Posted in Action, AU, Chapter, Comedy, Fanfiction, FF : This Love, PG-15, Romance, Sad

FF : This Love – Chapter 5

ir-req-this-love-21

This Love Chapter 5

©2017 HyeKim’s Fanfiction Story

Starring With : Luhan as Luhan || Hyerim (OC) as Kim Hyerim

Genre : AU, Romance, slight!Sad & Action, a bit Comedy ||  Lenght : Chapter || Rating : PG-15

Poster By : IRISH @ Poster Channel

Summary :

Ketika 2 pasukan tentara dari negara berbeda disatukan dalam lika-liku hubungan cinta. Keduanya dipertemukan namun jarak yang memisahkan serta restu dari orang tua pun menjadi penghalang. Hanya sepenggal kisah antara Luhan, salah satu pasukan khusus dari China dan Hyerim, seorang dokter tentara dari Korea Selatan. Bagaimana kelanjutan kisah keduanya?

Note :

FF ini terinspirasi dari kisah cinta Yoon Myeong Ju dan Seo Dae Young dari drama korea populer descendant of the sun serta lirik dari soundtrack drama tersebut. Namun dari segi cerita yang ada sudah diubah oleh saya sendiri. Bila ada adegan yang dicetak miring/italic itu menandakan sebuah kilas balik/flashback.

Disclaimer :

This is just work of fiction, the cast(s) are belong to their parents, agency, and God. The same of plot, character, location are just accidentally. This is not meaning for aggravate one of character. I just owner of the plot. If you don’t like it, don’t read/bash. Read this fiction, leave your comment/like. Don’t be plagiat and copy-paste without permission.

HAPPY READING


How can I love you

Do you know? Can you tell me?

So my heart can fill in with your heart

Can you open the way?

How can I stand with you

It has already started. I can’t stop

When I open my eyes, I can only see you

You became my everything

Oh Love, everyday I’ll give you all of my love

[Xiah Junsu ─ How Can I Love You (ost. Descendants of The Sun)]

 


Paju, Gyeonggi, South Korea, June 2015

Sekarang adalah waktu menyantap makan siang di sekolah kemiliteran tersebut. Namun Luhanpasukan yang terpilih dari China itu, malah bergeming. Di hadapannya terduduk komandan pasukan khusus Korea Selatan, Komandan Kim Jaehyun. Beliau sempat memberi materi pembelajaran tadi walau itu bukanlah posisinya. Luhan pun peka akan maksud dari pria paruh baya tersebut, maka dari itu pula dirinya jadi tak bernapsu makan apalagi Komandan Kim terus menatapinya.

“Luhan? Benarkan kau yang bernama Luhan?” ruang makan pun sudah tersapu rapi menyisakan mereka berdua, dan selama itu pula Luhan belum menyentuh makanannya.

Luhan mengangkat pandangannya kepada Komandan Kim lalu mengangguk tanda mengiyakan pertanyaan pria yang merupakan ayah dari Hyerim, kekasihnya. “Ya, benar.”

Kim Jaehyun mengulas senyumnya dan mendorong sedikit menjauh piring makannya. “Kenapa kau tidak makan?” lagi-lagi sebuah pertanyaan keluar dari mulut ayah kekasihnya itu dan Luhan pun menelan saliva mendengarnya.

“Saya tidak lapar,” jawab Luhan dan kelihatan tidak bergairah sekalipun.

“Aku dengar dirimu berpacaran dengan putriku, apakah itu benar?” dan pertanyaan ketiga Komandan Kim benar-benar membuat Luhan membatu, dengan ragu Luhan pun mengangguk.

“Ya, anda benar,” Luhan menjawab tanpa berani memandang Komandan Kim yang terus menghunusnya dengan tatapan menyelidik.

“Kuharap kau tahu apa yang kau lakukan. Kau mempunyai karir gemilang dan otak cemerlang dengan dibuktikan oleh mampunya dirimu bersekolah militer di sini, serta kau juga akan menjadi kapten seusainya sekolahmu ini,” pilihan Luhan tetaplah diam ketika Komandan Kim berucap demikian. “Maka kau pasti menyayangi seragammu itu, jadi akhirilah hubunganmu dengan putriku.”

Luhan sedikit menggerakan badannya lalu dirinya pun berani menatap Komandan Kim yang tersenyum tipis padanya dengan raut wajah puas karena sudah mengatakan hal tersebut pada Luhan.

“Aku tidak akan berperang sama sekali dengan anda, Komandan. Karena anda ingin yang terbaik untuk putri anda dan putri anda sudah memiliki pekerjaan yang menurut anda sendiri adalah pekerjaan yang menbanggakan. Anda pun sudah menentukan siapa jodoh putri anda yang tak lain Letnan Choi Minho. Tanpa bertarung pun, aku sudah kalah dengan hati anda yang menyayangi Hyerim dan ingin yang terbaik untuk Hyerim.”

Komandan Kim memandang Luhan sedikit haru lantaran lelaki itu tahu maksudnya, senyum lebar pun terpampang jelas diwajahnya. “Sebagai lelaki sejati, kau harus menepati ucapanmu untuk mundur, Letnan Lu.”

“Luhan-ah, ayahku mengatakan apa padamu?” kembali ke waktu sekarang di Urk, Hyerim bertanya di depan Luhan dengan raut riangnya dan masih belum menyangka ayahnya merestui hubungannya dan Luhan.

“Beliau mengatakan untuk menjaga putrinya yang keras kepala ini. Bila kamu tidak menurut, aku boleh menceburkanmu ke pantai di bawah jurang yang sering kita lewati,” Luhan menjawab gemas diikuti tangannya mencubit pipi kanan Hyerim. Diperlakukan seperti itu membuat Hyerim menatapnya kesal.

Ya!” seru Hyerim dan Luhan pun terkekeh karena ulahnya itu. “Intinya sekarang ayahku sudah merestui kita, ah aku kira ini mimpi dan untung saja kamu mencubitku. Aku benar-benar bahagia.” Hyerim mencetak senyum lebarnya lalu memeluk Luhan yang juga tersenyum tanpa membalas pelukan Hyerim, lalu gadis itu melonggarkan pelukannya dan menatap Luhan. “Bagaimana bila kita berkencan lagi untuk merayakannya? Itu akan sangat mengasyikan!” ujar Hyerim dengan riang dan binar mata bahagia.

Call! (setuju)” sahut Luhan langsung membuat Hyerim menatapnya dengan binar antusias.

Assa! (yes)” tangan Hyerim melepas pelukannya dan menggepal sambil menariknya ke belakang seakan berhasil akan sesuatu. “Tunggu aku ya, uri seonjang (kaptenku).” perkataan Hyerim diakhiri dengan kalimat dimanis-maniskan. Luhan tersenyum menahan tawanya apalagi ketika Hyerim berjalan menjauhinya dengan langkah riang. Entah apa yang akan terjadi pada gadis itu bila tahu ayahnya tidak sungguh-sungguh merestui keduanya.

“Tok! Tok!” Minho berujar diiringi tangannya yang menggepal dan mengetuk-ngetuk udara seakan di depannya terdapat sebuah pintu. Namun karena ulahnya itu, Lian pun membalikan badannya dan tersenyum menyambut kedatangannya. “Kopinya sudah jadi, dokterku.” tangan Minho yang tersembunyi dibalik punggungnya ia angkat dan terdapatlah secangkir kopi.

“Kamu tidak minum kopi juga?” tanya Lian seraya mengambil cangkirnya dan meneguk isinya.

Minho pun duduk di kursi yang terdapat di kantin, kemudian diikuti Lian. “Tidak, karena kamu datang saat aku sedang meminum kopi,” jawab Minho lalu menolehkan kepalanya ke arah Lian disertai senyum konyolnya. Ya, gadis berdarah China itu nekad menemui Minho di kantin camp militer Korea Selatan.

“Oh ya ampun, kamu ini seperti anak kecil saja,” decak Minho sambil geleng-geleng lalu mengelus bibir atas Lian dengan ujung jempolnya, gadis itu sampai mengerutkan alis bingung karena tak mungkin dirinya meninggalkan sisa kopi disana. Dan Minho hanya tersenyum-senyum memandang Lian karena memang tidak ada sisa kopi diatas bibir gadisnya itu.

