Posted in Chapter, Comedy, Fanfiction, FF : Friendzone : When The Love Blossom, Fluff, Friendship, Romance, Teens

FF — Friendzone : When The Love Blossom [Keping 2 : After Broke Up]

Friendzone-WTLB-Cover

Friendzone : When the Love Blossom

KEPING 2 : After Broke Up ┘

Starring By

Lu Han & OC`s Kim Hyerim

Actor Kim Jisoo, OC`s Eun Yeonseong, WJSN`s Xuan Yi/Oh Sun Ee, Girls Generation`s Seohyun as special appearance

Story with Romance, Comedy, Friendship, Fulff rated by T  type in Chapter

Poster by ByunHyunji @ Poster Channel

`Luhan dan Hyerim sudah bersahabat selama 17 tahun. Keduanya berjanji tidak akan saling menikahi, juga kalau satu dari keduanya menikah, salah satunya akan menyanyi dipernikahan tersebut. Tapi memangnya persahabatan antara lelaki dan perempuan akan bertahan lama? Terlebih Hyerim baru saja diselingkuhi. Sedang Luhan, suka berperan menjadi pelindung Hyerim dan selalu meminta pendapat Si Gadis untuk masalah perempuan`

Disclaimer :  Beberapa adegan di fiksi ini terinspirasi dari drama Korea Fight For My Way dan tweet @plotideas. Namun isi cerita serta konflik yang ada sungguh berbeda.  Semua yang tercantum dari cerita ini sungguh tidak nyata. Tidak ada niatan untuk menjelek-jelekan satu organisasi/perorangan. Semua cast milik orang tua, agensi, dan Tuhan YMA—terkecuali untuk OC. Penyebarluasan, duplikasi isi cerita tanpa sepengetahuan/izin penulis, juga menghina/menjelek-jelekan isi cerita merupakan tindakan yang sangat dilarang.


When the love blossom in our friendship


Previous Story : Keping 0 — Introduction  ∞ Keping 1 — The Cheating Boyfriend

© 2017 Storyline by HyeKim

║█║♫║█║ ║█║ ║█║ ║█║

Hyerim rasa Kim Jisoo selain brengsek dan tidak tahu malu, punya jua kelainan selera. Oh, atau karena matre dia jadi buta setengah mati? Eun Yeonseong—nama lengkap Bibi Eun sekaligus selingkuhan Jisoo. Bayangin aja, Eun Yeonseong itu berusia tiga puluh tujuh—sepuluh tahun lebih tua dari Hyerim. Sudah pernah menikah selama satu tahun dan untung belum punya momongan dari buah pernikahannya. Kalau ya, Hyerim tambah tidak habis pikir dengan Jisoo.

Well, Yeonseong memang pemilik Restoran China terkenal se-Distrik Songpa. Restorannya sudah turun-menurun dari buyutnya. Bisa dibilang sih, ini poin plus ahjuma-ahjuma yang dikencani Jisoo untuk main belakang dari Hyerim. Kesimpulannya, Jisoo kelewat matre atau sudah cape karena Hyerim yang sama-sama hidup minoritas sepertinya? Entahlah, intinya karena Eun Yeonseong lebih tajir, Hyerim ditinggalkan. Miris, ‘kan?

“Aku tak mengerti dengan jalan pikirmu,” setelah lama temenung, Hyerim yang lagi duduk di salah satu kursi meja makan yang sudah seperti kapal pecah, buka suara.

Posisi duduknya menyamping dengan tangan kanan berpangku ke punggung kursi. Cewek garis Kim tersebut buang muka dari Jisoo yang tengah berdiri beberapa meter di depannya sembari menunduk dalam-dalam. Meski pamornya tinggi, tetapi kebohongan enggak bisa ditutupi bahwa Hyerim seakan ingin menangis lagi sekarang. Lihat saja, matanya memerah sekali detik ini.

“Bila… bila…” tutur kata Hyerim tersendat-sendat, hidungnya tersumbat dan memerah otomatis, pun kerongkongannya tercekat. Hyerim memejamkan mata sebentar, menahan tetesan brengsek yang ingin keluar.

“… bila saja dia lebih muda, lebih cantik, juga belum pernah menikah. AKU MENGERTI!” bentakan diakhir katanya membuat Jisoo dan Yeonseong—yang omong-omong bersembunyi di balik tembok dekat dapur dari tadi, tersentak.

Hyerim melayangkan lirikan tajamnya pada bibi jalang satu itu. Yeonseong langsung mengidik ngeri dan tambah merempet pada tembok, dirinya tak berani balas menatap Hyerim. “Jisoo-ya,” akhirnya Yeonseong berbisik memanggil Jisoo, tak kuat juga diliriki tajam oleh Hyerim.

Atensi Jisoo terengut ke arahnya dengan binar mata bertanya. “Setidaknya berlutut lah pada Hyerim,” titahnya masih dengan suara setengah berbisik.

Jisoo langsung nurut dan merangsek ke lantai dengan kaki tertekuk berlutut. Kedua tangannya terkepal dengan meremas celana training hello kitty Yeonseong, jua kepalanya menunduk dalam-dalam. Atensi Hyerim teralih pada mantan pacarnya itu, netranya mengkilat-kilat tajam.

“Maafkan aku, nuna,” adalah ucapan pertama Jisoo setelah menggeliat dalam hening, “Aku menyesal.” Hyerim spontan mendengus dengan decihan dan muka terbuang ke samping kiri tatkala aksara tadi, Jisoo ucapkan.

Kembali Hyerim menghunus tatapan pada Jisoo. Kali ini, bibirnya gemetar. “Ya!” hardiknya membuat Jisoo menciut gemetaran. “Menyesal pantat kuda?! Apa kau tahu betapa hancur hatiku sekarang? Oh, apa kau lupa janjimu untuk melamarku setelah lulus nanti?!” semprot Hyerim dengan mata berkaca-kacanya.

Pada akhirnya, Jisoo berani juga mengangkat kepala untuk menatap Hyerim meski takut-takut. “Tapi aku tidak lulus dua kali, nuna,” Si Bocah Brengsek ini memasang wajah memelas bin kecewanya, nadanya juga begitu.

Rasanya darah Hyerim mendidih kekepala mendengarnya, hingga kepalan tangannya tercipta otomatis. “Aku tidak pernah menuntutmu lulus untuk melamarku,” aduh, suara Hyerim malahan serak saat berucap, membuat Si Gadis mengutuk betapa kelihatan terpuruk dirinya. Jisoo sendiri sudah menunduk lagi.

“Kau tahu apa yang kupikirkan saat dirimu tidak lulus lagi?” Jisoo angkat kepalanya kemudian menggeleng. Setelah menyumbat ingusnya, Hyerim kembali menyambungkan. “Aku ingin mengurusmu saja. Aku bisa mengambil kerja lagi di sekolah menengah untuk mengajarkan bahasa Inggris. Atau aku coba peluang beasiswa untuk belajar kembali dan setelah lulus bisa mengajar menjadi dosen sastra asing di Universitas Hanyang. Setidaknya satsra dan bahasa itu keahlianku. Aku bisa membiayaimu juga, bocah!”

Kata bocah yang lolos dari Hyerim barusan penuh penekanan dan ada hasrat kekesalan menyelimuti. Mendengarnya, Jisoo tersenyum bersalah. Hyerim jadi ingin menendangnya habis-habisan walau muka cowok satu itu udah agak biru karena dipukuli dirinya beberapa waktu lalu.

“Tapi nuna. Kau juga tidak tahu, ‘kan kenapa aku main belakang?” dasar bocah sialan, Hyerim mengumpat begitu dalam hati tetapi aslinya dia hanya memasang wajah makin kesal. “Aku tidak mau jadi pengacara. Ayah, ibu, bahkan dirimu seakan menekanku jadi pengacara. Aku lebih suka traveling dan snorkeling. Aku juga merasa tidak sanggup meneruskan bisnis toko orang tuaku,”

Mulut Hyerim terbuka dengan wajah cengo mendengar ungkapan jujur Jisoo. “Siapa juga yang menekanmu menjadi pengacara?” ucap Hyerim, giginya menggertak-gertak gak habis pikir.

