Posted in AU, Chapter, Comedy, FF : This Love, PG-15, Romance, Sad

FF : This Love – Chapter 8

ir-req-this-love-21

This Love Chapter 8

©2017 HyeKim’s Fanfiction Story

Starring With : Luhan as Luhan || Hyerim (OC) as Kim Hyerim

Genre : AU, Romance, slight!Sad, a bit Comedy || Lenght : Chapter || Rating : PG-15

Poster By : IRISH @ Poster Channel

Previous in This Love (Prolog — Chapter 7) :

⇒ Click This ⇐

Summary :

Ketika 2 pasukan tentara dari negara berbeda disatukan dalam lika-liku hubungan cinta. Keduanya dipertemukan namun jarak yang memisahkan serta restu dari orang tua pun menjadi penghalang. Hanya sepenggal kisah antara Luhan, salah satu pasukan khusus dari China dan Hyerim, seorang dokter tentara dari Korea Selatan. Bagaimana kelanjutan kisah keduanya?

Note :

FF ini terinspirasi dari kisah cinta Yoon Myeong Ju dan Seo Dae Young dari drama korea populer descendant of the sun serta lirik dari soundtrack drama tersebut. Namun dari segi cerita yang ada sudah diubah oleh saya sendiri. Bila ada adegan yang dicetak miring/italic itu menandakan sebuah kilas balik/flashback.

Disclaimer :

This is just work of fiction, the cast(s) are belong to their parents, agency, and God. The same of plot, character, location are just accidentally. This is not meaning for aggravate one of character. I just owner of the plot. If you don’t like it, don’t read/bash. Read this fiction, leave your comment/like. Don’t be plagiat and copy-paste without permission.

HAPPY READING


Don’t make me look somewhere else like a fool

I wanna tell you

You’re the one in my heart, you are my only one

Even if I’m so clumsy, I wanna stay by your side

Is it love? It has to be love

I wanna be your man

[K.Will Talk Love (ost. Descendants of The Sun)]


“Aduh, awas, minggir! Aku ingin melihat ke dalam!” bisikan rusuh tersebut terdengar di dekat pintu kaca bangsal medicube Korea.

Pemilik suara tersebut tak lain adalah Wang Jackson yang sedang menyuruh dua orang di depannya menyingkir agar dirinya bisa melihat jelas adegan lovey dovey di dalam. Namun Sersan Jun juga Kopral Dong tidak mau menyingkir dan menempelkan kening ke kaca pintu dengan wajah cengo serta mulut terbuka. Jackson yang termasuk pendek dari ketiganya sampai berjinjit walau tidak membuahkan hasil melihat sosok Hyerim dan Luhan.

“Wah, Kapten sangat romantis ke Letnan Kim,” gumaman Kopral Dong terdengar dan tampak Sersan Jun mengangguk-angguk.

“Kapten Lu beruntung sekali mendapatkan Letnan Kim yang cantik begitu,” kali ini gumaman Sersan Jun yang terdengar.

Nampak di dalam sana, Hyerim sedang membicarakan sesuatu dengan gestur lucu kepada Luhan kemudian Luhan mengusap-usap pipi kanan Hyerim membuat gadis itu tersenyum-senyum dan menyuapkan Luhan sayur yang ada di kotak bekalnya. Akan tetapi di belakang dua anggota pasukan PBB China itu, Jackson masih berusaha melihat ke dalam sampai melompat-lompat tapi berakhir dengan helaan putus asa.

“Emmmm… masakanmu enak sekali,” puji Hyerim dengan tepuk tangan singkat dan kembali menyumpitkan ayam kecap dari kotak bekal berwarna biru langit itu untuk ia masukan kemulutnya.

Luhan tampak tersenyum meringis, karena pasalnya bekal yang Hyerim jajah isinya adalah miliknya. Hyerim tadi main mengganti kotak bekal berwarna merah jambu berisi sayuran dan nasi putih dengan kotak bekal biru Luhan yang berisi ayam, daging, juga kentang itu. Dan sekarang Hyerim masih menikmati bekal dari kotak bekal berwarna biru itu, sementara Luhan memakan bekal yang ia buat khusus untuk Hyerim dengan setengah hati apalagi melihat wajah kekasihnya sangat sumringah memakan makanannya.

“Ahh…” Hyerim mendesah nikmat ketika makanannya habis dan medorong kotak bekal biru itu ke arah Luhan lalu dirinya menyender ke kepala ranjang sambil memegang perutnya layaknya orang kekenyangan.

“Sudah kenyang?” tanya Luhan dengan raut datarnya, Hyerim sedikit menegakkan tubuhnya dan mengangguk semangat. “Tentu saja kamu akan kenyang asal bukan sayuran yang kamu makan,” ucap Luhan sedikit menggerutu lalu memasukan satu sayur kangkung kemulutnya dan mengunyahnya dengan wajah jengkel.

Hyerim menampilkan cengirannya ketika mendengar perkataan Luhan. Lalu Hyerim mencondongkan sedikit tubuhnya dan menopang dagunya dengan meletakan tangan di meja lipat yang tersedia di atas kasurnya, dirinya memperhatikan Luhan yang sedang makan sambil tersenyum-senyum. Luhan pun merasa diperhatikan Hyerim dan menatap gadisnya dengan dahi berkerut.

“Kenapa?” Hyerim menggeleng masih dengan senyum dikurva bibirnya.

