Posted in Chapter, Comedy, Fanfiction, FF : Friendzone : When The Love Blossom, Fluff, Friendship, Romance, Teens

FF — Friendzone : When The Love Blossom [Keping 1 : The Cheating Boyfriend]

Friendzone-WTLB-Cover

Friendzone : When the Love Blossom

KEPING 1 : The Cheating Boyfriend ┘

Starring By

Lu Han & OC`s Kim Hyerim

Actor Kim Jisoo, OC`s Eun Yeonseong, EXO`s Oh Sehun, WJSN`s Xuan Yi/Oh Sun Ee as special appearance

Story with Romance, Comedy, Friendship, Flugg rated by T  type in Chapter

Poster by ByunHyunji @ Poster Channel

`Luhan dan Hyerim sudah bersahabat selama 17 tahun. Keduanya berjanji tidak akan saling menikahi, juga kalau satu dari keduanya menikah, salah satunya akan menyanyi dipernikahan tersebut. Tapi memangnya persahabatan antara lelaki dan perempuan akan bertahan lama? Terlebih Hyerim baru saja diselingkuhi. Sedang Luhan, suka berperan menjadi pelindung Hyerim dan selalu meminta pendapat Si Gadis untuk masalah perempuan`

Disclaimer :  Beberapa adegan di fiksi ini terinspirasi dari drama Korea Fight For My Way dan tweet @plotideas. Namun isi cerita serta konflik yang ada sungguh berbeda.  Semua yang tercantum dari cerita ini sungguh tidak nyata. Tidak ada niatan untuk menjelek-jelekan satu organisasi/perorangan. Semua cast milik orang tua, agensi, dan Tuhan YMA—terkecuali untuk OC. Penyebarluasan, duplikasi isi cerita tanpa sepengetahuan/izin penulis, juga menghina/menjelek-jelekan isi cerita merupakan tindakan yang sangat dilarang.


When the love blossom in our friendship


Previous Story : Keping 0 — Introduction 

© 2017 Storyline by HyeKim

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ║█║

2000, Busan, South Korea

“Heh! China! Berikan uang jajanmu sekarang!”

Di dekat pojokan sekolah, terlihat kuruman geng anak lelaki tengah mengurumuni satu anak lelaki yang disebut ‘China’ barusan. Mereka nampak memojokan Si China dengan tampang ala gangster jalanan, padahal sih umur masih sepuluh tahun. Sedang Si Cowok China yang tengah dipojokan, malahan membuang pandang ke bawah, tak berani menatap anak-anak sok aksi ini.

Ya! Kau tidak mau memberikan uangmu?” terdengar lagi semprotan dari salah satu anak geng yang kelihatannya Si Ketua.

Kepala Si Anak China terangkat, kilatan matanya bergetar takut-takut. “A—ku, ti—ti—dak, ma—u,” imbuhan kata bahasa Korea yang masih tersendat-sendat dengan ranum bergetar  itu mengundang gelak tawa mengolok dari empat anak geng yang memojokannya.

Salah satu dari anak geng tersebut mendorong bahu Si China, “Heh, China! Ngomong saja kau masih tidak jelas. Masih tidak mau memberikan uang pada kami? Ingin mengelak dengan bahasa cingcong-mu, huh?” tatapan mengolok diberikan pada Si China oleh anak yang mendorong bahunya, kemudian para anggota geng pun kembali membuahkan tawa.

“Ya, China, berikan uangmu,”

Anak lainnya mulai kurang ajar dengan menarik-narik paksa tas Si China yang ada dalam pelukan depan dada. Tentu anak berdarah China ini mempertahankan tas gendongnya dengan memberikan pelukan kian erat di tasnya, meski tubuhnya sudah goyang ke kanan-ke kiri lantaran didesak geng pemalak ini untuk menyerahkan lembaran uang yang ada di dalam tasnya.

Dengan kepala menunduk dan tetap mempertahankan tas, Si China bersuara lagi, “Aku bilang tidak mau!”

Respon keempat anak geng bandel ini hanya decakan sambil menggeleng-geleng. Karena terus mengelak dan bertahan, akhirnya keempat anak geng ini menarik paksa Si Anak China hingga tersungkur di atas tanah, pun tasnya lepas dari dekapan. Mata Si Anak China melebar kala tasnya terlepas dari jangkuannya. Seakan hidangan lezat, keempat anak geng tadi pun langsung menyambar tas Si Anak China dengan pandang berbinar serta mulai membuka isinya juga—

“HEH! BERHENTI KALIAN! DASAR ANAK BANDEL!” tahu-tahu suara anak perempuan mengintrupsi, dari nadanya sih terdengar menahan amarah. Kegiatan membongkar tas anak dari China itu lantas terhenti, semua atensi beralih ke bibir suara cewek barusan.

“Wah! Wah! Gawat! Nenek lampir kelas kita datang!” satu dari anak geng itu berucap panik dengan gestur yang melihatkan jelas kepanikannya sembari memukul-mukul teman di sebelahnya.

Kawannya yang lain juga melukis mimik ketakutan bahkan badan mereka turut andil bergetar-getar, apalagi Si Cewek Lampir sedang menderapkan langkah mendekat dengan wajah merah padam penuh amarah. Sahlah Si Cewek Lampir berpijak di depan keempat anak geng dan satu anak China—yang omong-omong malah memilih menunduk takut. Anak perempuan nan disebut nenek lampir ini berkacak pinggang sambil menatap empat anak bandel di depannya, bengis.

“Kalian cari gara-gara lagi, ya,” suara Si Cewek Lampir menggelegar lagi, intonasinya terdengar seram sekali untuk keempat anak geng yang ikut-ikutan menunduk kayak Si China sekarang. “Kalian memancingku, ya!” kali ini Si Anak Perempuan berteriak membuat kelima cowok di depannya berjengit bahkan ada yang sampai memejamkan mata saking takutnya.

Masih tidak mau menatap perempuan ini, satu dari keempat anak geng itu berkata takut-takut dengan wajah seirama, “Ti—tidak, kok, Hye—“

‘—Buk! Buk!’

Namun ucapannya harus terpotong lantaran Si Anak Perempuan yang melayangkan tendangan dahsyat keperutnya sebanyak dua kali, menyebabkan keempat anak lainnya—termasuk Si Anak Cowok China, membulatkan dwimanik dengan terkejut.

“—Aw! Ya, ya, ampun. Kami tak akan mengulanginya lagi, janji, janji!”

Cowok barusan yang diserang sudah tersungkur berlutut di atas tanah dengan wajah kesakitan, pun tangannya mengatup seraya kepalanya mendongak menatap Si Cewek Lampir memohon. Si Cewek yang baru saja melepas tendangannya, berkacak pinggang dan meniup ujung poninya dengan wajah bengis yang tak luntur dari awal.

“Cepat pergi sana kalian!” titahan anak perempuan ini membuat empat anak geng tadi takluk diimbuhan pertama serta langsung merangsek pergi dengan badan membungkuk tanpa mau menatap Si Anak Perempuan barang sedetik.

Ekor matanya menatap gerombolan anak sok gangster tadi mulai menghilang, lalu kepalanya banting stir ke arah anak lelaki China yang terpaku tanpa ekspresi menatapi keempat anak yang tadi memalaknya itu takluk pada seorang cewek, dengan tatapan takjub. Si China mengalihkan fokus pandang dan nyaris tersentak saat mendapati cewek lampir barusan sedang melekatkan tatapan padanya.

Si Cewek Lampir menunduk, mengambil tas anak China ini yang tergeletak di atas tanah. Seraya menepuk-nepuk tas tersebut, “Nih, tasmu. Kali-kali kau juga harus berani melawan mereka,” itulah kata-kata anak perempuan penyelamatnya sembari menyodorkan tas.

Si China belum mengedipkan mata dan hanya bergeming menatapi anak perempuan yang lagi menyematkan senyum tipis yang malahan kentaranya tak tersenyum. “Kali-kali, kau harus melawan mereka. Jangan bodoh,” lantaran tidak ada penggerakan, Si Anak Perempuan bercakap lagi dan menarik lengan anak cowok di depannya untuk menyerahkan tas.

Maniknya mengerjap dulu, sementara perempuan di depannya menepuk-nepuk tangan dengan menoleh ke samping lain. “Ibuku bilang jangan berkelahi, jadi aku tak melawan mereka,” adalah respon Si Anak China, tasnya ia bawa ke bahunya untuk digendong.