Jisoo menelengkan kepala kemudian merespon, “Ya, aku berpikir nuna terbebani mengurusku. Dan nuna selalu mengatakan aku harus lulus. Aku tahu itu semua agar aku bisa mulai berkerja sebagai pengacara setelah lulus ujian hukum karena hidup kita yang sama-sama serba minoritas.”

Oke, oke, mendengar kata-kata Jisoo tambah saja darah Hyerim kian naik kekepalanya. Mata Hyerim terpejam dan tangan yang berpangku pada punggung kursi, udah mengepal kuat-kuat dengan sekujur tubuh gemetar. Amarahnya sudah sampai permukaan paling atas.

Tahu-tahu, Yeonseong ikut-ikutan berkata, “Saat itulah, Jisoo mulai dekat denganku,” secepat kilat, Hyerim membuka mata dan menatap Yeonseong yang lagi bernostalgia dengan senyum seri-seri, dengan mata melotot. “Aku sudah memperhatikannya dari lama. Jisoo sering makan di warung tteobokki depan restoranku. Dirinya sering juga lewat depan restoranku. Lalu aku mengundangnya makan gratis di restoranku. Hari esok aku juga mentraktir anak-anak kostan Jisoo di restoranku. Kemudian… ya, kita makin dekat dan dekattt sekaliii,” dongeng Yeonseong dengan kepala menunduk seri-seri juga senyum malu-malu. Tubuhnya goyang-goyang kasmaran. Menjijikan sekali intinya.

Jisoo juga menatap pacar barunya dengan merekahkan senyum lebar bin seri-seri. Hyerim tentu melihatnya, nyaris dia melempar piring sisa makan malam yang masih ada di meja makan ke muka Jisoo.

“Jadi…” setelah menelan hasrat menyerang Jisoo, Kim Hyerim bervokal kembali dengan melirik Yeonseong. “… karena dirimu sering memberi makan anak-anak kost sini, mereka tutup mulut, begitu?”

Sebab udah percaya diri setelah dongeng kisah cintanya bareng Jisoo, Yeonseong berani balas menatap Hyerim sekarang dengan senyum kelebarannya, dirinya mengangguk. “Iya, ditambah juga masakanku enak.”

Cetakan tidak percaya plus tidak habis pikir terlihat ditampang Hyerim. Si Gadis melongo bukan kepalang. Bahkan teman-teman kostan Jisoo lebih memihak Si Bibi Jalang dibanding dirinya karena dibuatkan makanan enak? Ketajiran mengalahkan semuanya dimasa kini, Bung!

Sesudah mengontrol diri, fokus Hyerim tertancap pada Jisoo lagi. “Ya! Kim Jisoo!” walau tak pingin, tapi matanya kembali merah dengan wajah terpuruknya. Hyerim jadi mengutuk dirinya sendiri sekarang. Jisoo sudah menatapnya gugup. “Aku tahu kau tak punya otak. Setidaknya kau harusnya punya malu, aku sudah membayar sewa kamar kostmu, biaya kuliahmu, juga—“

‘—Kruyuk’

Hardikan Hyerim kepotong karena suara perutnya yang minta jatah makan. Spontan tangan kanannya memegang perutnya yang keroncongan, wajah Hyerim sudah memberengut saking menahan malu. Sementara Jisoo dan Yeonseong saling lirik dengan kelongoannya, kemudian menatap Hyerim yang tak ada niatan menatap pasangan sialan tersebut.

“Kau lapar?” pertanyaan Yeonseong hanya membuat Hyerim menunduk dengan mata menutup serta mulut komat-kamit tanpa suara karena cacing perutnya yang songong untuk berbunyi ditiming yang enggak tepat. “Ingin makan di restoranku? Aku kasih gratis.” walau tidak direspon Hyerim, Yeonseong menawarkan. Hyerim buru-buru mengangkat kepala dan melotot tajam pada Yeonseong yang tebal muka memasang tampang bebas dosa.

║█║♫║█║ ║█║ ║█║ ║█║

Finalnya, Hyerim makan juga di restoran Yeonseong. Cara makannya tidak bergairah sama sekali. Nasi goreng udangnya masih banyak yang tersisa. Hyerim menatap nanar nasinya kemudian mengerucut.

“Semenyedihkannya kah diriku sehabis putus? Kenapa harus semenyedihkan begini?”

Kata hati Hyerim demikian. Dirinya membanting stir kepala ke sebelah, terlihatlah Jisoo sedang suap-suapan es krim dengan romantis bersama Yeonseong. Keduanya ketawa hahahihi seakan bebas dosa. Hyerim mendengus keras dengan spontan, dia sendokan banyak-banyak nasi gorengnya kemudian disuapkan ke mulutnya dengan tidak santai, Hyerim mengunyah nasi yang ada di mulutnya sama-sama tidak santai.

‘naega sarange ppajin geolkkayo

nae du nuni mareul handaeyo’

“Uhuk, uhuk,” dering ponselnya menyebabkan Hyerim kesedak makanan yang dia kunyah tidak santai. Jisoo dan Yeonseong sampai melirik ke arahnya yang tengah menepuk-nepuk dada, dengan alis berjungkit bingung.

Hyerim langsung meneguk air mineral yang ia pesan sekon lalu. Ponselnya masih mengaung-ngaungkan nada panggilan masuk. Dilirik oleh Hyerim layar ponselnya. Orang China Gila. Terpampang nama kontak itu dari layar ponsel yang sedang getar-getar di atas meja restoran. Setelah mencuat dengusan, Hyerim menyambar ponsel yang setia berdering.

“Si Brengsek ini dari tadi ke mana, sih? Aku meminta dirinya menjemputku sejak tadi tapi baru ada kabar sekarang,” dumel Hyerim dengan mimik memberengutnya lalu barulah dirinya mengangkat panggilan Luhan.

Ya! Kenapa main pindah tempat segala? Aku harus jalan ke restoran tempatmu sekarang. Lagipula kenapa tidak menunggu di tempat Jisoo saja, sih?” Luhan menyemprot diawal konversasi.

Hyerim memasang tampang datar ogah-ogahan mendengar semprotan Luhan. Tangannya terulur mengambil lagi minumannya tuk diteguk, barulah ia mulai menyahuti Luhan. “Aku lapar dan cepat ke sini,”

Di ujung telepon, Luhan sedang berjalan menanjak di sebuah tanjakan, jaraknya masih jauh dari tempat Hyerim “Tunggu lima belas  menit lagi aku sampai.” lantas sambungan tertutup sebelum Hyerim menyahut lagi.

Dipandangi oleh Sang Gadis ponselnya, lekas dirinya menggeleng sambil berdecak terkhusus untuk Luhan. Saat memasukan kembali ponsel ke saku celana jins, dirinya sempat lupa eksitensi Jisoo dan Yeonseong saat melihat pasangan itu bermanis-manis ria di sebelahnya. Ingin marah tapi enggak punya hak. Ingin pergi tapi Luhan belum datang. Jadi Hyerim hanya kembali memakan nasi gorengnya sambil menghilangkan sesak habis putus karena diselingkuhi pacar yang malahan mersa-mersaan habis di depan matanya.  

║█║♫║█║ ║█║ ║█║ ║█║

Chagiya (sayangku), ini uang untuk bekalmu nanti. Juga alat-alat snorkeling barumu yang aku belikan di sport zone Lotte Mart sudah aku packing di mobil,” vokal super manis Yeonseong merengut fokus Hyerim ke arahnya.

Wanita tua satu itu sedang bergelayut manja di lengan Jisoo. Hyerim mendengus geli melihatnya. Dulu saja, Hyerim tidak pernah bersikap manja begitu pada Jisoo. Sekarang, wanita bangkotan seperti Yeonseong malahan manja-manjaan layaknya ABG labil, pada seorang berondong pula.

Melihat pasangan selingkuh ini terkekeh-kekeh dengan Yeonseong setia bergelayut manja juga Jisoo yang mencubit hidung Yeonseong. Hyerim mendesah keras, bukan karena adegan romantis pecicisan pasangan tak tahu malu itu, melainkan mobil keluaran  range rover yang terparkir manis di belakang Jisoo dan Yeonseong. Well, mobil itulah yang akan menemani Jisoo selama traveling dan snorkeling. Mobil pemberian Eun Yeonseong. Entah sejak kapan, mulut Hyerim sudah menganga lebar sekali.

