Posted in Chapter, Comedy, Family, Fanfiction, FF : Beauty and The Beast, Marriage Life, PG-17, Romance

FF : Beauty and The Beast Chapter 13 [She Is Comeback]

beautyandthebeast2

Beauty and The Beast Chapter 13

└She is Comeback ┘

©2017 HyeKim’s Fanfiction Story

Starring With : Luhan as Luhan || Hyerim (OC) as Kim Hyerim || Kyuhyun Super Junior as Cho Kyuhyun || Nana After School as Im Jinah

Genre : Romance, Comedy, Marriage Life, Family ||  Length : Multi Chapter || Rating : PG-17

Summary :

Beauty and The Beast adalah cerita dongeng yang dulu selalu menghiasi masa kecil seorang Kim Hyerim. Hyerim dulu sempat berkata ingin menjadi Belle, si cantik yang jatuh cinta pada beast. Si pangeran yang dikutuk jadi monster. Apa yang akan Hyerim lakukan bila hal tersebut terjadi padanya?

Disclaimer :

This is just work of fiction, the cast(s) are belong to their parents, agency, and God. The same of plot, character, location are just accidentally. This is not meaning for aggravate one of character. I just owner of the plot. If you don’t like it, don’t read/bash. Read this fiction, leave your comment/like. Don’t be plagiat and copy-paste without premission.


Im Jinah, cinta pertama seorang Luhan kembali lagi.


PREVIOUS :

Teaser || #1 || #2  || #3  || #4 || #5  || #6 || #7  || #8  || #9 || #10 || #11 || #12

HAPPY READING

Keran air yang dinyalakan itu meneteskan liquid bening yang ditampung dalam dua telapak tangan gadis yang sedang menunduk di depan wastafel. Kim Hyerim, gadis itu terlihat hampir gila atau memang giladilihat dari wajah yang kelewat frustasi seakan surai hitam legamnya akan rontok semua. Cairan liquid bening bernama air keran itu sudah tertampung banyak dikedua telapak tangannya, langsung saja Hyerim mengiring tangannya membasuh muka bahkan menyisir rambutnya dengan jari-jari tangan yang masih basah akan air. Selanjutnya gadis bermarga Kim itu mendongak, menatap pantulan wajahnya yang acak-acakan di cermin lantas dirinya meniup helaian poninya yang mulai panjang dengan pipi mengembung.

“Oh astaga Kim Hyerim! Kamu memang gila!” desis Hyerim penuh akan amarah serta frustasi tingkat dewa. Hyerim pun menegakan tubuhnya dengan kedua tangan mencengkam erat memegang sisi wastafel, iris hitam legamnya menatap pantulannya di cermin dengan binaran menusuk.

“Luhan, andai aku punya death note. Kutulis saja namanya disana. Akh sialan, masa iya aku suka padanya?!” sembur Hyerim habis-habisan pada bayangan wajah semerautnya di cermin diiringi tangan mengepal memukul-mukul cermin dengan bibir ditekuk. “Enyah saja kau enyah!”

Aksi Hyerim yang tidak ditonton siapapun menguntungkan dirinya namun keuntungan itu bersifat sementara tatkala dua karyawati memasuki kamar mandi dan well, seperti yang diprediksikan kedua karyawati yang memakai kemeja kotak-kotak serta rok pendek ketat itu menyarangkan tatapan heran pada Hyerim yang masih saja menyumpahserapahi bayangannya lebih tepatnya dirinya sendiri yang entah mengapa merasakan perasaan yang mengarah menyukai seorang Luhan. Setelah beberapa detik, Kim Hyerim tersadar akan sosok lain hadir yakni dua karyawati tadi yang bayangannya pun ikut menyempil di cermin. Langsung saja Hyerim menghentikan tindakan tololnya itu dan memasang senyum kaku sambil mengusap-usap leher belakangnya.

“Ehehe…” Hyerim terkekeh sambil setengah meringis malu setelah akhirnya kedua karyawati itu menghilang ke bilik toilet yang ada, diam-diam Hyerim memperhatikan tingkah keduanya dari ujung mata dan masih menyimpan rasa malu karena tindakan konyolnya yang dilihat keduanya.

‘Kring!’

Satu notifikasi dari ponsel pintar Hyerim terdengar, dengan gerakan malas dirinya menarik keluar ponsel yang ada di tas selempangnya. Layar beberapa inchi itu melihatkan lambang kakaotalk di atasnya—pertanda adanya pesan dari aplikasi tersebut, jempol tangannya tergerak menyentuh layar sentuh ponselnya dan membuka aplikasi chatting tersebut. Mata Hyerim langsung disuguhi display name Luhan yang mengiriminya pesan. Dengan bola mata bingung, Hyerim membuka pesan tersebut.

‘Pulang sekarang atau kamu akan mati ditanganku!’ [From : Luhan, 03.45 PM]

Pesan tersebut membuat wajah melongo Hyerim tercetak namun seperkian detiknya Hyerim mendesis kesal memandangi layar ponselnya dengan mulut bergerak-gerak layaknya orang komat-kamit merapalkan mantra santet—dan sejujurnya Hyerim ingin sekali melakukannya untuk Luhan.

“Dasar monster sialan, seenak jidat saja menyuruhku pulang dan mengancam mati segala. Yang menyuruhku bahkan memaksaku ke sini saja dirinya. Sekarang dirinya juga yang memaksaku pulang, dia punya otak tidak sih? Atau jangan-jangan dia bison berkepala ular?!”

Terus saja Hyerim mengumpat dalam hati menyumpahi Luhan setelah memasukan ponselnya kembali ke tas selempangnya dan merajut langkah keluar kamar mandi bahkan keluar dari gedung perusahaan milik Luhan. Dengan bibir tertekuk dan wajah merah padam pertanda emosi yang membendung selangit, Hyerim pun berada di luar area perusahaan Luhan dan melangkah asal ke arah yang hatinya perintahkan. Tak tahu sudah berapa mil tungkainya berjalan, seorang Kim Hyerim sekarang berada di sebuah taman yang jaraknya tidak terlalu jauh dari perusahaan Luhan.

Hyerim pun menegakan tubuhnya lalu menghela napas, pandangannya beredar ke penjuru taman. Seketika Hyerim menangkap satu objek yang membuatnya membatu. Seorang pemuda dengan seragam SMA sedang membagikan selembaran kepada orang-orang yang melewatinya. Dirinya tampak kelelahan akan terik mentari yang mengenai kulitnya kemudian waktu seakan berhenti tatkala ia menemukan sosok Hyerim yang berdiri mematung menatapnya. Lelaki itu seketika mengatupkan mulut rapat dengan ludah tertelan gugup.

Nuna,” gumam TaehyungSi Pemuda yang membagikan selembaran. Dan Hyerim tampak memandangnya nanar, selembaran yang adiknya dekap didepan dadanya itu dapat ia baca walau agak samar. Donor hati.

Jari telunjuk milik Luhan ia ketuk-ketukan di atas meja kerjanya. Tubuhnya terduduk dengan netranya yang fokus pada gadis yang sedang mendudukan diri di atas meja kerjanya dengan satu senyum manis—yang mana senyumnya membuat Luhan tak bisa menyembunyikan rasa terpesonanya. Im Jinah, bagaimanapun juga sosok wanita ini adalah cinta pertamanya.

