Posted in Angst, Fanfiction, FF : Nuestro Amor, Friendship, PG-15, Romance, Sad, School Life, Yaoi

FF : Nuestro Amor Chapter 2

nuestro-amor-req

Nuestro Amor Chapter 2

©2016 HyeKim’s Fanfiction Story

Starring With : Luhan as Luhan || Hyerim (OC) as Kim Hyerim || EXO’s Sehun as Oh Sehun

Genre : Romance, School Life, Friendship, Sad, slight! Yaoi ||  Lenght : Mini Chapter || Rating : PG-15

Poster By : Kyoung @ Poster Channel

Summary :

Luhan, Si Anak berandalan di sekolah menyukai dewi sekolah yang lahir dengan nama Kim Hyerim. Namun ketika Luhan tahu akan titik terang cintanya terbalaskan oleh Sang Gadis, Hyerim memilih menjauhinya entah mengapa. Namun yang Luhan pasti ketahui, Hyerim menjauhinya karena sosok Oh Sehun yang rupawan. Dan yang lebih mengejutkannya, Sehun bukanlah menyukai Hyerim tapi menyukai dirinya.

Disclaimer :

This is just work of fiction, the cast(s) are belong to their parents, agency, and God. The same of plot, character, location are just accidentally. This is not meaning for aggravate one of character. I just owner of the plot. If you don’t like it, don’t read/bash. Read this fiction, leave your comment/like. Don’t be plagiat and copy-paste without premission.


When love play between us


BACKSOUND :

HAPPY READING

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

 

 

Buliran air hujan mulai menjatuhi bumi membuat hawa dingin makin menjadi. Bus yang ditunggu oleh kedua murid beda gender itu pun tak kunjung datang sedari tadi, padahal sudah sekitar tigapuluh menit lamanya keduanya menunggu. Hyerim pun mengadahkan kepala menatap langit yang mendung dengan bibir ditekuk seakan buliran air tanpa dosa itu melakukan kesalahan padanya. Well, tetesan hujan itu membuatnya kedinginan dan repot tanpa ada bus yang tak kunjung datang.

“Huh,” Hyerim menghela napas dan tubuhnya pun mulai bergetar karena hawa dingin yang menyerang. Perlahan tangannya ia angkat untuk memeluk tubuhnya sendiri walaupun itu tidak terlalu berefek besar untuk menghadapi dinginnya hujan sekarang.

Di sebelah Hyerim, terlihat Luhan dengan sikap santai khasnya sedang melihati buliran liquid bening yang menjatuhi bumi dengan kedua tangan yang berada di saku celananya. Sekon kedepannya, lelaki itu melirik Hyerim yang ada di sebelahnya. Lantas obsidian miliknya pun mendapati tubuh gadis itu bergetar berusaha melawan hawa dingin. Luhan pun bergeming dengan sebuah inisiatif dalam dirinya lalu ia pun meneguk ludahnya sebentar.

“Kau kedinginan?” tanya Luhan dengan nada sok dinginnya.

Pertanyaan Luhan menyebabkan Hyerim menoleh padanya dengan muka bingung dan masih memeluk diri, gadis itu tersenyum tipis. “Tidak kok,”

Jawabannya itu membuat Luhan berdecak namun gadis berparas ayu itu sudah menatap jalanan lagi sekarang dan masih berharap akan bus yang datang. Dengan agak ragu, Luhan menggeret langkah untuk lebih dekat pada Hyerim. Muka lelaki itu pun terlihat ragu-ragu saat berada di dekat gadis itu, inisiatif yang menyarang diotaknya pun berusaha ia pikir ulang namun akhirnya dirinya menghela napas dan akhirnya meraih tas punggungnya juga mengeluarkan satu jaket dari sana.

Detik selanjutnya setelah berulang kali membuang gengsinya, Luhan pun memakaikan jaketnya itu dipundak Hyerim diiringi ucapan. “Pakailah,”

Aksi Luhan membuat Hyerim terkejut dan langsung menoleh kepada Luhan dengan mata membola namun lelaki itu pura-pura mengalihkan pandangan ke arah lain sambil kembali memasukan tangan ke saku celana. Diam-diam Hyerim tersenyum dan meraih ujung jaket yang dipakaikan Luhan kepadanya, dirinya kembali menatap ke arah depan dengan sebuah senyuman yang disertai semburat rona kemerahan dipipinya. Beberapa waktu kedepan hujan pun masih turun dan sepertinya tak ada niatan akan bus yang lewat di halte tersebut. Luhan pun mulai jengah dan membuang gas karbondioksida melalui mulutnya menimbulkan asap dingin yang keluar.

“Sepertinya kita harus nekad menerobos hujan,” ucap Luhan membuat Hyerim meliriknya dan kembali menatap langit yang malah makin mengeluarkan tetesan yang deras.

“Sepertinya begi—”

‘Tin!’

Belum sempat Hyerim menyelesaikan ucapannya, sebuah klakson mobil terdengar mengundang Hyerim maupun Luhan menatap mobil tersebut yang mendekati halte tempat keduanya berteduh. Mata Hyerim menyipit guna mengenali mobil tersebut kemudian sekon selanjutnya matanya melebar dengan wajah gembira apalagi mobil itu sudah berhenti di depannya dan mulai menurunkan kacanya untuk melihatkan lebih jelas siapa pengemudi mobil berwarna hitam itu.

“Sehun-ah!” pekik Hyerim riang dengan senyum lebar.

Dari dalam mobil Sehun pun mengulum senyum menawannya sementara Hyerim sedikit menunduk untuk menatapnya masih dengan wajah riang. “Masuklah, aku tahu kamu terjebak hujan jadi aku menjemputmu.”

Suruhan Sehun tak langsung Hyerim turuti seperti biasanya. Gadis bermarga Kim itu menegakan badannya lalu menoleh pada Luhan dengan muka ragu. Luhan yang sedari tadi buang muka pun langsung menatap Hyerim dengan air wajah penuh tanda tanya, kemudian dirinya pun mengerti maksud gadis itu.

Dengan senyum masam Luhan mengeluarkan suara, “Pulang saja bersama Sehun, aku bisa pulang menerobos hujan.”

“Tapi—”

“Luhan-ssi, kau ikut saja,” seketika Sehun berkata membuat Luhan memasang wajah kaget dan menunjuk dirinya dengan telunjuk tangan dan dengan tenang Sehun mengangguk. “Nanti kau bisa sakit,”

Perkataan Sehun direspon pula dengan anggukan Hyerim kemudian gadis itu berucap juga. “Kau sudah menunggu bersamaku dari tadi, jadi mari pulang bersama.”

Mutlak Luhan tak bisa berkutik disenyumi seperti itu oleh Hyerim, dirinya pun berusaha tidak salah tingkah dan menggaruk belakang kepalanya. Kemudian dengan perlahan Luhan mengangguk. “Baiklah,”

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

Luhan bersumpah sangat menyesal untuk menyetujui uluran baik dari seorang Oh Sehun. Dirinya memang sudah kelewat jengkel dengan lelaki itu dan sekarang Luhan pun harus tambah jengkel dengan lelaki bermarga Oh itu. Bagaimana tidak? Selama perjalanan dengan Luhan duduk di kursi belakang dan Hyerim duduk di kursi sebelah Sehun, lelaki itu terus menggoda Hyerim. Dan errr… tentu Luhan cemburu setengah mati ketika gadis itu malah tersenyum gembira apalagi bila ada lampu merah, Sehun menyempatkan diri mencubit pipi Hyerim atau megenggam tangan gadis itu dan mengelus-elusnya. Well, layaknya kata orang-orang di sekolahnya, Kim Hyerim dan Oh Sehun adalah pasangan ideal.