“Kamu mencari-cari kesempatan ya? Mengaku cepat!” seru Lian memandang Minho curiga dan telunjuknya pun menusuk-nusuk pinggang Minho.

“Aw! Tidak kok, memang ada bekas kopi disitu,” timbal Minho dengan menggerak-gerakan badannya karena sensasi geli dari telunjuk Lian. Namun Lian masih melakukan aksinya dan berkata Minho harus mengaku, tapi lelaki itu tetap bersikukuh.

“Kapten Choi Minhoku,” tiba-tiba suara riang Hyerim terdengar disertai derap langkah letnan tersebut memasuki kantin.

Lian langsung memberhentikan kegiatannya dan melirik Minho yang tampak salah tingkah. Hingga Hyerim sampai di jarak dirinya bisa melihat jelas kedua pasangan baru tersebut. Raut wajah Hyerim tampak cengo melihat keduanya. Lalu seperkian detiknya Hyerim memasang raut mengerti dan mengangguk beberapa kali.

“Ah, jadi ini dia gadis yang kamu kencani?” gumam Hyerim dan Lian tampak melempar senyum padanya, kontras dengan Minho yang memandangnya risih karena panggilan Hyerim beberapa waktu lalu.

“Mau apa kamu ke sini?” tanya Minho seakan tak suka akan hadirnya Hyerim. Diangkat oleh Hyerim dagunya seraya diusap dagunya oleh tangan kanannya sambil tersenyum miring.

“Ayahku mengatakan kita akan menikah besok,” jawab Hyerim dengan raut wajah seakan tak ada yang salah dalam informasi yang dirinya sampaikan.

Minho berdiri dari duduknya dengan raut tegang, dan Lian menatapnya tanpa tahu harus berekspresi seperti apa. “Aaa..pa?” gugup Minho membuat kekehan Hyerim meledak sambil mendongakan kepala ke atas.

“Kenapa wajahmu begitu? Aku hanya bercanda, ayahku sudah merestuiku dan Luhan,” Hyerim berkata gembira sambil menyilangkan tangan didepan dada dan menggoyang-goyangkan badannya layaknya orang kasmaran. Minho yang mendengarnya kaget sekaligus senang.

“Baguslah kalau begitu.” respon Minho dan Lian pun tampak tersenyum senang juga akan hal itu.

“Ya, aku tidak bisa memanggilmu calon suamiku lagi,” kata Hyerim jahil sambil menggoda Minho dengan menatap Lian. “Dan ya, kamu ini sama sepertiku. Jatuh cinta dengan orang beda negara. Seharusnya orang tua kalian tahu lalu tidak merestuinya.” setelah itu Hyerim membalikan badan dengan wajah tanpa dosa dan pergi dengan santainya.

Minho menganga akan ucapannya dan menatap punggung gadis itu geram. “Dasar anak itu.” Lian pun tertawa tanpa suara dengan telapak tangan menutupi sebagian mulutnya dan kepala sedikit menunduk.

Di barak saat malam hari seperti saat ini, Hyerim tampak sedang mengeledah lemarinya mencari baju yang pas akan kencan dadakannya dengan Luhan. Lalu dirinya menemukan dress selutut tanpa lengan, dan dengan senyum riangnya Hyerim mengambil dress tersebut untuk memakainya. Setelah itu dirinya membiarkan rambutnya diikat setengah menyisakan beberapa helai rambut. Hyerim pun merasa siap dan berjalan keluar barak.

‘Aku sudah siap

Hyerim mengirim pesan pada Luhan, lalu dirinya mengangkat wajah dan langsung terkejut saat Luhan sudah berdiri di hadapannya dengan sebuah senyuman menawan dilengkapi tuxedo hitamnya. “Ya ampun! Aku kaget sekali asal kamu tahu.” Hyerim mengelus-elus dadanya dan Luhan tak menyahut ucapannya tapi malah mengamit lengannya untuk ia bawa pergi.

“Kita mau ke mana sebenarnya? Kenapa juga tiba-tiba kamu menyuruhku memakai pakaian formal seperti ini?” tanya Hyerim penuh kelinglungan namun tidak ada jawaban yang kunjung terjawab dari bibir Luhan. Hyerim mengembungkan pipinya kesal saat Luhan tak kunjung menjawabnya dan main menariknya.

Intinya, Hyerim pun sudah berjalan beberapa mil jauhnya bersama Luhan dan sesekali dirinya menggerutu. Namun luapan kekesalan karena Luhan main menggeret dan mengajaknya jalan kaki sangat jauh langsung hilang seakan tersapu angin malam. Keduanya sampai di pesisir pantai yang sering keduanya lewati, yang di sekelilingnya terdapat tebing-tebing tinggi dengan jalan yang mana keduanya sering menyaksikan keindahan pantai tersebut.

wp-1485016038763.jpg

wp-1485016045321.jpg

“Naiklah,” perkataan pertama yang diucapkan Luhan seakan mantra yang mengubah Hyerim menjadi robot,  karena satu kata itu Hyerim langsung menuruti keinginan Luhan untuk naik ke boat berwarna putih.

Mesin boat dinyalakan oleh Luhan lalu kendaraan yang khusus di air itu melaju meninggalkan pesisir. Keheningan menyapa keduanya yang duduk saling berhadapan. Di boat tersebut disediakan meja kayu lipat dilengkapi kursinyasekarang sedang diduki oleh Luhan dan Hyerim, di atas meja bertaplak merah bermotif kotak-kotak itu terdapat lampu minyak dan anggur.

“Bukannya lebih romantis memakai lilin daripada lampu minyak?” Hyerim bertanya tatkala boat keduanya berhenti di tengah-tengah pantai.

Luhan membuka tutup botol anggurnya terlebih dahulu dan memandang lampu minyak begitupula Hyerim secara bergantian, setelah itu dirinya menjawab. “Karena bila pakai lilin akan terganggu oleh angin dan sering mati. Lebih baik begini, ini juga tetap romantis.” Luhan menjatuhkan pandangan ke langit malam ketika menjawabnya.

“Kata siapa ini romantis?” kata Hyerim dengan tangan yang menuangkan anggur ke gelas miliknya, lalu meminumnya dan mendesis nikmat ketika minuman berkadar alkohol itu berhasil ia nikmati.

“Kalau begitu kenapa kamu senyam-senyum?” tembak Luhan langsung tepat sasaran.

“Kata siapa aku senyum?!” sela Hyerim dengan nada tak santai lalu meminum anggurnya kembali.

Luhan hanya memandang Hyerim salut karena masih bersikukuh walau sudah ketahuan bahwa gadis itu merasa haru akan rencana kencan Luhan ini. Akhirnya Luhan pun bergabung bersama Hyerim meminum anggur. Ditemani cahaya minim lampu minyak dan sesekali boat mereka sedikit bergoyang tertampar aliran alami sungai. Hyerim mendongakan kepala ke langit lalu langsung berdecak kagum akan bintang yang bertebaran, Luhan pun melakukan hal yang sama lantas tersenyum ketika melihat indahnya bintang.

“Mereka indah,” gumam Luhan namun Hyerim langsung menatapnya tidak terima dengan bibir merengut.

“Wanita di hadapanmu lebih indah daripada benda mati itu!” Hyerim menggerutu dengan tangan terlipat didepan dada serta pipi mengembung. Mendengar gerutuan itu, Luhan langsung mengalihkan fokusnya pada Hyerim dan ingin sekali tertawa karena konyolnya gadis itu yang cemburu pada bintang.

“Mereka indah karena mereka mencuri pandangan mataku…” ucap Luhan sambil menuangkan anggur kembali ke gelasnya dan meminumnya setengah, setelah itu meletakan kembali gelasnya serta menatap Hyerim yang membuang muka ke samping. “Tapi bagiku, indahnya seorang Kim Hyerim karena dirinya mencuri hatiku.”

Hyerim langsung menatap Luhan kembali. Terlihat dari remang-remangnya cahaya lampu minyak, Luhan tersenyum lebar dengan pandangan terfokus pada Hyerim yang salah tingkah dan meletakan tangannya diatas paha sambil menggepalnya kuat.

So cheesy!” gerutu Hyerim dengan mengerutkan bibir dan melempar pandangan ke arah lain seakan perkataan Luhan barusan tidak berefek apapun padanya.