“Lama tidak bertemu, Lu,” adalah ujaran pertama Jinah setelah jeda cukup panjang, kemudian dirinya mengulurkan tangan hendak mengacak-acak rambut Luhan, perbuatan yang sangat Luhan sukai.

Namun sedikit lagi tangannya menyentuh rambut pemuda Lu itu, langsung saja Luhan memandangnya sinis dan menepis tangannya. Tindakan Luhan itu membuat Jinah agak terkejut lalu setelahnya mengulum senyum tipis.

“Aku tahu, kamu pasti masih marah padaku.” ucapan Jinah dihadiahi tatapan sinis dari Luhan. Mendapat perilaku demikian, Jinah hanya menghela napas.

“Apakah kata marah cocok untukku saat ini?” ujar Luhan penuh penekanan akan tetapi binar matanya melihatkan beribu luka didalamnya, tangan kanan yang ada di atas meja kerjanya terkepal sempurna. “Aku terluka, apa kau tidak bisa melihatnya?” lanjut Luhan dengan suara parau.

Detik berikutnya, Jinah mencondongkan tubuhnya ke arah Luhan lalu memeluk pria itu. Gadis Im itu tersenyum samar dengan mata merah seakan merasakan juga sakit yang Luhan alami. Jinah pun menaruh dagunya di atas kepala Luhan dan tangannya yang mengelus belakang kepala Luhan dengan lembut.

“Maafkan aku, Han. Aku bersalah,” ujar Jinah dengan senyum kecutnya.

Tindakannya berpengaruh pada tubuh Luhan yang seketika merindukan sentuhan dari seorang Im Jinah. Jemari lentik yang sekarang mengusap rambutnya menghantarkan rasa hangat hingga membuat jantungnya berdetak. Dirinya masih mencintai gadis ini. Namun, selanjutnya Luhan malah menepis kembali tangan milik Jinah dan mendorong gadis itu sedikit menjauh.

Luhan pun mengangkat kepalanya menatap Jinah yang bergeming, binar mata keduanya sama-sama sendu namun pemuda bernama Luhan itu menyelipkan tatapan menghunus yang mana mencoba terlihat tegar di hadapan perempuan yang dulu mencampakannya begitu saja.

“Maaf? Selama ini kau ke mana saja, Im Jinah?” kata Luhan sambil buang muka, sekarang tampak Jinah melihatkan mata berkaca-kacanya. Lalu Luhan melanjutkan, “Pergilah, kau megangguku.”

Pada akhirnya Jinah mengalah. Dirinya pun berdiri dari posisinya lalu mengambil tas tangannya. Sebentar, Jinah memandangi Luhan yang masih setia buang muka. Helaan napas keluar dari bibir manisnya namun ia pun mengulum senyum sebisa mungkin.

“Aku tahu kamu tidak sepenuhnya membenciku…” kembali Jinah buka suara menyebabkan Luhan menatapnya dengan ekspresi sulit diprediksikan. Dalam hatinya, Luhan membenarkan hal tersebut, ia masih menyayangi sosok Jinah. Masih dengan senyumnya, Jinah kembali berkata. “Kamu suka meminum americano ‘kan? Bagaimana bila besok atau kapanpun aku mentraktirmu. Aku menunggumu, Lu.”  

Itulah perkataan terakhir Jinah, dirinya membalikan tubuh lantas merajut langkah menuju pintu setelahnya menghilang ke balik pintu setelah menutupnya secara perlahan. Dalam diamnya, Luhan memperhatikan punggung Jinah dengan nanar dan tetesan air mata dipelupuk matanya. Ia jadi mengingat kejadian beberapa tahun lalu saat gadis itu berjalan pergi meninggalkannya. Sebisa mungkin Luhan menahan air matanya dengan menyekanya kasar, lalu ia beralih menatap arah lain dan langsung saja netra beririsnya menangkap satu bingkai yang terpajang di meja kerjanya. Bingkai foto pernikahannya dengan Hyerim. Secara samar Luhan tersenyum menatapi figur gadis Kim itu yang terbaluti gaun pernikahan dan tersenyum tipis dengan melingkarkan tangan ditangan milik Luhan.

Pertemuan yang terjadi di taman barusan adalah sebuah kesengajaan juga takdir yang memperintahkan Hyerim untuk segera tahu keadaan ayahnya yang sebenarnya. Akhirnya Hyerim pergi bersama Taehyung menuju rumah sakit, namun anak tertua keluarga Kim itu ingin mendengarkan penjelasan rinchi dari mulut Taehyung. Maka kedua kakak adik itu pun akhirnya memilih mengunjungi cafe rumah sakit dengan saling duduk berhadapan juga berdiam diri. Well, keduanya sudah melakukan aksi diam dari Hyerim yang mentitahkan untuk pergi ke rumah sakit, tak ada satupun suara.

Taehyung yang duduk di depan Hyerim, menunduk tanpa berani menatap kakaknya yang memandangnya sendu. Lalu terdengar suara Hyerim bergerak dalam duduknya membuat Taehyung meliriknya dari ujung mata namun kembali mengedarkan tatapan ke arah lain kala kakaknya memfokuskan pandangan padanya.

Akhirnya Hyerim sanggup menghela napas untuk menetralkan diri, lantas dirinya berucap. “Jadi—”

“Jadi ayah membutuhkan donor hati, nuna. Aku tidak ingin merepotkanmu, dirimu bahkan rela menikah muda untuk menanggung biaya pengobatan ayah juga sekolahku. Aku tidak ingin dirimu terbebani,” segera Taehyung memotong dengan kepala terangkat dan menyarangkan tatapan sendu pada Hyerim.

Tatapan tulusnya membuat Hyerim seakan ingin menangis sekon ini juga, bibirnya mengatup tanpa tahu harus berkata apa lagi. “Maaf bila aku membuatmu kecewa, tapi aku begini karena menyayangimu.” kembali Taehyung bersajak diiringi dengan kepala menunduk.

Hyerim pun masih bergeming menatapi figur Taehyung di depannya. Namun akhirnya senyum haru dengan tatapan haru pun terlihat dari Hyerim, gadis bernama lengkap Kim Hyerim itu lantas menggerakan badan sedikit condong lalu mengulurkan tangan meraih tangan Taehyung yang bergerak-gerak resah di atas meja, kemudian mengusap tangan itu lembut. Penggerakan Hyerim membuat Taehyung mengangkat kepalanya lalu menatap paras manis Hyerim yang tersenyum tenang sangat manisnya.

Disaat Taehyung masih terdiam membiarkan Hyerim mengelus-elus tangannya, tangan Hyerim pun akhirnya berpindah dari tangan Taehyung ke surai adiknya itu. Langsung saja Hyerim mengacak-acak penuh sayang rambut adiknya yang reflek memejamkan mata menikmati sentuhan sayang kakak perempuannya.

Dengan kekehan pelannya, Hyerim berucap masih dengan mengacak-acak rambut Taehyung. “Adikku ternyata sudah dewasa.” rangkaian kata Hyerim yang memasuki gendang telinganya membuat Taehyung mendengus lalu membuka kelopak matanya. Kakaknya itu masih menatapnya lembut lalu mencubit pipi Taehyung sampai akhirnya berkata kembali. “Ayo kita mengunjungi ayah sekarang,”

Dan Taehyung pun mengangguk mengiyakan lalu menit berikutnya kedua adik kakak itu berdiri dan mengiring tungkai masing-masing menuju kamar inap ayahnya yang besok akan pulang ke rumah sekaligus melakukan rawat jalan setelahnya. Ditengah jalannya, Hyerim mendempet ke arah Taehyung lalu merangkul adiknya itu. Sekilas Taehyung menoleh ke arah Hyerim yang balas menatapnya. Keduanya saling melempar senyum. Seketika Taehyung ingat sesuatu, bagaimana pun juga dan seberat apapun, semuanya akan terasa ringan bila ia membagikannya kepada sosok kakak yang senang tiasa memberikan limpahan kasih sayang padanya.

