Posted in Chapter, Comedy, Fanfiction, FF : My Cinderella, Friendship, PG-15, Romance, School Life

FF : My Cinderella Chapter 12 [Is It Will Be Happily Ever After? – END]

mycinderellaend.png

My Cinderella Chapter 12 [Pre-Final]

└ Is It Will Be Happily Ever After? ┘

©2016 HyeKim’s Fanfiction Story

Starring With : Hyerim (OC) as Oh Hyerim || Luhan as Xi Luhan || Victoria f(x) as Victoria Song  || Changmin TVXQ as Shim Changmin || Yuri SNSD as Kwon Yuri || L INFINITE as Kim Myungsoo

Genre : Romance, Comedy, School life, Friendship || Rating : PG-15 || Lenght : Multi Chapter

Summary :

Bagi Luhan, Hyerim adalah Cinderella dalam hidupnya. Cinderella yang terlahir dari keluarga berada, mempunyai ibu dan sudara tiri yang menyayanginya. Tapi, Sang Cinderella merasa kesepian. Apakah bisa perbedaan antara Luhan dan Hyerim menyatukan keduanya dalam hubungan cinta?

Disclaimer :

This is just work of fiction, the cast(s) are belong to their parents, agency, and God. The same of plot, character, location are just accidentally. This is not meaning for aggravate one of character. I just owner of the plot. If you don’t like it, don’t read/bash. Read this fiction, leave your comment/like. Don’t be plagiat and copy-paste without premission.


“Apakah ini akan berakhir happy ending?”


PREVIOUS :

Teaser || Chapter 1 [The Rich Girl] ||  Chapter 2 [Be Her (boy)friend] || Chapter 3 [I’ll Protect you] || Chapter 4 [What’s Wrong With Her?]  || Chapter 5 [Perfect Guy For Her] || Chapter 6 [Love and Friendship] || Chapter 7 [Behind Story of Cinderella] || Chapter 8 [Sound of Heart] || Chapter 9 [Who Will You Choose?] || Chapter 10 [All With You] || Chapter 11 [A Twist in Time]

HAPPY READING

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

Pandangan mata Victoria masih membulat terkejut begitupula Myungsoo yang masih memandang kosong isi ruang tunggu tersebut. Sosok Hyerim tidak ada sama sekali di sana. Hyerim menghilang atau mungkin dirinya memilih… kabur?

“Paman Jung! Hyerim kabur!” teriak Myungsoo pada akhirnya sambil melirik asisten pribadinya dengan pandangan kalut. “Hyerim kabur! Cepat cari dirinya!” Myungsoo berteriak kembali.

Asistennya itu tampak membungkuk patuh kemudian berjalan meninggalkan Myungsoo untuk mengutus orang mencari Hyerim. Myungsoo menggerakan kepala ke kanan dan ke kiri dengan raut syoknya dan bola mata bergerak liar dan Victoria yang berada di dekatnya pun menatapnya khawatir sambil menggigit bibir bawahnya.

“Myung… apakah Hyerim sudah…”

“Ingatannya kembali! Pasti dia mencari Luhan!” potong Myungsoo segera dan dengan napas menderu serta tatapan marah juga muka yang tak kalah marahnya, Myungsoo berjalan tergesa dari sana dan Victoria hanya memandang punggungnya lekat.

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

Dalam larinya sambil mengangkat gaunnya, berulang kali Hyerim menoleh ke belakang dengan raut waspada bila ada saja beberapa orang yang menyadari kaburnya dirinya lalu mengerjarnya. Dengan keripuhannya, Hyerim terus berlari kencang menuju tempat tujuannya. Ya memorinya yang hilang sudah mulai tersusun rapi dalam otaknya.

.

.

.

“Yoonra-ya?” ucap Hyerim dengan pandangan kosong pada gadis kecil di hadapannya.

Yoonra, gadis kecil tersebut, mengangguk dengan senyum tipisnya. Dirinya bahagia ketika Hyerim mengingatnya. “Hyerim unni… apakah dirimu mengingat Luhan oppa?”

Napas Hyerim mulai tak teratur dengan memori yang mulai berlarian diotaknya. Luhan, Luhan… matanya terpejam membiarkan sekelabat memori akan pria itu makin banyak bermunculan. Sosok Luhan yang mengelus rambutnya, sosok Luhan yang memeluknya, sosok Luhan yang menggendongnya, sosok Luhan yang menenangkannya, sosok Luhan yang memarahi kecerobohannya, sosok Luhan yang dengan sabar mengajarinya soal pelajaran yang sulit, sosok Luhan yang… menciumnya dibawah turunnya salju pertama tahun ini. Mata Hyerim terbuka dengan raut syoknya itu, bayangan diotaknya benar-benar nyata, dirinya… mengingat Luhannya. Seketika obsidian Hyerim kembali menatap Yoonra dengan napas tersenggal, gadis itu menyunggingkan senyum karena tahu Hyerim kembali mengingat panutan hatinya yang tak lain kakaknya.

“Unni ingat kakakku?” tanya Yoonra memastikan, perlahan Hyerim mengangguk pelan. “Unni ingat siapa yang unni cintai sebenarnya?” kembali Hyerim mengangguk dengan mata mulai berkaca-kaca. “Apakah unni masih mencintai Luhan oppa?” tanpa ragu Hyerim mengangguk dengan setetes air mata yang mulai turun.

“Luhan…” dengan suara serak Hyerim menyuaran nama lelaki tersebut. “… di mana dia?” lanjut Hyerim dengan bola mata bergerak-gerak ke seluruh penjuru.

Senyum terpatri dibibir Yoonra, lalu dirinya berkata dengan muka serta nada tenang. “Jika kau sudah mengingat semuanya, dirimu pasti tahu di mana rumahku.”

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

“Jika tak sanggup, tak usah memaksakan diri.” Yuri berkata demikian pada Luhan yang sedang membenarkan dasi kupu-kupu untuk tuxedonya. Sorot mata pria tersebut tampak lesu tak bergairah sama sekali, kemudian Luhan menunduk seraya mengeluarkan napasnya berat.

“Aku ingin datang, nuna. Aku ingin melihatnya yang pasti sangat cantik malam  ini,” ucap Luhan dengan pandangan menerawang ke bawah.

Senyum tipis Yuri lihatkan tatkala Luhan mengatakan hal barusan. Bukan hanya Luhan yang bersedih karena dirinya tidak bisa bersama Hyerim, tapi Yohyun dan Yoonra pun juga sedih akan hal tersebut. Bahkan Yohyun, ibu Luhan, daritadi berada di kamar ketika Luhan memutuskan untuk menghadiri pertunangan Hyerim. Perlahan Yuri mendekati Luhan dan meraih pundaknya membuat Luhan menoleh ke arahnya.

“Meskipun malam  ini gadismu sangat cantik tapi dia tersenyum untuk orang lain, Lu. Lebih baik kamu tidak datang dibanding menyakiti diri sendiri,”

Luhan mengalihkan pandangan ke cermin yang berada di depannya, memperhatikan sosok bayangannya itu dan juga bayangan Yuri yang tersenyum tipis tersirat rasa perih. Kembali Luhan menghela napasnya disertai ulasan senyumannya yang hanya berupa sebuah garis.

“Dirimu juga terluka melihatku seperti ini kan? Dirimu mencintaiku tetapi aku masih mencintainya.”

Elusan lembut yang Yuri berikan pada bahu Luhan pun berhenti, lalu Yuri mengalihkan pandangan serta kepala ke  arah lain. “Aku tidak mau menjadi seorang yang kejam karena ingin mendapatkan cinta orang yang kucintai. Aku hanya ingin menjadi sandarannya saja, itu pun sudah lebih dari cukup.”

Kemudian Yuri menoleh pada Luhan yang mencerna ucapannya barusan sambil tersenyum tipis. “Kalau kamu tidak mau pergi tak apa, aku akan pergi sekarang.”

Tanpa mencegah dan mengikuti Yuri, Luhan pun membiarkan sosok cinta pertamanya itu pergi meninggalkannya untuk menghadiri pertunangan gadis yang amat ia sayangi saat ini.

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

Berulang kali Hyerim meringis lantaran dirinya hampir tersandung heelsnya sendiri. Entah ini yang keberapa kalinya Hyerim meringis dan menggerakan kakinya perlahan untuk melanjutkan perjalanannya dengan mengangkat gaunnya. Sorot mata orang yang melewatinya terlihat keheranan akan penampilan Hyerim apalagi angin hari ini sangatlah dingin. Persetanan dengan itu semua, Hyerim kembali melangkah dengan cepat untuk sampai ke rumah Luhan.

Sambil terus memikirkan kenangannya bersama Luhan yang mulai bermunculan kembali diotaknya, langkah Hyerim makin dirinya percepat tak peduli kakinya yang mulai lecet juga hawa dingin yang membuatnya mengigil. Tujuannya hanya satu, menghambur kepelukan hangat seorang Luhan. Langkah Hyerim mulai tertatih-tatih sambil terus mengangkat gaunnya. Akhirnya Hyerim melihat gang rumah Luhan dan langsung menelusurinya masih dengan langkah super cepatnya bahkan dirinya tak berhenti sama sekali. Finalnya tubuh Hyerim hampir terhuyung jatuh jikalau dirinya tak menumpukan tangannya ke pagar besi rumah di hadapannya. Napas Hyerim tersenggal-senggal dengan kepala menunduk, dirinya tak sanggup lagi berlari.

Perlahan Hyerim mengangkat kepalanya dan lantas obsidiannya yang melihatkan kelelahan menangkap interior rumah yang menjadi tujuan utamanya. Hyerim menghela napas panjang diiringi tubuhnya yang ia tegakan. Dinginnya sore ini makin menyerang tubuh Hyerim apalagi serpihan salju kembali turun membuat tubuhnya mulai mengigil. Langkah Hyerim mulai ia rajut setelah mendorong pelan pagar besi di depan rumah Luhan, dirinya melangkah dengan sedikit ragu hingga berada di depan pintu kayu ek yang merupakan pembatas antara dunia luar dengan rumah Luhan.

‘Tok! Tok!’

Tangan Hyerim terangkat untuk mengetuk pintu tersebut meskipun ragu. Setelahnya Hyerim menurunkan tangannya dan menatap pintu itu dengan harap-harap cemas. Ketika tak ada jawaban dari dalam, Hyerim hendak mengetuk kembali pintu rumah Luhan namun penggerakannya didahuli oleh pintu yang terbuka membuat Hyerim menurunkan tangannya perlahan dengan raut kosong mendapati sosok yang berada di hadapannya.

