Posted in Chapter, Fanfiction, FF : Nuestro Amor, Friendship, PG-15, Romance, Sad, School Life, Yaoi

FF : Nuestro Amor – Chapter 3

nuestro-amor-req

Nuestro Amor Chapter 3

©2017 HyeKim’s Fanfiction Story

Starring With : Luhan as Luhan || Hyerim (OC) as Kim Hyerim || EXO’s Sehun as Oh Sehun

Genre : Romance, School Life, Friendship, Sad, Angst, slight! Yaoi ||  Length : Mini Chapter || Rating : PG-15

Poster By : Kyoung @ Poster Channel

Summary :

Luhan, Si Anak berandalan di sekolah menyukai dewi sekolah yang lahir dengan nama Kim Hyerim. Namun ketika Luhan tahu akan titik terang cintanya terbalaskan oleh Sang Gadis, Hyerim memilih menjauhinya entah mengapa. Namun yang Luhan pasti ketahui, Hyerim menjauhinya karena sosok Oh Sehun yang rupawan. Dan yang lebih mengejutkannya, Sehun bukanlah menyukai Hyerim tapi menyukai dirinya.

Disclaimer :

This is just work of fiction, the cast(s) are belong to their parents, agency, and God. The same of plot, character, location are just accidentally. This is not meaning for aggravate one of character. I just owner of the plot. If you don’t like it, don’t read/bash. Read this fiction, leave your comment/like. Don’t be plagiat and copy-paste without premission.


When love play between us


HAPPY READING

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

“Hoi!” seruan yang dilengkapi jentikan tangan itu karap terjadi lagi ketika Hyerim sedang tidak fokus seperti sekarang.

Mata milik gadis Kim itu mengerjap lalu dengan lagak tololnya ia menoleh ke arah oknum yang menyadarkannya dari lamunannya barusan. Luhan. Lelaki itu memandangnya dengan wajah datar lalu menggeleng.

“Nona Kim Hyerim,” panggil Luhan seraya wajahnya mendekat kewajah Hyerim membuat mata Hyerim melebar dan ludahnya terteguk masuk.

Dengan tatapan dalam nan menusuknya, Luhan menatapi wajah Hyerim dari jarak yang dekat membuat Hyerim gugup. “Kau ini turtorku, kan?”

Pemuda Lu itu makin memajukan wajahnya membuat Hyerim merasakan detakan gila dijantungnya, lantas ia sedikit menjauhkan wajah dengan pandangan menerawang ke arah lain. Dengan kakunya, Hyerim mengangguk mengiyakan pertanyaan Luhan tentang turtor.

Masih dengan posisi wajahnya yang sangat dekat dengan wajah ayu Hyerim, kepala Luhan ia miringkan dengan menatap Hyerim intens. Di lain sisipun, Hyerim berusaha terus-terusan menghindari tatapan Luhan.

“Kalau begitu kenapa kau melamun huh? Asal kau tahu, aku tidak nyaman belajar privat seperti ini tapi kenapa kau malah melamun?” ujar Luhan yang akhirnya menjauhkan wajah dan menyender pada punggung kursi perpustakaan, tempatnya ia sekarang.

Wajah Luhan yang sudah menjauhkan diri darinya membuat Hyerim menghela napas yang ia tahan dari tadi. Tangannya menggepal didepan dada dan ia berusaha menetralkan degup jantungnya. Dengan kikuknya Hyerim melirik Luhan yang sedang melipat tangan didepan dada dan menatapnya dengan mata menyipit.

“Maaf bila aku melamun,” Hyerim berkata sambil membetulkan posisi duduknya lalu menunduk dan menyibukan diri membaca baris kata yang ada di buku pelajaran, ini hanyalah upaya Hyerim untuk menghindari menatap Luhan.

Diam-diam Luhan menarik ujung bibirnya—tersenyum, gemas akan tingkah Hyerim yang gugup dan sedang komat-kamit tanpa suara dengan mata terpejam.

“Aku tidak berpacaran dengan Oh Sehun, aku sungguh-sungguh.”

Senyum Luhan makin lebar mengingat perkataan Hyerim tempo itu. Awalnya gadis itu bungkam seribu bahasa namun saat dirinya berbalik untuk keluar, dengan posisi memunggungi Luhan, Hyerim mengatakan hal tersebut.

“Luhan…” kepala Luhan mendongak dan langsung saja matanya bersipandang dengan mata indah Hyerim. Perempuan bermarga Kim itu tampak menggaruk belakang kepalanya lalu menggigit bibir bawahnya. “Aku…”

Luhan mencondongkan tubuhnya pertanda ia penasaran akan apa yang akan Hyerim beritahukan. Sejenak mata Hyerim terpejam lalu ia kembali menatap Luhan ragu disertai gigitan keras dibawah bibirnya.

