Posted in Chapter, Comedy, Family, FF : Beauty and The Beast, Marriage Life, PG-17, Romance

FF : Beauty and The Beast Chapter 14 [Spring in Eurwangni]

beautyandthebeast2

Beauty and The Beast Chapter 14

└Spring in Eurwangni ┘

©2017 HyeKim’s Fanfiction Story

Starring With : Luhan as Luhan || Hyerim (OC) as Kim Hyerim || Kyuhyun Super Junior as Cho Kyuhyun || Nana After School as Im Jinah

Genre : Romance, Comedy, Marriage Life, Family ||  Length : Multi Chapter || Rating : PG-17

Summary :

Beauty and The Beast adalah cerita dongeng yang dulu selalu menghiasi masa kecil seorang Kim Hyerim. Hyerim dulu sempat berkata ingin menjadi Belle, si cantik yang jatuh cinta pada beast. Si pangeran yang dikutuk jadi monster. Apa yang akan Hyerim lakukan bila hal tersebut terjadi padanya?

Disclaimer :

This is a work of fiction. Any similarity of plot, character, location are just accidentally. This contain is not meaning for aggravate one of character/organization. All cast belongs to God, their parents, and their agency. But the storyline is mine. Plagiarism, copy-paste without permission, and be a silent readers  are prohibited. Leave this story if you don’t like it.


Rasanya musim semi benar-benar membelit dalam diri Hyerim saat ini, tenggelam dalam obsidian Luhan yang menatapnya hangat.


PREVIOUS :

Teaser || #1 || #2  || #3  || #4 || #5  || #6 || #7  || #8  || #9 || #10 || #11 || #12 || #13

HAPPY READING

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

“Kim Hyerim!” bass khas Luhan kembali pecah dengan langkah gusar yang menuntuni dirinya. Sementara Hyerim yang tiba-tiba memilih memutar tubuh untuk pergi, terlihat mengabaikan panggilan pemuda tersebut. “Ya!” akhirnya Luhan berseru setelah berhasil meraih lengan kanan gadis Kim tersebut. “Kenapa main pergi?!” kembali Luhan berseru dengan wajah jengkelnya.

Tanpa berbalik, Hyerim meneguk ludahnya, pun remasan pada dompet Luhan yang belum ia berikan, makin kuat. “Kau sendiri kenapa keluar? Bukannya dirimu sedang menemui seseorang?” balas Hyerim dengan kepala menoleh serta melirik Luhan dari ujung mata.

Nampak Luhan membuang napas lantas menggeleng. “Tidak penting. Sudahlah,” tangan Luhan yang tidak memegang lengan Hyerim, terkibas-kibas.

Melihat lakon Luhan, Hyerim menstirkan tubuh untuk berbalik dan melayangkan tatapan. “Dia Im Jinah, ‘kan?” kelit kakak Kim Taehyung tersebut. Seketika Luhan seakan terhantam sesuatu, mulutnya langsung bungkam diiringi tangannya yang mulai turun dari lengan Hyerim. “Dia cinta pertamamu, temui saja dia.” Hyerim bervokal nyinyir kembali kemudian melempar dompet Luhan yang membuatnya harus menuntun tubuh ke mari.

Untung saja Luhan refleks mengambil dompetnya agar tidak terjatuh saat Hyerim melemparnya. Gadis keluarga Kim itu memutar tubuh dan mulai menata langkah. Diawali dulu dengan decakan dan kepala yang meneleng-neleng, Si Pemuda Lu menggeret diri mendekati istrinya kemudian menyambar lengannya lagi.

“Aku tidak mau menemuinya,” kata Luhan menyebabkan Hyerim memberhentikan tataan langkah juga melirik suaminya ini dari ujung netra. “Setiap kali melihatnya, aku merasa sakit hati, Hyer. Bantu aku untuk berasalan pergi dari sini.” vokal Luhan memohon dengan mimik yang serupa.

Obsidian Hyerim terpejam dengan gigitan yang ditorehkan dibawah bibirnya. Oh, jadi dirinya hanya alasan Luhan untuk menghindari rasa sakit hatinya? Perlahan, Kim Hyerim mengambil napas dan menghembuskannya, berusaha ia miminalisir rasa sakit yang menggerogoti dari tadi. Sekon berikut, membuang rasa peduli, Si Gadis marga Kim tersebut menyingkirkan tangan Luhan darinya serta mengayunkan tungkai menjauh.

“Hyerim-ah,” panggil Luhan setengah memekik. Lantas ia pun menyusul Hyerim yang melangkah lebar-lebar tuk menghindarinya.

Tanpa kedua sejoli itu sadari, Im Jinah memperhatikan keduanya yang terbingkai dari kaca cafe. Dirinya terpaku dengan benak yang hilir hudik mencari tahu identitas Hyerim yang wajahnya sangat familiar. Mendadak, mata Jinah membola ketika mengingat sesuatu.

“Tunggu, perempuan tadi itu bukannya gadis yang ada di bingkai foto di ruang kerja Luhan? Gadis yang menggunakan gaun pengantin dan melingkarkan tangannya dilengan Luhan, ‘kan?” bibir Jinah merapal demikian saat ia teringat pada momen dirinya mengunjungi kantor Luhan dan melihat hal aneh.

Well, aneh karena ia tidak pernah diberitahu bahwa Luhan sudah menikah atau belum tatkala melihat bingkai foto yang sepertinya di sebuah pernikahan. Yang mengejutkannya, mempelai prianya itu adalah Luhan dan mempelai wanitanya adalah….

Kepala Jinah terangkat dengan dwimanik menatap lurus-lurus tempat Hyerim menghilang terakhir kali dari pandangannya. “Jika memang Luhan sudah menikah, berarti gadis tadi adalah istrinya?” gumam Jinah dan mengatupkan kedua tangan yang lalu ia tindihi dagunya sendiri dengan otak berpikir keras.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

“Hyerim, Kim Hyerim!” entah sudah berapa kali ranumnya mengaungkan nama perempuan tersebut. Namun timbal balik Hyerim hanyalah sikap kacangnya pada Luhan yang sekarang mendesah frustasi. “Kamu ini kenapa?” oktaf Luhan meninggi.

Kim Hyerim yang sudah memasuki petak rumah keduanya, membelokan badan berbalik menghadap Luhan dan menghunuskan tatapan dingin. “Kenapa apanya? Aku memang begini,” sambar Hyerim dan memutar tubuh kembali.

Kepala Luhan pun geleng-geleng karena tahu ada yang tidak beres dengan istrinya itu. Tetapi sebelum mendebat kembali, Luhan membuka alas kaki dahulu lantas barulah ia menggeret langkah mendekati Hyerim.

“Sikapmu aneh,” adalah komentar Luhan setelah berada di sebelah Hyerim yang sekon ini sudah mendudukan diri di sofa ruang keluarga juga menyalakan televisi.

Tanpa berniat menatap Luhan barang meliriknya sedikitpun, Hyerim memilih memeluk bantal sofa dengan manik fokus pada layar televisi. “Dirimu lebih aneh, otak lumba-lumba.” Hyerim membalas juga memberikan delikan sinis pada Luhan.

