Posted in AU, Chapter, Comedy, Fanfiction, FF : This Love, PG-15, Romance, Sad

FF : This Love – Chapter 4

ir-req-this-love-21

This Love Chapter 4

©2016 HyeKim’s Fanfiction Story

Starring With : Luhan as Luhan || Hyerim (OC) as Kim Hyerim

Genre : AU, Romance, slight!Sad, a bit Comedy || Lenght : Chapter || Rating : PG-15

Poster by : IRISH @ Poster Channel

Summary :

Ketika 2 pasukan tentara dari negara berbeda disatukan dalam lika-liku hubungan cinta. Keduanya dipertemukan namun jarak yang memisahkan serta restu dari orang tua pun menjadi penghalang. Hanya sepenggal kisah antara Luhan, salah satu pasukan khusus dari China dan Hyerim, seorang dokter tentara dari Korea Selatan. Bagaimana kelanjutan kisah keduanya?

Note :

FF ini terinspirasi dari kisah cinta Yoon Myeong Ju dan Seo Dae Young dari drama korea populer descendant of the sun serta lirik dari soundtrack drama tersebut. Namun dari segi cerita yang ada sudah diubah oleh saya sendiri. Bila ada adegan yang dicetak miring/italic itu menandakan sebuah kilas balik/flashback.

Disclaimer :

This is just work of fiction, the cast(s) are belong to their parents, agency, and God. The same of plot, character, location are just accidentally. This is not meaning for aggravate one of character. I just owner of the plot. If you don’t like it, don’t read/bash. Read this fiction, leave your comment/like. Don’t be plagiat and copy-paste without permission.

HAPPY READING


My destiny comes like shooting stars

Letting me meet someone like you

And deep in my heart

It’s only my love for you

You are my everything

[ Gummy – You’re My Everything (ost.Descendant of The Sun) ]


Pelukan itu masih terjadi, pelukan yang mengisyaratkan beribu kata hati keduanya. Hanya suasana malam yang menjadi saksi kembalinya hubungan kedua tentara berbeda negara tersebut. Hyerim melonggarkan pelukannya dan sedikit menunduk tatkala Luhan menaruh penuh obsidian miliknya ke arah Hyerim.

“Kamu tak apa?” pertanyaan terlempar ketika Luhan mengingat kejadian di truk militer sore tadi, luka yang tercipta ditubuh gadisnya sama sekali belum terobati.

“Apa aku terlihat terluka?” Hyerim merespon dengan kepala yang mendongak menatap Luhan yang menampilkan paras khawatir.

“Lukamu sudah diobati?” gelengan menjadi jawabannya membuat Luhan menghela napas serta menghujani tatapan geram pada Hyerim. “Ikut aku!” ditarik oleh Luhan tangan kanan Hyerim yang kelinglungan.

“Sikapmu berubah dengan cepat, aku salut untuk itu,” seketika Hyerim berfrasa demikian ketika Luhan masih menariknya, karena hal tersebut Luhan pun menghentikan langkah dan berbalik pada Hyerim. “Aku ini gadis yang kuat, jadi kamu tidak perlu menarikku ke medicube atau apapun. Aku bahkan pernah mendapatkan luka tembak diperutku dan” obsidian milik Hyerim mutlak membulat ketika bibir ranum miliknya merasakan sentuhan dari bibir milik Luhan yang sekedar membungkukan sedikit badannya untuk melakukan aksinya tersebut.

“Aku tahu gadisku ini gadis yang kuat. Tapi dirimu tetaplah manusia biasa, jadi ikut aku sekarang oke?” ciuman seperkian detik itu terhenti ditandai senyuman tipis dari bibir Luhan yang sudah menarik Hyerim kembali. Sementara Hyerim masih diselimuti perasaan terkejut dengan mata yang mengerjap.

Ya! Kamu menghipnotisku dengan ciuman tadi kan? Cepat mengaku!” setelah beberapa sekon terbuang, Hyerim menyadari perlakuan Luhan barusan tertajuk untuk hal apa.

Dengan memunggungi Hyerim, senyum tipis tertarik dari ujung bibir Luhan. Dirinya pun tahu Hyerim menghujaninya dengan tatapan jengkel namun tetap ditarik olehnya gadis manis tersebut ke klinik camp miliknya.

“Lian…” panggil Luhan ketika keduanya tiba di klinik, raut sebal masih tercetak diwajah cantik Hyerim yang merengutkan bibir kesal.

Tubuh Lian berbalik, gadis itu yang tadinya sibuk mengatur obat-obatan di kotak P3K langsung memasang wajah terkejut sekaligus cengo mendapati Hyerim bersama dengan Luhan, apalagi tangan keduanya bertaut menjadi satu. “Ada apa?” akhirnya Lian sanggup bertanya.

“Luka Hyerim belum juga terobati, aku mempercayaimu untuk mengobatinya,” ucap Luhan kemudian mendorong Hyerim masuk dan gadis itu menatap sebentar ke arahnya dengan jengkel.

Pada akhirnya pun, Hyerim duduk membelakangi Lian yang mengobati bahu kiri Hyerim. Lukanya lumayan cukup parah karena bahu Hyerim sekarang sedang dijahit dengan hati-hati oleh Lian. Luhan bersender di tiang tenda klinik sambil melipat kedua tangannya serta fokus netranya hanya tertuju pada pengobatan Hyerim saat ini.

“Aku tak menyangka dirimu bisa menahan luka sesakit ini begitu lama,” ujar Lian ketika masih dengan telaten menjahit luka Hyerim. Hyerim memilih bergeming dengan menutup rapat mulutnya, irisnya mencuri-curi pandang ke arah Luhan yang masih setia memperhatikan.

“Dia memang keras kepala,” komentar Luhan dengan ekspresi geramnya dan tatapan mata yang sama karena dirinya sadar betul bahwa Hyerim memperhatikannya dari ujung mata gadis Kim itu.

“Ngomong-ngomong, kenapa kalian bisa bersama?” tanya Lian karena dirinya sudah dikerubungi rasa penasaran tingkat atas melihat kedua orang yang ia ketahui berstatus mantan kekasih datang kepadanya bersama-sama.

Lian mengambil gunting dan memotong benang jahitnya tersebut, Hyerim tampak terdiam sebentar kemudian menyahut pertanyaan Lian, “Aku dan Luhan berbaikan. Bahkan tadi dia memelukku dan menciumku.”

Luhan memandang Hyerim dengan mulut sedikit terbuka dan raut tak suka ketika gadisnya itu membocorkan kegiatan apa yang dilakukannya pada Hyerim, tubuh Luhan langsung tegak dan menghujaninya dengan tatapan jengkelnya namun Hyerim tampak tak peduli. Di sisi lain, Lian langsung mendongakan kepalanya dan menatap punggung Hyerim terkejut.

“Yang benar?” Lian mencoba mengkonfrimasi dan Hyerim mengangguk dengan santainya. “Bukannya kau sudah bertunangan dengan Kapten Choi Minho?” tanya Lian bingung dan terselip rasa sakit didalamnya. Tubuh Hyerim dan Luhan seketika menegang, atmosfer yang tercipta jadi tidak senyaman sebelumnya.

“Klasik saja, ayahku hanya ingin menikahkan Minho denganku. Acara pertunangan kami saja belum diselenggarakan karena kita tidak suka perjodohan ini,” jawab Hyerim dengan perasaan gugup. Mendengarnya Lian menampilkan senyum tipis menyadari ilusi Hyerim dan Minho yang akan menikah buyar seketika.

“Hyerim-ah, ayo aku antarkan kamu kembali ke barak,” Luhan menghampiri Hyerim dan langsung menarik gadis itu berdiri lalu menyeretnya pergi.