“Ya, ibu apakah kunci─” perkataan orang di hadapannya langsung terhenti ketika mengangkat kepalanya serta disuguhi sosok jelita Hyerim yang termangu.

Luhan seketika membatu melihat sosok Hyerim dibaluti gaun indahnya. Matanya tak sanggup berkedip melihat sosok Hyerimnya sangat cantik juga menawan sekarang ini. Dirinya yang mengira bahwa ibunya yang tadi pamit keluarlah yang mengetuk pintu, hanya bisa terkejut mendapati sosok kekasihnya ini. Lalu Luhan pun menatap obsidian indah nan tenang milik Hyerim hingga pandangan keduanya bertemu.

“Hye…rim?” ujar Luhan ragu dan sedikit tak percaya. Sosok bak bidadari di depannya ini mengangguk dengan wajah kaku. “Ke…kenapa kau di si─”

Bibir Luhan kembali bungkam ketika tiba-tiba Hyerim memeluknya erat dan meletakan dagunya dipundaknya. Gadis itu terlihat berusaha tidak menangis detik ini lalu ia pun berucap lirih. “Aku merindukanmu.”

Mata Luhan mengerjap beberapa kali dengan wajah bingung. Barulah dirinya membalas pelukan Hyerim yang makin memeluknya erat. Dalam hati Luhan bertanya-tanya kenapa Hyerim seperti ini, mungkinkah ingatan gadis Oh ini sudah kembali? Pemikiran tentang Hyerim yang sudah mengingatnya membuat tubuh Luhan kaku seketika saat menyadarinya, matanya membola juga perasaan gembira menghampirinya diiringi senyum lebarnya.

“Hyerim… apakah ingatanmu kembali?” tanya Luhan lambat-lambat serta penuh harap. Masih dengan memeluk Luhan, Hyerim mengangguk membenarkan membuat senyum Luhan makin lebar. “Aku… juga… merindukanmu.”

Seusai ucapan Luhan yang lambat-lambat, Hyerim melonggarkan pelukannya dan menatap Luhan yang menumpukan keningnya dikening Hyerim hingga keduanya saling tenggelam dalam bola mata masing-masing. Hyerim memperhatikan penampilan Luhan dengan kemeja putih dan dasi kupu-kupu berwarna hitam lalu kembali pada penampilannya sendiri yang menggunakan gaun menawan. Keduanya layaknya putri dan pangeran dari negri dongeng.

“Kita serasi,” ujar Hyerim setelah memperhatikan penampilan keduanya. Luhan pun jadi memperhatikan penampilan mereka berdua ketika mendengar ucapan Hyerim, lalu dirinya pun kembali menatap Hyerim sambil tersenyum.

“Ingin berjalan di atas salju bersamaku?” tawar Luhan dan tanpa menunggu lamapun Hyerim mengangguk menerima tawarannya.

Kedua tangan milik Hyerim dan Luhan yang berpelukan pun terlepas tergantikan dengan kedua tangan kanan keduanya yang bergenggaman dan mulai berjalan perlahan meninggalkan teras rumah Luhan menuju halaman belakang. Pandangan Hyerim terus tertuju pada salju yang ia injaki dan mempercayai Luhan untuk memimpin langkahnya. Mereka pun sampai di halaman belakang dan saling pandang sejenak sambil melempar senyum.

“Apakah kamu kedinginan?” Luhan bertanya ketika menyadari gaun Hyerim yang tanpa lengan. Hyerim tampak mengangguk sambil meringis malu. Dan tak lama Luhan menariknya mendekat sambil memeluk pinggangnya. “Walau tak cukup untuk melindungimu dari dingin, kuharap kamu tetap merasa hangat.” Luhan pun mengerakan pelukannya dipinggang Hyerim menyebabkan gadis bermarga Oh itu menunduk dengan semburat merah dipipinya.

“Ayo kita lanjut berjalan,” ajak Hyerim dan Luhan pun mengangguk diiringi langkah keduanya yang mulai perlahan berjalan di atas tumpukan salju tersebut.

Senyum bahagia tercetak jelas dikedua sudut bibir Hyerim maupun Luhan, keduanya melupakan semua hal saat ini dan dunia pun terasa hanya keduanya yang meninggalinya. Hyerim hampir terjembab jatuh dan Luhan dengan segera menahannya dan menarik Hyerim makin menempel pada badannya serta mengeratkan pelukan dipinggang Hyerim. Diperlakukan seperti itu, Hyerim melirik Luhan dan tersenyum malu.

“Karena dirimu aku jadi menyukai salju,” ungkap Hyerim sambil memandang wajah Luhan. Tak lama pun Luhan balas menatapnya dengan wajah bahagianya.

“Aku pun juga begitu,” ujar Luhan kemudian keduanya pun larut akan pandangan masing-masing diiringi kepingan salju yang turun dan mengenai rambut mereka.

Disaat banyak kepingan salju yang hinggap dirambut Hyerim, Luhan menyingkirkannya secara perlahan. Lagi-lagi Hyerim tersipu akan prilaku Luhan dan melakukan hal yang sama pada salju yang hinggap dirambut dan bahu Luhan. Kemudian keduanya mendongakan kepala menatap salju yang turun dengan wajah takjub.

“Ingin membuat kenangan kembali di bawah turunnya salju?” kata Luhan lalu kembali menatap Hyerim dan Hyerim pun tampak kembali menatapnya.

“Menurutmu?” Hyerim balik bertanya dengan senyum misterius.

Luhan mendengus geli karenanya lalu meraih pipi kanan Hyerim yang sudah mendongakan kepalanya untuk menatap Luhan yang lebih tinggi darinya, lebih jelas. Dengan senyum merekah, Luhan mendekatkan wajahnya kewajah Hyerim sampai bibir keduanya bersentuhan dan berpangutan diiringi tangan Hyerim yang terangkat dan melingkar dileher Luhan seraya menariknya untuk memperdalam ciuman tersebut yang mulai menciptakan beberapa lumatan lembut di bawah kepingan salju yang berjatuhan.

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

“Pasti dirinya berada di rumah pria itu!” gumam Myungsoo dengan wajah yakin sambil mengelus-elus dagunya lalu melirik beberapa orang suruhannya yang mencari Hyerim akan tetapi belum juga membuahkan hasil. “Kita cari di rumah Xi Luhan! Hubungi staff administrasi sekolah untuk melihat data diri Luhan yang tertera alamatnya.”

Seruan Myungsoo dengan wajah merah padam menahan amarah itu sontak membuat orang suruhannya segera menuruti perintahnya dengan mengambil ponsel untuk menanyakan alamat rumah Luhan kepada staff administrasi Shinhwa SHS. Selang beberapa menitpun alamat rumah Luhan yang Myungsoo minta sudah diketahui. Mata elang miliknya menelisik keluar jendela mobil yang melihatkan kepingan salju yang turun dengan damainya, Myungsoo berserta para pengawalnya sedang menuju tempat tujuan yakni rumah Luhan. Dirinya menarik napas seraya memejamkan mata lalu membukanya kembali diiringi napasnya yang keluar melalui mulut, tangan kanannya tergepal kuat menahan amarah yang bergejolak dalam dirinya. Perasaan marah yang lagi-lagi menyelimutinya lantaran gadis yang ia sukai memilih pria yang jauh dibawah standar dirinya.

“Tuan muda, kita sudah sampai,” ucap seorang pria berjas hitam dengan kepala menunduk sambil membukakan pintu mobil dan menyingkir dari jalan Myungsoo agar lelaki yang ia panggil tuan muda itu segera turun.

Kepala Myungsoo tertoleh dan lagi-lagi membuang napas kasar guna menahan amarahnya yang membuncah, dengan langkah kaki gusar dirinya keluar dari mobil dan mulai berjalan diikuti pengawalnya yang lain. Myungsoo mulai mengedarkan pandangan ke sekitar yang tak lain sebuah gang yang tidak terlalu luas lalu dirinya menyunggingkan senyum sarkastik juga mendecih.

“Jadi pria ini tinggal di daerah sini, lumayan untuk anak pria kaya yang bangkrut,” gumam Myungsoo dengan seulas senyum remehnya. Lalu Myungsoo melirik ke belakangnya diiringi perkataan, “Tunjukan di mana rumah kekasih tunanganku.” yang mana kata kekasih sangat diucapkan penuh penekanan.

Pengawal yang berada tepat di belakangnya pun menunduk patuh lalu dengan izin Myungsoo pun dirinya melangkah sedikit di depan untuk memimpin jalan. Tiap langkah kaki yang membawanya ke  arah rumah Luhan, Myungsoo terus mengedarkan bola matanya menyapu sekitar lalu mendecih dengan senyum mengejek. Dan para pengawalnya juga Myungsoo sendiri pun berhasil menarik perhatian warga yang mulai memandangi mereka sembari berbisik-bisik lantaran Myungsoo dengan pengawalnya itu terlalu mencolok. Seketika pengawal yang diutus Myungsoo untuk memimpin jalanpun memberhentikan langkah juga memutar tubuh ke arah Myungsoo, dirinya berhenti tepat di depan sebuah rumah sederhana dengan pagar besi berwarna putih.

“Tuan muda, kita sudah sampai,” ucap pengawal tersebut sesuai prediksi Myungsoo, tangan Si Pengawalpun mengarah ke  arah rumah bercat putih di samping kanannya.

Kemudian Myungsoo memutar badan untuk menghadap rumah tersebut dan mengangguk-angguk dengan wajah santainya yang merupakan topeng dari wajah memendam marahnya. “Cepat masuk, kalau perlu dobrak pintunya. Ingat, calon tunanganku ada di sini jadi tidak usah takut.”

Titahan Myungsoo tentu tidak dibantah sekalipun, satu kali dengar para pengawal yang ikut bersamanya mengangguk patuh dan mulai berjalan memasuki perkarangan rumah Luhan. Mereka pun mulai mengetuk-ngetuk pintu coklat yang ada di teras rumah minimalis itu serta menunggu jawaban dari dalam. Tangan Myungsoo pun ia lipat didepan dada dengan menyunggingkan senyum miring khasnya.

“Kamu kira bisa bersembunyi di sini Hyerimku sayang?” gumam Myungsoo dengan wajah jahatnya dan ketika dirinya memandang para pengawalnya lagi, mereka pun saling pandang dan mengangguk seakan kode setelah itu para pengawal berjas hitam tersebut mulai mendobrak pintu rumah Luhan yang mana mengundang kebisingan yang menarik para tetangga untuk keluar rumah dan mencari tahu suara bising apa yang mereka dengar.