Luhan pun masih bingung namun dirinya memilih menutup kotak bekalnya dan membereskan kotak bekal tersebut dengan kotak bekal yang dipakai Hyerim tadi. Karena acara makan siang ini sudah selesai. Tapi Hyerim masih setia diposisinya yang menopang dagu dan memperhatikan Luhan.

“Kamu memperhatikanku terus seakan jatuh cinta padaku,” ucap Luhan diiringi tubuhnya yang berdiri dan senyum geli diparasnya. Hyerim malah makin tersenyum lebar dan mendongakan kepala untuk memandang Luhan juga tangannya yang sekarang terlipat di atas meja lipat.

“Sepertinya aku dibodohi olehmu karena terus jatuh cinta padamu,” Luhan terkekeh lalu menepuk-nepuk puncuk kepala Hyerim. Barulah beberapa waktu yang datang, Hyerim merubah raut wajahnya menjadi mengerucutkan bibirnya seakan sadar akan sesuatu. “Kamu sudah mau pergi?” Hyerim bertanya dengan nada merenggek.

Tapi dengan ringannya Luhan mengangguk dan sukses membuat Hyerim memasang air wajah lesu, Luhan jadi gemas sendiri melihatnya. “Aku harus kerja sekarang. Jaga dirimu,” Hyerim memandang Luhan memelas dan Luhan yang sekarang sedang mengusap puncuk kepalanya tampak tersenyum gemas. “Kamu ini seorang dokter juga tapi kenapa dirimu yang sering terluka dan diobati olehku?” Luhan bertanya dengan mimik heran.

Mendengar ungkapan tersebut keluar dari bibir Luhan membuat Hyerim terdiam sejenak tapi sekon mendatang dirinya mengangkat bahu tak tahu juga tak peduli. “Lain kali ada waktu dimana aku yang akan mengobatimu,” ujar Hyerim disertai tatapan menantang.

Luhan mengangguk perlahan dengan senyumannya, lalu tangannya berhenti mengusap kepala Hyerim dan digantikan dengan tubuhnya yang membungkuk kemudian memberikan sebuah kecupan dikening Hyerim. Ketika menerimanya, Hyerim memejamkan matanya apalagi Luhan mendiamkan diri agar ciuman singkat itu berjalan lama.

“Whoaaa!! Mereka berciuman!” seruan heboh Sersan Jun yang berada di luar bangsal tampak terdengar dengan raut antusias dan mulut menganga, tampak juga Kopral Dong yang gemas sendiri dan berdampak memukul-mukul pelan bahu Sersan Jun.

Dan di belakang keduanya, Jackson makin penasaran dan terus melompat-lompat sambil memanjangkan leher, tapi tetap saja hasilnya sama yaitu dirinya tidak bisa melihat Hyerim dan Luhan yang berada di dalam. Dengan raut sebal dan bibir dimajukan, Jackson menghentakan kaki pergi.

“Pantai Navagio, Yunani,” Lian menggumam ketika membaca artikel yang menampilkan pantai indah yang dikelilingi tebing-tebing disertai sebuah kapal karam di pantai yang terlihat seperti pulau terpencil itu.

Dirinya tersenyum-senyum membayangkan bisa pergi ke sana bersama Minho, tanpa Lian ketahui sosok yang ia pikirkan sudah mengendap ke belakangnya seraya sedikit membungkuk untuk meneliti apa yang Lian lihat dilayar ponselnya.

“Kurasa lebih indah Pantai Jungmun di Jeju,” komentar Minho dengan raut tak minat pada Pantai Navagio yang jelas-jelas sangat indah.

Lian langsung tersentak kaget mendengar bariton Minho yang mengomentari jelajahan internetnya akan Pantai Navagio. Lian pun mengunci ponselnya dan mendekapnya didada sambil melirik Minho yang berjalan memutari badannya dan berhenti di depannya.

“Kamu ingin ke sana denganku?” tanya Minho dengan satu alis terangkat serta raut menggoda. Lian meneguk ludahnya dan berusaha biasa saja akan tebakan Minho yang seratus persen benar.

“Tidak juga. Aku ingin mengajak tim relawanku ke sini ketika pulang nanti,” elak Lian dengan bola mata melirik ke arah lain.

“Dasar gengsi!” desis Minho dengan bibir mencebik kesal dan karena desisannya itulah Lian menatapnya dengan tatapan mematikan. “Padahal aku ingin mengajakmu ke pantai di Mohuru yang tak kalah indahnya dengan Navagio,” kata Minho diiringi tubuh ditegakan dengan kepala serta tatapan menerewang ke atas diikuti anggukannya beberapa kali.

Mati-matian Lian tidak menampilkan raut antusiasnya. “Memangnya di Urk khususnya Mohuru ada pantai yang mengalahkan indahnya Navagio?” ujar Lian dengan raut tak mau kalah karena rasa gengsinya.

Minho sedikit membungkuk dan mendekatkan wajah kewajah Lian yang langsung salah tingkah. “Tentu ada, Luhan dan Hyerim pernah berkencan di sana.”

Dan pada akhirnya pun, Minho pun menuju pantai tersebut menggunakan boat bersama Lian. Minho tampak berdiri di bagian depan boat  sementara Lian duduk di belakangnya. Gadis itu terus berdecak kagum ketika menikmati pemandangan tebing di sekelilingnya, tempat inilah yang menjadi tempat kencan Hyerim dan Luhan di atas kapal saat itu. Seketika boat yang ditumpangi oleh keduanya berhenti di sebuah pantai terpencil. Minho lah yang pertama kali meloncat turun.

“Ayo turun!” seru Minho sambil menyodorkan tangannya. Dengan senyum lebar yang kentara tidak bisa ditahan, Lian menerima uluran tangan Minho dan meloncat turun.