Ya! Bajuku saja belum benar, kamu ingin yang lain melihat bahu mulusku apa?!” semprot Hyerim sambil memberikan Luhan tatapan tajam, dengan ripuhnya menggunakan satu tangan, Hyerim membenarkan bajunya untuk menutupi kembali bahunya yang terekspos.

Dari dalam tenda medicube, Lian hanya menyunggingkan senyumannya untuk pasangan tersebut dan tangan yang terlipat dibawah dadanya. “Semoga kalian akan terus begitu.” gumamnya lalu langsung bersiap untuk tidur.

Pagi menyapa kembali Hyerim namun hari ini gadis itu tampak lebih ceria, dirinya merenggangkan badannya dengan menautkan kedua jarinya ke atas dan bergerak ke kiri dan kanan. Dengan senyum mengembang, Hyerim berjalan menjauhi medicube karena tidak ada lagi pekerjaan dalam perkara mengobati orang sakit untuk ia kerjakan. Apalagi sekarang mentari mulai menyerang permukaan bumi dengan panas yang ia miliki, ini pertanda siang hari akan segera tiba.

“Letnan!” seru Sersan Jinki yang langsung mengangkat tangan untuk hormat. Hyerim terkikik bukan karena tingkah Jinki, namun bagi Hyerim wajah Jinki sangatlah lucu dan lelaki tersebut tidak cocok menjadi bagian militer. “Kenapa Letnan tertawa?” Jinki bertanya dengan gugup disertai saliva yang terteguk masuk, posisi tangannya belum berganti.

“Ahahah, tidak. Seperti biasa wajahmu itu lucu, turunkan tanganmu,” ucap Hyerim masih sedikit tertawa dengan tangan terkibas-kibas ke arah Jinki yang sudah menurunkan tangan untuk bersikap tegap dan mempersilahkan Hyerim duduk.

“Ah, aku ini lapar sekali. Pasien medicube sangat banyak walau sudah ada beberapa relawan,” eluh Hyerim seraya duduk di kursi yang sudah ditarikan Jinki khusus untuknya. Jinki sendiri sudah duduk di depannya dan mulai menyantap kembali makanannya.

“Pantas saja dirimu tidak terlihat saat jam makan siang. Tapi ada untungnya juga, aku yang jadi juru masak dan tidak kebagian makan bersama jadi ada teman,” kata Jinki disela kegiatan mengunyah nasi dan lauk pauknya.

Tersenyumlah Hyerim kepada Jinki sembari mengambil sumpit dan mulai memakan makan siangnya dengan tenang. Dan setidaknya juga Hyerim memiliki teman untuk makan siangnya sekarang. Ketika masih menikmati makanannya, penggerakan Hyerim terhenti. Pikirannya melayang kepada anak-anak yang ia periksa di medicube tadi, sebagian dari mereka mengalami busung lapar. Hyerim menatap makanannya yang sangat lengkap dan pas sekali untuk mengenyangkan gairah laparnya.

“Emmm… Letnan, apakah makanannya kurang enak?” Jinki bertanya hati-hati dengan tatapan khawatir ditorehkan olehnya untuk Hyerim. Sang Letnan pun langsung berkutik dan menatap Jinki dengan senyum manisnya.

“Tidak, hanya teringat anak-anak yang kesulitan mendapatkan makanan.” Hyerim pun kembali melanjutkan karena tak enak pada Jinki selaku juru masak, walau pada nyatanya dirinya jadi kehilangan napsu makan mengingat banyak anak-anak di negri yang ia pijaki sekarang kesulitan dalam hal makan.

“Kamu? Ingin ke desa di bawah pegunungan?” Minho berteriak tak percaya ketika Hyerim mengatakan ingin membagikan roti di desa dekat pegunungan. Gadis itu mengangguk dengan wajah penuh harap, Minho membuang napas frustasi. “Kamu kira kamu ini apa? Pendaki gunung? Komandan batalion bisa membombardirku dengan omelan ketika kamu nekad untuk ke sana, di sana banyak binatang buas!”

Tangan Hyerim yang tadi tertangkup memohon langsung turun, dirinya menampilkan wajah memelas dengan badan bergoyang-goyang. “Ayolah, niatku ini baik. Lagipula sekarang jarang sekali binatang buas di sana,” bujuk Hyerim membuat Minho frustasi dengan sikap keras kepala gadis yang ingin dinikahkan padanya oleh Komandan.

“Komandan batalion memandangmu sebagai putri Komandan Kim Jaehyun. Bila kamu

Stop!” Hyerim mengangkat tangan kanannya di depan Minho dengan napas sedikit terengah, jengah karena status putri komandan pasukan khusus selalu dipandang oleh orang di sekitarnya.

“Dan kamu juga memandangku seperti itu, Kapten Choi calon suamiku tercinta?” Hyerim menatap sinis Minho dan mengatakan hal tersebut sambil menggerakan kepala ke samping kanan dan kiri. Minho langsung bergidik ngeri mendengar panggilan Hyerim. “Izinkan aku ke sana, hanya dua puluh lima menit. Bila aku tidak kembali, berarti aku mati dimakan binatang buas dan kamu siap-siap saja menjadi duda sebelum menikah. Maka dari itu doakan yang terbaik untuk diriku.” Hyerim langsung memutar balik badannya dan pergi setelah mengatakan hal tersebut.

Punggung Hyerim makin berjalan menjauh dan Minho hanya menatap punggung tersebut lelah karena usahanya untuk melawan keras kepala  Hyerim tidak membuahkan hasil. Tangannya terangkat untuk berkacak pinggang dan kepalanya menggeleng pelan.

“Benar-benar kepala batu. Apa pula ucapannya barusan? Seakan aku akan menikah sungguhan dengannya,” ucap Minho dan kembali bergidik ketika berhalusinasi dirinya dan Hyerim akan menikah sungguhan.

Anu, Kapten Choi Minho?” sebuah suara lembut menyapa Minho. Dirinya menghela napas frustasi karena bayangan Hyerim masih membekas apalagi dengan sifat keras kepala gadis tersebut.

Lelaki bergelar kapten itu membalikan badannya dan langsung menyentak suara lembut tadi. “APA YANG INGIN” ketika tubuhnya terbalik sempurna, mulut Minho seketika terkunci rapat melihat sosok Lian yang memanggilnya. Dirinya pun gugup seketika. Gadis itu hanya tersenyum risih melihat amarah Minho yang hampir meledak. “A…aa…pa yang kau inginkan?” intonasi Minho berubah menjadi gugup dan memelan, tingkahnya pun layaknya orang dungu.

“Aku hanya ingin berkenalan denganmu. Namaku Wu Lian,” kata Lian dengan tangan terulur, dengan gugup Minho menjabat tangan gadis yang sudah mencuri perhatiannya beberapa terakhir. Wu Lian. Ternyata itulah nama gadis tersebut.

“Cho….choi… Min…. mi.. Minho.” Minho berkata gagap kembali membuat Lian terkekeh pelan dan menutupi mulutnya dengan tangan kanan yang tadi ia gunakan untuk menjabat tangan Minho. Dalam hati Minho mengumpat betapa bodohnya dirinya sekarang.

“Apa kau terpesona padaku?” cerca Lian tepat sasaran sambil memandang Minho dengan senyum gelinya. Digaruklah oleh Minho tenguknya dengan gugup.

“Ya… aku… sering memikirkanmu…. semenjak kita… bertabrakan tempo itu,” Minho pun keceplosan dengan intonasi terputus-putus, ludahnya langsung tertelan dan tatapan matanya lurus tidak menatap Lian yang lagi-lagi terkekeh tanpa terdengar suara. Minho memang tegas, namun dalam hal percintaan dirinya benar-benar payah dan blak-blakan.

“Aku pun juga begitu,” ucap Lian dengan senyum manis bak bidadari miliknya, Minho langsung menjatuhkan tatapan ke gadis tersebut dengan raut terkejut.