Kepala anak perempuan penyelamatnya berbelok kembali menatapnya, decakannya tercuat dengan gelengan. “Ajaran macam apa itu?! Harusnya kau melawan saat ditindas. Dasar bodoh! Ajaran bodoh!” sahutnya sarkas sekali sampai-sampai anak lelaki China yang menjalin percakapan dengannya, membulatkan mata serta mulutnya.

“Kau menyebut ibuku bodoh?” tangan anak China ini berkacak pinggang, kilatan netranya seakan berapi-api, pun dagunya terangkat dengan muka marah tak terima.

Si Cewek Lampir tak mau kalah, lihat saja, dirinya juga berkacak pinggang dengan dagu terangkat pula. “Ajarannya yang bodoh! Masa saat kita ditindas, kita diam. Bodoh namanya!”  

“Berarti sama saja kau menghina ibuku bodoh!” tungkai Si Cowok China disentak-sentakan ke tanah dengan kegeraman menyelimuti.

Ya!” pekikan cewek lampir ini menggema, sorot matanya kian tajam lalu tangannya terangkat dan telunjuknya mendorong dahi anak cowok China di depannya, membuat cowok tersebut mendesis dengan mata terpejam sebentar. “Kau diajarkan sopan santun tidak, sih? Sudah diselamatkan bukannya berucap terima kasih, malahan marah-marah begini.”

Rahang Si Cowok China seakan-akan mau lepas tatkala mulutnya terbuka lantaran mendengar utaran kata cewek lampir ini, napasnya terbuang dengan kepala mengadah kemudian menatap perempuan lampir ini dengan kepala menggeleng. Sopan santun katanya? Hello, apa perempuan ini tak mengaca? Perbuatannya tadi mendorong dahinya, ‘kan tidak sopan juga!  

Namun, belum sempat anak China ini melempar respon, cewek lampir tersebut sudah memutar tubuh dan mengayunkan langkah lebar-lebar untuk pergi. Kepergiannya hanya disambut gelengan juga decakan Si Anak China.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ║█║

2017, Seoul, South Korea

Waktu itu memang cepat berlalu, ya. Setahun layak sehari. Bahkan tujuh belas tahun pun masih layaknya sehari. Tujuh belas tahun sudah berlalu. Walau tujuh belas tahun seperti sehari, tetap itu bukan waktu yang sebentar. Banyak sekali yang berubah, well, contohnya ialah Si Perempuan Lampir dan Si Lelaki China. Tujuh belas tahun lalu keduanya masih anak ingusan berumur sepuluh. Sekarang, keduanya telah tumbuh dewasa menjadi remaja dewasa berusia dua puluh tujuh.

Sosok perempuan lampir tujuh belas tahun lalu, tengah mematut diri di depan cermin. Lipstick pinknya sudah terpoles, ranumnya ia maju-majukan dengan gaya menggoda diwajahnya kala menyisir surai legam panjangnya. Oh, ya, perempuan lampir ini bernama Kim Hyerim. Dirinya merantau dari Busan ke Seoul, telah lulus dari Universitas Hanyang dengan menyandang status sarjana dari jurusan sastra asing, dan dirinya sudah berkerja sebagai guru les di suatu lembaga pembelajaran di daerah Jongno. Poin tambahan, sudah taken walau dengan berondong tiga tahun lebih muda.

Sedang, Si Cowok China yang ditindas tujuh belas tahun lalu ini tengah mematut diri juga di depan cermin. Rambutnya yang dicat blonde dua bulan lalu, ia sisir dengan gaya sok tampannya, siulan santainya mendominasi aktifitasnya mematut diri setiap pagi. Sisirnya dia letakan di meja rias, kepalanya ia sensori samping kiri kanannya lalu dia usap rambut belah tengah warna blondenya ini tatkala acara mematut dirinya finish. Oke, Si Cowok China ini bernama Luhan. Umur sepuluh tahun dari Beijing ke Busan, dan saat kuliah dirinya merantau jua ke Seoul. Sama-sama lulus dari Universitas Hanyang tapi bagian kedokteran—well, dirinya memang dokter hewan sekarang, tapi punya kerja sampingan menjadi guru taekwondo. Poin tambahan? Sayang, enggak ada alias belum taken dengan status still single.

Oh ya, tujuh belas tahun ini apa yang terjadi dengan Si Cewek Lampir dan Si Cowok China? Pertama, mereka berdua itu—

‘Cklek!’

‘Cklek!’

Pintu dua buah rumah yang berhadapan di sebuah gang dengan tangga di tengah-tengahnya, terbuka berbarengan. Langsung lah figur Hyerim tersajikan dari rumah sebelah kanan. Kemudian di rumah sebelah kiri, Luhan lah yang didapati di sana. Keduanya menghirup udara pagi sejenak sampai Hyerim menjatuhkan fokus kepada Luhan.

“Oh, Luhan-ah!” senyum Hyerim mengembang sampai matanya menyipit, sapaannya kelewat ceria.

—bertetangga, bahkan dengan rumah saling hadap-hadapan dipisahi oleh tangga gang yang menanjak ke atas. Juga mereka berdua ini—

Luhan mengamati muka Hyerim saksama sambil meneleng-nelengkan kepalanya. “Heh, Kim Hyerim, kau pakai make up?”

Kurva Hyerim nan tertarik mulai luntur, matanya sudah tidak sipit lagi gara-gara tersenyum lebar. Wajahnya tampak masam karena Luhan menatapnya seakan jijik. Sekon berikut, Hyerim mengibaskan rambutnya dengan gaya ala perempuan centil, dagunya ia iring tuk terangkat.

Eoh, aku memakai make up yang tidak seperti biasanya. Kenapa? Menjijikan?” ucap Hyerim tak santai.

Dan respon Luhan adalah “Ya, menjijikan,” yang membuat hasrat Hyerim untuk menendangnya timbul, apalagi wajah santai bin polos Luhan dengan netra membiaskan kejijikannya itu.

—sering sekali bertengkar. Poin lainnya, mereka berdua ini—

Tangan Hyerim terpangku keduanya didepan dada, mukanya mendecih menatap Luhan kelewat sebal. “Ya! Bilang saja kalau yeojachingumu[1]  ini kelewat cantik sampai kau terpesona,” Hyerim melukis wajah percaya dirinya.

Dengusan Luhan tak dapat ia tahan sampai tercuat. Tangannya berkacak pinggang dengan mimik tak habis pikir campur tak percayanya pada perempuan satu ini. “Ya! Pelafalannya yang benar! Yeojachingu, yeojachingu! Orang-orang bisa mengira kau kekasihku, tahu!” Luhan bersajak dengan pita suara menyemprot.

Arraseo, arraso, yeosaramchingu, (Baiklah, baiklah, teman perempuan)” koreksi Hyerim masih tidak santai disertai obsidiannya mengkilat-kilat menatap Luhan dengan wajah nan seirama dengan ayat katanya—tidak santai sama sekali.

—adalah sepasang sahabat selama tujuh belas tahun.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ║█║

“Tumben sekali kau dandan sangat menjijikan,” vokal Luhan terdengar dengan kaki yang melangkah turun dari tangga yang membelah di gang rumahnya bersama Hyerim.

Dengusan Hyerim terdengar. “Masa kau tidak tahu hari apa ini?” Si Kim yang diajak bicara menyahut, lekas kepalanya menoleh mengamati profil samping Luhan dengan kaki yang masih diayunkan menuruni tangga.

Enggak sempat juga Luhan menyahut, Hyerim sudah buka suara lagi. “Hari ini, pengumuman ujian kelulusan Jisoo!” dari nadanya terdengar diplomatis bin semangat sekali, wajah Hyerim pun ikut berseri menyebut nama Kim Jisoo—pacarnya yang tiga tahun lebih muda.

Derap langkah Luhan berhenti, dia menatap Hyerim dengan tubuh menghadap dara satu ini. Hyerim juga ikut berbalik, jadilah sepasang sahabat ini berhadap-hadapan.

“Kau yakin dia lulus?” alis Luhan terangkat satu dengan mimik sarkastik yang jelas, bahkan nada bicaranya juga seakan merendahkan.

Merasa pacarnya diremehkan, Hyerim menyarangkan pukulan dilengan Luhan, sangat keras. Tampangnya juga terlihat kesal.

Ya! Jisoo-ku hanya gagal tahun kemarin. Gagal sekali itu tidak masalah. Aku yakin dia bisa lulus sekarang!” kata Hyerim seraya memangku tangan berkacak dipinggang.

Luhan hanya memasang raut meringis dengan tangan mengelus lengan yang tadi jadi sasaran pukul Hyerim. Kemudian decihannya lolos dengan tampang berubah menjadi menjijikan.