“Sial, kalau menyetir ya menyetir saja,” umpat Luhan sangat pelan dengan tangan terlipat didepan dada dan memalingkan wajah ke arah jendela. Namun tanpa ia ketahui, seorang Oh Sehun menatapnya dengan senyum penuh arti melalui kaca tengah mobil.

“Hyerim-ah,” Sehun kembali memulai aksinya yakni membuat Luhan panas. Gadis manis yang ia panggil namanya pun menoleh padanya. “Ingin bermain ke rumahku sehabis ini?” tanya Sehun dengan fokus mata menyetir ditengah hujan.

Terlihat Hyerim berpikir sambil bergumam lalu dirinya memasang wajah bersalah. “Aku tidak bisa, Hun. Maaf.”

Mendengar jawaban Hyerim, Sehun pun menghela napas kecewa. “Ah ya sudah tidak apa-apa…” kembali Sehun melirik Luhan dari kaca tengah dan tersenyum samar, lelaki bermarga Lu itu masih membuang pandang ke arah luar namun terlihat mendengus kesal. “… sayang.” dengan sengaja Sehun memanggil Hyerim demikian dan dirinya pun sangat puas ketika melihat Luhan memutar bola matanya malas.

Hyerim yang menjadi alat Sehun pun tampak membuka mulutnya kaget sekaligus cengo lalu mendengus geli. “Sayang? Kamu tahu itu menjijikan!”

“Tapi kita kan pasangan ideal di Hanlim,” ujaran Sehun membuat Hyerim kembali mendengus geli dan mengalihkan tatapan keluar.

“Terserah.”

Lalu hening menyapa mobil. Hanya ada suara lagu dari radio dan mesin mobil. Buliran hujan mulai memelankan aksinya pertanda langit mulai memberhentikan diri untuk menumpahkan tangisannya. Seketika Sehun memberhentikan mobilnya membuat Luhan tersadar dengan menelisik tempat berhentinya mobil yang ia tumpangi. Komplek rumahnya. Luhan pun teringat akan dirinya yang memberikan alamat rumahnya ketika Hyerim menanyainya agar dirinya diantar lebih dulu karena Hyerim dan Sehun berada di komplek perumahaan yang sama. Luhan pun menolehkan kepala ke arah Sehun yang sudah menatapnya sambil mengulum senyum begitupula Hyerim.

“Kita sudah sampai,” adalah kata-kata Sehun padanya dan Luhan hanya meresponnya dengan senyum singkat.

“Ya, terimakasih atas tumpangannya.” belum sempat Sehun menjawab ucapan terimakasihnya, Luhan langsung turun dari mobil dan merajut langkah buru-buru menuju rumahnya. Diam-diam Sehun memperhatikan punggung lelaki itu dari kaca mobil sambil tersenyum.

Hyerim yang ada di sebelah Sehun pun menatap lelaki itu yang senyam-senyum dengan kepala geleng-geleng lalu dirinya mengetuk keras belakang kepala Sehun membuat lelaki jangkung itu mengaduh dan menatapnya dengan wajah agak kesal. Sementara Hyerim menatapnya datar sambil melipat tangan didepan dada.

“Sudah puas memperalatku?” semprot Hyerim dengan wajah jengkelnya mengundang Sehun yang langsung tersenyum jenaka dan mengulurkan tangan untuk mengacak-acakan rambut gadis itu.

“Maafkan aku Hyerim sayang,” Sehun berucap dengan nada dimanis-maniskan membuat Hyerim mendengus keras pertanda kesal lalu buang muka.

Sebelum melanjutkan obrolannya dengan Hyerim, Sehun lebih dulu menjalankan mobilnya lalu mulai berucap kembali ketika mobilnya sudah agak jauh dari rumah Luhan. “Kamu harus lihat, Luhan sangat kesal di kursi belakang barusan.”   terlihat Sehun sangat puas mengatakannya dan Hyerim yang masih melipat tanganpun melirik Sehun dari ujung mata.

“Huh? Dia cemburu?” kepala Sehun pun mengangguk puas tanpa melirik Hyerim, terlihat lelaki itu sangat senang. “Baguslah dia cemburu padamu. Aku sudah sangat geli dibilang sebagai pasangan ideal dengan lelaki gay sepertimu, Oh Sehun.” lidah tajam Hyerim sekarang beraksi membuat Sehun menoleh sebentar kepadanya dengan wajah datar namun tak tersinggung sama sekali.

Sambil fokus menggerakan setir mobilnya dengan mata yang memandang ke depan, lagi-lagi Sehun berkata. “Aku dengar kamu menjadi turtornya,”

Perkataan Sehun membuat Hyerim yang sudah sibuk dengan dunianya sendiripun menatap lelaki bermarga Oh itu dengan tatapan menyelidik dan menghunus dalam. “Kamu menguntitnya lagi dan memata-matainya?”

Terlihat Sehun menampilkan wajah hampir terbahak lalu mengulurkan satu tangan tanpa mengalihkan fokus mata dari jalanan di depannya—tak mau ambil resiko akan kecelakaan, untuk mencubit pipi kanan Hyerim.

“Ayolah aku ini ketua OSIS. Gampang sekali memperoleh informasi seperti itu.” Hyerim pun tampak cemberut karena Sehun yang main mencubit pipinya. “Dan sepertinya kamu harus membantuku lagi.” sekarang Hyerim tampak mengerutkan alis menatap Sehun yang tersenyum miring dengan wajah penuh rencana.

“Membantumu apa lagi? Tak cukupkah aku dijadikan gadis yang diklaim sebagai gadismu di sekolah agar kedokmu tidak terbongkar?” ucap Hyerim dibarengi oleh bola mata memutar malas.

Ya, prilaku Sehun yang layaknya kekasih impian para gadis pada Hyerim di sekolah hanyalah untuk menutupi kedoknya yang tak menyukai gadis sama sekali. Hyerim adalah sahabatnya dari kecil. Gadis bermarga Kim itu sudah tahu selak-beluk tentang Oh Sehun maka mau saja dirinya membantu sahabatnya itu walau harus diklaim sebagai gadis yang menjalin hubungan mesra tanpa status dengan seorang lelaki gay. Sebenarnya memikirkan hal itu membuat Hyerim bergidik ngeri.

Sehun memberhentikan mobilnya karena lampu lalu lintas yang menyala merah, dirinya pun menolehkan kepala pada Hyerim yang memandang arah depan dengan pipi mengembung kesal. “Kamu harus membantuku berdekatan dengan Luhan.”

Ucapan Sehun langsung dihadiahi tatapan super bingung Hyerim yang langsung menoleh padanya dengan wajah melongo. Lalu gadis itu mengadahkan kepala ke atas seraya mendesah setelahnya menatap Sehun memelas. “Ayolah Oh Sehun aku ini menjadi turtornya bukannya menjadi pencari jodoh untuknya.”

Bahu Sehun ia angkat pertanda acuh akan hal tersebut dengan wajah tak peduli kemudian kembali menyarangkan tatapannya pada Hyerim lebih tepatnya pada jaket yang terlampirkan dibahu gadis itu. Sehun menyunggingkan senyum tipis karena tahu pasti jaket berwarna abu-abu itu bukan milik Hyerim. Tetapi selanjutnya Sehun kembali menatap wajah Hyerim.