“Berarti….” ucapan Minho tak sanggup ia lanjuti.

Anggukan tercipta dari kepala Lian yang lalu menjawab, “Ya, aku menyukaimu. Cinta pada pandangan pertama. Sepertinya kita sama. Dan aku akan memperkanalkan diri lebih rinci. Namaku Wu Lian, salah satu relawan dari China. Aku berteman baik dengan Luhan dan Yixing, dan aku pastikan kau mengenal keduanya. Aku juga mengenal Hyerim. Senang bertemu denganmu Kapten,” kata Lian dengan tangan kanan terulur kembali. Kembalilah rasa percaya Minho yang tersenyum tipis dan menjabat kembali tangan Lian.

“Ya dan aku adalah Kapten Choi Minho. Kapten pasukan tim alpha Korea Selatan di Urk, dan aku ini sahabat masa kecil Hyerim. Senang bertemu denganmu,” keduanya saling menjabat tangan dan bertatapan dengan senyum yang merekah. Kali ini, akan ada pasangan yang lain selain Luhan dan Hyerim.

Selesai dengan kegiatan mengambil beberapa bungkus roti yang sudah tersimpan rapi di kresek yang ia bawa, Hyerim pun melangkah riang menuju satu mobil terbuka milik kemiliteran. Ketika dirinya hendak membuka pintu mobil, Jinki pun datang setelah selesai berlari dengan paras khawatirnya.

“Letnan, apakah benar kau akan ke desa itu?” tanya Jinki dengan raut was-was. Hyerim membalikan setengah badannya dan dengan raut tanpa beban dirinya mengangguk.

“Ya, tentu saja,” kata Hyerim santai kemudian dirinya kembali berbalik dan seketika matanya menangkap pemandangan Luhan berjalan bersama Yixing menuju mobil militer yang bermodel sama dengan mobil yang akan ia naiki.

Ujung bibir Hyerim tertarik membentuk senyuman, dengan riangnya gadis itu berlari menuju camp militer sebelah. Dan Jinki pun sudah memanggil-manggilnya dengan air wajah khawatir yang belum juga luntur, namun pada akhirnya mendesah pasrah karena Hyerim mengacangi panggilannya itu.

“Luhan!” Hyerim berseru membuat pasukan China menatapnya aneh akan kedatangan tak terduganya ke camp militer yang jelas bukan camp miliknya. Hyerim melambaikan tangan dengan senyumnya yang makin lebar ketika Luhan mengalihkan fokus kepadanya, bukan hanya Luhan, Yixing pun sudah menatapnya kaget.

“Kenapa bisa Hyerim ke sini? Apakah terjadi sesuatu pada kalian? Kalian tidak terlihat seperti sendu mendayu lagi,” bisik Yixing dengan herannya, senyum tipis terpatri diwajah Luhan.

“Ya, aku berbaikan dengannya tadi malam,” jawab Luhan dengan bisikan yang tidak sepelan Yixing. Mata Yixing membulat menatap Luhan yang tersenyum menyambut Hyerim.

“Kenapa kamu tidak bilang?!” pekik Yixing tak terima ketika Luhan melewatkan dirinya untuk mengetahui hal tersebut. Padahal bisa dibilang dirinya ini seakan diary berjalan kisah cinta kedua sejoli tersebut.

“Ada apa kamu ke mari?” Luhan bertanya ketika Hyerim tiba di hadapannya. Senyum riang gadis itu belum pudar menambahkan nilai kecantikan tersendiri diwajahnya, mana hal tersebut membuat Luhan tersenyum. Yixing yang jadi pengamat hanya geleng-geleng melihat kedua orang yang terus dimabuk cinta itu.

“Kamu ingin pergi? Aku juga, sekalian saja kita pergi bersama,” ujar Hyerim. Tampak Luhan menimbang-nimbang ajakan kekasihnya itu, sementara Yixing memandang bergantian keduanya tidak setuju.

“Kapten, kamu harus pergi denganku, kapan lagi aku bisa pergi keluar

Hyerim langsung meletakan tangannya kewajah Yixing dan mendorong pelan lelaki berpangkat sersan mayor itu. “Kamu ini baru bertatap muka secara langsung denganku langsung menentang kencan pertamaku setelah berbaikan dengan Luhan.” ucap Hyerim lalu melayangkan tatapan sinisnya yang membuat Yixing kikuk.

Luhan tersenyum menahan tawa melihat Yixing yang ingin melawan Hyerim namun sudah kalah telak dipandangi seperti itu. Luhan pun menepuk bahu Hyerim membuat penyerangan tatapan tajam pada Yixing terhenti dan intensinya langsung menatap penuh Luhan.

“Baiklah, kita pergi. Aku ingin ke kota membeli beberapa peluru yang sudah habis, kamu ingin ke mana?”

Raut riang Hyerim kembali nampak, dirinya menoleh ke arah Luhan dengan senyum mengembang. “Desa di bawah pegunungan, aku ingin membagikan roti.” jawab Hyerim sambil melihatkan kresek hitam berisi roti yang ia maksudkan. Luhan menautkan alisnya mendengar tujuan Hyerim.

“Bukannya desa itu” Luhan memberhentikan frasanya tatkala obsidian miliknya mendapati Hyerim sudah naik ke mobil dengan meloncat dari sisi berlawanan tempatnya berdiri.

Gadis itu melambaikan tangan mentitahkan Luhan untuk masuk, lalu berujar. “Ayo cepat!” Luhan berdecak dengan sedikit gelengan.

“Keras kepalanya belum juga hilang, ya.” Yixing bergumam dan ikut geleng-geleng. Luhan pun hanya pasrah lalu menaiki mobilnya. Seperkian detiknya, pasangan itu pun meninggalkan pangkalan militer menggunakan mobil dan Yixing hanya menatapinya sambil tersenyum tipis seraya mengangguk, lalu berujar. “Ya, aku tidak boleh meganggu kencan pertama mereka.”

Suasana klasik perkotaan Urk tergambar jelas dengan nuansa bangunan gotik ala-ala bebatuan warna coklat berjejer rapi. Mobil yang membawa Hyerim dan Luhan pun sampai ke kota klasik tersebut. Keduanya pun mulai melayangkan kaki turun dari mobil.

“Aku akan membeli beberapa peluru di toko ini, kamu ingin ikut?” dipandang sebentar Hyerim oleh Luhan ketika menanyakan perihal keikutan sertanya gadis itu untuk memasuki toko.

Hyerim memandangi toko yang berdiri kokoh di hadapannya, toko tersebut lah yang dimaksudkan Luhan. Seperkian detiknya gadis itu menggeleng serta menengok ke tempat Luhan membuat pandangan keduanya bersibobrok.

“Tidak, aku di luar saja. Suasana bangunan di sini membuatku betah,” mendengar jawaban itu, Luhan pun hanya mengangguk dan izin undur diri masuk ke toko.

Sepeninggalan Luhan, Hyerim menelisik obsidian miliknya dengan liar guna menyapu seluruh pemandangan yang disembahkan kota Urk. Dalam hatinya tersalurkan rasa kagum akan indahnya negeri ini, namun sayangnya menaruh banyak luka akan banyaknya konflik yang tercipta. Kaki Hyerim dibawanya menyusuri jalan setapak dekat toko, dirinya tidak berniat jauh-jauh serta hanya ingin melihat jelas bangunan appartemen yang di balkonnya terdapat jejeran bunga berwarna unggu tua serta merah jambu.

‘Jder!’

