Posted in Action, AU, Chapter, Comedy, Fanfiction, FF : This Love, PG-15, Romance, Sad

FF : This Love – Chapter 6

ir-req-this-love-21

This Love Chapter 6

©2017 HyeKim’s Fanfiction Story

Starring With : Luhan as Luhan || Hyerim (OC) as Kim Hyerim

Genre : AU, Romance, slight!Sad & Action, a bit Comedy ||  Lenght : Chapter || Rating : PG-15

Poster By : IRISH @ Poster Channel

Previous in This Love (Prolog — Chapter 5) :

⇒ Click This ⇐

Summary :

Ketika 2 pasukan tentara dari negara berbeda disatukan dalam lika-liku hubungan cinta. Keduanya dipertemukan namun jarak yang memisahkan serta restu dari orang tua pun menjadi penghalang. Hanya sepenggal kisah antara Luhan, salah satu pasukan khusus dari China dan Hyerim, seorang dokter tentara dari Korea Selatan. Bagaimana kelanjutan kisah keduanya?

Note :

FF ini terinspirasi dari kisah cinta Yoon Myeong Ju dan Seo Dae Young dari drama korea populer descendant of the sun serta lirik dari soundtrack drama tersebut. Namun dari segi cerita yang ada sudah diubah oleh saya sendiri. Bila ada adegan yang dicetak miring/italic itu menandakan sebuah kilas balik/flashback.

Disclaimer :

This is just work of fiction, the cast(s) are belong to their parents, agency, and God. The same of plot, character, location are just accidentally. This is not meaning for aggravate one of character. I just owner of the plot. If you don’t like it, don’t read/bash. Read this fiction, leave your comment/like. Don’t be plagiat and copy-paste without permission.

HAPPY READING

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║


Don’t say that this is a sad love

If you think about it again, I’m so happy

Although it hurts as much as we’re in love

Just like now let’s love

Not being able to see you

Is scarier than death to me

Stay by my side, don’t leave me

 [SG Wannabe ─ By My Side (ost. Descendants of The Sun)]

 


Luhan benar-benar tidak tahu harus bagaimana selain melihati bangunan di depannya gelisah, begitupula yang lain. Hyerim benar-benar gadis ternekad dan terberani yang pernah Luhan temui bahkan ia kencani. Gadis nekad itu tak kunjung kembali setelah memasuki bangunan yang menampung para sandera.

“Apa kita tidak bisa masuk ke dalam?!” teriak Luhan frustasi sambil menatap pasukan yang lain.

Terlihat Sersan Han menggeleng membuat Luhan menatapnya dengan pandangan mata berkilat-kilat, lalu sersan itu berkata. “Mereka pintar, di setiap sudut untuk memasuki bangunan sudah dipasang dengan bom otomatis. Ketika kita menyentuhnya, maka bom akan meledak.”

Mendengar hal tersebut, Luhan pun dilanda kekhawatiran diambang batas. Hingga suara tembakan terdengar kembali membuat fokus Luhan terarah kembali ke bangunan kumuh itu, tangannya terkepal dengan gelisahnya disertai kepala yang bergerak-gerak tak tenang.

Keadaan di dalam bangun tersebut tak beda jauh dari perkiraan orang-orang di luar, aksi tembak menembak terjadi di sana-sini. Satu bebanding dengan sepuluh orang lebih. Hyerim tampak bersembunyi di balik tembok dengan kepala menengok ke samping guna mengetahui waktu yang tepat untuk menembak dari ekor matanya, gadis itu mengganti pelurunya kemudian dengan gesit menarik tubuh keluar dan mencuatkan peluru miliknya hingga suara ‘Jder! Jder!’ terdengar beberapa kali, disertai dua lelaki barat di hadapannya tumbang.

Dengan langkah percaya diri, Hyerim melangkah ke depan dan saat itu seorang pemuda meloncat ke arahnya lalu dengan gesit Hyerim memutar tubuhnya lantas menendang pemuda itu dengan kaki kirinya tepat diperut. Musuhnya itu terkapar dan langsung saja Hyerim menembaknya hingga napasnya terputus. Pertarungan belum juga berakhir ketika gadis itu tiba-tiba diserang oleh dua lelaki sekaligus. Yang satu berusaha memukul Hyerim namun dengan cekatan Hyerim menghindar dengan sedikit membungkuk dan memutar kepala ke samping bawah.

‘Buk!’

Dengan kerasnya gadis itu meninju perut lelaki yang berusaha menyerangnya tadi hingga mulut lelaki itu terbuka dengan suara rintihan yang pilu. Tiba-tiba dari arah belakang, lelaki yang kedua mencekal kedua tangan Hyerim membuat penggerakannya terbatas. Lelaki yang mencekalnya menampilkan senyum miring begitupula dengan lelaki yang tadi diserang Hyerim.

See? We will win, pretty, (Lihat? Kita akan menang, cantik)” ucap lelaki yang diserang Hyerim tadi sambil mereggangkan otot lehernya dan memutar-mutar kepalan tangan kanannya bersiap memukul gadis cantik yang berada dalam cengkaram tangannya.

Mata Hyerim memincing dengan napas menderu, ketika lelaki di depannya mulai melayangkan tinjuannya. Dengan cepat, Hyerim mendorong tubuhnya ke belakang lalu loncat disertai sebuah putaran membuat tubuhnya terbang memutar diudara, karena penggerakannya itu, cekalan lelaki yang mencekalnya terlepas karena kesakitan dibagian rawannya yang sengaja Hyerim tendang tadi ketika meloncat. Dan setelah itu tubuh Hyerim yang masih mengudara memutar turun menyerang lelaki di depannya yang langsung tumbang karena kepalanya terkenal ujung kaki Hyerim.

Hyerim pun mendarat di tanah dengan senyuman terjahat miliknya, setelah itu tangannya mencengkram tangan lelaki yang mencekalnya dan langsung membantingnya diatas tubuh lelaki yang tumbang tadi. Keduanya merintih kesakitan membuat Hyerim tambah puas.

Seikkia (brengsek), aku tidak akan membiarkan lelaki menyentuhku seenaknya. Jadi aku bisa menghajar kalian lima kali lipat bila berani menyentuhku sembarangan,” ucap Hyerim sengaja dengan bahasa Koreanya lalu dengan senyum miringnya, Hyerim mengeluarkan pistolnya dan mengarahkannya ke kedua orang yang sudah terkapar di bawahnya.

“Say goodbye to world, dude. (Ucapkan selamat tinggal untuk dunia, kawan)” ucap Hyerim dengan dengusannya pertanda menghina kedua lelaki itu dan adegan pertarungan itu ditutup dengan suara tembakan berkali-kali pada tubuh kedua pemuda brengsek tadi yang langsung menghembuskan napas terakhir meninggalkan dunia fana ini.

Hyerim mulai melangkah hati-hati dengan pistol dipegang kuat dikedua tangannya, matanya menelisik ke sana-ke mari serta dirinya sudah memasuki ruangan yang baru. Hyerim mulai fokus mencari dua sandera yang ditahan di tempat kumuh ini.

“Oh hai my dear lieutenant, (Oh hai letnanku tersayang)Hyerim langsung menegakan kepalanya dengan mata menyalang, suara baritone tadi ialah milik Daniel dan lelaki itu sedang mendekap Soojung dalam tangan kirinya serta tangan kanan memegang senapan. Lelaki berwarga negaraan Amerika itu menatap Hyerim dengan senyum miringnya.

“You make me wanna puke on your dike’s face, (Kau membuatku ingin muntah diwajah menjijikanmu)” Hyerim menuangkan kata-kata kasar pada Daniel yang malah terkekeh.

Don’t be rude my dear Hyerim, or your dear friend will be die, (Jangan kasar Hyerimku sayang, atau temanmu tercinta akan mati)” ancam Daniel yang langsung mengarahkan senjata kekepala Soojung dan gadis Jung itu langsung memekik tertahan lantaran ketakutan.