Kekesalan akhirnya ikut menular pada Luhan lantaran diberikan delikan seperti itu. Jaka tersebut menghela napas kasar dengan kepala bergerak-gerak ke sana-sini. “Ya! Kambing dungu! Dirimu lebih aneh! Tiba-tiba puasa bicara dan dingin padaku. Memang apa salah—“

“Salahmu banyak,” potong Hyerim tanpa mengalihkan lekatakan dwimanik dari televisi dan dengan santai meraih remot untuk memindahkan saluran televisi.

Tangan kanan Luhan secara sendiri menggepal, geram pun menyelimutinya. “Heh, kambing dungu,” jari telunjuk Luhan melayang untuk mendorong samping kepala Hyerim.

“Ish, apaan sih?” desis Hyerim kesal akan aksi Luhan yang kelewat tidak sopan, tatapan tajam pun langsung ia berikan pada Luhan.

Tangan Luhan melipat didepan dada, dirinya juga ikut memberikan tatapan kelewat tajamnya. “Heh, dirimu itu aneh. Sejak tahu aku bertemu Jinah, tiba-tiba puasa bicara. Memangnya kenapa sih? Aku ‘kan sudah bilang bahwa aku tidak mau bertemu dengannya makanya mengekorimu untuk pergi. Tak usah percaya diri karena aku mengekorimu tadi.”

Mimik Kim Hyerim nyatanya makin memberengut mendengar penuturan Luhan. Dasar tidak peka. Dasar bajingan. Dasar otak ikan pari. Umpatan tersebut terlolongkan keras-keras dalam hati Hyerim. Tak tahukah Luhan bahwa Hyerim memendam rasa sakit dan cemburunya tatkala melihat suami, ralat, suami kontraknya, itu menemui cinta pertamanya? Tapi tunggu, kenapa Hyerim harus cemburu? Apa jangan-jangan—

“Ya, terserah.” dipilihlah oleh Hyerim untuk tidak terlarut pada perasaan sakit hati konyolnya itu, dirinya pun kembali larut pada televisi.

Sementara Luhan hanya menatapi profil samping gadis Kim ini. Menilik beberapa saat kemudian menggeleng tatkala tidak menemukan fakta akurat apapun akan perubahan Hyerim. Tak ingin ambil pusing, Luhan mengiring tubuh berdiri serta mengayunkan tungkai menuju kamar mandi yang berada di dekat ruang keluarga. Kala pintu kamar mandi yang tertutup menyentil telinganya diiringi figur Luhan yang masuk ke sana, kepala Hyerim terarah juga maniknya turut andil melekatkan pandang pada pintu kamar mandi. Bibir Sang Gadis mengerucut, pun parasnya memberengut.

“Dasar tidak peka!” desis Hyerim penuh akan kemarahannya, lantas dirinya mengambil bantal sofa serta memulai ancang-ancang tuk melemparkannya ke arah pintu kamar mandi yang berisikan Luhan.

Setelah membidik singkat, bantal tersebut pun mulai melayang dan—

‘Cklek!’

Pintu kamar mandi terbuka ditiming nan sama, tak lupa pula Luhan yang membukanya pun berjalan keluar dengan kepala menunduk. Ketika mengangkat kepala, netranya disapa oleh bantal yang dilempar Hyerim dan secepat kilat wajahnya pun terkena lemparan bantal tersebut sehingga menimbulkan suara ‘bruk’ yang tak terlalu bising.

Dwimanik Luhan mengedip beberapa kali tatkala bantal yang tertimpuk kewajahnya meluncur turun, terlukis jelas wajah Luhan yang cengo—pertanda akan rasa kagetnya, ditambahi oleh mulut yang membentuk huruf o. Di lain sisi, Hyerim hanya tersenyum paksa dengan wajah meringis. Manik Luhan lantas tertancap pada sosok Hyerim, dirinya masih memeras otak guna mencerna insiden yang baru menimpanya.

“Kim. Hye. Rim.” Luhan memicingkan obsidian, pun sajakan katanya yang mengeja nama Hyerim terdengar sangat mengintimidasi.

Wajah polos tanpa dosalah yang Hyerim lihatkan. “A—a—ku… ingin ke kamar, sudah malam.” Hyerim berkata dan dengan kecepatan ekstra, dirinya beranjak dengan tungkai setengah berlari menuju kamar.

Dalam kegiatan larinya, Hyerim merapalkan umpatan tanpa suara sambil memukuli samping kepalanya dengan kepalan tangan kanannya. Luhan sendiri masih mematung sambil menatap kepergian dara satu itu. Barulah Luhan menggeleng-geleng sambil berdecak.

“Ckckckck, kambing dungu, berani-beraninya menimpukku.”

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Perpustakaan seharusnya menjadi tempat untuk mengerjakan tugas atau membaca buku. Namun kegiatan yang dijalin oleh manusia berkelahiran Kim Hyerim ialah memainkan ponselnya di perpustakaan. Dirinya bosan, lantaran Nara yang notabenya sahabatnya malahan bolos kuliah dengan alasan malas. Hell, dikira Si Kwon itu, hanya dirinya saja apa yang  malas, Hyerim juga malas namun dibanding di rumah dan bersitatap dengan Luhan hanya akan membuatnya kesal setengah mati. Dan kekesalannya masih pada perkara Luhan menemui Im Jinah. Lantaran itu juga Hyerim merutuki dirinya tidak waras.

‘Brak!’

Buahan suara yang nyaris membuat Hyerim mengumpat kasar, berhasil menarik atensinya dari ponsel. Sosok Yoo Ara dengan senyum manis lah yang barusan mengebrak buku ke atas meja di depan Hyerim, teman satu angkatannya itu tengah melempar senyum super manis yang malahan keliatan berlebihan dikacamata Hyerim.

“Oh, Ara? Ada apa?” Hyerim melempar tanya dengan alis berjungkit.

Si Gadis bermarga Yoo ini tambah menarik sunggingan senyumnya makin lebar—Hyerim bersumpah, karena saking lebarnya senyuman Ara, mungkin ranumnya bisa sobek sekon ini. Di sekon berikut, Ara membanting bokong ke kursi di depan Hyerim dan membungkukan tubuh condong kepada Hyerim dengan tangan saling mengait di atas meja. Manik Ara yang menghunusnya tajam menyebabkan Hyerim risih bukan main dan hal tersebut terbingkai rinchi diwajahnya.

“Kau tahu ‘kan, kita akan melaksanakan kencan buta?” Ara mulai menstart konversasi dengan mimik serius. Respon Hyerim adalah anggukannya tanpa menunggu lama. Sambil menegakan tubuh dan menyender ke senderan kursi, Ara melafal kata lagi dengan senyum yang tak selebar beberapa sekon lalu. “Aku ingin bertanya padamu sekali lagi. Kau ingin ikut tidak?”

Tawaran yang disodorkan Ara membuat pikiran Hyerim bercabang ke sana-ke mari. Otaknya serasa diperas kuat untuk memikirkannya. Kencan buta, siapa sih anak kuliah yang tak mau mengikutinya? Tak terkecuali Hyerim, dirinya sangat ingin ikut acara seperti itu dan bermain bersama teman-temannya. Namun dilain sisi, para temannya tahu bahwa dirinya sudah menikah.

