Posted in Action, AU, Chapter, Fanfiction, FF : Agent Lu, Melodrama, PG-17, Politic, Romance, Sad, Tragedy

FF : Agent Lu – Scene 3 [I Miss You]

Agent Lu

[Scene 3 — I Miss You]

©2017 HyeKim’s Fanfiction Story

Starring With : Luhan as Luhan || Hyerim (OC) as Kim Hyerim

Genre : Politic, Romance, AU, slight! Action, Sad, Tragedy ||  Length : Mini Chapter || Rating : PG-17

Poster By : ByunHyunji @ Poster Channel

Summary :

Pada tahun 2030, terpecah perang antara China, Rusia, Korea Utara—negara kesatuan komunis, melawan Korea Selatan yang dibantu oleh sekutunya, Amerika Serikat. Disaat itu juga, Agen Lu yang dikenal sebagai Luhan melaksanakan misi untuk membunuh presiden Korea Selatan berserta keluarganya. Namun Luhan malah jatuh cinta pada Kim Hyerim serta harus menelan pil pahit bahwa Hyerim adalah putri presiden Korea Selatan, yang merupakan salah satu target yang harus dibunuh Luhan.

Disclaimer :

This is just work of fiction, the cast(s) are belong to their parents, agency, and God. The same of plot, character, location are just accidentally. This is not meaning for aggravate one of character. I just owner of the plot. If you don’t like it, don’t read/bash. Read this fiction, leave your comment/like. Don’t be plagiat and copy-paste without premission.


In a situation that was ruined, we fell in love


HAPPY READING

       

Keramaian kedai yogurt dan bubble tea di daerah Dongdaemun itu terlihat tak sepadat biasanya. Pemuda dengan kemeja putih itu menghela napas seraya kepalanya melongok ke arah depan guna memastikan antrean menuju kasir yang kian memendek. Luhan, akhirnya dirinya berpijak diurutan kedua antrean, tepat di belakang seorang gadis bersurai panjang.

“Ini kembaliannya Nona. Sampai jumpa lain waktu,” Si Kasir memberikan beberapa lembar won disertai senyuman ramahnya.

Serah terima uang kembalian itu pun selesai. Si Gadis bersurai legam tersebut membalikkan badan, sejenak dirinya bersipandang dengan dwimanik Luhan namun dirinya segera berlalu.

“Selamat datang Tuan. Ada yang bisa saya bantu?” vokal Si Kasir pun menyentil telinga Luhan yang menerawang ke papan menu yang tergantung.

Deheman Luhan terlolongkan. Kepalanya ia jatuhkan dari papan menu kepada Si Kasir yang masih setia menyunggingkan senyum ramah. “Aku ingin taro bubble tea…”

“Iya, iya. Aku akan ke DMZ nanti,” suara lain juga terdengar di belakang Luhan. Gadis berambut panjang  yang tadi mengantre di depannya itu tengah berteleponan sambil mengukung satu cup yogurt ditangan kirinya yang tak memegang ponsel.

Tangan Luhan dimasukan ke dalam saku celana jeansnya, pandangannya melayang ke arah lain. Sekon ini, Luhan sedang menunggu pesanannya tanpa menghiraukan kegiatan lain yang terjalin di sekitarnya, termasuk suara ayu gadis bermahkota legam panjang di belakangnya. Sang Dara cantik itu masih setia berteleponan dan juga terkekeh bersama lawan konversasinya di sebrang sana.

Tak lama, Si Kasir yang melayani Luhan tadi pun menampakkan diri serta menyodorkan taro bubble tea pesanan Luhan. “Ini pesanan anda, Tuan. Totalnya sepuluh won,” ujarnya masih dengan imej ramah yang semestinya.

Perempuan yang berada di belakang Luhan, iseng menoleh ketika pemuda itu mengambil cup taro bubble teanya dan menukarnya dengan lembaran uang. Mata perempuan yang lahir dengan nama Hyerim itu sontak melebar, dirinya seakan mengenal figur lelaki yang sedang memunggunginya ini. Tangan Hyerim yang meggenggam ponselnya pun meluncur turun serta kebetulan sambungan telepon sudah terputus. Dwimanik dara Kim ini menilik punggung lelaki di depannya lantaran sebuah kefamiliaran akan sosok tersebut.

“Terimakasih Tuan, sampai jumpa lain waktu,” ucap Si Kasir dan direspon Luhan dengan anggukan seadanya.

Tubuh Luhan berputar sambil menyeruput bubble teanya. Manik Hyerim makin melebar—menandakan sosok familiar yang menyita perhatiannya benar-benar orang yang ia ketahui. Luhan melayangkan tatapan pada Hyerim yang memasang wajah sulit diprediksi; antara terkejut atau ragu, disertai mulut yang melihatkan celah.

Tungkainya ia gerakan sedikit ke depan, tepat mendekati Luhan yang detik ini mengotak-atik ponselnya dan masih menyeruput bubble teanya diwaktu bersamaan. Karbondioksida Luhan terbuang diiringi gerakan kepalanya yang menggeleng-geleng, deretan aksara yang terpancar dari ponselnya lah yang menyebabkannya begini.

Dijauhkan oleh Luhan sedotan yang ia pakai untuk menyeruput bubble teanya, lantas mulutnya berfrasa. “Ck, informasi keluarga target utama belum juga dikirimkan kepadaku,” rangkaian dari vokalnya yang menggunakan bahasa mandarin membuat Hyerim mengetahui fakta bahwa pria ini bukan orang Korea.

Kepala gadis bernama lengkap Kim Hyerim ini agak dimiringkan, mimiknya pun terlukis ragu. “Anu… bukankah kau lelaki yang tempo itu menyelamatkanku di DMZ?” diberanikan oleh Hyerim untuk meloloskan pertanyaan walau dengan pita suara ragunya.

Antensi Luhan tertarik dari ponselnya, retinanya pun segera disuguhi sosok jelita Kim Hyerim yang berdiri di hadapannya. Bibir Luhan membuka dan menutup beberapa saat, tak yakin ingin melemparkan kata apa untuk menjawab pertanyaan Sang Gadis jelita ini. Adrenalin tubuh Luhan langsung memuncak, dengan desiran darah hebat yang mengguncangnya. Entah ingin mengakuinya atau tidak, Luhan memang sudah menaruh rasa pada dara cantik yang berdiri di depannya ini. Bisa dibilang cinta pada pandangan pertama itu memang ada.

“Apa kau tidak mengerti Korea?” hening yang berjeda panjang membuat ranum Hyerim berlolong kembali.

