesai!”

‘Pip!’

Minho mendesah frustasi sambil menatapi layar ponselnya geram, tak percaya bahwa Hyerim melebihi kepala batu. Dirinya mengantongi ponselnya di saku celananya. Kemudian Minho melipat tangan didepan dada seraya berpikir untuk membuat ayah Hyerim mempercayai alasan putrinya yang murni ke Urk karena adanya Minho. Karena Minho tahu betul watak Hyerim yang nekad dan tahu-tahu besok gadis itu sudah ada di Urk serta menyapanya riang. Namun seketika perhatiannya bunyar lantaran teringat wanita yang ia tabrak tadi, yang memasang ekspresi bengong saat melihatnya.

“Siapa kira-kira wanita tadi?” gumam Minho yang kemudian tersenyum lebar mengingat Si Wanita.

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

Luhan tersenyum lebar memperhatikan para anggotanya berlari pagi dengan bagian tubuh atasnya terekspos. Ditangan kanan Luhan terdapat sebuah batu kerikil yang ia lempar-tangkap untuk menemani rasa bosannya mengawasi para anggotanya yang bangga menyerukan lagu militer.

“Wolf menuju deer boss, wolf menuju deer boss,

Suara dari walkie talkie milik Luhan terdengar, membuat Si Kapten yang sedang bersender di pagar terperanjat dan melempar kerikilnya untuk mengambil alat tersebut yang terus menyerukan kode namanya dipanggil, “Ya di sini, over,” sahut Luhan sambil menjauhkan sedikit walkie talkie dari mulutnya untuk mendengar sahutan dari wolf yang tak lain kode panggilan Yixing.

“Ada paket untukmu dan bisa diambil di kantin, over,”

Mendengar ada paket untuknya membuat Luhan mengerutkan kening bingung, karena tak mungkin ibunya mengirim paket tanpa memberitahu terlebih dahulu. “Aku akan ke sana,” jawab Luhan dan mesampirkan walkie talkienya diikat pinggang khusus militernya. “Perhatian, pasukan!” Luhan pun berseru lantang membuat para anggotanya berhenti berlari dan berbaris di hadapan Luhan.

“Ya, siap Kapten.”

Para anggotanya menyahut setelah berbaris rapi dan istirahat di tempat, “Pemanasannya sudah cukup. Kalian boleh bubar sekarang. Bubar jalan!” perintah Luhan.

“Siap!” balas para anggota dengan badan kekar tersebut lalu melakukan penghormatan sebelum balik kanan dan bubar jalan.

Setelah itu, Luhan menggeret langkah menuju kantin masih dengan pemikiran siapa gerangan pengirim paketnya itu. Sangking larut dan penasarannya, tak terasa Luhan sudah sampai di kantin. Tanpa babibu lagi, Luhan mengiring tubuhnya masuk ke dalam dan langsung menghampiri Yixing yang sedang berdiri di depan meja panjang yang terdapat di kantin sambil memperhatikan satu kotak panjang dengan tatapan penasaran.

“Oh kapten. Hormat,” ujar Yixing yang langsung menegapkan badannya dan melakukan penghormatan.

Luhan berdecak dan geleng-geleng, “Tak usah seperti itu bila kita berdua. Aneh sekali dirimu,” decak Luhan membuat Yixing menyengir tidak jelas.

Luhan pun makin mendekat ke meja dan memperhatikan kotak paket tersebut, dapat dilihat Yixing memperhatikan dari samping dengan raut penasaran. Mulai dibolak-baliklah oleh Luhan kotak tersebut hingga ditemukan tulisan spidol berwarna merah yang bertajuk; ‘From: Hyerim, to: Luhan’. Seketika Luhan meremas pelan ujung kotak tersebut ketika mengetahui siapa gerangan pengirimnya. Yixing hanya menampilkan raut antusias dan terkejut yang tercampur diiringi mulut terbuka lebar.

“Kamu sudah tahu ini darinya?” tanya Luhan tanpa menatap Yixing yang langsung menggeleng.

“Aku penasaran namun tak baik mengotak-atik paket orang lain,” jawab Yixing dan Luhan tak menanggapinya serta pandangannya pun terjatuh pada kotak tersebut.

Pertama, Luhan menghela napasnya untuk mengontrol diri kembali. Kedua, tangannya pun mulai bergerak menjelajahi kotak tersebut untuk dibuka dan Yixing yang di sebelahnya pun makin antusias. Lalu terlihatlah beberapa barang yang membuat Yixing maupun Luhan mengernyit bingung. Namun hal tersebut bersifat sementara bagi Luhan yang langsung mengerti maksud banyaknya barang-barang tersebut.