Setelah mengatupkan mulut, Hyerim menatap Jisoo dan Yeonseong, memicing dan netranya tersita dengan uang seribu won dikukung tangan Jisoo—uang bekalnya dari Yeonseong. “Jadi uang tujuh ratus won itu tak cukup,” ujar Hyerim dengan manik kosong dan kepala mengangguk-angguk.

Lekas Jisoo serta Yeonseong menatapnya, mantannya itu nyengir mendengar ujaran Hyerim. Sehabis itu, manik Hyerim teriring menatap range rover yang sah jadi milik Jisoo sekarang. “Lalu diberikan range rover untuk menemani suka duka traveling juga snorkeling,” kali ini, Yeonseong ikutan nyengir dan Jisoo juga makin menyungging cengirannya. “Lalu alat snorkeling barunya dibeli di sport zone Lotte Mart. Ha-ha, ha-ha.” tawa kaku Hyerim mendominasi akhir ayat katanya.

Ekspresi Kim Hyerim sangat kosong, pandangnya tak menentu. Pikirannya turut buntu. Sesak menghampiri lagi. Walau ingin berpamor ria di hadapan Jisoo, tapi diselingkuhi itu sakit apalagi Hyerim merasa tidak dihargai.

Seketika, Hyerim mendapati Yeonseong sudah berpijak di depannya seraya mengulurkan amplop ke depannya. Hyerim menatap amplop tersebut kosong. “Ini ganti uang sewa kostan Jisoo dan uang biaya Jisoo yang selama ini kau biayai.” Yeonseong berucap dengan mengulum cengiran lebar.

Kekeh  miris Hyerim pecah dengan manik melirik Yeonseong yang terkekeh kaku. Kekehannya finish, Kim Hyerim menyarangkan tatapan tajamnya yang seram, saking seramnya membuat Yeonseong mengidik ngeri. Tangannya terulur guna menyambar kasar amplop tebal uang dari tangan Yeonseong.

“Heh, kau,” sua Hyerim mencengkam. Ludah Yeonseong, pun Jisoo, terdengar rinchi terteguk kekerongkongan.

Ketakutan Yeonseong makin menjadi begitupula Jisoo, saat Hyerim mengulurkan tangan ke arah rambut Yeonseong. Pastinya akan ada adegan jambak-jambakan ala drama dengan jeritan-jeritan memaki heboh.

“Aaaa!” pekik Yeonseong ketika tangan Hyerim menarik rambutnya, wajahnya merintih. Tapi bukannya jambak-jambakan, Hyerim menarik keras sesuatu dari rambut Yeonseong.

Wajah Jisoo membingkai panik lalu mengusap rambut Yeoseong yang sudah bebas dari tangan Hyerim. Sebuah ikat rambut dengan Minnie Mouse terbelah—barang yang sebenarnya Hyerim tarik dari rambut Yeonseong, ditunjukan Hyerim di depan dwimanik pasangan bejat ini. Napas Si Kim ini terpenggal-penggal dengan dada naik turun, turut andil matanya melotot lebar.

Naekkoda! (Ini milikku)” pekik Hyerim persis banteng mengamuk lah parasnya.

Tangannya mencengkram erat ikat rambut tersebut dengan gemetaran. Emosi mencapai ubun-ubunnya kembali.

“Kau…” telunjuk Hyerim terarah ke Yeonseong terang-terangan. Refleks, Yeonseong memeluk Jisoo yang sama-sama bergidik ngeri lantaran aura gelap Hyerim. “… selalu mengambil sesuatu yang menjadi milikku!”

Menggebu, Hyerim mengarahkan tangan lagi pada rambut Yeonseong. “Akhhh! Akhhh!”

Nah, adegan jambak ala drama akhirnya realisasi juga. Kepala Yeonseong tertarik-tarik lantaran dijambak Hyerim, wajahnya merintih. Sementara Jisoo berusaha melepaskan tangan Hyerim dari surai Yeonseong.

Nuna, kumohon lepaskan,” ucap Jisoo namun Hyerim malah makin menarik rambut Yeoseong bak kesetanan. Peduli setan juga dengan orang-orang yang sudah menonton dadakan mereka.

Nuna!” akhirnya Jisoo berteriak. Entah kekuatan berasal  dari mana, dia mendorong Hyerim kuat-kuat sampai mantannya itu tersungkur menyedihkan di atas aspal.

Gaungan suara ‘duk’ karena jatuhnya Hyerim serasa menyedihkan ditelinga Sang Gadis yang menunduk dengan pandangan kabur karena air mata sialan yang minta ditumpahkan. Di masa itu juga, Jisoo menilik khawatir Yeonseong yang sedang merapikan rambutnya.

“Sayang, enggak apa?” khawatir Jisoo memastikan dengan wajah penuh khawatirnya. Kuluman Yeonseong tercipta di bibirnya, lekas wanita ini mengangguk.

Hyerim diam-diam sudah memandang keduanya dengan nanar, kelihatan sangat menyedihkan. Sekarang, Jisoo menatap perut Yeonseong serius sambil mengelusnya. Lekas dahi Hyerim spontan mengerut, kemudian ia paham saat Jisoo berkata.

“Bayinya bagaimana? Tak apa?”

Mulut Hyerim terbuka lebar, dirinya mengeluarkan desahan keras. Oh jadi ini hasil perbuatan Jisoo bersama Yeonseong. Yang Hyerim pergoki hari ini tuh bukan yang pertama? Pasangan enggak tahu malu, memang. Di masa Hyerim kelihatan semenyedihkan ini, Luhan muncul dari ujung jalan dan sedang mengayunkan tungkai ke restoran milik Yeonseong, yang di depannya terjadi insiden Hyerim menjambaki Yeonseong.

Lukis kerut terlihat dikening Luhan yang mendadak memelankan langkah, obsidiannya mencoba mengenali lagi gadis yang jatuh duduk di tanah dan kelihatan sangat kacau. “Itu bukannya Hyerim? Kenapa dia jatuh begitu?” gumam Luhan linglung.

Yakin itu Kim Hyerim, sahabatnya, Luhan setengah berlari mendekati tempat perkara insiden barbar sebelum dia datang. “Hyerim!” panggil Luhan, lekas menyebabkan gadis Kim tersebut menoleh ke arahnya dengan wajah tertutupi helaian rambut layaknya setan.

Luhan sudah ada di dekat Hyerim dan memandangi sahabatnya ini bingung. “Kau kenapa? Ayo berdiri!” Luhan menjulurkan tangannya. Untung juga sih karena helaian rambut kayak setannya, Luhan jadi tak tahu bahwa muka Hyerim sembab habis-habisan.

Tangan Hyerim menyambut uluran Luhan kemudian tangan Si Gadis ditarik Luhan agar berdiri. Barulah saat iseng menoleh ke samping, Luhan menyadari eksitensi Jisoo dan Yeongseong nan sedang terpaku menatapinya.

“Hei! Jisoo!” sapa Luhan sumringah layak biasa. Mata Jisoo mengedip kemudian tersenyum kaku. Luhan melupakan keadaan Hyerim dan mulai menepuk-nepuk bahu kanan Jisoo. “Ya! Ternyata kau ada di sini. Lagi-lagi kau tidak lulus, ckckckck.” decak Luhan dengan gelengan kepalanya.

Sambil menguntas senyum kaku, Jisoo melolongkan kekehan yang sama kaku, “Hehehehe.” begitulah intinya.

Setelah itu, fokus Luhan teralih kepada Yeonseong. Lantas alis Luhan terangkat satu melihat wanita lumayan berumur ini. “Eh? Siapa dia?” gantian Luhan menatap Hyerim dan Jisoo, meminta penjelasan akan sosok Yeonseong.

Pertanyaan santai Luhan seperti menampar Hyerim dan menimbulkan sakit berbilah-bilah. Penjabaran Eun Yeonseong adalah pacar baru dan selingkuhan mantannya adalah satu hal yang bikin Hyerim sakit hati, tentu saja. Makanya wajah Hyerim sudah mengerut kembali, matanya kaca-kaca juga. Jisoo dan Yeonseong terlihat gak niat menjawab utaran Luhan dan hanya tersenyum kaku.

Karena tak ada jawaban ditambah tidak peka akan raut Hyerim, Luhan menatap Yeonseong serta paham duluan dengan mulut membentuk huruf o. “Ohhh, apakah anda bibinya Jisoo?” wajah Hyerim makin mengerut mendengarnya. Luhan pun tak tahu hal itu dan mulai membungkuk sopan.