Luhan sendiri sudah terlihat sebelas dua belas dengan orang dungu, kelereng retinanya terlalu fokus mengamati lekuk wajah Hyerim. Hyerim memberikan tatapan dalam dengan wajah ragu, takut bila orang yang ia ajak berkomunikasi ini adalah sosok yang salah—dalam kata lain, bukanlah sosok yang menyelamatkannya dari pesawat militer Rusia saat itu.

“Dirimu orang asingkan? Tapi bila dirimu orang yang menyelamatkanku, kau bisa bahasa Korea. Saat itu kau bertanya ‘apakah kau baik-baik saja?’ dengan fasih menggunakan bahasa Korea,” Hyerim makin memiringkan kepalanya dan menggaruk kepalanya bingung.

Tersadar akan lakon tololnya, Luhan membuka mulutnya hingga membiarkan celah terlihat selama beberapa saat. Waktu selanjutnya, Luhan mengatupkan bibirnya. Organ tubuhnya kaku hanya lantaran sosok bak bidadari dengan nama Kim Hyerim ini. Luhan akui dirinya terpana pada sosok dara jelita ini.

“A..a..ku…” meski terputus-putus, Luhan setidaknya sanggup melafalkan kata. Kedua alis Hyerim terangkat bersamaan dengan raut penasaran.

Logam matanya ia alihkan ke arah lain, karena bila menatap dwimanik Hyerim, Luhan seperti terbius masuk menyelaminya. “Ya… aku yang saat itu menyelamatkanmu.”

Senyum tergambar dikurva Hyerim. Logam matanya membinarkan kegembiraan pada figur Luhan yang sekarang mulai bisa balas menatapnya walau hasilnya selalu sama yakni terlarut kedalam manik indah Hyerim. Kegembiraan dari dwimanik Hyerim terpancar karena Sang Dara yang akhir-akhir ini terus terusik akan sosok Luhan juga terus memikirkan Si Jaka tampan tersebut.

“Kebetulan sekali kita bertemu di sini, ya,” ucap Hyerim dengan raut riangnya. Anggukan kaku Luhan merupakan respon dari jaka marga Lu itu.  “Kalau begitu, aku ingin mengenalkan diriku…”

Tangan kanan Hyerim pun menyibak helaian rambutnya ke belakang, seakan tebar pesona dan hal tersebut sangat  ampuh pada Luhan yang langsung membuka mulut dengan wajah melongo—terperangah hebat akan kecantikan seorang Hyerim.

“Namaku Kim Hyerim. K-I-M-H-Y-E-R-I-M,” ejaan namanya dengan bahasa Inggris pun, Hyerim lakukan dan tangannya pun terjulur untuk berjabatan dengan Luhan. Sementara lelaki Lu itu masih terperangah. “Aku tahu dirimu orang asing. Jadi aku mengeja namaku dengan bahasa Inggris. Dan siapa namamu?”

Sesekon, dua sekon, bahkan lima sekon terbuang akan tergemingan Luhan. Meski kedai yogurt dan bubble tea ini makin ramai pengunjung, indra Luhan malah tersita penuh pada dentuman gila-gilaan dirongga dadanya. Sialan, dirinya terpaku pada senyum manis gadis Korea ini.

“Namaku… namaku…” Luhan mampu berucap juga. Tangan Hyerim masih setia menunggu jabatannya, dirinya pun menggerakan wajah condong kepada Luhan guna mendengar jernih aksara kasat mata dari mulut lelaki China ini. “Namaku… Luhan.” akhirnya Luhan mengenalkan nama dan dengan sedikit bergetar menjabat tangan Hyerim.

Senyum yang berhasil membuat Luhan terpana itu makin tersungging. Tangan keduanya berjabatan dan akhirnya melepas diri. Dapat dirasa kehangatan menjulur menggelitik runggu hingga kupu-kupu dalam perut Luhan  mabuk tak kepayang, hal ini hanya dikarenakanan sentuhan dari jabatan tangannya dengan Kim Hyerim.

“Sudah kuduga dirimu bukan orang Korea. Namamu bukan nama Korea,” liang pendengaran Luhan dimasuki suara ayu Hyerim kembali. Gadis tersebut masih setia menyematkan senyum yang brengseknya membuat Luhan tak dapat mengalihkan fokus irisnya. “Bisa aku pinjam ponselmu?” tiba-tiba, Hyerim bertanya dengan raut penuh harap.

Tergelaklah Luhan akan hal tersebut. Namun dirinya memberikan juga benda yang Hyerim minta. Gadis bermarga Kim tersebut pun sibuk mengotak-atik ponsel Luhan. Si Empunya ponsel pun diselimuti rasa penasaran dan melongokan kepala ke arah Hyerim.

Senyum lebar Hyerim mengembang diiringi tarian jarinya di ponsel Luhan berhenti. Masih melekatkan pandangan pada layar ponsel Luhan, Hyerim menstart ucapan lagi “Kata orang, pertemuan pertama adalah sebuah ketidaksengajaan, pertemuan kedua adalah sebuah kebetulan, pertemuan ketiga dan seterusnya adalah takdir. Dan aku akan membuat takdir itu terwujud,”

Ponsel Luhan ia balikan dengan bermaksud agar layar benda mati tersebut dilihat oleh Luhan. Mata Luhan sedikit menyipit, membaca deretan aksara yang terpatri. Sebuah kontak nomor yang diberi nama ‘My Destiny’. Dwimanik Luhan otomatis melebar dan mengalihkan pakuannya pada Hyerim dengan wajah tercengang. Dapat Luhan tangkap dari pandangannya, Hyerim tersenyum lebar sambil menggoyang-goyangkan pelan ponsel Luhan yang masih dipegangnya.

“Kau tahu, Luhan-ssi. Pertemuan pertama kita sangat mengesankan. Pertemuan kedua kita sangat tidak terduga. Maka pertemuan ketiga kita nanti bahkan seterusnya harus terkenang. Karena pertemuan ketiga dan seterusnya bertandakan takdir.” senyum penuh arti dilihatkan Hyerim kala mengakhiri untaian katanya.

Hyerim menekan tombol call pada ponsel Luhan. Detik berikutnya, ponsel Hyerim berdering dan deringannya terhenti saat Hyerim menekan tombol end call di ponsel Luhan. Setelah itu, ponsel milik Luhan pun ia kembalikan. Dengan tampang dungu dan mata mengerjap beberapa kali, Luhan menerima ponselnya yang terulurkan kepadanya.

“Sampai bertemu nanti, Luhan. Ingat, aku takdirmu yang akan bertemu denganmu lagi.”