Melihat kebimbangan  membelit kawannya ini, Ara berdehem sejenak dan membetulkan posisi tubuhnya. “Hyerim-ah, ayolah, ikut dengan kita, please?” mulailah Si Yoo ini memelas dengan tampang memohon, pun Ara menelengkan kepalanya. Hyerim melihat aksinya sembari menggigit bibir bawah, bingung. “Para sunbaenim senang bila primadona angkatan kita ikut. Ditambah akan ada alumni yang ikut juga. Ayolahhhh,” Ara membujuk dan bahkan meraih tangan Hyerim seraya menggoyang-goyangkan tubuhnya.

Setelah akhirnya perang lama menerjang kebimbangannya, Kim Hyerim menarik napas kemudian menghembuskannya. Yakin, ia pun mengangguk seraya mengulas senyum. “Baiklah, aku ikut.”

Reaksi dari Yoo Ara adalah bersorak tanpa suara sambil menggepalkan tangan ke atas. Ya, well, tak masalah bukan bila Hyerim ikut blind date? Lagipula pernikahannya dengan Luhan hanya sebatas janji diatas kertas.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

“Heh, Kim Taehyung! Rumusmu salah!” vokal Luhan menyeruak dari salah satu kursi cafe langanannya dengan Taehyung. Dirinya mendorong buku tulis adik iparnya itu setelah memeriksanya, tak luput pula ia menatap Taehyung yang menunduk sambil mendumel tanpa suara, dengan geleng-geleng tak habis pikir.

Taehyung mengangkat sedikit kepalanya serta melirik Luhan sekilas. Adik dari Hyerim itu tak bereaksi sesuai keinginan Luhan, yakni mengambil buku tulis untuk membenahi kesalahannya. Hal tersebut membuat Luhan mengetuk-ngetukan telunjuk ke buku pemuda Kim ini.

“Ayo cepat benahi. Aku sudah mengatakan akan menjadi gurumu sampai ujianmu nanti,”

Respon Taehyung hanya mangut-mangut tak jelas, lantas menarik Luhan untuk berdecak sambil menggeleng tak habis pikir kembali. Akhirnya, Taehyung pun mengambil bukunya serta mulai membenahi pekerjaannya yang salah. Dapat Luhan tangkap, adik iparnya ini mengerucutkan ranumnya kesal. Mati-matian lah Luhan untuk tidak tertawa.

Sambil memperhatikan Taehyung yang membereskan soal darinya, pikiran Luhan tahu-tahu melayang dan terhenti pada Hyerim, lebih tepatnya pada sikap Hyerim kemarin. Secara refleks Luhan agak memiringkan kepalanya saat mengingat tingkah istrinya itu.

Luhan melayangkan netra pada sosok Taehyung di depannya, “Taehyung-ah,” adalah panggilan Luhan untuk menarik perhatian Taehyung. Namun adik iparnya ini hanya menggumam singkat sebagai jawaban. Seraya menimbang-nimbang, akhirnya lidah Luhan bercakap lagi. “Tahu tidak, sikap kakakmu sangat aneh kemarin.”

Dengan pensil yang ia tari-tarikan di atas kertas, tanpa mengalihkan kepala guna menatap Luhan, “Dia memang aneh,” ialah jawaban Taehyung yang agaknya sarkas. Lagi-lagi, Luhan menahan ledakan tawanya.

Dengan cerengesan pelan pertanda menahan tawa, Luhan mengulum senyum geli pada akhirnya. “Tapi kemarin, Hyerim memang aneh, aku sungguh-sungguh,” Luhan menyambung kembali ucapannya.

Tarian pensil Taehyung berhenti dan diletakan di samping buku tulisnya, mulailah dirinya mengangkat kepala dan menatap figur pria Lu di depannya lekat. “Memangnya kakakku kenapa kemarin?” penasaran, Taehyung mengangkat sebelah alisnya setelah merapal tanya.

Luhan menelengkan kepala dan menggumam sejenak, kelereng matanya bergerak-gerak lalu menjatuhkan diri pada Taehyung yang menguarkan kepenasarannya. “Jadi…” Luhan mulai mendongeng. Spontan, Taehyung menegakan tubuh dengan tangan terlipat di atas meja. “kemarin itu aku emmm… bertemu dengan satu kenalan lamaku—“

“—Perempuan?” penggal Taehyung tak sopan dengan mata membola. Luhan menatapnya spontan, agak ragu ia pun mengangguk. Waktu selanjutnya, Taehyung mengangguk-angguk dengan wajah seolah paham. “Pasti Hyerim nuna melihat dirimu bertemu dengan perempuan itu, ‘kan?” ujar Taehyung dengan pandang menerawang sembari mengangguk-angguk.

Tepat sasaran, Luhan membuka mulut dengan manik melebar. “Bagaimana kau bisa tahu?” pekik pria marga Lu ini, membuatnya dihadiahi lirikan dan senyum miring Taehyung.

“Tentu saja aku tahu!” tangan Taehyung memukul pelan mejanya dan membanting punggung ke senderan kursi dengan wajah bangganya. “Karena pasti sikap aneh yang hyung ingin katakan itu ialah cemburu.”

What? Rahang Luhan seakan-akan ingin jatuh dari penempatannya saat kata cemburu lolos dari vokal Taehyung. Tunggu, Kim Hyerim cemburu? Padanya? Secara spontan, Luhan menyunggingkan senyum samar.

Hunusan tajam Luhan tertancap pada Taehyung melalui irisnya, wajahnya terbingkai berusaha meyakinkan. “Bagaimana bisa Hyerim cemburu?”

Diiring langsung oleh Taehyung tubuhnya untuk condong pada Luhan, maniknya pun menghunus lekat netra Luhan. “Tentu saja kakakku cemburu. Dirinya langsung aneh dan dingin ‘kan setelah itu?”

Kepala Luhan mengangguk refleks, ranum Taehyung pun tertarik mengulas smirk. “Nah! Seratus bahkan dua ratus persen, Hyerim nuna cemburu! Kalian ini ‘kan suami-istri, masih belum lama juga menikah, wajar masih ada rasa-rasa cemburu.” tangan Taehyung terjulur ke bahu Luhan dan menepuk-nepuknya keras seraya meloloskan kekehannya.

Bergeming langsung menerjang Luhan dengan netra kosong, pikirannya langsung dipenuhi satu fakta; Kim Hyerim cemburu. Ingin rasanya Luhan tersenyum lebar, tetapi ia tahan dan malah berakhir tersenyum tipis sambil mengangguk-annguk. Ada rasa asing menerjangnya tatkala tahu Hyerim memendam cemburu pada dirinya, seakan-akan ia senang sekali dengan hal itu.

“Ngomong-ngomong hyung,” Taehyung buka suara lagi dengan tubuh yang mulai ia tarik kembali untuk bersandar ke kursi. Fokus Luhan langsung tersita kembali pada Taehyung. “Akan ada libur musim semi besok. Tiga hari. Aku ingin satu hari dihabiskan olehku, Hyerim nuna, hyung, juga ayah untuk pergi ke pantai.” ucap Taehyung dengan paras semangatnya akan cetusan idenya itu.

Alis Luhan berjungkit dengan tatapan dalamnya pada Taehyung. “Pantai?” ulang Luhan seakan berusaha mengorek kuping dan mengonfrimasi. Anggukan kelewat semangat Taehyung segera menjadi jawaban.