“Begini… apa, kamu emmm… akan semangat belajar denganku bila,” tangan Hyerim yang ada di atas meja terpaut menjadi satu, dirinya sangat sulit untuk mengatakan rencananya dengan Sehun.

Terlihat Luhan memandangi gadis di depannya heran, kemudian Hyerim melanjutkan ucapannya dengan wajah ragu. “Kamu bisa berkencan dengan orang yang kamu sukai?”

Penawaran Hyerim membuat Luhan memiringkan kepala lalu menatapnya dalam, gadis Kim itu tampak menunduk dengan bola mata bergerak-gerak tak tenang. Akhirnya senyum miring terlihat diwajah Luhan, dirinya pun memandangi wajah manis milik Hyerim dengan tatapan menggoda.

“Orang yang kusukai?” ulang Luhan dan langsung saja Hyerim mengangguk kemudian menatapnya agak ragu.

“Apa kamu memiliki orang yang kamu sukai? Aku akan berusaha membuatmu untuk berken—”

“Bagaimana bila aku berkencan denganmu?” potong Luhan dengan lagak santai sambil membanting punggung ke senderan kursi dan melipat kaki kanannya di atas kaki kirinya.

Wajah bodoh tercetak jelas diwajah Hyerim, dirinya mengedipkan mata berkali-kali. Organ tubuhnya membeku sesaat mendengar ucapan Luhan barusan. Tunggu, berkencan dengannya? Mendadak Hyerim panik. Tentu harusnya Luhan berkencan dengan Sehun bila mendapat hasil yang memuaskan.

“Tapi Lu—”

Dengan cepat, Luhan mendekatkan wajahnya kewajah Hyerim hingga jarak yang tercipta diantara keduanya sangat dekat. Lalu Luhan meletakan satu jari telunjuknya didepan bibir Hyerim untuk membungkam bibir gadis itu. Bibir pemuda itu pun mendesiskan kata ‘sst’ dengan pelan.

“Aku janji akan rajin belajar denganmu bahkan bila aku mendapat posisi sepuluh besar di angkatan kita, aku mau berkencan dengan emmm…” Luhan miringkan kepalanya lalu tersenyum. “… denganmu.”

Dan Hyerim tidak berkutik ditatapi oleh kelereng hitam yang membiaskan perasaan membius dalam dirinya. Mungkin sekarang ia lupa akan rencananya dengan Sehun untuk membuat Luhan dan Sehun berkencan. Karena seorang Luhan menginginkannya. Luhan pun mengulurkan tangan menepuk-nepuk puncuk kepala Hyerim dengan senyum lembutnya yang lagi-lagi membuat Hyerim terpana.

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

Bahu Hyerim merosot lesu dengan badan sedikit bungkuk ketika melewati tangga ke lantai bawah. Pandangan matanya tertuju ke lantai yang ia pijaki. Pikirannya kacau bukan main. Dirinya pun merasa tidak enak pada Sehun karena Luhan malah ingin berkencan dengannya. Tapikan itu kemauan Luhan sendiri, bukan Hyerim kan? Bahkan pemuda itu juga yang mengatakan akan berkencan dengan Hyerim bila dirinya masuk sepuluh besar untuk ujian nanti.

“Akkhhh, bisa gila diriku,” desah Hyerim sambil memukul-mukul kepalanya dan mengacak-acak rambutnya.

Namun kala dirinya masih diambang frustasi, sebuah tangan menyambar tangannya lalu menariknya paksa. Awalnya Hyerim terkejut namun tatkala tahu bahwa oknum yang menyeretnya adalah seorang Oh Sehun, mendadak Hyerim gugup sambil  meneguk ludahnya susah payah. Tapi keduanya—Hyerim dan Sehun, tidak menyadari akan sosok Luhan yang tiba-tiba muncul dan melihat adegan Sehun menarik Hyerim ke balik tembok di dekat tangga. Melihat adegan itu membuat hati Luhan panas dan mendengus kesal.

Setelah merasa berada di tempat aman, Sehun menghempaskan tangan Hyerim dengan posisi gadis itu berdiri di hadapannya. Tatapan Sehun terlihat penasaran serta antusias, berbanding balik dengan Hyerim yang menghela napas sambil mengelus pergelangan tangannya yang jadi korban tarik menariknya Sehun barusan.