“Aku menyayangimu, nuna,” gumam Taehyung dalam hati dengan tulus.

Bohong bila ia tegar dan merasakan semuanya akan lancar. Malam mulai datang tatkala Hyerim sampai di rumah yang ia tinggali bersama Luhan. Jujur, Hyerim merasa sedang dihempaskan jatuh saat tahu ayahnya bergantung pada hati baru untuk selamat, dimana pendonor hati itu belum ditemukan sama sekali. Saat sudah memutar kunci pada lubang kunci dan mendorong pintu tersebut, Hyerim memasuki rumah diiringi kegiatan membuka alas kakinya dengan wajah lesu.

“Hallo!”

Sebuah suara menyerobot masuk kependengarannya kala baru selesai membuka alas kakinya, dan suara itu juga yang membuat Hyerim terperangah kaget dan menatap oknum penyuara vokal tersebut dengan tampang bodoh. Byun Baekhyun lah yang Hyerim ketahui sebagai biang yang membuatnya terkejut dan nyaris serangan jantung di tempat. Pemuda Byun itu tanpa dosa menampilkan cengiran dan menatap Hyerim jenaka.

“Akhirnya diantara dirimu dan Luhan ada yang pulang juga,” serunya ceria seakan tindakan menerobos rumah orang seenak pantatnya itu adalah sesuatu yang sopan.

Satu tangan Hyerim mengepal dan diletakan didepan dadanya yang naik turun, berusaha Hyerim menetralkan napasnya yang seakan terpenggal. Baru setelah ia tenang dari kagetnya akan munculnya sosok Baekhyun, gadis Kim itu mendelik ke arah Baekhyun yang baru ia sadari memegang dua bungkus ramyun.

“Bagaimana bisa kau masuk ke sini? Astaga, kenapa Luhan memiliki teman yang berbanding balik dengan sikapnya.” desah Hyerim dengan wajah tak nyaman disertai langkah kaki mulai menjauhi pintu depan rumah. Dengan muka bebal dan cengiran yang tak luntur, Baekhyun mengekori Hyerim.

“Kau lapar?” kembali Hyerim buka suara saat sampai di dapur sambil membuka kulkas dan mulai membungkuk dengan bola mata bergerak-gerak menelisik isi kulkas tersebut.

Saat menemukan bungkus sosis mentah, Hyerim dengan senyum tipisnya mengambil bungkusan tersebut lalu kembali menegakan badan dan menutup pintu kulkas. Badannya ia putar ke arah Baekhyun yang tersenyum konyol dengan deretan giginya yang nampak, pemuda bermarga Byun itu mengangguk-angguk mengiyakan pertanyaan Hyerim atas dirinya yang lapar.

“Ya, dan sepertinya tidak salah meganggu makan malam sepasang suami-istri yang masih belum memiliki anak.” ujar Baekhyun dengan alis terangkat-angkat dan pandangan menggoda.

Ucapannya membuat Hyerim tersedak ludahnya sendiri dan batuk-batuk. Anak katanya? Hyerim yang memikirkan hal tersebut menggeleng-geleng sambil menepuk-nepuk dadanya keras. Sementara Baekhyun tersenyum jahil sambil mendudukan setengah bokong di atas counter. Saat batuknya reda, Hyerim tertawa hambar sambil menatap Baekhyun penuh akan kejenakaan.

“Ahaha, anak. Kau ini. Sudahlah, aku akan memasakan makanan untukmu lagi dan sepertinya Luhan juga belum pulang,” ialah kata-kata Hyerim dengan senyum kaku dan gerakan kepala ke kanan dan kiri secara kaku juga.

Lalu Hyerim membalikan badan dan mulai menjelajahi dapur untuk memasak makan malam. Setelah terbuang beberapa detik, Baekhyun pun menghampiri Hyerim yang baru mengambil wajan dan meletakannya ke atas kompor. Baekhyun pun berada di sebelah Hyerim sekarang, gadis Kim itu pun lantas menatapnya dengan wajah bertanya. Namun Baekhyun hanya mengulum senyum.

“Aku akan membantumu,” ucap Baekhyun menyampaikan niatnya.

Hyerim yang menerima uluran baik itu pun mengangguk dan merespon. “Baiklah.”

Akhirnya dengan kompak, keduanya memasak untuk makan malam dan Hyerim pun merasa sangat terbantu karena Baekhyun. Masakan yang mereka buat pun jadi lebih cepat tersaji. Disaat keduanya masih sibuk memasak dengan harum hasil masakan yang mulai menyeruak dan senandung berisik Baekhyun memenuhi dapur, dari pintu rumah terlihat Luhan baru memasukinya dengan wajah lesu.

Pemuda bermarga Lu itu membuka alas kakinya, ia langsung tahu bahwa Hyerim sudah ada di rumah kala indra penciumannya mencium harum masakan. Dengan gerakan pelan tanpa semangat, Luhan mengiring tungkainya memasuki rumah. Kepalanya hanya dihantui sosok Jinah yang sekarang datang secara tiba-tiba. Saat Luhan melewati dapur, Baekhyun lah yang menangkap signal keberadaannya. Lelaki bernama lengkap Byun Baekhyun itu pun tersenyum lebar menyambut Luhan, sementara Hyerim sedang memunggunginya dengan sibuk menggerakan tangan akan acara memasaknya.

“Hei, Lu!” sapa Baekhyun riang dengan senyum lebar dan tangan kanan memegang pisau ia angkat untuk melambai pada Luhan.

Reaksi Luhan adalah berhenti sebentar dan melirik Baekhyun sekilas. Lelaki bermarga Lu itu tersenyum samar lalu mencelos pergi menuju kamarnya tanpa menyajakan rangkaian kata untuk balas menyapa Baekhyun. Melihat tingkah sahabatnya itu membuat Baekhyun menggaruk kepala dengan jari yang setengah memegang pisau.

“Ckckck, resiko mempunyai sahabat jelmaan kulkas,” decak Baekhyun lalu kembali memotong-motong kentang yang ia anggurkan untuk menyapa Luhan.

Nyatanya di belakang Baekhyun, Hyerim bahkan memberhentikan sejenak kegiatan memasaknya kala mengetahui Luhan datang. Diam-diam Hyerim melirik dari ujung mata ke arah tempat Luhan tadi menghilang. Entah mengapa lelaki itu walau ia tidak bertatap muka langsung tadi, Hyerim rasa sedang bersedih bukannya bersikap dingin seperti biasanya. Napas Hyerim terbuang kala mulai memikirkan Luhan tak wajar. Lalu dirinya kembali melanjutkan memasak sosis gorengnya, telihat sosis-sosis yang ia masak sudah matang dan lantas Hyerim mengambil penyaring makanan dan mengangkat seluruh sosis ke sana. Setelah minyak yang ada di sosis sudah hilang semua, Hyerim menaruh sosis-sosis tersebut ke piring. Dirinya kembali melirik tempat Luhan terakhir kali menghilang, pipi Hyerim pun mengembung karena rasa penasarannya.