Sementara di dalam rumah, Hyerim yang berada di ruang TV pun tampak resah. Dirinya tidak sendiri, di mana ada Luhan di sebelahnya yang terlihat khawatir dan megenggam tangan kanannya. Dobrakan itu makin liar membuat keringat yang seharusnya tak tampak di musim dingin pun keluar, kepala Hyerim tertoleh memandang Luhan dengan air wajah takutnya sementara Luhan berlakon tegar dengan seuntai senyum tenang diiringi elusan lembut ditangan kanan gadisnya.

“Tenanglah, lebih baik kita kabur lewat pintu belakang,” ucap Luhan agak pelan dengan sorot mata meyakinkan. Ia pun langsung berdiri dan lantas menarik tangan Hyerim agar gadis itu ikut berdiri dan mengekorinya keluar melalui pintu belakang.

Luhan sudah membalikan badan dan siap untuk menata langkah menuju pintu yang ia maksud, namun Hyerim seketika meremas tangannya kuat dan tatkala Luhan berbalik, gadis itu memandangnya dengan wajah memelas menyebabkan kerutan bingung tampak diparas Luhan.

“Ada apa Hye?”

Kepala Hyerim menunduk dan dengan bibir begetar dirinya menyahuti pertanyaan Luhan. “Percuma, yang ada kita hanya menjadi buronan bila kabur dan akan terus tertangkap. Bukan hanya Myungsoo yang mencariku namun ayahku juga mencariku.”

Kembalilah Hyerim mengangkat kepalanya ketika dirinya mengakhiri frasanya barusan, bola mata gadis itu bergetar juga berkaca-kaca. Tangan kanan bahkan kedua tangannya megenggam tangan kanan Luhan dan meremasnya kuat. Bahu gadis yang Luhan sayangi itu naik turun pertanda mencoba tegar. Jauh didalam lubuk hatinya dirinya rela kedinginan untuk lari bersama Luhan tapi baginya itu percuma. Luhan pun paham dan memandang Hyerim sayu lalu melepaskan remasan kedua tangan Hyerim dari tangan kanannya setelah itu menggunakan kedua tangan itu untuk menangkup kedua pipi gadisnya. Wajah Luhan mendekat ke arah wajah Hyerim yang memandang Luhan tepat dikornea mata pria tersebut.

“Aku janji setelah ini kita masih akan bersama…” diikuti juga dobrakan di pintu rumah Luhan menggila bahkan didengar dari suaranya para pengawal Myungsoo sudah sedikit membuka pintu tersebut dan Myungsoo yang menyaksikannya pun memiringkan kepala ke samping dengan senyum puas. Kembali lagi pada Luhan yang masih memandang Hyerim dalam tanpa merubah posisi. “… karena aku yakin ini akan berakhir happy ending.”

Adalah perkataan terakhir Luhan lantaran pintu rumahnya yang akhirnya terjeblak terbuka setelah didobrak beberapa kali. Dan sekon itupun air mata Hyerim mengalir kepipinya juga Luhan mengukir senyum tipisnya. Momen itu tak berlangsung lama karena kepala keduanya reflek menoleh ke  arah belakang lantaran langkah kaki yang bising memasuki rumah Luhan. Gerakan pun terjadi dikedua tangan Luhan yang perlahan menurunkan diri dari pipi Hyerim untuk tidak menangkupnya. Dan Myungsoo berserta para pengawalnya pun akhirnya menampakan batang hidup di hadapan Luhan dan Hyerim. Terlihat Myungsoo berkacak pinggang dengan menyarangkan tatapan sinisnya yang menusuk.

“Ah ternyata di sini rupanya tunanganku yang menghilang karena jalan-jalan,” desah Myungsoo dengan pita suara menusuk membuat bola mata Hyerim menerawang ke arah lain dibanding menatap pria itu sementara Luhan balas menatap Myungsoo dengan lagak santai.

“Ya, tunanganmu mampir ke mari,” adalah respon Luhan akan desahan Myungsoo. Terlihat Myungsoo mendengus menatap Luhan sambil tertawa pelan tanpa suara dengan tangan terlipat dibawah dadanya.

“Kalau begitu…” langkah Myungsoo mendekati kedua insan itu membuat Hyerim digerogoti perasaan resah. Setelahnya, Hyerim mengangkat kepala dan menatap tajam Myungsoo dikarenakan lelaki itu menyambar kasar tangannya dan megenggamnya kuat. Myungsoo pun balas menatap Hyerim lebih tajam lalu berucap. “… ayo kita pulang, Hyerim.”

Dan Myungsoo pun menarik tangan Hyerim hingga gadis itu meringis kesakitan juga hampir terjatuh beberapa kali lantaran tersandung gaun panjangnya karena langkah Myungsoo yang cepat-cepat juga penuh amarah. Melihat pemandangan itu mengundang perasaan geram menyerang diri Luhan, rahangnya mengatup keras diiringi tatapan mata lasernya pada punggung Myungsoo.

Ya! Haruskah aku mengatakan, kenapa dirimu menyeret kekasihku?” pada akhirnya seruan penuh amarah itu lolos dari bibir Luhan menyebabkan langkah Myungsoo berhenti dan dengan gerakan cepat memutar tubuh kembali menatap Luhan.

Kedua pria itu serasa mencetuskan perang dari pandangan masing-masing, sementara Hyerim yang masih dibawah cengkraman Myungsoo hanya menatap Luhan seakan memohon untuk membiarkannya pergi daripada lelaki yang ia sayangi itu harus membuang tenaga hanya untuknya. Ditambah para pengawal Myungsoo tengah memperhatikan perdebatan tersebut, kapanpun dengan keadaan siap mereka akan menyerang Luhan bila bertindak seenaknya. Hyerim tidak mau Luhan terluka.

Tawa sumbang Myungsoo pecah dengan kepala mengadah ke atas lalu ke bawah, mengakhiri aksi adu tatap tajam dengan Luhan. Hyerim yang makin resah pun meremas ujung gaunnya kuat-kuat dan Luhan pun tampak mendengus melihat Myungsoo yang tertawa layaknya orang kehilangan kewarasannya. Lalu Myungsoo pun menyarangkan tatapan remehnya masih dengan tawanya yang mulai memelan. Setelah tawanya terpause, Myungsoo berdehem juga mengangkat dagunya tinggi—layaknya mengibarkan bendera penantangan.

“Kekasih?” ulang Myungsoo dengan intonasi remehnya yang kentara membuat mulut Luhan bergerak-gerak menahan marah. Dengan senyum tenang dan penuh akan hasrat meremehkannya, Myungsoo bersajak demikian, “Tapi bukannya kekasihmu tidak mengingatmu Luhan-ssi? Ah, bukan, saat hilang ingatan dirinya tidak memilihmu. Cinta kalian tidak sebesar itu dimana Hyerim tidak menyadari akan seseorang yang ia cintai walau ingatannya hilang. Jadi aku tidak merebutnya, namun kekasihmu lah yang memilihku.”

Tubuh Luhan langsung kaku seakan tersiram seember penuh air es. Wajah penuh amarahnya itu perlahan memudar membuat paras Myungsoo mencetak raut puas dengan dagu makin terangkat tinggi. Lalu dirinya membalikan badan dan langsung mendapati Hyerim memandangnya was-was dengan beribu perlawanan yang terlihat jelas dibola matanya.

“Acara kita dibatalkan hari ini tapi bukan berarti kamu bisa lari dari genggamanku. Ingat itu,” ujar Myungsoo pelan dan hanya dapat didengar Hyerim, tak lupa dengan nada tajamnya lalu tanpa belas kasihan dirinya menarik Hyerim kuat-kuat hingga gadis itu meloloskan lagi rintihannya.

Walau kalah telak diakhir perdebatan tadi, kepala Luhan menoleh ke arah Myungsoo dan Hyerim yang makin menjauh. Dengan kedua tangan menggepal di sisi celananya, Luhan mulai mengambil langkah lebar-lebar yang kelihatan sekali dirinya sangat marah namun gerakannya tertahan ketika dua pengawal Myungsoo menghalangi jalannya, kedua pria berjas hitam itu melihatkan senyum mengejek lalu menggeret Luhan.

“Hey! Kalian ingin apa hah?!” teriakan Luhan itu membuat Hyerim menolehkan kepala ke belakang dan mutlak matanya membola melihat Luhan sudah dihajar agar tidak menghalangi jalan Myungsoo dan Hyerim.

Segera Hyerim mengalihkan pandangan kepunggung Myungsoo dengan dada naik turun menahan gejolak amarah dan pemberontakan yang daritadi ingin ia loloskan. “Myung! Lepaskan aku!” seru Hyerim keras dan berusaha menarik tangannya dari cengkraman kuat Myungsoo.

Pukulan demi pukulan yang diberikan untuk Luhan terus terdengar dan semakin besarlah Hyerim mencoba meloloskan diri dari cengkraman Myungsoo yang sialnya makin mengeratkan tangannya pada Hyerim serta menarik paksa gadis itu. Berseru, memberontak, sampai kakinya pun nyaris tersandung sudah terjadi berulang kali. Netra sayu Hyerim melirik Luhan yang terkapar tak berdaya di lantai rumahnya dengan wajah babak belur bukan main.

“Myungsoo, lepaskan!” Hyerim makin berteriak heboh dengan air mata mulai tampak, kembali dirinya melirik Luhan namun langsung berpaling lantaran tak kuat melihat keadaan pria itu.

Telinga Myungsoo memanas mendengar teriakan pemberontakan Hyerim, pria itupun menatap Hyerim bengis dan menggeretnya makin kasar. Geretan kasar Myungsoo menyebabkan tubuh Hyerim sedikit terjungkal ke depan dan dirinya merasa kakinya lecet bukan main, setelah itu Hyerim merasa satu kakinya telanjang lantaran satu sepatunya yang terlepas karena hampir tersandung dengan geretan kasar dari Myungsoo. Hyerim mulai menangis sambil terus menarik tangannya yang nyeri disebabkan rasa perih dari cengkraman tangan Myungsoo. Luhan yang sudah kehabisan tenaganya pun melihat pemandangan punggung Hyerim yang menjauh sebelum akhirnya menutup matanya dengan badan dipenuhi luka-luka.

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

“Aw!” rintihan lolos dari mulut Luhan namun ibunya masih terus menekan beberapa letak ditubuhnya yang membiru dengan kapas berpoles obat merah. Luhan terus meringis menahan nyeri dengan mata terpejam, di sebelahnya terduduk Yoonra yang menampilkan wajah khawatir dan menahan tangis.

