Posted in AU, Chapter, Comedy, Fanfiction, FF : This Love, PG-15, Romance, Sad

FF : This Love – Chapter 7

This Love Chapter 7

©2017 HyeKim’s Fanfiction Story

Starring With : Luhan as Luhan || Hyerim (OC) as Kim Hyerim

Genre : AU, Romance, slight!Sad, a bit Comedy || Lenght : Chapter || Rating : PG-15

Poster By : IRISH @ Poster Channel

Previous in This Love (Prolog — Chapter 6) :

⇒ Click This ⇐

Summary :

Ketika 2 pasukan tentara dari negara berbeda disatukan dalam lika-liku hubungan cinta. Keduanya dipertemukan namun jarak yang memisahkan serta restu dari orang tua pun menjadi penghalang. Hanya sepenggal kisah antara Luhan, salah satu pasukan khusus dari China dan Hyerim, seorang dokter tentara dari Korea Selatan. Bagaimana kelanjutan kisah keduanya?

Note :

FF ini terinspirasi dari kisah cinta Yoon Myeong Ju dan Seo Dae Young dari drama korea populer descendant of the sun serta lirik dari soundtrack drama tersebut. Namun dari segi cerita yang ada sudah diubah oleh saya sendiri. Bila ada adegan yang dicetak miring/italic itu menandakan sebuah kilas balik/flashback.

Disclaimer :

This is just work of fiction, the cast(s) are belong to their parents, agency, and God. The same of plot, character, location are just accidentally. This is not meaning for aggravate one of character. I just owner of the plot. If you don’t like it, don’t read/bash. Read this fiction, leave your comment/like. Don’t be plagiat and copy-paste without permission.

HAPPY READING


I‘m dreaming to be with you

The one and only

I believe that you will protect me

I’ll always be with you so my heart won’t hurt

To be with you

[ Lyn – With You (ost.Descendant of the Sun) ]


Tanpa Luhan menjawab pun, Hyerim tahu bahkan sangat tahu bahwa dirinya tertular. Tanpa kendalinya, air  mata yang tertahan pun menetes menelurusi pipinya bahkan tangannya tak mampu terangkat membalas pelukan Luhan. Sementara pria itu masih senang tiasa memeluknya.

“Kumohon menjauhlah, lepaskan pelukanmu,” ujar Hyerim tepat ditelinga kiri Luhan. Namun dapat dirasakan oleh Hyerim bahwa Luhan menggeleng dengan mata berair menahan derai tangisannya yang tumpah ruah. “Kumohon, aku mengatakan ini sebagai dokter karena aku sudah tertular. Juga sebagai kekasihmu agar kamu tidak tertular. Jadi lepaskan pelukanmu, Lu.” Hyerim berucap diiringi air mata yang turun kembali.

Setelah itu, Minho pun masuk ke ruangan operasi tersebut dan tersenyum tipis pada Luhan serta menariknya untuk keluar dibantu oleh Yixing. Dikarenakan tubuh Luhan seakan lemas bila tidak dituntun. Hyerim memperhatikannya dengan mata berkaca-kaca dan bibir bergetar, setelah berhasil menetralkan kondisinya, Hyerim sedikit menolehkan kepala ke belakang tepat di mana Taemin masih membatu dan syok akibat terkejut.

Oppa, bawa aku ke tempat yang seharusnya,”

“Letnan Kim terinfeksi? Ya Tuhan,” desah Jaehwan dengan prihatin. Di sebelah dokter lelaki itu, Soojung mengangguk dengan raut kasihannya.

“Padahal Taemin sunbae juga ikut mengoperasi tapi tidak ikut tertular,” sahut Soojung.

Lian yang tak sengaja melewati kedua dokter itu langsung membulatkan mata terkejut. Hyerim tertular. Setelah itu, dirinya pun berlari untuk mencari Luhan, Yixing, ataupun Minho untuk mengkonfrimasi apa yang ia dengar. Namun ditengah acara larinya, Minho menangkap sosoknya dan dengan wajah herannya Minho memanggil Lian.

“Lian, kenapa berlari?” Lian langsung berhenti berlari dan menatap Minho dengan wajah was-wasnya dan napas tersenggal.

“Hyerim…” Lian hanya mampu mengeluarkan kata tersebut dan Minho langsung mengerti serta mengganti raut wajahnya jadi prihatin.

“Ya, Hyerim tertular virus M3,” ucapan Minho membuat Lian mengedipkan matanya beberapa kali berusaha meyakikan hal yang ia dengar adalah kenyataan. Minho menghela napas ketika mendapati raut kosong Lian, lalu Minho kembali berucap. “Lebih baik kamu periksa Luhan, tadi Luhan sempat memeluk Hyerim. Aku takut dirinya juga tertular.” Minho pun menggerakan kepala ke arah belakangnya yang terdapat kantin pangkalan militer China, di situ pula lah Luhan berada.

Tanpa disuruh dua kali, Lian langsung berjalan menuju kantin, untung saja dirinya membawa peralatan untuk mengkarantina karena memang niat awalnya akan melakukan hal tersebut sebelum berita Hyerim terjangkit M3 sampai ketelinganya. Ketika berada di dalam bangunan tersebut, Lian langsung menghampiri Yixing dan mengatakan ingin mengkarantina Luhan. Setelah mendapat izin, Lian langsung menuju Luhan yang tampak duduk termenung di kursi dengan pandangan kosong.

“Lu,” Lian memanggil dan berhasil membuat Luhan menoleh padanya. “Aku ingin mengkarantina dirimu,” ucap Lian sambil tesenyum.

Tanpa mengatakan apapun, Luhan langsung meletakan lengan kanannya di atas meja untuk diambil darah. Setelah itu Lian langsung melaksanakan tugasnya. Luhan tidak mempedulikan apapun lagi di sekitarnya. Pikirannya terfokus pada sosok Hyerim. Di lain sisi pun Hyerim sedang berbaring di salah satu bangsal medicube Korea Selatan sambil terus memikirkan Luhan serta penyakit yang menyerangnya.

“Aku akan memeriksa langsung hasil karantinamu,” suara Lian membunyarkan ilusi Luhan, membuat lelaki itu sekilas menatap Lian yang sedang membereskan peralatannya.