Hyerim menyetirkan tubuhnya berbalik. Sebelum merajut langkah, kepalanya tertoleh pada Luhan yang masih membatu, lantas dara bernama keluarga Kim ini melempar senyum yang keparatnya membuat Luhan makin layaknya orang bodoh. Punggung Sang Gadis bernama Hyerim tersebut mulai mengecil dari kacamata beriris Luhan. Antensi Luhan kemudian jatuh ke layar ponselnya yang masih menampilkan ID kontak Hyerim. Senyum simpul terpatri diranumnya. Ya, dirinya akan membuat pertemuan ketiga dan seterusnya yang berartikan takdir itu terwujud. Bertemu kembali dengan sosok yang telah memenjarakannya dalam penjara asmara. Kim Hyerim.

       

Entah sudah berapa lamanya sosok Luhan itu termenung dengan obsidian menatap buliran air hujan dari balik jendela. Kepalanya memutar ulang pertemuan keduanya dengan Hyerim. Senyum dengan sendirinya terlukis. Hubungan keduanya memang kandas semalam. Namun hati tak pernah berbohong, bagi Luhan, hubungannya dengan Sang Gadis masih terjalin. Hatinya masih terlekat dengan sosok jelita tersebut.

Tiba-tiba, sosok Lian muncul dan duduk di hadapan Luhan. Binar netra tak habis pikir membingkai obsidiannya, lalu kepalanya pun menggeleng tak habis pikir juga. “Memikirkan apasih dirimu?”

Walau liang pendengarannya dijejali pita suara Lian. Tetapi pikiran Luhan masih tertuju pada Hyerim. Memori yang berlari diotaknya kini ialah saat Hyerim memutuskan hubungan keduanya semalam. Senyum Luhan pun meluntur dan mimiknya yang semula berbinar pun berubah menjadi suram. Hubungannya dan Hyerim kandas. Miris sekali ‘kan? Disaat keduanya mengatakan takdir telah menyatukan keduanya dan tak mempedulikan perang yang memporak-porandakan keadaan sekitar. Tapi Hyerim dengan entengnya berkata, semua salah karena perang yang terjalin lantaran pekerjaan Luhan sebagai agen mata-mata yang mempunyai tugas untuk membunuh ayah kekasih—ralat, mantan kekasihnya, bahkan mantan kekasihnya itupun harus ia bunuh.

“Bila pertemuan pertama adalah sebuah ketidaksengajaan, pertemuan kedua adalah sebuah kebetulan, pertemuan ketiga dan seterusnya adalah takdir. Kenapa takdir itu tidak bisa mengikat kita untuk terus bersama?” tanpa sadar, Luhan mengaumkan gumaman demikian dikarenakan ucapan Hyerim yang berputar terus-menerus dilabirin otaknya.

Menjadi orang yang tak sengaja mendengar gumaman Luhan, Wu Lian pun menaikan sebelah alis dengan muka bertanya-tanya. Namun raga Luhan masih melayang jauh entah ke mana sampai tak menyadari eksitensi Lian yang duduk di depannya.

Tahu akan tertuju kemana gumaman tersebut pada akhirnya, dengusan keras Lian pun tercetuskan dibarengi oleh bola mata berputar malas. “Masih saja memikirkan Si Gadis Korea sialan itu,” logam kelerengnya menghunus Luhan yang jiwa raganya masih menemui Hyerim. “Ayolah, Luhan. Come on, she said broke up, dude! So you must forget her, just that!” nada gemas tersampirkan rinchi oleh Lian, bahkan giginya bergetak saking gemasnya pada Luhan.

Delikan dihadiahi Luhan untuk gadis Wu yang masih menatapnya dengan obsidian berkilat-kilat. “But I still love her until whenever!” briton Luhan membalas nyinyir.

Helaan napas Lian pun terlaksana setelah briton Luhan membalas demikian. Waktu kedepan, Lian pun membawa tubuhnya berdiri dan memberikan  Luhan binaran netranya yang dalam. “Bila kau tak bisa membunuh Kim Hyerim bahkan Kim Jaehyun. Jangan salahkan aku bila ada yang lebih dulu membunuh mereka dan menyentuh tugasmu sembarangan.”

Kata yang diuntai Lian pun selesai ditandai Si Gadis yang menyetir tubuh untuk memutar serta pergi meninggalkan Luhan. Kepergiannya pun ditatapi Luhan dengan pancaran mata sendu, sendu mengingat sosok gadisnya yakni Kim Hyerim. Juga sendu akan kepedihan pada kenyataan, Luhan tetap harus membunuh sosok jelita itu meski hubungan keduanya berakhir sekalipun. Ditambahi sendu bila ia melalaikan tugas, gadisnya tetap akan mati ditangan agen lain. Dwimanik Luhan terpejam, berusaha menjernihkan pikiran kusutnya saat ini.

       

Susasana yang terajut di ruang khusus bersantai seperti halnya minum teh itu, terlihat damai nan tenang. Dua dara cantik duduk berhadapan di sebuah kursi dengan meja bertaplak putih sebagai pembatas keduanya. Lee Yara menuangkan teko bertampung teh ke cangkir minum milik sahabat manisnya. Namun Sang Sahabat yang dikaruniai nama Kim Hyerim, nampak menerawang dengan kepala menoleh ke samping, fokus retinanya hanya membingkai taman luas rumah mewahnya.

“Hallo? Sayang?” samar, tuturan yang berasal dari Yara terdengar. Si Gadis Lee tengah meggenggam ponselnya dan sibuk bercakap ria dengan Chanyeol—orang yang akurat dipanggil sayang olehnya.

Kegemingan Hyerim masih terjalin. Dwimaniknya tak dapat melepas diri dari jejeran bunga warna-warni yang menghiasi taman rumahnya. Otaknya berputar pada satu sosok yang kian muncul dalam lingkup memorinya. Sosok yang sering kali muncul kala Hyerim tengah memetiki atau menyirami bunga warna-warni tersebut. Sosok yang berusaha ia usir namun malah terus bergentayangan.

Di depan Hyerim, Lee Yara masih sibuk menjalin konversasi dengan Chanyeol melalui telepon. Raut wajahnya mengerut setelah selaput pendengarannya dijejali bariton Chanyeol di seberang sana. “Kenapa?” Yara pun membeo dengan oktaf agak tinggi, wajahnya pun bertanya-tanya.

Detik berikut, Yara menghela napas dengan membingkai wajah tak habis pikir. “Pekerjaan terus yang kamu pikirkan! Ayolah Chan,” rautnya terganti memelas. “Ya, minum teh bisa menjernihkan pikiranmu. Baiklah, terserah, berkerjalah sampai otakmu berasap! Terserah! Kencan saja dengan data agen-agen itu!” panggilan berakhir dengan tekanan keras di layar ponselnya oleh jempol Yara, tak luput pula muka kesalnya sambil merutuki wajah Chanyeol yang terpampang di layar ponsel.