Tak ada hentinya Lian memuji pemandangan yang disuguhkan pantai ini ditambah dengan kapal karam yang hampir sama persis di Navagio. Lian mendekati kapal tersebut namun tidak menemukan batu koral dengan coret-coretan nama layaknya kapal yang ada di Navagio, Lian mengembungkan pipi sambil menghembuskan napas kecewa.

“Tentu di sini beda dengan di Navagio, orang-orang di sini mempunyai kepercayaan lain tentang tempat ini,” Minho seakan menangkap kekecewaan gadisnya. Lian lantas menatapnya seakan bertanya apa kepercayaan yang Minho maksud. Minho tampak mengadahkan kepala ke atas serta bola mata tertuju pada tebing-tebing yang mengelilingi pantai ini. “Bila ada pasangan yang ke pantai ini, dipercaya mereka akan selalu bersama,” ujar Minho lalu memandang Lian dengan seuntas senyuman. Gadisnya itu tampak tak bisa menahan senyumannya.

“Kamu pasti sangat-sangat bahkan melebihi sangat dalam hal mencintaiku,” ucap Lian dengan tampang menggodanya dan senyuman jahil.

“Hanya gombal semata,” balas Minho sambil mengedikan bahu dan Lian tampak memasang raut datarnya. “Sepertinya lebih romantis suasana malam hari seperti Luhan dan Hyerim saat itu,” ucap Minho sambil menatap air jernih pantai. Lian mengerutkan dahi mendengarnya.

“Memang mereka berdua pernah kencan di sini?” Minho kembali menatap Lian dan memasang wajah seakan berpikir.

“Ya, sepertinya. Luhan pernah menanyakan tempat romantis di Mohuru dan aku menyarankan ini,” Lian tampak mengangguk dengan sedikit membuka mulutnya. Sekon yang datang keduanya duduk di bawah kapal karam tersebut sambil menikmati air jernih pantai. “Aku ingin bertanya,” suara Minho kembali terdengar membuat Lian menoleh. “Apa kamu pernah terlibat sebuah asmara dengan seorang lelaki? Mungkin berpacaran atau menyukai seorang lelaki. Kamu kan tahu aku sempat terlibat perjodohan dengan Hyerim, jadi sepertinya aku harus tahu tentang percintaanmu juga.”

Minho bertanya dengan melayangkan tatapan ke Lian melalui kepalanya yang tertoleh ke arah gadis itu. Lian pun menggaruk belakang kepalanya, dirinya agak ragu menceritakan masalah percintaannya. Pasalnya lelaki yang dulu sangat ia puja tak lain adalah Luhan. Namun di lain sisi, Minho menatapnya penasaran.

“Eung, sebenarnya…” Lian mulai menjawab dan tampak Minho memajukan wajah mendekat. “Ada lelaki yang pernah sangat aku sukai semasa kuliah,” ditolehkan oleh Lian kepalanya menatap Minho dengan raut ragu-ragu, sementara kekasihnya itu melayangkan tatapan seakan bertanya siapa gerangan lelaki itu. Lian memejamkan mata sebentar lalu menghembuskan napas. “Kalau boleh jujur, aku dulu menyukai Luhan.”

Perlahan Minho mulai menegakan tubuhnya sambil mengangguk-angguk dan bergumam. “Ahhh… begitu,” Lian mengangguk perlahan dengan mimik ragunya. “Untung saja Luhan sudah memiliki kekasih yang sangat cantik sekarang,”

Air wajah Lian menekuk seketika mendengarnya, apalagi paras Minho tercetak sangat santai ketika mengatakan hal barusan. Oke, Lian mengakui bahwa Hyerim sangatlah cantik dan mempunyai karisma yang membuat para pria mau menekuk lutut hanya untuk mengemis sebuah cinta padanya. Tak heran seorang Luhan yang tak mudah jatuh cinta bisa mengalami cinta pada pandang pertama dengan Hyerim. Tapi, kenapa Minho harus mengatakan hal itu juga dalam konteks secara tak langsung membandingi Hyerim dengannya? Perlu diingatkan, Minho adalah kekasihnya.

“Aku tahu Kim Hyerim sangat cantik dan mudah sekali mendapatkan cinta Luhan, tidak sepertiku yang selama tiga tahun mengalami cinta bertepuk sebelah tangan,” ucapan Lian dengan raut kesal mengundang Minho menatapnya dengan minat akan ucapannya itu. “Tapi kenapa lelaki di sebelahku harus mengatakan bahwa Hyerim lebih cantik daripada aku? Padahal jelas dirinya menolak Hyerim dijodohkan olehnya dan malah jatuh cinta padaku,”  Lian mencibirkan bibirnya dengan wajah sebalnya dan Minho tampak tersenyum menahan tawa mendengar ocehannya.

Nah, itu kamu tahu. Hanya seorang Wu Lian yang membuatku jatuh cinta, setidaknya berbahagialah karena bisa mendapatkanku yang menolak wanita bak dewi seperti Hyerim,” ucap Minho dengan tepukan beberapa kali dipuncuk kepala Lian.

Jangan ditanya lagi, ekspresi Lian langsung berganti gugup dengan pipi merona. Selanjutnya, Minho menarik kepala Lian untuk bersender dibahunya. Keduanya menikmati kembali pemandangan air jernih pantai dan tebing di sekelilingnya. Pasangan tersebut menghabiskan waktu di pantai yang memiliki kepercayaan akan membuat satu pasangan bersama selamanya.