Keduanya larut kembali dalam acara minum-minuman tersebut, tak lupa dengan memakan sebungkus roti yang ternyata Luhan siapkan juga. Bintang dan bulan seakan saksi bahagia keduanya malam itu. Hyerim sesekali tertawa ketika Luhan menceritakan cerita lucunya saat masih menjadi siswa kemiliteran untuk menjadi seorang tentara.

“Kamu tahu, dulu orang-orang terkejut ketika aku ingin menjadi seorang tentara. Mereka bilang aku jadi dokter saja tidak pantas, apalagi tentara. Karena aku sangat cantik,” cerita Hyerim sambil sedikit mengangkat dagunya sombong, Luhan mencibir dengan tangan terlipat dibawah dada mendengarnya.

“Oh jadi kamu ini cantik, aku baru menyadarinya,” ujar Luhan dengan nada sarkastik, Hyerim langsung menatapnya datar.

“Lu, kamu harus tahu. Aku sedang belajar bahasa mandarin lho.” Hyerim menginformasikan hal tersebut hingga membuat Luhan langsung menatapnya dengan dahi berkerut.

“Untuk apa belajar?”

“Karena kekasihku orang China dan berjaga-jaga bila aku tinggal bersamanya di Negri Tirai Bambu itu,” balas Hyerim dengan bahu sedikit terangkat acuh, lalu dirinya membungkukan badan sambil memotong kecil roti yang tersisa lalu memakannya.

“Tapi kekasihmu ini bisa bahasa Korea,””Dan lagipula aku yang akan tinggal di Korea bersamamu nanti.” Luhan menambahkan dalam hati sambil menatap Hyerim dalam.

“Aku tidak ingin dibodohi olehmu karena bahasamu. So don’t dare hiding in your language in front of me, or you will die in my hand! (Jadi jangan berani-beraninya dirimu bersembunyi dalam bahasamu, atau kamu akan mati ditanganku!)” ancaman Hyerim terdengar seram dengan sorot mata menusuk membuat Luhan merinding sendiri.

Whatever, honestly I don’t care because I’m died everyday cause I can’t handle your love that so damn much in my heart! (Teserah, sebenarnya aku tidak peduli karena aku mati setiap hari sebab aku tidak bisa mengendalikan cintamu yang sangat-sangat banyak dihatiku)” Luhan membalas dengan kata-kata manisnya dimana dalam waktu bersamaan Hyerim merasa terbang dan merinding mendengarnya.

Luhan melempar senyum mempesonanya sambil merenggangkan otot tangan didepan dagunya dan dirinya pun menatap arlojinya lalu Luhan pun seakan teringat sesuatu. “Hyerim-ah,” lembutnya panggilan Luhan menyebabkan Hyerim menatapnya dan terhanyut dalam obsidian milik prianya hingga tak menyadari Luhan yang sudah mematikan lampu minyak yang menamparkan cahaya diparas mereka.

Hyerim masih terpaku menatap manik mata Luhan walau pencahayaan yang lebih minim dari bulan. Sampai Luhan pun berdiri membuat Hyerim terlonjak kaget karena perahu keduanya sedikit hilang keseimbangan. Karena sedikit panik, Hyerim juga berdiri dan masih beradu tatap dengan Luhan dalam hening. Hingga Luhan sedikit membungkuk dan menaruh alat-alat di atas meja ke keranjang lalu melipat meja lipat yang menjadi penghalang dirinya dan Hyerim, semua barang itu ia amankan ke bagian belakang perahudi mana terdapat pula mesin yang menjalankan perahu ini.

“Mereka ternyata menghalangi jalanku.” Luhan berkata sambil memandang ke belakang, lebih tepatnya pada barang-barang yang ia bereskan. Hyerim mengerutkan kening dengan air wajah kebingungan hingga Luhan kembali menatapnya dengan paras menawannya.

“Kamu sebenarnya ingin melakukan apa?” tanya Hyerim dengan rasa penasaran yang menggebu.

Lagi, keheningan menyapa akibat Luhan tak melontarkan jawaban. Selang beberapa sekon, Luhan memajukan tubuhnya membuat perahu sedikit bergoyang dan Hyerim mendadak gugup dengan meneguk ludah serta mengigit bibir bawahnya. Final dari langkah kaki Luhan ketika dirinya sudah berada di hadapan Hyerim sambil memiringkan kepala dengan senyum menggodanya.

“Kamu ini… kenapa?” tanya Hyerim sedikit tersendat karena perasaan gugup sudah menggerogotinya, aura di sekitar dengan keadaan yang agak gelap dan suara aliran sungai mendukung tubuhnya lebih gugup.

Tangan Luhan terangkat mengangkat dagu Hyerim membuat iris keduanya bertabrakan dan saling mengagumi obsidian terindah bagi keduanya. “Aku berjanji tidak akan melepasmu lagi.” bisik Luhan dengan membelai lembut pipi kanan Hyerim dengan deru napas hangat miliknya.

Dengan jantung bertalu-talu keras dan banjir perasaan gugup yang menambah dalam diri Hyerim, tanpa diduga Luhan mendekat wajahnya yang sejengkal dengan wajah gadisnya lalu mencium bibir itu lembut. Mata Hyerim mengerjap dungu hingga akhirnya terpejam menikmati sentuhan Luhan dibibirnya dimana hal tersebut membuat jantungnya tambah bertalu kencang layaknya berlari. Tangannya secara otomatis mengalungkan diri dileher Luhan serta menekan lelaki itu untuk menciumnya lebih dalam lagi. Dan ciuman itu makin dalam ditandai dengan kepala keduanya bergerak ke kanan dan ke kiri secara berlawanan. Pangutan manis itu terlepas dengan Hyerim yang sedikit mendongak menatap mata Luhan yang menatapnya lembut.

“Kuharap kamu menepatinya.” Hyerim merespon ungkapan Luhan membuat pria itu mengangguk yakin dengan seuntas senyum.

Lalu bibir keduanya kembali berpangutan dengan backsound aliran sungai yang sengaja menabrak perahu keduanya dan membuat perahu tersebut sedikit bergoyang, namun ciuman manis itu tidak terhenti seakan Hyerim dan Luhan ingin membuat bintang berseta bulan iri dengan mereka.

“Medicube tidak pernah ada waktu kosongnya barang sekali ya?” perkataan tersebut terlontar dari mulut Jung Soojung yang sedang mengatur kapas yang digunakan dalam kegiatan cek darah sekarang. Pipi gadis itu mengembung tatkala mengatakannya

“Kamu ini dokter tapi banyak mengeluh,” cibir Hyerim sambil melirik sekilas Soojung kemudian beralih tatapannya pada Taemin yang duduk dan sedang mengarahkan suntikannya untuk mengambil darah seorang pasukan.

“Permisi, apa ini retunitas rutin pengecekan darah pasukan PBB?” tiba-tiba suara briton yang Hyerim kenali memasuki rongga telinganya. Matanya yang semula terfokus pada kegiatan Taemin, langsung berpindah fokus ke depan. Luhan, briton suara yang bertanya tadi adalah milik lelaki itu.

“Ya, anda benar,” jawab Taemin sambil mengalihkan fokus sebentar kepada Luhan dan mengangguk seraya menampilkan senyumannya.

“Kalau begitu, aku juga ikut memeriksa darah di sini.” kata Luhan dengan santainya ikut masuk ke rombongan antri pasukan lain.

Melihat itu membuat Hyerim mengerutkan dahi bingung. Luhan kan bukan pasukan Korea Selatan, kenapa harus diperiksa darah di sini? Memang medicube China tidak bisa melayaninya? Setidaknya itulah pertanyaan yang berlarian diotak Hyerim. Ingin sekali gadis itu langsung menyemprot Luhan karena rasa herannya akan tingkah kekasihnya itu, namun Hyerim harus berasabar melihat antrian pasukan yang lain.

“Hyerim-ah, laki-laki yang baru datang tadi pacarmu kan. Dia lumayan tampan juga. Wah, Taemin sunbaenim memiliki saingan,” Soojung berbisik sambil menatap Luhan dengan tatapan menggoda Hyerim dan badan sedikit memiring kepada Hyerim dan gadis itu langsung menatapnya datar.