“Bagimana? Luhan bilang menyukai siapa? Dipastikan aku ‘kan yang kencan dengan—”

“Oh Sehun,” sela Hyerim dengan dada naik turun diiringi napas terbuang banyak kemudian menatap manik hitam Sehun yang membiaskan keantusiasan.

Dalam hati Hyerim gugup bukan main, pasalnya yang ia tarik dalam kesimpulan, Luhan itu lelaki yang normal, tidak seperti prediksi Sehun yang mengatakan lelaki itu penyuka sesama jenis seperti ayahnya. Dan paling parahnya lagi, Luhan malah memilih berkencan dengannya. Sial, Hyerim rasa kegugupannya diambang batas maka dari itu dirinya meneguk ludah serta meloloskan deheman pelan.

“Ekhem, begini,” start Hyerim akan konversasinya dengan Sehun yang kelewat antusias sampai-sampai mendekati wajah ke arahnya. Bola mata Hyerim menghindar untuk menatap Sehun, sekilas juga sejenak Hyerim mengigit bibir bawahnya.

“Luhan eung… tidak menerima tawaranku.”

Bohong adalah celah untuk Hyerim, gadis Kim itu pun melayangkan logam hitamnya kepada Sehun yang nampak kecewa dengan bahu merosot juga kepala menunduk. Tapi mau bagaimana lagi, toh jika jujur hasilnya pun sama untuk Sehun, mengecewakan ditambah perih. Seperkian detiknya, Sehun kembali menatap Hyerim yang masih memasang wajah waspadanya—lebih tepatnya tidak enak karena sudah melakukan sebuah kebohongan. Namun Sehun tak peka akan signal Hyerim, maka ia hanya meraih bahu sahabatnya dengan kuluman senyum.

“Baiklah tak apa, mungkin Luhan malu. Tapi untuk semuanya, aku ucapkan terimakasih padamu, Hyerim.” kemudian membawa Hyerim ke dalam pelukannya. Dibalik pelukannya dengan Sehun, Hyerim memasang wajah bersalah sambil komat-kamit tanpa terserukan untuk melafalkan maaf.

Tapi diantara keduanya tak ada yang menyadari keberadaan Luhan yang berdiri agak jauh dari tempat keduanya berpelukan. Pemuda itu melipat tangan lalu tersenyum meringis walau dirinya tak tahu apa yang dibicarakan dua manusia itu, yang jelas ia kembali cemburu.

“Dua orang itu… berkencan tidak sih?” gerutu Luhan yang akhirnya memilih balik badan juga melangkah lebar untuk pergi dibanding tambah kesal.

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

“Serius, Kim Hyerim. Apa tidak ada tempat lain huh?” lidah tak bertulang dengan nama pemilik Luhan itu melontarkan kata demikian, nada agak jengkel terselip didalam lontaran frasa tersebut. Kelereng matanya pun tak luput menatap oknum yang terlibat konversasi bersamanya dan tepat berada di sebelahnya sekon ini.

Namun Hyerim hanya tersenyum lebar lalu mengangguk. “Yah, kita belajar di rumahmu saja hari ini. Perpustakaan lama-lama membosankan. Lalu bila kita ke cafe dan restoran, uangku menipis. Jadi rumahmu, oke?” mata Hyerim mengerjap-ngerjap dalam artian memohon tapi yang ada Luhan hanya buang muka.

“Ayolah, Luhan,” kembali Hyerim merajuk sambil menggoyang-goyangkan badannya. Ujung mata Luhan tak luput melihat aksi merajuk gadis itu yang sialannya kelewat imut. “Ayolah, aku tak pernah merajuk lho.”

Finalnya Luhan mendengus serta mengangguk pelan bahkan kalau Hyerim tidak meniliknya, ia kira pasti Luhan tak mengangguk barusan. Dengan senyum lebarnya, Hyerim meraih tangan Luhan lalu menggeretnya untuk menuju bus. Melihat wajah semangat Hyerim membuat Luhan mengurungkan niat mengumpat karena rumahnya menjadi tempat belajar keduanya. Tentu dirinya tidak suka membawa orang sekolahnya ke rumahnya apalagi sampai bersitatap dengan ayahnya. Tak terasa bus yang menampung keduanya sampai di pemberhentian rumah Luhan. Lantas keduanya pun menggeret langkah turun.

“Kenapa tiba-tiba ingin di rumahku?” disela kegiatan berjalan bersama menuju rumahnya, Luhan bertanya sambil melirik Hyerim yang berjalan tepat di sebelahnya.

Bahu Hyerim terangkat dan sebuah jawaban terlontar. “Entah, ingin saja,” padahal niat yang ada dihatinya adalah penasaran dengan ayah Luhan yang kata Sehun adalah gay. Oke, Hyerim terlalu penasaran apalagi mengetahui Luhan….