Langkah kaki Hyerim seketika terhenti dan tubuhnya menegang mendengar suara yang jelas mencuatnya satu peluru dari pistol. Dengan perlahan, Hyerim membalikan badannya dan mendapati segerombolan pria yang ia yakini warga sipil namun bukan berwarga negaraan  Urkditandai oleh fisik yang menggambarkan jelas orang Amerika, sedang memegang senapan dan salah satunya meniup-niupkan senapan tersebut setelah berhasil menembak satu ban mobil, di mana pemilik sah mobil tersebut langsung lari ketakutan.

Just pick up all brilliant from his car. It is like a treasure, I can be rich cause of this, (Ambil semua brilian dari mobilnya. Ini layaknya harta karun, aku bisa kaya karena ini) suara lelaki menyapa telinga Hyerim.

Para anak buah geng lokal tersebut langsung menggeledah mobil  berwarna merah itu dengan satu tujuan untuk menemukan brilian. Ketika pemimpin geng itu mengangkat kepala dan menjatuhkan pandangan pada Hyerim yang memperhatikan aksinya. Senyum miring langsung tercipta dari pemimpin tersebut dan netra Hyerim seketika membulat.

“Daniel. Captain Daniel?” ujar Hyerim tak percaya dan tanpa disadari sudah melangkah mendekat menuju segerombolan lelaki tersebut.

Oh hello my dear lieutenant, it’s just a long time I’m not see you again. Is it about one year or more? Ahaha, I miss you so damn so much, (Oh, hallo letnanku tersayang, sudah begitu lama aku tidak melihatmu lagi. Mungkin sekitar setahun atau lebih? Ahaha, aku sangat-sangat merindukanmu) lelaki barat bernama Daniel tersebut merentangkan tangan seakan ingin memeluk Hyerim yang memandangnya tajam.

I have heard a rumor. You’re get out from military and choose the fucking job. I think all of them are lied. But now, I believe them. (Aku telah mendengar sebuah rumor. Kau keluar dari militer dan memilih pekerjaan yang menjijikan. Aku pikir mereka semua berbohong. Tapi sekarang, aku mempercayai mereka)kata Hyerim dengan tatapan sinis dan Daniel tampak seperti merenggangkan otot lehernya santai.

“If you know, this job is really interest. It’s same like you as an army. But I’m free in here without many rules that torture me. Just shoot and I can be rich with much money in my safes, (Asal kau tahu, pekerjaan ini sangat menarik. Sama seperti dirimu yang tak lain seorang tentara. Tapi aku bebas dengan pekerjaan ini tanpa peraturan yang mengaturku. Tinggal menembak dan aku akan kaya dengan banyak uang di brangkasku) timbal Daniel dengan tatapan liciknya serta smirk menggembang sempurna.

I was disappointed cause of you Captain. You are like an usurer. So tragic you are, you have a amazing career when you are an army, (Aku kecewa padamu Kapten. Kau seperti lintah darat. Sungguh menyedihkan dirimu, padahal kau memiliki karir yang bagus ketika menjadi tentara) balas Hyerim dengan tampang kecewa sekaligus menentang.

Daniel tertawa tanpa suara. “A degree is not mean anything for me, my dear lieutenant. Just go and handle yourself. This is my life, and you have an owner life too, right? Just go away or i will do anything that you do not think it before, (Pangkat tidak berarti apapun untukku, letnanku tersayang. Pergilah dan urus dirimu sendiri. Ini hidupku, dan kau juga punya kehidupan sendiri kan? Maka dari itu pergilah atau aku akan melakukan apapun yang tidak kau pikirkan sebelumnya) ” ancaman tersebut membuat Hyerim tertawa renyah.

“Seikkia (brengsek), kau hanyalah sampah dalam dunia ini. Kau hanya membuat negara yang semestinya damai ini menjadi tidak tentram karena orang licik sepertimu.” Hyerim berkata dengan bahasa Koreanya dan memandang sinis Daniel yang tampak tak mengerti.

“Are you hiding in your language? So fantastic you are, I will learn Korean just for you, Kim Hyerim! (Apa kau bersembunyi dalam bahasamu? Sungguh menajubkan dirimu, aku akan belajar bahasa Korea hanya untukmu, Kim Hyerim) tutup Daniel sambil menunjuk Hyerim tepat didepan wajah gadis Kim tersebut.

“Boss, we are finish. Maybe we can go now, (Boss, kita sudah selesai. Mungkin kita bisa pergi sekarang)” kemudian salah satu anak buah Daniel berucap demikian. Daniel menatapnya dan menggerakan kepala seakan kode untuk segera pergi.

Lalu lelaki barat itu menatap Hyerim kembali dengan senyum miring. “I hope I can see you again, my dear Hyerim. Bye. (Aku harap bisa bertemu denganmu lagi, Hyerimku tersayang. Bye)” Daniel mengangkat tangan pertanda salam perpisahan kemudian pergi meninggalkan Hyerim yang terus menghujaninya dengan tatapan tajam.

“Hyerim-ah, kenapa kamu di sana?” fantasi akan Daniel bunyar seketika telinga Hyerim mendengar suara Luhan. Gadis itu menoleh ke belakang dan Luhan tampak memandangnya khawatir.

“Amugeutdo opsoyo (tidak ada),” jawab Hyerim dengan sedikit senyum paksa dan langkah kaki mendekati Luhan. “Ayo kita pergi,” Hyerim langsung memasuki mobil walau sedikit kikuk dikarenakan syok mengetahui satu kenalannya yang merupakan kapten dari Amerika telah mengubah jalur pekerjaannya menjadi seorang yang sangat rendahan dimata Hyerim.

Walau banyak pertanyaan dalam benaknya, Luhan pun duduk di balik kursi kemudi dan mulai menjalankan mobilnya. Hyerim hanya memandang ke samping memperhatikan pemandangan yang tersaji menuju desa yang berlokasi di dekat kaki gunung tersebut. Luhan sesekali meliriknya dan sadar betul ada yang mengganjal dalam diri gadis itu.

“Maaf tadi aku sedikit lama karena stock perluru yang kuperlukan habis, jadi aku harus menunggu dulu,” Luhan membuka pembicaraan dan berhasil membuat Hyerim meliriknya sekilas.

“Tidak apa-apa, aku senang menunggumu,” jawab Hyerim sebisa mungkin tersenyum, timbal balik Luhan pun sama dengan menampakan senyum diparas tampannya.

“Ya, bahkan menungguku kembali kepelukanmu saja kamu bisa,” ujar Luhan sambil melirik Hyerim menggoda.

Hyerim pun menatapnya datar, ilusi tentang Daniel dibenaknya langsung bunyar tergantikan perasaan jengkel Luhan yang bisa-bisa menggodanya yang terus gencar untuk meraih Luhan kembali saat dirinya dan Luhan putus beberapa waktu yang lalu.

“Kamu lah yang membuatku gila saat itu,” sinis Hyerim dan langsung melipat tangan depan dada serta pandangan lurus ke depan. Luhan menyunggingkan senyum riangnya untuk terus menggoda Hyerim.

“Dan kamu pun membuatku gila untuk terus mengabaikanmu,” balas Luhan membuat Hyerim meliriknya sekilas dan masih dengan jengkelnya.

“Salah sendiri mengabaikanku!” Hyerim tak mau kalah namun balasan Luhan hanya tawa tanpa suara. Hening kembali menyapa mobil keduanya yang melawati beberapa tebing untuk sampai ke tempat tujuan.

Mobil yang dikendarai oleh Luhan tersebut terhenti saat mencapai tujuan. Sabuk pengamanpun dilepaskan dari tubuh keduanya. Luhan yang pertama turun dari mobil kemudian diikuti oleh Hyerim yang melakukan hal serupa. Keduanya menyapu pandangan ke seluruh penjuru desa lalu saling pandang dan mengangguk. Langkah kaki mulai tercipta diantara keduanya.

“Aku tidak bisa banyak bahasa Urk,” kata Hyerim ditengah kegiatan berjalannya menelisik masuk lebih dalam ke desa.