“Aku tahu kamu mencoba menjadi turtor yang diamanatkan Jinwoo saem tapi ini kesempatan juga untukmu membantuku…” lalu Sehun kembali menyarangkan tatapan pada jaket milik Luhan, ya dirinya tahu jaket itu milik orang yang ia sukai. Dengan senyum samarnya, Sehun melanjutkan frasanya barusan. “… dan aku ingin mempringatimu untuk tidak berharap pada Luhan. Ayahnya itu seorang homoseksual maka tak menutup kemungkinan bahwa dirinyapun begitu.”

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

“Ayahnya itu seorang homoseksual maka tak menutup kemungkinan bahwa dirinyapun begitu.” gumaman tersebut lolos dari bibir manis Hyerim yang sedang berjalan pagi hari ini menuju sekolahnya.

Ucapan Sehun kemarin sore sudah membobol pikiran Hyerim sedari malam. Jangan terlalu berharap pada Luhan. Pringatan Sehun tersebut menyebabkan Hyerim merasakan sesak tak beralasan direlung hatinya. Langsung saja Hyerim melayangkan tamparan pelan dipipinya lalu menggeleng, berusaha menyadarkan diri.

“Ayolah Hyerim, sadarlah. Sehun mengatakan ayah lelaki itupun gay. Kemungkinan diapun gay, jangan sampai kamu membawa perasaan tak beralasan padanya,” ucap Hyerim menyadarkan diri lalu dirinya membuang napas agar sedikit lebih tenang.

Diawali oleh anggukannya, Hyerim kembali melangkah menuju sekolahnya. Hari ini dirinya tidak berangkat bersama Sehun. Sejujurnya keduanya hanya sering berjanjian di jalan dekat sekolah untuk melanjutkan perjalanan, frekuensi Sehun menjemput Hyerim pun bisa dihitung dengan jari tangan. Semua hal itu hanya untuk menutupi kedok Sehun semata. Lelaki bernama lengkap Oh Sehun itu masih agak menjaga image untuk tidak mengakui dirinya seorang gay.

Seketika dari ujung netranya Hyerim menangkap sosok punggung Luhan yang berjalan beberapa jengkal di hadapannya. Hal tersebut membuat mata Hyerim mengerjap pelan dan tanpa sadar memberhentikan langkah dengan bola mata mengikuti arah jalan Luhan. Sejurus kemudian Hyerim mengingat sesuatu dengan menjentikan jari diiringi mulut terbuka. Setelahnya, Hyerim menarik tasnya ke depan dada dengan dilampirkan disatu bahunya lalu membuka resleting tasnya untuk mencari satu barang milik Luhan yang kemarin dipinjamkan pria itu padanya. Sebuah jaket berwarna abu-abu itupun sudah Hyerim pegang dengan seulas senyum mengingat momen ketika Luhan secara tak terduga menyampirkan benda tersebut dibahunya ditengah dinginnya hujan.

Hyerim lantas mengangkat kepala untuk mencari keberadaan Luhan, lelaki Lu itu sedang berbelok ke sebuah gang. Namun ketika Hyerim ingin menggeret langkah ke arah Luhan, kelereng beriris hitam miliknya mendapati segerombolan siswa dengan penampilan acak-acakan ala preman berjalan ke arah tempat Luhan menghilang tadi. Mereka saling pandang dan mengangguk lalu berjalan ke gang yang dimasuki Luhan. Dahi Hyerim mengerut menonton gelagat aneh itu namun sedetik kemudian dirinya paham akan apa yang terjadi dan seketika wajahnya langsung berubah panik.

“Huh,” sementara itu Luhan sendiri terlihat menghela napas dengan gaya santai khasnya yang tak lupa akan tangan yang dimasukan ke saku celana.

Dirinya menendang kaleng minuman bersoda yang tergeletak tak berdaya di jalanan, wajahnya terlihat tidak dalam mood yang baik. “Pagi-pagi Si Kevin itu malah membawa lelaki berpenyakitan ke rumah.” ujar Luhan dengan senyum meringis sebal tatkala otaknya memutar kembali adegan pagi hari di rumahnya ketika ayahnya, Kevin Lu membawa kekasih sesama jenisnya ke rumah.

“Lelaki berpenyakit itu dengan muka tebalnya masih berani-beraninya tersenyum padaku,” terus saja Luhan berujar dengan nada kekesalan dan menendang krikil yang tergeletak di jalanan. Sampai dirinya sendiripun tak menyadari akan gerombolan siswa berpenampilan preman berada di belakangnya sambil menyunggingkan senyum bringas.

Para siswa itupun memberhentikan langkah dan salah satu diantara mereka yang kelihatan sangat berkuasapun maju ke depan sambil berkacak pinggang. Si Ketua Geng menyarangkan tatapan tak bersahabat pada punggung Luhan yang sibuk menendangi barang yang ada di hadapannya sambil mengumpat kasar. Akhirnya aksi Luhan berhenti tatkala dirinya menyadari ada seseorang yang mengawasinya, dengan perlahan Luhan memutar tubuh dan kala itulah tatapannya bersibobrok dengan ketua geng yang langsung tersenyum menjijikan kepadanya.

“Hei Luhan. Kita bertemu di sini. Waw! Kebetulan sekali ya aku tidak sedang sendiri,” ujar Song Taehyun—Si Ketua Geng, dengan senyum liciknya. Di belakangnya, para anggota gengnya terlihat menyiapkan kepalan tinjunya dan memukul-mukulkannya ke telapak tangan mereka sendiri—pertanda siap bertarung.

Melihat akan sifat pengecut Taehyun yang berani-beraninya mengkeroyok dirinya dengan lawan tak seimbang, Luhan pun menampilkan senyum mengejek lalu mengangkat dagunya angkuh. “Kau berani ketika membawa pasukan huh?” delikan tajam Luhan berikan pada Taehyun yang langsung terbahak.

“Daripada dirimu sok menjadi pahlawan di daerah kami,” balas Taehyun dengan tatapan sengit sambil memukul dadanya dengan kepalan tangan kanannya, tak lupa memberikan Luhan tatapan tajam.

Kepala Luhan ia gerak-gerakan dengan gerakan memutar untuk melemaskan otot lehernya. Setelahnya Luhan bersiap memasang kuda-kudanya dan mendengus keras dengan tatapan menatang. “Sok menjadi pahlawan katamu?” kuda-kuda bertarung Luhan pun siap. “Kalau begitu lawanlah aku.”

Tanpa menunggu aba-aba dari Taehyun. Beberapa anggota gengnya langsung berlari ke arah Luhan dan menyerangnya. Sementara Taehyun sendiri hanya berdiri manis sambil melipat tangan dengan senyum miring. Perkelahianpun terjadi. Banyak pukulan yang dilayangkan Luhan pada anggota geng Taehyun dan banyak sekali dirinya menghindari pukulan tersebut. Sejauh ini Luhan masih memimpin hingga satu anggota Taehyun terlempar keras ke aspal hingga terkapar.

Anggota tersebut merasa tak terima dan menatap Luhan bengis, dirinya pun membuang ludah. “Cuh, berani-beraninya bajingan itu.” umpatan kasar itu langsung ditengok oleh Taehyun, anggotanya itu menatapnya dengan bola mata membiaskan sebuah kode. Taehyun yang pahampun mengangguk tanpa ragu.

Detik berikutnya, anggota Taehyun itu mengeluarkan pisau dibalik kemejanya dan dengan senyum bengis mulai berdiri dan menghampiri Luhan yang sibuk berkelahi dengan posisi membelakanginya. Punggung Luhan yang sudah tak tersampirkan tas punggungnya membuat anggota Taehyun menatapnya dalam. Pisau yang berada digenggaman anggota Taehyun itu dimain-mainkan olehnya dengan senyum terjahat yang ia cetak diparasnya sampai…

‘Srek!’