Hyerim pun melirik Luhan dari ujung matanya, pemuda itu tak menyahuti jawabannya barusan. Lekuk wajah santai Luhan membuat Hyerim bergeming dengan pikiran berkecabang ke sana-sini.

“Bagaimana bila aku berkencan denganmu?”

Shit! Disaat seperti ini malahan suara Luhan tempo itu melintasi benaknya yang keparatnya membuat pipi Hyerim merona karena ucapan tersebut seakan mengarah pada pemuda Lu itu mengajaknya kencan. Kupu-kupu dalam perutnya seakan berhambur ke sana-ke mari juga pacuan jantungnya di level paling atas membuat Hyerim menunduk dengan wajah kemerahan.

“Kenapa denganmu?” nyatanya Luhan memergoki sikap Hyerim itu dengan memandangi Si Gadis heran disertai alis terangkat.

Tertangkap basah, Hyerim menatap Luhan gugup dan menggeleng cepat. “Tidak apa, ehehe.” jawabnya kaku dengan sebuah senyum yang benar-benar kaku.

Kepala Luhan ia miringkan dengan tatapan ingin tahu, ia tahu gadis di hadapannya ini sedang mengalami sesuatu. Dengan senyum gelinya Luhan berucap. “Pipimu merah ngomong-ngomong.” setelahnya kepala Luhan memandang kembali ke arah depan.

Ucapan Luhan membuat Hyerim tambah salah tingkah dengan menangkup kedua pipinya, sungguh memalukan sekali dan apa pula pikiran yang bersarang pada otaknya tadi? Seakan Luhan menyukainya saja karena ajakan kencan yang tak terduga itu.

Seketika langkah Luhan terhenti di hadapan sebuah rumah menyebabkan Hyerim mengangkat kepala dan menaruh penuh fokus objeknya pada rumah minimalis bertingkat dua dengan taman asri terawat itu. Sudah Hyerim pastikan bahwa inilah rumah Luhan.

“Kita sampai, tak sebagus kelihatannya,” ujar Luhan lalu mendahului Hyerim memasuki wilayah rumahnya dan Hyerim pun mengekorinya di belakang.

Tak selang berapa lama, sosok pria paruh baya yang meski sudah berumur masih mempesona, muncul saat Hyerim serta Luhan melepas alas kaki. Lantas Hyerim membungkuk saat otaknya berkerja cepat mengenali sosok itu adalah ayah Luhan.

Annyeong haseyo,” sapa Hyerim dan disambut dengan senyuman ramah Kevin Lu—ayah Luhan, akan tetapi dengusan tercipta dari Luhan tatkala Sang Ayah yang dari sudut pandangnya sok ramah.

“Eoh? Tumben sekali Luhan membawa teman ke rumah apalagi seorang gadis,” ujar Kevin sambil menelengkan kepalanya dengan wajah menahan senyum, yang mana paras wajah yang tercetak diendus sebagai wajah menggoda putranya.

Luhan terlihat cuek dan buang muka, sementara Hyerim tersenyum malu. Kevin pun hanya mengulas senyum. “Siapa namamu?” bibir Kevin terbuka melontarkan pertanyaannya, masih dengan lirikan mata menggoda putranya yang sok-sokan buang muka tak peduli. “Pilihan Luhan memang bagus juga cantik.” tambah beliau menghantarkan Hyerim pada perasaan gugup dengan rona kemerahan dipipinya.

Tak tahan, dengan segera Luhan menyambar tangan Hyerim serta merajut langkah lebar-lebar. Persetanan dengan tatapan ayahnya yang terus melekat padanya juga Hyerim yang menampilkan tampang tak enak. Final langkah keduanya terjadi di sebuah pintu, secepat kilat Luhan membuka pintu kamarnya kemudian menarik diri masuk diikuti Hyerim yang masih ia cengkram.

Keduanya sah berada di petak ruang kamar Luhan diikuti pintu yang merupakan pembatas itu ditutup. Sedari tadi Hyerim sudah menekan diri untuk menahan hasratnya, namun sekon ini hasrat itu meminta untuk ia ledakan, maka dari itu dirinya menghentak keras tangan Luhan ditambah sarangan bola hitam matanya yang tajam pada sosok Luhan yang sekarang menatapnya datar.

“Kau ini apa-apaan?! Tak sopan seper—”

“Kim Hyerim,” potong Luhan segera dengan mimik datar serta bola mata yang menajam tepat terjatuh diretina Hyerim, bibir gadis itu lantas terbungkam diiringi perasaan gugup dengan bola mata yang bergerak-gerak—sebisa mungkin menghindari tatapan Luhan.