Taehyung mulai mencondongkan tubuh ke arah Luhan kembali, bahkan mengambil tangan Si Kakak Ipar dan megenggamnya erat. Terbingkai wajah memelas dari Kim Taehyung. “Ayolah hyung, sisa dua harinya aku akan belajar denganmu. Tapi satu hari saja kita ke pantai, ya, ya, ya? Aku sudah lama tidak ke sana,” start Taehyung akan rengekannya dengan tubuh bergoyang-goyang juga dirinya menarikan-narik tangan Luhan yang ia genggam.

Luhan hanya menghela napas melihat aksi adik iparnya ini sambil memejamkan mata, dahinya pun berkerut untuk memikirkan usulan Taehyung.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Libur musim semi pun dimulai. Entah badai dari mana, Hyerim merasa kupingnya bermasalah saat Luhan mengajaknya berlibur ke pantai. Oh, oke, ternyata itu usulan dari adiknya—Kim Taehyung. Maka sekon ini, Hyerim tengah mengecek kembali barang-barang yang ia bawa. Saat ini, dirinya berada di teras rumah serta menunggu Luhan yang masih ada di dalam.

‘Tap! Tap! Bruk!’

Sialan. Gigi Hyerim menggertak kesal saat langkah kaki menyapa gendangnya lalu dengan seenak pantatnya menyenggol keras tas yang sedang Hyerim periksa sambil berjongkok. Akibatnya, tas Hyerim tertendang dan berakhir memuntahkan beberapa isinya. Dengan muka bengis, Hyerim melirik Luhan yang berdiri tanpa dosa menatapi tasnya, dengan tajam.

Sementara itu, Luhan melayangkan kelereng matanya pada Hyerim yang berjongkok beberapa meter di sebelahnya. “Ups, maaf. Tidak sengaja, eheheh,” ujar Luhan tanpa dosa, bahkan melihatkan cengiran yang mana menambahkan poin pada Hyerim untuk menamparnya habis-habisan.

Biasan dwimanik Hyerim masih tajam seakan adanya sinar laser yang terpancar, bahkan maniknya pun menyipit. Luhan yang diberikan tatapan laser, hanya menggaruk tengkuk dengan kekehan pelan.

“Huh!” Hyerim membuang napas keras dengan selimutan keras kekesalannya.

Setelah sebelumnya menarik napas dan menetralkan diri agar tak meledak pagi-pagi bahkan ia akan berlibur bersama adik juga ayahnya, Hyerim mulai membereskan barangnya dan memasukannya kembali ke dalam tas. Menjadi pengamat semata, Luhan memilih tak peduli dan melongos pergi.

Tanpa membalikan badan, Luhan bersua, “Aku tunggu di mobil, ya!”

Dan Hyerim pun memberikan Luhan tatapan tak percaya juga sebalnya. “Bukannya membantu, padahal dirinya yang membuat barang-barang ini berantakan lagi. Otaknya benar-benar otak lumba-lumba.” desis Hyerim kesal dan refleks pula tangannya mengepal. Darahnya pun seakan mendidih keotaknya dengan mata berkilat-kilat pada punggung Luhan yang kian mengecil.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

“Ayah, hati-hati,” wantian Hyerim terdengar pada Sang Ayah tatkala beliau berusaha turun dari mobil yang selama kurang lebih satu jam dikendarai oleh Luhan menuju Pantai Eurwangni.

Sang Ayah hanya terkekeh melihat Hyerim meraih tangannya serta menuntunnya hati-hati. “Ayah tidak selemah itu, Hyerim-ah,” ujarnya namun membiarkan putri sulungnya megandengnya turun dari mobil.

Di sudut lain pasangan ayah dan putri itu, Taehyung dan Luhan malah sudah bersatu dengan pasir Pantai Eurwangni dengan kaki agak menjinjit. Sedikit informasi, pantai yang mereka kunjungi terkenal akan kerang-kerang di pasir putihnya maka kala berjalan di atasnya harus berhati-hati. Kedua pria itu sudah sangat antusias, terlebih lagi Taehyung. Pemuda Kim itu sudah melempar sandal kemudian membuka tas yang ia bawa, selanjutnya, dikeluarkanlah bola pantai yang ia bawa.

Hyung!” Taehyung memanggil Luhan yang sedang menyisir pemandangan sekitar, sambil melempar-tangkap bola pantai ditangan kanannya. Kepala Luhan berbelok ke arahnya, dengan segera saja Taehyung mengeluarkan cengiran dan melambai-lambai. “Ayo main volley!”

Atensi Luhan tertancap pada bola pantai warna-warni dalam kukungan Taehyung. Pada akhirnya, kurvanya mengulas senyum simpul seraya kepalanya yang mengangguk. “Ayo! Yang kalah harus diberi hukuman!” respon Luhan tak kalah antusias.

Langsung saja, Taehyung berdiri dan menerima saran Luhan akan hukuman yang akan dijatuhkan pada yang kalah. Keduanya pun mencari tempat bermain dan segera bersiap-siap. Dengan bola ditangan kiri dan tangan kanan mengepal tuk siap memukul, mata Taehyung melirik Luhan yang sudah dalam posisi siap beberapa meter di depannya.

“Kita mulai, ya!” seruan Taehyung pecah dan detik berikut bola melambung menuju arah Luhan.

Permainan dua pria itu pun terjalin, beberapa kali Taehyung maupun Luhan menangkis dan melempar bola. Seruan juga gerutuan sebal kadang pula mendominasi. Namun, di tempat lain, Hyerim yang sudah menggelar tikar dan mendudukan diri di atasnya bersama ayahnya, hanya menatap kedua pria itu dengan dwimanik menyipit juga kekesalan menjelit.

Tangan dara satu ini meraih kotak makanan dan menatanya, tetapi atensinya tetap tertancap pada Luhan serta Taehyung. “Mereka malahan bermain, bukannya membantuku!” desisan kesal Hyerim lolos, mengundang Sang Ayah menatap ke arahnya kemudian terkekeh.

“Biarkan saja, Hyer. Mereka sedang bersenang-senang, cobalah bergabung,”

Kepala Hyerim tertoleh kepada ayahnya yang tersenyum lembut sebagaimana biasanya. Gelengan menjadi jawaban tidak setelah beberapa saat. “Tidak, aku ingin menemani ayah saja di sini. Bermain dengan kedua makhluk itu hanya menyulut emosi,” mata Hyerim melirik dengan cibirannya pada dua makhluk yang ia maksud.

Manik Ayah Hyerim tertuju pada putra dan menantunya, pun kepalanya mengangguk-angguk melihat kedua lelaki yang sekarang saling kejar-kejaran itu. “Ya! Kim Taehyung!” teriak Luhan dengan muka bengis sambil menunjuk-nunjuk Taehyung.

Sementara yang dikejar hanya tertawa lepas. “Hyung, kalah! Hyung, kalah!” ledek Taehyung dengan kepala menoleh ke belakang tepat kepada Luhan, lidahnya pun menjulur.

Nampak lukisan kekesalan makin terlihat diparas Luhan dan larinya semakin ditingkatkan untuk mendapatkan Taehyung. “Kau curang!”

“Tidak, tidak. Hyung yang payah!” jerit Taehyung.