“Aku bisa membantumu, karena aku sudah lancar bahasa Urk. Ah beruntungnya dirimu mempunyai pria yang tampan dan pintar sepertiku,” respon Luhan malah berakhir menyombongkan diri dan mengakibatkan Hyerim menatapnya dengan cibiran.

Setelah itu, dengan bantuan skill Luhan dalam berbahasa Urk. Hyerim dan Luhan pun dapat membagikan roti tersebut. Wajah riang anak-anak desa membuat keduanya ikut tersenyum, hingga Luhan mencolek tangan kiri Hyerim membuatnya menoleh heran pada Luhan yang sedang tersenyum-senyum tak jelas.

“Mempunyai anak sepertinya seru. Bagaimana bila kita membuatnya?” bisik Luhan terdengar sensual membuat Hyerim menatapnya sinis.

“Mimpi!” cibir Hyerim kembali memfokuskan pandangan pada anak-anak yang sedang asyiknya memakan roti sambil tersenyum.

Luhan menatapnya tak percaya dan menggerak-gerakan kepalanya. “Kamu tidak ingin menikah denganku?”

“Ya,” jawab Hyerim cepat lalu menoleh pada Luhan sambil menjulurkan lidah.

Luhan hanya geleng-geleng dan mendongak ke arah langit, lantas bergumam. “Demi apa aku mengencani gadis seperti ini.” namun Hyerim tak mendengarkannya dan tampak sedang tertawa serta berjongkok di depan seorang anak perempuan lalu mengelus surai berwarna coklat gadis kecil itu. Melihatnya membuat Luhan tak dapat menahan senyumannya.

Waktu saat ini adalah jam makan malam, Luhan tampak makan di kantin militer bersama para anggotanya. Namun bayangan kencan singkat dengan Hyerim tadi siang masih tercetak jelas dimemorinya membuat Luhan senyum-senyum sendiri. Perlakuannya ternyata ditangkap para anggota yang langsung mendekatkan diri sambil berbisik ria menatap Luhan layaknya sedang menggosipi lelaki itu.

“Eh kapten dari tadi tersenyum terus, sepertinya ada sesuatu,” bisik Jackson pada rekan di sebelahnya.

“Benar, apa jangan-jangan kapten sudah memiliki wanita baru?” ujar Sersan Wang dengan masih berbisik ria sementara Sersan Han hanya mengangguk-angguk.

Hingga dirasakan oleh ketiganya dorongan dari belakang kepala mereka. Saat ketiganya berbalik  dan hendak marah, raut geram tersebut berubah dengan raut tanpa dosa melihat Yixing berdiri di belakang ketiganya dengan tatapan geram dan tangan berkacak pinggang. Sudah mutlak bahwa dorongan yang terjadi barusan kepada ketiga sersan tersebut adalah ulah Yixing.

“Berhenti bergossip dan cepat habiskan makanan kalian,” ujar Yixing dengan tatapan tajamnya. Ketiganya mengangguk dengan cengiran ala orang bodoh.

“Baik, wakil ketua pleton, eheheh,” balas ketiganya serempak lalu berbalik kembali dan memakan makan malamnya dengan sedikit tergesa ditambah oleh kepala yang menunduk tanpa berani menatap Yixing yang menyunggingkan senyum puas kemudian berjalan mendekati Luhan.

“Ey, Lu!” sapa Yixing riang sambil menepuk bahu Luhan dan duduk di sebelah sahabat sekaligus kaptennya itu, Luhan pun berbalik dan melemparkan pandangan tanda tanya karena mulutnya masih setia mengunyah untuk sekedar mengeluarkan pertanyaan. “Bagaimana kencanmu dengan Hyerim?” dengan sengaja Yixing bertanya menggunakan bahasa Korea karena Jackson dan sekongkolannya masih memasang kuping lantaran penasaran.

“Begitulah,” dan untungnya Luhan termakan taktik Yixing untuk mematahkan rasa penasaran ketiga sersan yang sering kali bergossip itu dengan Luhan yang menjawab pertanyaannya menggunakan bahasa Korea juga.

“Pergilah ke belakang gudang makanan yang berbatasan dengan camp militer Korea, kamu bisa kencan lagi malam ini,” kata Yixing dengan elusan tangannya dibahu Luhan, lalu dirinya merekahkan sebuah senyuman dengan mata kanannya mengedip. Luhan menelan habis sisa makanannya dan menatap Yixing.

“Maksudmu

“Hyerim sudah menunggu di sana, aku sudah mengaturnya. Waktu kalian sampai pukul sebelas, nikmati kencan kedua kalian oke? Aku tadi hampir memperotes dan membuat kencan pertama kalian gagal.” Yixing menyela pekataan Luhan diiringi kedipan matanya kembali. Luhan tersenyum senang apalagi ketika Yixing menepuk pelan bahunya.

“Terimakasih, kamu memang teman yang baik, Yixing.” Yixing mengibaskan tangan pertanda itu bukanlah apa-apa, lalu lelaki itu menyingkirkan tangan dari Luhan untuk memulai makannya sementara Luhan buru-buru menyelesaikan sisa makanannya di mangkuknya.

Cheers!”  seruan ceria dan suara tabrakan antara kedua gelas terdengar di balik gudang makanan yang Yixing maksud.

Hyerim menengguk winenya dengan nikmat begitupula dengan Luhan. Keduanya duduk di atas bebatuan kekuningan yang panjang dan bisa dijadikan sebuah kursi. Keduanya seakan sedang pesta kecil-kecilan dengan adanya wine diantara keduanya. Luhan meletakan gelasnya kemudian menatap Hyerim yang asyik menuangkan wine ke gelas miliknya kemudian meminumnya seraya memejamkan mata, sebagai bentuk menikmati minuman beralkohol tersebut.

“Mana ada pasukan yang bertugas minum-minum seperti ini,” ucap Luhan sambil geleng-geleng. Hyerim yang kembali ingin minum langsung melirik Luhan yang tersenyum memperhatikannya.

“Kamu juga minum,” balas Hyerim lalu anggur berupa alkohol tersebut dikonsumsi kembali oleh tubuh Hyerim.

Luhan seakan termakan omongan sendiri ketika menyambar botol anggur tersebut dan menuangkan ke gelasnya, seperkian detiknya anggur berkadar alkohol tersebut sudah masuk keseluk-beluk tubuhnya. Melihatnya Hyerim hanya mencibir.

“Aku adalah kekasih setia dan idaman para wanita, dan posisiku hanya menemani kekasihku minum,” jawab Luhan dengan senyumannya tapi Hyerim makin mencebik kesal karena aksinya tersebut.

“Alibimu terdengar manis tapi menjijikan,” cibir Hyerim sambil menatap Luhan datar. Luhan mengangkat bahu acuh dengan kepala dimiringkan ke kiri.

“Kalau begitu aku cicipi saja anggur yang dibibirmu,” ujar Luhan dengan pandangan mata terjatuh kebibir manis Hyerim dengan menggoda. Salah tingkahlah Hyerim atas aksi Luhan tersebut, demi menutupinya gadis itu langsung menatap Luhan waspada.

“Dasar gila, alibimu semuanya benar-benar menjijikan,” Hyerim menggerutu mencoba menyembunyikan rona kemerahan yang akan tampak kapan saja akibat ujaran Luhan barusan. Dan Luhan pun merasa berhasil menggoda gadisnya lalu dirinya menampilkan raut kemenangannya.

“Hyerim-ah,” suasana yang tadi kembali sedikit normal dan hening langsung terpecah ketika panggilan diserukan Luhan pada Hyerim dan gadis itu sedang meneguk kembali anggurnya.

“Hmm?” gumam Hyerim sambil menyapu bersih bawah dagunya dengan telapak tangan lantaran bekas wine yang ia minum disertai tatapan bertanya pada Luhan.