“Sudah kubilang jangan urusi urusanku lagi.” perkataan Luhan itu diaksikan berbarengan dengan kedua tangan mencekal dua bahu Hyerim, tak lupa tatapan tajam mematikannya itu ia hadiahi untuk Hyerim.

Terlihat kepala Hyerim menunduk dengan karbondioksida terbuang, perlahan dirinya mengangguk. “Maaf, kalau begitu kita mulai saja be—” tapi sajakannya terhenti kala tangan Luhan yang mencekal keras bahunya malah mengelus punggungnya lembut.

Masih dengan kepala menunduk, Hyerim melirik Luhan dari ujung mata. Tatapan lelaki itu mulai melunak dengan senyum tipis.

“Aku akan mengambil beberapa camilan juga minum. Kamu siapkan saja alat belajar kita,” kata Luhan, melempar senyum lembut sejenak lalu melongos pergi untuk mengambil camilan juga minum seperti yang dikatakannya.

Di tempatnya, Hyerim memperhatikan kepergian Luhan kemudian seuntas senyum tercipta dibibir manisnya. Sifat dan sikap Luhan sering kali berubah. Tapi karena itulah rasa penasaran selalu menggelitik runggu Hyerim, menuntunnya untuk mengenal jauh sosok ugal-ugalan yang sekarang malah dikacamatanya menjadi sosok yang bisa sangat lembut dan membuat pacuan jantung meningkat gila-gilaan.

Menghentikan delusinya tentang Luhan, Hyerim pun menyiapkan alat belajarnya selagi menunggu pemuda itu. Ditengah kegiatannya itu, bayangan lelaki dari arah luar mulai mendekati petak kamar Luhan itu. Sosok Kevin Lu dengan kuluman senyum tipisnya lah yang menampakan diri di daun pintu. Signal akan keberadaan ayah Luhan itu ditangkap Hyerim, gadis itu menoleh dengan senyum lebar, mengira yang datang adalah Luhan. Kala menyadari sosok yang datang bukan sesuai ekspetasinya, senyum Hyerim agak luntur dan badannya sedikit membungkuk.

“Hallo Paman, maaf tadi aku main pergi,” nada bicara Hyerim diunsuri penyesalan, saat berbicara itu badannya setia menunduk begitupula kepalanya, tak berani menatap langsung ayah Luhan.

Respon Kevin hanya senyum tipis yang sangat ringan, merasa kejadian sekon kebelakang tak masalah untuknya dan memang tercatat begitu pada dirinya. Waktu kedepan, Kevin melangkah menyelusuri kamar Luhan lalu sudah berada di hadapan Hyerim yang sudah berdiri tegak dengan mimik gugupnya.

“Tak apa,” ujar Kevin dengan senyumannya, dalam hati Hyerim terpana dan segera menyadari bahwa sosok di depannya sangat mirip dengan Luhan. Bahkan kadar ketampanannya pun begitu.

Sanking sibuk akan keterpanaannya, Hyerim tak menyadari Kevin sudah menilik wajah cantiknya dengan seulas senyum. “Andai Ahyoung masih ada, dia pasti senang Luhan memiliki pacar secantik ini.” tangan Kevin terulur untuk mengelus puncak kepala Hyerim.

Sontak pipi gadis itu memerah. Dalam hati menanyakan siapa sosok Ahyoung. Tapi detik selanjutnya, otaknya kembali bekerja serta mengklaim pasti pemilik nama Ahyoung itu ialah ibu dari Luhan. Seketika Hyerim memikirkan sebuah pemikiran. Sosok ayah Luhan diketahui sebagai penderita homoseksual, tetapi dirinya terlihat normal sekarang. Bahkan Kevin seakan tak terganggu akan sosok Hyerim yang datang bersama Luhan dan malahan menyebut Hyerim sebagai pacar putranya.

Elusan dari tangan Kevin itu terhenti, lantas tangannya itu tertarik kembali. Masih dengan senyum namun ditambahi pancaran bola mata sayu, Kevin kembali bersajak. “Aku yakin kau juga tahu aku penderita homoseksual ‘kan,”

Mata Hyerim membola mendengarnya dengan tampang kaget tapi Kevin hanya menatapnya sayu. “Itu bohong.” dan lanjutan frasa yang megantung itu membuat Hyerim ingin mengorek kupingnya.

“Ya?” Hyerim bertanya ragu juga berusaha memastikan.