Adegan lari-lari kejar-kejaran itu masih berlanjut. Dan untung saja pantai yang biasanya ramai pengunjung ini sedang sepi, jarang sekali di musim semi yang menghabiskan waktu di pantai. Tak tahan, Ayah Hyerim mencetuskan kekehan melihat tingkah kedua lelaki itu apalagi sekon ini Luhan sedang memiting leher Taehyung dan menjewer telinganya, menyebabkan Taehyung memekik bak kesetanan. Hyerim pun sama menyaksikan adegan itu, tetapi dirinya hanya geleng-geleng sembari berdecak tak habis pikir.

“Kalau begitu…” tahu-tahu, Ayah berdiri dari posisi duduknya. Kelereng mata Hyerim pun menatapnya dengan kepala mendongak, tampak pula kerutan dahi yang menandakan kebingungannya. Ayah pun balik menatapnya bersama dengan senyuman. “ayo kita juga main. Ayah akan main volley juga.”

Obsidian Hyerim baru berkedip, otaknya mencoba tuk mencerna namun ayahnya langsung menyambar tangannya juga mengayunkan tungkai mendekati dua lelaki kekanak-kanakan yang sudah mulai bermain volley kembali.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Sudah beberapa detik bergulir dan diwaktu yang sudah terlewati itu, Hyerim ikut bergabung bermain volley bersama Luhan, Taehyung, serta ayahnya. Well, dirinya sedikit bahkan sangat terpaksa untuk turut andil dalam permainan volley ini lantaran Sang Ayah yang main menggeretnya, apalagi dirinya harus satu tim dengan Luhan.

‘Bruk!’

Tubuh Luhan bertabrakan dengan tubuh Hyerim tatkala netranya terfokus pada bola yang melambung serta siap menyambutnya. “Hei!” pekik Luhan spontan dengan kepala yang semula mendongak, terstir ke arah Hyerim dengan manik kesal.

Tetapi, bola yang tadi diusahakan oleh Luhan untuk ditangkis, sudah berhenti melambung dan menyapa pasir Pantai Eurwangni—ditandai dengan buahan suara ‘duk’ yang tak begitu nyaring. Setelah itu juga, sorakan Taehyung mendominasi.

“Hore! Hyung! Kau melewatkan bolanya!” pemuda Kim itu pun melompat dengan tangan kanan mengepal ke atas. Kemudian menoleh kepada ayahnya serta melakukan high five bersama sambil tertawa—namun Ayah Taehyung hanya terkekeh pelan tak seperti putranya.

Di sudut pria bernamakan Luhan itu, terajut atmosfer tidak mengenakan untuk sekian kalinya. Laser dari netra Luhan menghunus tajam Hyerim yang tampak risih dan menengok ke arah lain dengan kaki kanan bergerak-gerak resah.

“Sudahlah, kita bisa main lagi,” vokal Hyerim bersua dengan lirikan sepintasnya pada Luhan juga wajah niat tak niatnya.

Permainan volley kian berjalan. Akan tetapi, permainan yang dibawakan tim Luhan dan Hyerim masih saja sama; kacau. Bak layaknya bumi dan langit, tim yang digawangi Taehyung dan ayahnya malah bermain kompak hingga memperoleh skors terus-menerus.

“Aduh! Jangan berdiri di situ! Jadi terinjak, ‘kan?” adalah seruan Luhan dengan muka sebal pada Hyerim ketika tidak sengaja menginjak kaki gadis itu. Wajah Hyerim hanya mencebik kesal meresponnya.

“Hey! Kim Hyerim! Jangan di situ! Harusnya dirimu lebih ke kiri agar bolanya tertangkap!” omelan dan seruan kedua Luhan sembari tangan kanannya terkibas-kibas ke sebelah kanan dengan wajah geram. Hyerim pun hanya menatapnya datar tercampur kegeraman pula namun Si Gadis masih menyisakan kesabaran.

“Gerakanmu lelet sekali, kambing dungu!”

Ya! Bolanya hampir kutangkap tapi kenapa kau berdiri di depanku? Aku jadi kesusahan, bodoh!”

“Kim Hyerim, awas!”

“Kim Hyerim, kau menghalangiku lagi!”

“Kim Hyer—“

Frasa yang akan diucapkan Luhan itu terhenti begitu saja saat sebuah bola melayang dan berakhir menampar wajahnya. Gemaan dari bola itu mengaung lantas bola volley yang Hyerim lempar tuk menimpuk Luhan itu jatuh ke atas pasir putih pantai. Lukisan mimik Luhan ialah cengo dengan mulut separuh terbuka. Sebagai oknum pelempar bola, Hyerim malahan layaknya banteng mengamuk detik ini. Wajah perempuan bernama lengkap Kim Hyerim itu tercetak bengis bahkan sangat merah akan amarah mengarungi, napasnya tersenggal-senggal dengan dada naik turun, pun sorot matanya tajam. Taehyung berserta Ayah yang berada beberapa jengkal dari keduanya, hanya melongo melihat insiden yang tersajikan antara pasangan tersebut.

“Sudah, aku tak mau main lagi, otak lumba-lumba!” nah, amarah yang membelitnya sudah tertumpahkan kala ini. Tubuh Hyerim berputar setelahnya, tungkainya mulai ia ayunkan dengan langkah lebar-lebar, tak luput pula wajah geram dengan tangan mengepal di sisi tubuhnya.

Barulah ketika punggung Hyerim makin mengecil, Luhan tersadar akan yang menimpanya. Wajah yang semula cengo tersapu menjadi muka geram disertai gigi mengertak, dwimaniknya juga tertancap penuh kekesalan pada punggung Hyerim yang mulai tak terlihat.

“Heh! Kambing dungu! Kau yang tidak becus, kenapa kau yang marah? Hey! Kim Hyerim!” namun Si Kambing Dungu yang ia panggil benar-benar menghilang dari tangkapan kilatan netranya tanpa berniat menjawab seruannya satu pun.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Debaran ombak pantai dengan semilir angin tenang membuat atmosfer pun menghangat. Setelah acara bermain volley, keluarga Kim pun memutuskan untuk makan siang. Dengan tikar yang sudah digelar berserta makanan yang dibawa, keempatnya menyantap makan siang dengan nikmat.

“Telur gulung! Aku ingin telur gulung!” tercetuslah seruan Taehyung saat matanya melihat telur gulung kesukaannya. Sumpitnya ia iring ke makanan yang ia inginkan, tetapi sumpit lain malahan sudah menjepit telur yang ia idam-idamkan.

Matanya menilik dan mendapati Hyerim lah yang menyumpit lebih dulu telur gulung tersebut dengan tatapan untuk mencegah Taehyung merebut telur gulung tersebut. “Ini milikku!”

Mimik lelaki bernama Kim Taehyung tersebut langsung tertekuk, ia gerakan sumpitnya untuk mengambil telur tersebut namun dengan cekatan Hyerim sudah mengambil telur tersebut dan memindahkannya ke piring miliknya.

Nuna,” ucap Taehyung setengah merengek dengan ranum dimajukan.

Jari telunjuk Hyerim terangkat dan bergoyang-goyang disertai kepala menggeleng. “Tidak, ini punyaku!”

“Tapi aku yang ingin duluan!”

“Dan aku yang mendapatkannya lebih dulu,”

Finalnya, adik-kakak tersebut bertengkar konyol hanya karena sebuah telur gulung. Taehyung sampai menuntun tubuh condong ke Hyerim dengan tangan terjulur guna meraih telur yang diinginkannya. Dan Hyerim pun tak mau kalah, Sang Kakak juga memiringkan tubuh dengan menaruh piring berisi telur gulung tersebut di sisinya.