“Bisakah kamu jadi dokter yang merawat Hyerim? Aku akan lebih tenang bila kamu yang merawatnya,” ujar Luhan sambil menatap Lian penuh harap dan  gadis bermarga Wu itu juga menatapnya lalu tersenyum tipis.

“Akan kucoba karena Hyerim pasien medicube Korea Selatan. Tapi jika Hyerim bersedia menjadikanku dokternya, aku bisa merawatnya.” Luhan tampak sedikit mengangguk dan fokus matanya kembali menerawang. Lian jadi kasihan padanya.

“Tenang saja, Letnan Kim itu seorang gadis yang kuat. Pasti dirinya menang melawan virus M3 ditambah Hyerim masih muda juga sehat. Ini dikarenakan Hyerim mempunyai immune yang bagus,” Lian berusaha menenangkan dan Luhan kembali menatapnya dengan raut sedikit tenang.

Setelah itu, Lian pun berpamitan untuk keluar. Tersisalah Luhan sendiri karena Yixing memilih meninggalkan lelaki itu untuk menenangkan diri. Saat di luar Lian nyaris menabrak Minho dan tampak kekasihnya itu hendak masuk ke dalam.

“Luhan masih di dalam?” Minho bertanya dan Lian mengangguk sebagai jawaban. Lalu tampak dokter tersebut mendesah frustasi menyebabkan Minho menatapnya meminta penjelasan. “Kenapa?”

“Karena tubuh Hyerim yang masih kuat itulah menjadi permasalahannya. Immunenya akan langsung menyebar dan immune yang berlebihanlah yang sangat berbahaya,” mendengar penjelasan itu membuat Minho mengadahkan kepalanya menatap langit. Seakan tahu hidup Hyerim yang terjerat ambang kematian detik ini. “Lebih baik kamu masuk ke dalam dan hibur Luhan. Kalian ini sesama lelaki pasti mengerti perasaan satu sama lain.”

“Aku memang hendak melakukannya,” kemudian Minho memasuki kantin dan masih tampak Luhan duduk termenung.

Dengan senyumannya, Minho berjalan mendekati Luhan dengan senyum sumringah lalu meranggkul kapten itu membuat Luhan menoleh padanya dengan senyum tipis. “Yo, kenapa harus bersendu mendayu begini? Apa karena salah satu bawahanku yang sulit diatur itu?” Minho mencoba menciptakan suasana humor sambil menatap Luhan dengan satu alis terangkat. Luhan tampak tersenyum paksa dan Minho pun meresponnya dengan tepukan beberapa kali dibahu Luhan.

“Ini, dia ada disaluran nomor tiga,” secara tiba-tiba Minho mengeluarkan walkie talkie diiringi tangan yang merangkul Luhan ia tarik. Dengan agak ragu Luhan mengambil walkie talkie itu. “Hati-hati kau bisa disangka mata-mata Korea Selatan.” Minho mengedipkan mata kanannya lalu kembali menepuk bahu Luhan kemudian beranjak untuk pergi.

Luhan menatapi walkie talkie tersebut lalu dirinya mengucapkan sesuatu pada Minho sebelum lelaki itu menghilang dari kantin. “Gomapseumnida, (terimakasih)” Minho menghentikan langkan sambil menengokan kepala ke samping tanpa berbalik kemudian tangannya terangkat dan bergerak-gerak seakan berkata ‘tak jadi masalah’

Akhirnya Minho benar-benar pergi maka dari situlah Luhan mulai menyalakan walkie talkie dan langsung menuju saluran nomor tiga. Baru saja sampai disaluran yang dimaksud, Luhan langsung disapa suara lembut milik gadisnya. “Yeoggineun Kim Hyerim, geogineun nuguseyo? (di sini Kim Hyerim, siapa di sana?)”

Luhan mendekatkan walkie talkie pemberian Minho itu lalu berucap, “Deer boss,”

Di bangsal medicube, Hyerim tampak duduk di atas ranjang dengan senyum tipisnya mendengar suara Luhan dari walkie talkie tersebut. Lalu dirinya menjawab, “Ah, jadi ini kode panggilan kekasihku yang sering sekali kena anemia. Seperti arti namanya, rusa.”

Luhan mendengus menahan tawa mendengar jawaban Hyerim, dicurva bibirnya terpatri sebuah senyuman tipis. “Menurutmu apa yang cocok menjadi kode panggilanku?” Hyerim kembali berucap dan Luhan memutuskan untuk menjadi pendengar. “Cheonsanim? (Bidadari)” Luhan meringis menahan tawa dan Hyerim tersenyum mengetahuinya. “Atau…. mungkin…. yeppuni (cantik),” Luhan terkekeh pada akhirnya sambil menjauhkan sedikit walkie talkienya.

Neo jigeum mwohae? (Kamu sekarang sedang apa?)” Luhan akhirnya bertanya.

Neoreul bogoshipo, (Aku merindukanmu)” Hyerim menjawab dengan berusaha menahan air matanya. Luhan pun peka akan hal tersebut dan berusaha menahan air matanya juga.

Eodi appha? (apa kamu sakit)”

Noereul bogshipo. Bogoshipo jukeseyo, (Aku merindukanmu. Aku merindukanmu sampai ingin mati rasanya)” ungkap Hyerim dengan kristal bening membanjiri pipinya begitupula Luhan. “Neo jigeum mwohae?” gantian Hyerim bertanya.

Dengan tangan gemetar, Luhan mendekatkan walkie talkienya lalu menjawab. “Neoreul bogoshipo,” Hyerim tersenyum tipis mendengarnya.

Neon gwenchana? (apakah kamu baik-baik saja)”

Bogoshipo jukeseyo,” balas Luhan dengan air mata yang terus mengalir. “Hyerim-reul bogoshipo, (aku merindukan Hyerim)” Hyerim langsung menyeka air mata yang hendak turun dari mata sebelah kanannya. “Kim Hyerim layaknya bintang dilangit yang selalu menyinari hariku. Dirinya lebih indah daripada bintang dan berhasil mencuri hati juga pandangan mataku.”