Don’t make her afraid, jerk. You will lose, I trust that. (Jangan buat dia takut, brengsek. Kau akan kalah, aku yakin)” ucap Hyerim dengan bola mata menyala-nyala dan raut tak santai.

Lagi-lagi tawa renyah menggema dari bibir Daniel yang mendongakan kepala, lalu dirinya kembali menolehkan kepala kepada Hyerim dan terlihat jelas napas gadis itu menderu menahan amarah terpendam dalam dirinya.

Lose? Are you kidding me? The armies inside this werehouse feel confuse because they can’t enter this werehouse. And then you will die with me also both of your friends. Just say goodbye to your dear boyfriend, lieutenant. (Kalah? Apa kau bercanda? Tentara-tentara yang berada di luar rumah ini merasa kebingungan. Lalu kau akan mati bersamaku juga kedua temanmu. Ucapkan selamat tinggal untuk kekasihmu tercinta, letnan)”  Daniel mengakhiri perkataannya dengan senyum liciknya. Soojung tampak menatap Hyerim dengan mata nanar dan Hyerim menatapnya dengan tatapan menenangkan.

“Soojung-ah, dengarkan ucapanku. Kita tidak akan mati, kita akan keluar dari sini. Jadi, pertama-tama janganlah takut. Aku di sini akan menolongmu dan satu sandera yang lain,” ucap Hyerim dengan bahasa Korea diakhiri senyum tipis, Soojung hanya mampu menatapnya dengan mata berair dan anggukan pelan.

“What did she said to you, pretty? (Apa yang dia katakan padamu, cantik?) tanya Daniel dengan ujung matanya menatap Soojung yang berada dalam rengkuhan tangan kekarnya.

She said don’t move or I will die in your arm now, (Dia bilang jangan bergerak atau aku akan mati ditanganmu sekarang)jawab Soojung dengan nada bergetar dan bola mata tertuju ke bawah, tak berani menatap Daniel barang dari ekor matanyapun.

She is clever, but for me she is not clever enough. Because now, you will die but she will die first, (Dia pintar, tapi bagiku dirinya tidak cukup pintar. Karena sekarang, kau akan mati tapi dia yang akan mati lebih dulu)” ucap Daniel yang langsung menatap ke depan tepat kepada Hyerim diiringi senjata yang langsung tertempel dikening gadis Kim itu mengakibatkan mata Hyerim membulat sempurna. “Say goodbye to world, lieutenant. Your boyfriend will be miss you. (Katakan selamat tinggal pada dunia, letnan. Kekasihmu akan merindukanmu) Daniel mencetak wajah liciknya dengan senyum miringnya diiringi senjatanya yang mulai ia tarik untuk mengeluarkan pelurunya. Soojung pun sudah menahan pekikannya melihat Hyerim merengang nyawa, sampai…

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

‘Dor! Byar!’

Tubuh Luhan langsung memutar ke arah bangunan sandera disekap itu ketika suara tembakan dan ledakan terdengar. Luhan menggeleng pelan dengan raut frustasi. Minho yang tadi sedang berdiskusi serius dengan Sersan Kim langsung menghentikannya, dirinya langsung berdiri dari duduknya dan menatap bangunan yang sudah meledak serta mengeluarkan api itu dengan tatapan kosong. Pasukan yang lain pun begitu, hingga suara ledakan terdengar kembali disertai kaca yang pecah mengeluarkan api dari dalam bangunan tersebut.

“Maldo andwae, (tidak mungkin)” gumam Luhan sambil menggeleng dengan air mata tertahan dipelupuk matanya. “Kim Hyerim!” Luhan berteriak keras membuat seluruh pasang mata menatapnya miris, lelaki itu mulai menumpahkan air matanya sambil menatap bangunan yang perlahan menjadi abu itu.

Ditengah-tengah suasana duka itu, Yixing menangkap suatu objek dari bangunan tersebut, kepalanya pun langsung mengadah lebih tinggi untuk menjernihkan penglihatannya. Matanya seketika melebar ketika melihat ketiga wanita keluar dari bangunan yang meledak itu dengan langkah terseok-seok. Luhan masih larut akan kesedihannya sampai konsentrasinya hilang kendali.

“Lihat! Mereka hidup!” seru Yixing sambil menunjuk objek yang ia lihat tadi dengan antusias dan memandang pasukan yang lain dengan gembira.

Seluruh pasang mata sekarang tertuju pada tiga wanita itu yang mulai berjalan mendekat. Minho yang melihat Hyerim dan dua sandera selamat, langsung menghembuskan napas kelewat lega. Luhan yang mendengar Hyerim masih hidup, lantas menggerakan kepala menuju objek yang ditunjuk Yixing dan dirinya tidak tahu harus menggambarkan kelegaannya bagaimana tatkala mendapati sosok Hyerim berjalan ke arahnya dengan senyuman tipis.

“Soojung, apa kau tak apa-apa?” Minho langsung menghampiri Soojung dan menanyakan keadaan gadis itu, Soojung menggeleng pertanda ia masuk syok dengan mata berkaca-kaca. Kemudian Minho menuntun Soojung duduk di dekat Kimbum dan menyodorkannya minuman.

Di sisi lain, pasukan dari China juga sibuk menanyai Meilin dan menenangkan gadis itu. Hanya kedua insan itu saja yang saling pandang dengan tatapan penuh arti. Hyerim pun sudah berada di hadapan Luhan namun lelaki itu hanya menatapnya dengan raut kosong. Pada akhirnya pun, Luhan merasakan pelukan dari Hyerim ketika gadis itu dengan cepat memeluknya serta menaruh dagunya dibahu kiri Luhan. Bahu Hyerim bergetar pertanda gadis Kim itu menangis tanpa isakan yang keluar dari bibir manisnya. Tangan Luhan terangkat membalas pelukan Hyerim dengan tangan kanan mendekap belakang leher gadisnya.

“Aku kira aku akan mati tadi dan kisah kita berakhir begitu saja,” ucap Hyerim disela isakannya dan Luhan hanya mampu mengelus punggungnya dan menekan belakang leher gadisnya.

“Maka dari itu, kumohon jangan melakukan hal seperti itu lagi. Kamu ini benar-benar letnan berkepala udang, berani-beraninya membuat seorang kapten frustasi seperti tadi hingga rasanya ingin membunuh diri sendiri,” balas Luhan dengan mata berair, ingin sekali dirinya menangis namun tertahan. Ucapan Luhan itu membuat Hyerim menyunggingkan senyum tipisnya kemudian melonggarkan pelukannya sambil menatap wajah Luhan dari jarak yang dekat.

“Maaf…” gumam Hyerim sambil menunduk dan dirasakan olehnya Luhan menyenderkan dahinya dikepalanya. Hyerim pun mendongakan kepalanya membuat dahinya dan dahi Luhan bersentuhan. “Maaf.” Hyerim mensajakan permintaan maafnya kembali.

Luhan tidak meresponnya dengan kata-kata, lelaki itu hanya menjauhkan dahinya lalu mencium kening Hyerim dan kembali memeluk gadisnya lebih erat. Keduanya tak peduli sudah menjadi sosok pemeran utama di tempat itu dengan seluruh mata menatap adegan keduanya. Yixing tersenyum tipis melihatnya lalu dirinya melayangkan tatapan pada Meilin yang tampak masih setengah syok.

“Meilin, bisa kamu ceritakan apa yang terjadi?” tanya Yixing penasaran dan Meilin pun menatapnya sebelum menjawabanya.

“Kamu hanya harus tahu bahwa Hyerim itu gadis yang benar-benar kuat, berani, juga hebat.” itulah jawaban yang Meilin berikan dengan senyum tersanjung teruntuk seorang Kim Hyerim.