“Cih, Jisoo-ku, Jisoo-ku. Menjijikan sekali sungguh,”

Bola manik Hyerim berputar mendengarnya. “Dasar single menyedihkan. Iri saja kau!” imbau Hyerim yang kayaknya lebih menyerupai hardikan, padahal tidak.

Tercuat lah dengusan Luhan, tetapi Hyerim bersikap tak peduli dan malahan mulai menyisir rambutnya menggunakan jari-jari tangan. Kembali keduanya menstart rajutan langkah.

Tahu-tahu, dijalinan langkah keduanya, Hyerim bersajak ria lagi. “Eh, eh, apa aku sudah cantik?” dengan kepala banting stir menatap Luhan. Lekas jaka satu itu pun menatapnya serta mengamati lekuk wajah Hyerim.

Hyerim meneleng-nelengkan kepalanya sembari menyematkan senyum super manis. “Jangan sok cantik, aku tak mau memuntahkan sarapan pagiku tadi,” adalah komentar Luhan.

Netra Hyerim membinarkan kedataran, tampangnya juga seirama. Dia membalik kembali ke depan, mulai pula mengiring kaki berjalan lagi. Ranum gadis Kim ini turut mengerucut. Luhan mengikuti di sebelahnya, tampang pria China ini seakan bebas dosa setelah menorehkan komentar pedas barusan.

“Heh, jika Jisoo-ku lulus. Kau harus ikut makan dengan kita, ya,” ajak Hyerim, sekon ini ranumnya melengkung.

“Tidak mau,” buru-buru Luhan menjawab, ekor matanya melirik Hyerim malas. “Aku jadi obat nyamuk nanti.” Luhan memutar bola dwimaniknya setelah bersua demikian.

Oppa,” spontan, Luhan menoleh pada Hyerim lantaran panggilan dengan intonasi dimanis-maniskan, lekas disuguhi wajah cewek satu ini sedang memasang tampang aegyo, pun matanya mengerjap-ngerjap. “Oppa, tidak mau menemaniku makan? Hmmmm?” tubuh Hyerim bergoyang-goyang, ranumnya turut dimaju-majukan. Terperangah sangat hebat menerjang Luhan sekon ini.

Setelah mengedipkan obsidian dengan kelongoannya, Luhan baru mampu bersuara lagi, “Hei!” dan perempuan garis Kim di depannya malahan menaruh dua tangan dibawah dagu—membentuk gaya bunga mekar. “Jangan gaya sok imut, kau!” semprot Luhan. Kepalan tangannya sudah siap sambil beraksi seakan ingin meninju Hyerim.

Namun, Hyerim tak mengacuhkan. Perempuan satu ini memanyunkan bibir, masih pula mempertahankan mimik imut. “Oppa, kejam!” kakinya dihentak-hentakan di atas tanah, vokalnya masih aja selembut salju. Luhan juga makin melongo.

Kepala Luhan geleng-geleng, habis itu memutar tubuh dan beranjak pergi. “Ah, sudah. Sudah, aku tak mau.” Luhan berkata sambil melambai-lambaikan tangganya di udara.

Akan tetapi,  lidah Hyerim bercakap lagi, “Kau tak mau makan sup iga bakar?” nah, langkah Luhan terpause jadinya, salivanya malah ikut tertelan—well, dirinya tergoda, omong-omong. Lengkung kurva Hyerim tertarik kala menyadari Luhan pasti tergoda. “Kalguksu (mie kuah), bulgogi, nasi goreng kimchi, ramyeon (ramen), ttoebokki, jjajangmyeon (mi pasta kedelai), jjampong (mi pedas), kue ikan, sundae[2]yukgaejang (sup daging pedas). Kau tidak mau?”

Oh, rasanya Luhan mengibarkan bendera putih. Tubuhnya berbalik menyebabkan untasan lebar terlukis dikurva Hyerim, wajahnya puas sekali. Kerongkongan Luhan dibersihkan dulu oleh dehemannya.

“Ka—kapan, kalian makan?” pandang Luhan dialihkan ke arah lain, tentunya dia gengsi.

“Kau mau, ‘kan?” sambut Hyerim antusias. Luhan memejamkan mata, membuang napas, membuka lagi matanya, melirik Hyerim sekilas, dan barulah ia mengangguk tanpa menatap Si Kim satu itu. “Assa! (yes)”

Hyerim menarik tangannya nan terkepal kemudian menariknya, setelahnya berlari antusias ke arah Luhan. Langsung saja Hyerim memberikan pelukan sambil loncat-loncat kegirangan. Luhan sendiri memasang tampang kesakitan dikarenakan pelukan Hyerim nan mencekik lehernya apalagi tubuhnya ikut berputar-putar karena Si Gadis berjingkrak-jingkrak.

Aksi loncat-loncatnya dihentikan Hyerim, masih memeluk leher Luhan, Hyerim menjatuhkan pandangan pada Si Pria sambil menyematkan senyum super manis. Gadis garis Kim ini memiringkan kepala dengan wajah imutnya. “Oppa, saranghae. Oppa jjang!” mulai lagi Hyerim mengeluarkan suara aegyo yang lantas membuat Luhan menggertakan gigi tak suka.

Ya!” tidak tahan, Luhan mengeluarkan kemampuannya sebagai guru taekwondo dengan melepaskan Hyerim serta memutar tubuh cewek tersebut. Setelahnya, Luhan memiting leher Si Gadis dari belakang. “Kubilang hentikan! Hentikan! Kau tahu, itu menjijikan!”

Tubuh Hyerim  digoyang-goyangkan Luhan dengan masih memiting perempuan tersebut. Sedang Hyerim, dirinya yang tercekik melolongkan batuk dengan raut merintih. “Heh! Berani-beraninya kau mencekik perempuan?!” semprot Hyerim tapi tak mempan pada Luhan yang masih saja memitingnya. Duh sekali.

1495638894_277_fight-my-way-episode-2

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ║█║

Tik-tok-tik-tok.

Denting jarum jam bergerak terus menentukan waktu. Di tempat lembaga pembelajaraan seperti ini, enggak satu orang saja yang menunggu waktu pulang, apalagi guru yang mengajar saja sudah tak niat ngajar. Well, apalagi klimaks pembelajaran sudah membosankan sampai-sampai ada yang menguap. Kim Hyerim, sebut Si Guru Bahasa Inggris di sini dengan nama itu. Hyerim mencuri pandang ke jam dinding, menunggu waktu kerjanya beres.

‘Kring!’

Gotcha. Seakan tahu isi pikiran Hyerim, bell pulang berdentang. Kelas yang semula sunyi senyap, langsung bising seketika dengan aktifitas membereskan barang-barang dan mengiring diri keluar cepat-cepat. Hyerim juga tak kalah sibuk dengan murid-muridnya, dia juga beres-beres apalagi jam mengajarnya hanya sampai saat ini.

Dengan buku cetak tebal materi pengajaran ditangan kanan juga tas gendong merk brand mahal—yang sebenarnya KW sih, tersampir dibahu kirinya, Hyerim mengotak-atik ponsel lalu menempelkan ditelinga setelah menekan tombol call pada kontak ‘Berondong ganteng’

“Jisoo-ya!” sapa Hyerim ceria pada berondong ganteng yang enggak salah lagi ialah Kim Jisoo—pacar tercintanya. Wajah Hyerim tercetak sumringah bin berseri-seri. “Bagaimana? Lulus tidak?” Hyerim mengutarakan tanya sambil berjalan keluar lembaga pembelajaran tempatnya kerja. Dia pun membetulkan tas gendongnya agar tersampir dikedua bahunya dengan benar.

Saat sudah menginjakan kaki di pekarangan, Hyerim tahu-tahu meghentikan langkah, pun mukanya yang berseri luntur jadi tanpa ekspresi. Sebabnya ialah jawaban Jisoo di sebrang sana. Seraya memejamkan mata, Hyerim mendesah.

“Kau gagal lagi? Yang benar saja?” setelah mengontrol diri mendengar berita kegagalan pacarnya lagi, Hyerim berkata dengan gigitan dibibir bawah, tangan kanannya berkacak.

“Maaf nuna, tapi aku, ya tahu lah. Aku ini tak sepintar orang lain,

Ya! Aku juga bodoh. Tapi buktinya aku lulus sarjana,” kata Hyerim tak habis pikir, lekas dirinya geleng-geleng. Frustasi juga pacarnya gagal lagi, dia jadi ingat kata-kata sarkas Luhan pagi tadi.

“Baiklah, sekarang setelah gagal kedua kalinya. Kau ingin melakukan apa?” setelah menelan hasrat untuk marah dengan memijit pelipis sembari menunduk, Hyerim melontar tanya lagi.