“Ya Tuhan, kemarin malam rasanya ibu hampir serangan jantung melihat tubuhmu terkapar penuh luka di lantai rumah,” Yohyun—Ibu Luhan, berkata sambil mengobati luka putranya sementara Luhan sendiri masih menutup mata sambil meremas celana sekolahnya—pelampiasan akan rasa perihnya. Walau semalam ibunya sudah mengobatinya, rasa perih itu tetap muncul.

Yoonra sedaritadi sibuk menatapi Luhan dengan binar khawatir nan polosnya, gadis yang berada dibangku menengah ke bawah itu pun memiringkan kepala menatap Luhan membuat lelaki itu membuka sebelah mata dengan isyarat akan keheranannya.

“Padahal tadi malam aku sengaja ke kedai ttoboki agar oppa dan Hyerim unni bersama, tapi kenapa jadi begini,” bibir Yoonra cemberut dengan tangan terlipat dibawah dada. Alis Luhan terangkat bingung masih dengan satu mata terpejam.

“Huh? Maksudmu apa sengaja agar aku dan Hyerim bersama?” telinga Luhan merasa janggal mendengar penuturan adiknya yang ini.

“Jangan banyak gerak!” tiba-tiba Yohyun berkata sebal karena Luhan bergerak membuat dirinya memberikan obat merah ke letak yang salah. Sebentar Luhan menatap ibunya dengan mata menyipit kesal lalu mendesis, hal itu membuat Yohyun memberinya tatapan mematikan namun Luhan kembali menaruh antensi pada Yoonra.

Gadis kecil itu tampak menampilkan cengiran khasnya, lalu berkata. “Aku yang membuat Hyerim unni mengingat oppa,” mata Luhan membulat langsung begitupula Yohyun yang menghentikan tangannya diatas pelipis Luhan dengan menoleh pada putrinya ditambahi mulut terbuka. Dengan wajah bangganya, Yoonra melanjutkan. “Aku mendatangi Hyerim unni ke rumahnya yang diselenggarakan pesta pertunangan, maka dari itu Hyerim unni kabur untuk menemuimu.”

Dalam diam Luhan menampilkan senyum, merasa berterimakasih kepada adiknya. Lalu dirinya berdiri mengambil tasnya dan menyampirkannya disatu bahunya saja. “Kalau begitu aku pergi ke sekolah dulu. Aku harap bisa bertemu Hyerim di sekolah nanti,” ujar Luhan dengan senyum tipis lalu mencubit pelan dan gemas satu pipi adiknya. Setelahnya Luhan berbalik serta menata langkah keluar rumahnya.

Yohyun pun segera sadar lalu melebarkan mata, wanita paruh baya itu memekik nyaring memanggil Luhan. “Heh Luhan! Lukamu belum selesai diobati!” namun hanya dikacangi oleh putranya yang terus berjalan menuju luar rumah membuat Yohyun menghela napas diikuti rasa kesal pada putranya itu.

Ketika Luhan menapaki langkah di dekat jejeran sepatunya, matanya tak sengaja menangkap satu alas kaki yang menonjol. Sebuah heels berwarna putih dengan manik-manik bening nan berkilauan yang melapisi tali yang melingkari kaki yang memakainya.  Heels yang hanya sebelah itu pastinya sangat mahal dan tak mungkin milik ibu ataupun adiknya, maka dari itu Luhan membungkuk untuk mengambil sepatu yang cocok untuk pesta itu lalu menatapnya heran. Seketika kepala Luhan memutar kejadian Hyerim yang semalam terjungkal dan nyaris jatuh, sebelum benar-benar menutup matanya Luhan menangkap satu objek. Ya, sebelah sepatu Hyerim terlepas. Luhan lantas menatap heels elegan ditangannya kini dengan mata melebar. Cinderellanya meninggalkan sebelah sepatunya.

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

‘Tok! Tok!’

Aggashi… (Nona)” ketukan yang dibarengi oleh ketukan itu terdengar. Para pengurus rumah tangga yang berada di depan pintu dengan pahatan hanggul Oh Hyerim itu saling pandang dengan mata khawatir karena nona mereka mengurung diri di kamar bahkan belum menyentuh makanannya sejak malam.

“Aku takut Nona Muda sakit,” ucap salah satu dari ketiga pengurus rumah tangga itu dengan wajah khawatir.

Rekannya yang lain pun mengangguk dengan wajah khawatir juga. “Selama ini Nona Muda hanya bersikap dingin namun tidak pernah sampai mogok makan begini. Sepertinya perjodohan ini sudah keterlaluan.”

“Sedang apa kalian?” suara lain seketika menyerbu membuat ketiga pengurus tangga yang berdiri di depan kamar Hyerim pun terkejut dan menoleh ke sumber suara dengan takut-takut. Victoria tampak menatap ketiganya dengan intimidasi, lalu melangkah mendekati ketiga orang tersebut. “Bisa kalian beritahu, ada apa? Kenapa tidak menjawab?” Victoria bertanya lagi karena para pengurus rumah tangga itu hanya menunduk takut membuat Victoria membuang napas karena tidak direspon.

“Apa kalian bergossip tentang—“

“Nona Hyerim mengurung diri dan belum dapat asupan makan dari malam, Nona Vict.” salah satu dari merekapun mengangkat kepala dengan sedikit keberanian dan mengatakan hal barusan. Mulut Victoria mengatup lalu dirinya memejamkan mata diiringi napasnya yang terbuang frustasi.

Kepala Victoria menoleh ke pintu coklat tersebut, dengan langkahnya yang pelan Victoria mendekat ke pintu yang dari semalam Hyerim kunci lalu mengangkat kepalan tangannya dan mengetuk pintu tersebut menimbulkan suara ketukan perlahan.

“Hyerim-ah, naya (ini aku). Aku tidak sekolah hari ini, sepertinya dirimu juga butuh istirahat,” tak ada sahutan apapun dari kamar tersebut layaknya tidak ada kehidupan sama sekali. Victoria kembali membuang napas lalu mengembungkan pipinya. “Hyerim sayang, bukalah pintunya.” Victoria mengeluarkan intonasi memelas.

Sunyi tetap menjadi respon akan ucapan Victoria namun beberapa sekon selanjutnya, terdengar sahutan dengan suara serak khas orang yang habis menangis dan banyak menumpahkan tangisannya hingga matanya membengkak.

“Jangan panggil aku sayang!” hanya itu yang Hyerim suarakan dengan pita suaranya yang serak bukan main. Victoria melihatkan senyum datar dengan bahu turun pertanda sedikit patah arang lalu dirinya menatap tiga pengurus rumah tangga yang langsung menunduk patuh tatkala dirinya menoleh.

“Temui Paman Insung dan mintalah duplikat kunci kamar Hyerim,” kata Victoria dengan raut dan nada putus asa. Ketiganya pun membungkuk patuh dan mulai melaksanakan perintah Victoria, namun baru berapa langkah, Victoria mencegat kembali dengan perintah lain. “Dan bawakan juga Hyerim makanan yang baru, aku yakin bubur yang kalian siapkan sudah dingin. Siapkanlah yang baru dan juga ambillah obat demam dari kotak P3K.”

Ketiganya pun berbalik ke arah Victoria dan mengangguk patuh dengan respon ucapan, “Ya, Nona.” setelah itu mereka pun resmi pergi untuk melaksanakan perintah Victoria, sepeninggalan tiga pengurus rumah tangga itu, Victoria menatap dalam pintu kamar Hyerim.

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

Bingung. Itulah yang Luhan dapati saat memasuki pekarangan sekolah. Bagaimana tidak? Seluruh siswa sekolahnya menatapnya aneh dan sesekali berbisik bahkan sambil menunjuk-nunjuknya secara diam-diam namun masih ditangkap oleh mata Luhan. Belakang kepala Luhan pun ia garuk dengan wajah sangat linglungnya. Apa mungkin karena wajah Luhan yang lembam-lembamlah yang membuat semua orang layaknya melihat sampah masyarakat?

“Tahu tidak? Xi Luhan itu tidak tahu malu. Sudah membuat Hyerim menggodanya lalu membuat gadis itu terpikat olehnya dengan konyolnya bahkan sampai rela melarikan diri dari pertunangannya. Padahal jelas-jelas Myungsoo lelaki yang baik,”

Kaki Luhan mutlak berhenti ketika melewati satu siswi yang berbisik mengenai dirinya. Tidak tahu malu? Bahkan membuat Hyerim menggodanya bahkan membiarkan gadis itu kabur dihari pertunangannya? Kepala Luhan menoleh dengan amarah yang meningkat ditandai wajahnya yang memerah, tangannya mengepal dan menghunuskan tatapan tajam pada punggung siswi berbandu putih yang seenaknya mengeluarkan fakta yang tidak akurat.

“Lu,” tiba-tiba sebuah tepukan pelan didapatkan bahu Luhan dengan oknum yang sama yang merangkulnya menyebabkan Luhan berbalik dari punggung siswi tadi. Jonghyun. Lelaki itu yang merangkulnya sambil tersenyum tipis. “Aku tahu kamu tertekan, maka dari itu aku di sini.”

Luhan merasa tersentuh akan sifat setia kawan temannya, namun yang dilakukan Luhan adalah menepis tangan Jonghyun dengan raut pura-pura sebal lalu menatap sahabatnya itu dari ujung kepala hingga kaki sambil berdecak.

“Kasian sekali Joohyun mempunyai kekasih kelainan seksual sepertimu. Tadi kamu sedang mencoba menggodakukan?” ujar Luhan penuh akan sarkastik. Mendengar ujaran itu, Jonghyun pun menganga sebentar kemudian mendengus.

“Hey! Aku berniat baik malah dibilang kelainan seksual. Lagipula Joohyun itu sudah sempurna, untuk apa repot-repot melirik laki-laki kerempeng dengan badan babak belur begini,” balas Jonghyun lebih sarkastik membuatnya mendapatkan tinjuan pelan diperut dan meloloskan rintihan sambil memegang perutnya.

Luhan pun tampak menatapnya menantang dan Jonghyun pun balas menjitak kepala Luhan. Kedua sahabat itu terus bercanda selama perjalanan ke kelas. Hingga tawa akan candaan itu pun terhenti secara paksa lantaran sosok lelaki yang memberikan tatapan penuh arti kepada keduanya terlebihnya kepada Luhan. Lelaki yang Luhan tahu sebagai Shim Changmin itu berdiri beberapa jengkal di depannya dan ketika Luhan menatapnya dan membungkuk sekenanya, Changmin melihatkan senyum tipisnya.

“Xi Luhan,” panggil Changmin membuat Luhan tersentak lalu menatap seniornya itu was-was.

“Ya?” jawab Luhan agak ragu.