“Chanyeol tak mau datang?” vokal Hyerim menyerobot ditengah-tengah belitan rasa kesal Yara pada kekasihnya. Setelah membuang napas dan melipat tangan didepan dada, Yara mengangguk. Masih dengan tak mengalihkan pandang, Hyerim bersuara kembali. “Biarkan saja, Ra-ya. Pasti Chanyeol mau ke sini tapi—”

“Sumpah, aku benci Park Chanyeol, Si Polisi devisi khusus yang mempunyai tugas ini-itu! Bahkan waktu kencan kita sering kali batal karena pekerjaan segunungnya itu,” potong Yara diakhiri aksi bibir bergerak-gerak layaknya orang berdumel, tak luput pula wajah sebalnya.

Atensi Hyerim pun tertuju pada Yara lantaran tuturan yang super sebal sahabatnya itu. Senyum meringis menahan tawa pun terlihat dalam wajah Hyerim. “Bersyukur saja mempunyai pacar polisi yang setidaknya normal,” kemudian Si Dara Kim ini meraih cangkir serta meminumnya beberapa cair.

Alis milik Yara berjungkit mendengar kata-kata Hyerim. “Normal?” ulangnya tak paham.

Kepala Hyerim terangkat. Beberapa sekon terpakai hanya dengan tabrakan iris milik Hyerim dan Yara. Mulut Hyerim tekunci dan terus menyelami obsidian Yara dengan pikiran bercabang pada sosok Luhan. Tarikan tipis tersemat dikurva Kim Hyerim, lantas ia menunduk dan mengambil sendok kecil yang ia gunakan untuk mengaduk-aduk tehnya yang ditambahkan beberapa gula sebelumnya.

“Ya, normal,” senyum simpul Hyerim makin mengembang, tangannya pun masih setia mengaduk-aduk tehnya meski gulanya sudah larut sepenuhnya. Yara sendiri makin heran dan rasa penasarannya makin terurai. “Setidaknya dirimu tidak mengencani agen mata-mata Tiongkok yang akan membunuhmu.” lalu Hyerim kembali mengangkat kepala guna menaruh fokus pada Yara sambil melempar senyum simpul.

Mulut Yara terbuka lebar, seakan rahangnya akan jatuh dari tempatnya. Otaknya mencerna secepat kilat akan rangkai aksara kasat mata milik Hyerim yang menyentil telinganya. Disarangkan pula tatapan dengan mata membola tak percayanya pada Hyerim.

“Jadi… jadi… kamu putus dengan Luhan karena…” tak sanggup berfrasa, anggukan Hyerim membantu Yara untuk meyakinkan pemikiran yang bersarang dibenaknya. Wajahnya makin tercetak tak percaya.

Tiga hari lalu, Hyerim mendatangi Yara serta menangis begitu saja tatkala Yara baru saja bersitatap muka dengannya. Lontaran pertanyaan ‘Kenapa?’ terus terucap oleh Yara tempo itu. Namun sahabat marga Kimnya itu terus meneteskan liquid hangatnya. Pun setelah tenang, Hyerim masih belum menjawab karena sesegukan. Sekon terbuang percuma, Hyerim akhirnya berdongeng perihal putusnya dengan Luhan. Aksara kenapa terlolong lagi dari ranum Yara. Tetapi Hyerim memilih aksi patung kemudian memilih pulang. Dan hari ini, tepat detik ini, Lee Yara pun tahu alasan mengapa Hyerim memutuskan asmaranya.

Dwimanik Si Gadis Lee berkedip. Sekali, dua kali, tiga kali. Kim Hyerim membuang pandang dengan senyum samar. “Hyerim-ah,” panggil Yara dengan pita suara rendah.

“Hmm.” fokus Hyerim masih terbuang. Sementara Yara terus menyarangkan tatapan khawatir.

Karbondioksida dari mulut Yara pun terbuang. “Luhan tidak akan membunuhmu, aku yakin. Jangan menyiksa dirimu sendiri…” rasa pedih terbingkai diranum Hyerim kemudian dirinya menaruh atensi pada Yara yang masih menghunusnya dengan binar manik khawatir. “Pasti dirimu merindukannya ‘kan?”

Menunduk dilakukan lagi oleh Hyerim. Diambil pula cangkir tehnya untuk ia cicip tak sampai habis lalu menaruhnya kembali ke tatakan. Tabrakan antara tatakan serta cangkir mengaum, tapi Hyerim memilih lakon diam sambil menaruh fokus pada cairan teh yang terpampang dalam cangkir.

“Bila aku menjawab tidak merindukannya, aku berbohong,” penggal Hyerim akan sajak aksaranya. Seakan rasa pedih itu tersalurkan padanya, Yara membuang napas serta pandangan ke arah luar. Hyerim meminum tehnya sampai tak bersisa. “Dan bila aku jujur. Aku merindukannya selalu.” lanjut Hyerim setelah tehnya tersalurkan habis ketubuhnya.

Tak tahu mengapa, bibir Yara tertarik masih dengan manik menatap ke arah luar dengan kepala menengok ke jendela. “Dan Si Agen yang kau bilang akan membunuhmu itu juga merindukanmu,”

Satu alisnya terangkat, disarangkan juga oleh Hyerim tatapan tak mengerti. Selanjutnya, Yara menggerakan dagunya guna menunjuk sebuah objek. Kepala Hyerim membanting stir ke arah yang ditunjuk dagu Yara. Luhan, pemuda itu terbingkai jelas dikacamata kornea Hyerim. Sosok tersebut sedang berdiri di depan pagar besi bercat hitam yang membatasi rumah keluarga Kim dengan dunia luar. Lelaki China itu terlihat membawa sebuket bunga aster putih ditangan kanannya. Bila ingin menghidupkan rasa percaya diri, Hyerim akan mengklaim bunga tersebut untuknya.

Yara melempar pandang pada Hyerim. Dilukisklah sebuah senyum simpul. “Temuilah dia,” dan Hyerim malah terpaku pada sosok yang ia rindu tersebut. “Walau Chanyeol sedang menyelidiki agen mata-mata yang berkeliaran di Seoul, aku tak akan memberitahunya. Manfaatkan waktumu bersamanya sebelum waktu memisahkan kalian.”