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

Hyerim bahkan tak mampu berkedip, tinggal menarik pelatuk pistol miliknya, Daniel sudah  akan mengirim Hyerim ke neraka. Gadis itu menelan ludah gugup dan membuat Daniel makin menyunggingkan senyum miring. Jangan tanyakan lagi keadaan Soojung yang jelas sudah ketakutan.

“It’s your choice lieutenant also your fate to die now in my arm, (ini pilihamu letnan juga takdirmu untuk mati ditanganku)”

Napas Hyerim menderu dengan tatapan marah terpancar dibola matanya, Soojung menatapnya nanar. Tak tahu harus berbuat apa, Hyerim hanya diam, pikirannya buntu ditambah bom yang sebentar lagi akan meledak. Hingga ujung mata Hyerim menangkap Meilin berjalan mengendap-endap dengan sebuah kayu ditangannya, gadis itu keluar dari ruang sanderanya. Rupanya gadis bermarga Hwang itu berhasil membuka ikatan ditangannya untuk kabur. Hyerim sedikit melirik ke arahnya dan dengan gerakan mata menyuruh Meilin segera melayangkan serangan pada Daniel sementara lelaki berdarah Amerika itu tidak menyadari kehadirannya. Meilin pun tiba di belakang Daniel dan langsung melancarkan aksinya.

‘Brak!’ 

Suara tersebut berasal dari kayu yang memukul kepala Daniel. Dikesempatan itu Soojung menggigit lengan kekar milik Daniel dan menendang tulang keringnya, hal tersebut menyebabkan pistol yang dipegang oleh Daniel jatuh ke tanah. Hyerim pun langsung memungut pistol tersebut dan dengan cekatan mengarahkan dua senjata tersebut kepada Daniel yang terkapar dan menatapnya dengan pandangan remang-remang.

“Oh shit! (Oh sial!)” terdengar umpatan dari mulut Daniel yang memegang belakang kepalanya dengan raut kesakitan.

“Lari, cepat kalian lari,” teriak Hyerim lalu Soojung langsung menarik tangan Meilin untuk lari dan bersembunyi di balik salah satu tembok. Bagaimanapun juga Soojung dan Meilin tidak bisa meninggalkan Hyerim sendiri.

“But my fate is not die in your arm, jerk. (Tapi takdirku bukan mati ditanganmu, brengsek)” Hyerim mendesis diiringi pelatuk pistol miliknya tertarik mencuatkan beberapa peluru ketubuh Daniel.

 Suara ‘jder’ beberapa kali terdengar meskipun darah mulai terlihat dari kemeja putih milik Daniel, namun Hyerim belum juga puas hingga tubuh lelaki barat itu mulai melemah dan seperkian detiknya menghembuskan napas terakhirnya. Hyerim menurunkan kedua senjatanya dan menatap tubuh Daniel yang terkapar penuh darah. Napas berat keluar dari mulut Hyerim, sementara Soojung juga Meilin masih setia mengintip aksi ‘membunuh’ itu.

Kepala Hyerim sedikit tertoleh ke arah dua sandera tersebut lalu berucap, “Anggap saja kalian tidak pernah melihat ini, sekarang lebih baik kita keluar secepatnya,” Hyerim pun mengucapkan kata yang sama dengan bahasa mandarin agar Meilin mengerti. Kemudian ketiganya langsung berlari ke pintu belakang untuk segera meloloskan diri.

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

 Selama perjalan, Hyerim hanya terdiam membiarkan Luhan ikut dalam mobil militer Korea Selatan. Lelaki itu terus memperhatikan wajahnya dan kadang kala membelai lembut paras cantik Hyerim, yang mana hal itu membuat gadisnya tersenyum tipis melihat binar kekhawatiran terpampang jelas dibola mata Luhan. Di tengah perjalanan yang masih ditutupi langit malam, tiba-tiba Hyerim mengeluarkan sesuatu dari saku celana seragam lapangannya.

“Ini milikmu ‘kan? Aku hampir menjatuhkannya ketika buru-buru bangun dari ranjang,” ucap Hyerim sambil menyodorkan kalung besi yang terpahat nama Luhan serta tanggal lahir lelaki tersebut. Hyerim menyunggingkan senyum tipis, begitupula dengan Luhan.

“Iya ini milikku. Terimakasih sudah menjaganya,” ujar Luhan yang lalu mengambil kalung tersebut dari cengkraman Hyerim.

“Di mana pun dirimu gugur, jangan sampai musuh mengetahui identitasmu. Di mana pun dirimu menghembuskan napas terakhir, biarkanlah seragammu menjadi kain kafanmu kala itu, biarkan namamu terkenang karena berjuang atas negaramu. Dan selalu ingat, hal tersebut jangan sampai terjadi karena aku selalu menantimu di sini untuk kembali,” Hyerim berucap demikian sambil menatap Luhan penuh arti, lelaki itu balas menatapnya dan mengangguk.

“Di mana pun dirimu berada, tolong jangan biarkan keras kepala dan watak nekadmu menguasaimu. Di mana pun dirimu berada, janganlah kamu hanya mengobati orang lain, kadang kala luka yang kamu rasakan pun perlu diobati dan jangan menahan rasa sakitnya. Ingatlah aku yang di sini selalu mengkhawatirkanmu,” balas Luhan dengan bola mata sendunya, lalu setelah itu menarik Hyerim dalam dekapan hangatnya. Keduanya tak peduli akan pasukan lain yang pura-pura tidak memperhatikan mereka sambil senyam-senyum. Yang Hyerim lakukan hanyalah membalas pelukan hangat Luhan.

Mobil militer yang membawa keduanya pun sampai ke pangkalan militer Korea Selatan. Para pasukan pun mulai berbondong-bondong turun dari truk militer dengan model bak terbuka itu. Luhan memutuskan turun juga kemudian mengulurkan tangan pada Hyerim yang hendak turun. Langsung saja Hyerim menerima uluran tangan Luhan dan Luhan pun langsung menariknya turun. Keduanya tersenyum sambil berjalan beriringan, hingga ketika Hyerim maupun Luhan menengokan kepala ke depan, terdapat Komandan Kim memandang mereka tajam. Hyerim seketika gugup lantaran mengetahui sebab akibat ayahnya menatapnya seperti itu.

Gyeonglye (hormat),” ucap Hyerim gugup disertai tangan terangkat untuk hormat. Luhan yang berdiri agak di belakang Hyerim juga melakukan penghormatan tersebut.

Tangan Hyerim pun mulai turun dan dirinya pun menelan ludah gugup. Seluruh perhatian pun tersita pada gadis itu apalagi Komandan Kim sedang berjalan mendekatinya. Yang dilakukan Hyerim adalah segera menegapkan tubuh dan beristirahat di tempat, hingga Sang Ayah pun berada di depannya. Komandan Kim memandang Hyerim penuh arti serta tersiat sebuah amarah didalamnya, lalu tangan kanannya pun terangkat dan melayangkan sebuah tamparan dipipi Hyerim hingga menimbulkan suara ‘plak’ yang cukup keras bahkan membuat kepala Hyerim tertoleh ke samping dengan bibir sedikit berdarah. Pasukan yang menyaksikan adegan itu melebarkan mata terkejut, begitupula Luhan namun dirinya memilih berdiam diri.

“Aku sudah dengar laporan dari komandan batalion. Katanya kau menerobos masuk ke lokasi penyergapan sandera tanpa perintah, bukannya begitu letnan?” ucap Komandan Kim dengan nada tegas.

Tampak tangan Hyerim memegang pipinya yang berdenyut nyeri, lalu kepalanya pun mulai tertoleh menghadap ayahnya dengan wajah meringis kesakitan. “Jal mothaesseo (aku bersalah),” ujar Hyerim sembari menunduk dengan tangan beristirahat di tempat.