“Baekhyun-ssi,” panggil Hyerim sambil melirik Baekhyun sekilas. Lelaki Byun itu bergumam menyahuti tanpa mengalihkan tatapan pada wortel yang sekarang sedang ia potong-potong.

“Aku ingin menghampiri Luhan dulu, dia emm…” bola mata Hyerim berputar sambil bergumam dengan memikirkan alasan, lalu ia menatap punggung Baekhyun lagi dengan menggigit bibir bawah. “… dia suka lupa menaruh baju kotor ke tempatnya, aku harus memeriksanya, maka kau memasak dulu sendiri, ya?”

Tanpa berbalik, Baekhyun mengangguk-angguk dan menjawab. “Ya, silahkan saja.”

“Terimakasih, Baekhyun-ssi. Maaf membuatmu harus memasak sendiri dulu.” dan Baekhyun hanya menggangkat tangan dan melambai-lambaikannyapeganti ucapan tak apa.

Lalu Hyerim mulai mengiring tungkai menuju kamarnya dan menjauhi dapur. Tak lama kemudian gadis bernama lengkap Kim Hyerim itu sampai di depan kamarnya juga kamar milik Luhan. Dengan perlahan, Hyerim meraih kenop pintunya dan mendorong pintu tersebut kemudian melongokan kepala ke dalam untuk memeriksa keadaan. Akhirnya Hyerim mengetahui bahwa Luhan sedang berbaring di atas ranjang dengan posisi menyamping. Hyerim pun melangkah berusaha tidak meganggu tidur Luhan, ya Hyerim meraba-raba bahwa Luhan sedang tidur sekarang. Dan itu benar saat ia sampai di ranjang berisikan Luhan itu, lelaki itu tidur dengan dahi mengerut dan guratan-guratan wajah tak tenang seakan memikirkan sesuatu.

Dengan senyum tipisnya, Hyerim pun meraih selimut dan menariknya ketubuh Luhan yang kelihatan kedinginan—terlihat dari tubuhnya yang menggigil. Tubuh Luhan pun sekarang dibaluti selimut tebal berwarna putih tersebut. Masih dengan senyum manisnya, tubuh miliknya, Hyerim gerakan untuk duduk di atas ranjang dan di sebelah tubuh Luhan. Hyerim pun memperhatikan wajah tidur Luhan yang selama ini tidak pernah ia lakukan. Terbesit satu pengambaran, tampan. Itulah yang Hyerim pikirkan kala menelisik wajah Luhan yang sedang tertidur dengan napas teratur dan bahu naik turun.

“Apa kamu bermimpi buruk?” gumam Hyerim pelan sambil mengiring tangannya mengelus rambut Luhan. Terlihat Luhan dalam tidur menggeleng-gelengkan kepalanya resah dengan wajah ketakutan, kepala Hyerim pun ia miringkan dengan wajah penuh tanda tanya.

“Kurasa dirimu bermimpi buruk.” lagi, Hyerim menggumam disertai senyum kasihannya dan masih dengan gerakan tangan mengelus lembut surai milik Luhan.

Sementara didalam mimpinya, Luhan melihat sosok gadis yang ia kenal sebagai Im Jinah sedang memeluk erat sosok lelaki yang selama hidupnya ia panggil dengan sebutan Kyuhyun hyung. Luhan sendiri layaknya figuran dengan berdiri mematung di jarak yang lumayan agak jauh dari keduanya. Dapat Luhan lihat Jinah menatap Kyuhyun penuh rasa cinta lalu memberikan kecupan singkat dipipi lelaki itu. Seikat bunga lily yang Luhan pegang pun terjatuh ke atas rerumputan hijau yang ia pijaki, air matanya dengan sendiri jatuh. Lalu pemandangan di depannya makin menyayat hati saat Jinah melingkarkan tangan ditangan Kyuhyun lalu mengajak lelaki itu pergi, namun gadis Im itu sempat menatap Luhan namun berpura-pura tidak melihat sosok Luhan. Punggung Jinah yang melihatkan kebahagiaan itu perlahan menjauhi Luhan bersama dengan punggung Kyuhyun.

“Tidak, jangan pergi.” satu kata lolos dari mulut Luhan yang masih tertidur diiringi air mata yang menetes. Hyerim yang melihat hal tersebut tampak membuka mulut kaget dengan mata melebar, sekarang bahkan Luhan menggeleng-geleng dalam tidurnya.

“Jangan pergi.” kembali gumaman dalam bunga tidurnya lolos dari bibir Luhan.

Lantas Hyerim memberhentikan aksi mengelus kepala Luhan dan mulai menjauhkan tangannya. Dirinya menatap iba lelaki yang selama ini bersikap seenaknya itu terlihat rapuh. Tapi sebelum tangan Hyerim tertarik lebih jauh dari tubuh Luhan, secara mengejutkan tangan kanan Luhan meraih tangan Hyerim membuat Hyerim tersentak kaget dan melirik Luhan. Terlihat Luhan sedikit membuka matanya, pandangannya samar akan sosok Hyerim. Sementara Hyerim masih bergeming dengan darah berdesir ketika tangan Luhan melingkar dilengannya dan meremasnya lembut.

Masih terbawa bunga tidurnya dan tidak menyadari seratus persen sosok yang ada di hadapannya, Luhan tersenyum pedih dengan tatapan nanar. “Jangan pergi,” ujarnya lalu tanpa diduga menarik Hyerim kedalam pelukannya.

Tindakan Luhan membuat Hyerim tambah kaget namun dirinya tidak dapat berkutik saat Luhan sekarang malah memeluknya dengan kedua tangannya secara erat. Dengan pelan-pelan, Hyerim  membetulkan posisi tubuhnya hingga ikut tidur dengan posisi miring dan berhadap-hadapan dengan Luhan yang kembali memejamkan mata. Berada dipelukan Luhan dengan wajah berhadapan begini membuat Hyerim merasakan pacuan jantungnya meningkat dan salivanya terteguk gugup. Tangan Luhan pun bergerak untuk menarik Hyerim tambah mendekat membuat jantung Hyerim nyaris copot.

“Jangan pergi,” kembali Luhan menggumamkan itu membuat Hyerim membuang napas melalui hidungnya dan tersenyum tipis kemudian membalas pelukan Luhan disertai elusan lembut dipunggung lelaki Lu itu.

“Aku di sini, Lu,” bisik Hyerim tepat ditelinga Luhan dan bisikan itu ternyata membuat Luhan tersenyum dalam bunga tidurnya yang masih menampilkan sosok Jinah yang berjalan meninggalkannya. Kembali Luhan menintikan air mata dan Hyerim pun masih setia mengelus punggung dan belakang kepala lelaki itu.

“Aih kenapa lama sekali mereka?” gerutuan keluar dari bibir Baekhyun yang melongokan kepala ke arah Hyerim dan Luhan menghilang barusan. Pada akhirnya dirinya pun membawa tungkainya menuju kamar pasangan tersebut, tangan Baekhyun pun meraih kenop pintu kamar tersebut dan membukanya. “Hei, makan malam sudah si—”

Kata-kata Baekhyun tertelan dikarenakan adegan yang membuat dirinya layaknya orang tolol sekarang. Sebuah pemandangan langka, Hyerim dan Luhan yang berpelukan di atas ranjang. Keduanya sudah menjelajahi alam mimpi dengan wajah damai. Setelah sadar, Baekhyun tersenyum miring lalu mendorong kakinya berjalan mundur dengan perlahan juga menutup pintu kembali. Sebisa mungkin dirinya tidak menimbulkan suara apapun.