Hyerim tersenyum mendengarnya lalu menjauhkan walkie talkienya, kepalanya bertumpu pada lutut kakinya yang tertekuk di atas ranjang dengan posisi kepala menyamping. “Katanya aku mencuri hatinya dan bintang mencuri pandangan matanya. Sekarang saat aku sekarat, dirinya malah bersikap lebih manis.” gumam Hyerim dengan bibir dimajukan namun dalam hati, hatinya berdesir hebat kesekian kalinya karena Luhan.

Virus M3 yang menyebar langsung ditindak lanjuti segera. Para tim relawan tersebut langsung mengadakan karantina gratis untuk para warga Mohuru dan pegecekan pada seluruh pasukan PBB dan relawan. Sejauh ini sudah ada lima warga desa yang kemarin diperiksa ditambah oleh Hyerim yang terjangkit virus tersebut. Lian sedang sibuk mengambil darah salah satu anak perempuan berumur sekitar enam sampai tujuh tahun. Ketika Lian meminta salah satu pasukan PBB yang bisa bahasa Urk untuk menerjemahkan maksudnya, dari arah belakang, Lian merasakan kecupan hangat dipuncuk kepalanya. Ketika mendongakan kepala, netra Lian langsung disuguhkan pemandangan Minho yang tersenyum lebar padanya.

“Ibu dokterku pasti sangat sibuk,” ujar Minho lalu duduk di sebelah Lian yang menyipitkan mata menatapnya.

“Kamu pasti menyusup lagi ke sini,” ucapan Lian hanya dijawab Minho dengan mengelus kepalanya dengan raut acuh.

Kemudian Lian mulai kembali mengambil darah warga yang lain, di sebelahnya Minho terus memperhatikannya. Selang dua pasien yang berhasil Lian periksa, gadis itu pun merasa risih lalu menatap Minho yang menampilkan manik mata polos miliknya.

Ya! Berhenti menatapku!” seru Lian dengan nada geram namun Minho masih menatapnya polos seakan tak tahu apapun. Lian menggertakan giginya kesal lalu memekik. “Jangan ganggu konsentrasiku atau aku akan menendangmu keluar dari sini!” ancam Lian namun Minho malah mendekatkan tubuhnya hingga Lian mencodongkan tubuh ke belakang berusaha menghindarinya.

“Ah, kekasihku ini sangat lucu. Ahhh, padahal aku hanya melihatnya bekerja tapi dia sudah salah tingkah, ckckck.” Minho berdecak sambil geleng-geleng dan mencubit pipi kiri Lian yang langsung menatapnya dengan raut jengkel namun terkesan imut.

“Dokter Wu memang berpacaran dengan Kapten Choi. Sementara Kapten Lu kembali berpacaran dengan Letnan Kim. Di tempat ini terjalin kasih antara orang berbeda negara,” bisik Sersan Han Jun dan tampak Jackson mengangguk-angguk mendengarkannya sambil memberikan sersan tersebut beberapa lembar uang sebagai bayaran informasi barusan namun pandangan matanya terfokus pada Lian yang mulai sibuk kembali dengan beberapa pasien sementara Minho masih tetap memperhatikannya sambil senyum-senyum.

“Ah, aku juga ingin memacari wanita Korea secantik Shin Sekyung,” gumam Jackson dengan pandangan penuh harap pada Lian dan Minho.

“Tapi sepertinya wanita Korea tidak mau denganmu eheheh,” suara Sersan Han dengan wajah tanpa dosanya membuat Jackson menatapnya tajam.

“Apa katamu?” geram Jackson dengan wajah sebal lalu memukuli kepala Sersan Han tanpa ampun dan Sersan Han tampak menghindari serangan Jackson walupun gagal.

Luhan tampak memasuki bangsal medicube Korea Selatan lalu dirinya berhenti di depan pintu berkaca yang menampilkan isi ruangan. Di sana obsidian Luhan terfokus pada sosok Hyerim yang tidur dengan posisi menyamping. Di sebelah Luhan berdirilah Minho yang tersenyum memperhatikan Luhan yang juga tersenyum sendiri memperhatikan sosok Hyerim.

“Dirinya sudah berkerja keras menjadi tentara sekaligus dokter selama ini. Anggap saja sekarang waktunya beristirahat,” ujar Minho sambil memperhatikan punggung Hyerim juga. Luhan hanya bergeming mendengar ujarannya. “Tenang saja, Kim Hyerim adalah wanita yang paling kuat se-Korea yang pernah aku kenal,” Minho menepuk bahu Luhan dan memandang paras Luhan dari samping. Namun Luhan terlalu larut memperhatikan Hyerim dengan senyum mengembang.

“Mungkin ini pertanda aku harus terus megenggamnya,” gumam Luhan dan Minho kembali menatapnya.

Minho mengangguk lalu meraih bahu Luhan sambil berkata, “Jangan pernah melepaskannya. Dirinya sungguh menyebalkan ketika berada jauh denganmu,” Minho langsung geleng-geleng dan menatap Hyerim seakan ngeri membayangkan sikap Hyerim tatkala putus dengan Luhan.

“Kapten hasil karantina sudah datang dan bisa diambil di kantor. Kuulangi, hasil karantina sudah datang dan bisa diambil di kantor,” walkie talkie Minho juga Luhan berbunyi bersamaan menyuarakan hal yang sama namun dengan bahasa yang berbeda.

“Ayo kita lihat hasil pemeriksaan kita,” ajak Minho yang langsung menarik Luhan walau lelaki itu terus memfokuskan obsidiannya tertuju pada Hyerim meskipun tubuhnya sudah berbalik untuk pergi tapi kepalanya masih tertoleh ke belakang untuk melihat kondisi gadisnya.

Sepeninggalan Luhan, Hyerim bangkit dari tidurnya dan merasakan kepalanya pusing kemudian dirinya meraih ponselnya memastikan waktu saat ini. Namun pandangannya kabur dan tidak jelas ketika menatap layar ponsel. Wajah Hyerim pun sudah pucat dengan mata seakan kurang tidur. Tubuhnya pun berkeringat dingin, dengan tangan bergetar, Hyerim memainkan ponselnya untuk menghubungi seseorang.