“Ini untuk Sersan Wang, ini untuk Sersan Wu, dan juga ini untuk Jackson, lalu Sersan Han.” Luhan bergumam sambil mengeluarkan barang tersebut yang Hyerim berikan untuk beberapa anggotanya yang gadis itu ketahui melalui Yixing yang suka cerita apapun semasa keduanya sekolah di Korea.

“Buatku? Mana buatku?” tanya Yixing semangat sambil menununjuk-nunjuk dirinya dengan telunjuk. Luhan tersenyum miring dan memberikan Yixing kotak paket yang sudah cacat tersebut membuat ekspresi Yixing berubah tak percaya dan menggerutu, “Aih yang benar saja Hyerim. Padahal setiap hari bahkan waktu, aku mengirim line padanya tentang kegiatan, kabar, bahkan apa yang sedang kamu lakukan.”

Dan Luhan hanya tertawa tanpa suara melihat Yixing berdumel kesal dengan bibir bergerak-gerak lucu. Lalu intensi Luhan tersita oleh surat yang ia dapat dari paket tersebut, dibacalah oleh Luhan deretan tulisan tangan Hyerim itu. “Eh tunggu, kamu juga orang yang Hyerim sayangi malah tidak dapat apapun,” gumam Yixing sambil satu tangannya berkacak pinggang dan menatap Luhan dengan kepala sedikit miring ke kanan karena bingung.

Luhan yang sedaritadi layaknya patung lantaran membaca surat dari Hyerim, menurunkan perlahan tangannya dan menengok kepada Yixing yang masih setia memiringkan kepala menatapnya dengan tanda tanya, “Kamu masih bisa Korea bukan? Bacalah,” suruh Luhan sambil memberikan surat tersebut pada Yixing yang langsung menariknya untuk dibaca karena penasaran.

“Sudahkan menerima paketnya? Iya, ini hadiah untuk anggotamu dan termasuk Yixing yang diberi kotaknya saja, ahahaha…” Yixing membaca baris pertama dan wajahnya langsung ditekuk dan begitupula bibirnya. “Dasar sialan kau Kim Hyerim!” umpat Yixing membuat Luhan tersenyum menahan tawa, kemudian lelaki Zhang tersebut kembali membaca, “Kamu pasti bingung karena tidak dapat hadiah, ya? Hadiahmu akan segera datang!” Yixing menautkan alis bingung sambil menatapi emot wajah tersipu yang Hyerim gambar dipenutup surat. “Maksudnya hadiahmu dikirim susulan begitu agar terasa khusus?” dilayangkan pertanyaan oleh Yixing sambil menatap Luhan.

“Isi otakmu udang, ya?” kata Luhan dengan tatapan datar membuat Yixing memasang raut tak terima, “Hyerim akan datang, kesimpulannya begitu,” ucap Luhan dan langsung buang muka dari Yixing. Air wajahnya terlihat kosong tanpa ada kesenangan ataupun kesedihan. Raut Yixing sudah terpatri dengan air wajah terkejut.

“Bagaimana…mungkin?” kata Yixing sedikit tersendat sambil melirik kembali isi surat Hyerim yang mengarah pada gadis jelita tersebut akan ke Urk.

“Dia gadis ternekad dan terberani yang pernah aku temui,” sahut Luhan masih dengan air wajah blank miliknya.

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

“Tanggal 19 Maret 2016. Letnan Kim Hyerim diperintahkan bertugas di Urk. Laporan selesai, hormat.” Hyerim melapor dengan wajah sumringah dan senyum tercetak jelas dicurva bibirnya, akhir laporannya tak jauh berbeda dengan tangan terangkat untuk hormat meskipun melapor pada ayahnya sendiri.

Sang Ayah tampak memperhatikan wajah Sang Putri yang sedang istirahat di tempat, sangat dalam. Sebelum akhirnya berucap, “Kamu yakin akan ke Urk?”

“Ya, siap. Saya yakin,” jawab Hyerim sambil menggerakan tangan untuk bersikap tegap kemudian kembali istirahat di tempat.

Komandan pun menghela napas sesaat dan mengangguk, “Baiklah, jaga kesehatan dan kembalilah dengan selamat. Jangan melakukan hal yang nekad. Komandan batalion dan Kapten Choi terus mengawasimu.” begitulah pesan Kim Jaehyun pada Hyerim sebagai atasan serta ayah.

Hyerim ingin sekali tersenyum lebar namun sebisa mungkin ditahannya, dirinya menggerakan tangan untuk bersikap tegap dan menjawab, “Siap, Komandan.” kemudian tangannya pun terangkat untuk hormat dan dibalas oleh Sang Ayah.

“Luhan, aku datang,” gumam Hyerim dalam hati.