“Mungkin aku akan traveling dan mungkin juga  snorkeling setelah ini, eheheh,”

Traveling? Snorkeling? Menggunakan uang orang tuamu lagi?” oktaf Hyerim agak naik tapi tak sampai berteriak.

For your information saja, ya, Jisoo itu hanya anak dari pembisnis toko klontong—orang tuanya enggak terlalu tajir juga tapi punya uang tabungan di bank mana-mana yang fatalnya suka dipakai hal tak jelas oleh Jisoo. Contohnya itu traveling dan snorkeling ke penjuru negri Korea. Bahkan tahun lalu, Jisoo baru juga traveling dan snorkeling ke Pulau Jeju sampai satu bulan—Hyerim sempat mengira pacarnya sudah mati tenggelam di Pantai Jeju saat itu.  Masa sih sekarang Si Pacar mau travel dan snorkeling lagi? Hyerim tak bisa paham sama sekali.

“Eung. Nuna tahu, ‘kan aku hanya travel dan snorkeling sekeliling Korea. Paling jauh hanya ke Jepang. Tak usah khawatir,”

Gas karbon Hyerim terbuang dulu, tangan kanannya kacak pinggang kembali. “Ya, aku tahu. Cuman bisnis orang tuamu, ‘kan sedang kri—“

Ayat kata Hyerim terhenti lantaran suara bising di sebrang. Jisoo sedang berkata, “Iya, iya kau yang bayar saja, say—eh maksudku, Hyunsik-ah,” dahi Hyerim spontan mengernyit, dia salah dengar atau tidak? Sebab tadi Hyerim seakan dengar Jisoo nyaris keceplosan mengatakan sayang.

“Kau sedang makan?” tanya Hyerim hati-hati, telinganya ia jernihkan tuk mendengar hal-hal di sebrang dengan saksama.

Kepala Jisoo di sebrang mengangguk, mukanya jadi berubah gugup. “Iya, bersama Hyunsik,”

Respon Jisoo terdengar meyakinkan, maka Hyerim menanamkan diri untuk percaya. Toh, masa Jisoo yang sudah lima tahun pacaran dengannya berani-berani main dibelakang? Apalagi, Jisoo dibiayai Hyerim selama beberapa waktu terakhir sebab bisnis keluarga Jisoo tengah mengalami krisis. Setidaknya Jisoo tahu malu, bukan?

“Padahal aku ingin mengajakmu makan,” nada Hyerim berubah merajuk. Bibirnya ia poutkan. Di sebrang, Jisoo terkekeh dan anehnya seperti kaku. Atau Hyerim yang salah lagi?

“Lain kali saja kita makan, nuna,”

“Eh? Iya, iya. Nuna  sayang padamu, Soo-ya,” Hyerim tersentak tadi karena memikirkan sikap aneh Jisoo, tetapi langsung menutupinya dengan ungkapan sayang setulus hatinya. Senyumnya turut mengembang

“Aku juga nunaku sayang,”

Sambungan telepon terputus setelah mengutarkan kata sayang. Walau hatinya diselimuti kehangatan. Tapi boleh jujur tidak? Hyerim merasa Jisoo tidak setulus biasanya tuk mengucap sayang padanya. Ada yang aneh dengan pacarnya. Tapi Hyerim berusaha menampik.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ║█║

Bisa dilihat sepasang sahabat yang barusan berjanji makan bersama, sedang berada di Times Square Mall, tepat di tempat peralatan untuk melakukan snorkeling. Yang gadis bernama Hyerim, sibuk memilih alat untuk snorkeling. Sedang Si Lelaki yang namanya Luhan, hanya memasang tampang jengah.

Ya! Katanya kita akan makan? Aku sudah mengidam-idamkan jjangpong, kalguksu, juga sundae, tahu. Tapi kenapa hanya makan ttoebokki saja, sih? Dasar pembual kau,” akhirnya Luhan keluarkan juga uneg-unegnya.

Well, keduanya memang jadi makan. Luhan sudah sumringah sekali saat Hyerim meneleponnya, tapi tatkala Si Cewek berucap untuk ke kedai ttoebokki langganan keduanya, kurva Luhan langsung tertarik kebawah secara spontan. Bayangkan, Luhan sudah menyisihkan lambungnya untuk lapar, tetapi cuman dikasih ttoebeokki? Kesal? Ya, pasti lah. Apalagi setelah itu, Hyerim malah mengajaknya untuk membeli peralatan snorkeling.

Kala Hyerim sedang mengamati kacamata khusus menyelam yang dia pegang, lidah Luhan bercakap kembali, “Kenapa beli alat-alat untuk snorkeling? Kau ingin menyelam? Renang saja enggak bisa. Tahu-tahu tenggelam.” sarkas Luhan membuat mata Hyerim berputar, sebal jua menyelimuti.

Menaruh kacamata yang ia pegang ke tempatnya lagi dengan sedikit sentakan, tubuh Hyerim testir menghadap Luhan kemudian memangku tangan didepan dada.

“Ini bukan buatku, tahu,” sehabisnya, Hyerim memutar kembali tubuh menghadap alat-alat khusus snorkeling dan sibuk lagi memilih-milihnya.

Luhan mendengus tak habis serta tak paham sama sekali. “Terus untuk siapa?” ucapan Luhan terhenti lantaran ingat sesuatu, “dan juga, kenapa Jisoo tidak datang tadi? Makan-makannya, ‘kan dideskisikan untuknya.” Luhan menelengkan kepala bingung. Tak peka Hyerim nan terpaku seketika akan ucapannya.

Sinyal gemingnya Hyerim akhirnya disadari Luhan. Oleh sebab itu Si Pria membentuk huruf o dimulut serta mengangguk-angguk paham. Sembari menatap samping wajah Hyerim, Luhan bervokal lagi, “Jisoo tidak lulus lagi, ya?” todong Luhan. Hyerim sendiri pura-pura tuli dengan sibuk melihat-lihat selang oksigen untuk menyelam.

Karena tak ada respon dari Hyerim, maka Luhan geleng-geleng dengan decakannya. “Ckckckck, aku tak habis pikir dengan bocah satu itu. Gagal sekali wajar. Gagal dua kali?” Luhan memiringkan kepala dengan wajah sok berpikirnya yang diselipi mengolok, sebenarnya. “Aku tak mengerti lagi bila kedua kalinya dia gagal.”

Hyerim masih sok tuli dengan mengamati selang oksigen yang ada ditangannya. “Jisoo sepertinya suka warna hijau,” gumam Si Kim satu ini, turut juga kepalanya mengangguk-angguk.

Tak tahan dengusannya untuk tak keluar, “Ya!” Luhan menyemprot dan belum sempat juga kalimatnya berkesinambung, Hyerim sudah berbalik haluan menatapnya setelah sebelumnya menaruh lagi selang yang ia amati barusan.

“Jisoo belum gagal tiga kali. Masih ada harapan!” bela Hyerim disertai ranumnya yang berkedut menahan kesal.

Decihan lolos spontan dari Luhan, tangannya juga terlipat depan dada. “Masih ada harapan? Dan dia malahan ingin snorkeling padahal orang tuanya sedang krisis? Otaknya ada di mana, sih?” nah kan, kata-kata pedas yang dari tadi diujung lidah, akhirnya dikeluarkan oleh Luhan.

Hyerim lagi-lagi sok tuli. Dirinya membalik badan kemudian mengayunkan tungkai pergi sembari menyensori alat-alat snorkeling yang dia lewati. Hyerim juga bergumam, “Kira-kira Jisoo suka yang mana, ya?”

Sedang Luhan hanya mendengus kelewat keras plus jengkel yang tergambar dirautnya.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ║█║

Langit malam sudah menyambut Hyerim sekarang. Perempuan dua puluh tujuh tahun itu terlihat berjalan semangat dengan menenteng tas berisi alat-alat baru khusus snorkeling untuk Sang Pacar, Kim Jisoo. Kaki Hyerim akhirnya berhenti di sebuah rumah sewa, senyumnya juga mengembang. Baru saja ingin memasuki rumah sewa tersebut, Hyerim melihat Nam Joohyuk—teman kostan Jisoo di rumah sewa ini, bahkan kamar keduanya sebelah-sebelahan.

“Joohyuk-ah!” sapa Hyerim dengan lambaiannya kepada cowok garis Nam yang lagi berjalan ke arahnya—lebih tepatnya menuju rumah sewanya juga.

Joohyuk menyadari hadirnya Hyerim. Hyerim yakin kok sudah tersenyum lebar terselipi jelas keramahannya, tetapi Joohyuk malahan membelalakan mata dengan paras kagetnya. “Hye… rim… nu… na?” ucap Joohyuk lambat-lambat, setia jua mata membelalak dengan wajah kaget.