Tanpa belas kasihan, pisau tersebut digerakan kepunggung Luhan dan mencetak luka lebar berupa garis panjang yang sukses membuat kemeja sekolah milik Luhan sobek sebagian dibagian belakang. Dalam hitungan detik tubuh Luhan kaku dengan perasaan perih menjalar dari punggungnya, matanya mutlak membola. Reaksi Luhan pun ditanggapi senyum puas para geng Taehyun dan salah satu dari merekapun melayangkan tinjuan keras keperut Luhan sampai tubuh Luhan pun terkapar di aspal jalanan.

“Akh,” rintihan tertahan keluar dari mulut Luhan yang berusaha menahan sakit dipunggungnya tepat dibagian tergoresnya luka yang diciptakan anggota Taehyun.

Dengan pandangan agak samar, Luhan melihat Taehyun menatapnya penuh kemenangan sambil berkacak pinggang lalu lelaki bajingan itu menatap member gengnya yang memegang pisau dan berucap. “Habisi dia.”

Titahan Taehyun dijawab oleh anggukan anggotanya yang mulai mendekati tubuh Luhan yang terkapar dan belum sanggup berdiri. Tatkala dirinya sudah berada beberapa jengkal dengan Luhan, pisau yang ia main-mainkan itu mulai ia gerakan untuk menghabisi Luhan sesuai perintah Taehyun namun…

‘Duk! Duk!’

Ya!” dirinya berteriak dan menjatuhkan pisau tersebut ke aspal jalanan hingga menimbulkan suara ‘cling!’ dari logam pisau. Sebuah batu dengan tidak sopannya mengenai belakang kepalanya.

‘Duk! Duk!’

Belum sempat anggota Taehyun yang memegang pisau barusan mengetahui oknum yang melemparinya dengan batu. Batu-batu tersebut melayang kembali mengenai member yang lainnya bahkan Taehyun sendiri. Anggota geng tersebut termasuk ketuanya yakni Taehyun langsung melayangkan tatapan ke arah belakang—tempat yang diyakini sebagai arah terlemparnya batu. Mereka semua memasang muka jengkel bukan main apalagi pelemparnya adalah…

“Luhan! Bangun! Cepat lari!” seorang gadis. Gadis cantik yang sedang keripuhan dengan wajah panik namun tetap melempari batu.

Mendengar suara ayu dengan intonasi panik itu membuat Luhan menjernikah penglihatannya. Betapa terkejutnya Luhan ketika mengetahui oknum yang nekad menyelamatkannya adalah… “Hyerim,” nama gadis itupun Luhan lafalkan diatas keterkejutannya.

Taehyun yang murka dengan tangan menangkis beberapa batu yang terarah kepadanya pun melirik anggota gengnya sekilas, ia pun berteriak. “Kenapa diam? Cepat hajar gadis ini!”

Dan teriakan tersebut bersamaan akan batu yang ada dipersedian tangan Hyerim habis. Gadis itu makin panik. Dengan langkah linglungnya, Hyerim mulai berlari setelah sebelumnya melirik Luhan yang berusaha bangun. Hyerim pun mulai berlari untuk kabur dari kejaran geng Taehyun yang berlari dengan langkah lebih lebar darinya.

“Hei nona manis. Berhenti di sana!” teriakan itu terdengar tepat di belakang Hyerim.

Hyerim pun melirik ke arah belakang tanpa mempause larinya. Dirinya mendapati para anggota geng Taehyun menatapnya seakan kelaparan. Sial, ini pasti karena wajahnya yang kelewat cantik. Sudah dipastikan oleh Hyerim bahwa dirinya akan melebihi mati tatkala tertangkap anggota geng tersebut. Kembalilah gadis bermarga Kim itu menatap arah depan dengan napas mulai tersenggal dan kaki pegal, keringatpun turut andil dalam aksi kaburnya yang habis-habisan membuang banyak tenaga.

“Hah! Hah!” napas Hyerim terdengar tak teratur, dalam dirinya terbesit bagaimana bisa ia nekad menyelamatkan Luhan padahal untuk menyelamatkan dirinya seperti ini pun Hyerim tidak menjamin.

Laju anggota geng Taehyun terdengar mulai lebih mendekat menyebabkan perasaan was-was Hyerim meningkat ditingkat paling final. Rasa takutnya mulai tak terbendung. Hyerim rasa kakinya seakan-akan bisa copot detik ini juga karena lelah berlari.

“Manis, berhentilah. Kita akan bersenang-senang nanti.” sebuah suara yang hasrat akan napsu karena kecantikan Hyerim itu menyentil gendang telinga gadis Kim itu yang dadanya naik turun lantaran napasnya yang tak beraturan dan laju larinya mulai memelan.

Namun Hyerim tidak patah arang dan terus berlari bahkan meningkatkan kembali laju larinya. Di depannya ada sebuah belokan dan Hyerim pun dengan gerakan cepat mengiring laju larinya ke belokan tersebut. Tepat di saat dirinya berbelok, sebuah tangan kekar dengan gerakan sangat gesit menarik tangannya dan langsung juga membekap mulutnya. Tubuh Hyerim tertarik ke celah gang yang sempit. Pemilik tangan yang menariknya itu memutar tubuh Hyerim yang membulatkan mata kaget hingga Hyerim berhadap-hadapan dengan oknum yang menariknya.

Luhan. Netra Hyerim yang melebarpun mulai pudar dengan wajah lega saat tahu Luhan lah yang menariknya. Lelaki itu menurunkan tangan yang membekap mulut Hyerim dan meletakan telunjuknya didepan bibir pertanda untuk Hyerim tidak bising.

‘Tap! Tap! Tap!’

Lari yang bising itu terdengar di dekat keduanya. Dan dengan gerakan refleknya, Luhan menarik tangan Hyerim hingga tubuh gadis itu tertarik ke arahnya menyebabkan Hyerim yang tersentak kaget namun tak berani berkutik sama sekali maka dari itu Hyerim hanya menggerak-gerakan bola matanya resah. Luhan sendiripun agak menjengjangkan leher untuk menelisik keadaan di sekitarnya lalu dirinya menurunkan pandangan dari arah luar celah gang. Dirinya langsung dilanda rasa gugup tatkala menyadari jaraknya dengan Hyerim sangatlah dekat bahkan bibirnya tepat di depan kening gadis bernama lengkap Kim Hyerim tersebut. Luhan mati-matian menahan diri agar tidak lebih maju dan menyebabkan bibirnya menyentuh mungkin mencium kening Hyerim yang sedikit lebih pendek darinya.

“Eung…” Hyerim mengerang resah dengan menggigit bibir bawahnya dan tangan yang bergerak-gerak dalam cengkraman tangan Luhan. Tangannya dan tangan milik Luhan terpaut menjadi satu membuat Hyerim menjadi gugup.

‘Tap!’