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

Tunggu sebentar lagi aku turun

Luhan memandangi ponselnya sambil tersenyum dan memasukannya ke saku celananya. Pandangannya pun terangkat menatap appartement di depannya. Hingga sosok Hyerim dengan coat warna coklatnya muncul, gadis itu langsung keluar appartement dengan berlari kemudian memeluk tubuh Luhan yang tersenyum menyambut pelukannya.

“Kita kencan ke mana sekarang?” tanya Hyerim sambil melonggarkan pelukannya dan menatap Luhan.

“Tidak ke mana-mana,” jawab Luhan membuat Hyerim memasang raut tak percaya.

“Yang benar saja. Kukira ke Sungai Han. Ya sudah, aku tidak mau pergi denganmu!” Hyerim menjauhkan diri dari Luhan dan melangkah pergi dengan raut kesal. Luhan yang melihatnya tersenyum geli menatapi punggung Hyerim, lalu dirinya berlari menuju gadisnya dan merangkul bahunya. “Apa?” tanya Hyerim ketus sambil menatap Luhan jengkel.

“Tentu kita ke Sungai Han, ayo

“Hujan!” potong Hyerim karena rintik hujan mulai membasahi bumi. Keduanya menatap langit dengan raut kecewa dan kesal.

“Karena bila saling memakai jas melindungi satu sama lain terlalu sering. Bagaimana bila kita basah-basahan menuju Sungai Han. Tentara tidak peduli mau hujan ataupun tidak.” Luhan berkata sambil melirik Hyerim dengan senyumannya. Gadisnya itu balas tersenyum dan mengangguk. Keduanya saling memeluk pinggang satu sama lain dan berjalan bersama walau hujan mengguyur tubuh keduanya yang saling berdempetan menghiraukan tetesan air hujan.

.

.

.

Luhan termenung di tempat tidurnya dengan posisi menyamping. Kenangannya dengan Hyerim terlintas begitu saja dalam benaknya. Senyum tipis terukir diwajahnya yang kemudian tangannya bergerak untuk ia timpa di bawah kepalanya seakan menjadi bantal. Bayangan Hyerim terus terngiang dikepalanya.

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

“Kajja uri heojija (ayo kita putus).” Luhan melontarkan kata tersebut dengan pandangan kosong sementara Hyerim sudah menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

“Nongdamhajima (jangan bercanda),” ujar Hyerim sambil memukul bahu Luhan dengan tangan kanannya. Namun lelaki itu hanya bergeming dengan raut kosongnya sementara air mata Hyerim sudah menetes. “Jangan permainkan aku begini! Kenapa kamu jahat sekali?!” isak Hyerim sambil terus memukul bahu Luhan.

“Maaf. Kita memang tidak seharusnya jatuh cinta ataupun bersama. Seragam kita…” Luhan menggantungkan kalimatnya karena tak sanggup berucap.

“Seragam hanya seragam! Beda lagi dengan cinta! Kenapa kamu begini? Harusnya dari awal kamu tidak membuatku menginginkanmu, harusnya kamu tidak jatuh cinta juga padaku, harusnya…” isak tangis dan pukulan pelan Hyerim dibahu Luhan terhenti ketika lelaki itu menarik tangan kanannya yang memukulnya hingga tubuh Hyerim tertarik ke arah Luhan, dan langsung saja Luhan mencium bibir Hyerim ketika gadisnya itu masih setia menintikan air matanya.

.

.

.

Hyerim yang sedang tertidur dengan posisi menyamping, mengigit bibir bawahnya keras menahan tangis bahkan serpainya ia remas kuat karena mengingat sepenggal kenangan yang menyakitkan dalam hidupnya. Subuh nanti dirinya akan berangkat ke tempat di mana Luhan berpijak saat ini. Namun kenangan menyakitkan keduanya malah hadir sebelum Hyerim menjelajahi bunga tidurnya. Air matanya pun perlahan turun dipipinya.

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

Pagi di kota Urk kembali menyapa Luhan. Seperti biasanya, Luhan memantau para anggotanya yang sedang melakukan lari pagi sambil memamerkan lekuk tubuh sempurna mereka. Hingga netra Luhan menangkap Lian serta Meilin yang memperhatikan anggotanya dari balik pagar. Luhan terkekeh sebentar melihat tampang takjub kedua gadis tersebut sebelum akhirnya menghampiri keduanya.

“Pemandangan indah dipagi hari bukan?” ujar Luhan membuat Lian meliriknya sekilas masih dengan tampang takjubnya.

“Badan mereka semua sempurna,” gumam Meilin membuat Luhan terkekeh tanpa suara.