       

Tatkala netranya menangkap ukiran angka di kalender. Otak Luhan dirayapi perasaan tak waras. Hari ini tepat pada tanggal 18 Maret 2030 adalah hari jadi kedua bulannya bersama Hyerim. Umur jalinan kasih keduanya masih seumur jagung, namun sekarang jalinan tersebut malahan terhenti ditengah jalan. Masih terngiang diotak Luhan bahwa Hyerim meminta buket bunga aster putih untuk hari jadi kedua bulan. Dan itulah yang menarik Luhan ke mari—rumah rahasia Presiden Kim Jaehyun, dengan buket bunga aster putih. Pandangan Luhan tertancap pada rumah mewah di hadapannya, keterpakuan terus menerjanganya dan gerakan apapun tak tercipta darinya.

‘Klik!’

Tahu-tahu, gemaan bunyi yang berasal dari pintu gerbang yang terbuka pun memantul ketelinga Luhan. Matanya melebar. Rasa gugup bersarang kuat. Adrenalinnya menggila. Salivanya pun terteguk. Raga Luhan melayang kala melihat Kim Hyerim muncul dari pintu gerbang yang dibuka beberapa menit lalu. Gadis itu menatapnya dengan binar yang sukar dipahami. Luhan sendiri tak tahu harus berlakon bagaimana.

Hening tersapu karena lontaran pertanyaan Hyerim yang berisikan, “Ada apa?” dan tatapannya jatuh kepada bunga aster dalam genggaman tangan kanan Luhan.

Baru saat pertanyaan itu dikumandangkan, Luhan pun berkedip. Angin menerpa keduanya membuat plastik yang membaluti bunga aster tersebut mengeluarkan suara dan terjadi gerakan kecil pada bunga asternya sendiri.

Pandangannya ia setir ke arah lain, mengabaikan Hyerim yang menghadangnya dengan tatapan tersirat rindu. “Kamu tahu ‘kan bila janji harus ditepati?” hanya angin yang bersemilir ria yang merespon. “Karena kamu menginginkan bunga aster dihari ja—maksudku hari jadi, ah bukan, apasih disebutnya… emmm, bila bahasa Inggris sih failed monstrary kita yang ke… emmm… dua bulan…” Luhan mendadak salah tingkah dengan menggaruk belakang kepala serta menunduk. Hyerim pun tersenyum samar memperhatikan tingkah pemuda di depannya sekarang. “… karena kamu menginginkan bunga aster dan aku sudah berjanji, dan janji mesti ditepati maka dari itu aku membawakan bunga aster.” kepala Luhan kian menunduk.

Tangan Hyerim sedari tadi masih terlipat diatas perutnya. Kepalanya ia banting stir ke arah samping, kemudian ranumnya merapalkan kata. “Itu hanya alasan ‘kan?” Hyerim pun menatap Luhan yang sudah mengangkat kepala. Iris keduanya saling menyapa dan larut beberapa saat.

Manik Luhan menerawang ke arah bawah. Semilir angin yang tenang lantas menyeruakan harum bunga aster yang kian menyapa pangkal hidung Luhan maupun Hyerim. “Bila banyak alasan untuk bertemu denganmu, aku akan selalu menggunakannya,” kepala Luhan terangkat seraya tangannya menyodorkan bunga aster tersebut pada Hyerim dengan senyum lembutnya.

Angin menjelang sore itu kian menusuk pori-pori kulit, hening juga mendominasi. Kedua makhluk adam dan hawa itu masih mematung dengan posisi berdiri berhadapan. Tangan Sang Jaka setia terulur untuk menanti Sang Dara menerima buket aster putih tersebut. Asa Luhan terwujud tatkala Hyerim menerima buket bunganya dan menyarangkan tatapan dalam. Timbal balik Luhan pun serupa, menatap Hyerim dalam.

“Kita sudah berpisah,” walau selembut simfoni, ucapan Hyerim itu menyekelit dihati Luhan. Ranum gadis Korea ini mengulas senyum datar—kentara akan hatinya yang tak mencerminkan senyuman. “Jadi anggap saja kita tidak saling mengenal agar tidak ada pihak yang tersakiti lagi.”

Luhan membatu dan terus membatu, bahkan ketika Hyerim berbalik dan malayangkan kaki masuk ke perkarangan rumahnya kemudian menghilang ke dalam rumah mewah keluarga Kim, Luhan masih terpaku dengan paras seakan ada air es yang menyiramnya, matanya juga seakan dilem untuk tak berkedip.

Tetapi, tanpa Luhan tahui, Hyerim menatapnya di balik jendela rumahnya sambil menyibak gordennya yang berwarna putih serta meremasnya pelan hingga kusut. Tatapannya hanya tersarangkan pada Luhan.

“Bila saja kita tidak bertemu, kamu tidak akan menyelamatkanku. Bila saja kamu tidak menyelamatkanku, kamu tidak akan merengkuhku. Bila kamu tidak merengkuhku, maka aku tak akan menatapmu. Jika aku tak menatapmu, maka aku tidak akan mengingatmu. Jika aku tak mengingatmu, aku tak akan memikirkanmu. Jika aku tak memikirkanmu, aku tidak mungkin merindukanmu. Kalau aku tidak merindukanmu, aku tidak mungkin jatuh kepadamu. Kalau aku tidak jatuh kepadamu, aku mana mungkin bisa bersama denganmu. Andai aku tak bersama denganmu, kita tidak akan memiliki kenangan. Bila kita tidak memiliki kenangan, aku tidak mungkin makin mencintaimu. Bila saja kita tidak saling mencintai, kita tidak akan berpisah. Andai saja… kita tidak pernah bertemu.”

Otaknya memutar ulang kejadian awal pertemuan, pertemuan kedua dan ketiga, serta kenangan bersama Luhan  kala didalam hatinya, Hyerim menggumam demikian diiringi tetesan kristal yang membasahi pipi dan remasan kuat pada gorden yang dicengkramnya.

       


Sepatu pantofel yang membaluti tungkai pemuda tampan itu terlihat berpijak di jalanan lenggang Taman Sungai Han. Pemuda yang lahir dengan nama Luhan itu melayangkan tatapan nanar pada tempat kencannya bersama Hyerim yakni Taman Sungai Han. Seketika, sesosok gadis jelita berjalan dari arah berlawanan, Luhan makin melihatkan tatapan nanar saat gadis dengan nama Kim Hyerim itu berjalan santai dengan ukiran senyum. Bola mata Luhan mengikuti sosok Hyerim yang melukiskan kebahagiaan diwajahnya, dirinya pun main melewati Luhan tanpa menatap dan menyapa pemuda Lu itu.