Menjadi penonton dalam aksi makannya, Luhan hanya tersenyum simpul apalagi menyaksikan ayah dari saudara tersebut, geleng-geleng dengan senyum hangat. Seketika rindu menerjang dirinya, pria bernama Luhan ini merindukan mendiang ayahnya. Dulu dirinya sering sekali ribut hal konyol bersama Kyuhyun—kakak sepupunya, kemudian ayahnya dengan lembut akan melerai. Setelah ayahnya pergi, sosok lain menggatikan, tatkala Luhan meributkan hal remeh temeh dengan Kyuhyun, pasti Jinah akan menengahi, gadis itu—

Tiba-tiba, Luhan menghela napas dengan memejamkan mata saat dengan spontan bayangan Im Jinah merasuki dirinya. Hati kecilnya menolak sosok cinta pertamanya itu, namun di lain sisi ia juga masih berharap.

“Ayah! Hyerim nuna menggigitku, huaa!”

Tersentak kembali dari kefrustasiannya lantaran pekikan Taehyung, kelereng netra Luhan pun terbuka kembali dan menyaksikan sosok Taehyung yang merengek sembari menarik-narik lengan ayahnya. Juga terlihat Hyerim yang baru selesai mengunyah telur gulung hasil peperangannya dengan Taehyung, menjulurkan lidah dengan tampang meledek.

Sang Ayah hanya berdecak lalu mencubit hidung Taehyung. “Astaga, Taehyung. Kamu sudah menjadi pria dewasa, kenapa masih merengek begini? Dan Hyerim, kenapa kamu kekanak-kanakan sekali padahal sudah menikah?” beliau melirik Hyerim dengan binar mata tak habis pikir.

Terlihat adik-kakak tersebut sama-sama menampilkan wajah memberengut juga bibir mengerucut. Kembali berdecak dan menggeleng, Ayah pun menyumpitkan satu pangsit dan mengiringnya ke depan mulut Taehyung.

Palli meog-eo, (cepat makanlah)” ujar Sang Ayah.

Putranya yang bernama Taehyung itu tersenyum lebar, lantas membuka mulut diiringi oleh pangsit yang disuapkan ayahnya. Kala putranya mengunyah, tatapan Ayah beralih pada Hyerim yang melukiskan wajah datar. Disumpitlah satu pangsit kembali oleh Tuan Kim dan sekon ini dituntun kepada putrinya.

“Hyerim-ah, meog-eo, (Hyerim, makanlah)” bak selembut salju lah vokal ayahnya yang menyentuh runggu, apalagi sematan senyum hangat yang membuat Hyerim terpaku. Mulut Si Putri Sulung terbuka, spontahlah pangsit dituntun oleh Tuan Kim kemulut putrinya.

Kedua anaknya pun mengunyah pangsit yang ia suapkan dengan wajah sumringah, pertikaian konyol pun tak berlanjut lagi. “Hah, kalian ini,” desahan lolos dari Ayah yang tersenyum simpul.

Ditengah suasana hangat keluarga kecil itu, figur Luhan terpaku dengan pikiran melayang terbang entah ke mana. Kembali, peran ayah yang ia rindu, muncul dalam memorinya. Tak sadar, dirinya menyematkan senyum tipis. Ayah Hyerim menoleh, fokusnya tersita pada pria Lu yang tengah bergeming dengan wajah sendu.

Kurva ayah dari dua anak itu tertarik menguntaskan senyum hangat, kembali ia menjukurkan tangan ke arah pangsit untuk disumpit dan kemudian dituntun kepada Luhan. Tersentak, dwimanik Luhan mengerjap dengan air wajah kaget.

“Makanlah, Luhan-ah,” vokal Tuan Kim menyentil gendangnya, setia pula pangsit yang disumpit beliau terjulur padanya, persis berada di depan mulutnya yang belum membuka akses masuk.

Vokal lembut itu mengalirkan rasa sesak didada hingga otak memutar kembali sosok ayah yang dulu sering sekali bermain sepakbola dan menyuapinya saat piknik seusai permainan sepakbola keduanya. Sebagai lelaki sejati, tak mungkin ia menumpah ruahkan derai air mata sekarang meski hati kecilnya ingin menangis lantaran dua hal; tersentuh akan sikap ayah istrinya dan rindu pada mendiang ayahnya.

Mulut Luhan membuka akses secara perlahan. Saat terlihat celah yang memungkinkan pangsit tersebut masuk, Ayah Hyerim pun menstorkan pangsit tersebut sampai berakhir dikunyah oleh Luhan. Sembari mengunyah, Luhan hanya membatu dan membiaskan kesenduan dari netra pada Ayah Hyerim yang melempar senyum hangat untuknya.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Dobaran ombak nan tenang disertai semilir angin selembut simfoni, menyebabkan obsidian Hyerim terpejam dengan tangan direntangkan—bentuk dari aksi menikmati kedua hal yang Tuhan berikan di pantai ini. Selanjutnya, kembalilah obsidiannya mulai terbuka seraya kurva menyematkan senyum.

“Tenang sekali di sini walau di musim semi sedikit dingin,” gumam Hyerim dengan pandang menyisir Pantai Eurwangni.

Dara Kim ini mengeluarkan ponsel dan mengenakannya tuk mengambil beberapa foto pemandangan Pantai Eurwangni, sesekali juga ia berselfie ria. Saat Hyerim sedang berfoto dengan background sebuah mercesuar, sosok Luhan seketika muncul dan terbiaskan dari kamera depan ponselnya. Keterkejutan menerjang Kim Hyerim yang nyaris menjatuhkan ponsel dan menjadikan akhir tragis benda mati itu terbanting di atas pasir dengan banyak kerang. Biang dari kekagetan Hyerim yakni pria bernama Luhan, malahan memasang wajah polos seakan bebas dosa.

Tubuh gadis bermarga Kim tersebut, terputar menghadap Luhan yang ada di belakangnya. Matanya melebar bahkan bisa disebut melotot, pun tangannya berkacak pinggang. “Monster sialan, otak lumba-lumba, kamu mengagetkanku,” umpatan Hyerim tertumpahkan pada lelaki di depannya ini.

Luhan menggaruk tengkuk, kepalanya tertoleh ke samping kiri, melihat ke arah lain.  “Kamu saja yang mempunyai jantung lemah. Setidaknya aku tak membuatmu serangan jantung dan meninggal mendadak, bukan?” seperti biasa, jawaban menjengkelkan dilafalkan Luhan sebagai respon. Pria bernama keluarga Lu ini pun menoleh kepada dara Kim di depannya dengan senyum sarkasnya.

Gigi Kim Hyerim menggertak, kesal menyelimutinya akan sikap suami kontraknya ini. “Kamu mendoakanku mati, huh?”

“Ya, kalau bisa tubuhmu dimutilasi saat meninggal,” lihat, sahutan Luhan tersebut tervokal santai dengan cengiran bodoh yang akan menimbulkan hasrat tuk menimpuk, tercetak.

Napas Hyerim menderu. Sorot maniknya menajam. “Terserah.” tak peduli, Kim Hyerim membalik badan dan sempat pula menyentak kakinya kasar.