Langkah kaki yang mendekat ke tempat persembunyian Hyerim dan Luhan itu membuat keduanya was-was dan tanpa Luhan sadari dirinya menarik tubuh Hyerim hingga memutar menyebabkan tubuhnya sendiri bersender pada tembok kumuh tempat persembunyiannya ini. Gerakan gesit Luhan lagi-lagi membuat Hyerim terkejut apalagi sekarang…

Hyerim pun menatap Luhan yang sekarang merengkuh tubuhnya. Badan keduanya saling menempel karena Luhan yang memeluk erat tubuh Hyerim dan Luhan sendiri tampak tak menyadarinya dan masih memalingkah wajah ke arah lain untuk melihat situasi. Tatkala dirasa situasinya aman, Luhan menghela napas lalu kembali menatap ke arah Hyerim dan langsung saja matanya membulat kaget ketika mendapati wajah gadis itu berjarak satu jengkal dengan wajahnya.

Sensasi gila dirasakan Luhan ketika napas Hyerim menggelitik kulit wajahnya dan mata gadis itu menatapnya intens. Degup jantung mulai terdengar,  entah jantung milik siapa yang berdetak layaknya lagu penghantar tidur. Atau mungkin jantung keduanyalah yang berirama beriringan seperti itu.

“Ekhem,” demi meminalisir rasa gugup, Luhan berdehem dengan muka ragu dan tampak Hyerim mengedipkan mata beberapa kali lalu tersadar akan tergemingannya tatkala Luhan melepaskan rengkuhannya dan membuang muka ke arah lain. “Terimakasih sudah menyelamatkanku walau kau harus nekad tanpa rencana matang seperti tadi.”

Luhan masih saja buang muka untuk tidak menatap Hyerim karena sesungguhnya dirinya berusaha menyamarkan wajahnya yang memerah dan tidak bertingkah salah tingkah. Hyerim pun mengulum senyum lalu mengangguk.

“Ya dan terimakasih juga. Kalau bukan berkat dirimu mungkin aku sudah jadi santapan bajingan-bajingan lapar tadi,” kata Hyerim tulus sambil menatap Luhan yang memposisikan tubuh menyamping sangking menghindari Hyerim.

Posisi Luhan itu membuat Hyerim mau tak mau melihat goresan lebar dibagian punggung sebelah kiri atas. Goresan yang menyebabkan sebuah sobekan di kemeja lelaki itu hingga terlihat sederet darah kering di sana. Hyerim menatap luka ditubuh Luhan itu dengan binar mata khawatir dan Luhan yang peka diperhatikanpun menatap Hyerim bingung dan tampak gadis itu menggigit bibir bawahnya masih dengan bola mata menatap luka Luhan. Kepala lelaki itu pun tertoleh ke arah luka yang menjadi perhatian Hyerim lalu menatap gadis itu dengan wajah cuek.

“Tak sesakit kelihatannya,” ujar Luhan lalu menjelitkan bahunya namun sialnya bagian lukanya jadi menyalurkan rasa perih kembali membuat Luhan memejamkan mata dengan wajah kesakitan dan mulut terbuka meloloskan rintihan. “Akh.”

Tanpa perlu dijabarkan Hyerim pun tahu luka yang Luhan bilang tidak sakit itu sangatlah perih dan agak parah. Gadis bernama Kim Hyerim tersebut membuang napasnya lalu meraih tas punggungnya lalu mengeluarkan sesuatu dari sana. Gerakan Hyerim hanya dilirik oleh Luhan dari ujung matanya dan dirinyapun berjongkok mengambil tas punggungnya yang berada di sebelah kakinya namun ketika dirinya ingin menyampirkan tasnya, Hyerim mendekatinya dan lebih dulu menyampirkan sebuah jaket dibahu Luhan.

Penggerakan Luhan yang sudah memegang tas punggungnya pun menatap Hyerim tanpa ekspresi. Gadis itu pun tampak mengelus bahu Luhan sebentar lalu menatap pria itu kemudian mengulum senyum manis khasnya. “Aku ingin mengembalikan jaketmu sebenarnya dan sepertinya jaket tersebut berfungsi menutupi punggungmu yang terluka karena… ya kemejamu pun sobek.”

Beberapa detik Luhan terdiam lalu dirinya meneguk ludah masuk kekerongkongan. Kepalanya pun mengangguk dan dengan gerakan kikuk Luhan menyampirkan tasnya kepunggung. Dirinya pun berjalan beberapa langkah ke depan namun sebelum benar-benar keluar dari celah gang tempatnya bersembunyi dengan Hyerim dari tadi, tubuh Luhan kembali memutar lalu dirinya mengulurkan tangan kanannya dengan senyum kaku.

“Ayo kita ke sekolah sekarang,” ajakan Luhan diunsuri nada ragu lantaran gengsi yang membentur langit dan satu tangannya lagi menggaruk belakang kepalanya.

Dengan senyum lebar, Hyerim menarik langkah ke depan Luhan dan dengan senang hati menerima uluran tangan Luhan yang lantas menyebabkan tangan keduanya pun bergandengan dengan Hyerim yang mengamit tangan Luhan terlebih dahulu. Kepala Hyerim didetik selanjutnya pun mengangguk dan dirinya pun menyetujui ajakan Luhan.

“Ya, ayo ke sekolah dan sepertinya kita harus meloncat tembok karena gerbang sudah ditutup dari sepuluh menit yang lalu.”

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

Seperti dugaan Hyerim, gerbang Hanlim SHS sudah ditutup dan tidak bisa satu muridpun melewatinya. Akhirnya Luhan pun menarik Hyerim untuk mengendap-ngendap ke belakang sekolah dan menuju sebuah tembok yang tidak terlalu tinggi. Setelah sampai di situ, Luhan melepaskan genggaman tangannya pada Hyerim dan mengangkat kepala untuk menelisik tembok tersebut. Setelah memperhatikannya, Luhan kembali menoleh pada Hyerim yang sedang menatapinya dari tadi.

“Naiklah kepunggungku untuk memanjat naik. Nanti aku akan menyusul,” adalah printah Luhan yang direspon Hyerim dengan wajah ragunya karena luka dipunggung Luhan.

Tampak bibir Hyerim ia gigit dengan wajah tercetak ragu-ragu. “Tapi Lu—”

Secara cepat Luhan menyambar bahu Hyerim dan meremasnya lembut serta menyarangkan tatapannya tepat ke retina gadis jelita di hadapnnya ini. Tatapan serta wajahnya menunjukan sebuah keyakinan. “Tenang saja, aku tak apa. Kau harus naik kepunggungku untuk memudahkan dirimu meloncat masuk.”

Walau masih agak ragu, Hyerim pun akhirnya menuruti Luhan. Lelaki itu tampak membungkuk dan menyuruh Hyerim naik kepunggungnya. Setelah menghela napasnya, kepala Hyerim pun ia anggukan untuk meyakinkan diri. Bisa dibilang ini kali pertama Hyerim memanjat masuk melalui tembok sekolah, berbeda dengan Luhan yang sudah sering melakukannya bila ingin kabur atau terlambat masuk sekolah. Setelah membuang beberapa waktu, Hyerim pun menginjakan kaki kanannya diatas punggung Luhan kemudian mengiring satu kakinya lagi naik keatas punggung lelaki itu diiringi tubuhnya yang naik total diatas punggung Luhan dengan berdiri. Di bawah Hyerim, Luhan tampak memasang wajah menahan sakit lantaran lukanya mulai dengan tak sopannya menyalurkan rasa perihnya itu.

Di lain sisi, Hyerim pun meraih atas tembok di depannya lalu mulai menarik diri untuk memanjat masuk. Dengan gerakan hati-hati dan hati was-was, Hyerim pun berhasil menarik diri dan perlahan kakinya mulai terangkat dari punggung Luhan. Sebelum mendaratkan diri dengan meloncat ke rumput di bawahnya, Hyerim menelisik lebih dulu, memastikan tak ada satpam sekolahnya yang melihat aksinya memanjat. Setelah terasa aman Hyerim pun langsung memanjat masuk dan meloncat turun dengan mulus di rumput halaman belakang sekolah.