Appa… (ayah)” Hyerim memanggil dengan suara lemahnya ketika sambungannya terhubung. Di seberang sana Sang Ayah tampak bergeming seakan meresapi suara putri semata wayangnya. “Jo apphayo. (aku sakit)” Hyerim berucap dengan nada serta bibir bergetar kuat. Ayahnya pun tampak menghela napas.

Arrata, (aku tahu)” jawab Komandan Kim dan detik itu juga Hyerim meloloskan air matanya. “Tapi tidak ada yang bisa kulakukan sebagai ayah maupun komandan untuk penyakitmu sekarang. Ayah hanya bisa berdoa.”

Bibir Hyerim bergetar menahan isakannya mendengar penuturan ayahnya, lalu dengan air mata mengalir, Hyerim kembali berkata. “Ayah, maafkan aku untuk kelakukanku selama ini. Nan jeongmal mianhaeyo, (aku benar-benar minta maaf)”

“Tidak apa-apa, Hyerim-ah,” ujar Komandan Kim diikuti seuntas senyum menenangkan walau putrinya tidak mungkin melihatnya. Sekon itu juga Hyerim meloloskan isakannya dengan mata terpejam serta air mata yang makin menderai deras.

“Ayah aku akan memenangkan perang ini bagaimanapun juga, aku akan menang,” ujar Hyerim meyakinkan.

“Hanya lima puluh persen kemungkinan dirimu selamat, Hye. Selamat berjuang,”

Hyerim mengangguk pelan dan tersenyum tipis. Lalu dirinya teringat sesuatu, setelah itu Hyerim langsung berucap. “Yah, mau aku selamat atau tidak. Aku hanya meminta satu permintaan…” Hyerim menelan ludahnya gugup sementara Letjen Kim memasang kupingnya lebih jernih untuk mendengarkannya. “Jangan pernah menyuruh dan membuat Luhan melepaskan seragamnya.” kelanjutan ucapan putrinya membuat Sang Letjen membatu seketika. “Aku mendengarnya saat itu,” Hyerim melanjutkannya kembali dengan nada bergetar hebat.

 

Hyerim keluar dari ruangan ayahnya dengan perasaan bahagia. Namun sebuah perkataan dari dalam ruangan membuat gadis itu melunturkan senyum lebarnya.

“Aku memang merestui hubunganmu dengan putriku, Kapten. Tapi bukan berarti seragam kalian aku abaikan begitu saja. Salah satu dari kalian tetap harus ada yang mengalah.”

Tubuh Hyerim menegang dengan raut wajah berubah kosong. Ayahnya tidak sungguh-sungguh merestuinya. Dengan bibir begetar, Hyerim tak berniat menyingkir dari depan ruangan ayahnya dan mendengar percakapan tersebut.

“Dan aku harap bukan putriku yang mengalah,”

Detik itu juga Hyerim langsung menjauhi depan ruangan milik ayahnya dengan perasaan campur aduk. Dari merasa bahagia menjadi turun seketika.

.

.

.

“Luhan-ah, ayahku mengatakan apa padamu?”

“Beliau mengatakan untuk menjaga putrinya yang keras kepala ini. Bila kamu tidak menurut, aku boleh menceburkanmu ke sungai di bawah jurang yang sering kita lewati,” Luhan menjawab gemas diikuti tangannya mencubit pipi kanan Hyerim. Diperlakukan seperti itu membuat Hyerim menatapnya kesal.

Namun dalam hati, Hyerim tahu apa yang ayahnya katakan tapi dirinya berlakon seakan tak tahu dan bahagia. Setelah dirinya berjalan menjauh dan menemukan tempat untuk menyendiri. Hyerim menangis sambil berjongkok menyender pada tembok bangunan di belakangnya.

“Hiks,” isakan Hyerim terdengar dan dengan cepat dirinya menghapus kasar buliran air matanya.

Hyerim kembali mengingat hari dimana ayahnya merestuinya dan Luhan, lalu dirinya kembali mengeluarkan penggalan kata. “Aku sangat bahagia bahkan terlalu bahagia bersamanya, Yah. Maka aku mencoba tak mengetahui dan mempedulikan tembok pembatas yang ayah berikan pada kita berdua.” Hyerim memejamkan mata sesaat karena merasa pusing luar bisa sehabis mengatakan hal tadi.

Sang Ayah yang berada di Korea tampak tersenyum lelah dan menghela napas berat. “Ayah berjanji tidak akan membiarkan Kapten Lu melepas seragamnya,”

Hyerim tersenyum tipis sambil meminalisir rasa peningnya, detik itu Lian muncul menggunakan jubah rumah sakit dan masker. “Terimakasih, Yah.”

Hyerim mengakhiri percakapan tersebut lalu memutuskan sambungan. Setelah itu Hyerim hendak menaruh ponselnya namun meleset hingga jatuh ke lantai. Detik itu juga, tubuh Hyerim melemah dan ambruk nyaris jatuh ke lantai bila Lian tidak cekatan menahan tubuhnya.

“Letnan, Letnan Kim. Kim Hyerim!” Lian menepuk-nepuk pipi Hyerim yang sudah memejamkan mata dengan raut pucat pasi. “Dokter! Cepat ke mari!” Lian berteriak sembil menoleh sebentar ke belakang.

Kemudian gadis Wu itu mengambil alat pengukur suhu tubuh dan langsung mendapati suhu tubuh Hyerim mancapai empat puluh satu derajat. Lian langsung panik juga terkejut, saat itu masuklah Soojung dengan penampilan yang sama dengan Lian.

“Ada apa?” tanya Soojung dengan raut khawatir.

“Kondisi yang dikhawatirkan datang,” jawab Lian dengan raut lesu.

Soojung membelalakan matanya sambil menatap tubuh lemah Hyerim. “Immune yang berlebihan?” sahut Soojung

Lian mengangguk lantas membalas sahutan Soojung. “Ya, badai sitokin.” Lian memandangi tubuh Hyerim sejenak lalu menatap Soojung. “Siapkan bak berisi es. Aku di sini sebagai dokter pribadi Letnan Kim Hyerim. Mohon bantuannya.” Soojung pun langsung mengangguk.