Annyeong haseyo. Saya Luhan, sahabat baik Kim Hyerim. Kita sudah seperti saudara kok, jangan salah paham hehehehe,” Luhan mengenalkan diri dan menggaruk belakang kepalanya saat terkekeh.

Mulut Yeonseong terbuka seperti hendak berkata, begitu jua Jisoo. Tapinya, lidah keduanya kalah telak dengan Hyerim yang udah lebih dulu berkata. “Dia bukan bibinya Jisoo,” hidung Hyerim sudah merah lagi, matanya makin berkaca-kaca. Bodo amat terlihat menyedihkan.

Luhan menatap sahabatnya ini bingung. Kebingungannya terbelah. Dari ekspresi aneh Hyerim dan fakta wanita yang Luhan yakini berumur kepala tiga ini, bukanlah bibinya Jisoo. “Lalu… siapa ahjuma ini?” bingung Luhan dengan telunjuk menggaruk kepala yang dia miringkan.

Mendadak Hyerim sesegukan menahan tangis. “Di… diaa… diaa, ibu dari bayi…” tutur kata Hyerim yang tak jelas serta tersendat nyatanya sudah dipahami duluan oleh Luhan yang membuka mulut membentuk o kembali dengan anggukannya.

“Bayi? Ohhh, dia ibunya Jisoo?” dasar sok tahu, Luhan sudah beralih kepada Yeonseong lagi dengan senyum lebar, kembali dirinya membungkuk.

Hyerim memejamkan mata frustasi melihat aksinya. Di sisi Jisoo serta Yeonseong, keduanya masih tersenyum kaku. “Annyeong haseyo omoni, maaf harus bertemu begini apalagi Hyerim yang aneh. Mungkin dia sedang masa periodik,” ujar Luhan ditambahi cengiran kelebarannya.

Enggak tahan lagi, Hyerim memejamkan mata erat-erat dan mulai teriak, “Dia bukan ibu Si Brengsek ini!” tersentaklah Luhan yang langsung menoleh ke arahnya sambil menepuk-nepuk dada kaget. Bukan hanya Luhan, Kim Jisoo berserta Eun Yeonseong juga tersentak kaget.

Belum sempat Luhan respon, Hyerim buka kembali matanya yang sekarang meloloskan air mata yang tertahan sejak tadi. Dadanya naik turun, pun mulai juga ia sesegukan. “Dia… diaa… di perutnya… ada bayi… hiks.. ada… hiks, bayiiii,” Hyerim coba menjelaskan meski tersendat, dirinya kembali menutup mata sejenak yang lantas likuid-likuid sialan makin banjir di pipinya.

Luhan menelengkan kepala dengan menggaruk tengkuk, tak paham sama sekali. “Diaaa…” mencoba menclearkan, Hyerim menunjuk Jisoo dengan ujung dagu. Yang ditunjuk langsung menunduk dengan menggaruk tengkuk risih. “… memakai uang dariku untuk makan di restoran ahjuma ini. Lalu, dia sok sibuk belajar padahal… padahal… dia… bertemu… dengannya di… di… restoran… kemudian… kem… mu.. di… an… mereka bertemu di kostan… lalu mereka ke… kamar.. dann…. hiks… hiks… mereka…”

Penjelasan Hyerim super abstrak karena tersendat apalagi sesegukannya ikut-ikutan mendominasi. Maka makin bingung saja Luhan. Dirinya menatap Hyerim jengah sendiri. “Ya! Kim Hyerim, kau ngomong apa, sih?” tapi sahabatnya ini malah menangis terisak dulu.

“Ada bayi,” bibir Hyerim mengatakannya dengan gemetar. Serasa ditampar, Yeonseong dan Jisoo menampilkan cengiran risihnya saat Hyerim melirik mereka.

Kening Luhan dan wajahnya makin mengerut gak paham. “Hah? Bayi? Bayi siapa, sih?” oktaf Luhan naik, frustasi yang pasti.

“Di perut ahjuma ini ada bayi!” oktaf Hyerim lebih naik lagi diikuti telunjuk terarah ke perut Yeonseong. Lantas Luhan meliriknya sekilas dari ekor mata, tapi masih tak paham.

“Kim Hyerim,” panggil Luhan putus asa dengan nada serta wajah memelas.

Hyerim juga ikutan putus asa. Luhan ternyata kelewat tolol atau otaknya sudah dijejali rumput laut. Masa tidak paham dari tadi?

“Kau ngomong apa? Bicara yang jelas!” pinta Luhan sudah kelewat putus asa.

Hyerim mengambil napas dulu, baru dirinya mulai berucap. “Luhan,”

Eoh?” jawab Luhan kurang gairah karena merasa otaknya terkuras tak paham-paham sejak tadi.

Menguatkan mental, Hyerim menunjuk Jisoo dan Yeonseong dengan mata terpejam. “MEREKA BERDUA PUNYA BAYI!” teriak Hyerim super keras.

Wajah Luhan melongo tapi kali ini tololnya sudah hilang, dirinya paham. Kemudian, Luhan membelokan kepala ke arah Jisoo dan Yeonseong dengan wajah super marah dan mata melotot. Jisoo dan Yeonseong menelan ludah gugup saat sesudah teriakan Hyerim, mereka pun balas menatap Luhan gugup juga.

Hyungnim, tunggu dulu,” ujar Jisoo dengan tangan terangkat berusaha mencegah Luhan yang mulai mendekatinya dengan mata melotot dan wajah marah.

“Tuan, tunggu, ini tak seperti…” Yeonseong juga mengangkat tangan mencegah Luhan yang sekarang makin menggas langkah kian dekat ke arahnya dan Jisoo.

Kepalan tangannya sudah tercipta, gigi Luhan ikut juga menggertak. “Ya! Dasar bocah tidak tahu malu!” seru Luhan. Sekon berikut menarik kerah baju Jisoo yang berusaha menghindar darinya, lantas memberikan pukulan di pipi pria Kim itu.

Yeonseong menjerit panik tatkala Jisoo tersungkur ke tanah. Ayolah, Luhan ini guru taekwondo. Pukulan ringan pun, Jisoo sudah tumbang. Amarah menyelimuti Yeonseong melihat pacarnya terduduk di atas aspal, meringis sambil mengusap pipi. Dia pun menatap Luhan menggebu, kemudian menarik kerah belakang Luhan.

Ya! Berani-beraninya kau memukul Jisoo-ku, hah?!” hardik Yeonseong. Tangannya menyarangkan pukulan keras-keras di belakang kepala Luhan yang merintih kesakitan dengan wajah serupa.

“Aduh, aduh,” rintihan Luhan sukses membuat Hyerim memfinishkan tangisannya dan terpaku pada sahabatnya yang diserang.

Sama-sama enggak terima, Hyerim menarik rambut Yeonseong sampai kepalanya ikut-ikutan tertarik sekaligus mendongak. “Berani-beraninya juga kau memukul Luhan-ku! Apa hakmu, hah?!” semprot Hyerim dengan mata melotot.

Aktifitas memukul Yeonseong jadi terhenti, digantikan dengan aktifitas melolongkan rintihan dengan wajah kesakitan. “Akhhh, akhh. Jisoo, tolong.”

Mendengar rintihan Yeoseong diliang dengarnya, Jisoo segera bangkit tetapi niat untuk memisahkan Hyerim dari kekasihnya itu tak bisa terlaksana. Luhan buru-buru menghalangi dengan tangan bekacak, pun wajahnya layaknya pereman dengan dagu terangkat.

“Mau apa kau hah? Menyakiti Hyerim lagi? Apa hakmu bocah?”

Jisoo perlahan mundur takut-takut. Kembalilah kerahnya ditarik Luhan. Di sisi Hyerim, dirinya juga makin menjambak Yeonseong. Duh sekali, keadaan makin kacau. Rasa malu mereka kayaknya sudah sirna gak tau ke mana karena orang-orang sudah ramai melihati bahkan ada yang memfoto hingga memvideokan insiden ini sambil cekikikan, bukannya melerai.