“Huh!” helaan napas lega Hyerim keluar dengan pandangan menelisik sekitar.

Tanpa Hyerim duga, Luhan yang menyusul masukpun dengan buru-buru memanjat dan langsung saja meloncat turun tanpa menyadari Hyerim yang belum merubah posisi yang mana posisi gadis itu masih berdiri di dekat tembok. Hingga tanpa diinginkan keduanya, Luhan pun mengalami pendaratan gagal dengan menimpa tubuh Hyerim.

‘Bak!’

“Akh.” pekikan keduanya pun terdengar diiringi tubuh Luhan yang menindih tubuh Hyerim di atas rumput.

Luhan pun menahan bobot tubuhnya yang sebenarnya tidak menindih tubuh Hyerim total dengan meletakan telapak tangannya agar posisi tubuhnya tetap tak menindih tubuh Hyerim total. Hyerim yang berada di bawah Luhan pun membalikan tubuhnya agak susah lalu langsung bergeming ketika wajahnya dan wajah Luhan lagi-lagi berdekatan. Dada Hyerim dan Luhan naik turun pertanda napas keduanya yang tidak teratur. Kedua obsidian itu bertabrakan dan sama-sama terpana akan satu sama lain.

“Hey! Siapa di sana?” sampai sebuah suara menyentil telinga keduanya dan menghancurkan atmosfer gugup yang tercipta. Kepala Hyerim dan Luhan tertoleh ke sumber suara, dari jarak yang masih agak jauh terlihat satpam sekolah mendekat ke arah mereka.

“Sial,” umpat Luhan dengan bibir bawah yang ia gigit kuat. Hyerim pun tak beda jauh dari gugup karena sebagai murid teladan dirinya benar-benar tak mau berurusan dengan guru konseling akan perihal pelanggaran.

Langkah satpam sekolah kian mendekat ke arah sumber bising yang ia dengar barusan. Dengan wajah penasaran dan mata bergerak liar, akhirnya satpam yang berumur pertengahan itupun sampai ke tempat Hyerim dan Luhan barusan. Tempat tersebut sudah tersapu rapi tak melihatkan sosok Hyerim yang tertindih tubuh Luhan seperti beberapa detik kebelakang, hal tersebut membuat Si Satpam mengedarkan pandangan ke sekitar.

Sementara di sisi lain, Luhan dan Hyerim yang merupakan oknum kebisingan itu terlihat bersembunyi di balik tembok yang berada di dekat halaman belakang sambil melirik dari ujung mata ke arah satpam tersebut. Keduanya bersikap berjaga-jaga dan berusaha tak menimbulkan suara bising agar tidak ketahuan. Dan tangan keduanya kembali teramit erat.

“Ah kurasa aku salah dengar,” ialah ucapan Si Satpam dengan muka bingung dan kepala dimiringkan kemudian dirinya pun membalikan badan kembali untuk menjauh dari tempat tersebut.

Di balik tembok itu pun Hyerim dan Luhan menghembuskan napas setelah menahannya selama bersembunyi karena gugup. Lalu Luhan pun menolehkan kepala ke arah Hyerim dan berkata. “Ayo kita ke kelas sekarang dan berkata kita mendapat kursus tambahan dari Jinwoo saem.”

Dahi Hyerim langsung mengerut dan terlihat dirinya bingung dengan wajah kurang setuju akan usul Luhan untuk berbohong. “Kenapa tidak jujur saja bahwa dirimu—”

“Urusannya akan panjang,” potong Luhan cepat dan berusaha mengendalikan intonasi suaranya untuk tidak terlalu keras dan berujung akan dirinya dan Hyerim tertangkap satpam sekolah. Hyerim pun langsung bungkam dan terlihat Luhan membuang napas. “Jangan terlalu mencampuri urusanku lagi, Hyerim-ssi. Ah tidak, Hyerim-ah. Kau berada dalam bahaya apalagi aku baru saja berkelahi dan kau membantuku. Aku tidak ingin mencoreng predikat murid teladan milikmu.”

Hyerim tambah bungkam akan ucapan Luhan yang bahkan sangatlah benar. Lalu lelaki itu menolehkan pandangan ke arah depan lagi. “Lebih baik kita ke kelas sekarang dan berbohonglah sedikit.”

Saat tubuh Luhan yang masih megenggam tangan Hyerim hendak beranjak, Hyerim malah menarik tangan Luhan yang megenggamnya untuk memberhentikan lelaki itu yang kembali menoleh ke arahnya. “Kenapa lagi?”

Terlihat Hyerim tersenyum tipis lalu menggerakan bola matanya ke arah punggung Luhan yang lantas lelaki itu pun langsung tahu maksud gadis ini. Luka punggungnya. Terlihat Luhan membuang napas agak kasar. “Sudah kubilang bahwa—”

“Daripada berbohong lebih baik kita ke ruang kesehatan untuk mengobati lukamu,” dan sekaranglah Luhan yang bungkam ketika Hyerim menyerobot ucapannya itu. Manik mata Hyerim yang menatapnya membuat Luhan membatu dan hatinya pun menyuruh untuk menuruti gadis ini.

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

Pada akhirnya pun Luhan menuruti perkataan Hyerim untuk pergi ke ruang kesehatan. Keduanya pun sampai ke ruangan tersebut setelah menghindari beberapa mata yang mungkin akan menangkap mereka. Hyerim pun tanpa ragu membuka pintu ruang kesehatan dan memasukinya, tampak Luhan mengekor di belakang gadis itu dan langsung menutup pintu ruang kesehatan dan menguncinya—berjaga-jaga agar keduanya tidak ketahuan membolos.

“Duduklah lalu buka jaket dan kemejamu,”

Tatkala Luhan membalikan badan ke arah Hyerim, gadis itu dengan senyuman lembutnya menitahkan pada Luhan agar cepat diobati. Tampak dibahu Hyerim tas punggungnya sudah tak disampirkan dan diletakkan di sebuah kursi yang ada di ruangan tersebut.

Terlihat Luhan memasang air wajah kaku dengan senyum tipis namun menuruti titahan Hyerim yang dikhususkan untuknya. Mengikuti arahan gadis berwajah jelita itu, Luhan pun sekarang terduduk di atas ranjang ruang kesehatan dengan memunggungi Hyerim. Lelaki Lu itu tampak memejamkan mata dengan wajah meringis akan kesakitan pada lukanya yang diobati oleh Hyerim. Dan Hyerim yang duduk di belakang Luhan pun menggerakan pinset yang menjepit kapas bertabur obat merah yang diarahkan hati-hati pada luka milik Luhan. Paras jelitanya melihatkan kekhawatiran pada luka yang tergoreskan pada tubuh lelaki di depannya ini.

“Pasti sakit sekali,” ujar Hyerim dengan kornea kelereng hitamnya menampilkan kekhawatiran luar biasa. Dirinya pun sudah selesai mengobati luka Luhan.

Satu desisan keluar dari Luhan yang menggertakan giginya, masih mencoba menahan perasaan sakit yang menjelajar ditubuhnya. Selanjutnya kepala Luhan sedikit tertoleh dan satu rangkaian kata keluar dari mulutnya.

“Tidak usah dipikirkan.”