“Menurutmu ini enak tidak?” suara Sersan Jun yang berada di dapur dan menyodorkan sesendok sayur asam kepada Kopral Dong, terdengar.

Keduanya tampak ribut-ribut memasak di dapur barak. Kopral Dong mencicipi sayuran tersebut dan langsung memasang ekspresi terpananya. “Ini enak,” ujarnya masih dengan ekspresi sama ketika menoleh pada Sersan Jun yang sekarang menampilkan raut puasnya. “Ah kamu ini, masakanmu harusnya tidak enak, nanti Letnan Kim malah suka dengan masakanmu!” seru Kopral Dong dengan raut jengkelnya.

“Makanya, kamu harus bisa memasak sepertiku,” Sersan Jun menjulurkan ludah meledek kopral di sebelahnya.

Kopral Dong memasang raut mencibirnya pada Sersan Jun yang melanjutkan acara membuat masakan untuk Hyerim dengan santai. “Aih, masakanmu tidak akan enak lagi!”

Kemudian Kopral Dong mulai menganggu Sersan Jun sampai tubuh sersan tersebut terguncang-guncang ketika dirinya memasak, bahan makanan yang ada diwajan menjadi tersebar ke mana-mana lalu Kopral Dong melemparkan beberapa garam kemasakan Sersan Jun. Tak terima, Sersan Jun menggigit bahu Kopral Dong dan langsung saja pria itu memekik kesakitan. Keduanya pun ribut di dapur membuat beberapa bahan makanan berserakan ke mana-mana. Ditengah keributan tersebut, munculah sosok Yixing yang langsung menganga melihat dua orang yang memiliki pangkat dibawahnya sedang saling memiting serta memukul kepala satu sama lain.

“KALIAN KENAPA?!” teriakan Yixing menggelegar ketika menyadari dapur yang sudah layaknya kapal pecah. Keduanya langsung berhenti dan menatap Yixing dengan raut terkejut serta mata mengerjap-ngerjap, sementara Yixing menatap keduanya dengan bola mata yang seakan mengobarkan sebuah api disertai napas menderu.

Detik ini di bangsal Hyerim terlihat sosok Soojung dan Jinki yang menjenguknya dengan membawa kudapan yang Jinki buat. Dengan wajah sumringah dan menikmati, Hyerim memakan kudapan tersebut sambil bergumam akan rasanya yang enak. Jinki pun tersenyum ketika air wajah Hyerim yang terlihat jelas menyukai kudapannya. Soojung pun menyodorkan Hyerim sekotak susu coklat dengan senyumannya. Sebelum menerimanya, Hyerim memandangi kotak susu tersebut.

“Susu kan lebih bagus diminum pagi-pagi,” komentar Hyerim namun tetap saja dirinya menerima pemberian Soojung tersebut lantas meminumnya.

Soojung tampak berdecak dengan gelengannya. “Kamu ini selalu mengalami sakit perut dadakan bila minum susu pada pagi hari. Sangat aneh memang, makanya aku memberikan susu pada siang hari,” Hyerim nyengir mendengarnya dan kembali meminum susu pemberian Soojung itu.

“Hyerim!” seruan yang Hyerim kenali sebagai suara Yixing terdengar dan benar, lelaki itu bersama dua orang yang lainnya memasuki bangsal Hyerim. Senyum lebar ditampilkan oleh Yixing sementara dua orang di belakangnya tersenyum malu-malu. “Hyerim, aku ke sini bersama penggemar bodohmu.” Yixing berkata sambil melirik-lirik tajam Sersan Jun dan Kopral Dong. Dilain sisi Hyerim merengutkan dahinya mendengar perkataan Yixing.

“Wah Letnan Kim selalu saja memiliki penggemar pria di mana-mana,” gumam Jinki takjub membuat dua orang yang melakukan peperangan di dapur tadi menunduk dan meringis malu.

Hello lieutenant.” ucap keduanya berbarengan lalu saling melempar tatapan tajam karena menyapa Hyerim dengan cara kompak seperti tadi. Hal itu membuat Hyerim tertawa.

“Kalian ingin memberikan Letnan Kim makanan kan?” tanya Yixing dengan tatapan lasernya. Dengan senyum konyol, kedua orang tersebut mengangguk dan menyodorkan kotak bekal berwarna biru dan merah. Hyerim menerimanya dengan riang.

Xièxiè, (terimakasih)” ujar Hyerim dengan senyum manisnya. Perlakuan Hyerim menyebabkan Sersan Jun dan Kopral Dong memekik heboh tak jelas dengan saling megenggam tangan satu sama lain ketika bahasa Mandarin tadi keluar dari idola mereka.

Yixing yang jengah akan kelakuan anggotanya langsung mendorong bergantian wajah keduanya dengan telapak tangannya seraya berkata. “Eiyy, eiyyy, sudah. Ingatlah, Letnan Kim ini sudah milik sah Kapten Lu. Jangan terlalu banyak bermimpi,” mendengarnya membuat Hyerim mendengus menahan tawa dengan senyuman merekah. Yixing kembali menatap Hyerim ketika berhasil menjinakan sersan dan kopral tersebut. “Hyerim-ah, ppali naseyo. (semoga lekas sembuh)”

Hyerim mengangguk ketika Yixing mengucapkannya dengan senyuman berlesung pipitnya, setelah itu dirinya langsung menarik Sersan Jung dan Kopral Dong pergi. Kedua manusia itu terus tersenyum-senyum kepada Hyerim yang membalas juga senyuman keduanya.