║█║♫║█║ ║█║ ║█║ ║█║

Sehabis adegan barbar, jambak-tonjok-bonyok barusan. Sekarang, Jisoo dengan wajah babak belur habis, duduk di sebelah kursi kemudi mobil range rovernya. Sedang Yeonseong duduk di balik kursi kemudi. Gara-gara kunang-kunang hinggap di mata Jisoo hingga membuatnya tak bisa melihat jelas, Jisoo memilih tak menyetir. Pukulan yang ditorehkan Luhan padanya sungguh fantastic.

“Aku tidak tahu bahwa dia punya oppa,” Yeonseong buka suara dengan menoreh lirikan dari ujung manik pada Jisoo.

Tahu yang dimaksud itu Hyerim, mantannya. Jisoo pun menggaruk kepala dengan wajah tertekuknya. “Dia bukan oppanya. Dia emm namjachingu, ah bukan, bukan,” geleng-geleng Jisoo karena pengejaannya salah, lantas menyambung lagi, “Namsaramchingu. Sudah berteman selama tujuh belas tahun. Rumah mereka pun depan-depanan.”

Tak tahanlah dengusannya tuk tercuat, Yeonseong turut jua memasang tampang masam. “Huh, dasar wanita picik. Untuk apa aku tadi memberikannya uang kalau begitu,” kemudian Yeonseong seakan ingat sesuatu. “Ngomong-ngomong, Jisoo-ya. Tas yang Hyerim pakai hari ini darimu? Tadi dia melihati tas itu miris sekali sehabis menyerangmu, soalnya.”

Yeonseong berikan lirikan penasarannya. Sebagai sesama perempuan, dia peka sekali akan tatapan Hyerim pada tas yang dipakainya meyerang Jisoo. Nampak Jisoo bergumam dengan anggukan.

“Tapi bukannya kau lebih suka diberi, ya? Walau KW, ‘kan lumayan juga. Aku saja tidak pernah diberikan hadiah tapi lebih sering memberikanmu hadiah,” tawa Jisoo mengudara, mendengar kata-kata Yeonseong dengan bibir mengerucut.

Jisoo menyarangkan cubitan di pipi Yeonseong dengan kekehan. “Eiyy, aku membelinya dari uang Hyunsik yang kupinjam. Lalu setelah itu aku meminta uang jajan terus pada Hyerim nuna. Tahu tidak uang itu kugunakan apa? Kugunakan untuk melunasi hutangku pada Hyunsik untuk membelikan Hyerim tas. Ya jadi tas itu sebenarnya, Hyerim sendiri yang beli tanpa ia sadar.” bahu Jisoo terangkat dengan wajah cueknya.

Yeonseong meliriknya menggoda dengan mata menyipit, “Eiy, eiy, ckckck. Kau tetap pelit dan matre, aku menyukainya.” kemudian pasangan itu larut dalam kekehan.

 

Berpindah haluan ke Luhan dan Hyerim. Setelah adegan barbar yang membuat Luhan melayangkan tonjokan membabi buta dan menguras tenaga Hyerim buat menjambak surai orang. Sekarang, mereka sedang berjalan dalam hening tanpa saling lirik, melewati sebuah jembatan.

‘Bruk!’

Tahu-tahu, isi tas Hyerim dimuntahkan dari tas. Sebab tasnya malahan jebol sekarang—setelah talinya putus karena dia tarik. Sial sekali ya, sudah talinya putus untuk memukuli mantan pacar brengseknya. Tasnya malahan jebol dengan bawaan yang berat-berat. Terus, tas ini pemberian mantannya lagi. Maka dari itu, Hyerim menghela napas dan berjongkok memunguti barangnya. Luhan yang sedari barusan berjalan bersamanya, sudah menghentikan langkah dan menatapi sahabatnya itu sembari geleng-geleng juga berdecak.

Akhirnya, Luhan bergabung tuk membantu Hyerim membereskan buku cetak tebal bahan pengajarannya. “Buang saja tas itu. Lagipula itu pemberian Si Bocah Brengsek itu,” ditengah aktifitas memunguti buku Hyerim, Luhan berucap dengan sekilas menatap Si Gadis.

Buku Hyerim sudah beres dibereskan. Dirinya menyambar buku yang Luhan bantu ambili, lekas ia pun berdiri. Pandang, pun kepalanya menerawang ke bawah lalu membuang napas dengan tampang tak bergairah.

“Aku menyukai tas ini,”

Sialan pokoknya karena Hyerim merasa air mata menunggu ditumpahkan lagi sekarang, hidungnya juga mendadak mampet. Dada Hyerim dikurubungi rasa sesak dengan naik turun, kepalan tangan sudah tercipta otomatis.

“Aku selalu…” ahhh keparat, suara Hyerim serak. Luhan hanya menatap profil sampingnya dalam geming. “… merasa hatiku sakit. Memikirkan Ji—maksudku Si Bocah Sialan itu, menabung serta mengumpulkan uang untuk membelikanku hadiah meski bukan barang original juga. Tapi dirinya punya niatan membelikanku hadiah di hari ulang tahunku. Aku senang, sekali malah,” mulailah Hyerim sesegukan tapi dirinya mengadahkan kepala supaya cairan bening tersebut tertahan tak meluncur, dan berhasil.

Dengan kepala mengadah menerawang ke langit. “Maka dari itu, meski kesusahan mengurusnya bahkan lelah. Aku tetap mempertahankannya. Karena dia bahkan mau berkorban membuang rasa pelitnya untuk membelikanku tas. Tapi kenapa dirinya malah…” gigi Hyerim menggertak dengan kepalan kuat-kuat ditangan yang sudah bergetar hebat. Digigit juga bibir bawahnya. Intinya ia menahan tangis. Intinya dirinya tak boleh menangis.

Setelah menatapi Hyerim dalam dari tadi, Luhan membuang napas kemudian mendorong kepala belakang Hyerim sampai terdorong ke depan. Desisan kesal Hyerim tercuat sambil mengelus kepala bagian belakangnya dengan menatap Luhan sebal.

Ya!” adalah kata yang sebenarnya semprotan dari Luhan, lelaki satu ini memangku tangan di pinggang sambil menatap Hyerim melotot. “Kau menangis hanya karena bocah tak tahu malu itu?! Ya! Kim Hyerim, Luhan-mu ini sungguh tak suka melihatmu mengeluarkan satu tetes air mata untuk bajingan sarap seperti Kim Jisoo.”  

Mendengar utaran Luhan, Hyerim menelengkan kepala dengan cengkeng mata menyipit serta kerut dalam dikening, mencoba menelaah satu bait kata yang Luhan utarakan—yang membuatnya merengutkan ekspresi begini.

“Luhan-mu?” beo Hyerim, mengulang ucapan Luhan. Dirinya menatap Luhan tak percaya. “Memangnya kau barang, ya? Luhan-mu?” ucap Hyerim setengah mendengus dengan buang muka ke samping sejenak, lalu menatap Luhan tak habis pikir. “Luhan-mu? Berarti maksudnya kau ini, Luhan-ku? Cih!”

Wajah jijik Hyerim terpampang, membuat Luhan kelabakan. Padahal ya, Hyerim duluan yang mengucap begitu, bukan? Maka dari itu, Luhan kembali percaya diri mengingatnya serta mengangkat dagu.

“Benar, memangnya aku barang,” sambar Luhan sinis. “Kau yang bilang begini ke Si Jalang Tua tadi, ‘Berani-beraninya juga kau memukul Luhan-ku’,” Luhan mempratikan Hyerim dengan suara ala bancinya dengan kepala bergerak-gerak dan bibir mencibir-cibir.

Sekarang, gantian Hyerim yang kelabakan gara-gara keingat ucapannya. Sialan, pipinya kenapa jadi panas segala sih? Hyerim jadi menurunkan pandang dari Luhan, percaya dirinya hilang.

“A…—ku, ah sudah. Intinya, aku mengatakan itu karena…” gugup Hyerim dengan memalingkan muka. Sementara Luhan menghunus dengan tatapan tajam. “… ya kau harus tahu, aku suka mengklaim barang bahkan binatang yang aku punya itu milikku!” kembali Hyerim menatap Luhan yang sekarang melongo.

Luhan mengeluarkan decihan dengan buang muka sebentar ke sampingnya. “Jadi, aku ini hanya berupa barang dan binatang?” mata membalalak Luhan lebar sekali dan dengan entengnya Hyerim mengangguk.