Besoknya, kembali Luhan menginjakan kaki di tempat kencan kesukaannya dengan Hyerim. Hari itu juga, kembali ia bertemu dengan gadis berwajah ayu itu. Hyerim tampak berjalan dari arah samping kiri Luhan dengan satu cup caffe latte dengan logo starbucks, Hyerim pun menyesap kopi tersebut sambil memutar tubuh di depan Luhan serta berjalan menjauh. Hingga punggungnya kain mengecil, Luhan kembali menelan pil rasa sesak akan Hyerim yang kembali berpura-pura tak mengenal bahkan melihatnya.

Hari berikutnya, Luhan lagi-lagi berada di taman yang sama. Sekon ini pun, dirinya mematung sambil menaruh atensi penuh pada sosok perempuan yang terus ia rindukan. Saat ini, Hyerim sedang terduduk di bangku taman dengan earphone bertengger ditelinganya dan ponsel yang berada digenggaman. Dara cantik itu terlarut pada ponselnya sambil sesekali terkekeh tanpa suara dan tersenyum pada benda mati tersebut. Sejenak, Hyerim mengalihkan pandangan dan tanpa sengaja mendapati Luhan yang makin bergeming tanpa berkedip namun gadis bermarga Kim tersebut kembali larut pada ponselnya kemudian tersenyum sambil terkekeh tanpa suara lagi. Bahkan kali ini, Luhan cemburu pada ponsel yang bisa disenyumi oleh gadis itu tetapi dirinya yang jelas-jelas sosok hidup malah kembali terabaikan oleh Kim Hyerim.

Dihari keempat, kaki Luhan terseret lesu sambil menunduk. Lokasi yang ia kunjungi masih saja taman di Sungai Han. Tangan Luhan dikantongi dalam saku coat abu-abunya. Waktu berikut, kepala Luhan terangkat dan disuguhi sosok Kim Hyerim yang berjalan santai dengan tangan yang sama-sama terkantongi di saku coat coklat kemerah-merahannya. Ujung mata Luhan mengikuti sosok Hyerim yang tahu-tahu berhenti beberapa jengkal di depannya. Baru saja Luhan ingin tersenyum untuk menyapa, tetapi tubuh Hyerim berbalik dan mencetak senyum lebar.

“Reen-ah, palliwa, (cepatlah)” seraya melambaikan tangannya, Hyerim memanggil perempuan bernama Reen Do yang tengah berjalan setengah berlari ke arahnya.

Reen pun sudah melingkarkan tangan ditangan kanan Hyerim. Kedua kawan itu saling melempar senyum, tak peka akan signal Luhan yang menatap keduanya—lebih tepatnya Hyerim dengan tatapan dalam dan rindu. Dua perempuan itu mulai menderapkan langkah sambil memulai konversasi.

“Bagaimana hubunganmu dengan Minseok?” Hyerim bertanya pada Reen. Sementara Luhan terus melekatkan tatapan pada punggung Hyerim, bahkan sampai memutar tubuh ke arah berlawanan untuk melihat gadisnya itu.

Reen yang masih melingkarkan tangan dilengan Hyerim, melirik temannya itu dengan senyum lebar. “Baik sekali. Apalagi dirinya baru selesai wajib militer dan akan menjadi relawan di daerah Anyang yang kemarin menderita kelaparan. Aku tak perlu khawatir karena gencatan senjata di Anyang tidak sesering di DMZ atau di Gangnam.”

Anggukan Hyerim dengan gumaman pun menyahuti untaian kata Reen. Ditengah konversasi keduanya, Reen menoleh ke belakang dan menatap heran Luhan yang sudah beberapa jengkal jauhnya. “Hyerim-ah, sepertinya lelaki itu menyukaimu. Kuperhatikan dirinya melihatimu terus dari tadi.”

Derapan langkah Hyerim berusaha tidak ia hentikan meski tubuhnya seakan terhantam sesuatu untuk tak bisa berkutik. Senyum kaku terpatri dibibir Hyerim diiringi ayunan pada kakinya yang agak memelan. “Ah begitu. Kamu tahu sendirikan bila aku memang cantik, ahahaha.” keduanya saling tatap dan menggelakan tawa menyambut gurauan Hyerim.

Lagi, Luhan merasa cemburu pada Reen sekarang. Gadis Do itu bisa melingkarkan lengannya dilengan Hyerim. Sementara Luhan kembali menjadi sosok asing yang merindukannya.

Mungkin rindu itu sudah menggila. Luhan berpijak lagi dan lagi ke Taman Sungai Han hari ini. Sudah empat kali berturut-turut ia bertemu Hyerim meski Si Gadis berlakon tak mengenalnya. Maka asa Luhan pun terjalin, dirinya berasa akan Hyerim yang bisa ia temui lagi hari ini. Matanya yang sendu kian sendu tatkala sosok yang ia harapkan menampakan diri. Kim Hyerim selalu saja cantik dari kacamata korneanya, menyebabkan Luhan terus melakatkan obsidian pada gadis ayu itu. Hyerim melangkah ke arah Luhan dengan Luhan yang terus menatapinya. Ketika gadis bernama keluarga Kim itu melewatinya, Luhan membanting stir tubuhnya untuk berbalik guna melihat lebih jelas Hyerim yang mulai berjalan di belakangnya. Seketika, Hyerim mempause langkah kakinya. Luhan rasanya lupa cara bernapas kala Hyerim menengok ke belakang—tepat ke arahnya. Perempuan yang Luhan rindukan ini, terus menatap Luhan dalam dan Hyerim pun mengulas senyum setitik yang entah berarti apa. Mata Luhan berair tapi Hyerim malah melunturkan senyum dan menelengkan kepala lalu menoleh kembali ke arah depannya seraya melayangkan tungkai menjauh. Tanpa dimau, air mata mewakilkan rindu itu jatuh dipipi Luhan.

“Ternyata hanya aku yang merindu di sini. Apakah adil bila dua insan bersama kemudian berpisah, hanya satu dari keduanyalah yang merindu?” gumam Luhan dengan mata berair tertancap pada tempat Hyerim terakhir menghilang.

And I miss u miss u

My destiny

       

Rumah mewah yang terletak di distrik Gwanak itu nampak lenggang. Hanya ada satu sosok kehidupan di sana, yakni seorang gadis bersurai panjang nan legam. Kim Hyerim lah nama gadis yang sekarang sendiri di kediaman rahasia ayahnya. Dengan senandung merdu, Hyerim menata meja panjang di rumahnya yang memajangkan foto-fotonya dan keluarganya serta menata ulang vas bunga yang sudah layu.