“Eh Letnan, aku juga harus pergi,” kata Jinki setelah selesai menonton kepergian tiga pasukan China tadi. Setelah itu, Jinki mengangkat tangan untuk hormat sebagai tanda berpamitan. Hyerim hanya mengangkat tangan ala kadarnya membalas hormatan Jinki. “Semoga lekas sembuh,” itulah kata penutup dari Jinki sebelum menghilang dari sana.

Tersisalah Hyerim serta Soojung sekarang. Tampak Hyerim mengambil sesuatu di laci naskas di sebelah kirinya dan Soojung yang sedang memperhatikan pintu bangsal sambil geleng-geleng serta menyomot kudapan buatan Jinki yang masih tersisa.

“Hyerim, kamu ini masih mempunyai kecantikan dan karisma seperti dulu ya. Selalu saja banyak lelaki yang melemparkan diri padamu,” Soojung mengumam sambil mengunyah kudapannya lalu menggigit kudapannya lagi ketika yang ada didalam mulutnya hampir habis, gumamannya barusan terselip nada iri.

Tapi, Hyerim malah sibuk menulis sesuatu diatas kertas yang ia ambil di laci naskas sambil menunduk dan terlihat konsentrasi sekali seakan mengerjakan soal suneung alias ujian kemampuan skolastik ke perguruan tinggi sampai-sampai tak menyahut ucapan Soojung. Heran, Soojung pun menengokan kepalanya dan melihat Hyerim masih bergulat dengan kertasnya dan menggigiti ujung pulpen berwarna grey.

“Kamu sedang menuliskan surat cinta untuk Luhan ya?” goda Soojung dengan senyum jahil. Seketika Hyerim tersentak dan menatap Soojung lantas dirinya menampilkan sebuah cengiran.

“Bisa dibilang ini jalur penghubung cinta kita,” sahut Hyerim dengan sebuah senyum yang dipaksa-paksakan diiringi kertas yang ia tarik ke bawah meja lipatnya.

Soojung makin saja menatapnya menggoda dengan menoel-noel bahu Hyerim, Hyerim pun hanya tersenyum-senyum seakan malu karena ketahuan menuliskan sebuah surat cinta untuk pujaan hatinya. Namun, ujung mata Hyerim kembali menatap kertas yang ia genggam di bawah meja lipat. ‘Surat Pengunduran Diri Kemiliteran Korea Selatan’, cetakan huruf kapital dengan garis tebal tersebutlah yang tertulis di atas kertas yang Hyerim genggam. Hyerim menguatkan cekalannya pada kertas yang ia tatap penuh arti itu.

Keadaan Hyerim makin membaik sealam dua hari terakhir ini, bahkan malam ini adalah malam terakhir Hyerim tidur di bangsal medicube. Tampak gadis yang hampir kehilangan nyawa karena virus M3 itu sedang membuka novel yang Soojung bawakan untuknya. Ditengah kelarutannya akan cerita fiksi tersebut, sosok Luhan datang dengan senyuman lebar mendekati ranjang kekasihnya.

“Ah kamu sudah datang?” seperti biasa, Hyerim menyambut Luhan dengan riang bahkan langsung menutup novelnya dan menaruhnya di atas naskas. “Kukira kamu ke mana, seharian ini bahkan saat sarapan tidak bisa menemaniku.” Hyerim memajukan bibir membuat Luhan tersenyum dan duduk di kursi di sebelah ranjang.

“Menurutmu aku ke mana?” tanya Luhan dan dirinya pun menaruh toples bunga dandelion di atas novel Hyerim yang ditaruh di atas naskas. Dandelion adalah salah satu bunga kesukaan kekasihnya, maka Luhan tadi sempat memetikinya dan menyimpannya didalam toples khusus untuk Hyerim.

Hyerim tampak mengetuk-ngetukan jari telunjuk kanannya dibawah dagu sambil berpikir, setelah menemukan jawabannya, Hyerim menatap Luhan dengan memicingkan mata. “Jangan-jangan kamu selingkuh!” ucap Hyerim sinis membuat Luhan menganga seketika, padahal dirinya sudah mengode bahwa seharian ini ia memetiki dandelion khusus untuk Hyerim.

“Selingkuh apanya?” sahut Luhan cepat sambil membetulkan posisi duduknya. Aksinya membuat Hyerim menatapnya tajam dan mengintimidasi.

“Kamu tahu kan aku ini seorang tentara dan juga dokter. Maka bila kamu berani selingkuh, aku akan menembakmu dengan pistolku atau membedahmu dengan pisau operasiku,” ancam Hyerim dengan tangan kanan terkepal dan melayangkannya kedepan wajah Luhan yang mana dengan gerakan refleks menjauhkan wajahnya.

Luhan tampak mendengus dengan raut gemasnya. Lalu dirinya mencubit pipi kanan Hyerim membuat gadisnya itu memekik. “Ahhh, kamu ini. Aku selingkuh dengan bunga dandelion untuk kuberikan pada gadis yang sangat cantik. Dan gadis itu ada di hadapanku sekarang.” Luhan menurunkan tangannya dan menampilkan senyum simpul. Sementara Hyerim tampak mengembungkan pipinya.

“Terserah, aku mau tidur!” ucap Hyerim sambil menarik selimutnya dan mulai meposisikan diri untuk tidur. Luhan memperhatikan tingkah laku kekasihnya dengan gemas dan Hyerim benar-benar meposisikan diri tidur dengan memunggungi Luhan.