Yang dilakukan Kevin selanjutnya adalah membuang muka dengan pandangan menerawang. “Aku lelaki yang normal. Hanya karena Kim Jae, sahabat priaku itu penderita homoseksual, aku harus menurutinya…” bibir Hyerim sudah seperti terkena lem saat ucapan itu menerobos ketelinganya serta teresapi diotaknya.

“Bila aku tidak mencintai Ahyoung, apa buktinya Luhan terlahir ke dunia?” kepala Kevin lantas menunduk serta kembali matanya menerawang namun sekarang ke arah lantai. Dalam hati, Hyerim membenarkan juga ucapannya namun memilih tetap bisu. “Kim Jae menyukaiku lalu mendatangiku. Karena dirinya menderita penyakit parah, aku terpaksa berpura-pura menjadi gay untuk membuatnya bahagia tapi hal itu malah membuat Ahyoung terpukul dan memilih bunuh diri karena tertekan.”

Kisah itu ia tutup dengan senyum getir menatap Hyerim yang masih terpaku. Lalu Kevin kembali mengelus puncuk kepala Hyerim. “Ngomong-ngomong siapa namamu?”

Pertanyaan itu menyebabkan mulut Hyerim mengatup lalu kembali terbuka. “Kim Hyerim.”

“Ah Hyerim,” Kevin mengujarkan nama gadis Kim itu masih dengan tangan yang setia mengelus surai hitam milik Hyerim. “Maaf bila aku menceritakan kisah seperti tadi. Harapanku adalah bisa berdamai lagi bersama putraku dan dirinya tidak membenciku. Aku belum sempat menjelaskan pada Ahyoung hingga ia salah paham bahwa aku berpura-pura mencintainya. Luhan pun jadi sangat membenciku.”

Ujung bibir Hyerim tertarik mencetak sebuah senyum tipis, kepalanya menggeleng lantas satu rangkaian kalimat keluar merespon ucapan Kevin. “Tidak apa, Paman. Aku harap dirimu juga bisa mendapatkan kasih sayang Luhan kembali.”

Gerakan mengelus surai legam Hyerim belum kunjung juga dihentikan Kevin yang terus tersenyum lembut pada gadis bernama Kim Hyerim itu. “Ya, juga aku ingin memberitahumu…” terjadi jeda diucapannya disertai tangannya yang berhenti melakukan aksi mengelus surai gadis remaja di depannya ini. “… Luhan itu gengsi sekali sepertiku, jadi jangan malu-malu dengannya. Karena Luhan sulit ditebak saat menyukai seorang gadis.”

Tanpa dikomando pun pipi Hyerim mencetak rona kemerahan dan di sisi lain, Kevin terkekeh lalu menepuk-nepuk puncuk kepala Hyerim. “Kumohon jaga Luhanku dan kalau bisa buatlah ia kembali menjadi anak yang baik juga menyayangiku kembali.”

Konversasi itu pun resmi berakhir setelah rangkaian kata Kevin barusan, pria itu berbalik dan berjalan pergi setelah melempar senyum terakhirnya untuk Hyerim. Di tempatnya, Hyerim terpaku dan menatap punggung ayah Luhan itu sendu. Dalam hati dirinya merasa miris, selama ini Luhan salah paham pada sosok ayahnya yang nyatanya sangat mencintai ibunya serta Luhan sendiri.

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

“Hyerim, aku selesai!” ujaran malas lolos dari mulut Luhan dibarengi oleh dorongan pada buku tulisnya ke arah Hyerim. Namun tatkala menolehkan kepala ke tempat gadis itu, seketika Luhan terpaku lalu mendengus. “Ya Tuhan, dia malah tidur.”

Figur Hyerim yang sedang tertidur di atas meja belajarnya dengan bantal tangannya yang terlipat, menjadi potret nyata di depan mata Luhan sekon ini. Wajah gadis itu saat ini tetap manis juga cantik, sangat damai layaknya sesosok bidadari. Perlahan tangan Luhan ia topang dibawah dagu, ujung bibirnya tertarik membentuk senyuman.

“Andai kau tahu perasaanku dan andai aku tidak terlalu gengsi untuk menunjukan perasaanku,” ditengah kegiatannya memperhatikan wajah Si Gadis, Luhan bergumam dan sedikit menyalahkan sikap pamornya yang membentur langit itu.

Dalam tidurnya, Hyerim bergerak, pada awalnya Luhan mengira gadis itu akan bangun namun pada nyatanya tidak. Hyerim masih setia menjelajahi dunia mimpinya dengan wajah tenang serta tak terusik. Kembali dalam diamnya itu Luhan memperhatikan wajah gadis yang dari awal sudah mengusik serta menghantui dirinya, hingga akhirnya Luhan memantapkan hati bahwa ia telah jatuh pada sosok bernama Kim Hyerim. Tangan Luhan tergerak serta diarahkan menuju surai Hyerim yang masih setia tidur, lalu mengelus pelan mahkota legam milik gadis itu.