“Hem…. hem… hem…” senandungan Hyerim berlanjut kala dirinya membuang bunga yang layu itu serta mengambil bunga baru yang sudah ia siapkan.

Mulut Hyerim seketika mengatup saat bunga baru yang ingin ia taruh di vas pun berada dalam kukungan genggamannya. Obsidiannya terpaku pada bunga aster putih ini, bunga yang Luhan berikan lima hari yang lalu dan masih terlihat segar. Napas Hyerim terhela, mencoba menghapus jejak Luhan dalam lingkup dirinya. Tangan Hyerim sibuk memasukan bunga aster tersebut ke dalam vas. Kala bunga aster itu sudah sah berada di vas bunga, Hyerim merapikan posisinya sambil bersenandung pelan kembali.

‘Kleekkk!’

Guncangan hebat menerjang seketika. Hyerim terlonjak bahkan nyaris menjatuhkan vas bunga aster yang sedang dirapikan olehnya. Guncangan bak kesetanan itu makin menggila, layaknya bumi berdisko di lantai dansa bar. Barang-barang rumahnya pun berkletak akibat guncangan yang Hyerim klaim sebagai gempa.

‘Klek! Klek! Klek!’

Goyangan pada bingkai foto yang terpajang di meja rumahnya ini bergetar hebat. Vas bunga asternya pun turut andil bergetar-getar, Hyerim dengan gesit menahannya. Ia kira guncangan ini akan berhenti namun nyatanya guncangan tersebut makin menguat. Hyerim sendiri nyaris jatuh dengan menimbulkan bunyi ‘brak!’ dikarenakan usaha dirinya bertumpu pada meja panjang di depannya.

“Sial,” umpat Hyerim sambil berusaha terus menahan bobot tubuhnya dengan bertumpu pada meja di depannya.

Lantaran terus berusaha bertahan, Hyerim melupakan vas bunganya serta menyebabkan bunyi ‘krang!’ nyaring terlolongkan dari vas bunga yang beberapa waktu kebelakang ditata olehnya. Persetanan dengan indahnya bunga aster yang mulai berceceran. Guncangan yang terjadi makin meningkat dan membuat foto keluarga Kim yang terpajang di dinding pun jatuh ke lantai hingga retak.

Tubuh Hyerim berjengit ngeri sambil menggigit ujung lidahnya melihat itu. Jelas ini bukan gempa, ini serangan sialan tentara musuh padahal baru dua hari lalu tentara Korea Utara dengan Rusia serta China membuat daerah Anyang kelaparan. Lengan milik Hyerin terjulur meskipun tubuhnya ikut bergetar untuk mengambil ponsel. Ponsel miliknya pun terambil, Hyerim pun mulai menekan layar sentuhnya tetapi….

“AAAKHHH!!” mulut Hyerim melolongkan teriakan ketika lantai yang ia pijaki terbelah.

Keseimbangan Hyerim pun hilang, tubuh gadis bernama lengkap Kim Hyerim ini langsung berbantingan dengan lantai yang retak. Gemaan keras tercipta akibat bantingan tubuh Hyerim tersebut. Sekejap, pandangan dara ini mengabur. Ponsel masih tergenggam erat dilengan kanannya. Guncangan kembali terjadi, dapat dirasakan oleh Hyerim bahwa bumi yang ia baringi ini makin membelah dan merembet ke arahnya. Sebisa mungkin, Hyerim menggulingkan tubuhnya yang terasa kaku untuk menghindari kejadian buruk dirinya jatuh ke lubang yang akan membelah lantai rumahnya ini.

Tubuh Hyerim berhasil berguling beberapa jengkal ke depan diiringi lubang shinkhole biadap mulai muncul di tempat dirinya jatuh berbaring barusan. Lubang setan itu makin tercipta dan guncangan kesurupan dari bawah bumi makin meningkat. Tubuh Hyerim sendiri bergoyang-goyang walau sebenarnya dirinya bergeming, tangan milik Hyerim bergerak-gerak liar untuk mencari bahan tumpuan untuk bertahan serta bangkit. Kepalanya pusing tak kepalang, matanya makin tak jelas memandang. Hyerim lantas menyadari bahwa ponselnya terlepas dari kukungan genggamanya ketika dirinya berguling untuk pindah tepat. Dan sekon ini, Hyerim hanya menatap naas ponselnya yang tergeletak jauh.

‘Kletak! Kletak!’

Lampu kediaman keluarga Kim pun bergoyang-goyang bahkan bagian langit-langit yang menggantungkan lampu besar itu terlihat sedikit retak. Dalam hati, Hyerim terus merapal doa agar lampu tersebut tak jatuh juga tentara-tentara keparat yang merupakan tentara musuh itu menghentikan aksi bajingan ini.  

“Eungghhh…” lenguhan Hyerim lolos.

Ditengah neraka shinkhole ini, Hyerim berusaha bangkit dan mendesis kesakitan saat merasa kakinya nyeri. Nyeri tersebut terhantarkan keseluruh tubuhnya. Dilirik dari ujung netra, kakinya terluka dengan luka gores agak lebar dan sedikit mengeluarkan darah. Persetanan dengan itu, Hyerim menggeret kakinya karena nyeri yang makin menjadi. Langkahnya pincang namun tetap ia paksakan, Hyerim pun memegangi kaki kanannya seakan mengurangi perih yang menjalar keseluruh tubuhnya.

Langkah Hyerim terajut ditengah goyangan brengsek dari tentara komunis ini. Deringan ponsel berbunyi ditengah kegiatan Hyerim berusaha bertahan, dirinya melayangkan pandangan dan terlihat ponselnya bergetar-getar dengan deringannya. Hasrat dalam dirinya ingin mengambil benda tersebut namun keadaan yang ada tak memungkinkan. Membuang rasa pedulinya pada benda beberapa inchi itu yang kian berdering, Kim Hyerim terus melangkah hingga mencapai bibir masuk ruang keluarga. Hyerim meraih jam besar berwarna coklat yang berpijak serta bergetar di ruang keluarga sebagai tumpuannya sekarang. Dicengkram erat jam tersebut meski bergetar-getar kuat.

‘Krakkk!’

Keparat. Nyaris Hyerim mengumpat kala retakan di lantai rumahnya melebar serta merambat layaknya air terjun deras ke lantai ruang keluarga. Tanpa menunggu lama, lantai yang berada di samping Hyerim terbelah melihatkan celah yang terlihat menyeramkan. Hyerim makin menguatkan tumpuan pada jam besar di sampingnya. Namun naas, jam tersebut makin bergoyang hingga finalnya…

Mata Hyerim melebar ke arah jam yang sedari tadi ia gunakan sebagai tumpuannya, mulutnya pun terbuka lebar diiringi teriakan yang mewakili keterkejutannya. “AKHHHH!!” suara  ‘blam!’ dari jam tersebut yang jatuh pun terdengar dan detik itu juga tubuh Hyerim kembali tumbang dengan kesadaran setengah persennya.