Langsung saja apa yang Lian perintahkan dilaksanakan. Taemin dan Jaehwan juga ikut membantu dengan memindahkan tubuh Hyerim ke bak berisi es batu tersebut. Ini dilakukan hanya sekedar mengobati gejala penyakit virus M3. Jaehwan pun menyuntikan obat penurun demam pada Hyerim namun tak berhasil, membuatnya mendesah kecewa dengan mata terpejam.

“Untuk sekarang kita hanya akan mengobati gejalanya saja, aku harap Hyerim dapat bertahan lebih lama,” Lian menjelaskan pada Luhan juga Minho yang hadir namun memilih menunggu di luar ruangan. Luhan tampak gelisah dan terus memperhatikan Hyerim yang sedang diobati.

“Apa aku boleh masuk?” tanya Luhan dengan raut khawatir. Lian menatapnya sebentar dan mengangguk.

“Kamu sudah memakai masker dan jubah sepertiku agar terlindungi dari efek penularan, jadi tentu kamu boleh masuk,”

Sesudah mendapatkan izin dari Lian, Luhan langsung menerobos masuk ke bangsal tersebut dengan langkah lebar. Langsung saja dirinya berjongkok di sebelah bak Hyerim dan tampak gadis itu menatap Luhan dengan pandangan sangat sayu serta lemahnya. Luhan pun meraih kedua tangan Hyerim dan meremasnya kuat.

“Lu,” panggil Hyerim lesu membuat Luhan menatapnya dalam. “Luhan…” Hyerim memanggil kemudian mengeluarkan batuknya dan Luhan langsung mengeratkan pegangannya.

“Aku di sini,” sahut Luhan berusaha menampilkan raut menenangkan. Namun Hyerim malah meremas kuat tangannya dan memejamkan mata efek pening sangat dahsyat dikepalanya ditambah pandangannya yang mulai tidak jelas.

“Sakit, Lu. Aku sakit,” gumam Hyerim membuat ketiga dokter yang mengobatinya melirik gadis itu kasihan.

“Mana yang sakit?” tanya Luhan khawatir luar biasa.

“Sa… kit…” lirih Hyerim dan saat itu Hyerim kembali kehilangan kesadarannya dan jatuh pingsan dengan kepala bertumpu pada bahu Luhan. Luhan hanya melebarkan matanya tatkala gadisya ambruk di hadapannya.

“Hyerim, Hyerim.” Luhan mengguncang-guncang bahunya lalu menarik tangannya dari pegangan Hyerim yang mengendor kemudian meletakan tubuh gadisnya dilengannya lantas menguncang-guncangnya. “Hyerim-ah,” Luhan berucap nyaris berseru kencang.

Saat itu juga, Jaehwan langsung memeriksa kondisi Hyerim. Setelah memeriksanya, lelaki itu menatap bergantian Soojung juga Taemin yang menatapnya lesu. “Sepertinya Letnan Kim koma sementara waktu,” ujar Jaehwan membuat Luhan menintikan air mata sambil terus mengguncang tubuh gadisnya serta menyerukan namanya.

Hyerim pun dinyatakan koma ditandai masker oksigen yang melekat pada gadis itu sekarang. Hal tersebut memancing Meilin untuk mencari kasat-kusut virus M3. Dirinya mencari informasi dari internet dan scan yang dikirimkan teman dokternya yang berada di China.

“Kamu sedang apa? Dari semalam terus saja seperti zombie hanya karena penyakit tersebut,” Lian mendudukan diri di sebelah Meilin sambil mengunyah kacangnya dan melirik sekilas pekerjaan temannya itu.

“Sudah ada satu pasien yang jatuh koma, aku tidak bisa membiarkan ini.” Meilin menjawab sambil mengambil beberapa kacang yang terletak di toples tepat di depan Lian kemudian memasukan beberapa kacang kemulutnya.

“Ya benar, tapi kamu harus tidur. Lihat kantung matamu. Kamu seperti panda saja, ckckck,” Lian berdecak sambil geleng-geleng namun Meilin mengabaikannya.

“Hyerim pernah menyelamatkan hidupku ketika disandera, aku tidak mau dirinya berakhir karena virus M3,” Meilin berucap tanpa mengalihkan intensi dari layar laptopnya. Lian tampak mengangguk-angguk.

“Benar juga, awas saja ya usaha dari kantung matamu tidak berhasil,” Lian sedikit mengancam sambil menatap Meilin dari samping namun gadis itu tampak melebarkan mata menatap layar laptopnya dan berdampak akan Lian yang penasaran. “Ada apa?” Lian melongokan kepala ke layar beberapa inchi itu.

“Lian…” Meilin memanggil sambil menoleh kepada Lian dengan wajah antusiasnya namun sangat kontras dengan Lian yang keheranan. “Cefotaxime, cefotaximelah kuncinya!” Meilin berucap dengan mengebu-gebu membuat Lian menautkan alis bingung.

“Hah? Cefotaxime?!” pekik Lian dan Meilin tampak mengangguk mantap.

“Ini bukan cefotaxime biasa, cepat cari obat ini!” seru Meilin kembali mengebu-ngebu dan langsung berdiri serta menarik-narik Lian untuk berdiri.

“Hey! Hwang Meilin! Jelaskan dulu padaku!” Lian pun kembali duduk dengan raut jengkel meminta penjelasan rinci. Meilin meniup-niupkan poninya sebal dan kembali duduk untuk menjelaskan.

Pertama-tama Meilin menggeser laptopnya menyamping agar Lian melihat apa yang tertera di layar laptop tersebut. Dan Lian tampak mulai serius memperhatikan isi yang tertera di layar laptop milik rekannya ini. Meilin mengambil napas dan merenggangkan otot lehernya sabelum mencodongkan tubuh ke arah laptopnya juga mulai menunjuk-nunjuk penjelasan di layar tersebut.