“Sembarangan saja kamu bicara, saingan Taemin oppa apanya

“’Oppa’, manis sekali panggilanmu,” potong Soojung sambil wajah dan gerakan bibirnya terlihat sekali menggoda Hyerim.

“Kenapa? Selagi kita kuliah di fakultas kodokteran Yonsei, aku selalu memanggilnya begitu,” balas Hyerim dengan tatapan menantang Soojung untuk berhenti menggodanya. Ya, ketiga dokter tersebut memang berada di universitas yang sama ketika menjalani hari-hari sebagai calon dokter.

“Heh, dokter tentara yang berdiri. Jangan sibuk bergosip ria, cepat ambil darahku,” tiba-tiba suara Luhan terdengar dibalik atmosfer yang tercipta diantara Hyerim dan Soojung.

Hyerim dengan linglungnya mengarahkan kepala ke depan dan tepat pada Luhan yang sudah duduk di hadapan Taemin dengan raut santainya menatap Hyerim. Tangan kanannya terulur di atas meja, pertanda siap diambil darah dan Hyerim baru menyadari bahwa sekaranglah giliran Luhan. Taemin tampak menoleh ke belakang dan tersenyum paksa pada Hyerim dengan gerakan bola mata mengisyaratkan gadis itu menggantikan posisinya khusus untuk mengambil darah Luhan.

Naega wae? (kenapa aku)” tanya Hyerim nyaris berseru pertanda tak mau.

“Kenapa? Apa tidak boleh? Aku tidak ingin tanganku disentuh oleh dokter lain kecuali Kim Hyerim,” jawab Luhan dengan wajah santai dan senyum riangnya. Beberapa pasukan yang masih mengantri di belakang Luhan berseru menggumamkan kata ‘Wuuu,’ untuk menggoda keduanya.

Hyerim jadi salah tingkah dan  menggaruk-garuk belakang lehernya dengan kepala tertoleh ke samping kiri guna menghindari Luhan sanking salah tingkahnya. Lantas saat itu Soojung mencodongkan kepalanya ke sebelah kanan telinga Hyerim dan memandang gadis itu dengan tatapan menggodanya lagi.

“Ah, lihat, pacarmu tidak mau diperiksa Taemin sunbae. Jangan-jangan dia tahu bahwa Taemin sunbae adalah” Soojung langsung mengunci mulut ketika Hyerim meletakan telapak tangan diwajahnya dengan tidak sopannya lalu mendorong wajah Soojung agar berhenti buka suara.

“Baiklah, aku akan mengambil darah kapten yang rewel ini,” kata Hyerim sambil menatap Luhan memicing namun yang ditatap malah berlakon santai-santai saja. Dan Taemin pun langsung menyingkir membiarkan Hyerim duduk di kursi yang ia duduki sedari tadi.

“Hah, susah sekali mencari letak yang pas,” eluh Hyerim ketika mulai menyentuh dan menekan-nekan permukaan kulit Luhan untuk mencari tempat yang pas saat mengambil darah, namun tempat pas itu tak kunjung ditemukan lantaran tubuh Luhan yang seakan tidak ada isinya.

Luhan hanya menampilkan senyum simpul sambil memperhatikan Hyerim dari jarak wajah yang sangat dekat dengan gadis itu yang sedang menunduk dengan serius mengarahkan jarum suntiknya, hingga akhirnya titik untuk mengambil darah Luhan pun ditemukan dan dengan helaan napas leganya Hyerim mengarahkan jarum suntik dan mulai mengambil darah Luhan.

“Kamu ini seperti kurang gizi, bisa-bisa kamu kena anemia lagi,” gumam Hyerim karena walau titik untuk mengambil darah Luhan ditemukan, akan tetapi saat mengambilnya terjadi macet karena sanking sulit dan mungkin kurusnya lelaki itu untuk membiarkan darah keluar. “Badanmu sekilas terlihat gagah, tapi nyatanya sangat kurus dan kerempeng. Mana ada tentara sepertimu.” Hyerim menggerutu lagi karena macetnya darah Luhan yang keluar belum bisa ia atasi penuh.

“Kalau begitu berikan aku resep vitamin dan obat, dan aku bisa setiap hari ke medicube Korea Selatan untuk menemuimu memberikan vitamin serta obat. Juga kamu bisa menyuapiku makanan yang banyak agar tubuhku sehat,” ucap Luhan sambil sedikit memiringkan kepala disertai senyum miringnya. Mendengarnya membuat Hyerim mendengus geli.

“Seperti saat pertama kali kita berkencan?” tanya Hyerim diikuti kepala terangkat dan dirinya seketika terkejut saat Luhan tambah mendekatkan wajahnya hingga mencium keningnya. Mata Hyerim melebar dengan raut cengo, sementara Luhan hanya tersenyum polos padahal seruan heboh di sekitar mereka sudah meledak lantaran adegan romantis tak terduga tadi.

Hyerim mengerjap-ngerjapkan mata dan membuang muka dari Luhan, pipinya panas namun untungnya tak langsung memerah. Di belakangnya, Soojung berdiri sambil berbisik-bisik pada Taemin dengan tatapan menggoda Hyerim, intinya mereka pasti mengibahkan Hyerim dan Luhan.

“Apa-apaan tadi?” desis Hyerim pelan sambil melirik Luhan sekilas dengan binar mata jengkel sekaligus malu. “Untuk apa pula kamu ke sini? Apa medicube China tidak punya dokter untuk sekedar mengambil darahmu untuk dicek kesehatan?” tanya Hyerim mengubah halu pembicaraan.

Luhan menegapkan badan serta mengangkat bahu sebelum menjawab, “Minho tiba-tiba memaksaku untuk ke sini dan mengatakan aku dan dia berganti posisi. Aku diambil darah di sini dan dia di medicube China.”

Hyerim memejamkan mata sesaat dan menggeleng pelan mendengarnya. “Dasar pasangan yang baru berkencan,” gumam Hyerim terkhususkan untuk Lian dan Minho. Gumamannya membuat Luhan mengerutkan kening.

“Maksudmu?” Hyerim kembali menatap Luhan dan menggeleng.

“Tanyakan saja pada Lian.”

Dan di lain sisi tepat di medicube China, terduduklah Wu Lian yang sedang menunduk untuk mencari posisi pas mengambil darah ditangan pasukan yang satu-satunya memakai baju seragam Korea Selatan, yang sekarang sedang duduk dengan santainya di depan Lian.

“Kamu benar-benar mempunyai otak yang picik, bisa-bisanya beralasan bertukar posisi dengan Luhan hanya untuk diperiksa olehku,” gumam Lian yang kesusahan juga mencari letak yang pas ditangan Minho. “Di mana kira-kira letaknya ya?” Lian bergumam kembali membuat Minho tersenyum penuh arti.

“Biasanya di sini,” ujar Minho lalu dengan seenak jidatnya menarik tangan Lian yang memegang jarum suntik terarah dibagian tangan yang ia maksud hingga jarum tersebut tertancap disana.

Omo! Kamjagiya! (ya ampun! Kagetnya aku)” pekik Lian ketika jarum tersebut tertancap dengan pas dan dirinya sedang mengambil darah Minho dengan lancarnya, namun ekspresinya sangat terkejut dengan mata serta mulut melebar. Meilin yang ikut duduk di sebelah Lian menatap keduanya dengan senyum paksa dan mimik ngeri karena tingkah Minho yang ekstrem.

“Bahasa Koreamu mulai terdengar tidak aneh,” gumam Minho sambil mengangguk-angguk tapi Lian malah menatapnya bengis.

“Kamu harusnya tahu betapa bahayanya bila arah yang kamu tunjukan tadi salah,” gerutu gadis Wu itu namun Minho kelihatan cuek.

“Pasti ini yang dirasakan Luhan juga di sana ketika diambil darah oleh Hyerim. Sangat bahagia,” ucap Minho dengan nada berlebihan dan kepala mendongak serta menggeleng layaknya mendapatkan nikmat yang sangat indah. Melihat tingkah kekasihnya, Lian malah menatapnya dengan bibir merengut.

‘Jder! Tin!’