Sejenak, Baekhyun memandangi pintu yang barusan ia tutup dengan senyum menahan tawanya. “Ah kalian ini, aku sangat berterimakasih karena aku bisa kenyang memakan makan malam sendiri.” lalu Baekhyun pun memutar tubuh kembali menuju ruang makan dengan senyum kasmarannya melihat pemandangan manis barusan.

Sinar mentari mulai nampak menandakan pagi hari datang. Suara jam weker sialan yang sangat meganggu itu menarik Luhan dari alam mimpinya. Kelopak matanya mulai terbuka dan menyipit setelah akhirnya menguap lebar kemudian mulai bangun dari tidurnya. Dirinya melakukan perenggangan kecil pada tubuhnya.

‘Klek’

Suara pintu kamar mandi yang menyatu dalam kamarnya itu terdengar, kepala Luhan lantas tertuju ke arah sumber suara. Terlihat sosok Hyerim sedang bersenandung pelan memakai jubah mandinya dengan tangan memegang handuk yang mengeringkan rambutnya. Sejurus kemudian netranya pun bertatapan dengan Luhan yang memandanginya. Seketika Hyerim menghentikan acara mengeringkan rambutnya dan menelan ludah gugup, mengingat bagaimana tadi malam ia tertidur dan terbangun tadi pagi sambil menahan pekikannya. Bagaimana tidak? Semalaman seorang Kim Hyerim tertidur dalam pelukan Luhan, dan dengan keparatnya hal tersebut mengundang kupu-kupu dalam perutnya menggelitik runggu.

“Mau ke mana?” tiba-tiba pertanyaan keluar dari mulut Luhan yang mulai mengiring tubuh turun dari ranjang.

Hyerim yang barusan mendadak berhenti karena mengingat kejadian manis tidak sengaja semalam pun, mengedipkan matanya beberapa kali hingga akhirnya buka suara untuk menjawab. “Menjemput ayahku, hari ini ayahku pulang ke rumah.” setelahnya, Hyerim berlalu menuju lemari pakaian dan kembali menggerakan handuk mengeringkan surainya.

Luhan yang sudah mengambil handuknya pun melirik Hyerim sekilas, gadis yang merupakan istrinya itu sedang memilah pakaian yang ingin ia gunakan. Seraya mendekati pintu kamar mandi dan mulai membukanya, Luhan berkata. “Aku antar, jadi tunggu aku selesai mandi.”

Gerakan Hyerim terhenti sebentar dibarengi pintu kamar mandi yang tertutup juga terkunci, kemudian suara air dari shower pun terdengar. Kepala Hyerim bergerak memandangi pintu kamar mandi tidak percaya lalu kembali memfokuskan pandangan memilih baju, senyum tipis terukir diwajahnya.

“Dia ingin mengantarku?” gumam Hyerim dengan senyum gembiranya namun sekon kedepan ia menggeleng-geleng untuk menyadarkan diri. “Ah, ah, lupakan, jangan kegirangan seperti itu.” Hyerim pun kembali memilah baju namun tak dapat ia menahan rasa gembiranya hingga akhirnya ia terkikik pelan saking senangnya.

Rumah susun yang sudah lama tidak dipijaki olehnya pun terlihat tepat di depan mata saat ini. Kim Hyunseok, ayah dari satu putra dan putri itu tampak dituntun masuk ke rumahnya. Dengan bantuan Taehyung dan Luhan, akhirnya pria paruh baya itu bisa duduk di sofa ruang keluarganya. Beliau lantas menyandar pada sofa tersebut sementara Hyerim sedang keripuhan membawa barang-barang di daun pintu. Gadis itu tampak menekuk wajahnya karena Taehyung dan Luhan yang tidak berniat membantunya sama sekali.

“Hei! Kalian tidak mau membantuku apa?!” sembur Hyerim pada dua pria yang malah seenak jidat duduk di atas karpet lalu mulai menyalakan televisi.

Semburan Hyerim membuat keduanya menoleh dengan tampang tanpa dosa. Sejurus kemudian pun Taehyung menoleh kembali ke televisi, dengan bahu terangkat santai dirinya menyahut. “Nuna ‘kan nenek lampir, kekuatannya banyak jadi tidak perlu bantuan.”

Sontak hal tersebut mengundang Luhan tertawa pelan sambil menunduk juga membuat Hyerim memandang tajam adiknya dengan dada naik turun menahan amarah.

‘Takkk!’

“Aw!” pekik Taehyung kala satu pasang sendal rumah yang ada di rak melayang kekepalanya, pemuda Kim itu mendelik ke arah Hyerim—oknum yang melemparinya.

Di sebelah Taehyung, Luhan berusaha mati-matian menahan tawanya melihat pertikaian adik dan kakak itu. Ayah keduanya pun hanya terkekeh pelan, dalam hati merasakan rindu akan kericuhan antara putra dan putrinya. Tak terima dilempari, Taehyung pun berdiri lantas berkacak pinggang. Sekon kedepan, keduanya pun saling melempar pandangan sinis.

“Apa? Tak terima dilempari?!” seru Hyerim sambil mengangkat dagunya.

Taehyung pun mendengus lalu berjongkok mengambil bantal yang ia peluki saat duduk tadi, sejenak logam matanya melirik bantal tersebut kemudian berganti melirik Hyerim. Akhirnya tercetuslah perang yang makin panas dengan Taehyung yang melempar bantal tersebut hingga menampar wajah ayu Hyerim. Terlihat gadis itu membuka mulutnya lalu menghela napas, ia pun menyarangkan tatapan berkobar pada adiknya.

“Kim Taehyung!” teriak Hyerim lalu merajut langkah lebih tepatnya berlari ke arah Taehyung.

Peka menjadi mangsanya Hyerim, dengan gesit Taehyung pun mengambil langkah lari. Alhasil keduanya kejar-kejaran tidak elit di ruang tengah. Aksi keduanya hanya direspon tawa oleh Ayah dan Luhan yang tersenyum menahan tawa. Atmosfer yang tercipta di sini seakan menghangatkan hatinya yang lama kesepian.

‘Duk!’

“AHAHAHA, RASAKAN! RASAKAN! BUAHAHAH!”

Tawa Taehyung serta suara gaduh Hyerim yang jatuh pun terdengar. Membuat Luhan menoleh ke sumber suara, terlihat Hyerim jatuh tersungkur dengan wajah jengkel sementara beberapa jengkal di hadapannya, Taehyung tertawa puas sampai-sampai memukul-mukul pahanya sendiri. Hal tersebut juga membuat Luhan yang dari tadi menahan tawa pun meledakan tawanya.

“Ahahaha, dasar kambing dungu!” ujar Luhan dengan tangan yang juga memukul-mukul pahanya sendiri. Seakan jatuhnya Hyerim adalah sebuah komedi paling lucu. Tuan Kim pun tambah tertawa saja.

Mendengar ujaran Luhan membuat Hyerim menggerakan kelereng matanya ke arah pemuda itu dengan tatapan berkobar. Lalu dengan satu hentakan, Hyerim berdiri dari jatuhnya yang mengundang komedi itu. Dirinya pun melangkah ke arah Taehyung lebar-lebar, secepat kilat Hyerim memiting kepala adiknya membuat Taehyung memekik.