Rasa aneh menyelimuti Hyerim, dia pun mengangguk sambil menggaruk tengkuk. “Iya, ini aku,” jawab Hyerim linglung.

Kepala Joohyuk mulai menoleh-noleh ke rumah sewa bentuk apartemen yang berdiri kokoh di belakang Hyerim. Tampangnya kelewat resah, Hyerim jadi heran sendiri menyaksikannya. Sambil terus mengamati apartemen yang dipunggungi Hyerim, Joohyuk berfrasa lagi.

“Ingin ketemu Jisoo?” tak butuh waktu lama, Hyerim mengangguk dan Joohyuk malah kian panik. Dahi Hyerim lantas mengernyit tak mengerti. “Aaa.. nuna, tunggu sebentar! Ya, tunggu sebentar!” tanpa menatap Hyerim langsung dengan tangan kanan terangkat mencegat, Joohyuk mengatakan hal itu lalu berlari panik ke dalam apartemen.

Sosok Joohyuk diikuti pandangan Hyerim. Kemudian Si Marga Kim ini memiringkan kepala ke kanan-kiri, bingung. Tangannya juga menggaruk kepalanya tak paham. Aneh sekali Joohyuk, seperti Hyerim hantu saja. Enggak niat lama-lama sebab juga semilir angin malam yang kelewat menyebalkan dingin, Hyerim merajut langkah masuk ke dalam apartemen kostan tersebut.

“Jisoo-ya,” pekikan ceria Hyerim pecah ketika kakinya mulai sah menapaki lantai apartemen sewa pacarnya. Tampangnya terpasang sumringah dan mulai lagi melangkah seirama dengan tampangnya.

Dahi Hyerim spontan berkerut dalam melihat pemandangan yang tersajikan di lorong kostan. Sisa remah-remah camilan bahkan bungkusanya sudah layaknya debu di rumah kosong bertahun-tahun. Kacau sekali! Di ujung lorong pun terdapat dapur sekaligus meja makan, yang nampak berantakan layak kapal pecah. Di situ terdapat beberapa anak kostan—tapinya salah satu dari mereka tidak ada Jisoonya, sedang menikmati makan malam dengan gaya begajulan—well kaki kiri dilipat di atas kursi dan kaki kanan ditekuk di atas kursi, seperti makan di warung pinggiran.

Buahan bunyi pintu yang dibuka menarik atensi Hyerim. Dari pintu-pintu yang berjejer di sebelah kiri lorong, satu pintu terbuka dan sosok Kim Jisoo keluar dari sana, yang memang merupakan kamarnya. Hyerim sudah menatapnya dengan senyum mengembang.

“Aaa… nuna,” sapa Jisoo seraya melambaikan tangan kanan. Pacar berondong Hyerim ini melihatkan senyum yang—kok sepertinya kelihatan kaku dikacamata Hyerim, pun lambaian tangannya juga begitu. Atau perasaan Si Gadis saja?

Tentu Hyerim balas melambai, dia pun mendekati Jisoo dengan senyum lebar. “Soo-ya, ini,” tanpa basa-basi plus babibu segala, Hyerim langsung to the point menyodorkan tas belanja berisikan alat-alat snorkeling baru untuk Jisoo.

Alis Jisoo berjungkit seraya mengamati tas belanjaan yang disodorkan Hyerim. Setelah buang waktu seperkian detik, barulah cowok berondong ini menerima tas nan tersodorkan tuk dirinya. Mata Jisoo mengintip ke dalam tas. Waktu berikut alisnya naik satu.

“Alat snorkeling?” beo Jisoo lalu menatap Hyerim yang lekas mengangguk. Kembali Jisoo mengamati barang pemberian Hyerim dan mengeluarkan salah satunya dari tas kala ini. Raut wajahnya seakan tak suka. Dia melirik Hyerim dengan bibir agak maju, “Kenapa beli merk yang ini, nuna? Ini hanya bisa satu kali pakai,” Jisoo menumpahkan kata yang agak mencubit hati Hyerim.

Lihat, pacar nuna-nunanya ini langsung terpaku dengan wajah seperti disiram es. Sebelum membalas perkataan Jisoo, Hyerim menelan ludah dulu. “Hmmm, kau tahu, ‘kan gajiku ini terbatas,” ungkap jujur Hyerim dengan manik menerawang ke bawah serta kaki kanan bergoyang-goyang.

Si Pacar Berondongnya hanya membuang napas juga mengangguk-angguk. Jisoo memasukan kembali kacamata selam yang ia sempat keluarkan,  ke dalam tas. Saat pingin membalik badan masuk ke kamar untuk menaruh barang pemberian Hyerim, nuna kesayangannya ini mencegat tangan kanannya, membuat Jisoo mau tak mau berbalik dengan wajah bertanya.

Hyerim tersenyum simpul dahulu, barulah setelahnya menaruh uang di kepalan tangan Jisoo yang dia pegang. “Itu untuk uang jajanmu. Enggak seberapa, sih, tapi semoga cukup.”

Kepalan tangannya dibuka oleh Jisoo. Rautnya berkerut dengan satu alis terangkat. Hyerim rasa dia salah, sebab menyangka Si Pacar tidak suka diberi uang olehnya. Ayolah, Jisoo itu agak matrealistis sama suka menghambur uang. Uang berapapun asal cuma-cuma, dia pastinya suka.

“Hanya 700₩,” gumam Jisoo pelan dengan nada ogah-ogahan menatap uang pemberian Hyerim. Si Gadis dengar sih, tapi berakting enggak mendengar dengan berusaha tetap tenang. Jisoo meliriknya sekilas dengan senyum tipis.

“Terima kasih, nuna.” ujarannya kelihatan tak tulus. Hyerim saja sampai tahu Jisoo tak suka hanya diberi 700₩, sebab kentara sekali ketidaksukaannya. Namun Hyerim memilih berakting saja seraya menyemat senyum.

Jisoo mulai balik badan kembali. Pria yang sama-sama berkeluarga Kim itu mulai melangkah ke arah kamarnya yang ada di paling pojok tepat dekat dapur. Akan tetapi, Hyerim menangkap keganjalan yang lekas menciptakan kerutan dikeningnya.

“Kau memakai celana training motif hello kitty?” heran Hyerim dengan alis berjungkit, matanya beralih menatap punggung Jisoo yang kaku.

Glek. Jisoo menelan ludah gugup. “Emmm… ini punya ibuku, nuna. Saat itu tertinggal. Aku tak punya celana lagi, eheheh,” sahut Jisoo diakhiri tawa kaku sembari menggaruk belakang kepala.

Hyerim menatap punggung pacarnya lekat. Jisoo juga tahu diperhatikan. Sementara teman-teman satu kostnya sudah menaruh fokus kepada pasangan beda tiga tahun itu. Sayang, Hyerim enggak melihat raut gugup anak-anak kost teman Jisoo. Kepala Hyerim akhirnya mengangguk-angguk mengerti.

“Ah begitu,” desah Si Perempuan Kim. Jisoo juga ragu-ragu mengangguk-angguk, sedikit pula kepalanya melongkok ke arah Hyerim yang berposisi di belakangnya, takut-takut. “Kau konyol sekali.” Hyerim tersenyum geli kemudian larut tertawa pelan. Kepala Jisoo sudah memutar ke arahnya—menunda niatannya ke kamar untuk menaruh barang, cowok satu ini ikut tersenyum kaku.

Fokus Hyerim sudah beralih ke dapur. Kesempatan itu dicuri Jisoo untuk ke kamar dan kembali keniatan semula menaruh barang. Keganjalan yang lain menyambut Hyerim. Seperti biasa kalau sedang heran, keningnya berkerut lagi, alis  cewek sarjana sastra Inggris tersebut juga ikutan berjungkit. Perlahan, Hyerim mengiring diri ke dapur. Kepalanya tertoleh dan jatuh pada sosok perempuan yang usianya hampir memasuki kepala empat, sedang mengalaskan nasi goreng. Sebentar, Hyerim melekatkan tatapan pada bibi satu itu yang menunduk dan gak tahu mengapa, seperti gugup setengah mati. Cengkeng mata Hyerim sampai menyipit untuk mengorek ingatan akan bibi satu ini.

“Eh, kau bibi pemilik Restoran China di pinggir jalan, bukan?” mata Hyerim melebar saat mengingat bibi satu ini, jarinya menjentik. Diwaktu bersamaan, berondong kesayangannya keluar dari kamar dan mendadak panik melihat Hyerim menyadari adanya Si Bibi Pemilik Restoran China.