Sebuah suara tembakan dan klakson mobil terdengar sangat dekat dari lokasi camp militer tersebut. akibatnya Lian, Minho, juga Meilin yang dari tadi bungkam karena tidak mengerti Korea, menolehkan kepala mendeteksi arah mana terjadinya keributan tersebut.

“Apa ada penjahat atau pemberontak di sekitar sini?” tanya Meilin dengan raut takutnya dan gerakan mata liar ke sana-ke sini dengan tangan mengatup didepan dada seakan dirinya akan berdoa agar tidak terjadi apapun.

Perlu diingatkan bahwa Urk, negara yang memiliki alam yang sangat indah ternyata memiliki duri tamak di dalamnya. Negara tersebut penuh akan konflik yang merajarela layaknya hama. Pemberontak, geng lokal yang nekad, penjualan senjata ilegal, penjualan wanita, dan sebagainya berbau hal kriminal ada di negara indah ini. Minho langsung berdiri dan meninggalkan medicube, dirinya bahkan lupa harus menutupi bekas suntikannya dengan kapas. Membuat Lian berseru dan langsung mengikutinya. Karena bingung, Meilin pun turut andil mengekori Lian.

Hingga ketika berada di luar. Pemandangan mengejutkan dari suara yang mengejutkan pula tersuguhkan di depan mata. Sebuah truk yang berisi narkoba dan senjata tampak menabrak salah satu pagar yang berjejer rapi mengelilingi camp militer China dan Korea Selatan. Korban di dalam truk yang merupakan dua pemuda bule tampak mengeluarkan darah di sisi kiri maupun sisi kanan kepala, namun mereka layaknya seorang petangguh jantan yang sangat kuat, karena kedua pemuda  itu berdiri tegap dengan mengarahkan senjata ke sana-ke mari ketika para pasukan PBB ingin membantu keduanya dan mulai memeriksa isi truk.

“I tell of you to don’t move eventhough just a bit, because I will shoot anyone in here and kill all of you, (Aku beritahu kepada kalian semua jangan bergerak meskipun sedikit, karena aku akan menembak siapapun di sini dan membunuh kalian semua)” salah satu dari pemuda berwajah barat dan berambut dark brown itu pun buka suara.

Tampak Lian dan Meilin menelan ludah takut dengan wajah khawatir. Minho yang berjarak beberapa jengkal di depan mereka, memasang wajah biasa dan hanya mengangkat kedua tangan. Dan ternyata di sana terdapat pula Hyerim dan Luhan dari jarak yang lumayan agak jauh dari Lian berdiri.

“Don’t do any stupid thing in our zone, or you will get a punishment, (Jangan melakukan hal bodoh di daerah kita, atau kalian akan mendapatkan masalah)” semua mata langsung tertuju pada Hyerim yang mengeluarkan kata-kata tadi dengan santainya dan mata menantang. Luhan yang berada di sebelahnya menatapnya khawatir.

“Hyerim jungwi, (letnan Hyerim)” desis Komandan Batalion Korea Selatan sepelan mungkin agar Hyerim saja yang mendengarnya ditambah dengan tatapan mata menahan marah ketika salah satu anak buahnya menantang. Lalu Komandan Batalion menatap kedua pemuda yang menatap minat Hyerim dan gadis itu tampak santai saja. “Yeah, she is right. Don’t do anything stupid in here because here is our zone. We can call police and then they will get you out from here also your leader will be get a punishment. (Ya, dia benar. Jangan melakukan hal bodoh karena ini adalah daerah kita. Kita bisa menelepon polisi lalu mereka akan membawamu keluar dari sini juga pemimpinmu akan mendapatkan masalah) Komandan Batalion berucap demikian dan menatap mereka untuk berkerja sama agar tidak melakukan hal apapun.

Keduanya tampak memiringkan kepala dan menyuguhkan mata yang memandang penuh arti. Semua orang di sana tambah tegang. Dan dibalik ketegangan itu, Luhan perlahan mengeluarkan senjata dibalik punggungnya dengan tangan yang tidak mengangkat seakan menyerah, ternyata beberapa mata pasukan melihat aksi Luhan. Lalu…

‘Krek! Krek! Krek! Krek!’

Suara senjata yang dikeluarkan dan siap membidik dari pasukan khusus kedua negara tersebut terdengar serempak serta tercondong ke kedua pemuda tadi yang langsung membulatkan mata terkejut. Keduanya kalah mutlak dalam jumlah dan kegesitan para pasukan. Hyerim tersenyum miring dan ikut mengambil pistolnya dan mengarahkannya untuk membidik ke pemuda-pemuda barat yang merupakan pedagang gelap tersebut. Minho juga dengan santainya mengarahkan pistol ke objek yang sama.

“Shit! Goddamnit! (Sialan)” umpat salah satu dari keduanya kemudian tercetuslah suara tembakan dari pistol salah satunya.

Hal tersebut langsung memicu keributan yang ada. Dengan talatennya para pasukan tentara di sana melayangkan aksi balasan. Sebagian tumpah memencar ruah untuk mencari tempat persembunyian agar tidak tertembak. Hyerim pun berguling dan meposisikan tubuh tengkurap di tanah lalu dengan mata memincing dirinya menembakan peluru ke arah pedangan ilegal barusan.

‘Jder! Jder! Jder!’

Suara tembakan merajalarela di segala sudut penjuru. Luhan pun berlindung di balik bebatuan dengan tangan terangkat memegang pistol, kemudian dirinya membalikan tubuh dengan mata fokus Luhan pun menembakan pelurunya ke objek yang berusaha sembunyi di balik tumpukan karung. Minho lah yang nekad berjalan sedikit demi sedikit untuk mendekat ke keduanya dengan peluru yang terus tercetuskan. Di lain sisi pula, Lian dan Meilin yang merupakan warga sipil mencari tempat perlindungan namun sanking paniknya dengan suara tembakan di mana-mana, mereka belum juga menemukan tempat aman.

‘Jder! Jder! Tung!’

Minho merasa sisi kiri bahunya terkena peluru dan untungnya hanya bajunya yang mengalami cacat, tidak dengan bagian tubuhnya. Dengan tetap percaya diri, Minho makin berjalan mendekat. Para pasukan lain ada yang sibuk mengisi ulang peluru dan juga menembak objek yang tak lain dua lelaki tersebut, ada juga yang ikut berjalan mendekat bersama Minho.

‘Klik!’

Sial. Ingin sekali Hyerim mengumpat demikian ketika peluru dalam pistolnya habis dan harus diisi ulang, sementara posisinya yang tengkurap di tanah itu agak dekat dengan sasaran tembak. Dengan sedikit gelisah dan buru-buru, Hyerim mengambil peluru yang berada diikat pinggangnya yang menyediakan beberapa tempat untuk menaruh senjata dan peluru. Tak ayal, kesempatan itu diambil oleh salah satu pemuda barat tersebut, mengingat keduanya tak memiliki kesempatan menembak Hyerim yang paling dekat dengan mereka karena gadis itu terus mencetuskan pelurunya tanpa ampun.

Tapi Hyerim tak peka akan keadaan tersebut dan masih dengan ripuhnya mengganti peluru. Hingga bidikan dari salah satunya terarah pada Hyerim dengan senyum miring dan siap mencetuskan peluru. Namun obsidian Luhan dan beberapa orang menangkap akan terancamnya Hyerim, obsidian milik Luhan pun membulat dengan mulut terbuka.

“KIM HYERIM!” Luhan berteriak nyaring membuat Hyerim mengangkat kepalanya namun peluru yang ia keluarkan berceceran lantaran dirinya sangat buru-buru tadi, dan dirinya benar-benar tidak bisa kembali menembak sasaran.

Kala itu lah, Hyerim melebarkan mata dengan raut kosong melihat senjata tercondongkan padanya. Mulutnya terbuka dan waktu seakan melambat ketika peluru dikeluarkan dari pistol tersebut dan mulai melayang kepadanya. Semua pasang mata termasuk Lian, Minho, juga Luhan terarah kepada Hyerim yang detik kedepan mungkin tertembak tepat dikening dan itu akan berakibat fatal untuknya. Luhan lah yang paling panik dengan terus meneriaki gadisnya dengan raut tak santai.

Hingga…

‘Jder! Brak!’