“Ada yang ingin kubicarakan denganmu. Hanya berdua,”

Luhan menoleh kepada Jonghyun yang menoleh juga padanya. Keduanya berpandangan lalu dengan wajah cueknya Jonghyun menggerakan kepala ke samping tepat ke  arah Changmin, bertanda menyuruh Luhan mengikuti kemauan Changmin.

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

Setelah menunggu sedikit lama, kunci duplikat kamar Hyerim pun berada digenggaman tangannya. Secara pelan dan hati-hati, Victoria memasukan kunci tersebut ke lubang kunci dan memutarnya hingga terdengar bunyi menandakan pintu terbuka. Langsung saja Victoria menegakan tubuh dengan desahan lega. Tangannya pun terangkat meraih gagang pintu dan mendorongnya perlahan diikuti tubuhnya yang memasuki kamar adiknya itu.

“Hyerim,” ialah panggilan Victoria ketika menapaki kaki secara resmi masuk ke dalam kamar Hyerim, setelah mengedarkan pandangan ke sana-sini, obsidian milik Victoria jatuh ke atas ranjang yang terdapat tubuh Hyerim berbalut selimut putih hingga menutupi seluruh badannya. Tanpa ragupun Victoria mendekatinya dan sudah duduk di sisi ranjang. “Hyerim.” kembali Victoria memanggil diiringi tangan yang mulai menarik selimut Hyerim.

Namun penggerakan Victoria tercegah dengan seruan tertahan—lantaran suaranya yang serak, milik Hyerim. “Keluarlah,”

Tangan Victoria yang sudah menyentuh ujung selimut Hyerim sempat berhenti namun dirinya menarik selimut itu setelah memandangi tubuh dibalik selimut adiknya. Akhirnya selimut itu sedikit tersibak melihat sosok Hyerim yang tidur memunggungi Victoria. Bahu gadis itu naik turun menandakan menahan tangisannya. Senyum perih Victoria tampilkan melihat keadaan adiknya, lalu dirinya berbalik ke tiga pengurus rumah tangga yang mengekorinya masuk ke kamar Hyerim. Salah satu dari mereka membawa nampan berisi susu vanilla hangat dan bubur kacang hijau, juga ada obat demam dengan air mineral di sana.

“Keluarlah, aku yang akan mengurus Hyerim,” titah Victoria dengan senyum tersirat agak lelah.

“Baik, Nona,” jawab ketiganya serempak dengan kepala menunduk. Lalu salah satu dari ketiganya yang membawa nampan pun meletakannya di meja belajar Hyerim yang terdapat bingkai foto berukuran sedang yang berisi foto Hyerim yang berdiri berdempetan dengan Luhan yang tangan kanannya menyentuh kepalanya, background foto tersebut adalah pohon bunga sakura di taman sekolah mereka.

Akhirnya hanya tersisa Victoria bersama Hyerim. Gadis bermarga Song itu menatapi punggung Hyerim yang masih naik turun dan kadang kala terdengar isakan kecil yang lolos dari bibir milik Hyerim. Perlahan Victoria menyentuh bahu Hyerim dengan wajah lembutnya, hingga entah mengapa Hyerim pun membalikan kepalanya dan menatap Victoria dengan mata sembab.

“Kamu pasti laparkan? Aku membawakanmu—“

“Keluar,” bibir Victoria langsung bungkam dan tangannya tersingkir dari bahu Hyerim lantaran ucapan Hyerim yang kelewat dingin dengan kelereng matanya yang menajamkan tatapan walau sangat sembab. “Kalian semua memang gila,” Hyerim berkata lagi membuat Victoria menunduk dan bingung ingin membalas apa.

“Aku tidak mau bertunangan dengan Myungsoo, apa itu kurang jelas?!” jerit Hyerim dengan raut frustasi dan nyaris membuat Victoria menjatuhkan diri dari ranjangnya dan hatinya mencelos begitu saja. Kuku-kuku Hyerim memutih karena mencengkram ujung selimutnya kelewat keras, napasnya pun tersenggal dengan mata melebar tajam. “Keluar! Aku tidak mau makan atau apapun yang kau perintahkan! Kalian semua keji!”

Tubuh Victoria sedikit terdorong kuat tatkala Hyerim mendorong bahunya untuk mengusirnya. Lalu setelah itu Hyerim kembali masuk ke dalam selimutnya dan tak lupa menutupi seluruh badannya menggunakan selimut tersebut, terlihat badan Hyerim memunggungi Victoria yang menatapnya nanar. Dengan berat hati, gadis yang umurnya lebih tua dari Hyerim itu beranjak pergi meninggalkan adiknya sendirian. Sepeninggalan Victoria, Hyerim kembali meneteskan air matanya tak peduli dengan tubuhnya yang demam dadakan juga matanya yang sudah sangat sembab.

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

Canggung. Suasana itu tergambar jelas antara Luhan yang menundukan kepala dan berdiri di depan Changmin yang memberikan beribu macam tatapan untuk Luhan. Jari-jari Luhan teraput satu didepan pahanya dan sesekali bergerak resah, matanya terus menatap lantai dengan kelereng berwarna hitamnya yang bergerak-gerak pertanda benar-benar tak nyaman dengan situasi yang ia alami saat ini. Bell masuk sudah berbunyi daritadi, menyebabkan hanya ada Changmin dan Luhan di koridor dekat taman sekolahan yang dulu menjadi tempat bolos Luhan dan Hyerim saat insiden dilempari telur.

Akhirnya Changmin memilih membetulkan posisi badannya lantas berdehem. “Ekhem,” hal tersebut berhasil membuat Luhan mengangkat kepalanya kemudian meneguk ludahnya sendiri, was-was akan perkataan yang akan Changmin ucapkan. “Luhan, apa kau tahu pertunangan Hyerim diganti menjadi malam ini?”

Saraf tubuhnya kaku bahkan sepertinya berhenti bekerja. Dengan gerakan pelan, Luhan menggeleng pertanda tak tahu. Apakah Changmin sekarang hanya ingin menyakiti hatinya untuk menjauhi Hyerim? Air wajah Changmin yang kelewat datar nan tenang itu membuat Luhan tersenyum miris akan perkiraan yang seratus persen benar.

Changmin menunduk sebentar dengan sebagian tangan dimasukan ke saku celananya, lalu dirinya sedikit mengangkat kepalanya pada Luhan. “Datanglah ke pertunangan Hyerim…” kata-kata Changmin membuat Luhan terkejut, perkiraan akan seniornya yang akan mengatakan untuk menjauhi Hyerim rasanya tidak berwujud. Dengan kelereng matanya yang masih mengerjap bingung Luhan pun hanya menatapi Changmin, disisi lain Changmin menarik bibir sedikit tersenyum lalu berkata lagi. “Kau harus datang tiga puluh menit lebih awal.”

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

Hari ini berjalan seperti biasanya bagi seorang Kim Myungsoo, walau semalam acara pertunangan yang sulit ia selenggarakan itu berantakan dan terluluh lantahkan dengan tunangannya yang kabur. Namun setidaknya di sekolah dirinya mendapatkan sedikit kedamaian apalagi orang-orang yang prihatin padanya dan mengira Hyerim melakukan tindakan bodoh dengan kabur saat acara pertunangan itu terselenggarakan.

Sekarang Myungsoo sedang duduk di bawah rindangnya pohon maple sambil menyender di senderan bangku taman yang ia duduki. Dirinya menatapi langit yang cerah dengan senyum merekah. Ya, malam  ini dirinya akan mengelar ulang pertunangannya. Walau terlihat buru-buru, Myungsoo merasa itu lebih baik dibanding menundanya lalu membuat Hyerim malah kabur lagi. Kedua tangan Myungsoo terulur di atas senderan kursi dengan santainya—seakan dirinya merebahkan diri.

“Myungsoo-ssi,” panggilan seorang gadis yang entah sejak kapan berdiri di sampingnya pun terdengar. Myungsoo yang sedang berbahagia dengan beribu cara nanti malam untuk memikat Hyerim pun, terpaksa menoleh pada oknum yang memanggilnya—Kwon Yuri.

Yuri menatapnya kosong dengan raut yang sama pula. Myungsoo pun berdiri sebentar dan membungkuk “Eo sunbae,” Myungsoo menyapa singkat penuh santun pada seniornya, lalu sedikit memiringkan badan ke  arah Yuri sambil mengulurkan tangan ke  arah bangku taman yang ia duduki. “Mari duduk,” ucap Myungsoo dengan senyum ramahnya.

Tanpa babibu, Yuri menggeret kaki lalu mendudukan diri di kursi taman yang Myungsoo tunjuk lalu menatap lelaki itu masih tanpa ekspresi. Myungsoo sendiripun terlihat tidak nyaman dan tersenyum dibuat-buat kepada Yuri yang layaknya mengintimidasinya lalu ikut duduk di sebelahnya.

“Kudengar pertunanganmu diundur jadi hari ini,” akhirnya Yuri bicara walau masih dengan air wajah tanpa ekspresi dan menatap Myungsoo seakan ingin melahapnya bulat-bulat.

Myungsoo mulai merelaxkan diri dengan badan dilemaskan—ditandai bahu yang sedikit turun dan punggung menyender ke kursi taman. Dirinya memberikan Yuri senyum tipis. “Ya, bukannya ini menguntungkan?” muka Yuri sedikit berubah jadi agak bingung sedangkan Myungsoo menyeringai. “Kau menyukai Luhan kan, sunbae? Maka kita berdua diuntungkan dengan begini. Aku bersama Hyerim. Dan kau bersama Luhan.”

Dengan santai Myungsoo melipat satu kaki diatas kakinya lalu melipat tangan didepan dada. Di sebelahnya, Yuri mendengus keras dengan wajah geramnya atas kata-kata Myungsoo. Disertai tatapan menghunusnya, Yuri menyahuti ucapan Myungsoo tadi.

“Menguntungkan? Kau salah besar, Myungsoo. Alasanku mendatangimu pun karena ingin membahas ini…” kepala Myungsoo yang tadi menghadap depanpun kembali menoleh ke sampingnya tepat di mana Yuri duduk, dirinya bingung akan respon seniornya yang kelewat sinis itu. “… kau harus tahu. Mencintai seseorang itu bukan untuk dimiliki.”

Lalu Yuri mencodongkan tubuh ke  arah Myungsoo dengan mata tajamnya, kemudian berkata lagi. “Aku disini, lebih memilih melepaskan orang yang kucintai. Karena sebatas menjadi sandarannya pun aku bahagia,” seketika Myungsoo termenung dengan wajah kosong. “Yang kuinginkan adalah hatinya bukan sebatas raganya. Bila hatinya memilih orang lain. Selain menyakiti orang yang kau cintai, kau juga menyakiti diri sendiri. Seiring berjalannya waktu, hati seseorang akan berubah. Benang merah takdir akan makin terlihat. Entah itu kau yang akan mencintai orang lain atau orang yang kau cintai balas mencintaimu. Yang perlu kita lakukan adalah bukan mengikuti obsesi dalam diri.”