Tungkai Hyerim beranjak dari bibir tempat Luhan berpijak. Saking digerubungi kesal, langkah yang diambil Hyerim tidak hati-hati serta berakhir fatal tatkala gadis Kim ini tersandung oleh kakinya sendiri. Fatal, tubuhnya kehilangan ekuilibrium, irisnya membola dengan mulut terbuka. Waktu kedepan sudah diprediksi akan tubuhnya yang menyapa pasir pantai dengan tragis. Namun, sebuah tangan seketika melingkar dipinggang Hyerim yang tengah memejamkan logam korneanya.

Tumbang menyapa keras pasir pantai tak terjadi pada tubuh Kim Hyerim. Deru napas hangat membelai paras Si Dara Kim, pun tangannya sudah melingkar sempurna dileher oknum penyelamatnya. Perlahan, obsidiannya mulai mengekspos. Kala bayangan wajah Luhan jatuh pada retinanya, sontak membolalah pupil mata Hyerim. Adrenalin tubuhnya ikut meningkat dengan jantum berhamoni ria. Manik mata Luhan tepat menghunus manik matanya, tak luput pula wajah yang beberapa jengkal dengan napas menyapa muka Hyerim yang menggerak-gerakan bola mata ke arah lain sekon ini.

“Ekhem,” Hyerim berdehem, mencoba menyapu atmosfer canggung yang berbelit.

Paham akan maksud istrinya, Luhan menarik tangannya yang melingkar dipinggang Hyerim. Lantaran tak menduga aksi Luhan yang melepaskannya, oleh sebab itu tubuh Hyerim tersentak serta berakhir jatuh merangsek di atas pasir pantai. Gema suara ‘duk’ terlolong, disusul vokal mengaduh dari Hyerim. Di sisinya, Luhan hanya menampilkan raut tanpa dosa dengan manik mengerjap polos pada Hyerim yang terduduk tragis di atas pasir.

Setelah membuang timing dengan mengusap-usap kaki dan bokongnya yang bertamparan keras dengan pasir pantai, Hyerim membelokan kepala ke arah Luhan, hunusan tajam melayang pada pria yang masih saja berlakon sok tak berdosa.

“Hei! Jangan melepaskanku begitu saja!” teriak Hyerim. Terbingkai kekesalan dengan rinchi diwajahnya.

Luhan sendiri hanya menggaruk tengkuk kemudian mengulum senyum tak berdosa. “Bagaimana pasirnya? Enak tidak sakitnya?” layangan tanya itu kelewat ringan, membuat gigi Hyerim menggertak dan tambah dilimpahkan kedongkolan sampai ulu hati.

“Ya, sangat enak. Harusnya kau juga merasakannya!” imbuh Hyerim dengan intonasi sarkas.

Diiring tubuhnya agar berdiri, kembali Hyerim menusuk Luhan dengan tatapan jengkel. Tak mau mereplay insiden memalukan detik lalu, Hyerim melangkah agak waspada dengan ayunan tungkai jengkel serta ranum mengerucut. Secara otomatis, Luhan menggerakan ekor mata mengikuti arah jalan Hyerim hingga punggung Si Gadis mulai beberapa meter di hadapannya.

“Aku dengar di pantai ini banyak sekali batu-batuan di pasirnya, jadi hati-ha—“

“Aw!” ditengah lafal aksara Luhan, suara rintihan Hyerim menyela. Perempuan garis Kim itu mencetak wajah meringis sambil menjatuhkan pandang pada kakinya.

Mulutnya yang terbungkam paksa oleh vokal menyela Hyerim pun mengulum senyum miring, tangan Luhan terangkat tuk berkacak pinggang. “Baru kubilang hati-hati,” plus kepala yang menggeleng, “dasar kambing dungu, ckckckck.” decakan juga mendominasi.

Tubuh dara garis Kim itu sudah berjongkok. Dengan waspada, Hyerim menstir kaki untuk terangkat dan berniat mengambil batu yang menghantarkan rasa perih kesekujur tubuhnya sekarang. Si Dara tak menyadari bahwa Luhan sudah mengurai langkah mendekatinya, kala berada di dekat Hyerim, pria Lu ini ikut serta berjongkok juga menatap sejenak paras samping Hyerim dengan sematan kurva tipis.

Lengan milik Luhan terjulur, mendahului lengan Hyerim yang hendak menyentuh kaki Sang Gadis. “Sini, biar kulihat,” adalah sajakan Luhan yang lebih dominan sebagai titahan mutlak.

Hyerim membeku secara otomatis, lukisan wajahnya terpaku dengan netra tertancap pada figur Luhan nan tengah menunduk ke arah kakinya. Selanjutnya, Luhan mencetus geleng dengan decakan tersua.

“Berdarah,” Luhan memenggal kata kembali diikuti tangan mengambil batu yang menorehkan luka ditelapak kaki Hyerim. Kelopaknya belum pula berkedip bahkan sampai Luhan membuang batu tersebut dan menelaah luka yang meneroboskan darah walau tak banyak. “Kamu tidak akan bisa jalan.”

Barulah Hyerim mengerjapkan kelopak netranya beberapa kali. Maniknya merangkum figur Luhan yang nyatanya sedang melayangkan tatapan padanya, maka dari itulah iris keduanya bersibobrok untuk menyapa. Rasanya musim semi benar-benar membelit dalam diri Hyerim saat ini, tenggelam dalam obsidian Luhan yang menatapnya hangat.

“Sini, kugendong,” oh, musim semi makin bermekaran sepertinya ketika Luhan berujar begitu. Kaget, tentu saja, Hyerim melebarkan mata dengan wajah tak percaya akan liang dengarnya.

“Hah? Apa?”

Selayak biasanya, Luhan beraksi tanpa persetujuan. Lelaki satu ini main membawa Hyerim kedalam gendongan gaya bridal, membuat sapuan kekagetan Hyerim bukannya musnah tapi makin hilir hudik tak menentu. Spontan pula Hyerim mengalungkan tangan dileher Luhan seperti saat diselamatkan pria ini sekon lalu dari jatuh tragis—well, walau sebenarnya Hyerim tetap pula terjatuh dikarenakan Luhan main melepaskannya.

Sebentar, Luhan menatap Hyerim sebelum mengangkat kepala menatap ke depan. “Aku hanya kasian padamu. Kakimu harus diobati walau tidak parah,” kemudian rajutan langkah Luhan ia start.

Lem rasanya melekat kuat dalam bibirnya. Pun Hyerim merasa jantungnya kesurupan dengan harmoni tak menentu bak kesetanan. Dirinya menunduk, tak sanggup menjatuhkan fokus pada wajah Luhan. Bahkan tangannya yang melingkar dileher Luhan seakan gemetaran sendiri.

“Gugup?” dalam setengah perjalanan, Luhan menoreh tanya tanpa berhenti dan mengalihkan fokus dari arah depan.

Atensi Hyerim terengut ke arah Luhan. Dentuman dalam runggunya memuncak, entah kapan mencapai klismaks bila saja penyebab jantungnya berdisko ria hanya karena sekarang Hyerim menatap profil Luhan nan berada sangat dekat dengannya.

Dialihkan kilatan matanya dari profil Luhan, “Siapa yang gugup?” serta baru Hyerim mengelak tetapi pipinya sudah memerah dengan sendirinya.

Kekehan Luhan mengaung, ujung maniknya menangkap pula rona merah dipipi Hyerim. “Jantung dan pipimu menggambarkannya.” Luhan merespon santai lalu bersiul setelahnya.