Ekspresi Luhan sudah mengerut merah padam, kesal. Ingin sekali menyemprot Hyerim habis-habisan tapi fokus matanya tersita pada mata Hyerim yang memerah. Seketika Luhan tercenggung. Dirinya jadi berpikir serta sadar, Kim Hyerim tengah terluka sehabis putus. Air matanya pasti ingin keluar sekarang, bila ditahan-tahan, rasanya pasti jadi lebih sakit.

“Hei,” suara Luhan melunak, membuat Hyerim menatap dengan alis berjungkit padanya.  

Luhan pun menggeret diri ke samping Hyerim. “Menangislah,”

Alis Hyerim makin terangkat bingung dengan menatap profil samping Luhan yang memilih tak memandangnya detik ini. Pria ini tahu bahwa Hyerim tak suka menangis terang-terangan depan orang lain bila tidak mendesak.

“Aku tahu kau ingin menangis. Walau aku tak suka kau menangis karena Si Brengsek itu, tapi—”

Imbauan Luhan terputus karena sebuah pelukan yang didapatnya dari arah samping. Hyerim, sudah pasti cewek satu itu yang memeluknya dengan tubuh gemetar dan likuid bening mulai nampak jua turun ke pipinya. Pelukan Hyerim menghantarkan sensasi aneh. Aliran listrik seakan menggelitik Luhan, membuatnya jadi terpaku sekarang bahkan matanya tak bisa mengerjap rasanya.

“Kau akan memelukku saat menangis, bukan?” mata Luhan baru mampu mengerjap akhirnya, ia melirik Hyerim dari ujung mata. “Dulu aku selalu memelukmu bila kau menangis karena aku. Tidak selalu, sih. Tapi pernah. Aku menangis sekarang karena disuruh olehmu, aku… tidak menangis karena bocah itu sekarang,” ucap Hyerim sambil menahan isakannya. Air matanya terus turun dan dirinya memejamkan netra.

Masih agak terpaku, Luhan memutar tubuh dan memandang Hyerim sebentar. Setelahnya memeluk Sang Gadis—masih pula dengan kaku lantaran jantungnya malahan berguncang-guncang, dan memberikan tepukan tulus pada punggung Hyerim yang mulai terisak-isak.

“Ya, aku akan memelukmu sekarang. Menangislah sesuka hati,”

Sial, sial, sial. Umpatan dari hati Luhan keluar juga karena Hyerim makin memeluknya erat. Sialannya karena jantungnya makin berdebar tak karuan.

“Sekarang berhentilah menangis. Air matamu sayang bila dikeluarkan sebanyak ini hanya karena menangis sehabis putus diselingkuhi,”

Setelah gulir waktu sekitar tujuh menitan, Luhan berkata begitu dan seakan robot, Hyerim nurut dengan menghentikan tangis dan mulai melepas pelukannya. Si Gadis menunduk dengan mengusap kasar air matanya. Wajahnya sembab, jadi ia tak mau mengangkatnya. Luhan sendiri menangkap wajah Hyerim yang sembab meski menunduk, ia pun berdecak pelan dengan gelengan yang sama pelannya.

“Ckckck, wajahmu jelek sekali,” komentar Luhan lalu mengulurkan lengan menepuk-nepuk puncuk kepala Hyerim. “Aku tahu dirimu belum merasa baikan apalagi tangisanmu aku paksa untuk berhenti. Tapi sungguh aku tak suka melihatmu lama-lama menangis karena Kim Jisoo. Jadi sekarang kau ingin apa agar suasana hatimu baikan?” tanya Luhan dengan kepala agak miring menatap Hyerim lembut.

Kepala Hyerim terangkat cepat dengan mata melebar antusias. Lengkung kurva Hyerim terlukis spontan, “Emm, apapun ya…” matanya berputar dengan otak berpikir. Kepala Luhan turut mengangguk mengiyakan gumaman Hyerim.

Keputusan sudah Hyerim dapatkan. Setidaknya Luhan yakin karena gadis satu ini sudah mengangkat wajah dengan binar lebih antusias dari sebelumnya. Kurva bibirnya makin melebar.

“Soju jullae? (Kau mau soju?)” tawar—atau secara tak langsung permintaan Hyerim dengan cengiran menghiasi.

║█║♫║█║ ║█║ ║█║ ║█║

“Ahh,” desah nikmat Hyerim dengan mata terpejam diiringi gelas soju yang ditaruh agak dibanting olehnya.

Tatapan tak percaya Luhan melekat pada Hyerim dengan tangan terpangku depan dada. Sungguh dirinya salut pada perempuan satu ini. Lihat saja ya, Luhan baru menghabiskan tiga gelas. Tapi Kim Hyerim sudah menghabiskan tujuh gelas.

Tatkala Hyerim menuangkan kembali soju ke gelas minum kecilnya dengan rambut acak-acakan dengan tampang yang tak kalah kacau. Secepat kilat Luhan menyambar gelas soju kedelapan Hyerim saat Si Gadis baru ingin meminumnya, lantas Luhan langsung meneguk soju yang ia rebut dari Hyerim.

Hyerim sudah menatapnya tak suka, “Ya! Itu minumanku!” seru Si Gadis Kim seraya mengerutkan bibir.

Luhan meletakan gelas soju ke meja dengan aksi serta tampang santai, merasa tak berdosa sama sekali. “Kalau kau mabuk saat pulang. Luhan-mu ini akan kesusahan menuntunmu pulang,” ucap Si Pemuda seraya menuang soju ke gelasnya dan mulai meminumnya.

Di depan Luhan, Hyerim tak tahan untuk tidak mendengus dengan wajah tak percayanya. “Ck, sindrom single menyedihkanmu sudah parah. Luhan-mu, Luhan-mu. Senang sekali aku memanggilmu seperti itu. Makanya cari pasangan sana!” kata Hyerim, intonasinya agak tinggi dengan tak habis pikir, maniknya juga sama-sama gak habis pikir.

Diusia dua puluh tujuh, Luhan belum juga dapat pasangan? Hell-o, Hyerim saja sudah punya mantan dua biji—termasuk Si Jisoo sialan. Luhan? Dekat-dekat dengan perempuan saja dirinya tanya-tanya dulu dengan Hyerim. Bila kata Hyerim, jangan dekati gadis yang ditanya, Luhan pasti akan nurut.

Mendadak Luhan salah tingkah. “Hei, aku single juga karena dirimu!” mencoba Luhan membela diri sendiri. Hyerim makin memandangnya tak habis pikir dengan dengusan keras. “Setiap aku bertanya. Apa aku dekati dan balas menyukai gadis yang suka serta mendekatiku. Pasti kau menjawab jangan karena aku harus mengencani gadis yang lebih cantik dulu darimu,” tutur Luhan akan pembelaannya. Tubuhnya menyamping dengan ujung siku tangan kanan bertumpu pada ujung meja, tatapan pemuda ini terbuang ke sampingnya.

Mendengarnya, Hyerim yang balik salah tingkah namun langsung menutupi dengan melipat tangan di dada juga merespon, “Lalu kenapa menurut padaku?”

Kembali lagi Luhan salah tingkah. Refleks dirinya menggaruk kepala dengan wajah memerahnya. Aneh, tapi dirinya memang tak bisa memilah perempuan. Hatinya selalu berkata harus izin dulu pada Hyerim. Tubuh Luhan berbelok jadi tak menyamping lagi dan menghadap Hyerim. Dirinya menggaruk lehernya resah.

“Heh, kau juga tahu bukan, kenapa aku begini?” ujar Luhan setelah mengumpulkan keberanian lagi dengan menatap tajam Hyerim dengan manik setengah menyipit.

Alis Si Dara di hadapannya, terangkat satu lantaran tak paham. “Memangnya kenapa?” kelit Hyerim.

“Karena aku tak ingin kau ribut dengan gadis yang ingin aku ajak berkencan!” ucap Luhan setengah memekik dengan tampang tajam. Mata Hyerim terbelalak dengan wajah kaku, ia ingat sesuatu.

“Aku masih ingat saat kita SMA,” ketika otak Hyerim sedang jalan-jalan ke masa lalu untuk mengingat satu ingatan, Luhan bervokal lagi membuat fokus Hyerim tertuju lagi padanya. “Aku mengajak anak kelas sebelah bernama Seohyun untuk kencan. Eh kalian malah ribut dan berkelahi. Aku ingat sekali wajahmu biru-biru karena dipukuli. Kemudian karena Seohyun memukulimu dan kau mengatakan bahwa dia gadis centil. Makanya aku tak jadi berkencan dengannya.” nostalgia Luhan.