Ucapan Yuri mutlak membuat Myungsoo termangu. Pria itu mengedipkan matanya sebentar lalu menundukan kepala seakan termenung, menyerap satu demi satu kata yang dilontarkan Yuri. Sementara gadis Kwon itu tersenyum meringis melihat reaksi Myungsoo, lantas dirinya berdiri dan menepuk-nepuk rok sekolahnya dan menatap Myungsoo dalam. Lelaki itu masih setia menundukan kepala dengan mata terpejam dan kedua tangan mengamit menjadi satu yang ia taruh diatas pahanya.

“Kuharap kau mengerti apa yang aku bicarakan.”

Setelah itu Yuri membalikan badan pergi dan Myungsoo menatap punggungnya yang kian menjauh dengan tatapan dalam.

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

“Acara pertunangannya diselenggarakan pukul 18.30, maka datanglah  30 menit lebih awal. Aku akan membantumu untuk bertemu Hyerim selama 30 menit.”

Sekarang, Luhan sedang berkaca di depan cermin yang menampakan sosoknya dengan kemeja putih dan jas hitam serta celana kain berwarna hitam. Luhan pun membenarkan letak dasinya. Ucapan Changmin di sekolah tadi ia ingat-ingat, tiga puluh menit lebih awal. Ya, Luhan tidak akan membuang-buang kesempatan untuk bisa bertemu Hyerim. Setelah merasa rapi, Luhan menunduk dan melihati kembali penampilannya lantas dirinya menghela napas. Dirinya jadi bingung apa yang akan ia lakukan bila bertemu Hyerim nanti. Banyak beberapa kata rindu yang ingin ia tumpahkan bahkan beberapa ajakan untuk berlari bersama.

“Kau tampan, Hyerim pasti jatuh cinta lagi padamu,” tiba-tiba ucapan Joohyun—yang memang mampir bersama Jonghyun, terdengar dari arah daun pintu. Gadis itu memakai dress sampai bawah lutut berwarna merah jambu. Kemudian disusulah munculnya Jonghyun di sebelah gadis itu.

Wajah Luhan terangkat dengan senyum sedikit mengembang menatapi bayangan kedua orang tersebut di cermin di hadapannya. Lalu dirinya berbalik ke arah dua orang tersebut. Langsung saja Jonghyun menatapinya dari atas kepala sampai kaki dengan mulut terbuka juga wajah takjub.

Bravo! Kuakui malam  ini kau sempurna!” ujar Jonghyun dengan kedua jempol terangkat ke depan. Luhan tersenyum geli dengan dengusan keras.

“Tidak usah berlebihan,” balas Luhan dengan wajah menjijikan dan Jonghyun pun hanya menatapnya datar sambil melayangkan kepalan tangan seakan ingin meninju Luhan.

Beberapa lama kemudian, Joohyun meraih tangan Jonghyun membuat pria yang penampilannya sama dengan Luhan itu menoleh padanya. “Ayo, kita berangkat sekarang,” ajaknya dengan seuntas senyum.

Jonghyun pun mengangguk dan membalas, “Ya, tunggu. Aku akan memindahkan mobil sampai depan gang. Malam  ini tumben sekali daerah sini padat. Mungkin efek malam minggu. Jadi aku tidak dapat parkir dekat gang,” setelah itu Jonghyun pun pergi mengambil mobil sementara Luhan dan Joohyun menunggu di rumah sampai Jonghyun menelepon untuk keluar.

Selagi menunggu, kedua orang tersebut duduk di ruang tengah. Ibu Luhan juga Yoonra sedang pergi menjenguk teman dekat ibunya yang sedang sakit, maka hanya ada Luhan dan Joohyun saja saat ini. Tentu atmosfernya jadi kurang nyaman dengan kecanggungan. Maka dari itu Luhan memilih membuka gadgetnya lalu terpana menatapi foto-foto Hyerim digallerynya, sesekali Luhan tersenyum dengan tangan terus menggeser layar sentuh ponselnya.

“Luhan…” panggil Joohyun membuat Luhan menoleh padanya lalu mengunci ponselnya dan memasukannya ke saku jasnya. Luha memasang ekspresi bertanya membuat Joohyun bergumam sebentar lalu menatapnya tepat dimatanya. “Apa kau yakin tak apa datang ke acara ini? Kau akan mengikutinya sampai akhir?”

Ada jeda beberapa saat hingga Luhan menampilkan anggukan yakin walau dengan senyum tipis tersirat beberapa kepedihan. “Aku tidak boleh terlihat sedih agar Hyerim juga tidak terlihat menyedihkan di…” ucapan Luhan terhenti sebentar, ludahnya terteguk menyusuri tenggorokannya. “… acara pertunangannya sendiri.”

Mendengar ucapan pelan Luhan ketika menyinggung pertunangan Hyerim, Joohyun hanya tersenyum prihatin. “Kau pasti sangat mencintainya…” kepala Luhan menunduk dengan senyum pedihnya mendengar ucapan Joohyun. “Aku jadi penasaran, bagimu Hyerim itu seperti apa?”

Pertanyaan Joohyun membuat Luhan menatap ke arahnya lantas berpikir. Apa Hyerim baginya? Seketika memori otaknya memutar ucapan Yoonra—adiknya, “Benar-benar cantik seperti Cinderella. Hyerim unni memang Cinderella.” “Iya aku tahu! Tapi Hyerim unni sendiri yang bilang bahwa dirinya Cinderella versi lain!”

Cinderella versi lain. Kakak dan ibu tirnya kelewat menyayanginya. Dirinya diberikan kekayaan yang berlimpah. Sosok lelaki tampan bak pangeran yang malah ia tolak. Ya, benar. Hyerim itu Cinderella dalam hidupnya. Sosok Cinderella yang rapuh dan kesepian hingga bisa ia peluk dengan kasih dan cinta yang berlimpah. Dengan senyum mengembang, Luhan menatap Joohyun untuk siap menjawab pertanyaannya.

“Jawaban untuk pertanyaanmu itu banyak sekali karena dia sangat berarti untukku. Namun ada satu jawaban akurat, sosok apakah Hyerim bagiku…” Luhan memberi jeda menyebabkan Joohyun menatapnya penasaran, dengan tatapan lembut nan sayunya yang mana pikirannya menerawang akan sosok Hyerim, Luhan kembali melanjutkan. “Dia adalah gadis kaya raya yang mempunyai ibu tiri dan saudara tiri yang sangat menyayanginya, berbanding balik dengan Cinderella, tapi bagiku dialah Cinderellaku,”

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

‘Bugh!’

Alas kaki yang mempunyai harga bukan main dengan model sangat elegan itu dengan malangnya harus berakhir tergeletak di lantai karena sebuah lemparan kuat penuh amarah seorang gadis dengan gaun panjang tanpa lengan dengan design indah manik-manik berkilauan. Hyerim, gadis yang melempar heels keluaran brand bermerk itu terlihat napasnya tersenggal, matanya memerah, tangannya menggepal kuat. Lalu kelereng hitamnya menatap sinis pelayannya yang langsung menunduk.

“Aku bilang aku tidak mau memakai sepatu itu!” teriak Hyerim membuat para pelayannya tampak merunduk takut dengan tangan terpaut satu dan bergerak resah. Setelahnya Hyerim meringis penuh akan hinaan hingga kata-kata kembali terucap dari bibir berlapis lipstick berwarna pink itu. “Memakai sepatu mendiang ibu lelaki sipit sialan itu? Mana aku mau!” itu adalah ucapan pedas dengan penuh penekanan Hyerim.

Lalu Hyerim menatap sinis sebelah sepatu yang ia lempar tadi, sepatu berwarna putih polos dengan tali menjelit di atasnya itu dibiarkan tergeletak di lantai ruang tunggu Hyerim. “Kembalikan sepatu itu. Aku hanya ingin memakai sepatu mendiang ibuku. Bukan meminjam sepatu mendiang ibu lelaki sinting itu.”

Tanpa menatap para pelayannya, Hyerim mengintrupsi dengan nada penuh kesinisan. Para pelayannya pun saling pandang lalu menatap Hyerim yang duduk di sofa empuk khusus satu orang dan sedang melipat tangan didepan dada juga masih setia menatapi sepatu malang itu dengan bengis.

“Tapi Nona Muda, sepatu mendiang Nyonya—“

Kepala Hyerim tertoleh dengan wajah merah padam dan mata bengkaknya kepada pelayannya itu, kemudian dirinya memenggal kata pelayannya itu. “Ya, aku tahu sepatunya hilang sebelah. Aku tidak peduli. Bilang saja, aku tidak mau pertunangan ini diselenggarakan karena sepatu yang ingin kupakai hilang sebelah!”

Si Pelayan tersebut langsung merunduk takut dan saling tatap kembali dari ujung mata masing-masing dengan raut takut. Sedangkan Hyerim masih mempertahankan posisi duduknya sambil memalingkan wajah ke  arah lain. Hingga sekon mendatang, pintu ruang tunggu tersebut dibuka oleh seorang gadis yang mengenakan dress merah dan membiarkan rambut hitam panjangnya tergerai. Victoria, gadis yang tengah tersenyum tipis menghampiri Hyerim lah yang memasuki ruangan tersebut. Hyerim pun sadar akan hadirnya Victoria dan mendelik tajam ke arahnya.

Sebentar Victoria memandangi para pelayan di sana setelah selesai melangkah, dengan senyumannya Victoria berkata. “Kalian keluarlah, aku ingin bicara dengan Hyerim.” kemudian pelayan tersebut dengan patuhnya keluar tanpa mengucapakan kata apapun, tersisalah Victoria saat ini yang sedang menatapi Hyerim lembut namun respon adiknya itu tetap tidak mau menatapnya. “Hyerim,”

Panggilan Victoria tidak diidahkan sama sekali, Hyerim kukuh melipat tangan didepan dada dengan kepala menoleh ke samping. Victoria lantas membuang napasnya untuk tetap tenang. “Luhan ada di sini, ia ingin menemuimu. Kamu tidak ingin bertemu dengannya?”

Tubuh Hyerim langsung beraksi, tangannya perlahan turun tidak terlipat dengan wajah angkuh itu. Getaran didadanya mulai terdengar. Kepalanya ia tolehkan pada Victoria dengan mata melebar penuh akan binar kegembiraannya.