Setelahnya Luhan membalikan tubuhnya hingga dirinya dan Hyerim saling berhadapan. Seketika logam hitam miliknya mendapati sebuah goresan lecet ditangan gadis Kim di hadapannya, Hyerim yang sedang menggerakan tangan di atas rok seragamnya sambil mencengkramnya itu tampak menunduk tanpa berani menatap Luhan. Tatkala mendapati goresan luka ditangan Hyerim, decakanpun terdengar dari bibir Luhan dan dengan secepat kilat Luhan menyambar tangan gadis bernama Kim Hyerim itu sampai Si Empunya lengan pun membelalakan mata kaget ke arahnya.

“Kamu ini memikirkan saja orang lain. Lihat, kamu juga terluka,” ujar Luhan sambil memutar tangan Hyerim dengan gerakan lembut dan kornea matanya yang memfokuskan pandangan menelisik luka goresan itu sambil dengan kepala geleng-geleng.

Langsung saja tubuh Hyerim mengkaku beberapa saat. Hatinya berdesir bukan main menyalurkan perasaan hangat dan panas menjalar kepipinya serasa semburat rona kemerahan akan nampak. Diam-diam Hyerim tersenyum tipis menyadari akan perhatian seorang Luhan yang ditumpahkan kepadanya.

“Hah…” napas Luhan terbuang lalu dirinya melepaskan tangan Hyerim dengan halus serta membalikan badan dan membawanya berdiri untuk berjalan menuju tempat obat-obatan disimpan.

Hyerim pun hanya diam dengan ujung mata yang mengikuti arah langkah Luhan hingga akhirnya lelaki itu berbalik kembali ke arahnya dan sudah duduk di depannya lagi dengan kapas dan obat merah.

“Kamu tahu? Aku tidak suka melihat luka gores ini maka akan kuobati.” adalah ucapan yang Luhan lafalkan disela kegiatan membuka botol obat merah. Mendengarnya membuat jantung Hyerim berdetak tak karuan, seketika mulutnya bungkam tanpa tahu ingin melontarkan ucapan apa.

Botol obat merah itu sukses Luhan buka dan langsung saja beberapa tetesnya bersarang di atas kapas yang ia ambil juga. Luhan melirik Hyerim sekilas dan nampak gadis itu balik menatapnya dengan gerakan salah tingkah.

“Ada apa?” tanya Hyerim berusaha menyembunyikan gugup yang menyerangnya lalu menunduk kembali.

Senyum tipis terlihat dari bibir Luhan kemudian tangan kirinya yang tidak memegang kapas berlumuran obat merah itu pun terulur. “Ke marikan tanganmu. Aku ingin mengobatinya.”

Tanpa membantah dan meresponnya dengan ucapan, Hyerim langsung menurut dengan mengulurkan tangan namun dengan kepala menunduk. Sial, dirinya jadi salah tingkah tak karuan sekarang. Apalagi Luhan pun meraih tangannya lalu mulai mengobati goresan lecet ditangan Hyerim. Tambah salah tingkahlah seorang Kim Hyerim yang menutup mata rapat sambil menggerakan mulut layaknya komat-kamit. Dirinya berusaha menyadarkan diri bahwa lelaki ini adalah lelaki yang disukai sahabatnya, Oh Sehun. Namun diam-diam Luhan melirik tingkah Hyerim dan tersenyum geli.

“Kamu kenapa?” tanya Luhan menahan dengusan gelinya.

Pertanyaan Luhan pun membuat Hyerim menatapnya dan mengerjapkan mata dengan wajah polos. “Ah tak apa,” jawab Hyerim dengan ringisan malu karena merasa bodoh.

Jawabannya itu dibarengi oleh Luhan yang selesai mengobatinya lalu melepaskan tangannya lagi-lagi secara halus. Lalu dirinya membuang kapas yang disarangkan obat merah itu ke tempat sampah di dekatnya. Yang terjadi selanjutnya adalah keheningan dengan posisi tubuh keduanya yang masih berhadapan. Keduanya merasa gugup bukan main.

“Luhan…” Hyerim memanggil dengan memecahkan keheningan. Kepalanya terangkat menatap Luhan yang kebetulan juga mengangkat kepala menatapnya. “Aku hanya ingin tahu. Kenapa anggota geng yang menyerang kita itu menyerangmu habis-habisan?” Hyerim bertanya dengan raut ragu, takut bila Luhan engan menjawabnya dan malah meresponnya sangat dingin.

Tampak Luhan menghela napas lalu mendaratkan logam hitam berbinar agak tajam itu ke retina Hyerim yang jadi was-was dan jantungnya bertalu-talu tanpa tahu sebabnya. “Aku hanya menolong orang yang mereka peras di daerah yang mereka katakan sebagai daerah mereka,” bahu Luhan terangkat dengan raut acuhnya. “Mungkin saja mereka dendam.” lanjut Luhan sambil membuang napas tak minat.

Kepala Hyerim mengangguk-angguk mendengar penjelasan Luhan. Dalam hati dirinya lega bila perkelahian tersebut bukan karena tingkah brutal Luhan. Di lain sisi Luhan bergeming menatap Hyerim, terbesit dihatinya sebuah pertanyaan; bagaimana bisa dirinya hanya berdua dengan seorang gadis yang selama ini ia sukai? Dalam diamnya Luhan tersenyum samar namun otaknya mengingat seuntai fakta yang menyebabkan senyumnya pudar tergantikan wajah jengkelnya.

“Hyerim,” panggilannya membuat Hyerim menyarangkan tatapan kembali padanya.

Luhan yang berhasil menarik antensi Hyerim kembali hanya memalingkan wajah dan mendesis membuat kerutan bingung muncul diwajah Hyerim. Gadis itu belum bisa menemukan jawaban akan sikap Luhan yang sering kali berubah. Kadang hangat dan kadang pula dingin. Dirinya hanya tak tahu bahwa Luhan seperti itu karena memiliki gengsi membentur langit pada gadis yang ia sukai. Beberapa detik terbuang sia-sia tanpa ada percakapan yang tadinya ingin Luhan mulai, pria itu pun akhirnya menatap Hyerim lagi dan menghunuskan tatapan dalam pada bola mata yang menyiratkan sebuah pertanyaan padanya. Oh Sehun. Nama itu melewati otak Luhan kala menyelami obsidian indah Hyerim membuat perasaan jengkel akan lelaki itu muncul dan senyum meringispun tercipta diparasnya.

“Kamu sudah bertanya padaku maka dari itu aku ingin bertanya kepadamu,” kata Luhan lalu menggaruk tenguknya kikuk. Dan Hyerim sendiripun tambah menatapnya penasaran. Setelah membuang gengisnya lagi, Luhan menelan ludahnya lalu menanyakan pertanyaan yang sebenarnya agak percuma ia tanyakan pada gadis ini. “Apa kamu sungguh-sungguh berpacaran dengan Oh Sehun?”

Dan yang pasti pertanyaan itu membuat mata Hyerim melebar kaget.

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

“Hoi!” jentikan tangan dengan seruan itu membuat seorang Kim Hyerim tersentak kaget dan mengerjapkan mata beberapa kali. Oknum yang menyadarkan Hyerim dari lamunannya tak lain adalah Oh Sehun yang sedang geleng-geleng karena tingkah Hyerim.

“Melamun saja.” ucap Sehun jahil sambil mendorong kepala Hyerim dari samping pelipis gadis itu menggunakan tangan. Aksinya yang sangat tak sopan membuatnya dihujani tatapan tajam dari Hyerim.

“Sesukaku!” balas Hyerim cuek lalu memalingkan wajah dan berpura-pura sibuk dengan bukunya kembali. Ya, Hyerim dan Sehun sedang berada di ruang keluarga rumah Hyerim yang sepi karena orang tua gadis itu sedang tidak ada padahal langit senja makin terlihat.