Mengunci mulut lah Hyerim pada akhirnya. Sialan. Dia pun mengumpat demikian dalam hati.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Dari ufuk barat terbiaskan cahaya oranye yang mulai mendominasi, menandakan sore kian larut. Disaat-saat seperti inilah Restoran La Perla—restoran berpemilikan Cho Kyuhyun, dipadati pengunjung. Di balik meja bar, Si Pemilik Bermarga Cho tersebut sedang mengelap beberapa gelas dengan senandungan pelannya. Tanpa mengetahui sinyal nampaknya seorang perempuan, Kyuhyun setia pada aktifitasnya. Perempuan yang telah sah berdiri di depan meja barnya, mengulum senyum lebar.

Oppa!” vokal riang tersebut merengut atensi Kyuhyun.

Kepala pria bernama lengkap Cho Kyuhyun ini teralih ke vokal riang yang familiar digendangnya, aktifitas mengelapnya ia hentikan secara otomatis. Saat kepalanya jatuh ke tempat vokal gadis tersebut berpijak, rangsangan matanya menerima figur jelita yang telah terekam jelas dalam lingkup memorinya.

Dengan wajah tanpa ekspresi dan netra agak melebar, Kyuhyun bersuara dengan intonasi tak percayanya, “Im Jinah?”

Jinah, gadis itu makin melengkungkan senyuman manisnya.

—TO BE CONTINUED—

Q & A & Preview Next Chapter (Tolong baca sampai habis bila ingin tau clue next chapter)

Q : Kapan Lu  sama Hyerim bahagia?

A : Kebahagiaan bukanlah satu hal yang mudah didapatkan

Q : Kapan Luhan bilang suka sama Hyerim?

A : Emang kapan Luhan gak suka sama Hyerim? /uhuk

Q : Kenapa Elsa hampir di semua fanfic yang pernah aku baca cast OCnya Hyerim semua? Itu nama karangan Elsa kah yang Elsa suka?

A : Ya, well, kalau kalian suka baca wara-wiri ke author lain, kalian pasti suka nemu FF author 1 itu castnya Chanyeol sama nama OCnya itu-itu aja. Fyi aja, setiap author suka punya OC masing-masing yang dipasangin sama beberapa orang. Jadi di sini, Hyerim adalah nama OC yang kubuat dan kupasangin sama Luhan. OCku selain Hyerim? Ada, tapi astral semua LOL XD alias belum sah dan pasangannya gak jelas. Apakah Hyerim nama karangan? Bukan, lalu dapet dari mana? Itu rahasia :p

Q : Oh iya Elsa line berapa?

A : Beda 11 tahun sama Luhan dan beda setahun sama Jeno NCT /dor ketauan umur berapa

Q : Kakak armykah? Biasnya Taehyung ya?

A : Fandomku bukan army ataupun exo-l. Aku biasin banget Luhan, dan suka juga sama Taehyung. Tapi fandomku ELF 🙂

Q : Gimana perasaan Hyerim ketika melihat Luhan bertemu dengan cinta pertamanya, ya?

A : Ini pertanyaan kesukaan hahaha. Hyerim pas aku tanyain jawabannya gini; ‘Kalau ada deskripsi lebih sakit dibanding kesayat nadi, itu jawabannya,’

Q : Apa perasaan Luhan sama Hyerin?

A : Firstly, namanya Hyerim bukan Hyerin :’) duh sayang-sayangku, jangan salah baca ya. Kadang kusedih dari Hyerim jadi Hyerin, Hyeri, bahkan Yeri RV aja kadang kesebut -_—— beda loh ya. Kim Hyerim. Dan perasaan Luhan ke Hyerim? Semacam musim semi anggaplah begitu, kadang mekar kadang layu WKWKWKWKWK /apaan dah

Q : Kenapa updatenya lama?

A : Mungkin karena kalian hanya baca FFku yang ini jadi gak tau banyak sekali FF yang ingin aku kelarin huhu. Mungkin juga banyak pembaca udah gak minat sama lupa sama FF ini, it’s okay, aku tetep berusaha lanjutin dengan sisa pembaca. Tbh sih, perasaanku lagi kayak tarik ulur jadinya ya gitu, mau lanjut ini malah kepikiran FF yang lain serta akhir-akhir ini malah marathon Kdrama melulu LOLOL (( SALAHKAN AHJUSSI DAN AKTOR DI KOREA SANA YANG BANGSADNYA KEBANGETAN YAWLAAAA )) dan aku sempet sakit lagi :’’’))))) dan kampretnya pas sakit malah liat drama Luhan lalu liat adegan romensnya kemudian ane tambah sakit sama panas dingin, anjir banget unfaedah liat Luhan romantis–romantisan di drama malahan tambah sakit. Btw, di sini udah ada yang nonton drama Luhan? Fyi, aku gak ngikutin sih cuman skip-skip liat Luhan doang. Sowreehhh Luhan, karena Choi Jinhyuk-Yoon Hyunmin-Yoo Ahin-Ji Changwook-Choi Taejoon, lebih memanjakan mata anak alay penggila drama Korea ini di drama Tunnel, Chicago Typewriter, dan Suspecious Partner, bahkan nanti mau liat Ruler : Master of The Mask :’’’D (( jelas sudah kerjaannya nonton Kdrama mulu ))

Preview Next Chapter

Sebeleum ke preview. Kalian lebih suka School life-Comedy atau Marriage life-Comedy? Dan bila genre gak normal /apa dah bahasanya/ kalian lebih suka Action-Romance atau Fantasy-Romance? Dan well, aku gak tau mau ngoceh apa lagi LOLOL. Soalnya curcolanku udah ada di Q & A bagian akhir, intinya semoga aku dapet ilham mau nyelesein ini FF, kayaknya bakal beres di Chapter 20. Atau mungkin kurang atau mungkin lebih? Jangan lupa komen yaaa ~, aku udah nulis cerita untuk kalian meski lama. So, meski baca ini udah lama, gak salah komentar kapanpun itu karena aku udah menulis untuk kalian dan kalian bisa membalas dengan menuangkan komentar. ALERT! FF INI AKAN DI PASSWORD KAPANPUN DAN BILA KALIAN MEMUTUSKAN MENJADI SIDERS, IT’S OKAY, BERARTI GAK BISA BACA SEMUANYA. Simple kan?

“Oppa, apa Luhan benar-benar sudah menikah?”

 “Kamu akan berpasangan dengan alumni Chung-Ang dikencan buta ini, Hyerim-ah,”

“Kim Hyerim, itukah dirimu?”

“Cho Kyuhyun-ssi?”

“Oppa. Panggil seperti itu. Bukankah kita sedang berkencan sekarang, Kim Hyerim sayang?”

“Aku mencintaimu, meski terlambat. Tapi kamu masih mencintaiku, ‘kan? Aku menyesal, Lu,”

“Nuna, kau ada di mana? Ayah…”

—Wait for Chapter 15—

 

Advertisements

Author:

A tinkerbell who dream to be Luhan's future wendy — Also an amature author, k-drama trash, k-running man freak, eternal ELF, ahjussi and korean actor addict in the same time — Adorable since 2001

27 thoughts on “FF : Beauty and The Beast Chapter 14 [Spring in Eurwangni]

Write ur Love Letter . . . <3

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s