“Jika kamu melihat laporan  medis dari dokter yang berada di Afrika Selatan, pengobatan ini berhasil dalam 85% pasien. 53 dari 63 orang, 73 dari 85 orang!” seru Meilin lagi-lagi sangat antusias dan tampak Lian mengangguk-angguk. Lalu Meilin kembali menjelaskan. “Aku mencoba menganalisis laporan virus M3 dalam tahun yang berbeda. Dan mendapatkan pengobatan ini. Cefotaxime yang digunakan bukanlah cefotaxime biasa. Ingat, 85% pasien berhasil akan pengobatan ini maka hanya 15% yang gagal, jadi tidak ada salahnya untuk mencoba ketika peluang berhasil sangat besar, Wu.”

Lian akhirnya mengerti dan mengangguk dengan pandangan takjub dan mulut membentuk huruf o. Tampak Meilin tersenyum puas melihat reaksi Lian itu. “Kamu sangat hebat, Mei.” Lian melontarkan pujian sambil menatap Meilin dengan senyum tulus, tampak gadis Hwang itu tersenyum malu-malu.

“Tentu saja, bahkan aku tidak perlu analisis dari DNA virus M3 dan melakukan reaksi antara antibiotik.” Meilin mulai berujar dengan membusukan dada sombong dan Lian menatapnya datar. “Eh tapi…” Meilin mengganti rautnya dengan wajah was-was ketika menyadari sesuatu, pandangan matanya menerawang ke lantai dan Lian tampak melihatinya dengan heran. “Kita tidak punya cefotaxime ini dari obat-obatan yang kita bawa,” ucap Meilin dengan raut putus asa menatap Lian tapi gadis Wu itu malah tersenyum tipis.

“Aku kemarin melihat persediaan obat medicube Korea, mereka mempunyai cefotaxime ini. Tapi mereka tidak tahu akan pengobatan yang baru kamu temui,” ucapan Lian membawa kembali seberkas cahaya juga senyuman diwajah Meilin.

Luhan tampak berada di ruangan Hyerim dengan backsound alat pendeteksi denyut jantung. Lelaki itu terus menatap wajah Hyerim sangat dalam seakan tak mau melewatkan kesempatan saat gadis itu siuman. Tatkala larut akan pikirannya, jari tangan Hyerim mulai bergerak diiringi pergelangan tangannya. Mata Luhan seketika melebar dengan wajah penuh harap. Saat itu juga kepala gadisnya mulai bergerak gelisah.

“Luhan…” Hyerim memanggil nama Luhan dari alam bawah sadarnya. Luhan tersenyum simpul lalu menunduk dan meraih tangan kanan Hyerim dan langsung megenggamnya.

“Iya, Hye. Aku di sini,” jawab Luhan dengan tatapan penuh harap. Keringat dingin tiba-tiba menelusuri tubuh Hyerim.

“Lu…” Hyerim kembali memanggilnya lalu perlahan membuka kelopak matanya. Luhan tambah mendekatkan wajahnya. “Luhan…” Hyerim memanggil Luhan lagi dengan pandangan mata masih mengabur.

“Dokter, Hyerim sadar!” seru Luhan tanpa mengalihkan pandangan dari Hyerim. Luhan terus megenggam tangan Hyerim dan mengelus-elusnya, tampak Hyerim mengatur napasnya yang tersenggal.

“Cefotaxime ini akan berhasil, kamu yakin?” suara Taemin terdengar memasuki ruangan bersama Lian. Dan Lian tampak mengangguk lalu keduanya mendapati Hyerim sadar dan langsung melebarkan mata kaget sekaligus bersyukur.

“Hyerim!” keduanya berseru dan langsung menghampiri Hyerim, segeralah Luhan menyingkir dengan berdiri agar kedua dokter itu memeriksa Hyerim dan Lian tampak mengecek suhu tubuh Hyerim.

“Hyerim masih demam tinggi, selagi menyiapkan cefotaxime kita harus melakukan metode yang lain. Immune dalam tubuhnya masih menyebar,” ujar Lian sambil melirik Taemin yang mengangguk.

Mereka pun langsung menyiapkan bak dengan es batu kembali, Luhan pun menggendong Hyerim dengan bridal untuk dipindahkan ke bak tersebut. Tampak Hyerim duduk di dalam bak dengan tubuh bergetar hebat, Luhan pun memegang kedua tangannya erat serta mengelus-ngelusnya. Taemin pun berusaha kembali menyuntikan obat penurun demam.

“Tenang saja, Lu. Kita sudah menemukan obatnya,” ucap Lian sambil menyentuh bahu Luhan dan tampak Luhan menatapnya dengan raut antusias.

“Sungguh?” Luhan memastikan dan direspon anggukan oleh Lian. Luhan pun merasa sangat bersyukur sekon ini akan berita itu, dirinya mengadahkan kepala ke atas dan menghembuskan napas lega.

“Tunggu di sini, aku akan mengambil obatnya,” Taemin pun berlalu dan Luhan pun berjongkok di sebelah Hyerim yang tampak gemetar lantas meraih tangan gadisnya serta megenggamnya erat.

“Lu…” Hyerim memanggil dengan nada pelan seraya menatap Luhan yang makin mengeratkan pegangannya.

“Kamu akan sembuh,” kata Luhan dengan sorot mata yakin membuat Hyerim tersenyum tipis dan Luhan mengelus tangannya.

“Obatnya datang,” seruan Taemin membuat keduanya menatap ke sisi dirinya datang dengan sedikit tergesa. Langsung saja Lian mengambil obat tersebut dari Taemin dan segera menyuntikannya kepada Hyerim.

“Apa aku akan sembuh?” tanya Hyerim sambil menatap Lian dengan suara seraknya. Lian yang hendak menyuntikan cefotaxime melalui selang infus Hyerim tampak mengangguk dan tersenyum dibalik maskernya.

“Hanya lima belas persen kamu tidak akan selamat. Lawanlah lima belas persen itu, aku yakin kamu bisa Hyerim,” setelah itu Lian benar-benar memberikan Hyerim pengobatan dari cefotaxime tersebut.

Cefotaxime yang sudah diberikan kepada pasien yang terinfeksipun sudah diserap oleh tubuh Hyerim. Perlahan demam gadis itu pun menurun dan akhirnya dengan Luhan yang menggendong Hyerim bridal, Hyerim pun kembali dibaringkan di ranjang bangsal medicube. Tampak gadis itu sudah menjelajahi bunga tidurnya dengan helaan napas tenang dan wajah pucat yang perlahan luntur.