Hyerim sadar dan tahu, dirinya bersalah walaupun berhasil menyelamatkan sandera. Dirinya tidak diperintahkan dalam tim penyelamatan sandera juga dirinya sendiri yang nekad menerobos masuk ke tempat musuh dan nyaris mati bila keberuntungan tidak berpihak padanya. Wajar bila ayahnya marah sebagai seorang komandan.

“Maka dari itu, kau akan mendapatkan sanksi, letnan. Saya pun sudah menentukan sanksimu, maka besok hari segeralah ke Taebaek. Di sana kau akan diberitahu sanski apa yang kau dapat dari komandan batalion karena malam ini saya harus kembali ke Korea,” seru Komandan Kim penuh ketegasan dan menatap Hyerim dalam. “Apa anda keberatan letnan?”

Hyerim mengangkat wajahnya yang sudah berantakan dengan ujung bibir terluka akibat tamparan beberapa waktu lalu, kemudian Hyerim menjawab dengan yakin. “Siap, tidak.” Hyerim pun mengangkat tangannya untuk hormat tatkala Komandan Kim bergegas pergi dari hadapannya.

Setelah itu, Minho pun menghampiri Hyerim dan memberikan tepukan menyemangati dibahu gadis itu. Tampak Hyerim hanya tersenyum kepada Minho kemudian berjalan pergi. Pasukan yang menonton sedaritadi hanya terdiam lalu memilih bubar. Luhan pun menatap dalam punggung Hyerim yang mulai menjauh. Bagaimanapun juga, Hyerim tetaplah salah.

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

Malam semakin sunyi lantaran para manusia sudah menjelajahi bunga tidurnya. Namun berbeda halnya dengan Kim Hyerim yang sedang membasuh mukanya dan sedikit menekan luka dibibirnya, karena itu juga ringisan tertahan keluar dari mulutnya. Keran di depannya masih setia menumpahkan isinya. Lalu Hyerim kembali membungkuk dan mulai berkumur-kumur dengan menampung air keran dikedua tangannya kemudian mulailah aksi kumur-kumurnya itu. Setelah selesai, Hyerim menegakan badan dan berbalik namun dirinya terkejut mendapati Luhan sudah berdiri di sebelahnya serta lelaki itu menampakan senyumannya.

Hyerim tersenyum meringis sebelum berkata. “Bila kamu ke sini untuk menghiburku, itu tidak ada gunanya karena aku bisa menghibur diriku sendiri. Dan bila kamu ke sini untuk menceramahiku, aku sudah sadar dari awal bahwa perbuatanku salah.”

Mendengar beberapa kata tersebut keluar dari mulut gadisnya membuat Luhan hanya menyunggingkan senyum tipis. “Aku tahu, karena itulah Hyerimku,” ucapnya membuat Hyerim memandangnya lurus dan ikut tersenyum tipis, netra Luhan pun jatuh keluka Hyerim yang terdapat diujung bibirnya. “Maka dari itu, aku ke sini untuk mengobatimu.” lanjut Luhan dan tanpa mendengar jawaban Hyerim, Luhan langsung menarik lengan gadisnya untuk duduk di bebatuan yang ada di sana.

Singkatnya, Luhan pun sudah duduk di hadapan Hyerim dengan keduanya berposisi menyamping serta saling berhadapan. Hyerim tampak meringis pelan ketika Luhan menekan luka dibibirnya dengan kapas yang sebelumnya sudah ia beri obat merah. Setelah itu, Luhan membuang kapasnya dan mengelus ujung bibir Hyerim dengan jempol kanannya, lalu menyunggingkan senyum yang membuat Hyerim menatapnya datar.

“Kamu benar-benar mencari kesempatan,” Hyerim menggerutu kemudian menggigit ujung jempol Luhan.

Luhan pun langsung berteriak dengan nada kesakitan dan wajah yang juga kesakitan, dirinya berusaha menarik jempolnya namun Hyerim makin menggigitnya. “Akh! Hyerim! Sungguh aku tidak berniat begitu.”

Seruan Luhan yang penuh dengan kesakitan itu membuat Hyerim iba dan melepaskan giginya yang menggigit ujung jempol Luhan. Langsung saja lelaki itu menarik jempolnya dan meniup-niupkannya didepan mulutnya. Hyerim pun hanya mendengus sambil menatapnya setengah memicing.

“Tidak berniat begitu tapi kamu melakukannya,” gerutu Hyerim yang membuang pandangan ke depan.

Setelah itu hening menyapa keduanya tatkala Luhan masih mengurus jempol korban gigi Hyerim dengan masih meniup-niupinya. Dan intensi Hyerim tersita penuh pada kobaran api unggun kecil yang berada beberapa jengkal di depannya, Luhan tadi sempat menyalakan api tersebut untuk menghangatkan badan. Sangking larutnya, Hyerim tidak mengetahui Luhan sudah memberhentikan aktifitas meniupi jempolnya serta berganti menjadi menatapi wajahnya dari samping. Fokus Luhan tertarik penuh pada rambut Hyerim yang tertata sanggul namun terlihat beberapa helaiannya acak-acakan ke mana-mana.

“Sepertinya lebih menarik api unggun daripada dirimu,” tiba-tiba Hyerim menggumam demikian sambil terus memandangi api unggun di depannya.

Luhan hanya mengabaikan gumamam Hyerim dan tersenyum tipis, kemudian dirinya menarik diri lebih mendekat setelah itu membuka ikatan pada rambut gadisnya. Merasa ikat rambutnya dilepas, Hyerim langsung menoleh pada Luhan yang serius menata surai hitam miliknya dengan mimik serius kemudian Luhan perlahan mengikatkan rambut Hyerim dengan ikat rambut berwarna abu-abu yang ia lingkarkan dipergelangan tangan kanannya. Menyaksikan aksi manis Luhan membuat Hyerim tak tahan menampilkan senyumannya.

rambut-song-hye-kyo

“Begini baru cantik,” Luhan menggumam sambil tangannya mengelus-elus ujung kepala Hyerim lengkap dengan senyumannya.

“Begitu? Tapi lebih cantik begini,” balas Hyerim yang langsung menarik ikat rambutnya dan membiarkan rambut indahnya tergerai, lalu dirinya menyibak beberapa helai rambutnya disertai senyum manisnya. Aksinya membuat Luhan bengong seketika, tercampur akan rasa kagumnya atas kecantikan yang diberikan Tuhan pada kekasihnya.

“Eh, kamu ini membuat tataan rambut yang kubuat jadi berantakan,” namun gerutuan sebal dengan raut jengkel lah yang Luhan tunjukan.

Dirinya pun langsung buang muka ke depan dengan raut kesalnya, akan tetapi Hyerim malah tersenyum lebar dan dengan manjanya bergelayut dilengan kanan Luhan dan menaruh kepalanya dibahu lelaki itu.

“Lu, kamu ‘kan tahu sendiri aku keras kepala. Aku bahkan sering bertengkar dengan mendiang ibuku. Maka mau diceramahi berkali-kalipun aku akan tetap seperti ini. Apa yang akan kamu lakukan?” Hyerim melirik wajah Luhan dengan ujung matanya. Tampak lelaki itu menampilkan mimik berpikir.

“Aku akan memukulmu agar kamu sadar,” jawaban Luhan membuat Hyerim terkekeh walau tidak ada unsur lucu terselubung dalam jawaban prianya itu. Luhan pun menatap Hyerim bingung dan bertanya. “Kenapa?”

Hyerim menggeleng kemudian menegakan tubuhnya dan membuat wajahnya dengan wajah Luhan berhadapan. “Kamu tahu, aku tidak banyak bisa melakukan apapun. Memasak tidak, apa-apa tidak. Aku hanya bisa melakukan hal yang berada dibidangku seperti menjadi dokter,” Hyerim menggumam dengan mata menerawang dan Luhan tampak memperhatikannya. “Maka dari itu aku takut kamu tidak bisa menerimaku.”