Si Bibi mengangguk tanpa niat balas menatap Hyerim. Si Gadis tak mempedulikannya dan malahan mulai mendekati bibi tersebut. “Bibi, kenapa ada di sini? Enggak mungkin sekali, ‘kan dengan suka rela mengasih makanan ke mereka?” lirik Hyerim sekilas ke anak-anak kost yang sedang duduk seenak pantatnya di meja makan.

Ganjalnya, mereka semua langsung batuk-batuk—ada yang kesedak minuman, ada juga yang kesedak makanan. Hyerim menoleh sebentar ke mereka semua dengan bingung. Kok pakai kesedak segala? Hyerim, ‘kan hanya menerka-nerka dan enggak mungkin benar, bukan? Hyerim sudah menatap Si Bibi yang masih tak mau menatapnya. Lantas Kim Hyerim ingat sesuatu dan kembali menjentikan jari dengan mulut membentuk o.

“Ahhh,” desah gadis yang lahir dengan nama Hyerim ini, lekas menatap Hyunsik yang santai-santai saja menikmati jjangpong dari restoran bibi ini. “Jangan-jangan, Hyunsik yang bayar. Dia juga membayarkan Jisoo makan siang, ‘kan?” terka Hyerim yang yakin akurat.

Tanpa perempuan ini tahu, Jisoo menelan ludah gugup luar biasa dengan keringat dingin mulai nampak. Ditodong terkaan Hyerim, Hyunsik menatapnya bingung. “Kapan aku membayar makanan Jisoo?” dia pun menatap Jisoo yang menggerak-gerakan mulut dan mengerjap-ngerjapkan mata—intinya isyarat terselubung.

Hyunsik gagap seketika lalu berkata tanpa menatap Hyerim. “E—eh, i—iya, aku tadi membayarkan Jisoo makan siang. Kita tidak makan siang bareng tapinya aku membayarnya.” sanggah Hyunsik cepat dan baru berani menatap Hyerim dengan senyum paksa.

Bukannya merasa percaya, Hyerim malah menaruh curiga. Di sisi Jisoo, cowok satu itu menepuk dahi sembari memejamkan mata, gugup dan takutnya sudah diambang fatal. “Tidak makan bareng? Tapi aku dengar kok, kau sedang makan bersamanya. Jisoo juga bilang begitu ditelepon.” Hyerim menoleh ke arah Jisoo yang sok menoleh ke objek lain, kepala Hyerim ia miringkan dengan dahi mengerut kian dalam.

Enggak mau ambil pusing karena kepalanya jadi berdenyut tak karuan. Hyerim akhirnya melupakan hal tersebut. Kemudian menatap Bibi Eun—karena Hyerim pernah makan di restorannya saat ditraktir para senior di kantornya, maka dia tahu marga Si Bibi, yang kembali sibuk mengalaskan makanan. Tadinya Hyerim ingin minta sisihan makanan dari restoran Bibi Eun karena dia juga belum dijejali makan malam. Namun, sesuatu menjanggal dimatanya lagi. Hyerim menyipitkan mata menatap objek yang menyitanya.

“Itu…” telunjuk Hyerim terangkat. Semua pandang orang-orang teralih lagi ke arahnya. Tunjukan telunjuk Hyerim tepat pada ikat rambut nan melingkar disurai Bibi Eun yang agak acak-acakan—kelihatan sekali dengan helai rambut yang diikat asal-asalan dan masih tersisa.

Hyerim menelengkan kepala dengan netra lekat pada ikat rambut dengan hiasan Minnie Mouse yang sudah terbelah. “… ikat rambut Minnie Mouse yang sudah terbelah, ‘kan punyaku. Aku pernah numpang mandi di sini dan meninggalkan ikat rambut itu, yang belum sempat aku ambil kembali.” gumam pelan Hyerim.

Tubuh Bibi Eun lantas bergetar-getar, gugup kayaknya terlukis diwajah dengan mata tak mau menatap Hyerim langsung. Jisoo yang dengar hal itu, menggaruk leher dengan dagu agak terangkat gugup. Telunjuk Hyerim masih setia menunjuk ikat rambut itu, tetapi matanya teralihkan ke celana training yang, oh, keparat. Hyerim kenal celana training yang dipakai Bibi Eun. Celana merk adidas warna hitam yang bolong dikedua lututnya—sebab Jisoo yang tempo itu lari pagi bersamanya malah jatuh tak elite hingga celananya bolong dikedua lutut. Ya, celana yang dipakai Bibi Eun ini milik Jisoo!

Secepat kilat, Hyerim menoleh kepada Jisoo. Tampang gadis ini bengis sekarang dengan aura hitam kesetanan. Jisoo ikut-ikutan gemetaran seperti Bibi Eun. Lagi, Hyerim menatap Bibi Eun yang memperhatikannya lalu Si Bibi buru-buru menunduk gugup ketika Hyerim kembali melayang pandang padanya. Napas Hyerim tersenggal dengan wajah merah, persis banteng mengamuk.

Tahu-tahu, Hyerim menarik kerah baju Bibi Eun, menyebabkan bibi satu itu memekik tanpa suara dengan kagetnya. Hidung Hyerim menghirup dalam-dalam aroma yang ada di baju Si Bibi. “Caramel khas merk parfume murah di Lucky Departement Store,” Hyerim menggumam, ingat betul bahwa ia membelikan parfume merk tersebut pada Jisoo bulan lalu.

Melihat keganjalan lagi didada Bibi Eun. Hyerim menyentak tangan dari kerah baju bibi satu ini. Badannya ia putar, dilihat Jisoo sudah panas dingin di tempat. Dengan wajah merah padam serta bibir bergetar-getar nahan amarah yang membendung, Hyerim melangkah lebar-lebar ke pintu kamar Jisoo yang langsung ia buka tak santai. Lampu kamar langsung Hyerim nyalakan. Sialan. Brengsek. Jalang. Kamar tersebut berantakan bukan main. Bahkan, oh lihat, ada bra milik Bibi Eun yang tak pakai bra saat ini dibalik bajunya. Otak Hyerim mencerna cepat. Panggilan sayang disambungan telepon. Joohyuk yang panik saat ia datang. Hyunsik yang bingung saat disingung makan bersama dengan Jisoo tadi siang. Celana Jisoo dengan motif hello kitty. Celana Bibi Eun yang jelas milik Jisoo. Juga ikat rambut milik Hyerim yang tertinggal di kamar Jisoo tapi sekarang malah dipakai Bibi Eun. Apalagi bra yang tertinggal di kamar Jisoo dan pemiliknya adalah—

“Kim. Ji. Soo.” Hyerim mengeja nama pacarnya penuh penekanan.

Glek. Ludah Jisoo kembali tertelan gugup apalagi Hyerim yang sudah menatapnya berkobar. “Nu… nu… naaa…,” Jisoo berusaha memanggil dan sudah berjalan mundur dengan segera.

Hyerim melepas tas gendongnya. Peduli setan atau tuyul sekalipun, dirinya menarik kedua tali tasnya kuat hingga sobek dan membuat kedua talinya seperti tas selempang dan mulai memutar-mutarkan tasnya seperti cambuk kuda.

Ya! Dasar brengsekkkk!” teriak Hyerim kesetanan lalu mulai berlari ke arah Jisoo dan melayangkan pukulan dengan tas gendongnya yang dijejali buku materi pembelajaran super berat.

Jisoo sudah merangsek di atas lantai dan mulai menghindar dengan menggeret tubuhnya yang terduduk di lantai. Hyerim membabi buta memukulinya. “Hah, kau berani menghindar, hah?!” jerit Hyerim masih memukuli Jisoo yang terus berusaha menghindar.

Tangan Jisoo terangkat satunya dengan kepala menunduk walau badan samping kanan-kirinya terus tersarangkan pukulan super sakit dari Hyerim. “Tidak, nuna. Aku tidak menghindar. Nuna…”

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ║█║

Setelah membuat apartemen kostan Jisoo berantakan layak kapal pecah. Bahkan makanan yang dari restoran Bibi Eun sampai berserakan di lantai dapur. Serta Jisoo yang sudah babak belur dipukuli oleh tas gendongnya yang kedua talinya sudah rusak. Hyerim mengungsi di kamar mandi saat ini. Matanya sembab bukan main. Riasan wajahnya luntur hingga mencoret wajahnya seperti nenek lampir. Huh, Hyerim jadi ingat julukan anak geng sok gangster di sekolahnya dulu, yang suka memanggilanya nenek lampir. Intinya, Hyerim kacau bin jelek sekali sekarang.