“Terimakasih Wu, aku yakin dia akan sembuh nanti,” gumam Luhan sambil memperhatikan wajah Hyerim dan membelainya pelan. Lian menatap lelaki itu dari samping dan mengangguk.

“Sama-sama. Tunggulah dirinya sadar besok hari.”

“Hah, akhirnya penyakit mematikan itu sudah kita basmi,” Minho tampak menghela napas lega sambil berkacak pinggang dan di sebelahnya Lian tampak menatapnya dengan alis terangkat sebelah serta tangan dilipat didepan dada.

“Ya, aku hebat kan bisa menyembuhkan para pasien yang terancam meninggal?” Lian menyombongkan diri sambil menyibak helaian rambutnya ke samping dan hal tersebut membuat Minho menatapnya datar serta geleng-geleng.

“Yang menemukan pengobatan ini Meilin, bukan dirimu jadi bukan dirimu yang pantas mendapatkan penghargaan,” kata-kata Minho membuat Lian mengembungkan pipi dengan wajah sebalnya.

Ya! Aku pantas mendapatkan penghargaan dan uang yang banyak!” pekik Lian tidak setuju. Minho tampak terkekeh tanpa suara lalu melangkah mendekati Lian yang refleks mencodongkan badan ke belakang.

“Ah, matrealistis sekali pacarku ini, ahh.” Minho berucap seraya mencubit pipi kanan Lian dengan raut gemas namun yang dicubit tampak memasang raut jengkel.

“Terserah diriku dan lagipula berapa sih gaji tentara apalagi yang berpangkat kapten sepertimu?” pertanyaan Lian membuat Minho mati kutu dan menurunkan tangannya. Lalu dirinya pun berbalik dan mulai berjalan pergi seakan tidak mendengar pertanyaan apapun.

“Aduh sepertinya ada panggilan dari komandan batalion,” gumam Minho sambil berpura-pura menggaruk kepalanya dan terus berjalan menjauhi Lian

“Hey Choi Minho! Aku bertanya padamu!” namun teriakan Lian hanya diabaikan oleh Minho yang mengangkat tangan kanannya lalu melambaikannya. Lian pun melipat tangan  didepan dada seraya menggertakan giginya kesal.

Di bangsal medicube milik Hyerim terlihat gadis itu sudah mulai membaik. Hyerim pun tampak duduk di atas ranjang sambil menulis beberapa kata di sebuah buku yang diletakan di meja lipat di hadapannya. Saat itu pula lah Luhan menampakan batang hidungnya dengan senyum mengembang. Peka akan kehadiran kekasihnya, Hyerim mengangkat kepala dan tersenyum lebar.

Eoh? Wasseo? (kamu sudah datang)” ujar Hyerim gembira. Luhan mengangguk sebagai sahutannya kemudian menarik kursi untuk duduk di sebelah ranjang Hyerim. “Kamu membawa apa? Apakah membawa anggur?” tanya Hyerim dengan binar mata penuh harap ketika mendapati Luhan membawa kantung kresek.

Luhan menggeleng membuat raut kecewa dengan bibir mengerucut Hyerim tampilkan. “Lagipula kamu ini belum boleh minum anggur.” Hyerim tambah memberengut mendengarnya.

“Entah kenapa aku ingin lollipop juga anggur sekarang,” Hyerim memiringkan kepala dengan raut memelas. Luhan tersenyum tipis melihatnya. “Dan aku ingin sekali mengunjungi Lotte World denganmu setelah semua hal yang mendebarkan terjadi di sini.” Hyerim memasang ekspresi antusias ketika mengatakannya kemudian dirinya menatap Luhan seakan teringat sesuatu. “Luhan, kamu harus ke Korea lagi dan kita harus ke Lotte World!” seru Hyerim riang.

Luhan tampak memasang wajah seakan berpikir kemudian mengangguk membuat Hyerim gembira setengah mati. “Ya aku akan ke Korea,” jawab Luhan kemudian mengacak rambut Hyerim perlahan.

Setelah itu, Luhan mengeluarkan isi bawaannya membuat Hyerim membuka mulut lebar dengan bola mata mengikuti arah gerak tangan Luhan yang mengeluarkan kotak bekal berwarna merah jambu. Hyerim tampak penasaran dengan isinya, disertai senyum manisnya, Luhan pun membuka kotak bekal tersebut yang ternyata berisi sayuran dan detik itu raut Hyerim berubah masam. Tapi Luhan seakan tak peduli dan malah mengeluarkan jus lemon dari kantung yang sama. Langsung saja wajah Hyerim berbinar kembali akan minuman kesukaannya.

“Ini baru kusuka!” Hyerim berkata dengan nada semangat lalu hendak mengambil lemon tersebut namun tangan Luhan menampik tangannya membuat Hyerim menatapnya jengkel. “Kenapa?”

Luhan dengan lagak santainya membetulkan posisi duduknya dan menatap Hyerim penuh arti. “Kamu harus makan sayurannya,” Hyerim langsung cemberut mendengarnya.

“Aku sudah bilang tidak suka. Aku ingin lemonnya saja ya?” Hyerim mengeluarkan puppy eyesnya dan Luhan berusaha tak termakan bujukannya.

Kentara sekali Luhan menghindari untuk menatap Hyerim yang sedang mengerjap-ngerjapkan mata dengan lucunya hanya untuk membujuk dirinya. “Aku tidak bawa lollipop untukmu karena kamu sedang sakit. Jadi makan sayurnya, oke?” Luhan tak bisa dikalahkan pada akhirnya. Hyerim pun mengembungkan pipi dengan bola mata berputar-putar sebal.

“Luhan…” Hyerim kemudian memanggil karena sebuah pemikiran melintasi otaknya. Luhan menggumam sebentar lalu menatapnya kembali. Gadis di depannya ini tampak tersenyum membuat Luhan terpana kesekian kalinya. “Aku rasa apapun yang aku sukai berawal dari huruf L,” ucapan Hyerim membuat Luhan menaikan satu alisnya. “Lollipop, Lotte World, lemon, gurigo…. (dan)” perkataan Hyerim menggantung dengan gadis itu menatap Luhan sambil tersenyum lebar dan Luhan mengangkat tangan untuk mengelus surai gadisnya. “Dan juga… Luhan.” ucapan Hyerim diakhiri dengan senyum manis yang terpatri dicurva bibir Luhan juga dirinya.