Hyerim mengulas senyum kaku. Dia ingat sekali hari itu. Hari untuk pertama kalinya Luhan menembak satu cewek. Sialannya cewek itu primadona kelas sebelah dengan segala sikap centil yang tak Hyerim suka. Menghilangkan rasa canggung karena membuka kenangan, Kim Hyerim menuang soju dan meminumnya lagi cepat-cepat.

“Y…—a, kau memang harus berkencan bersama perempuan dengan izinku. Seleramu aneh, gadis ganas dan centil seperti Seohyun malah disukai.” ialah kata-kata Hyerim sehabis meneguk soju dengan pandang melayang ke arah bawah.

Entah mengapa, Luhan malah mengulum senyum senang mendengarnya. Kemudian, sisa malam itu dihabiskan dengan minum soju dan memakan ayam goreng di kedai yang mereka singgahi ini.

║█║♫║█║ —  Friendzone : When The Love Blossom  ║█║ ║█║

EPILOG

“Luhannie! Fighting! Saraghamnida! Wooo!” sorakan girang untuk memberikan semangat pada tim sepak bola Yeonsu, terdengar dari bibir Seo Joohyun atau Seohyun. Sorakan itu terkhsususkan untuk Sang Kapten klub, Luhan.

Di atas rumput palsu—di mana mereka memang bermain di ruangan indoor berbentuk lapangan futsal, dengan lihainya Luhan mengocek bola. Layaknya cheetah di atas rumput, dia mengiring bola kemudian mengambil ancang-ancang menendangnya ke gawang. Dan—

GOALLLLLL!” teriakan dari para pendukung SMA Yeonsu. Bahkan ada yang sampai refleks berdiri dari duduknya serta bersorak-sorak gembira.

Sang Pencetak yang tak lain Luhan, sudah berlari mengitari lapangan dengan tangan terentangkan. Yang beruntung, para penonton di paling depan bisa bertos ria dengan lelaki umur delapan belas tahun itu.

“Akhh! Akhhhh!” di tempatnya, Seohyun bersorak-sorak dengan tubuh berdiri-duduk-berdiri-duduk kayak cacing kepanasan. Heboh melihat Sang Pujaan yang sedang berlari-lari dengan kucuran keringat yang tambah membuat Luhan terkesan seksi.

Di ujung lain, Kim Hyerim yang duduk bersama Oh Sun Ee—sobatnya, melirik jengah tingkah kampungan Seohyun. Matanya tajam dengan raut tak suka.

“Si Seohyun itu kenapa, sih?” desis Hyerim geram.

Desisannya membuat Sun Ee menoleh padanya dengan wajah mengerut tanya kemudian melirik Seohyun yang sudah heboh lagi melihat Luhan mengocek bola di lapangan.

“Ohh, Seo Joohyun dari kelas 12-3?” ujar Sun Ee sambil menatap Seohyun. Hyerim juga ikut menatap Si Gadis Seo masih dengan geram. “Kudengar dia suka Luhan.”

Rahang Hyerim berasa ingin jatuh dari penempatan. Lalu dirinya menatap Sun Ee dan Seohyun bergantian dengan mata melebar.

“Si Luhan, anak China gila itu?” tunjuk Hyerim pada lapangan yang masih ramai dengan pertandingan sambil menatap Sun Ee tak percaya. Anggukan Sun Ee membuat Hyerim tambah membuka mulutnya.

Sehabisnya, Hyerim menaruh perhatian pada Seohyun. Cewek Seo satu itu bertingkah berlebihan. Dari bertepuk tangan kekerasan, memekik nyaring, duduk-berdiri sambil melambai saat Luhan tak sengaja lewat di bagian tempat duduknya. Persis supporter alay, Hyerim tak suka dengannya, tangan Hyerim juga sudah terlipat depan dada. Klimaks pertandingan datang. Dimenit terakhir, kembalilah Luhan mengocek bola dan—

Nyaris semua mata penonton membelalak, mulut terbuka dengan jantung berdentum. “GOALLL!

Serasa deja vu, Bung. Luhan kembali mencetak goal. Skors yang diperoleh 4-2. SMA Yeonsung meraih kemenangan berkat Luhan. Lelaki itu sudah menebar cengiran bodoh sambil lari-lari ke sisi lapangan dan menyambut tosan perempuan-perempuan yang duduk di jajaran paling depan, yang menyambutnya heboh.

Hyerim lihat pemandangan itu. Secara refleks, tampangnya terlukis tak percaya dengan dengusan, setia pula tangan terpangku di dada.

“Ck, apa-apaan Si Orang Gila itu, tebar pesona sekali.” gerutu Hyerim tak habis pikir.

Tiba-tiba saja, Luhan berhenti berlari dan berdiri di depan salah satu jejeran bangku penonton. Seohyun sudah heboh sebab Luhan berdiri di jejeran bangku dirinya—yang omong-omong, jejeran bangku Hyerim juga.

“Kim Hyerim,” tahu-tahu, Luhan memekik dengan senyuman lebarnya saat menemukan Hyerim. Keadaan jadi hening dengan menatap gantian Luhan dan Hyerim yang melongo.

“AKHHHH!” teriakan para gadis pecah kesetanan.

Gimana enggak? Luhan sedang membuka baju bolanya dan menyisakan tubuh toples banjir keringatnya. Jangan lupakan juga, enam tingkatan kotak-kotak yang terpahat sempurna di badannya.

Ya!” kembali Luhan memanggil, merengut fokus Hyerim kepadanya dengan wajah jijik.

Sebentar, Luhan memutar-mutarkan baju bolanya di udara kemudian melemparnya ke arah Hyerim. Spontan lah Hyerim menangkap lemparan Luhan, dirinya menatap Luhan dengan mata membelalak tak paham.

“Itu kuberikan untukmu. Kemenangan ini untukmu! Jadi cucilah bajuku!” pekik Luhan menyebabkan Hyerim membuka mulut dengan tampang tak percaya.

Seisi ruangan futsal indoor itu bersorak, pun ada pula yang tertawa. Sedang Hyerim sendiri, hanya meremas baju Luhan yang ada di kukung tangannya dengan wajah geram. “Dasar bajingan gila.” umpat Hyerim teruntuk Luhan disertai gigi menggertak.

“Seo Joohyun,” kali ini Luhan menoleh dan memanggil gadis yang berbeda.

Seluruh fokus berpusat pada Luhan dan Seohyun, keadaan tak seheboh sebelumnya. Di tempatnya, Seohyun saja sudah bergerak-gerak heboh. Dengan kuluman senyum lebar, Luhan bersua.

Dateu haja! (Ayo berkencan)” intonasi cowok satu ini yakin sekali.

Bisa ditebak, ‘kan bahwa keadaan sekarang lebih heboh. Ada yang bersorak, bersiul menggoda, teriak-teriak seperti kesurupan. Dengan mulut terbuka dan wajah tak percaya, Seohyun mengangguk-angguk beberapa kali.

Joah! (Ayo)” pekik Seohyun kelewat semangat.

Mendengarnya, Luhan makin melebarkan senyum dan mulai berjalan menuju ruang ganti. Di sisi Seohyun, Sang Gadis tengah dikurumi teman-temannya dengan ucapan selamat. “Selamat, Seohyun-ah. Akhirnya, Luhan menembakmu!” pekik satu klon Seohyun.

Seohyun mengembangkan senyum dengan wajah angkuh, “Tentu saja. Aku ini primadona. Siapa yang tidak bisa menolak pesonaku, sih?” ujarnya menyombongkan diri, kemudian Seohyun menyibak-nyibakan rambutnya dengan gaya kecentilan.

Sejak barusan, Hyerim sudah memperhatikan Si Seo satu itu. Dirinya geram bukan main, Luhan menembak perempuan yang sudah lama tidak dia suka—well, alasannya absurd sih, Hyerim sudah lama tahu bahwa Seohyun naksir dengan Luhan atau lebih tepatnya sering melihat cewek satu itu cari perhatian ke Luhan, makanya dirinya tak suka dengan gadis itu.