Sehun yang duduk di samping Hyerim terlihat menatap sahabatnya itu dengan tatapan menggoda dan ingin tahu. Sementara Hyerim yang sedang membaca buku novelnya pun tampak risih dan menurunkan matanya dari buku serta menatap Sehun datar yang diunsuri mengancam pada lelaki itu.

“Apa kamu lihat-lihat?” seru Hyerim judes dengan wajah kesal membuat Sehun tersenyum geli dan melancarkan aksi kesukaannya pada Hyerim yakni mencubit pipi gadis itu. “Ya! Oh Sehun! Jangan cubit aku!” kembali seruan Hyerim terdengar kesal membuat Sehun makin geli dan terkekeh pelan lalu menyingkirkan tangan dari pipi Hyerim yang langsung mengembung kesal.

Sehun pun melipat tangannya lalu sedikit mencondongkan tubuhnya kepada Hyerim yang membenarkan posisi duduknya yang melipat kaki di atas sofa empuk rumahnya juga membenarkan posisi buku untuk enak dibaca. Tatapan yang Sehun berikan terlihat sangat penasaran.

“Kamu memikirkan apa sampai melamun terus?” tanya Sehun namun Hyerim hanya meliriknya sekilas lalu berlagak cuek dengan mengacangi Sehun sambil terus membaca bukunya. Aksi Hyerim membuat Sehun mendengus kesal.

“Baiklah jika kamu tidak mau cerita,” ucap Sehun sebal namun ucapan Sehun yang sebenarnya adalah taktik untuk Hyerim bercerita padanya itu tidaklah berhasil tatkala gadis itu makin mengacanginya dan berpura-pura tuli akan ucapan Sehun.

Akhirnya Sehun membetulkan posisi duduknya namun masih dengan badan memiring menatap Hyerim yang sedang tersenyum-senyum sendiri lantaran cerita lucu yang disuguhkan novelnya. Dalam hati Hyerim, dirinya resah karena ucapan Luhan kemarin yang menanyakan hubungan pastinya dengan Sehun namun dirinya tak mau bersuara akan hal itu.

“Oh ya bagaimana dengan Luhan? Kemarin kalian datang terlambat bersama,” ucap Sehun dengan bola mata penasaran. Ucapan Sehun itu seakan menampar Hyerim yang menurunkan novelnya dan menatap Sehun gugup. “Ayolah apa yang terjadi pada kalian?” tanya Sehun dengan senyum penasaran sambil mencolek pinggang Hyerim yang langsung mendesis kesal dengan tatapan datar.

Kan sudah kubilang kita belajar bersama menyusul ketertinggalan Luhan agar mengikuti pelajaran dengan baik,” jawab Hyerim malas dan hendak mengambil novelnya lagi namun tangan Sehun mencegatnya membuat Hyerim menatapnya sebal. “Apa lagi?”

Dengan senyum sok dimanis-maniskan dan kepala dimiringkan disertai bola mata memohon. “Kamu mau membantuku kan, Hyerim sayang?” mata Sehun mengerjap-ngerjap lucu membuat Hyerim memutar bola matanya. “Ya? Mau ya?” ucap Sehun dengan suara aegyonya dan prilakunya itu langsung dihadiahi sentakan kasar Hyerim pada tangannya yang memegang tangan gadis itu.

“Kalaupun tidak mau, kamu tetap memaksa,” kata Hyerim dengan tatapan tajam membuat cengiran Sehun tampak lalu lelaki itu makin mencondongkan tubuh pada Hyerim. Seraya membuang muka, Hyerim bertanya. “Kamu ingin meminta bantuan apa lagi?”

Senyum misterius terlihat diparas Sehun hingga Hyerim yang meliriknya dari ujung mata menaikan satu alis penasaran. Lalu Sehun menatap Hyerim penuh tekad dan berucap. “Aku punya rencana. Buat Luhan termotivasi untuk belajar bersamamu,” sekarang alis Hyerim menyatu bingung. Tanpa usul dari Sehun pun Hyerim pasti melakukan itu sebagai turtor Luhan. “Termotivasi yang kumaksud adalah dengan memberi hadiah pada Luhan.”

“Hadiah?” ulang Hyerim makin bingung dan Sehun langsung mengangguk. “Hadiah apa? Jangan bertele-te—”

“Bilang padanya bahwa dirinya berhasil diujian nanti, kamu akan membantunya untuk berkencan dengan orang yang disukainya,” potong Sehun antusias membuat Hyerim membulatkan matanya. Belum sempat Hyerim bisa merangkai kata, Sehun melanjutkan. “Buatlah Luhan berkencan denganku.” perkataan Sehun itu membuat hati Hyerim seakan dicubit keras dan menyisakan bekas perih kebiruan disana.

—To Be Continued—


Kembali ke insiden laptop gak bisa nyala maka akhirnya diri ini bingung mau nulis FF apa, mood lagi mau nulis nuestro amor ini tapi ziyalnya chapter 2 yang udah ditulis beberapa kata dan paragraf itu belum ditaro di google doc makanya ditulis ulang dan sedikit lebih puas wakakakak.

Oke, di sini banyak banget sweet moment gak jelas. Diri ini juga bingung sama Luhan. Malu-malu ucing iya, gengsian iya -___-

Dan sepertinya Sehun perlu dikasihani karena ngira Luhan sukanya sama dia aduh -_- lalu dia gak peka Hyerim mulai suka Luhan buakakaka ribet amat ya.

Di sini bukan aku benci hunhan sih ._. aku malah suka baca FF brothership mereka ya sebatas suadara aja. Aku suka mereka gak nyeleneh ke mana-mana kok .-.

Udah ah diri ini undur pamit dulu dan sepertinya nuestro amor yang tadinya mau mini chapter sampe 7 chapter aja belum ditentukan intinya gak akan sampe 10 chapter lebih kok :p dan karena ini projek iseng yang mau direlasikan, maaf ya kalo ada typo ^^

-Luhan’s Future Wendy, HyeKim-

Advertisements

Author:

A tinkerbell who dream to be Luhan's future wendy — Also an amature author, k-drama trash, k-running man freak, eternal ELF, ahjussi and korean actor addict in the same time

26 thoughts on “FF : Nuestro Amor Chapter 2

  1. Waaaaa,bagus kak. Jangan sampe deh luhan suka sama sehun..soalnya luhan wajibnya sama hyerim .sehun buat aku ajahhh 😂
    Next kak,juga yg batb kutunggu 🙆😻

    Liked by 1 person

  2. ahh aku sumpah geli bca nya.. dari dulu suka baca fanfic gak pernah suka sma ff brtema gay. suka nemu pas baca suka putus di tengah jalan geli sumpah.
    tapi stelah baca ini menariK juga, 😀 sehun gay ya ampun Hun sayang 😀

    Liked by 1 person

  3. Suka suka! Banyak banget sweet momentnyaaa.
    Aku juga suka HunHannya brothership mereka, bukan yg aneh”. Hehe ditunggu lanjutannya dan diriku msh menunggu lanjutannya Beauty and The Beast

    Liked by 1 person

    1. What’s more? Mau dinistain seperti apalagi Luhan dan Sehun XD XD ya geli sih maafkan aku sehun wkwkwk.

      Banyak yg nanyain beauty and the beast ya, aku banyak project pending dgn liburan yg seupil ini thankseuu cintah

      Like

Write ur Love Letter . . . <3

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s