Entah kapan Taemin sudah berlari kesetanan ke arah Hyerim dan langsung mendekap tubuh gadis tersebut serta langsung juga menggulingkan badan keduanya ke samping agar terhindar dari tembakan yang beruntungnya mengenai bebatuan di belakang posisi Hyerim barusan. Badan keduanya yang berpelukan berguling-guling di tanah hingga finalnya ketika belakang kepala Hyerim terbentur batu sedikit keras membuat gadis itu kehilangan kesadarannya. Dengan panik Taemin menatap Hyerim dan menepuk-nepuk pipi kanan gadis Kim itu. Luhan bahkan sudah berlari layaknya kesurupan ke arah keduanya.

Namun di lain sisi, Soojung yang tadi mengejar Taemin di belakangnya untuk menghentikan aksi nekad lelaki bermarga Lee itu, harus berurusan dengan para pedagang gelap tadi. Salah satu dari keduanya langsung menarik Soojung yang berlari melewati mereka dan langsung mengekang Soojung dalam kukuhan tangan kanannya diiringi pistol tertuju disamping kening gadis Jung itu membuat Soojung panas dingin. Beberapa tembakan mulai terhenti dari para pasukan melihat ancaman yang dilayangkan musuh dengan mengedarkan pandang ke seluruh penjuru seakan mengatakan; bila mereka menembak lagi, Soojung akan mati detik ini juga.

“Aaaa!!” belum cukup ketegangan dengan tertangkapnya Soojung, beberapa pedagang gelap yang lain datang dan ternyata salah satu dari dua pemuda barat tadi memanggil bantuan. Dan teriakan tersebut berasal dari Meilin yang tertangkap oleh salah satu pemuda barat yang lainnya.

Semua kilat mata di sana memancarkan ketakutan dan kekhawatiran terkecuali untuk para pedagang gelap yang menampilkan raut puas dengan senyum miring. Lian pun langsung bersembunyi di balik Minho ketika pria itu dengan cekatan menariknya ke belakang punggung kekar miliknya. Semuanya tak tahu harus melakukan apa untuk melepaskan Soojung dan Meilin yang sudah tersandera, pandangan mata mereka hanya bergantian menatap pada arah dua wanita malang itu.

“Ahahaha, see? We are win, jerk! We will go with these beautiful ladies, so don’t make a report to the police and Urk or our America’s government. (Ahahah, lihat? Kita menang, brengsek! Kita akan pergi dengan wanita-wanita cantik ini, jadi jangan melapor kepada polisi dan Urk atau pemerintah Amerika)” ucap pemuda yang mendekap erat Soojung ditangannya.

Kedua wanita itu merinding takut karena pasti akan disandera, apalagi ketika para pedagang itu mulai menyeret mereka untuk ikut pergi dari wilayah militer. Namun dikeadaan genting tersebut, hanya Luhan lah yang merasa khawatir ditingkat dewa akan hal lain, yaitu Hyerim yang terluka dan tidak sadarkan diri.

“Hyerim, bangunlah! Hyerim!” seru Luhan masih setia menepuk-nepuk pipi gadisnya. Di sebelah Luhan yang berjongkok, berdirilah Taemin yang tadi melakukan aksi seperti Luhan pada Hyerimmenenpuk-nepuk pipi gadis manis itu, tatapan dokter itu sangat khawatir sama halnya dengan Luhan.

“Tim delta, kalian semua diperintahkan untuk menyelamatkan sandera. Utamakan sandera dari China. Dan berhati-hatilah, jangan sampai kedua sandera maupun itu sandera dari Korea Selatan, terluka. Kalian mengerti?” pengarahan diberikan Komandan batalion pada para pasukan yang berdiri tegap di depannya.

Mereka pun menggerakan tangan dengan sikap siap dari sikap beristirahat di tempat, dan menjawab serempak. “Siap, Komandan.”

Dan dapat dilihat Luhan menelan ludah gelisah. Pikirannya terbagi dua dengan misi penyelamatannya dan Hyerim yang belum kunjung sadarkan diri. Hingga Komandan batalion menyingkir, dan Luhan lah yang memberikan pengarahan pada anggotanya. Mereka pun berjongkok mengelilingi Luhan yang menunjuk-nunjuk tanah seakan adanya peta sketsa tempat penyandraan.

“Baik kita atur strategi. Harry Potter, kau berjaga di luar dan bidikan snapper ke arah musuh,” ujar Luhan sambil menunjuk Sersan Han yang memiliki kode nama Harry Potter. Sersan itu pun langsung mengangguk, dan Luhan mulai menggerakan jari membentuk persegi layaknya bangunantempat sandera berada, kembalilah Luhan memberikan pengarahan. “Dan untuk roger, kalian masuk dari pintu samping bersama beast, jadi pastikan kalian menemukan pintu samping ataupun belakang. Karena hanya aku dan wolf yang menggunakan pintu utama.” yang mempunyai kode nama roger dan beastpun mengangguk, termasuk Yixingyang memiliki kode nama wolf.

Strategi pun akhirnya teratur, dengan percaya diri kelimanya bangkit berdiri dan menyiapkan peralatan serta mengeceknya. Namun ditengah-tengah itu, Luhan mulai bergeming dengan wajah pucat Hyerim yang tidak sadarkan diri melewati benaknya. Ternyata Yixing peka dan menangkap sikap kaptennya itu, lalu dirinya berjalan mendekati Luhan dan menepuk bahunya membuat Luhan menoleh ke samping tepat ke tempat Yixing berada.

“Temuilah dia, waktu kita tinggal lima belas menit lagi untuk melaksanakan misi.” ucap Yixing dengan senyum simpul karena sangat mengerti jalan pikir Luhan ke arah mana. Luhan balas tersenyum lantas mengangguk, dan akhirnya langkah kaki tercipta dari Luhan menuju tempat Hyerim berada.

Hingga pada akhirnya, Luhan memasuki medicube Korea Selatan dan menuju tempat di mana Hyerim masih terbaring tanpa sadarkan diri. Ternyata di sana terduduklah Lian yang memandangi wajah jelita Hyerim dengan mata masih setia terpejam. Lian pun mendengar suara langkah mendekat dan langsung menoleh, senyum pun tercipta ketika tahu Luhan lah yang datang.

“Aku sudah yakin kamu akan datang. Minho menyuruhku menjaga Hyerim karena pasti ayahnya yang tadi menemaninya sibuk mengarahkan misi malam ini. Juga kamu akan melaksanakan misi pembebasan sandera,” ucap Lian lalu berdiri di samping Luhan yang pandangan matanya jatuh sepenuhnya pada Hyerim.

“Perbannya sudah dibuka?” tanya Luhan ketika tidak mendapati perban dikepala gadisnya, karena tadi Hyerim dipakaikan perban atas lukanya.

Di sebelahnya, Lian mengangguk dan menjawab. “Ketika Dokter Lee menggantikan perbannya, darahnya sudah berhenti dan akhirnya diputuskan untuk tidak memakaikan perban lagi. Sepertinya tidak terlalu keras juga belakang kepala Hyerim membentur batu, lagipula bukan batu yang sangat besar yang ia tabrak.”

Luhan mendengarkan jawaban Lian namun lagaknya seakan tidak mendengarkan dengan mengelus rambut Hyerim dengan pandangan lembut pada gadis itu. Lian hanya memperhatikan dan mengukir senyuman. “Tolong jaga Hyerim sampai aku kembali,” pesan Luhan seraya mengeluarkan kalung besi yang terdapat kotak dari besi juga yang terukir identitasnya sebagai pasukan tentara China.

Lalu Luhan meraih telapak tangan Hyerim dan meletakan kalung identitasnya diatas telapak tangan tersebut, kemudian menggepalkan tangan Hyerim seakan memegang erat kalung miliknya. Setelah itu, Luhan siap melaksankan misinya malam ini.

Akhirnya kedua pasukan dari dua negara tersebut sampai di tempat yang terdeteksi sebagai tempat kedua sandera ditahan. Di dalam bangunan kumuh tersebut tampak Soojung dan Meilin melempar pandang dengan raut takut dan tangan terikat dibawah perut, sebagian pedagang ilegal itu berdiri di sekitar keduanya. Kembali pada keadaan di luar, Luhan menggerakan mata pada Yixing untuk masuk. Dan ada juga pasukan Korea Selatan di belakang mereka yang salah satunya Minho. Yixing pun mengangguk dan mendobrak pintu.