“Kamu benar-benar menyukaiku ya?” goda Luhan masih dengan mengelus kepala Hyerim. Hyerim tampak menggerak-gerakan bola mata dan bergumam layaknya orang berpikir, lalu bola matanya kembali menatap Luhan.

“Tidak juga,” jawab Hyerim dengan cengiran tanpa dosa namun sebelum air wajah Luhan berubah, Hyerim menambahkan. “Aku bukan sebatas menyukaimu. Aku mencintaimu.”

Senyum diparas Luhan makin mengembang begitupula Hyerim. “Aku juga mencintaimu, gadis yang selalu membuatku khawatir.” Luhan membalas sambil menatap Hyerim setengah tajam, Hyerim terkekeh mendengarnya.

I love you, deep inside my heart

Don’t let me cry

To Be Continued


YA ALLAH, AKHIRNYA LANJUT YA RAHMAN ;’ MAAFIN HAMBA YANG NISTA NIAN INI NIATNYA MAU RAJIN POST INI MALAH DITUNDA 1 BULAN, MANA GAK POST APA-APA KEBANYAKAN NGEDATE SAMA AHJUSSI RASA OPPA SIH

Semoga aja masih ada yang inget FF ini. Btw, aku mau bilang karena terjadi sesuatu /apasih bahasanya/ bagi kalian yang gak suka atau merasa aku kurang ide kek gak kreatif kek karena terinspirasi sama dots dan 85% mirip, silahkan tinggalkan aja. Aku gak masalah dibanding berkomentar nyinyir, saran diterima tapi bila kata-kata kalian nyinyir apa kalian tak bisa berpikir bahwa saya juga manusia? Maka bila ingin berkomentar tolong gunakan etika dan bahasa yang santun. Aku udah cantumin di disclaimer atau note bahwa ini gak 100% punya aku plotnya, terinspirasi sayang. Banyak yang remake kok, kalian akan menemukan akhir yang berbeda di FF ini 🙂 Season 2nya ada, walau masih sedikit terinspirasi. Plot S2 itu bener-bener beda. Nah karena galau S2 baru kelar chapter 1 dan 2nya yang baru seuprit, jadi ini mandet T_T semoga S2nya gak melor kidul ya Allah. Di chapter ini udah ada badai terbitlah matahari /opo sih/ semoga Hyerim-Luhan tetep bahagia ya ahahahah.

Btw, aku nemuin 1 foto Luhan di IG yang manip, sumpah pas banget untuk FF ini LOL

YA AMSYONG TERIMAKASIH BUAT YANG EDIT INI PAS BUAT FF INI LOL

Sekali lagi jangan lupa komennya ya eheheh

.HyeKim

Advertisements

Author:

A tinkerbell who dream to be Luhan's future wendy — Also an amature author, k-drama trash, k-running man freak, eternal ELF, ahjussi and korean actor addict in the same time — Adorable since 2001

11 thoughts on “FF : This Love – Chapter 7

  1. Sudah lama nunggu ff ini nanti S2 pasti ditunggu kok kak.
    Hyerim akhirnya selamat makin romantis aja nih couple, apalagi pas baca luhan yang selalu disamping hyerim. Semoga nggak ada lagi gangguan dalam hubungan mereka dan semoga mereka selalu bahagia.
    Couple minho-lian juga lucu, semoga couple ini bahagia terus.

    Liked by 1 person

    1. Ahahah makasih banget udh setia nunggu, yg lain sepertinya ngibrit entah bosen/lupa/kelamaan LOL. Semoga S2 lebih majur ya (amiiin)

      Iya Hyerim selamat duh, romantis dong yaa. Luhan always beside her lah wkwkwk, kan soulmate sejati /eyak/
      Lian-Minho aih mereka ini jarang momennya padahal giyowo, inilah faktor aku buat S2 XD XD semoga hubungan mereka luancar

      Last, thankseu ❤❤❤

      Like

  2. nunggu ff ini bner” bikin greget, demen liat pasangan kyak mreka, hehehe ada horor”nya keliatan klau hyerim ekstrim bnget. next chap aku tnggu eonni

    Liked by 1 person

    1. Wkwk maaacih udah nunggu >,<
      Mereka pasangan paporit aku loh /gak nanya gak nanya/ WAKAKAK THAT IS SO NGAKAK PAS HYERIM DIBILANG EKSTRIM, dia emang karakternya begitu btw, gak suka cewek yg kalem akunya wkwkwk

      Like

  3. kenapa tiap baca ffnya yang dibuat diblog kakak selalu bikin aku penasaran dimulai dari cinderella, beauty and the beast (entah kapan dilanjut sama kakak autor) dan dilanjut ke this love hehe
    keep writing ya kak

    ditunggu next buat ff this love sama beauty and the beastnya hehe

    Liked by 1 person

  4. Aahhh.. Mereka kenapa semakin romantis 😊😊
    Makin sayang sma pasangan ini 😘😘
    Lian – Minho juga Lucu, moment mereka lucu2 gimna gitu..

    Moga aja mereka makin sosweet dan hubungannga lancar terus 🙏🙏

    Semangat dek buat next chapnya ya 🙆🙆

    Liked by 1 person

    1. Makin romantis dong, jangan terlarut ya kak karena aku suka buat kejutan dibanding buat orang terlalu senang /digampar/

      Terimakasih udah menyayangi pasangan astral kesayangku ini ❤❤
      Hubungan lancar ya Insya Allah ya biar rame ada hambatan dikit /ga/ wkwkwk
      Iya makasih semangatnya kak, semangat UN juga ya nanti eheh

      Like

  5. udah lama gak berkunjung ke blog nya kakak, eh tau tau this love odh chapter 7 aja😃. Ditunggu kelanjutannya kak, q suka bgt sm cerita ini FIGHTING!!!👊

    Liked by 1 person

Write ur Love Letter . . . <3

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s