Nuna! Nuna! Lepaskan aku! Hei!” pekik Taehyung karena pitingan Hyerim yang kelewat kuat seakan dirinya tercekik dan sulit bernapas. Bukannya dilepaskan sesuai keinginan, Hyerim malah mengepalkan tangan yang satunya lagi lalu memukul-mukul pelan kepala Taehyung.

“Lepas katamu? Setelah kau mentertawaiku? Mimpi saja sana, dasar bocah ingusan!” lalu Hyerim memandang ke arah Luhan yang sudah lebih anteng, dalam catatan tidak mentertawainya layaknya beberapa waktu lalu. Namun tetap saja Hyerim memandang pemuda itu kelewat jengkel. “Kau juga! Beraninya mentertawaiku!”

Dengan gerakan agak kasar, Hyerim melepaskan pitingannya pada leher Taehyung. Aksi selanjutnya dari perempuan itu adalah mendekati Luhan lantas duduk di hadapan pemuda itu. Tangannya terulur mengambil bantal yang langsung saja menjadi senjata serangannya pada pemuda yang menjadi suaminya itu.

“Hei! Hei! Kim Hyerim! Berhenti memukuliku!” Luhan berseru tak terima sambil berusaha menepis bantal yang dilayangkan terus-menerus untuk memukulinya. Tentu Hyerim tidak sebaik itu untuk menghentikan kegiatannya, dirinya terus memukuli Luhan tanpa ampun.

“Idiot! Otak lumba-lumba! Monster sialan! Kambing dungu! Mati saja sana! Membuat kesal orang terus-terusan, lebih baik kau mati.” umpat Hyerim ditengah acara memukuli Luhan yang memasang wajah kelelahan menangkis terus-terusan pukulan Hyerim, alhasil dirinya lengah dengan kepalanya yang menjadi sasaran pukul Hyerim dengan bantalnya.

Tapi tanda diduga, Taehyung bergabung dalam kericuhan itu. Anak bungsu keluarga Kim itu membawa bantal yang lain yang langsung disarangkan pada belakang kepala Hyerim menyebabkan kepala kakaknya itu terdorong dan sejenak kegiatan memukuli Luhan itu berhenti. Saat Hyerim menoleh, Taehyung memeletkan lidah kepadanya lalu menatap Luhan sambil mengedipkan mata. Oke, Hyerim paham, keduanya bersekutu apalagi Luhan tersenyum miring merespon kedipan Taehyung.

Hyung! Serang nenek lampir ini, hyung!” kompor Taehyung yang lalu kembali memukul wajah Hyerim dengan bantal.

Dengan semangat, Luhan mengangguk kemudian menatap Hyerim yang sedang memejamkan mata dan mengusap wajahnya gusar sehabis kena pukulan. Senyum miring tercipta dibibir Luhan. “Ya, serang dia!” lalu Luhan mengambil satu bantal yang tergeletak di karpet.

“Hei! Hei! Tidak adil! Satu lawan dua? Curang! Kalian curang!” ucap Hyerim merasa ada kecurangan di sini sambil menatap bergantian Luhan dan Taehyung tidak setuju. Namun keduanya malah mengangkat bahu acuh.

“Memangnya aku peduli, sayang?” jawab Luhan santai membuat gigi Hyerim mengertak kesal. Sementara Taehyung hanya terkikik geli. “Taehyung-ah, cepat pukul dia,” titah Luhan dengan pandangan mata menatap adik dari istrinya itu dan respon Taehyung adalah acungan jempolnya.

Seperti yang diperkirakan. Keadaan jadi lebih ribut daripada barusan. Hyerim terus mendapat serangan pukulan bantal dari kedua lelaki kurang hajar itu. Gadis bernama lengkap Kim Hyerim itu berusaha menghindar juga membalas walau lebih sering dirinya menghindar. Sampai dengan jahil Taehyung menarik surai Hyerim agak keras—menjambaknya hingga kakaknya itu berteriak.

“Taehyung kurang hajar! Dan—Ya! Luhan! Perih! Mataku kena pukulan bantalmu!”

Luhan yang diteriaki juga hanya memeletkan lidahnya dan menjawab. “Rasakan itu kambing dungu.”

Hyung, jangan berhenti, ayo pukuli lagi,” kembali Taehyung mengompor.

Dan pertiakaian tersebut terus berlanjut. Membuat Tuan Kim hanya tersenyum dan menggeleng. Kehangatan dalam keluarganya membuatnya merasakan semangat untuk sembuh dari penyakitnya.

‘Luhan, ini aku Jinah. Aku mendapatkan nomormu dari Baekhyun dan seperti ucapanku di kantormu, aku berjanji mentraktirmu. Americano. Starbuck di Seocho-gu. Sekarang atau tidak ada lain kesempatan’ [From : Im Jinah, 14.00 PM]

Erangan pelan lolos dari mulut Luhan membaca sederet pesan di layar ponselnya. Berani-beraninya Byun Baekhyun memberikan nomor ponselnya kepada Jinah. Dan lagi gadis yang merupakan cinta pertamanya itu mengajaknya bertemu.  Bohong bila Luhan membenci Im Jinah sepenuh hati, sejujurnya dia ingin bertemu gadis itu lalu menghabiskan waktu bersama. Namun dilain sisi, sekarang dirinya sedang berada di rumah Hyerim dan akan menyantap makan siang. Tanpa sadar dirinya mengusap rambut gusar.

“Hei monster sialan, cepat ke sini jangan berdiri di depan pintu kamar mandi seperti orang susah,” panggil Hyerim dengan bibir memberengut kesal. Tentu ia masih dendam apalagi Taehyung dan Luhan membuatnya jadi samsak pukul barusan.

“Hyerim,” tegur Tuan Kim yang duduk di hadapannya dan sedang menggerakan sumpitnya untuk melahap makan siangnya. Beliau menatap Hyerim sambil menggeleng, mempringati putrinya untuk tidak memanggil Luhan seperti itu namun Hyerim malah berlagak santai dengan menyumpitkan ikan dendeng yang berakhir dikunyah dimulutnya.

Merasa Luhan tak merespon, Taehyung yang duduk di sebelah Hyerim pun menatap ke arah lelaki itu yang berdiri dengan posisi memunggungi mereka semua. Pemuda Lu itu masih bimbang karena pesan dari Jinah.

Hyung, ayo makan, makan siangmu. Nanti dingin,” kali ini Taehyung yang memanggil lebih sopan dan detik itu juga Luhan tersadar dan membalikan badannya.

Dengan wajah agak canggung, Luhan berjalan ke arah ruang makan yang tidak terlalu jauh lalu tersenyum tipis. “Makan saja, tiba-tiba aku ada urusan jadi aku keluar dulu. Permisi.” pamit Luhan yang lantas mengambil langkah seribu sebelum Taehyung, Hyerim, atau Tuan Kim memanggilnya lagi untuk makan.

“Eh, dompet Luhan hyung tertinggal,” baru beberapa detik Luhan menghilang, Taehyung berujar tatkala mendapati dompet lelaki itu tertinggal di meja ruang makan.