“Kalau begitu aku ikut tidur denganmu,” ujar Luhan yang tanpa babibu langsung naik ke ranjang dan menggeser tubuh Hyerim lalu ikut masuk ke selimut yang sama dengan Hyerim.

Ya! Kalau ingin menemaniku, tidur saja di lantai!” seru Hyerim sambil menatap Luhan dengan ujung matanya dengan kesal. Tapi Luhan bersikap tak peduli dan mulai memeluk pinggang Hyerim kemudian menempelkan wajahnya dipunggung gadisnya.

“Aku mengantuk karena sudah mencari dandelion untuk gadis yang keras kepala ini,” gumam Luhan dengan mata terpejam. Bola mata Hyerim berputar mendengarnya. “Selamat malam sayang.” dan Luhan benar-benar menjelajahi bunga tidurnya seusai ucapannya itu. Tidak ada pilihan lain, Hyerim pun mengikuti jejak Luhan ke alam mimpi dengan membiarkan kedua tangan Luhan memeluknya dalam posisi tidur menyamping keduanya.

Dapat dilihat Luhan sedang sibuk berkulat dengan sebuah kertas di atas mejanya. Dengan teliti dirinya mengisi formulir tersebut. Surat pengunduran diri. Kata-kata tersebut tercetak jelas dikertas yang Luhan geluti. Sebentar Luhan berhenti untuk memandangi surat tersebut lalu hembusan napas keluar dari mulutnya. Dengan beribu perasaan berat dan demi sebuah kebersamaan bersama gadisnya, Luhan menuliskan namanya disurat pengunduran diri tersebut.

“Kapten!” seruan ramah tersebut terdengar membuat Luhan mengangkat kepalanya lalu tersenyum mendapati Minho berjalan memasuki tenda kantornya. Senyum lebar terpatri dibibir kawannya dari Korea Selatan tersebut.

“Sedang mengerjakan apa?” Minho bertanya sambil melirik surat pengunduran diri Luhan yang langsung Luhan cekal dan lipat secepat mungkin dengan raut gugup, takut bila Minho mengetahui hal ini. Namun bersyukurlah, sederet tulisan pinyin itu tidak ada yang Minho mengerti.

“Hanya laporan untuk komandan batalion, beliau sangat rewel,” jawab Luhan dengan wajah tegang dan cepat-cepat memasukan surat pengunduran dirinya ke dalam laci meja. Dengan kerutan didahinya, Minho menatap Luhan curiga.

“Oh begitu,” tapi Minho lebih memilih percaya saja dan Luhan pun dengan gerakan kaku mempersilahkan Minho duduk. Tampaklah Minho duduk bersender dengan raut santainya lalu menghembuskan napas sambil menerawang ke atas. “Hah, kurasa banyak hal yang mendebarkan di sini. Terutama untukmu dan Hyerim,”

Luhan menampilkan senyumannya dan sedikit mengangkat bahunya. “Urk atau lebih tepatnya Mohuru menjadi jalinan kisahku bersama Hyerim sepertinya,”

Minho mengangguk dengan mata masih menerawang ke atas. “Kalian kembali berkencan di sini, mendapatkan restu di sini, hampir tewas juga di sini, hampir berpisah dengan maut di sini. Aku iri dengan kalian.” Minho melayangkan tatapan sebal dengan bibir mengerut kepada Luhan dan tanggapan Luhan hanya tawa tanpa suara.

“Setidaknya kamu juga bertemu Lian di sini, bukan begitu?” dinaikan oleh Luhan satu alisnya sambil menatap Minho.

Minho membetulkan posisi duduknya menjadi badan sedikit mencodong ke arah Luhan. “Ya, memang. Cinta tersebar di sini,”

Tangan Minho bergerak di depan wajahnya seakan menggambar sebuah garis panjang dengan tangan terbuka itu, seakan itulah percik-percik cintanya dengan Lian. Luhan mendengus geli melihatnya.

“Aku ingin bertanya,” perkataan Luhan membuat Minho menatapnya intens. “Apa Hyerim pernah berkencan sebelumnya? Aku tahu dia itu ice princess yang sulit sekali ditaklukan. Tapi bukan hal yang tidak mungkin dirinya pernah jatuh cinta dan berkencan kan? Hyerim memiliki peluang menjadi playgirl bila dia ingin, karena lelaki banyak yang bertekuk lutut padanya. Aku selama ini penasaran akan hal itu.” Luhan memiringkan kepalanya dengan bola mata menerawang ke bawah dan jari telunjuk kanan mengetuk pelan meja kerjanya.

Pertanyaan Luhan sukses membuat Minho tertawa pelan, Luhan pun menatapnya lekat akan reaksi Minho yang tertawa. “Mungkin kamu akan kecewa karena bukan kamu satu-satunya pria yang bisa menaklukan hati Hyerim,” ujar Minho seraya menyender kembali di senderan kursi. Luhan berusaha tidak menampilkan raut kecewanya karena ujaran Minho seribu persen benar.

“Hyerim pernah berkencan dengan seorang lelaki. Hubungannya mencapai lima tahun.” kata Minho santai membuat Luhan melebarkan mata dan mendorong tubuh lebih mendekati Minho lantaran penasaran. Pasalnya hubungan Luhan dan Hyerim bahkan baru ingin mencapai tahun ketiga, itupun keduanya sempat memutuskan hubungan.

“Siapa lelaki itu?” tanya Luhan lambat-lambat dan air wajah penasaran.

Senyum miring terpampang diparas Minho, kemudian dirinya menjawab. “Dia ada di sini menjadi dokter relawan Korea Selatan.”