“Iya, iya. Beda sekali dengan kaptennya,” sahut Lian dan sahutannya ini  membuat Luhan memandangnya jengkel.

“Heh! Aku ini punya badan yang lebih bagus dari mereka semua tahu!” seru Luhan sambil menatap tajam Lian serta berkacak pinggang di hadapan gadis Wu tersebut.

Pandangan Lian untuk melihat para anggota Luhan pun terhalangi, dirinya pun mengibas-ngibaskan tangan agar Luhan menyingkir sambil berjinjit dan mendongakan kepala agar objek yang ia tuju tertangkap ujung matanya. Luhan pun malas menyingkir apalagi dirinya diabaikan oleh Lian membuat Luhan mencibir dengan kesalnya. Tahu-tahu datanglah sosok Yixing yang berlari dan terengah menuju Luhan.

“Kapten!” seruan Yixing terdengar diakhiri pula aksi larinya sambil memegang lutut dan napas terengah.

Luhan menatapnya heran dan bertanya, “Ada apa?”

Yixing mengatur napas sejenak dan menegakan tubuhnya walau tak sepenuhnya tegak. Satu tangannya memegang pinggangnya lantaran pegal. Ternyata intensi Lian dan Meilin juga tertuju pada Yixing lantaran aksinya tersebut.

“Hyerim… datang….” kata Yixing dengan napas putus-putus.

Mendengar hal tersebut membuat seluruh organ Luhan serasa kaku. Sementara Lian membuka mulut lebar dan antusias akan Hyerim yang ada di tempat yang sama dengan Luhan, di sebelahnya, Meilin tampak menatapnya heran. Seketika Luhan mengangkat kepalanya menuju objek di belakang Lian yang mana sedikit terlihat pemandangan camp Korea Selatan. Ya, di sana, tepat di deretan tenda yang berjajar rapi. Dan di dekat salah satu tenda berdirilah sosok Kim Hyerim yang memakai setelan seragamnya dengan jas dokter. Rambut gadis jelita yang telah menyita perhatian Luhan itu, tertiup angin dan membiarkan rambut tersebut berkibar serta sebagiannya menutupi wajah jelitanya. Hingga angin pun berhenti diiringi rambut Hyerim yang perlahan berhenti berkibar, detik itu juga wajah Sang Gadis terlihat jelas. Iris mata yang Luhan selalu kagumi itu bersibobrok dengan iris mata miliknya. Luhan dan Hyerim hanya saling pandang dengan jarak yang ada.

─To Be Continued─


AMSYONG! KUBAPER KEMBALI SAMA DOTS KARENA BACKSOUND CHAPTER INI TUH LAGU MAD CLOWN FT KIM NAYOUNG – ONCE AGAIN. My kokoro rasanya mengenang kembali DOTS T^T

Ya akhirnya bisa publish chapter 2nya walau gak sepanjang chapter 1 (bikaus kalo gak di TBCin lanjutannya akan panjang dan chapter 3 malah nyeleneh ke mana-mana ntar) semoga aja kalian puas ya. Hyerim sama Luhan sudah bertemu lagi cieee, tatapan cieee….

Sepertinya akan ada yang CLBK dari bau-baunya :v atau malah Luhan mau tetep sok jual mahal sama Hyerim? Ya entahlah ya XD

Aku draftin chapter ini ditengah laptopku yang sedang diservice dan aku make laptop bapake untuk buka google doc (iya mulai sekarang ane nyimpen file di sono, jaga-jaga bila laptop lag -_- )

Oh ya btw, chapter kedepan akan banyak penggunaan bahasa inggris untuk kebutuhan FF ini juga. Bukan niat sok-sokan -__-v tapi saran mending aku kasih serta translatenya atau gak? Biar enak gitu XD

Sepertinya banyak sekali utang FFku jadi aku coba handle untuk memposting This Love yang ketulisnya sudah kelewat jauh. Ya aku sengaja publish This Love disaat ceritanya sudah ditulis menuju final, malah tadinya mau dipublish saat semuanya clear. Tapi sayang feelku sedang melayang ke FF lain LOL. Tapi walau gitu aku gak mungkin update This Love perminggu, karena apa? Bagiku gak akan membekas kalo cepet-cepet berakhir hohohoho.

Ya intinya RCLnya jangan lupa guys ❤

P.S : Tadinya mau post jumat eh karena samting jadi kuundur

-Luhan’s Future Wendy, HyeKim-

Advertisements

Author:

A tinkerbell who dream to be Luhan's future wendy — Also an amature author, k-drama trash, k-running man freak, eternal ELF, ahjussi and korean actor addict in the same time

24 thoughts on “FF : This Love – Chapter 2

Write ur Love Letter . . . <3

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s