Mendengarnya, Hyerim langsung meletakan alat makannya lalu berdiri. Tanpa mengatakan apa-apa, Hyerim menarik dompet Luhan yang Taehyung ambil. Sambil berjalan menyusul Luhan, Hyerim berkata. “Aku akan menyusulnya.” lalu punggung Hyerim ikut menghilang di balik pintu masuk.

Alunan musik klasik itu menjadi backsound pada toko kopi yang sudah tak asing lagi namanya. Dengan alunan latar musik itu, para pelanggan menyesap kopi dengan nikmatnya tak terkecuali seorang gadis berambut bergelombang berwarna coklat. Dengan nikmat dirinya menyesap kopi pesanannya dengan mata bergerak-gerak mencari kehadiran seseorang. Suara dentingan yang berasal dari cangkir kopi dan tatakan terdengar kala Im Jinah—gadis itu, menaruh cangkirnya dan mempause sebentar kegiatan meminumnya.

Detik selanjutnya gadis itu menghela dan berucap agak putus asa. “Ke mana dia? Apa tidak datang?” desahnya dengan kepala yang dijengjangkan mencari-cari sosok Luhan.

Seakan Dewi Fortuna berpihak padanya, sosok pemuda dengan wajah dingin dan tatapan yang tak kalah dinginnya itu pun muncul dari pintu masuk cafe. Senyum lebar tak dapat Jinah sembunyikan kala Luhan berjalan ke arah mejanya setelah melongokan kepala mencari keberadaannya. Rasa gembiranya makin tak terbendung tatkala memang sosok Luhan yang detik ini sudah berdiri di hadapannya.

“Akhirnya kamu—”

“Americano satu, lalu bayar dan sudahi pertemuan ini,” penggalan kata Jinah langsung dipotong oleh Luhan dengan intonasi dingin, lantas lelaki itu mendudukan diri di hadapan gadis Im itu yang tampak menatapnya dengan ekspresi sayu kemudian membuang napas.

“Baiklah,” balas Jinah pelan lalu menggerakan tangan untuk memanggil pelayan cafe. Setelah memesan dan Si Pelayan pun angkat kaki dari tempat keduanya duduk, Jinah dan Luhan hanya saling pandang dalam kediaman dan kebisingan cafe saat ini. “Luhan aku—”

“Apa?” lagi, Luhan memotong dengan cepat juga tak lupa dengan kegigihannya mempertahankan topeng dingin palsunya itu.

Kepala Jinah pun menunduk dengan pandangan menerawang, namun detik selanjutnya ia kembali menatap Luhan lembut meski yang menjadi bahan tatapannya tetap bersikukuh memasang wajah dingin. Senyum terkulum dibibir manis Jinah serta tangannya terulur untuk meraih tangan Luhan, tapi dengan segera Luhan menghindar.

“Jangan sentuh aku,” kata Luhan menusuk dan tatapan tajam yang ditorehkan pada Jinah yang jujur membuat perempuan itu tersakiti.

“Luhan, dengarkan aku, aku—”

Tanpa minat, Luhan menggerakan badannya untuk membetulkan posisi duduk lalu menatap Jinah tajam sampai keulu hati. Kesekian kalinya lah Luhan memotong frasa Jinah. “Kau mendekatiku karena menyukai kakak sepupuku. Lalu dengan seenaknya pergi begitu saja setelah berpura-pura menyukaiku ketika aku mengatakan menyukaimu. Mencampakan diriku dengan setega itu lalu—”

Tangan Jinah terkepal di atas meja dan dengan matanya yang terpejam itu, kepalan tangan miliknya mengebrak pelan meja menyebabkan kata-kata Luhan yang terhenti sekarang. Kelopak kelereng hitamnya itu kembali terbuka dan menatap Luhan nanar sementara pemuda itu tersenyum miringis menatapnya.

“Luhan, aku tahu aku salah tapi saat pergi meninggalkanmu aku menyadari bahwa aku…” kalimat Jinah menggantung dan bibir bawahnya tergigit keras olehnya sendiri, sambil mengumpulkan mental dirinya menarik napas lalu kembali melanjutkan. “… mencintaimu.”

Keparat, rasa hangat itu menjelajari hati milik Luhan mendengar untaian kata yang dilafalkan Jinah tentang mencintai dirinya. Seketika kemarahannya makin memuncak, anehnya begitu. Ia seketika ingin marah juga menangis mendengar ungkapan yang Jinah ucapkan. Matanya sontak berkaca-kaca juga tangannya yang menggepal kuat.

“Kenapa? Apa lagi yang kau mau? Apa kau kira aku bonekamu, Jinah? Aku ini…”

Namun fokus mata Jinah malah beralih pada sosok di belakang Luhan dengan wajah bingung. Telinganya pun sudah tak mendengar ucapan emosional Luhan tetapi dirinya malah melontarkan pertanyaan. “Kau mencari Luhan?”

Menyebabkan ucapan emosional Luhan terhenti lantaran pertanyaan yang dilakukan mulut Jinah. Sontak kepalanya menoleh ke arah belakang. Rasanya air dingin mengguyurnya hingga tubuhnya kaku seketika. Wajahnya berubah tanpa ekspresi. Tentu Luhan tahu siapa sosok gadis yang berdiri mematung menatapnya lebih tepatnya menatap Jinah tanpa ekspresi, mata gadis itu mengerjap beberapa kali.

“Hyerim…” gumam Luhan pelan, tak menyangka Hyerim akan di sini namun melihat tangan gadis itu memegang dompetnya yang sekarang diremas-remas olehnya membuat Luhan tahu apa penyebabnya dan langsung saja Luhan mengumpat dalam hati atas keteledorannya.

Di lain sisi, Jinah menatap keduanya bergantian dengan alis berkerut. Ketika bersitatap dengan Hyerim, Hyerim pun tambah meremas dompet Luhan yang berada dalam kukungan tangannya. Hatinya mencelos karena sangat tahu siapa gadis yang sedang ditemui Luhan sekon ini.

Im Jinah, cinta pertama seorang Luhan kembali lagi.

Itulah yang terlintas dibenak Hyerim.

—To Be Continued—


HyeKim’s Finger Tale :

Hallo semuanya! Happy new year! Dan bagi kalian yang pas itu natalan, Merry Christmas! (telat sak, iya gue tau)

Akhirnya Chapter 13 terealisasikan, kayaknya ranjau typo. Tau deh cuman edit sekali untuk 1 bagian.

Apa di sini cuman aku doang yang gereget udah masuk inti cerita? Jangan sedih ada Jinah kawan, karena dengan datangnya dia, cerita ini dijamin lebih gereget. Masa manis mulu, bosenlah hidupkan naik turun dengan berbagai konflik wkwkwk. Bila ada yang nanya ini FF beresnya kapan, aku sendiri gak tau, aku cuman ngikut kerangka cerita yang udah aku buat tapi dari awal-pemanasan konflik-konflik-klismak-ending, udah aku tentuin. Jadi semisal kalian maunya hepi ending tapi dari awal aku mau sad, pasti gak akan bisa diganggu gugat buakakakak XD