Jawaban Minho membuat Luhan melebarkan matanya. Jadi cinta pertama Hyerim ada di sini? Minho tampak memiringkan kepala ke kanan dan kiri melihat reaksi Luhan.

Oppa, aku senang bisa sehat lagi dan memeriksa mereka,” gumam Hyerim setelah selesai memeriksa pasien yang tempo itu menggigit pergelangan tangannya.

Wajah sumringah tercetak jelas diwajah Hyerim yang memperhatikan pasiennya yang sedang disuapi oleh ibunya. Taemin yang memperhatikan wajah bahagia Hyerim pun jadi ikut tersenyum. “Maka dari itu jangan terus-terusan sakit!” ucap Taemin dengan bibir mencibir kesal dan menjitak pelan kepala Hyerim.

Hyerim mengelus kepalanya dengan wajah kesakitan dan mengaduh. “Aduh,” tatapan mematikan Hyerim berikan pada Taemin yang balas menatapnya tajam. “Iya, iya. Aku tidak akan sakit lagi.”

Senyum puas terpatri dibibir Taemin setelah mendengar hal tersebut. Lalu Hyerim kembali berbaur dengan pasiennya itu. “Sepertinya kau lapar ya. Di sini banyak sekali beras jadi jangan makan kerikil lagi. Kau tahu? Aku nyaris mati karena digigit olehmu. Tapi mengingat kau ini kesusahan bahkan untuk mencari beras, aku tidak akan balas dendam padamu apalagi kau ini pasienku.”

Hyerim menampilkan raut kesal dibuat-buat dan pasien tersebut tentu tak mengerti karena Hyerim berbicara dengan bahasa Korea dan masih saja makan dengan disuapi ibunya yang sempat melirik Hyerim lalu melemparkan senyumannya seakan berterimakasih karena sudah menyembuhkan anaknya. Perilaku Hyerim membuat Taemin tertawa. Lalu Hyerim menatap Taemin dengan heran.

Oppa sakit?” tanya Hyerim dengan binar mata heran.

Taemin menggeleng lalu mencubit gemas kedua pipi Hyerim. “Tidak, aku hanya gemas dan geli denganmu. Jelas-jelas pasien ini tidak mengerti kamu tapi kamu tetap berbicara dengan bahasa Korea. Bodoh sekali,”

“Aahh, oppa lepaskan! Sakit tahu!” seru Hyerim namun Taemin tidak mau melepaskan cubitannya dan menggerak-gerakan wajah Hyerim.

Saat itulah Luhan memasuki medicube Korea ketika selesai mengorek informasi dari Minho, wajah Luhan langsung geram melihat keakraban Taemin dan Hyerim apalagi ucapan Minho beberapa menit lalu. Dengan langkah lebar dan wajah kesal, Luhan mendekati Hyerim lalu langsung menyambar tangan gadis itu dan menggeretnya. Perlakuan seperkian detik Luhan membuat Hyerim juga Taemin tersentak saking terkejutnya.

“Hey! Luhan! Kenapa?” tanya Hyerim namun Luhan terus menggeret Hyerim keluar medicube dan Taemin yang menyaksikannya hanya garuk-garuk kepala dengan bingungnya.

Sampailah pasangan tersebut di luar, langsung saja Luhan melepaskan tangan Hyerim dengan menyentaknya lalu menatap Hyerim tajam. Dapat dilihat Hyerim sedang memeriksa pergelangan tangannya karena cekalan kuat Luhan kemudian menatap kekasihnya itu kesal.

“Kamu kenapa sih?” tanya Hyerim jengkel.

Luhan menghembuskan napas jengkel dengan tangan berkacak pinggang. “Kamu ini masih saja bisa bermesraan dengan mantan kekasihmu seperti tadi? Bagaimana aku tidak marah?!” sembur Luhan membuat keterkejutan Hyerim makin menumpuk. Pertama karena seruan Luhan tadi dan kedua perihal Luhan yang mengetahui bahwa Taemin adalah mantan kekasihnya.

Hyerim menggerakan bola matanya ke bawah dan Luhan tampak menatapnya tajam. Dengan raut gugupnya, Hyerim menyahut. “Aku dan Taemin oppa memang sering begitu, jadi…”

Oppa?!” pekik Luhan dengan raut tak percayanya dan Hyerim tersentak kembali diiringi tangan kanan yang menggepal ia taruh didepan dadanya, tak lupa akan mata membulat Hyerim. Napas Luhan tampak tersenggal menahan amarah. “Aku yang satu tahun diatasmu saja tidak kamu panggil seperti itu!” seru Luhan dengan satu tarikan napas. Hyerim jadi kikuk mendadak dengan menggaruk kepalanya.

“Aku…”

Perkataan Hyerim kembali dipotong Luhan. “Terlebih lagi Taemin, Taemin itu yang lebih dulu memenangkan hatimu, dirinya yang lebih dulu mengenalmu, bahkan kalian ini bertemu disaat kamu sedang menyelesaikan kuliah kedokteran, kalian bahkan berhubungan selama lima tahun tanpa putus-nyambung seperti aku dan kamu, dia juga mendapatkan panggilan manis seperti ‘oppa’ darimu, dia pun memiliki warga negara yang sama denganmu membuatmu tidak perlu mengalami hubungan jarak jauh dengannya. Lee Taemin itu cinta pertamamu, ciuman pertamamu, lelaki yang pertama kali kamu peluk serta genggam dengan cinta darimu. Dan parahnya kalian bertemu lagi di Urk!”