“Di… mana … Luhan?” perlahan Hyerim bertanya dengan bola mata memelas.

Senyumanlah yang Victoria lihatkan menyebabkan Hyerim tambah berharap akan hadirnya sosok Luhan sekarang ini. Kepala Victoria bergerak ke  arah belakang membuat Hyerim menjengjangkan sedikit lehernya untuk melihat ke  arah tersebut dengan kepala bergerak-gerak. Sampai akhirnya langkah kaki seseorang terdengar membuat jantung Hyerim berdegup sambil meremas gaunnya. Sosok dengan langkah perlahan itu mulai menampakan diri membuat napas Hyerim berhenti. Dengan tatapan teduh yang bisa menerobos pertahan Hyerim, Luhan menatapnya dengan beribu perasaan rindu.

“Lu!” tanpa komando langsung saja pekikan itu lolos dengan badan Hyerim yang langsung berdiri dan berlari untuk menghambur kedalam pelukan Luhan secepat kilat. Pelukan Hyerim perlahan membuat tangan Luhan bergerak membalasnya dengan wajah dan senyum kerinduan. “Aku merindukanmu,” bisik Hyerim tepat ditelinganya dengan mata yang seakan-akan ingin menangis.

Dapat Hyerim rasakan kepala Luhan mengangguk dibahu sebelah kiri Hyerim dan mulai mengelus belakang kepala gadisnya seraya berkata. “Aku pun rindu padamu.” dari situlah pelukan keduanya makin erat dan melupakan kehadiran Victoria yang tersenyum sayu pada keduanya.

“Waktu kalian tinggal tersisa dua puluh menit,” tiba-tiba saja Victoria berucap begitu dan selanjutnya melangkah pergi meninggalkan ruang tunggu menyisakan Hyerim dan Luhan yang menyaksikan kepergiannya. Kemudian keduanya saling pandang dengan tangan Hyerim yang melingkar dileher Luhan dan tangan Luhan yang melingkar dipinggang Hyerim.

Keduanya hanya saling pandang dengan melempar senyuman hingga mata Luhan melirik ke  arah bawah. Hyerim tidak memakai alas kaki apapun, sebentar Luhan tertegun lalu tersenyum tipis. Secara perlahan lelaki bermarga Xi itu melepaskan pelukannya membuat Hyerim juga menurunkan tangan dari leher Luhan dengan wajah heran. Detik berikutnya Luhan menatapnya dengan senyum penuh arti yang membuat dahi Hyerim berkerut bingung.

“Tunggu di sini,” adalah perintah yang Luhan ucapkan sebelum pergi beberapa menit keluar ruangan dan kembali lagi dengan sebuah kotak berwarna cream membuat kerutan bingung kian tercipta diwajah ayu Hyerim.

Dengan melempar pandangan sebentar, Luhan berjongkok di bawah tubuh Hyerim lantas meraih kaki kanan gadisnya membuat Hyerim tersentak dan reflek mengangkat gaunnya. Luhan pun mengambil kotak yang ia bawa lantas membukanya serta menarik keluar barang yang terkurung di dalamnya. Sebuah high heels elegan yang sukses membuat mata Hyerim membelalak. Ya bagaimana tidak bila high heels tersebut ialah miliknya lebih tepatnya milik mendiang ibunya. Dengan gerakan lembutnya, Luhan memasangkan sepatu tersebut dikaki kanan Hyerim yang menatapnya yang sedang menunduk dengan senyum bahagia. Sepatu tersebut pun terpasang sempurna dikaki Hyerim membuat Luhan menyunggingkan senyum dan mendongakan kepala menatap gadisnya itu yang masih tersenyum bahagia.

“Kamu benar-benar Cinderella dalam hidupku,” gumam Luhan membuat Hyerim tersenyum makin lebar lalu mengangkat gaunnya tinggi-tinggi dan berjalan menuju tempat di dekat sofanya duduk.

Hyerim berjongkok mengambil sesuatu kemudian membalikan badannya sambil melihatkan pasangan sepatu yang dipasangkan Luhan. Luhan sendiripun hanya mendengus geli dengan senyum yang serupa, melihat tingkah Hyerim yang kekanak-kanakan. Dengan lagak santainya Hyerim melempar sepatu itu untuk mendarat sempurna di lantai lantas mengangkat kakinya untuk memakai sepatu berhak tinggi itu. Setelahnya Hyerim memandangi sepatu tersebut gembira kemudian mengangkat wajah dengan senyum lebarnya pada Luhan. Keduanya kembali saling tatap dengan senyuman hingga senyuman Luhan luntur dengan wajah kosong menatap Hyerim. Mendapatkan prilaku seperti itu, Hyerim pun melunturkan senyumannya.

“Hye…” Luhan akhirnya berucap setelah hening beberapa saat.

Panggilannya pada Hyerim menarik antensi gadis itu tertuju penuh padanya lalu Luhan pun merajut langkah mendekati Hyerim dan tanpa berpikir apapun lagi langsung merengkuh gadis itu. Hyerim sendiri tidak terkejut dan hanya menampilkan raut sendu. Sekon pun makin terbuang sampai akhirnya Luhan melonggarkan pelukannya dan menangkup wajah Hyerim menyebabkan gadisnya menatapnya langsung.

“Aku yakin kita masih bisa bersama,”

Senyum samar tercipta dibibir Hyerim dengan bola mata bergetar. “Apakah ini akan berakhir happy ending?”

Namun jawaban dari bibir Luhan tidak ia keluarkan. Lelaki itu makin menatap Hyerim dalam lalu mendekatkan wajah pada wajah Hyerim. Benda lembut tak bertulang milik keduanya kembali menyapa diikuti mata Luhan dan Hyerim yang terpejam menikmati sentuhan melalui lumatan tersebut. Tangan milik Hyerim melingkar sempurna diiringi kepalanya yang ia miringkan sementara bibirnya masih terpaut dengan bibir milik Luhan yang mulai menariknya lebih mendekat dengan memeluk pinggangnya.

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

Acara pertunangan terkutuk itu pun terselenggarakan. Hyerim dengan wajah agak lesunya melangkah dengan tangan melingkar ditangan Myungsoo. Tamu undangan yang datang bertepuk tangan menyambut keduanya yang makin melangkah ke tengah ruangan, tamu undangan pun langsung berdecak kagum melihat Hyerim dan Myungsoo yang tampak serasi. Di sebelah Hyerim yang sedang menghindari tatapan orang-orang padanya, Myungsoo hanya melempar senyum pedih yang entah dimaksudkan oleh apa. Sampai akhirnya keduanya tiba di tempat yang sudah diatur, tangan Hyerim perlahan menarik diri dari tangan Myungsoo. Lantas keduanya berdiri berhadapan, masih dengan menunduk dan menghindari tatapan dari siapapun, Hyerim pun diam-diam melirik kepada tamu undangan hingga menemukan sosok Luhan tak jauh dari tempatnya dan tengah tersenyum palsu ke arahnya. Obsidian Hyerim penuh akan sosok Luhan sampai ia tersentak agak kaget tatkala Myungsoo meraih tangannya untuk disematkan cincin pertunangan.

Tamu undangan pun mulai antusias akan acara yang mulai mencapai puncaknya. Tangan Myungsoo pun sudah meraih tangan Hyerim juga megenggam satu cincin indah yang baru beberapa hari lalu ia beli, namun fokus matanya hanya termenung pada tangan Hyerim. Binar korneanya mengisyaratkan beribu makna dan tanpa sadar telah menunda pengucapan janji untuk pertunangan ini. Gadis yang ia raih tangannya ini adalah gadis yang ia cintai dan ingin ia miliki sepanjang hidupnya. Tetapi…

“… kau harus tahu. Mencintai seseorang itu bukan untuk dimiliki.”

Mata Myungsoo terpejam kala suara Yuri mulai memenuhi kepalanya. Dahinya berkerut tanda tersiksa akan ucapan Yuri yang mulai terputar dari semalam bahkan dari gadis itu pergi meninggalkan dirinya di taman. Mata Myungsoo kembali terbuka dan dirinya menghela napas, ia pun berusaha bersikap relax walau pandangan tamu undangan sudah terheran-heran akan sikapnya. Ketika Myungsoo berniat membuka suara guna melanjutkan acara, ucapan Yuri kembali membobol isi kepalanya.

“Aku disini, lebih memilih melepaskan orang yang kucintai. Karena sebatas menjadi sandarannya pun aku bahagia. Yang kuinginkan adalah hatinya bukan sebatas raganya. Bila hatinya memilih orang lain. Selain menyakiti orang yang kau cintai, kau juga menyakiti diri sendiri. Seiring berjalannya waktu, hati seseorang akan berubah. Benang merah takdir akan makin terlihat. Entah itu kau yang akan mencintai orang lain atau orang yang kau cintai balas mencintaimu. Yang perlu kita lakukan adalah bukan mengikuti obsesi dalam diri.”

Hati bukan sebatas raga. Itulah yang diinginkan sebuah cinta yang tulus. Kepala Myungsoo berkedut sakit membuatnya memejamkan mata erat-erat. Aksinya tersebut juga membuat Hyerim mengangkat kepala dan menatapnya heran. Orang-orang di sekitar pun mulai saling pandang dan berbisik akan tingkah Myungsoo yang aneh.

“Myung—“

“Aku tidak bisa,” bagaikan petir menyambar dengan cepat, Myungsoo langsung memotong panggilan Hyerim yang tertajuk untuknya. Netra orang yang berada di sana membulat dengan hati mencelos kaget. Myungsoo pun lantas mengangkat kepala serta menyarangkan tatapan dengan kelereng hitamnya yang berkaca-kaca lalu menarik tanggannya yang megenggam tangan Hyerim hingga tangan gadis itu terhempas begitu saja. “Aku tidak bisa bertunangan hari ini. Karena… karena…” kemudian kepala Myungsoo tertuju pada sosok Luhan yang masih melihatkan wajah kagetnya.

“… karena tunanganku ini mencintai pria lain,” dengan tatapan sendu dan senyum sayu, Myungsoo mengucapkan hal barusan. Ruangan yang dipadati tamu undangan itu pun seketika ramai lalu menyarangkan tatapan pada Luhan—yang langsung diketahui sebagai pria yang Myungsoo maksud. Senyum perih itu tercipta lantas ia pun menoleh lagi pada Hyerim yang melongo sangking kagetnya, Myungsoo pun lantas berkata. “Maka aku akan membatalkan pertunangan ini.”