“Kau bilang bila nilaiku bagus aku bisa berkencan dengan orang yang kusukai ‘kan? Maka dari itu aku akan berusaha…” kata-kata Luhan berjeda dengan tangannya yang bergerak merapikan rambut Hyerim lalu turun mengelus pipi gadis itu. “Aku akan berusaha untuk berkencan denganmu.” perkataan Luhan dilanjutkan dengan senyum lebar diakhir kata.

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

Tungkai itu tergeret membelah koridor sekolah yang disesaki para murid yang berbondong-bondong menuju mading sekolah. Hari ini adalah pengumuman hasil ujian tengah semester dua minggu lalu, wajar para murid menyesaki mading sekolah yang melihatkan hasil jerih payah mereka. Pemilik tungkai yang tergeret itu menampakan diri di belakang kuruman orang-orang yang berdesakan. Kim Hyerim, ia menoleh ke arah mading sambil menjenjangkan leher saking banyaknya manusia memadati tempat itu.

“Wah! Kim Hyerim urutan pertama di ujian sekarang, urutan keduanya adalah Oh Sehun. Ckckck, mereka selalu saja saling susul-menyusul. Memang pasangan ideal,”

Oh mungkin Hyerim tak perlu membuang energi lebih banyak untuk melihat hasil, toh celetukan tadi sudah tertuju untuknya. Walau ini bukan kali pertama mendapat urutan pertama, tapi senyuman yang merekah tak dapat ia kendalikan untuk tidak tercetak diparas jelitanya.

Tiba-tiba, perempuan yang tadi menyeletuk tentang Hyerim, didekati oleh satu kawannya yang mulai berkata. “Oh Sehun dan Kim Hyerim itu murid teladan dan pasangan top di sekolah, tapi selalu menyangkal bila digosipi jadian atau tidak. Padahal mereka cocok.”

Senyum kikuk terlihat diparas Hyerim, bukan tanpa alasan tapi itu disebabkan karena perempuan yang mengosipinya itu sengaja mengeluarkan vokal yang maksimal untuk telinga Hyerim mendengarnya disertai lirikan menggoda pada gadis bermarga Kim itu.

“Andai kalian tahu Oh Sehun itu gay, aku lebih memilih dijodoh-jodohkan dengan anak begajulan seperti Luhan,” pemikiran itu terlintas didalam hati Hyerim namun dengan reflek, tangannya menampar pipinya sendiri untuk mewanti-wanti bahwa Luhan adalah sosok yang Sehun sukai.

Disaat Hyerim sedang menekan diri untuk menyadarkan diri, tiba-tiba kuruman murid-murid yang mengelilingi pengumuman hasil ujian heboh. Mereka memekik layaknya kesetanan kemudian menderempet menjadi satu untuk lebih dekat pada hasil ujian. Aksi tersebut membuat kerutan didahi Hyerim nampak dengan tatapan heran yang melayang pada punggung-punggung murid sekolahannya.

Keheranan Hyerim pun terjawab tatkala satu layangan kata memasuki rongga telinganya sangat jelas. “LUHAN PERINGKAT KESEPULUH! DEMI NEPTUNUS! DIA MABOK ATAU APA?!” dan mutlak mata Hyerim membulat dengan mulut terbuka lebar.

“Tunggu, tunggu…” ucap Hyerim pelan dan tentu tertelan sayup-sayup keramaian di sekitar yang masih heboh akan predikat Luhan yang sangat bersejarah. Hyerim menaruh tangan di depan dengan telapak terbuka serta menggeleng-geleng dengan air wajah panik. “Jika begini aku akan—”

“Siap berkencan denganku?” kata-kata Hyerim tertelan layaknya tiupan topan menyerang habis langsung ke arahnya, mulutnya langsung mengatup lantas kepalanya menoleh ke arah sumber penyuara vokal yang main menyerobot sajakan katanya.

Tanpa tahu harus berlakon bagaimana, Luhan sudah berdiri di sebelahnya dengan senyum miring dan seribu persen dirinyalah yang menyerobot kata-kata Hyerim beberapa waktu lalu. Pria itu mengulurkan tangan yang berakhir mengacak-acak surai Hyerim yang sedang bengong layaknya orang tolol.

“Ingat, aku mendapat peringkat sepuluh besar dan hadiahku adalah kencan denganmu,” disertai sentilan didahi Hyerim membuat gadis itu mengaduh, Luhan berhenti menyerukan frasa lantas berbalik.