Luhan sudah layaknya ibu-ibu yang memarahi putrinya. Ketika selesai membeberkan kecemburuannya itu, Luhan menatap Hyerim dan dilihatlah Hyerim sedang menunduk dengan tangan terlipat diiringi senyum geli menahan tawanya. Hyerim mengangkat wajahnya tatkala merasakan Luhan menatapnya heran.

“Cemburuan sekali,” kata tersebut membuat Luhan tambah jengkel. Dengan senyum geli dan dengusan keras menahan tawa, Hyerim kembali berkata. “Dengar, walau semua ucapanmu tadi benar. Tapi bagiku hanya ada satu pria yang akan bersama denganku untuk seribu tahun yang akan datang, bukan, tapi untuk selama-lamanya.”

Hyerim memajukan diri mendekat ke arah Luhan, dan Luhan hanya bergeming walau sekarang jaraknya dan Hyerim sudah sangat dekat dan Hyerim pun mendongak untuk menatap wajah Luhan dengan senyuman manisnya yang selalu berhasil membuat Luhan kembali jatuh cinta seperti sekarang.

“Walau pria itu bukan yang pertama menaklukan hati dinginku, walau kita harus mengalami hubungan jarak jauh, meski kita harus mengakhiri hubungan kita dulu, meski kita baru bertemu dua tahun yang lalu, bahkan aku tidak mau memanggilnya dengan panggilan yang manis…” Luhan menjatuhkan pandangan pada Hyerim dengan menunduk. “Tapi dia adalah lelaki yang akan kupeluk dan genggam dengan cintaku selamanya, cinta dan ciuman terakhirku. Kita sudah mengalami hubungan yang tidak direstui serta memperjuangkannya bersama, melawan jarak yang memisahkan kita, bahkan kita berdua melawan musuh bersama walau pada akhirnya aku yang menyelamatkan sandera kala itu. Jadi, aku hanya menyukai pria yang bernama Luhan.”

Luhan tersenyum dan memalingkan wajah mendengar penuturan Hyerim. “Sudah puas?” tanya Hyerim dengan senyum dan tatapan menggoda. Luhan kembali menatap Hyerim dengan muka berseri-seri.

“Sudah, karena telingaku diciptakan untuk mendengarkan penuturan cintamu,”

Desisan geli terdengar dari mulut Hyerim lalu Hyerim memeluk pinggang Luhan dengan kepala masih mendongak dan memajukan wajahnya mendekati wajah Luhan. Luhan pun peka dan menampilkan senyum tipisnya kemudian mendekatkan wajah lebih mendekat kewajah Hyerim hingga bibir keduanya bersentuhan. Mata Hyerim langsung terpejam diiringi tangan Luhan memeluk pinggang Hyerim juga dan menarik badan Hyerim untuk menempel dengan badannya. Lumatan lembut terjadi diciuman tersebut disertai tangan Hyerim terangkat untuk melingkar dileher Luhan.

Di medicube China terlihat Lian sedang bersenandung ria dengan mendata obat-obatan di sana. Dirinya sangat menikmati pekerjaannya tersebut, setidaknya hari ini tidak ada pasien yang harus ia tangani dengan berat. Tapi kedamaian tersebut bersifat sementara ketika ribut-ribut dari luar medicube terdengar.

“Dokter! Tolong ada orang sekarat di sini!” teriakan yang Lian kenali sebagai suara Yixing terdengar memenuhi medicube.

Bersama rekan dokter yang lain, Lian menggeret kaki menuju pintu utama medicube dengan buru-buru. Dalam hati dirinya resah karena sudah dipastikan adanya keributan lagi hingga menyebabkan adanya korban. Akhirnya Lian sampai di depan pintu utama untuk melihat pasien kali ini. Namun mata Lian langsung melebar dengan raut terkejut bahkan secara refleks kedua tangannya terangkat menutupi mulutnya yang terbuka lebar. Pasien yang terbaring lemah di tandu dengan mata tertutup dan badan penuh darah itu adalah….

“Luhan?” gumam Lian ketika berhasil mengontrol dirinya dan meyakini dirinya bahwa pasien sekarat tersebut memang benar Luhan.

─To Be Continued─


Ha-i! Lama gak berjumpa. Aku keteteran post ini padahal udah tamat di file adalah season duanya yang baru ketulis sampe chapter 2 doang. Dan yipiiii! Bagi fans dots lagi bahagia dong ya. Iya dong, SongSong couple mau nikah >< ya lord. Karena itu, aku akan rutin insya Allah post This Love. Dan S2nya dipending dulu sampe memungkinkan publish.

Btw, next chapter mau aku pw 🙂 komennya ya kalo gitu ❤

Advertisements

Author:

A tinkerbell who dream to be Luhan's future wendy — Also an amature author, k-drama trash, k-running man freak, eternal ELF, ahjussi and korean actor addict in the same time — Adorable since 2001

2 thoughts on “FF : This Love – Chapter 8

  1. Hyerim mau mengundurkan diri, luhan juga mau mengundurkan diri jadi nanti siapa yang ngalah ?
    Luhan cemburu sama taemin. Kenapa luhan bisa sekarat ? Kan dia ciuman sama hyerim tapi tiba-tiba aja sekarat.
    Ditunggu next chapternya kak, tapi jangan lama-lama ya.

    Like

  2. Hyerim ngundurin diri trus Luhan jg mau ngundurin diri? Dan lagi kenapa Luhan sekarat? Kyknya ini ceritanya
    udh mau hbs ya? Haha nexttt

    Like

Write ur Love Letter . . . <3

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s