Terlihat kedua pihak keluarga Myungsoo dan Hyerim memasang wajah shock dengan amarah terpendam. “Myungsoo…” desis Tuan Oh, ayah Hyerim. Dirinyalah yang makin tertekan karena pertunangan ini berencana untuk membenarkan nama baik putrinya dan di sebelahnya pun Nyonya Oh mengelus tangannya agar tenang.

Ditengah keramaian yang simpang siur dengan keterkejutan luar biasa, sepasang makhluk adam dan hawa tampak melangkah dengan tangan Si Wanita melingkar mesra ditangan prianya. Keduanya melempar senyum manis dan berhasil menarik perhatian seluruh tamu. Victoria dan Changmin. Ya itulah nama keduanya yang sudah berada di hadapan Hyerim dan Myungsoo. Victoria maupun Changmin melempar senyum sekilas karena langsung membalikan badan menghadap tamu undangan.

“Dikarenakan pertunangan Kim Myungsoo dan Oh Hyerim dibatalkan. Maka kami berdualah yang akan bertunangan,” orasi Changmin dengan senyum lebarnya sambil melirik Victoria yang mendongakan sedikit kepala dengan senyuman manis.

Sontak hal tersebut membuat para tamu heboh kembali. Juga pihak keluarga Hyerim dan Myungsoo membulatkan mata kaget. Bahkan pihak keluarga Victoria yang menatap ayah dan ibu Hyerim yang sekaligus orang tua Changmin dengan raut bingung. Akan tetapi, menit selanjutnya ayah dan ibu Victoria mengeluarkan senyum terbaiknya dan ayah Victoria pun menepuk bahu Tuan Oh yang terlihat sangat shock.

“Biarkan putra tertuamu yang bertunangan malam ini,” itulah ucapan Tuan Song pada ayah Hyerim yang masih setia mematung.

Dan semuanya berlalu dengan cepat. Hyerim maupun Myungsoo menyingkir dari tempat penukaran cincin. Penukaran cincin itupun dilaksanakan oleh pasangan Victoria dan Changmin yang tersenyum penuh akan rasa bahagia dan sangat kontras dengan atmosfer yang diciptakan Myungsoo dan Hyerim yang hendak melakukan acara menyematkan cincin sekon kebelakang. Keduanya tersenyum makin bahagia ketika tepukan tangan para tamu terdengar. Setelahnya acara ciuman itu terjadi membuat ruangan yang berupa ballroom di rumah keluarga Oh itu ramai akan tepuk tangan dengan suasana hati bahagia.

“Sekarang acara berdansa,” ucap MC dengan senyum riangnya.

Ucapan MC itu sukses membuat orang-orang mencari pasangannya dan mulai berdansa mengikuti Victoria dan Changmin yang merupakan sorotan utama malam ini. Yang tidak mempunyai pasangan pun memilih menyantap makanan yang ada. Luhan pun melirik ke sebelahnya, tampak Yuri sudah berbaur dengan tamu yang tidak berdansa dan mengambil beberapa camilan juga memakannya dengan santai. Sementara Jonghyun langsung berdiri di depan Joohyun dan menyodorkan tangannya yang langsung Joohyun terima suka rela lantas keduanya mulai berdansa. Ketika Luhan mulai menggerakan kepala liar menyusuri tempatnya berdiri, seketika tatapannya terhenti pada gadis bergaun putih panjang dengan penuh pernak-pernik berkilauan. Gadis yang sukses membuat pacuan jantungnya meningkat, gadis yang perlahan menarik ujung bibirnya untuk tersenyum khsusus untuknya, gadis yang melangkah perlahan mendekatinya lalu menatapnya lekat.

“Tidak ada pasangan berdansa?” tanya gadis dengan wajah ayu itu.

Tanpa menunggu lama, kepala Luhan mengangguk dengan senyum riangnya kemudian tangannya pun tersodorkan pada gadis yang sejak lahir dinamai dengan nama Oh Hyerim. Hyerim menatap tangan Luhan sejenak, dengan perasaan gembira yang tidak bisa dideskripsikan, Hyerim menerima tangan itu dan langsung mendapat prilakuan dari Luhan yang menarik tubuhnya hingga memepet lelaki itu. Tangan Luhan yang satunya ia gunakan untuk memeluk pinggang Hyerim.

“Ya, mari kita berdansa,” ucap Luhan lalu mulai menggerakan kakinya dengan kaki Hyerim yang mulai menyamai langkah dansanya.

Tapi tanpa orang-orang pedulikan. Sosok Kim Myungsoo merapuh seketika. Dadanya sesak tak bisa menahan rasa sakit yang tertahan. “Dirimu sudah benar, Myung,” itulah gumaman dengan rasa perih didadanya tatkala melihat Luhan dan Hyerim berdansa dan kemudian dirinya menggeret langkah menuju halaman belakang rumah keluarga Oh.

Kepala Myungsoo menunduk dalam dengan bola mata berkaca-kaca. Dirinya pun tak fokus berjalan sampai ‘buk!’ suara yang tercipta pada badannya yang menabrak tubuh seseorang terdengar. Terlihat Myungsoo tersekiap lalu membungkuk meminta maaf.

“Maafkan aku,” ujarnya dengan tubuh tanpa gairah.

Sementara orang yang menabraknya yang tak lain seorang gadis tampak mendesis tak suka sambil mengelap gaunnya yang jadi terkena krim lantaran tabrakan tersebut. Merasa maafnya tak direspon, Myungsoo mengangkat kepala guna menatap gadis itu yang mengerucutkan bibir kesal sambil membersihkan sisa krim di gaunnya. Seketika Myungsoo tertegun pada sosok gadis berambut blonde ini.

“Nona, kubilang maaf,” akhirnya Myungsoo mengulangi ucapan maafnya dengan agak ragu dan pelan kemudian diam-diam menilik gadis berwajah Korea namun mempunyai kornea mata berwarna biru. Pertanda darah blasteran mengalir dalam dirinya.

Gadis blasteran itu kembali mengacanginya dan hanya meliriknya sekilas dengan sinis. Aksi gadis itu membuat Myungsoo terhenyak. Tak menyangka gadis ini begitu seenaknya dan tak tahu tatakrama. Padahal Myungsoo sudah minta maaf, harusnya gadis ini menjawab dengan kata-kata lebih mengenakan bukannya menatapnya sinis.

“Annabeth, ke marilah,” ditengah kegiatan Myungsoo memperhatikan gadis itu. Suara lembut seorang pria paruh baya terdengar membuat Myungsoo bahkan gadis blasteran itu menatap arah sumber suara.

“Ya ayah,” jawab gadis tersebut—Annabeth. Well, Myungsoo pun mendapatkan nama gadis itu. Annabeth pun melirik Myungsoo membuat pria itu agak terkejut namun tatapan sinis dilihatkan Annabeth lalu gadis itu berucap. “Lain kali jalan pakai mata.”

Annabeth pun membalikan badan untuk menghampiri ayahnya meninggalkan Myungsoo yang melongo dengan mulut terbuka. Setelah beberapa lama terbuang, Myungsoo mendesis dengan wajah jengkel.

“Dasar gadis gila!” desis Myungsoo luar biasa jengkel dan memalingkan wajah ke  arah lain namun ujung matanya tak bisa tidak jahil untuk melirik Annabeth yang tampak tersenyum ramah yang sangat kontras akan sikapnya pada Myungsoo tadi. Ujung bibir Myungsoo tanpa sadar tertarik membentuk senyuman memperhatikan gadis berdarah blasteran itu. “Tapi dirinya menarik.”

Kembali lagi ke dalam ruangan. Terlihat Hyerim menikmati berdansa dengan Luhan meskipun ayahnya menatapnya dengan tatapan laser, toh Hyerim pun tidak peduli begitupula dengan Luhan. Kaki keduanya bergerak sesuai irama. Tangan kiri Hyerim berada dibahu Luhan dan tangan kiri Luhan memeluk pinggang Hyerim sementara kedua tangan kanan keduanya bertaut. Keduanya melempar senyum bahagia.

“Sudah kubilang bukan ini akan berakhir bahagia,” ujar Luhan ditengah dansa mereka. Hyerim pun tampak tak bisa menyembunyikan senyum dan mengangguk pelan.

“Sang Putri dan Pangeran pun hidup bahagia selamanya,” balas Hyerim menyebabkan dengusan geli tercipta dari Luhan yang menunduk sebentar dengan senyum geli lalu menatap Hyerim kembali.

“Ya dan mungkin ada masalah baru lagi,” Luhan berucap dengan menggerakan bola mata ke  arah ayah Hyerim yang menatap Luhan dan Hyerim tak suka. Tapi Hyerim malah terkekeh.

“Maka dari itu mari kita hadapi itu bersama,” tanpa ragupun Luhan mengangguk.

—END/TBC—


END?! IYAP! MY CINDERELLA PUN AKHIRNYA BERAKHIR. Tapi kok gantung? Liat deh aku bilang End/TBC jadi real endingnya berada di Epilog singkat. Gak panjang, hanya pendeskripsian singkat tentang Hyerim dan Luhan setelah ini. Dan bila ada yang minta sequel, aku bilang BIG NO. Hanya aku cukup buat epilog nanti. Aku hanya tertentu membuat FF season dua loh ya, tertentu. Kalo bagiku udah berakhir yaudah wkwkwkwk, jadi maafkan.

Intinya aku ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya pada kalian yang setia mengikuti cerita ini dari awal hingga akhir. Dari bulan Januari (saat teasernya diluncurin) sampe bulan Desember. Masya Allah panjang sekali ya FF yang cuman 12 chapter ini wkwkwkwk. Tapi setidaknya FF ini gak semelor FF pertamaku yang dimulai akhir 2014 dan berakhir awal 2016 LOL. Dan chapter ini panjang banget sampe 20 pages dan 9327 words (kalo gak salah kalo gak sama header dan tulisan TBC) dan ini agar bermaksud ending langsung di chapter ini.

Aku juga berasa aneh. Lah ini udah beres? Berasa lega aja beres bukan mau alay gak rela kek FFku sebelah. Mungkin karena banyak utang sih sekarang LMAO.

Jadi kalian ingin melihat real ending My Cinderella? Stay tune aja ya 🙂

Maaf bila ada typo, aku sekali edit langsung publish loh biar lega gak ada utang sama FF ini >,< sampe bertemu di FF-FF lainnya ya ^^

hdr2

Advertisements

Author:

A tinkerbell who dream to be Luhan's future wendy — Also an amature author, k-drama trash, k-running man freak, eternal ELF, ahjussi and korean actor addict in the same time — Adorable since 2001

23 thoughts on “FF : My Cinderella Chapter 12 [Is It Will Be Happily Ever After? – END]

Write ur Love Letter . . . <3

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s