Lanjutan ucapan Hyerim membuat Luhan mendorong dahi gadisnya dengan telunjuk kanannya. Hyerim tampak memekik protes karena ulah Luhan itu. “Kamu pikir aku ini apa, tentu aku tidak sepeti itu. Walau ibuku sangat seleksi dan perfeksionis untuk masalah menantunya.”

Kata-kata Luhan membuat Hyerim memandangnya dengan mata melebar dan wajah was-was. “Serius? Ibumu begitu? Ahhh… aku harus bagaimana?” Hyerim tampak resah dengan bibir dimajukan dengan wajah putus asa.

Tampak Luhan membelakangi Hyerim untuk mengambil kotak bekal yang ia bawa bersama dengan obat-obatan yang dipakainya untuk mengobati Hyerim tadi. Senyum terpatri dicurva bibir Luhan lantaran reaksi Hyerim akan kata-katanya tadi. Lalu Luhan membalikan tubuhnya dan Hyerim langsung mengangkat kepala dengan binar penasaran pada kotak bekal yang Luhan keluarkan.

“Aku membawakan bekal yang sehat untuk gadis di sebelahku sekarang dan aku akan menyuapinya langsung agar tubuhnya sehat dan tidak terkena anemia,” Luhan berucap manis diiringi tangannya membuka kotak bekal yang terletak di atas pahanya.

Hyerim mendengus geli memandang Luhan dengan senyuman menahan tawa, jelas-jelas kata-kata itu adalah kata-kata yang sering kali Hyerim ucapkan ketika keduanya makan bersama di klinik dimasa-masa keduanya mulai merajut hubungan kasih.

“Menggelikan.” ucap Hyerim tapi Luhan hanya makin melebarkan senyumannya dan mulai mengambil sumpit yang terletak didalam kotak bekal juga, saat itu pun Hyerim memandang isi kotak bekalnya dan menemukan jenis makanan yang tidak ia sukai. “Ah, buang sayurnya. Aku tidak suka,” pekik Hyerim dengan raut seakan jijik dan anti sekali pada makanan itu.

Luhan mengangkat kepalanya dan memandang Hyerim datar tatkala gadis itu masih menunjuk-nunjuk sayuran di kotak bekal Luhan dengan raut jijiknya. “Kamu ini dokter, tapi anti sekali dengan sayuran.”

Hyerim mendengar gerutuan itu dari mulut Luhan, langsung saja dirinya memandang Luhan jengkel dan bersikukuh tak akan mau melahap sayuran itu. “Aku memang dokter, tapi kalau tak suka mau bagaimana lagi!” seru Hyerim jengkel dengan pipi mengembung. Luhan mengangguk sambil bergumam.

“Baiklah, aku akan membuang sayurannya…” ucap Luhan membuat Hyerim memandangnya antusias dan juga perasaan senangnya.  “Tapi kamu harus mengucapkan kata ‘aku mencintaimu’ dulu.” Luhan menantang dengan senyum jahilnya. Lagi-lagi Hyerim memandangnya datar lalu menarik napas dan menghembuskannya.

“Oke,” ujar Hyerim dan senyum kemenangan terukir diparas tampan Luhan. “Sarang─”

Luhan langsung menyumpitkan satu sayur kangkungnya dan dengan segera memasukannya kemulut Hyerim yang terbuka lebar ketika mengucapkan kata cinta itu dan membuat perkataan gadis itu terpotong. Senyum tanpa dosa Luhan lihatkan sementara Hyerim sempat terkejut dan dengan raut jengkel dan pipi mengembung, Hyerim mengunyah sayuran dalam mulutnya itu.

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

“Luhan-ah, janji tidak akan meninggalkanku?” disela makannya Hyerim bertanya.

“Aku janji,” jawab Luhan setelah berpikir sejenak dan Hyerim tampak tersenyum mendengarnya. Namun pikiran Luhan melayang akan restu dari ayah kekasihnya, raut riangnya luntur perlahan. “Hyerim-ah, apa kamu pernah berpikir untuk keluar dari militer?”

Hyerim tampak berpikir dan menggeleng. “Entah. Antara terpaksa dan tidak aku menuruti ayahku untuk menjadi sepertinya,” gadis Kim itu menjawab sambil mengangkat setengah bahunya, Luhan tersenyum tipis dengan bola mata sayu. Kemudian Hyerim menatapnya seakan menyelidik. “Jangan pernah lepaskan seragammu, oke? Atau aku akan membunuhmu segera.” Hyerim mengancam dengan tatapan tajam.

“Kamu juga jangan melepas seragammu,” ujar Luhan sambil terkekeh tanpa suara dan mengacak surai milik kekasihnya.

“Tidak mau,” Hyerim sedikit menjulurkan lidahnya lalu bergelayut manja dilengan Luhan serta meletakan kepala dibahu kekasihnya itu. Luhan hanya menggeleng pelan dan menampilkan raut tak percayanya.

.

.

.

Luhan pun menidurkan tubuh Hyerim secara perlahan di ranjang barak milik gadis itu. Tampak gadisnya sudah tertidur pulas. Luhan tersenyum memandangi wajah tidur Hyerim dan mengelus pipi Hyerim sejenak dengan posisi dirinya duduk di ujung ranjang. Obrolannya dengan Hyerim tadi teringat kembali dibenaknya membuat elusan tangannya pada pipi gadisnya terhenti.

“Ya, aku janji tidak akan meninggalkanmu,”

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

“Letnan Kim Hyerim, karena pelanggaran yang kau buat. Kenaikan pangkatmu akan ditunda selama satu tahun juga gajimu akan dipotong selama tiga bulan. Apa kau keberatan?” briton milik Komandan Batalion yang duduk di mejanya menatap Hyerim yang istirahat di tempat, terdengar.

Hyerim tampak menggerakan tangan untuk bersikap tegap dan menjawab. “Siap, tidak,”

Komandan Batalion tampak menghela napas dan Hyerim sudah kembali istirahat di tempat. “Baiklah, sekarang kembali lanjutkan pekerjaanmu untuk membantu para relawan ke desa yang terjangkit penyakit.”

Hyerim kembali bersikap tegap setelah Komandan Batalion secara tak langsung mengusirnya secara halus. “Siap, hormat,” Hyerim menyahut dan mengangkat tangan untuk hormat kemudian dirinya angkat kaki dari tenda militer yang merupakan tempat Komandan Batalion. Dengan senyumannya, Hyerim pun memulai pekerjaannya untuk membantu para relawan.

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

Desa yang berjarak sekitar beberapa kilo meter dari pangkalan militer tersebut dinyatakan terjangkit penyakit. Para warganya mengalami kekurangan beras dan makanan yang sehat. Maka tak heran busung lapar menjadi penyakit nomor satu di desa tersebut. Para relawan dari dua negara tersebut pun turut andil membantu. Mereka pun sudah sampai di tempat tujuan.

“Ah memang benar desa ini banyak sekali kuman penyakitnya,” perkataan seorang dokter bernama Jaehwan itu terdengar. Para relawan pun memakai masker untuk berjaga-jaga.

“Tidak usah banyak bicara, lebih baik lakukan pemeriksaan segera,” Soojung menyahut sambil meninju pelan lengan Jaehwan. Lelaki itu hendak melawan Soojung namun langsung Taemin cegah.

“Sudahlah. Kita sebagai tim relawan, mari mulai memeriksa warga di sini,” Taemin yang selaku ketua tim langsung memberi pengarahan. Tim tersebut pun langsung berpencar dan mendekati warga yang sakit, mereka mendahulukan memeriksa anak-anak.

Di sisi lain, Lian sedang sibuk memeriksa anak lelaki yang berada dipangkuan ibunya. Stetoskopnya bergerak ditubuh anak tersebut untuk memeriksanya. Setelah itu, Lian melepas stetoskopnya dan memerika mata anak tersebut dengan melebarnya menggunakan jempol dan telunjuknya.