Dapat Luhan lihat para murid menatapnya penuh minat. Wajah Luhan yang semula berseri lantas berubah secepat kilat menjadi masam. Dengan sorot kelereng hitamnya yang tajam, Luhan mulai mengeluarkan suara kelewat dinginnya itu.

“Apa lihat-lihat? Mata kalian ingin kucongkel?” layaknya tertiup angin musim semi, murid-murid yang menyarangkan tatapan pada Luhan langsung beralih menatap objek lain.

Namun hanya Hyerim yang di situ tidak merasa tergetar hebat ketakutan karena suara dingin Luhan, malahan gadis itu menatap profil Luhan dari samping dengan darah berdesir hebat ditambah satu pemikiran yang terlahir diotaknya. Berkencan dengan Luhan. Sontak pipinya membiaskan warna merah apel yang sangat panas.

—To Be Continued—


UPDATED! LOL ~~~~

Lama ya? Namanya project iseng, kalo lagi mau gaspol pasti gaspol, lagi mager ya mager kebangetan.

Btw, aku mau curcol. FF dengan bahasa Spanyol ini adalah file FF pertama yang nyarang di laptop baru LMAO dan yang bikin wew, ini lappy baru gak bapak ane switch bahasanya ke inggris dan tetep spanyol (muter-muter dulu sih buat memahami kata demi kata tapi as well ngertong dikit) DAN SERIUS BELI LAPPY BARU DI SPANYOL ITU TOTALLY BEDA, BILA KALIAN INGIN MINJEM LAPTOPKU INI PASTI AKAN PUSYING. SELAIN BAHASANYA SPANYOL, LAPTOP KELUARAN SPANYOL ITU UNIK KAWAN. KODE KAYAK SELECT ALL (CTRL+A) ATAU BOLD/ITALIC (CTRL+B DAN CTRL+I) DAN BEBERAPA ITU BEDA DI MS.WORDNYA ANJAY. DITAMBAH KEYBOARD INI EDAN GAES, SATU PETAKNYA BISA ADA 3 TANDA. DI TOMBOL NOMOR SATU AJA ADA TIGA TANDA NO.1 TANDA ! (SERU) DAN | (TANDA INI) ngeadd @ (at) aja ane awalnya susah banget -___- tapi sekarang udah agak kebiasa, LOL huhuhu juga sih harus muter-muter dulu pas publish FF ini karena opsi keyboard yang kampret beda sekali. Ya tapi kalo ane nunggu sampe pulang ke indo ya ane gak punya-punya laptop juga tahun ini hiks yaudah gak apa laptop spanyol itu so unique sekali, jadi kalo pulang ke indonesia, temen-temen gak bisa sembarangan minjem :p

INTINYA SAY HELLO KEPADA LAPTOP ANE YANG TADINYA MAU ANE NAMAIN KEKOREAN TAPI ANE GANTI, ANE MENAMAI DIA NAMA SPANYOL. ¡HOLA! LUCIA (NAMA LAPTOP ANE) SELAMAT DATANG DI DUNIA ELSA SEMOGA LUCIA INI MENJADI LAPTOP LAMA LOLS

Anyway, jangan lupa komen ya gaes ^^ chapter depan Luhan-Hyerimnya ngedate loh :p Sehun gimana ya kabarnya /tetiba hening/

-HyeKim-

Advertisements

Author:

A tinkerbell who dream to be Luhan's future wendy — Also an amature author, k-drama trash, k-running man freak, eternal ELF, ahjussi and korean actor addict in the same time

21 thoughts on “FF : Nuestro Amor – Chapter 3

  1. Akhirnya luhan dapat peringkat 10 dan mereka akan kencan. Ternyata luhan salah paham dengan ayah nya aku kasihan lihat ayah luhan pasti menderita sekali.

    Liked by 1 person

  2. Asdfhjll demi neptunus! Dia mabob atau apa?! Itu kayaknya kurang geregetan gitu 😂 ah ah aha … kim jae – jong kah? Aiisshh aku suka wajah cantiknya jae entah kenapaa 😂😂 btw aku turut bersuka cita atas laptop barunya 😆 duh duh please gaspol ya pleasee…😄

    Liked by 1 person

  3. Mkin makin ceritanya. Makin seru, makin penasran kelnjutannya..

    Luhan knan udah dapet pringkat 10 mereka bakalan berkencan, trus sehun gimna?

    Lagian sehun aneh sih kenapa sukanya ama Luhan?

    Lanjut dek, semangat 🙆🙆

    Liked by 1 person

Write ur Love Letter . . . <3

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s