“Waktu kita tinggal sepuluh menit lagi,” Luhan berkata sambil menilik sekilas arloji yang menampilkan pukul 22.50, Hyerim pun jadi sadar waktu kencan malamnya yang direncanakan Yixing akan berakhir. “Maka dari itu…” Luhan menggantungkan kalimatnya membuat Hyerim menatapnya dengan air wajah penuh tanda tanya serta penasaran.

Alih-alih kalimat Luhan yang dilanjutkan, yang Hyerim dapatkan adalah adegan Luhan yang memajukan tubuhnya untuk mendekat kepadanya hingga menabrak botol anggur yang ia nikmati jatuh ke tanah dan sedikit menumpahkan isinya, Luhan seakan tak peduli usaha Hyerim yang membujuk Jinki untuk memberikan anggur tersebut padanya. Dan bagaikan petir yang menyambar dengan cepatnya, bibir Luhan sudah menyapa bibir manis Hyerim dan Hyerim hanya bisa membulatkan matanya dengan ekspresi terbodoh miliknya. Dimajukan lebih dekat oleh Luhan tubuhnya bahkan tangannya perlahan sudah menyingkirkan gelas yang Hyerim pegang dan menaruhnya di belakang tubuhnya. Bibir lelaki itu mulai melumat perlahan bibir Hyerim, respon Hyerim adalah memejamkan matanya lalu melingkarkan kedua tangan dileher Luhan. Perlahan Hyerim pun membalas ciuman mesra itu membuat Luhan memeluk pinggangnya untuk mendekat dan lumatan lain pun makin tercipta. Hingga…

‘Ting! Ting!’

Alrm ponsel milik Luhan terdengar menandakan jam sebelas malam sudah menyapa, perlahan Luhan menjauhkan wajahnya dan menatap Hyerim yang balas menatapnya. Luhan tersenyum kemudian mengecup bergantian kedua kelopak mata Hyerim yang terpejam ketika Luhan melakukan aksinya tersebut. Obsidian indah yang selalu membuat Luhan terpana itu kembali menatapnya setelah diberikan kecupan kasih sayang, terakhir Luhan memberikan kecupannya dikening Hyerim.

“Selamat malam, letnanku.” bisik Luhan ditelinga kanan Hyerim dengan nada manis, mendengarnya membuat Hyerim tersenyum simpul.

“Selamat malam juga, kaptenku,” Hyerim brefrasa sambil menatap Luhan kembali karena sebelumnya dirinya menunduk lantaran perilaku Luhan. “Jangan tingalkan aku lagi, oke?” Hyerim memiringkan kepalanya layaknya anak kecil yang meminta uang jajan ke orang tuanya.

Fantasi Luhan langsung terbang akan pertentangan Ayah Hyerim atas hubungan mereka berdua dengan alasan perbedaan negara dan pekerjaan keduanya yang menyebabkan salah satu dari mereka harus berkorban. Luhan mengangguk perlahan dengan senyum sangat tipis, namun hal tersebut tetap membuat Hyerim tersenyum puas.

“Aku sangat mencintaimu, kamu hanya perlu mengingat itu,” ungkapan perasaan Luhan dilakukannya sambil menaruh penuh obsidian indah nan menenangkan milikinya jatuh tepat diretina sayu nan indah milik Hyerim.

“Karena cintamu itu, kamu selalu meninggalkanku,” Hyerim berujar dengan senyum mirisnya kemudian menjatuhkan kepalanya sekedar menyender dibahu Luhan. Seakan tertampar sesuatu, Luhan pun membatu seketika. “Tapi aku percaya kamulah takdirku, Lu. Layaknya bintang jatuh yang membuatku menemukan dirimu, hanya dirimu dihatiku. For me, you’re my everything.” Hyerim kembali menatap Luhan yang masih setia memandanginya.

Ketika keduanya masih saling tukar pandang padahal sudah melewati batas waktu yang sudah diatur seharusnya, suara Yixing menerobos masuk keindera pasangan dimabuk asmara itu. “Hey! Sudah lewat sepuluh menit! Cepat kembali ke barak masing-masing. Kalian ini benar-benar.” eluhan Yixing yang kelihatan lelah berlari menghampiri keduanya membuat Hyerim dan Luhan ingin sekali terbahak, lelaki itu memang niat berjaga agar tidak seorangpun meganggu kencan malam kedua pasangan tersebut.

“Sekali lagi selamat malam, Hye. Aku janji tidak akan meninggalkanmu.” kali ini benar-benar ucapan selamat tinggal Luhan atas kencan mereka, perpisahan ini disertai kecupan sebentar dibibir Hyerim oleh Luhan yang mulai beranjak.

Hyerim hanya tersenyum tipis memandangi Luhan yang membelakanginya sambil berjalan dan menatap Yixing jengah, karena lelaki Zhang itu mengomel menggunakan bahasa mandarin lantaran keterlambatan sepuluh menit Luhan. Seketika kepala Hyerim mendongak menatap langit dan kebetulan bintang yang terpajang di sana ada yang jatuh. Tertariklah kedua ujung bibir Hyerim melihatnya. Kemudian dirinya mulai beranjak dan membersihkan tempat kencan malamnya dengan Luhan.

Pagi ini Hyerim tampak menyantap sarapannya walau sedikit telat karena harus mengurus obat-obatan di medicube. Sama seperti hari sebelumnya, Hyerim ditemani oleh Jinki namun kali ini hadir kawan lainnya bernama Jung Soojung yang merupakan dokter relawan di Urk. Disela kegiatan makannya, Hyerim memeriksa ponselnya dan membaca line dari Jieun.

From : Oh Jieun

Kamu benar-benar hebat. Selamat atas kembalinya hubunganmu dan Luhan. Titip salamku untuknya, ya.

Dengan seulas senyum Hyerim menggerakan jari di atas layar sentuh ponselnya untuk membalas pesan tersebut. Ya, Hyerim sudah menceritakan perihal dirinya yang kembali rujuk dengan Luhan dan mengatakan mereka berdua sudah mulai manis kembali sebagaimana mereka dahulu saat berpacaran. Tangan Hyerim pun tergerak membalas pesan tersebut.

“Lapor, pada tanggal 25 Maret 2016 yang bertepatan pada hari ini. Tiger akan datang ke Urk, diharap para pasukan siap menyambut. Over.”

Suara walkie talkie milik Jinki terdengar membuat fokus Hyerim, Sojung, juga Jinki sendiri terarah pada benda itu. Sambil mengunyah sisa makanan didalam mulutnya, Hyerim bertanya. “Kode nama tiger untuk siapa?”

Jinki langsung menoleh padanya lengkap dengan senyum konyol khasnya, “Letnan tidak tahu? Tiger adalah kode nama komandan,” jawabnya dan jawaban yang terlontar dari mulut Jinki seakan mendatangkan petir bagi Hyerim yang langsung menelan seluruh makanan yang ia tampung dimulutnya.

“Jadi ayahku akan datang?!” pekik Hyerim nyaris berteriak disertai mata membulat, tanpa ragu pun Jinki mengangguk.

“Wah Hyerim, aku iri. Ibu ataupun ayahku sulit untuk menjengukku ke sini, tapi kau malah bisa langsung dikunjungi.” Soojung yang daritadi hanya jadi pengamatpun menumpahkan komentarnya lalu kembali menyantap makanan miliknya yang tinggal seperempat. Namun Hyerim tidak mendengarkannya serta masih sibuk dengan pikirannya sendiri.

Detik ini para pasukan khusus Korea Selatan sedang berjejer rapi di landasan bandara menunggu pesawat militer yang membawa Komandan Kim. Semua dari mereka tampak menampilkan wajah tegang tak terkecuali Hyerim. Dirinya yang selaku putri Kim Jaehyun tidak mendapatkan konfrimasi bahwa ayahnya akan datang. Dan Minho pun sepertinya menangkap signal akan perasaan Hyerim tersebut, dirinya pun jadi tegang mengingat perjodohan yang dipaksakan Ayah Hyerim secara sepihak.