“Aduh, anak ini sepertinya menelan sesuatu sampai perutnya sakit,” gumam Lian dengan bingung serta menggaruk-garuk belakang kepalanya. Dirinya sulit berkomunikasi dengan ibu anak lelaki ini karena kendala bahasa.

Di jarak yang tidak terlalu jauh, Hyerim berdiri dan memperhatikan Lian yang kebingungan. Karena penasaran, Hyerim berjalan mendekati gadis China itu yang berusaha berkomunikasi dengan bahasa tubuh walau hasilnya malah Sang Ibu dari anak lelaki yang ia periksa tidak mengerti apa yang hendak ia sampaikan. Kening Hyerim pun berkerut bingung dan tampak Lian putus asa saat ini.

“Ada apa?” akhirnya Hyerim bertanya membuat Lian mendongak menatapnya lantaran posisinya yang berjongkok di bawah Hyerim.

Lian tampak putus asa dengan wajahnya yang seperti itu, lalu dirinya menjawab tanpa menatap Hyerim. “Aku sulit berkomunikasi dengan ibu anak lelaki ini. Padahal aku ingin bertanya apakah anak ini memakan sesuatu, soalnya ada yang tidak beres dengan perutnya.”

Hyerim pun tahu pokok masalahnya, lalu dirinya teringat sesuatu dan meraih sebuah benda di sakunya. Ternyata Lian memperhatikan gerak-gerik Hyerim yang tengah menggeledah ponselnya, lalu dirinya menghubungi seseorang dan tampak menunggu panggilannya dijawab.

“Ah Luhan?” mata Lian menyipit antara marah atau apa, karena dirinya mengira Hyerim ingin membantunya namun masih sempat-sempatnya gadis ini menghubungi kekasih tercintanya. “Bisa kamu membantuku? Jangan bercanda, aku tidak mau mengucapkan kata itu sekarang!” raut Hyerim berubah sebal seketika dan Lian jadi menampilkan air wajah penasaran. “Bantu aku berkomunikasi, oke? Baiklah, aku mencintaimu sayang, puas?” Lian terkekeh geli tanpa suara mendengarnya.

“Ya, cukup katakan apa yang anak anda makan. Aku akan menghidupkan speakernya,” lalu Hyerim menjauhkan ponselnya dan menyodorkannya tepat di depan ibu anak lelaki yang masih setia didekap olehnya, lalu Hyerim mengaktifkan mode speaker. “Cepat bicara,” titah Hyerim.

“Hallo Nyonya, saya ingin bertanya. Karena kekasihku yang sangat cerewet dan sangat mencintaiku ini adalah seorang dokter, dirinya ingin tahu apa yang anak anda makan. Karena ada masalah dengan perutnya. Oh ya, anak anda laki-laki atau perempuan? Bila perempuan, hati-hati bila dirinya sangat cantik karena kekasihku bisa marah dan tidak mau menyembuhkannya. Bila laki-laki, jangan jatuh cinta padanya ya, karena dia sudah sangat mencintaiku,” kata-kata Luhan dalam bahasa Urk itu terdengar. Ibu anak lelaki tersebut tampak terkekeh mendengar untaian frasa Luhan tentang Hyerim.

“Luhan berkata panjang lebar sekali sepertinya,” gumam Lian dengan bingung. Hyerim juga tampak bingung, tapi menahan diri agar tidak meneriaki Luhan karena pasti lelaki itu membicarakannya dan dapat dilihat karena ibu-ibu di depannya ini tertawa.

Lalu Sang Ibu menjawab dengan bahasa Urk tentang pertanyaan Luhan tadi. Setelah selesai berkata, suara Luhan menggunakan bahasa Korea pun terdengar menerjemahkan. “Katanya anaknya sempat menelan beberapa kerikil sangking tidak ada beras dan makanan yang layak. Ini terjadi selama tiga minggu lebih Si Anak memakannya terus-menerus, pasti ada beberapa kerikil didalam perutnya yang belum keluar, serta anaknya mengalami masalah pencernaan akhir-akhir ini.”

Lian tampak mengusap rambut gusar dengan raut frustasi dan menggumam, “Oh astaga,”

Hyerim pun jadi menatap anak ini khawatir, lalu dirinya menyahuti Luhan. “Baiklah terimakasih atas terjemahaanmu yang pasti menggelikan. Bilang pada ibu ini bahwa anaknya akan kubawa ke medicube,” Luhan pun terkekeh pelan lalu mengucapkan apa yang Hyerim perintah pada Si Ibu  anak lelaki tersebut. Ibu tersebut menyetujuinya kemudian panggilan pun terputus karena dirasa jasa Luhan sebagai penerjemah sudah cukup.

Setelah menaruh ponselnya, Hyerim ikut berjongkok di samping Lian dan memperhatian anak lelaki tersebut. “Aku yang akan membawanya ke medicube, karena masih banyak pasien yang akan kamu urus di sini.” Lian tampak setuju saja karena dirinya tim inti relawan yang bergerak langsung memeriksa warga di sini.

“Baiklah…”

“Uhuk, uhuk, hoek…” Hyerim dan Lian langsung mengalihkan pandangan ke anak lelaki tersebut yang sudah batuk-batuk lalu mengeluarkan darah dari mulutnya. Kedua mata dokter tersebut melebar kaget.

“Oh ya Tuhan,” desah Lian yang lalu langsung mengambil stetoskop dan memeriksa keadaan anak tersebut yang masih muntah darah. Hyerim memperhatikan dengan air wajah khawatir, sementara Si Ibu sudah berseru-seru menggunakan bahasa Urk yang tidak Hyerim mengerti dilengkapi dengan wajah menahan tangis. “Hyerim-ah, cepat bawa dia ke medicube. Anak ini harus dioperasi segera,” ujar Lian sambil menoleh sekilas ke Hyerim dengan wajah panik.

“Baiklah, serahkan padaku,” Hyerim langsung mengangkat anak tersebut dengan menggendongnya secara bridal.

Letnan bernama lengkap Kim Hyerim ini pun berlari diikuti ibu Si Anak di belakangnya. Lian memperhatikannya dengan wajah was-was, lalu dirinya menetralkan diri dan mulai pergi mencari pasien yang lain. Namun baru saja ingin berbalik, Lian mendengar suara rintihan Hyerim, kemudian dirinya langsung menatap tempat terakhir dirinya melihat sosok kekasih Luhan itu.

“Akh, ya ampun,” Hyerim merintih karena anak lelaki tersebut makin kejang-kejang dan menggigit pergelangan tangannya sangat kuat hingga terluka. Sambil menahan rasa sakitnya, Hyerim kembali berjalan dan menaiki sebuah truk militer. Lian yang masih harap-harap cemas pun memilih kembali melanjutkan pekerjaan di desa ini.

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

“Tolong, siapkan ruang operasi!” teriakan Hyerim menggelegar tatkala dirinya tiba di medicube. Masih menggendong anak lelaki yang kejang-kejang tersebut, Hyerim mempercepat langkah untuk menuju ruang operasi.

“Hyerim-ah, apa apa?” Taemin yang ternyata kembali juga ke medicube dan sedang memeriksa seorang pasien, bertanya. Dirinya menatap Hyerim dengan raut khawatir.

Oppa, pasien ini menelan beberapa kerikil. Sepertinya harus dirontagen terlebih dahulu juga kita mungkin sebaiknya melakukan test darah, takut-takut penyakit lain ada ditubuhnya, namun kita harus mengoperasinya sekarang. Kerikil dalam tubuhnya membuat dirinya muntah darah,”

Taemin pun langsung ambil tindakan dengan menyuruh para tim medis merontagen serta mengambil darah pasien tersebut setelah mendengar perkataan Hyerim. Lalu dirinya pun menyuruh Hyerim memasuki ruangan rontagen dengan menggendong pasien tersebut. Rontagen pun dilaksanakan secepat kilat disertai pengambilan darahnya juga karena anak tersebut akan dioperasi sekarang juga.