Mereka pun masuk dan langsung mengarahkan senjata ke seluruh penjuru dengan sikap berjaga-jaga. Langkah kaki keduanya makin menelusuri dalam bangunan tersebut. Ternyata akibat dobrakan Yixing, musuh pun langsung bersikap siap dengan mengambil senjata. Meilin dan Soojung langsung harap-harap cemas dan sangat berharap keduanya bisa selamat dari tempat ini.

‘Klek!’

Terdengar satu revolver terbidikan kepada Luhan dan yang lainnya yang masuk dari pintu utama. Kepala serta tubuh mereka pun langsung tertuju pada pemuda barat yang mengarahkan revolver ke arah mereka, lalu munculah beberapa lelaki barat yang lain di belakang pemuda yang pertama menampakan diri.

“Hitungan ketiga, mulai atur posisi bersembunyi dan menembak,” bisik Minho mengarahkan dengan bahasa Korea yang untung dipahami oleh Luhan juga Yixing. “Hana, dul, set. (Satu, dua, tiga)” Minho menghitung sampai tiga, kemudian pasukan penyelamat itu mulai terpencar diiringi tembakan dari kedua kubu.

Luhan bersembunyi di balik tembok dan mengatur napasnya yang terengah, dirinya pun menampakan tubuh kembali dan suara ‘jder’ beberapa kali terdengar dari revolver satu sama lain. Luhan pun akhirnya dengan berani keluar dari persembunyian dan terus menembakan pelurunya tanpa rasa takut, dan sangat beruntung tatkala peluru yang mengarah padanya terus melesat. Sampai sesosok pemuda lain menerkam Luhan membuat lelaki itu tumbang dan senjatanya terlempar dari genggaman tangannya.

Ahahah, I got you, dude, (Ahaha, aku mendapatkanmu, kawan)” ujar pemuda tersebut dengan tawa renyah. Luhan membulatkan mata begitupula yang lainnya, Yixing pun langsung panik ketika kaptennya sudah terkukung musuh. “You will die. (Kau akan mati)” ucapnya lagi sambil sedikit mendekatan wajahnya ke Luhan dengan senyum licik dan mengeluarkan pisau dibalik punggungnya serta siap menancapkannya ketubuh Luhan.

Mata Luhan makin melebar tanpa tahu harus bagaimana. Dirinya masih mendengar Yixing meneriakan kata kapten untuknya. Waktu seakan melambat ketika ujung pisau itu mulai mendekati tubuhnya. Sekelebat bayangan Hyerim memakai dress putih ketika keduanya kencan di atas perahu melintasi benaknya, gadis itu memandangnya dengan senyum bak bidadarinya. Hingga ruh Luhan kembali ke realita dan kehanyutannya mengingat sosok Hyerim terhapus sudah dengan ujung pisau yang senjengkal lagi menuju perutnya.

“KAPTEN!” itulah teriakan terakhir Yixing yang Luhan ingat.

“Aaa!” Hyerim berteriak dalam bunga tidurnya dan langsung menarik badan bangun disertai keringat dingin bak sungai disekujur tubuh putih bersihnya. Lian yang duduk di sebelah ranjang dan hampir tertidur langsung terlonjak kaget mendengar teriakan Hyerim.

“Hyerim, kamu baik-baik saja?” kesadaran Lian kembali seutuhanya sambil memandang Hyerim khawatir. Gadis itu menatap ke bawah dengan kosongnya dan napas terengah.

“Luhan…” Hyerim menggumamkan nama prianya membuat Lian mendekatkan wajah lebih condong kepadanya untuk mendengarkan jernih perkataan Hyerim selanjutnya dilengkapi raut khawatir. Hyerim memandang Lian di sampingnya dengan tatapan masih kosong. “Di mana Luhan?” tanya Hyerim.

Lian menghembuskan napas sambil sedikit menunduk kemudian menatap Hyerim kembali dan menjawabanya. “Luhan bersama pasukan tim khusus Korea Selatan dan China menjalankan misi malam ini.”

Jawaban Lian membuat Hyerim mengerutkan kening dan mengajakukan pertanyaan lagi. “Misi?”

Lian mengangguk dan mulai menjelaskan. “Tadi ketika kamu pingsan. Dua dokter relawan China dan Korea Selatan tersandera. Jadi tim pasukan khusus melakukan misi penyelamatan sekarang.” Hyerim pun mencerna penjelasan Lian dengan pandangan mata bergerak-gerak ke bawah, perasaan tak tenang menggerogotinya.

“Aku harus pergi,” ujar Hyerim kemudian melayangkan kaki untuk turun dari ranjang. Tentu Lian dengan sigap menahannya namun langsung ditepis kasar, perlu ditegaskan walau keduanya berprofesi sebagai dokter, Hyerim adalah dokter yang bernaung dalam kemiliteran. Jadi kekuatan keduanya tak sebanding walau Hyerim baru sadar dari pingsannya. Hyerim pun mulai menata langkah menjauhi Lian.

Lian pun menatapnya khawatir dan matanya terpejam sesaat, lalu dirinya menghela napas frustasi serta memanggil. “Hyerim-ah,”

“Di mana baju dan perlengkapanku?” gumam Hyerim mengabaikan panggilan Lian dan mulai mencari barang yang ia maksud. Lian hanya mengigit bibir bawahnya resah.

“Aku berjanji tidak akan melepasmu lagi.”

“Kuharap kamu menetapinya.”

Bayangan Hyerim dan Luhan di atas perahu saat mengatakan itu muncul di depan mata Luhan. Pikirannya sibuk dengan gadis bernama lengkap Kim Hyerim itu. Hingga suara ‘jder!’ yang bukan berasal dari ilusinya ini terdengar. Dan dalam sekejap ruh Luhan ditarik kembali dalam realita dan Luhan pun mulai membuka mata yang semula terpejam. Kesadarannya belum sepenuhnya penuh ketika pemuda di atasnya yang hendak menusuknya tadi, tubuhnya sudah menjadi kaku dengan mata melebar. Ujung pisau yang diarahkannya sudah mencapai perut Luhan namun karena tembakan yang Luhan dengar dalam ilusinya tadi, tubuh salah satu pedagang gelap itu pun langsung tumbang dengan bekas tembakan dipunggung.

Luhan tidak mati untuk kali ini. Dirinya terselamatkan. Yixing yang menyadari hal tersebut menghela napas lega, Minho pun melakukan hal sama begitupula anggotanya. Luhan mulai berdiri dan mulai menggerakan kepala ke sana-ke mari dan langsung tertuju ke jendela yang menampakan alam luar, di luar sana terdapat Sersan Han yang tersenyum simpuldirinyalah yang menembak lelaki yang nyaris merengut nyawa Luhan barusan, Sersan Han pun mengangkat tangan kanan keujung alisnya dan menggerakannya ke depan, seakan hormat. Luhan tersenyum kemudian mulai berdiri dengan mengambil revolvernya kembali. Aksi tembak-menembak kembali terlaksana dengan kubu musuh yang mulai menipis anggotanya.

“Kapten, Sersan Mayor Kim Kibum mendapati kubu musuh memasang bom bunuh diri di ruangan kalian sekarang, sekitar lima menit lagi bom meledak. Bom itu hanya meledakan ruangan yang kalian pijaki. Lebih baik kapten dan yang lainnya mundur sebentar. Begitupula yang melewati jalan belakang, kubuh musuh menyiapkan banyak granat yang siap untuk dilayangkan kepada pasukan yang melewati pintu belakang,” telinga Minho yang terpasang headset yang menyambungkannya dengan walkie talkie miliknya terdengar menyerukan hal tersebut. Kepalanya langsung menatap bergantian Luhan, Yixing, dan dua anggotanya yang ikut.

“Semuanya, kita mundur. Ada bom di sini,” seru Minho membuat seluruh pasang mata menatapnya dengan mata melebar.

Di luar sana keadaan yang tercipta harap-harap cemas kepada pasukan yang ada di dalam. Disaat keadaan genting tersebut terjadi, sosok Hyerim dengan napas tersenggal datang ditengah-tengah kuruman tersebut. Mata Hyerim menelisik liar ke bangunan tersebut. Hingga beberapa pasukan menyadari keberadaannya dengan mata melebar.