Disekon yang sama. Keadaan simpang siur di luar kediaman keluarga Kim pun terjadi. Para warga berlarian ke sana-ke sini. Tak menyangka akan serangan musuh akan terjadi di daerah Gwaknak, mengingat saat gencatan senjata pertama kali dilakukan, salah satu yang menjadi target dihancurkan adalah Seoul National Unniv yang ada di Gwaknak dan hal itu sudah terealisasikan. Derung mesin pesawat militer pun mengaum, membuat atensi warga tertuju  ke langit lepas yang kini berhias beberapa pesawat militer milik Korea Utara, China, dan Rusia.

“Berlindung! Semua berlindung! Pesawat tiga negara komunis datang menyerang!” teriakan seorang pria paruh baya pecah dengan manik liar menyisir sekitar.

Teriakan serta pekikan panik bercampur takut pun pecah disertai warga yang tumpah ruah ke sana-sini, mencari tempat berlindung juga berusaha melindungi orang yang ia kenal. Pesawat-pesawat militer itu meluncur melewati para warga yang simpang siur, kemudian pesawat tersebut meluncurkan serangan tembakan bahkan bom pada sebuah rumah yang agak mencolok di daerah Gwanak. Serangan pada rumah tersebut berakibat fatal, seketika rumah mewah itu tumbang dan sebagian mulai menjadi butiran pasir tak berarti. Suara ledakan pun menandakan akan kebinasaan rumah yang berdiri megah tersebut. Pesawat ketiga negara itu belum puas, beberapa pesawat lain pun muncul dan melakukan hal serupa—yakni melempar bom dan tembakan pada rumah mewah itu meski sudah sebagiannya hancur, seakan rumah itu memang harus menjadi abu dan tak pantas berdiri kokoh di sana.

Rumah mewah yang tak lain kediamaan Presiden Kim Jaehyun itu, sudah setengahnya menjadi buing-buing tak berarti. Di bagian yang masih berdiri agak kokoh, sosok Hyerim yang merayap untuk bebas dari tindihan jam besar tersebut pun tampak tak patah arang meski penggerakannya berada dititik paling lemah. Darah disisi kepala gadis manis tersebut pun terlihat. Kesadarannya hanya sekian persen dengan pandangan sudah benar-benar tak jelas. Deringan ponselnya kembali terdengar seakan meronta ingin diloloskan.

Disaat seperti ini, Hyerim memutar kejadian menyesakan lima hari kebelakang. Luhan. Sosok yang sebenarnya sangat ia rindukan dan ingin ia lihat sekarang, adalah sosok yang menghantuinya terus-menerus membuat Hyerim setiap hari berkunjung ke Taman Sungai Han—tempat kencan favorit keduanya. Lima kalilah keduanya bersitatap, namun pamor Hyerim menjulang dengan berlakon tak mengenal pemuda Lu itu yang memancarkan kesenduan serta rindu padanya.

Dengan napas yang terpenggal-penggal dan dada naik turun tak beraturan, bahkan mata yang mulai terpejam serta telinga yang sudah mulai samar mendengar dering ponselnya bahkan keadaan di sekitar, Hyerim menggumam. “Luhan, aku merindukanmu.”

Waktu itu jugalah, serangan final pesawat-pesawat militer negara komunis tecetuskan. Ledakan keras menggema disertai rumah Presiden Kim Jaehyun yang sepenuhnya runtuh menjadi buing pasir tak berarti. Satu tiang kayu pun menimpa ponsel Hyerim yang masih berdering lalu nada panggilan tersebut terputus dengan satu nomor yang masuk ke dalam daftar missed call untuk kesekian kalinya. Layar ponsel milik Kim Hyerim itu menyala, membiaskan lockscreen manis kedua insan. Potret Hyerim yang berada dalam rangkulan Luhan. Keduanya duduk di kursi Taman Sungai Han dengan senyum mengembang. Namun retakan kaca ponsel Hyerim seakan meciptakan garis pemisah diantara keduanya. Ya, seakan keduanya memang seharusnya berpisah tanpa bersatu sekalipun.

—To Be Continued—


Just want say sorry, guys!

Aku bilang ini bakal tayang perminggu, tapi melor banget. Karena aku lagi liburan ke Itali alias bolos wakakak karena di Vigo cuman libur Senin & Selasa doang bft wkwkwk. Ini aku juga ngepostnya lagi di Roma.

Hanya ingin memberitahu, chapter depan adalah chapter terakhir. Stay tune yes!

Untuk kaknee, makasih mau minjemin Reen melipir lewat gitu doang bhaks bhaks XD XD /salahkan anak alay ini yang males mikirin nama/

Komen ya, aku udah nulis cerita untuk kalian, yuk mari kalian tulis komentar buat aku.

P.S : INSYA ALLAH HYERIM BELUM MATI DAN CIEKKKK LUHAN TAU BANGET RASANYA KETEMU MANTAN TAPI SI MANTAN PURA-PURA GAK KENAL. LOLS.

.HyeKim 

—Luhan’s Soulmate—
Advertisements

Author:

A tinkerbell who dream to be Luhan's future wendy — Also an amature author, k-drama trash, k-running man freak, eternal ELF, ahjussi and korean actor addict in the same time — Adorable since 2001

7 thoughts on “FF : Agent Lu – Scene 3 [I Miss You]

  1. Kasihan banget sama mereka, baru dua bulan pacaran ternyata sudah putus. Terus gimana sama hyerim apa nanti dia akan selamat ? Apa luhan yang akan nyelamatin hyerim apa yang nelpon tadi itu luhan ? Terus para tentara itu tau darimana kediaman rahasia kim jaehyun ? Apa lian yang kasih tau ?
    Cepat banget sih kak tamat nya, terus gimana hubungan mereka nanti. Pokok nya ditunggu chapter berikutnya.

    Liked by 1 person

  2. Sedih baca chap ini… Deg deggan juga..
    Sedih saat Luhan ama hyerim harus putus 😭

    Seru bnget deh chap ini.. Luhan bakalan nyelamatin Hyerim kan.. Dan semoga mereka baikan lagi 🙏🙏

    Semangat dek buat Next chapnya 😊😊
    Fighting 💪💪💪
    ❤❤❤

    Liked by 1 person

Write ur Love Letter . . . <3

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s