“Aku yang akan membantumu mengoperasinya. Siapkan ruang operasi,” Taemin berujar demikian dan menyuruh tim medis menyiapkan ruang operasi. Hyerim mengucapkan kata terimakasih yang dibalas Taemin dengan senyumannya.

Setelah siap dengan ruang operasi dan yang lainnya. Hyerim dengan mengenakan baju operasinya bersama Taemin pun mulai melaksanakan operasi tersebut. Hanya ada mereka berdua. Ini dikarenakan mereka kekurangan dokter di medicube yang sebagian besarnya memeriksa para warga di desa terjangkit virus penyakit barusan. Operasi mulai berjalan dengan lancar, keduanya tampak serius walau sebenarnya ini kala pertama keduanya menjadi partner dalam sebuah operasi. Hingga…

‘Srek’

“Oh ya ampun, maaf sepertinya aku menyentuh pembuluh yang salah,” Hyerim mengutarakan maafnya karena sepertinya dirinya menyentuh pembuluh yang salah hingga menyebabkan darah muncrat keluar dan mengenai sebagian wajah dan pakaiannya.

“Tidak apa-apa, bisa kuatasi,” balas Taemin namun fokus Hyerim sudah terjatuh penuh akan sesuatu dijari-jari tangannya. “Ada apa?” Taemin kembali bertanya dibalik masker operasinya sambil menatap Hyerim yang bergeming.

“Sepertinya tumor dikelenjar getah beningnya pecah,” gumam Hyerim.

“Kelenjar getah bening?” seru Taemin bingung dengan dahi mengerut.

“Napasnya dangkal dan detak jantungnya melemah. Pasti kerikil tersebut menyebabkan pendarahan internal. Namun…” Hyerim mengangkat pandangan ke arah Taemin yang tampak melebarkan mata dengan pikiran ke mana-mana.

“Pendarahan internal pasti karena kerikil. Tapi bagaimana dengan hipertrofi kelenjar limfatik?” Taemin berkata sambil menatap Hyerim. Keduanya beradu tatap dengan was-was.

“Dia batuk, kesulitan bernafas, dan ada juga hipertrofi dikelenjar getah bening. Oppa, jangan-jangan pasien ini…”

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

“Ya ampun, hasil pengecekan darahnya mengatakan pasien tadi terkena virus flu yang bertajuk virus M3.” pekikan Dokter Soeun terdengar dengan wajah terkejutnya, lalu dirinya langsung berlari menuju ruang operasi.

Dilihat dari pintu berkaca itu, Hyerim dan Taemin masih berusaha akan operasi tersebut. Dengan panik, Soeun menggedor pintu tersebut mengakibatkan intensi kedua dokter itu teralih padanya. Air wajah panik Soeun langsung membuat Hyerim dan Taemin sadar akan pikiran keduanya beberapa menit yang lalu sudah akurat.

Sunbae, jungwi, keumanhae, kumanhae jigeum. (senior, letnan, berhenti, berhenti sekarang)” Soeun berteriak sambil menggedor-gedor pintu kaca tersebut. “Pasien itu terkena virus flu tipe M3,” pekikan Soeun pecah kembali dan tampak Hyerim juga Taemin menghela napas, dan benar dugaan keduanya tersebut.

“Kami sudah tahu dan lebih baik kabarkan para tim relawan yang ada di desa anak ini berasal. Mungkin yang terjangkit virus ini sangat banyak di desa tersebut,” balas Hyerim sedikit berteriak. Kemudian dirinya kembali mebalikan kepala pada Taemin, walau Soeun masih memekik panik akan aksi keduanya yang nekad tetap mengoperasi. “Kita harus selesaikan ini oppa,” Taemin pun mengangguk yakin menjawab perkataan Hyerim.

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

Soojung yang sedang memeriksa seorang nenek tua pun mendapat sebuah pesan dari ponselnya. Dengan perasaan jengah karena ada saja yang meganggunya tatkala dirinya berkerja, Soojung menarik ponselnya itu dan langsung membuka inbox pesan. Lalu matanya langsung membulat sempurna membaca pesan dari Soeun.

“Semuanya, hati-hati ada virus M3 di sini!” teriak Soojung sambil menatap sekitar. Para dokter relawan pun langsung terkejut mendengarnya. “Kita akan mengiring warga di sini menuju medicube untuk dikarantina,” lanjut Soojung kembali. Perkataan gadis Jung itu merupakan sebuah perintah yang lalu langsung dilaksanakan para relawan.

“Virus M3?” gumam Lian tak sengaja mendengar ucapan Soojung dengan raut tanpa ekspresinya.

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

“Apa katamu?”

Di sebuah bangunan di pangkalan militer China, tampak Luhan sedang berteleponan dengan seseorang dan satu tangannya tampak berkacak pinggang. Raut wajahnya sedikit bingung namun ada perasaan takut dalam hatinya. Luhan mendengarkan secara saksama apa yang dijelaskan Lian ditelepon.

“Jadi, pasien yang Hyerim bawa tadi terkena virus M3. Hyerim sedang mengoperasinya sekarang.”

Luhan tampak menggepalkan tangannya yang tidak memegang ponsel guna mentegarkan diri. Di belakangnya, Yixing menatap Luhan khawatir. “Virus M3 itu seperti apa?” tanya Luhan dengan nada lambat-lambat.

“Virus M3 adalah salah satu virus yang diidentifikasi oleh WHO. Virus M3 termasuk dalam virus flu. Tipe virus M3 berarti sedikit lebih baik daripada virus ebola. Kemungkinan selamat dari penyakit ini adalah lima puluh persen, banyak sekali pasien yang berakhir meninggal.”

Tubuh Luhan seketika menegang mendengar penuturan Lian, apalagi ketika gadis ini mengatakan. “Hyerim kemungkinan tertular penyakit ini, pasien bahkan sempat menggigit pergelangan tangannya. Kemungkinan tertular sangat besar.”

Luhan menurunkan ponselnya dari telinganya dengan pandangan kosong. Di sebelahnya, Yixing menggguncang tangannya dan bertanya dengan raut khawatir. “Kapten, ada apa?”

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

Operasi telah selesai dan keadaan pasien mulai stabil. Hyerim yang baru saja diambil darah pun berdiri dengan memegang kapas kecil yang menjadi tambalan bekas tempat darahnya diambil. Taemin pun dikarantina juga karena melaksanakan operasi pada pasien terkait. Hyerim menatap Taemin yang duduk di depannya, lelaki itu tampak santai seakan tidak terjadi hal yang buruk.

Oppa, apa kau takut?” tanya Hyerim membuat Taemin mengangkat kepalanya dan tersenyum tipis.

“Ini semua takdir, Hyerim. Seperti dirimu yang harus bertemu lagi denganku di sini, bukannya itu takdir?” goda Taemin membuat Hyerim meringis menahan tawa. Tapi seketika pandangan gadis itu menerawang akan sosok seseorang, Luhan.

“Tapi bila boleh jujur, aku takut. Takut jika aku tidak bisa bersama Luhan lagi. Ah pemikiranku memang sempit,” gumam Hyerim dengan senyum paksanya dan Taemin hanya membalasnya dengan senyuman tipis.

Di lain sisi, Luhan tampak berjalan dengan langkah lebar memasuki medicube Korea Selatan. Di belakangnya, Yixing mengekor dengan raut panik juga sama halnya dengan Luhan. Lelaki Lu itu sudah menyisir pandangan ke seluruh medicube demi mencari informasi akan Hyerim. Beberapa pasang mata menatapnya heran, hingga netra Luhan menatap sosok Minho.

“Minho-ssi,” seru Luhan yang langsung menghampiri Minho yang sedang diambil darah. Kapten Choi itu langsung menoleh pada Luhan dan melakukan penghormatan seadanya.