Cewek satu itu sedang menunduk di hadapan wastafel, air matanya masih menintik dengan mata terpejam. Hyerim juga sesegukan dengan hidung sangat merah sekaligus tersumbat ingusnya.

“Hiks… hu… hu… hu. Sialan, dasar bocah tak tahu diri,” disela isakannya, Hyerim sempat mengumpat dengan tangan terkepal mengebrak wastafel.

Akhirnya Hyerim mengangkat wajah. Sumpah, demi neptunus, dirinya tak mau cermin di depannya ini menampilkan wajah seramnya. Tapi ya, mau gimana lagi, wajahnya sembab bukan main sebab akan acara menangis di kamar mandi selama dua puluh menit lamanya—sehabis beres menyerang Jisoo habis-habisan. Keran air diputar Hyerim, partikel air pun mengalir dari situ. Langsung saja Hyerim membasuh wajahnya berkali-kali.

“Sadarlah. Jangan menangis karena brengsek satu itu, Hyerim.” Hyerim menggumam, mengingatkan dirinya tak perlu bodoh begini hanya karena diselingkuhi bocah ingusan yang cuman tahu traveling dan snorkeling, tapi otak bodoh setengah mati untuk lulus ujian jadi pengacara.

Setelah mengelap sisa maskara yang meluber dengan tisu. Hyerim memoleskan kembali sedikit bedak diwajahnya. Dia gak mau terlihat terpuruk sehabis putus dicampakan. Hyerim masih punya pamor tentunya. Acara memoles sedikit bedak dan lipsticknya beres, Hyerim menaruh kembali alat riasannya ke tas cacatnya. Melihat tas cacatnya ini, Hyerim mendengus.

“Dasar bocah brengsek. Memang tidak niat membelikanku hadiah saat ulang tahun. Membelikan yang KW, cepat rusak lagi.” gerutu Hyerim. Amarahnya memuncak lagi. Yeah, tas cacat yang ia pakai hari ini tuh pemberian Jisoo, pacar—coret, mantan pacar bajingannya.

Saat ini, Hyerim sibuk dengan ponselnya. Ketika kontak ‘Orang China Gila’ dia temukan, Hyerim memencet call dan menaruh ponsel ditelinga. Nada sambung terdengar tapi Luhan tak kunjung mengangkat.

Seikkia (brengsek), kenapa tidak diangkat, sih?” umpat Hyerim sembari melirik layar ponselnya kesal karena operator yang menjawab panggilannya. Hyerim coba kembali menghubungi Luhan. Sambil menunggu, Hyerim mengetuk-ngetuk ujung jari ke wastafel.

Di sisi Luhan, pemuda itu baru selesai shift malam di klinik hewan tempatnya berkerja dan sudah berpakaian casual tanpa jas dokternya. Dirinya sedang mengelus-elus anjing yang ada digendongan pelangannya. “Baekhee sudah sehat, kok. Tidak perlu datang lagi ke mari, Nona Cheonsa.” ujar Luhan sembari menatap anjing bernama Baekhee itu lembut.

Si Pemilik yang dipanggil Nona Cheonsa, mengulum senyum tulus dan mengangguk. “Terima kasih sudah merawat Baekhee, Dokter Lu.”

Luhan menatapnya dengan senyum sama tulus, dia pun ikut mengangguk. Waktu berikut, Luhan merasakan getar ponsel di saku celana jinsnya. Luhan meminta izin untuk mengangkat telepon sambil merongoh saku celananya. ‘Nenek Lampir Ganas’. Kontak itu yang tertera di layar ponsel. Dengan ogah-ogahan, Luhan mengangkatnya.

“Ya, ada apa?” masih ogah-ogahan, Luhan bertanya.

“Luhan-ah, jemput aku,” pinta Hyerim lebih mirip perintah, membuat Luhan memutar bola mata. Pria China ini saja yang tak peka bahwa Hyerim berusaha berkata senatural mungkin tanpa kentara sedang sesegukan.

“Memangnya aku supirmu?” tolak Luhan dengan wajah sebal.

Kembali lagi pada Hyerim. Perempuan Kim ini menunduk dalam kembali dengan dada yang naik turun juga mata tertutup. Sialan, sungguh sialan, air matanya jatuh kembali. Tak tahan, Hyerim melolongkan isakan.

“Hiks, Luhan… jemput akuuuu…” rengek Hyerim mulai terisak terang-terangan, dadanya mulai sesak tak kepalang. “Aku disakiti. Wajahku sembab sekali. Sakit, huaaaa.” mulailah Si Perempuan marga Kim ini nangis hebat.

Di sana, Luhan jadi panik mendengar sahabatnya menangis dan berkata telah disakiti. “Ya! Kau di mana? Kau disakiti siapa? Aishhh, cepat beritahu kau di mana?”

Hyerim masih sesegukan dengan napas serta dada naik turun tak menentu. Tangannya terangkat untuk mengusap kasar tetesan kristal brengsek yang membanjijir wajahnya lantaran bocah tak tahu malu macam Kim Jisoo.

“Cek Line-mu sehabis ini. Aku kirimkan alamatku sekarang.” tutup Hyerim lalu menurunkan ponsel dari telinga.

Dirinya menatap kembali bayangannya di cermin. Lagi, Hyerim kesal bukan main hanya karena diselingkuhi bocah tak tahu malu macam Kim Jisoo, yang malahan memilih bibi-bibi berumur tiga puluh tujuh.

“Hiks, sialan.” Hyerim memalingkan wajah sembari mengumpati Jisoo lagi dengan satu tetes air mata.

║█║♫║█║ —  Friendzone : When The Love Blossom  ║█║ ║█║

EPILOG

Yeobo, ayo cepat mandi!” suara manja dari anak cewek umur sebelas tahun terdengar, sambil melotot pada anak cowok sebayanya—kontras sekali dengan suara manjanya.

Luhan dan Kim Hyerim. Nama kedua anak tersebut. Mereka sedang main rumah-rumahan dengan menjadi sepasang suami-istri. Teman perempuan dan laki-laki mereka yang lain bernama Oh Sehun dan Oh Sun Ee—yang omong-omong saudara kembar, ikut bermain jadi kedua anak mereka. Luhan memasang tampang jengah mendengar titahan Hyerim.

Shireo! (tidak mau)” tolakan anak laki-laki ini membuat Sehun dan Sun Ee yang sedang sibuk memetiki bunga liar, menatapnya berbarengan. Ludah sepasang kembar ini terteguk karena sudah tahu pasti Hyerim meledak lagi.

Hyerim berkacak pinggang, sementara Luhan buang muka dengan tangan terpangku di dada. “Ya! Kau ini gimana, sih? Kau, ’kan, jadi suamiku di sini dan harus cari nafkah! Kau juga harus mandi dulu sebelum kerja, bodoh!”

Tuh kan, Hyerim marah-marah. Sehun dan Sun Ee hanya geleng-geleng lalu sibuk main masak-masakan dengan batu-batuan, daun-daunan, juga bunga-bunga di taman di bukit ini—ini suruhan Hyerim, dan simpelnya mereka gak mau diomeli Hyerim kalau gak nurut.

Kepala Luhan menatap Hyerim. Keduanya adu tatap tanpa ada yang mau mengalah. “Jadi suamimu apanya? Aku seperti pembantu disuruh ini-itu, huh!” dengus Luhan diakhir kalimat. Kemudian anak laki-laki ini malahan menendang-nendang dan memukul-mukul udara, “Aku maunya main taekwondo!”  ujar Luhan dengan gaya sok bertarung dengan orang lain, masih setia juga menendang dan mukul asal.

Tanpa disengaja, Luhan menendang lutut Hyerim hingga anak perempuan itu memekik keras. “Aduh,” segera, Luhan berhenti dan menatap Hyerim tanpa dosa.

Perempuan tersebut menatap lututnya yang ditendang Luhan, kemudian gantian menatap Luhan dengan wajah sebal. “Ya! Kubilang, ‘kan main rumah-rumahan. Kau jadi suamiku saja, gak usah sok-sokan taekwondo kau, China!” jerit Hyerim kemudian mendorong Luhan keras saking kesalnya.

‘Duk’

Aduh, bencana lagi. Luhan jatuh teruduk di atas tanah kemudian mulailah wajahnya mengerut serta tangisannya pecah. Sehun dan Sun Ee tetap jadi penonton saja karena tak mau ikut campur pertengkaran tak jelas dua temannya ini.