“Letnan, kenapa anda di sini?” tanya Sersan Jung namun Hyerim menghiraukannya dan menatap gelisah bangunan yang berjarak beberapa meter di depannya.

Hingga penantian itu berakhir sudah ketika beberapa pasukan khusus keluar dengan selamat dan dari mereka semua, Hyerim mengenali satu wajah yakni Luhan. Dirinya memasang senyum lebar dengan raut lega. Luhan dan yang lainnya pun berjalan makin mendekat ke arah yang lainnya. Sampai Luhan pun menyadari munculnya sosok Hyerim di tempat ini, raut wajahnya tanpa ekspresi menatap Hyerim penuh arti. Waktu sekarang seakan milik mereka berdua yang saling melempar pandangan, keadaan sekitar layaknya sebuah figuran semata.

“Gawat! Bom yang dipasang ternyata berkekuatan besar dan akan meledak lima belas menit lagi. Bom tersebut mampu meledakan seluruh bangunan,” hingga seruan Sersan Kimbum terdengar membuat pandangan terfokus pada lelaki itu yang menunduk setelah meneliti kembali melalui celah teropong ke bom yang ia maksud untuk melihat lebih rinci bom tersebut, dirinya merasa bersalah memberi informasi yang salah.

“Apa? Kalau begitu kita tadi langsung ambil jalan nekad memasuki ruang sandera dibading keluar terlebih dahulu untuk menunggu bom yang ada meledak!” semprot Minho pada Sersan Kimbum yang makin menunduk merasa bersalah karena kurang teliti, hampir saja Minho mengeluarkan makian kasarnya.

Semuanya jadi tambah panas dingin, apalagi ketika sandera belum terselamatkan. Mendengar informasi itu, Hyerim mengigit bibir bawahnya dan menatap bangunan kumuh itu sebentar, setelah itu langkah kaki Hyerim yang berlari tercipta menuju tempat tujuannya itu. Semua kepala tertoleh pada Hyerim yang melakukan aksi nekad memasuki tempat musuh.

“Kim Hyerim!” teriak Luhan dengan raut terkejut dan gelisah kepada punggung Hyerim yang sudah menghilang ke dalam bangunan kumuh itu.

“Bom akan meledak sepuluh menit lagi,” gumam Sersan Kimbum menambahkan kekhawatiran Luhan yang berada diujung tanduk. Namun meskipun mereka ingin menyusul, suara keras pintu yang terkunci lebih rapat terdengar diiringi beberapa tembakan yang terdengar dari dalam bangunan.

To Be Countinued

⇓ Read This First in This Love ⇓

Prolog & ForewordChapter 1 — Chapter 2 — Chapter 3 — Chapter 4


SELAMAT TAHUN BARU. TAHUN BARU, CHAPTER BARU THIS LOVE PUBLISH DONG, HOREEE

This Love ini chapter akhirnya udah mau ditulis abis ahahah, tinggal nunggu season 2 tereksekusi, tunggu… this love bakal ada S2? Ya spoiler dikit gak apa kali ya. FF ini emang ada season 2nya karena aku rasa kurang gereget. Tapi eits S2nya ini lanjutan kisah Hyerim-Luhan yang entah di season ini berakhir bersama atau gak (masih aku rahasiain atau mungkin salah satu dari mereka mati karena adegan action yang nyelip dan mulai nyari pasangan baru /plak/ intinya S2nya masih rahasia plotnya tapi aku yakin kalian pasti seneng ada S2nya)

DAN INI APA T_______T Sudah kubilang siapkan jantung karena tentara gak akan gereget tanpa action dan yaaaaaaaaaaaaaaa ~~~~~~~ terjadilah action, Hyerim emang tipe nekad dari awal cerita juga keras kepala yang gak ada ujung. Entah napa aku suka chapter ini karena pasti buat nahan napas pas adegan Luhan yang mau ditusuk XD XD ternyata selamet lalu tiba-tiba Hyerim nongol dan buat adegan nahan napas lagi lalu tercut TBC ahahahaha XD XD

Btw tadi chapter ini mau backsoundnya itu yang Lyn – With You tapi rasanya aneh karena yang How Can I Love You ditaro di chapter yang agak mellow jadinya backsound chapter ini Xiah Junsu mantannya Hani Exid – How Can I Love You.

Yok komen kalian aku tunggu 😉 ini chapter so swit juga kok aihhh ngedate di atas kapal, Luhan emang minta dinikahin buakakakaka. Tapi Hyerim gengsian amat yak /kayak lu gak gengsian Els/

Sampai jumpa lain waktu, btw aku mau promosi lapak.

Contact me :

Line : elsasandra (kalo ngeadd bilang di kolom komen, aku gak langsung addback sembarang orang)

IG : @elsaeprilia (bagi yang mau liat wajah asli istrinya Luhan /dicekek/)

Wattpad : @hyekimxxi (beberapa FF dishare di sini wkwkwk)

Twitter : @Elfsandra15 (suka fangirlingan sama nyepam di sini wkwkwk)

-Luhan’s Future Wendy, HyeKim-

Advertisements

Author:

A tinkerbell who dream to be Luhan's future wendy — Also an amature author, k-drama trash, k-running man freak, eternal ELF, ahjussi and korean actor addict in the same time

10 thoughts on “FF : This Love – Chapter 5

  1. Dibagian romantisnya aku senyum-senyum sendiri dan pas bagian action nya aku tegang sendiri kak, untung ada taemin yang nyelamatin hyerim kalo nggak mungkin hyerim nya udah mati dan hyerim pasti selamat kan nggak seru kalo hyerim udah mati di chapter ini.
    Kak, kisah mereka di buat happy ending aja soalnya banyak banget rintangan yang mereka lalui. Tetap semangat terus nulis nya kak.

    Liked by 1 person

    1. ahaha ciee sampe senyum-senyum :p baguslah berarti actionnya kerasa yesh. Taemin is Hyerim´s hero LOL XD Hyerim selamat gak ya … asik juga loh dia dibuat mati jadi Luhan gak galau #jahatmodeon /lalu dibuang/

      Yakin ini akan happy ending? :3 makasih ya ^^

      Like

  2. aku rasa chapter ini yang paling menegangkan … plus plus super panjang juga

    ehhh aku penasaraan dari chapter sebelumnya apa sihh hubungan taemim-hyerim jaman kuliah dulu ???
    ada S2 oke aku tunggu .. 🙂

    Liked by 1 person

    1. Menegangkan entah kenapa aku suka /plak/ untuk masalah panjang, this love emang perchapternya panjang-panjang ehehe XD
      Hubungan Taemin sama Hyerim nanti dikasih tau kok ^^

      Like

    1. Kalo jujur juga aku baca ulangnya sambil senyam-senyum XD
      Silahkan kak copas aja wes bebas.
      Aku suka bosen kalo romens mulu, karena genre yg kusuka aja aslinya melenceng dari kata manis XD kayak action, fantasy, thriller gitu ahahaha romens oke tapi ya gitu XD XD jadi kadang buat ff romens over, bosen juga. Hyerim mati gak yaa… XD

      Liked by 1 person

  3. Uhh hyerim nekat orangnya, sungguh bkin orng khawatir. gimana kelanjutannya ini, uhhhhhhh so menjengkelkan, aku hrap ndak trjadi apa” lagi sma hyerim atau luhan.😂 ndak tega liat mreka slalu berpisah

    Liked by 1 person

  4. Dek.. Serius FF kamu itu emng the best bnget.. Slalu bisa buat aku senyum2 sendiri bacanya, ngefly diriku 😍

    Dek jangan apa2in hyerim, jangan sampai mati, kan kasihan luhan ntar merana 😂😂

    Penasaran ama nextnya dek.. Semangat 🙆

    Liked by 1 person

    1. The best apanya ihihi jadi malu 😂😂 tapi makasih loh kak ahahah. Awas terlalu fly ntar jatohnya sakit /plak/

      Luhan merana ya ditinggal Mbak Hyerim, tenang Mbak Hyerim kuat kok ahahah.

      Nextnya udah ada kok kak ~~

      Like

Write ur Love Letter . . . <3

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s