“Yo, ada apa teman?” sahut Minho riang seperti biasanya dengan senyum lebar. Namun kontras dengan Luhan yang memasang wajah khawatir tingkat dewa. Minho langsung mengganti senyumnya dengan senyum datar serta raut wajah lesu. “Pasti Hyerim ‘kan? Ah gadis ini, selalu saja terluka,” Minho mendesah tak habis pikir akan rekannya yang sangat kepala batu itu.

Luhan menatap Minho lekat dan penuh harap, kedua jari tangannya menyatu dan bergerak-gerak resah. Yixing pun sudah berdoa yang terbaik untuk Hyerim didalam hati. “Hyerim mana? Apa dia sudah dikarantina? Bagaimana hasilnya?” Luhan langsung bertubi-tubi bertanya, Minho tampak menunduk lalu mengangkat kembali kepalanya diiringi tangannya menepuk-nepuk bahu Luhan.

“Hasilnya sudah ada dan Hyerim…” Minho memberhentikan ucapannya membuat Luhan melebarkan mata penasaran.

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

“Masalahnya aku terkena gigitan pasien, kemungkinan sangat besarlah untukku tertular virus M3,” Hyerim yang sekarang memilih duduk di sebelah Taemin tampak menggumam dengan nada lesunya. Gadis berpangkat letnan ini pun melirik sekilas bekas luka dari gigitan pasiennya yang sudah mengering dan diobati beberapa waktu yang lalu.

“Apa Luhan akan menjauhimu karena ini?” Taemin menatap Hyerim dari samping, gadis itu tampak menunduk dan memainkan jari-jari tangannya yang berada diatas pahanya. “Luhan pasti akan bersamamu apapun yang terjadi.”

Setelah perkataan Taemin itu, secara tiba-tiba pintu ruang operasi menjeblak terbuka. Luhan lah yang membukanya dengan langkah lebar-lebar. Di belakangnya ada Yixing dan Minho yang tampak terengah dan memegang pinggang mereka lantaran lelah mencegah Luhan. Hyerim membelalakan mata begitupula Taemin apalagi saat Luhan berjalan ke arahnya tanpa ekspresi apapun. Tubuh Hyerim sudah berdiri diikuti Taemin, detik kedepannya, Luhan langsung memeluk gadis bermarga Kim itu membuat Hyerim tambah tercengang.

“Kamu ini apa-apaan? Aku sedang dikarantina, Lu,” seru Hyerim terselip rasa amarah namun Luhan malah menariknya kedalam dekapannya lebih dalam.

“Diamlah, dengarkan kata kaptenmu ini,” balas Luhan dengan mata mulai berkaca-kaca. Hyerim pun dilanda rasa bingung namun tak membalas pelukan Luhan sama sekali. Minho, Yixing, juga Taemin hanya jadi penonton dadakan keduanya, hanya Minho dan Yixing yang menatap pasangan itu prihatin.

“Kamu ini bukan kaptenku. Kamu ini harusnya tahu aku sedang dikarantina. Aku bisa jadi tertular…” Hyerim yang hendak menumpahkan seluruh emosinya langsung menghentikan ucapannya ketika menyadari sesuatu. Pandangan bola matanya kosong menyebabkan Minho juga Yixing tambah menampilkan iris kasihan padanya. “A… ku… po.. sitif… tertular?” gumam Hyerim dengan sedikit tersendat, bola matanya mulai berkaca-kaca.

Taemin pun langsung menampilkan raut kagetnya karena meyakini opini Hyerim tadi benar, ketika dokter bermarga Lee itu melirik Minho dan Yixing. Taemin semakin yakin bahwa Hyerim tertular. Bahkan Luhan tidak menjawab pertanyaan Hyerim dan malah mulai menjatuhkan setitik air matanya.

dots-ep10-jin-goo-kim-ji-won-2

─To Be Continued─


Sebenernya males ngoceh mengingat ane postnya jam 3 pagi waktu Eropa. Jadi intinya mau agak rajin post FF ini (rencananya) dan mulai nulis yang S2nya (yang plotnya masih aku rahasiain) semoga aja lancar karena This Love udah nangkrak sampe chapter akhir di laptop tapi gak aku publishin karena akan ada S2 yang belum aku tulis apa-apa, kemudian banyak utang yang belum lunas /tabok diri dewe/

Di sini aku paling suka adegan di api unggun, aih dikuncirin, diobatin, disuapin. LUHAN GOT ME SEKALIH.

Btw, bila kalian merasa sedih lagi maapkan aku LOL, FF ini emang banyak mengaduk emosi ternyata. Masalah kok aku ngikut di dramanya ada virus M3 juga? Karena aku butuh buat plot cerita.

Ayo komen ya, maafkan akan typo. Aku ngeedit kebut ini juga udah jam 3, mau bobo gaes.

—Calonnya Mas Luheen,

Abang tukang cocacola di Hongkong,

HyeKim—

Advertisements

Author:

A tinkerbell who dream to be Luhan's future wendy — Also an amature author, k-drama trash, k-running man freak, eternal ELF, ahjussi and korean actor addict in the same time

12 thoughts on “FF : This Love – Chapter 6

  1. Nyawa hyerim hampir aja melayang katena mau ditembak dengan daniel dan akhirnya hyerim selamat. Mereka romantisan didrkat api unggun, luhan yang ngikat rambut hyerim dan nyuapin hyerim tapi seketika ada masalah lagi yaitu hyerim yang terkena virus M3. Apa hyerim akan selamat lagi kali ini ? Semoga aja hyerim selamat.

    Liked by 1 person

    1. Yap setelah tegang-romantisan manis depan api unggun sambil diiketin eh si hyerim malah terkenan penyakit m3 pukpukpuk, semoga selamat ya semangat hyerim-luhan /tebar conveti

      Like

  2. Btw dek yang awal chapter typo, oww aku suka adegannya adegannya mirip sama dramanya cuma ini kebalikannya yang nylametin si hyerim, bukan lu han, uhh lu han semakin tua, semakin ganteng sekaleeehh ohh helloooooooo lulu :V ngk kuat deh kalau lihat dia beneran kissed ~__~

    Liked by 1 person

    1. Si typo luput dari pengamatanku ahahah. Tapi udh aku benahi. Iyaa ahahah di sini si hyerim uang beraksi /loh/

      Dia udh punya first kiss loh kak btw pas jaman SMA :v jadi santai aja liat dia kisseu tapi belom tentu juga sih di dramanya lagian aku gak minat nonton =_= btw ff ini udah update chapter lanjutannya, sekalian ingetin sambil bales komen ahah

      Liked by 1 person

  3. uh sedih lagi aku baca ceritanya, haruskah seperti ini eonni? harus kah??😞
    mereka senengnya dkit sedihnya banyak, knapa selalu sedih sedih yg sering trdengar eonni, kpan senengnya. aku smpai ndak tdur pagi😭 kalian pasti bisa melewatinya,semoga dg ini papanya hyerim mrestui mreka tnpa. ada embel” permintaan. next chap aku tunggu eonni, jngan lama” eonni updatenya #maksa💃😫😁

    Liked by 1 person

    1. Jangan sedih cupcupcup. Haruskah gini? Iya harus biar cinta mereka kuat /musnah aja dikau nak/
      Iya yak ini mellodrama banget ya banyak sedihnya ahaha. Senengnya nanti loh nanti.

      Syutt yang papanya Hyerim 😂😂 lanjutannya udah ada sayang maaf lama update u,u

      Like

  4. Seru dek ceritanya,, ada adegan romantisnya, deg- degannya,, Luhan selalu sosweet 😭, dia care bnget ama hyerim waktu tau hyerim kena virus M3, semoga aja hyerim selamat 🙏 semangat buat next chapnya dek,, fighting 🙆🙆

    Liked by 1 person

Write ur Love Letter . . . <3

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s