Hingga suara mesin pewasat yang akan segera landing terdengar, para pasukan langsung mengatur posisi dengan badan tegap. Tak lama pesawat tersebut mutlak mendarat di bandar udara Urk. Hyerim makin merasa tegang ditandai ludah yang terteguk masuk kekerongkongannya. Lalu langkah kaki Komandan Kim terdengar menuruni pesawat dan wajah pria paruh baya tersebut mulai tampak dilengkapi senyumannya.

Gyeonglye (hormat),” ucap para pasukan serempak dilengkapi tangan yang terangkat untuk hormat menyambut komandan. Setelah itu tangan mereka semua turun dan langsung bersikap istirahat di tempat, diwaktu itu pula Hyerim merasakan ayahnya menatap dirinya serta Minho bergantian.

Akhirnya Komandan di bawa ke pangkalan militer serta mengasih beberapa pengarahan. Dengan posisi berdiri dan tangan beristirahat di tempat, Hyerim masih juga diselimuti perasaan resah. Baru saja dirinya dan Luhan berbaikan, tapi sekarang dirinya mengendus akan adanya malapetaka baru.

“… oh ya,” seketika Komandan berucap demikian dalam pengarahannya, lalu tatapannya tertuju pada Minho kemudian berganti ke Hyerim. “Kapten Choi dan Letnan Kim Hyerim, saya ingin bicara dengan kalian. Untuk yang lainnya silahkan bubar jalan.” lanjutan ucapan Sang Ayah membuat fantasi Hyerim perihal malapetaka yang akan menyerang pun semakin menguat.

Tapi menentang untuk tidak menemui ayahnya bersama Minho sekon ini ialah hal yang tidak mungkin. Pilihan terakhir adalah mengikuti langkah kaki Komandan Kim menuju ruangannya. Tak ada suara apapun selama perjalan menuju ruangan yang dituju, sampai ketiganya tiba di tempat tujuan. Pintu yang menjadi pembatas pun dibuka perlahan dan Sang Komandan mempersilahkan Hyerim dan Minho maju lebih dahulu, keduanya pun menurut. Ketika keduanya resmi masuk ke ruang kerja tersebut, mata Hyerim seketika membulat mendapati Luhan sudah berada di sana. Di sebelahnya, Minho juga tak kalah terkejut.

“Kenapa kamu ada di sini?” tanya Hyerim masih belum sembuh dari kekagetannya. Luhan menyunggingkan senyum tipis nan datar lalu sedikit membungkuk menyadari Ayah Hyerim yang berdiri di belakang kekasihnya serta calon tunangan kekasihnya.

“Aku mendapat informasi dari komandan batalionku bahwa komandan Korea Selatan datang ke mari dan ingin berbicara beberapa hal denganku,” jawab Luhan menimbulkan kepala Hyerim tertoleh kepada ayahnya dan menatapnya lekat, dan Sang Ayah hanya tersenyum tipis. Minho yang menjadi saksi berdiri di situ pun tampak resah seakan tahu arah pembicaraannya akan ke mana.

“Lebih baik kita semua masuk ke dalam dan berbicara dengan nyaman,” Komandan Kim pun buka suara dan didetik selanjutnya, ketiga orang yang sama-sama bertugas dalam rangka bela negara tersebut sudah berdiri tegap dengan tangan beristirahat di tempat. Sementara Komandan Kim berdiri di hadapan ketiganya yang kentara sekali tegang.

“Apa kalian ingin duduk?” tawar Komandan Kim.

Ketiganya langsung bersikap tegap dan menjawab serempak, “Siap, tidak.”

Komandan pun menganggukan kepala lalu menatap ketiganya bergilir, setelah itu beliau pun mulai buka suara. “Letnan Kim Hyerim, pertama-tama aku ingin memberitahu. Bahwa pertunanganmu dan Kapten Choi Minho akan diselenggarakan secepatnya. Keputusan sudah dibuat oleh dua pihak keluarga, bisa saja kalian bertunangan di sini.”

Telinga Hyerim dan Minho yang menangkap ucapan itu langsung menatap Komandan Kim dengan pandangan syok akan berita pertunangan yang kentara dipaksakan untuk terlaksana. Di lain sisi, Luhan hanya bergeming seakan tidak ada apapun yang meganggunya.

“Ehmmm… Komandan tapi…” perkataan Minho langsung terpause karena Hyerim yang mengangkat tangan didepan wajah lelaki tersebut, memerintahkan pria bergelar kapten itu diam.

Appa, aku rasa di sini kita berbicara sebagai putri dengan ayahnya bukannya sebagai komandan kepada bawahannya. Maka dari itu, aku tidak bisa menuruti perintahmu seperti kebijakan militer yang mengatakan bagaimanapun perintah atasan harus dilaksanakan,” ujar Hyerim menatap ayahnya dengan tatapan seakan menantang. Luhan meliriknya sekilas dengan pandangan khawatir saat didapatinya bahu Hyerim naik turun menandakan gadis itu tertekan.

“Ini takdirku, ini jalanku, ini pilihanku. Aku yang akan memilih jalur hidupku begitupula pasanganku. Ayah selalu mengaturku namun selagi itu baik aku menurutinya. Tapi…” Hyerim terdiam sebentar sementara ayahnya hanya menatapnya. “Kali ini aku tidak bisa menurutinya.” lanjut Hyerim dan tampak Sang Ayah mengangguk-angguk serta melayangkan tatapan ke bawah sebentar.

“Aku tahu,” gumam Komandan Kim Jaehyun lalu fokus obsidian miliknya tertuju pada Minho yang langsung menegapkan badan dengan posisi istirahat di tempat. “Kapten Choi, apa selama ini dirimu tidak memiliki perasaan khusus pada putriku? Kalian dari kecil bersahabat dan sering bermain bersama.”

Appa!” Hyerim berseru dan menatap ayahnya tak suka ketika menanyakan hal itu pada Minho. Luhan pun masih setia menjadi penonton.

“Siap, tidak,” jawab Minho dengan tangan bersikap tegap lalu kembali beristirahat. “Selama ini saya hanya menganggap Letan Kim Hyerim sebagai rekan kerja dan sahabat. Ditambah sekarang saya sudah memiliki kekasih.” menyampingkan berita Minho yang sudah berkencan dengan seorang gadis, Hyerim menatap ayahnya dengan percaya diri bahwa dirinya akan menang.

Dengan pandangan tidak tertuju pada Minho dan kepala yang mengangguk, Komandan menjawab dengan nada kecewa. “Ah begitu, kau boleh keluar,”

Minho menelan salivanya menyalurkan rasa lega dan menghilangkan gugupnya, kemudian dirinya berkata. “Siap, hormat.” tangannya pun terangkat hormat kemudian tubuhnya berbalik meninggalkan ruangan.

Sepeninggalan Minho, Komandan Kim langsung menatap kedua sejoli yang masih berada satu ruangan dengannya. Luhan hanya melayangkan tatapan ke bawah dan Hyerim masih menatapnya seakan ingin mencetuskan perang padanya.

“Kapten Lu.” Komandan Kim memanggil Luhan yang langsung menegapkan badan dan menatapnya. “Apa kau lupa perkataanku tempo itu?” tanya Komandan dengan intonasi rendah.

Pertanyaan Komandan Kim membuat Hyerim menatap Luhan dan ayahnya bergilir dengan binar bingung. “Perkataan? Perkataan apa?” Hyerim berujar dengan satu pertanyaan tentang perkataan yang sudah dilontarkan ayahnya pada Luhan. Namun kedua pria itu tidak meresponnya.