Oh ya, aku mau meluruskan satu hal nih. Pasti ada beberapa dari kalian nawarin aku mampir ke FF kalian bahkan mungkin mau ngasih aku rekomendasi FF (kebanyakan pembaca di wattpad sih) nah bila kalian nawarin aku baca FF dengan cast Luhan lalu genrenya romance. Maaf aja, aku nolak. Aku ini gak bisa baca cast FF Luhan yang romens walau dia bias, gak kuat aja, asal no romens aku mau. Dan plis, bukan berarti aku bukan fansnya Luhan dengan gak mau baca FF castnya dia. Coba kalian kenal temen deketku atau temen-temenku disekitar dunia author ini, mereka pasti kalo ditanya bias Elsa di exo siapa? atau Elsa itu istrinya siapa? Elsa bebebnya siapa? pasti dijawab “Bias Elsa di exo tuh Luhan, dia istrinya Luhan, dia pacarnya Luhan” /dicemplungin/ dengan gak mau baca cast FF Luhan bukan berarti aku bukan fansnya atuh 😦 ih sedih padahal Luhan bias nomor 1, suami tersayang, mai epriting kriting kriting 😦 Banyak kok yang suka baca FF non bias kayak aku, soalnya kadang bapernya murni karena tulisan authornya. Jadi bila kalian nawarin aku mampir ke work kalian yang cast Luhan suami ane tersayang dan genrenya romance, maaf aku nolak dan jangan kira aku bukan fans dia :”””””D temen SMP ane aja sampe tau kalo ane ini biasin Luhan sampe kontak nomor hp ane sm kontak bbm ane diubah namanya jadi Luhan ;3;

Btw, karena sekarang tahun baru ane mau buka Q&A (Tanya jawab) seputar FF ini, tentang aku juga boleh wkwkw /geer/ ini bagi yang baca author note (tau loh aku siapa yang suka skip baca author note yang kadang isinya penting tentang pengumuman FF) kalian boleh nanya tentang FF ini di kolom komentar, di chapter selanjutnya akan aku jawab. Asal 1, pertanyaannya jangan nanya ending FF dan plot selanjutnya atau intinya mengandung spoiler. Karena gak akan terjawab sesuai ekspetasi XD

Pertanyaannya boleh kayak gini ;

“Kok Luhan dibuat karakternya kayak gini di sini?”

“Kenapa Kyuhyun dipilih jadi cast di sini? Dia kan gak cocok kalem”

“Elsa dapet ide FF ini darimana?”

“Elsa kelahiran tahun berapa? Katanya ultahnya tengah-tengah HunHan ya?”

“Elsa kapan nikah sama Ji Changwook? Atau kenapa Luhan setia sama kamu? Apa tipsnya?” 

“Elsa kapan taken?”

“Elsa jomblo ya?”

-______-

Udah see you next chapter! Bagi ada yang mau nanya kayak contoh di atas, silahkan khusus menyambut tahun baru, aku persilahkan seena dewe asal gak mengandung spoiler loh ya.

Btw, di sini ada yang nonton The Legend of The Blue Sea atau Goblin? Atau di sini ada yang mau bacok-bacokan sama ane rebutin Om Dongwook sama Om Gongyoo?

Dan btw (lagi) buat post FF ini lama ane dapet bencana bruntun (gak juga sih) dimulai dari UAS, lalu sakit pilek parah (SUWER NYIKSA MAU NGOMONG AJA MANDET, KALIAN GAK MAU NGASIH GWS KE AKU WALO UDAH TELAT? /DIGAPLOK/) kemudian laptopku rusak total, setelah itu Running Man mau bubar. Banyak sekali bencana ini Ya Allah.

Udah ah kalo kalian mau aku update cepet, tolong tarik Park Bogum ke hadapan ane sekarang juga. Atau culik Om Gongyoo ke hadapan ane sekarang juga, gak-mau-tau kalo bisa ane gaspol nulis FF ini huahahahahah. Dan intinya jangan lupa komen, jangan komen pas nagih aja~~~

-Salam manis istri tersayangnya Luhan dan kekasih Park Bogum, HyeKim-

Advertisements

Author:

A tinkerbell who dream to be Luhan's future wendy — Also an amature author, k-drama trash, k-running man freak, eternal ELF, ahjussi and korean actor addict in the same time — Adorable since 2001

84 thoughts on “FF : Beauty and The Beast Chapter 13 [She Is Comeback]

  1. Astaga yaaloorrddd
    Maapkeun akeu kak hyekim
    Baru baca dan baru bisa coment
    Astaga dragon, akukugakuad ini si luhan kalau sampai plinplan,aku gaflok deh

    Like

    1. Bukan gak lanjut lagi, cuman belom dilanjut. Bukan gak mau, cuman moodku lagi lari ke ff lain. Ff ini jadi agak terbengkalai, maaf aja bila kalian harus nunggu lama. Karena aku lagi bingung sekaligus moodnya lagi gak berada di ff ini, meski dilanjut dengan kerangka yang ada, pasti jadinya gak ngefeel bila gak ada mood yang pas. Jadi maaf bila kalian harus lebih sabar, ditambah gak setiap saat aku pasti nulis. Tau kok udah kebengkalai 2 bulanan, tapi dibanding gak puas dengan hasil dibalik mood yg gak pas, mending lama tapi puaskan? 🙂

      Like

  2. Waw dichapter ini familynya dapet bgt. Aku suka deh pas hyerim luhan ma taehyung berantem gitu, so sweet bgt tauuu. Rrr… Itu si jinah maunya apa coba kyknya pengen nendang gitu. Tapi seperti yg eonni bilang, kedatangan jinah menambah bumbu dlm ff ini. Eunnng aku mo nanya dong, eonni armykah? Bias taehyung ya?

    Like

    1. Karena emang aku mau menonjolkan family di sini. Karena genre di sini emang ada familynya. Jinah? Dia mau piknik di sini ahah lol, jangan ditendang kasian dia cantik2 di tendang

      Btw, fandomku bukan army ataupun exo-l. Aku biasin banget Luhan, dan suka juga sama taehyung. Tapi fandomku ELF 🙂 pertanyaanmu aku jawab tapi tar aku masukin kok soalnya biar gak salah paham ngira fandomku ini-itu

      Like

  3. Eonni kpn ceritanya dilanjut? Inikan lagi seru…oh ya aku mo tanya jinah tuh tampangnya kek gmn ya? Trus ff ini knp gk coba di publish di exo fanfiction aja? Siapa tau viewers like ama komennya tambah. Soalnya ff ini seru bgt.

    Liked by 1 person

    1. Kapan lanjut aku gak tau. Mood aku lagi pergi ke ff lain tp ff ini lagi aku rangka 🙂 untuk pertanyaan kamu aku jawab langsung aja, jinah itu nama asli nana after school. Tau nana after school? Nah wajahnya itu dia, jadi jinah ini bukan OC sama sekali dia member GB after school. Gak dipublish di exo fanfiction? Karena ff ini udh mengudara sebelum aku jadi author di sana, kenapa aku gak publish ulang di sana? Aku takut keteter, aku udh publish ini di exoffi sm ffindo plus wattpad aku. Udah cukup aku publish di 4 tempat, semisal mau publish ulang itu tergantung nanti. Buat viewers sm like, ff ini menurutku udh lumayan kok, semisal nambah lagi Allhamdulilah. Makasih atas pujiannya ❤

      Like

  4. Nice.,
    Ampe baper 😂😂😂
    Baca ff itu campur aduk(?)..haha
    Sedih ikut sedih, ketawa ikut tawa. Sampe” sama org rumah di bilang “kek org ngga waras” yalord sabar😂
    Di tunggu next chap nya, walau ngga tau nanti eonni bacanya kapan..haha
    Sibuk real life..
    Hwaiting saengie.. 💞

    Like

Write ur Love Letter . . . <3

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s