Setelah menghentak kaki kasar dan meremas baju Luhan yang tadi dilemparkan pemuda tersebut, Hyerim mulai beranjak dari tempatnya dan kebetulan melewati tempat duduk Seohyun yang berposisi di bawah tempatnya duduk. Sekilas, Hyerim menatap gadis itu yang masih beraksi super centil menjijikan. Kemudian, dengan sengaja, Hyerim memutar tubuh dan menabrak belakang kepala Seohyun keras, membuat kepala gadis itu jadi sedikit terdorong.

“Aduh!” keceriaan diwajah Seohyun langsung terganti jadi mimik kesakitan dan kerefleksan memegang belakang kepalanya. Saat menoleh, Hyerim tengah menatapnya dengan wajah tanpa dosa.

Sowreehhh (sorry),” ucap Hyerim dengan aksen berlebihan ala Cheon Songyi di drama My Love From the Star.

Namun Seohyun menatapnya dengan napas menderu serta netra tajam. Hyerim menghela napas jengah dan memasang wajah memberengut. “Sorryrago (kubilang maaf),” kata Hyerim dengan intonasi naik satu oktaf.

Lalu, Si Kim satu ini memutar tubuh untuk menggeret langkah. Eh nyatanya pergi hanya anggan semata saat Seohyun tahu-tahu udah berdiri dan menjambak Hyerim dari belakang.

Ya! Ige mwoya!? (Hei!  Apa-apaan ini?!)” seru Hyerim lalu membalik badan.

Tak terima dijambak oleh Seohyun yang meremehkannya dari senyum dan wajah yang terlihat. Hyerim menggigit tangan Seohyun hingga gadis marga Seo itu memekik. Finalnya, adegan perkelahian jambak-tampar-pukul ala cewek drama pun terjadi. Orang-orang malah asyik menonton. Hanya beberapa saja yang melerai dua gadis itu. Luhan yang sudah mengganti baju juga, melerai dua gadis itu dengan memegangi Hyerim serta berusaha menarik gadis itu.

“Hei, Kim Hyerim!” pekik Luhan frustasi.

Untungnya kali ini ia berhasil menarik Hyerim dari Seohyun. Sementara Seohyun ditahan juga oleh beberapa sohibnya. Keduanya sudah berantakan, rambut acak-acakan dan muka kacau. Kemudian, Luhan menilik wajah Hyerim lantas melebarkan mata.

Telunjuk tangan kanan Luhan terarah ke muka Hyerim dengan wajah khawatir campur cengo, “Eiyyy, mukamu biru-biru. Ckckck, kalau sudah tahu akan babak belur begini karena dipukuli. Tak usah mengajak berkelahi. Ayo ke dokter sekarang!” ucap Luhan yang lekas menarik tangan Hyerim dan membawanya pergi.

Pemandangan tersebut membuat Seohyun melongo tak kepalang. “Luhan-ah! Aku juga terluka, lebih malah!” ucap Seohyun setengah teriak sebab Luhan yang mulai berjalan menjauhinya dengan megandeng Hyerim.

O, tentu Seohyun lebih parah. Tamparan Hyerim saja membuat darah nampak di ujung bibirnya. Tapi jawaban Luhan tanpa membalik badan menatapnya malahan, “Obati sendiri. Aku harus membawa Hyerim ke dokter, dia terluka.”

Mulut Seohyun bahkan orang-orang terbuka lebar sekali. Rasanya tubuh Seohyun lemas mendengar penolakan Luhan, dengan mata melebar. Ayolah, di sinikan yang pacarnya Luhan itu Seohyun, bukannya Hyerim. Sementara Hyerim, dia menatap ke belakang—tepat pada Seohyun. Kim Hyerim menyunggingkan senyum kemenangan lalu menyibak rambutnya dengan gaya kecentilan—meniru gaya Seohyun barusan dan langsung mendapatkan tatapan tajam dari dara Seo itu.

—To Be Continued—

blog-divider-wreath-elements-06-2013-smaller

Hari ini aku galau gaes :’) gamon sama TLOTBS karena aku nyisipin ostnya jadi backsound chapter ini. Galau juga, besok udah gak ada Fight For My Way dengan penghuni ajaib Villa Nam Il—fantastic four yang suka nyelinep lewat lemari buat ke rooftop. Lalu entah kenapa aku gemes banget sama Luhan-Hyerim di sini :””))))))))))) kok Luhan di sini sendereble banget ya, siap tubuh raganya buat Hyerim ketika Hyerim keray, ya ampooonnn Hyer. Kamu sama Luhan udah cucok loh, sama-sama pea, sama-sama gak peka sama rasa sendiri :””)))) Ada gak sih yang gemes sama mereka? Ada gak? Ada gak? WKWKWKWK. Btw yang suka nonton drama, kalian lagi nonton drama apa? Kulagi kentjan sama Duel tapi mau liat Dewa Air Joohyuk dan maratonan The Best Hit HUAHAHAHA. AYO REKOMEN DAKU DRAMA ASAL JANGAN DRAMANYA LUHAN YA, NOT MY STYLE SOALNYA DAN AKU JARANG SUKA DRAMA MANDARIN, DRAMA JEPANG AJA YANG KUSUKA CUMAN ATU BIJI.  Oh ya, buat FF ini aku cuman suka 1 kali/2 kali buat basmi typo, dan aku usahain 1 minggu/2 minggu sekali update.

Btw, aku baru ngerefresh page Lu Han & Kim Hyerim, yuk yang sempet mampir dan berikan opini kalian tentang kapel absurd ini, sekalian mengenal mereka lebih lanjut /terjun payung/

Comment kalian selalu kutunggu yaa ❤

XOXO,

HYEKIM ❤

 

Advertisements

Author:

A tinkerbell who dream to be Luhan's future wendy — Also an amature author, k-drama trash, k-running man freak, eternal ELF, ahjussi and korean actor addict in the same time — Adorable since 2001

11 thoughts on “FF — Friendzone : When The Love Blossom [Keping 2 : After Broke Up]

  1. Huaaaa tambah sweet (y) gw jadi kesemsem sendiri nih 😀 jisoo ama ahjuma tuh kok rada gesrej yah? Udah ketahuan selingkuh eh malah beradegan romantis di mukanya Hyerim -_- jadinya gw bingung, mau marah apa ngakak sama mereka berdua. Ihiy keknya ada yg mulai fallin in Love nih *colek Luhat. Lanjut author-nim, jangan lama” yaa apdetnya, hwaiting!

    Liked by 1 person

  2. Hi Elsaaa….

    i like it, veryyyyy much.
    tapi si ahjumma itu kok gak ada malunya yah? bikin gedek sendiri.

    Dan plis, Luhan, Hyerim… tidak bisakah dirimu paham? masih blum nyadar juga deh.., gemes sendiri.. >.<

    Thank you apdetannya yah els. di tunggu keping 3nya.

    himneyo~
    *bow

    Liked by 1 person

  3. Ma’af kalo koment disini gak koment di exoffi dan langsung koment part 2 soalnya udah baca part 1 nya tapi di blog lain.
    And then,itu tahu lagi sedih2an amarah2an sakit2an tapi kenapa masih ada komedi nyempil…???
    Tapi jujur itu seru banget.
    Terus luhyer nya bener2 super gak peka bukan gak peka lagi,adeuh greget gua,,,,
    Lanjut ya thor…

    Liked by 1 person

  4. Hai hai …
    Ini lucu banget deh, aku sampe gak berenti ketawa pas adegan perut hyerim bunyi. Ku kira dia bakalan jaim eh palah nongkrong jg tempa bibi eun. Aduh aku jg gemes sm tingkahnya hyerim sm luhan. Jd maki penasaran sm lanjutannya. Sampe ktmu di episod 3nya yuuaaa…

    Liked by 1 person

  5. greget banget sama Jisoo beserta si tante😂 udah ketahuan selingkuh eh malah tetep mesra2an😂 mesra2annya didepan Hyerim pula, gk kebayang nyeseknya kyak gimana itu😂

    btw LuHan deg2an dipeluk Hyerim ciee :’v sepertinya udah mulai ada rasa nih :’v Hyerim juga kayaknya suka sama LuHan dah..soalnya kan dia gk suka liat LuHan jadian sama Seohyun *soktau :’v

    ditunggu keping 3nya^^

    Liked by 1 person

Write ur Love Letter . . . <3

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s