Hyerim pun langsung mengambil tindakan mendekat kepada Luhan lantas mengamit erat tangan pria tersebut. “Apapun yang dikatakan ayah pada Luhan. Aku tidak akan melepaskan tangan ini sampai kapanpun.” tegas Hyerim dengan obsidian yang memancarkan pemberontakan pada ayahnya. Luhan lagi-lagi berperan layaknya patung dan Komandan Kim hanya menatap bergantian putrinya dan tangan pasangan tersebut yang teramit.

“Minho ataupun Luhan memiliki posisi yang sama, kapten tim pasukan khusus. Hanya negaralah yang membedakannya. Hanya seragam kitalah yang menghalanginya serta jarak yang ada. Tapi aku hanya jatuh cinta, Yah. Aku hanya jatuh cinta pada lelaki yang kugenggam ini.” kata Hyerim dengan mata berkaca-kaca, Luhan pun memandangnya sayu dari arah samping lalu perlahan melepaskan genggaman tangan Hyerim membuat gadisnya itu menatapnya seakan tidak terima.

“Anda mungkin ingin putri anda mendapatkan yang terbaik. Bukan mungkin lagi tapi memang menginginkannya. Saya pun mengerti bila Komandan ingin putrinya menjadi seperti dirinya, seorang tentara yang menghormati ayahnya yang tak lain seorang Komandan yang ingin dihormati. Membela tanah air tercinta dan mengobati para pasukan yang rela mati demi negara.  Saya pun setuju dengan hal itu, sebab anda melakukannya karena menyayangi Hyerim.” Luhan akhirnya buka suara dan tanggapan Komandan Kim hanya senyuman, sementara Hyerim menggelengkan kepalanya sambil menatap Luhan dengan mata berair.

“Luhan…” Hyerim memanggil nama lelaki itu tersendat seakan tahu Luhan akan meninggalkannya lagi. Namun sekon yang datang, Hyerim merasakan tangannya teramit sempurna dengan tangan Luhan karena ulah pria itu, Hyerim pun langsung menatap tangannya dan Luhan lalu bergilir menatap paras lelaki yang ia cintai itu.

“Tapi bila keputusan yang anda buat adalah untuk membuat genggaman ini lepas. Maaf, saya tidak bisa menurutinya. Bagaimanapun keadaannya, saya tidak akan melepaskan tangan ini.” ucap Luhan membuat Hyerim menatapnya terharu, gadis itu pun menyadari dirinya tidak berjuang sendiri.

Komandan Kim menghela napasnya lalu kembali menatap Luhan yang pandangannya lurus ke depan sedari tadi. “Baiklah, aku memang tidak bisa melepaskannya.” gumam Komandan Kim mengakibatkan keduanya menatap ke arahnya. “Akan kurestui hubungan kalian,” mulut Hyerim langsung terbuka dengan mata melebar, sementara Luhan menatap ayah kekasihnya itu tidak percaya.

“Se… rius?” konfrimasi Hyerim sedikit terbata dan anggukan kepala ayahnya seakan hidayah sendiri untuknya. “Ayah tidak salah minum obat kan? Atau ayah sakit?” tanya Hyerim merasakan seluruh kebahagian ditumpahkan Tuhan padanya saat ini, Sang Ayah mengulum senyum lantas menggeleng. Ledakan kebahagian yang sangat banyak itu berusaha Hyerim tutupi dengan wajah gembira dan senyum riangnya.

Di sebelah Hyerim, Luhan hanya menampilkan raut tanpa ekspresi sangking terkejutnya. Hyerim menatapnya dengan senyum lebar dan binar mata bahagia, Luhan membalasnya hanya dengan senyum tipis.

“Namun ada yang ingin kubicarakan berdua dengan Kapten Lu,” Ayah Hyerim pun menyela momen bahagia itu. Luhan dan Hyerim lagi-lagi memandangnya dengan penuh tanda tanya.

“Hanya Luhan? Aku juga harus terlibat karena ini bersangkutan denganku…” Luhan tiba-tiba melepaskan genggaman tangannya dan menatap Hyerim dengan raut serta senyum menenangkan.

“Aku akan baik-baik saja, keluarlah,” titah Luhan walau ragu Hyerim pun keluar dari ruang kerja Komandan Kim. Selang beberapa menit, Komandan Kim dan Luhan yang masih dilanda suasana hening pun langsung berubah ketika Komandan Kim mencetuskan sebuah perkataan.

“Aku memang merestui hubunganmu dengan putriku, Kapten. Tapi bukan berarti seragam kalian aku abaikan begitu saja. Salah satu dari kalian tetap harus ada yang mengalah.” Komandan Kim menatap Luhan penuh harap.

Tatapan mata Luhan yang semula tertuju ke arah bawah langsung berubah menatap Ayah Hyerim. Dirinya sudah menduga akan terjadi hal ini, Luhan pun tahu tak mungkin Komandan Kim merestui hubungannya dan Hyerim begitu saja sementara seragam mereka berdua masih menjadi tembok perbatasan. Jangan lupakan hal bahwa Luhan jatuh cinta dengan seorang gadis yang berbeda warga negara dengannya ditambah juga oleh jarak yang ada karena hal tersebut.

“Dan aku harap bukan putriku yang mengalah,” tambah komandan yang merupakan ayah dari Hyerim itu.

Luhan hanya membalas tatapan penuh harap itu dengan netra penuh arti. Luhan pun mengerti apa maksud dari perkataan Ayah Hyerim, dirinyalah yang diizinkan melepaskan seragamnya demi restu dari hubungannya dan Hyerim. Demi Hyerim, dirinya harus melepaskan seregamnya yang susah payah ia dapatkan, pastinya Hyerim akan menentangnya ketika Luhan melepaskan seragamnya ini untuk gadis itu. Merasa Luhan mengerti akan ucapannya, Komandan Kim Jaehyun pun menampilkan senyum lebarnya.

─To Be Continued─


CIEEE, CIEEE, CIEEEE YANG UDAH SO SWIT-SO SWITAN TAPI AYAHNYA HYERIM GANGGUIN LAGI CIYEEEEEEEEEE. JANGAN-JANGAN SAD ENDING NIH /DIBALANG/

Siapa yang udah seneng mereka balikan lalu tiba-tiba jatoh nge-down lagi karena ayah Hyerim dateng. Lalu seneng lagi karena direstuin tapi ternyata gak beneran, siapa ayo siapa. WKWKWK /KETAWA PUAS/DIBALANG P2/

Dan cieee lagi Minho sama Lian jadian, cieeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee /enya panjang/

Oke, adakah yang kangen FF ini? Adakah yang nunggu? Gak apa kalo gak juga hiks sedih aku tuh

Okey, i warn all of you untuk siapkan jantung dibeberapa chapter kedepan. For what? Karena tentara gak akan gereget kalo gak ada action, maka akan ada adegan actionnya untuk chapter-chapter depan. Dan mungkin Hyerim atau Luhannya akan mati /dibalang p3/ -___- enggak ding, liat aja nanti.

Btw, di sini ada yang nunggu FF sebelahku gak Beauty and The Beast? Sepertinya pas januari chapter 13nya siap menyapa. Ahay.

Dan FF This Love ini dari kemarin mau update, lagi ngidam pen dipublish jadilah publish horayyyyyyyy~~~~~~~

Jangan lupa commentnya ya :p

With love,

Istrinya Luhan, calon istri perwira TNI (amin :p) HyeKim ❤

Advertisements

Author:

A tinkerbell who dream to be Luhan's future wendy — Also an amature author, k-drama trash, k-running man freak, eternal ELF, ahjussi and korean actor addict in the same time — Adorable since 2001

27 thoughts on “FF : This Love – Chapter 4

Write ur Love Letter . . . <3

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s