“Huaaaa… Mama, Hyerim mendorongku! Huaaaa, Kim Hyerim, aku tak mau menikah denganmu!” Luhan mengusap-usap matanya yang mengeluarkan air mata.

fightmyway02-00028

Hyerim berjongkok lalu menyarangkan dorongan di dahi Luhan dengan wajah memberengut. “Aku juga tak mau menikah denganmu!” seru Hyerim kemudian bangkit dan meninggalkan Luhan yang masih setia menangis. Sehun dan Sun Ee hanya saling tatap lalu menggeleng bersama, kemudian menghampiri Luhan untuk menyuruhnya menghentikan tangis.

Besoknya, Luhan muncul di depan rumah Hyerim sambil menggaruk kepala. Hyerim menyambutnya dengan tampang bertanya. Kepala Luhan menunduk, barulah ia mengucapkan kalimat, “Sebenarnya ucapanku kemarin serius lho,” Luhan mengangkat kepala menatap Hyerim ragu.

Anak perempuan Kim ini terlihat bingung dengan alis berjungkit. “Ucapan yang mana?” Hyerim memiringkan kepala.

“Masalah aku tak mau menikah denganmu,” ucap Luhan sambil menggaruk tengkuk kemudian menurunkan tangannya untuk terpaut jadi satu. “Aku tetap ingin jadi sahabatmu saja. Jadi kita jangan menikah saat dewasa nanti. Aku enggak mau kehilangan sahabat sepertimu mesti kau galak, Hyer.” ungkap Luhan kelewat jujur bin polos.

Mata Hyerim mengerjap-ngerjap mendengarnya. Dirinya mendengus keras dulu setelah paham maksud Luhan. “Galak-galak begini, aku penyelamatmu dulu saat dipalak,” Hyerim mengingatkan, Luhan juga langsung mengangguk karena hal tersebut memang benar.

Hyerim mengerlingkan mata karena terpikirkan sesuatu dengan menggumam, “Hmmm…” lalu ia menatap Luhan yang lagi menatapnya juga. “aku juga enggak mau kehilangan sahabat yang cengeng sepertimu. Jadi kita jangan sampai saling menikahi kalau sudah dewasa nanti. Untuk meyakinkan janji kita terpenuhi, gimana kalau kita juga berjanji kalau salah satu dari kita menikah, yang satunya lagi harus menyanyi dipernikahan tersebut?” mata Hyerim berbinar akan idenya.

Luhan langsung setuju dengan mengangguk sambil menyungging senyum lebar. “Setuju!”

Kemudian keduanya menautkan jari kelingking dan terkekeh bersama.

—To Be Continued—

blog-divider-wreath-elements-06-2013-smaller

[1] yeojachingu = teman perempuan/girlfriend. Tapi di Korea diartikan sebagai kekasih/pacar. Maka Hyerim langsung meralatnya menjadi yeosaramchingu.

[2] sundae = sejenis jeroan babi.

Setelah peperangan dalam diri ini, aku akhirnya sanggup rilis teaser dua hari lalu lalu post keping satunya alias chapter 1nya. Awal-awal mungkin masih sama kayak Fight For My Way, tapi coba baca cerita ini sampai habis ya, beda loh.  Drama salah satu pacar ane Park Seojoon dan kembaran alias visualisasi ane  Kim Jiwon yang jadi inspirasi FF ini cuman bagian awal. Abis gemay sekali sama prenzon di Fight For My Way, aih : ( TAPI MINGGU INI KITA MESTI SAY GOODBYE SAMA DRAMA INI T-T GOODBYE CHOI AERA, KO DONGMAN, DAN GENG MEREKA BERNAMAKAN FANTASTIC FOUR YANG DUANYA LAGI ADALAH KIM JOOMAN SAMA BAEK SEULHEE YANG MASIH PUTUSAN GARA-GARA SI IBLIS YEJIN  /BHAKZ/ btw, adakah yang ngikut itu drama alias Fight For My Way? Kan jadi inspirasi ini FF bagian friendzonenya LOL. Dan minggu ini kita juga say goodbye sama Suspicious Partner dan Ruler : Master of The Mask. Dadah Pengacara Noh dan Sang Kekasih yang sesame pengacara, Eun Bonghee. Dan dadah juga Putra Mahkota, Lee Sun Si Fake King yang bikin emosi  btw liat dia di Ruler merasa pas jadiin Myungsoo terobsesi sama Hyerim di My Cinderella karena Myung jadi Lee Sun pun terobsesi sama Gaeun alias Kim Sohyun LOL, dan dadah ugha Gaeun yang pemeran utama tapi gak terlalu ditonjolin BHAKS, DAN UDAH DADAH DULUAN SAMA KIM HWAGUN YANG METONG TAEQ WALAU YOON SOHEE INI DULU GEBETAN LUHAN ZAMAN WOLF DRAMA VER DAN BUAT ANE GONDOK, PLS DI RULER DIA INI BUAT ANE RESPEK-SIMPATI-BAPER SAMA SEKEN LEAD T.T HWAGUN-AH (NGAPA JADI NGOMONGIN DRAMA LOLOL) dan bias ane nambah dong gara-gara Ruler, unch lah terpesona sama Kim Seokyung alias Gon : ( abdi setia Hwagun

O, ya, seperti kataku, bahasaku di FF ini beda banget. Pasti pada sadar kan ya. Dan aduh kok gemes ya liat Hyerim-Luhan ahaha, ada yang gemes gak? :p Sama aduh mianek Jisoo my baby, my honey bunny, gak maksud buat dia jadi gini huweee T.T NYATANYA AKU LEBIH SAYANG JISOO DIBANDING LUHAN /IYA? IYAIN AJA SI ELSA PALING BALIK LAGI SAMA LUHAN/

Anyway jangan lupa komennya ya >< aku berapapun yang komen, udah seneng banget EAK. Tiati loh, aku suka iseng ngasih password apalagi kalo FFnya lebih dari 3 chapter ahahahahah /ketawa-ketiwi/

e513a87fe18a252d74b11241463912f4233470da_hq

Bonus, pacarkoeh yang ternistakan di sini, Kim Jisoo ❤ yang nyatanya selingkuhannya Hyerim dari Luhan LOL /DISABET LUHAN/

xoxo, 

Hyekim ❤ 

Advertisements

Author:

A tinkerbell who dream to be Luhan's future wendy — Also an amature author, k-drama trash, k-running man freak, eternal ELF, ahjussi and korean actor addict in the same time

12 thoughts on “FF — Friendzone : When The Love Blossom [Keping 1 : The Cheating Boyfriend]

    1. Wakakak coba nonton fight for my way. Friendzonenya gemes sampe aku buat epep ini :p

      Eh Baekhee, aku inspirasinya dari nama anjingnya Baek Taemin di drama Chicago Typewriter 😂😂😂 soalnya lucu eheheh

      Like

  1. Hai hai aku mampir ni, habisnya penasaran si hehe. Yaelah luhan” kecilnya penakut + cengeng tp gak nyangka pas gedenya. Uwaahh kalo ngomongin soal drakor, aku cuma pernah nonton yg suspicius sm ruler. Kalo yang satunya si belom nonton tp jd penasaran pas denger cerita km. Jd sedih kalo inget bakalan pisah sm drakor slot rabu kamis ntu. Ok di nanti lanjutan ffnya yuuuaaa.

    Liked by 1 person

  2. Wkwkwk ngakak bgt sama epilognya yg ada sehun maen masak2an make batu ama daun. Bhakss itu ngakak bener disitu. Ngebayangin seorang sehun maen masak2an itu kocak bgt. Btw luhan hyerim yakin sahabatan doang? Paling ntar juga pacaran*sotak hahahah ditunggu ya eon lanjutannya!:)

    Liked by 1 person

  3. Hay Elsa
    Ijin baca ya Ff Ini
    Hehehe..

    Ffnya kocak n seru thor,
    Apalagi saat Jisoo ketauan tu sma hyerim…
    Hhhhh…

    Ditunggu kelanjutannya,
    Jngan lama* updatenya
    Fighting untuk karyanya 😊

    Like

  4. Elsaaa jelaskan ini apaaaa…. why ini kocak sekali wkwkwk jadi terbahak sendiri….
    Hm boleh nanya kan? Boleh ya… ya…. yaa….
    itu omong-omong kok jisoo nyaa…… KYAAAA PAS LIAT BAGIAN GIFNYA JISOO DI AKHIR JADI PENGEN NAMPOL DIA PAKE BIBIR… ADUH JADI MAKIN SAYANG SAMA JISOOO KYAAAAA /batuk cantik
    maap ya Elsa kalo saya ngerusuh di mari /lalu pulang bawa Jisoo

    Like

Write ur Love Letter . . . <3

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s