Posted in Chapter, Comedy, Fanfiction, FF : Friendzone : When The Love Blossom, Fluff, Friendship, Romance, Teens

FF — Friendzone : When The Love Blossom [Keping 4 : Kang Haneul]

Friendzone-WTLB-Cover

Friendzone : When the Love Blossom

KEPING 4 : Kang Haneul ┘

Starring By

Lu Han & OC`s Kim Hyerim

Actor Kang Haneul as special appearance

Story with Romance, Comedy, Friendship, Fluff rated by T  type in Mini Chapter

Poster by ByunHyunji @ Poster Channel

`Luhan dan Hyerim sudah bersahabat selama 17 tahun. Keduanya berjanji tidak akan saling menikahi, juga kalau satu dari keduanya menikah, salah satunya akan menyanyi dipernikahan tersebut. Tapi memangnya persahabatan antara lelaki dan perempuan akan bertahan lama? Terlebih Hyerim baru saja diselingkuhi. Sedang Luhan, suka berperan menjadi pelindung Hyerim dan selalu meminta pendapat Si Gadis untuk masalah perempuan`

Disclaimer :  Beberapa adegan di fiksi ini terinspirasi dari drama Korea Fight For My Way dan tweet @plotideas. Namun isi cerita serta konflik yang ada sungguh berbeda.  Semua yang tercantum dari cerita ini sungguh tidak nyata. Tidak ada niatan untuk menjelek-jelekan satu organisasi/perorangan. Semua cast milik orang tua, agensi, dan Tuhan YMA—terkecuali untuk OC. Penyebarluasan, duplikasi isi cerita tanpa sepengetahuan/izin penulis, juga menghina/menjelek-jelekan isi cerita merupakan tindakan yang sangat dilarang.


When the love blossom in our friendship


Previous Story : Keping 0 — Introduction  ∞ Keping 1 — The Cheating Boyfriend Keping 2 — After Broke UpKeping 3 — High School Reunion

© 2017 Storyline by HyeKim

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

“Huaaa! Hiks! Huaaa!” tangisan kelewat heboh seorang gadis di ruang IGD, tampak membuat orang-orang yang di sana jadi risih.

Kim Hyerim, namanya,  dia lah yang sedang nangis heboh di ruang IGD dan duduk di sebelah ranjang yang diisi seorang cowok. Laki-laki yang tak lain dan tak bukan, Luhan, sama-sama menatap risih Hyerim campur malu. Dirinya mengedar pandang ke sekitar, lalu tersenyum paksa.

Perlahan, Luhan menegakan badan dan duduk di atas ranjang. Hyerim masih juga nangis dengan mata terpejam. Luhan menatapnya datar bin jengah.

Ya! Kim Hyerim. Berhenti menangis, kau membuatku malu,” ujar Luhan agak berbisik, sempat pula melihat sekililing dari ujung mata.

Hyerim masih setia aja memejam mata dengan tetesan likuidnya, malahan isakannya tambah keras dan ditambahi segala dengan teriakannya. “HUAAA! HIKSS! HUAAA! BODOH! KAU MEMBUATKU TAKUT!”

Ikut-ikutan Luhan memejamkan matanya, bedanya ini karena frustasi dengan kening berlipat-lipat. Jangan tanya lagi tatapan orang-orang di IGD yang tambah risih dan mencap Hyerim kurang waras. Luhan medudukan tubuhnya menghadap Hyerim dengan kaki bergantungan di ujung ranjang. Dirinya menatap Hyerim lekat, yang masih saja nangis layaknya anak kecil kehilangan permen kapas. Sebentar, cowok satu ini menggeleng dan berdecak pelan.

Tangis Hyerim seketika memelan saat sebuah tangan tengah menepuk-nepuk lembut puncuk kepalanya. Ketika membuka matanya, Luhan lah yang menepuk-nepuk lembut dirinya sambil tersenyum yang anehnya menyebabkan desiran hebat didada Hyerim yang lekas terpana melihati wajah Luhan. Sedang Luhan masih saja tersenyum lembut dengan mengelus-elus kepala Hyerim, tanpa tahu telah membuat gempa dadakan di dada Sang Gadis.

“Hei, aku tidak mati. Jadi berhenti menangis,” ucap Luhan meski sebenarnya Hyerim sudah menghentikan tangisanya gara-gara gempa di rongga dadanya karena Luhan.

Hyerim tersadar, dia menarik ingusnya dari hidung yang telah memerah. Sebab tangis heboh, walau sudah berhenti, Hyerim jadi agak sesegukan sekarang. Setelah merasa degupan dijantungnya agak mereda, Hyerim mulai bervokal.

“Ta—ta—pi,” tapinya kurang jelas karena sesegukannya.

Kembali Luhan menggeleng-geleng. Tangan yang mengelus kepala Hyerim, dia tarik, membuat Hyerim menghela napas—atau mungkin dari tadi sebenarnya ia menahan napas? Lalu, Luhan menghapus jejak air mata Hyerim dengan kerah lengan kemejanya, yang lagi-lagi membuat Hyerim berhenti bernapas.

“Sudah, sudah. Tak usah menangis begitu,” kata Luhan masih dengan mengelap sisa air mata Hyerim dengan kerah lengan kemejanya dan menilik wajah gadis satu ini.

Pokoknya masa bodoh dengan jantungnya yang bedetak tak karuan, Hyerim mengerucutkan bibir.

“Tetap saja aku takut,” nah kan, suara Hyerim aja serak ketika bersajak begitu.

Senyum tipis Luhan tersungging. Kayak ada yang menggelitik hatinya jadi berbunga-bunga sekaligus membuat perutnya seakan ada kupu-kupu. Walau mesti dipukuli tiga tongkat bisbol, melihat Hyerim menangis karena ketakutan melihatnya terluka membuat Luhan senang tak kepalang.

“Jadi kau mengkhawatirkanku,” ucap Luhan dengan menyelipi senyum yang aslinya ingin mengembang lebar-lebar.

Ia pun merangkum wajah Hyerim dalam kedua telapak tangannya tatkala beres menghilangkan jejak air mata di paras Hyerim. Sedang Hyerim, dia jadi tambah merasa kelu dengan prilaku Luhan, mana lelaki satu ini menatap tepat dimatanya dengan lurus-lurus jua tajam.

Teguk ludah Hyerim nan gugup tercuat, bola matanya bergerak menghindari tatap mata Luhan yang membuat perutnya melilit tapi anehnya membahagiakan bin memabukan yang seakan candu sendiri.

“Begini saja, ya. Bila barang atau binatang peliharaanmu dirusak dan dipukuli, kau pasti marah, ‘kan?” kata Hyerim akhirnya, kemudian menatap Luhan dengan senyum tanpa dosa.

Mendengar imbuhan Hyerim, Luhan menatapnya tak percaya. Geram jadi menghampiri Luhan, lantas dirinya menghempas kasar wajah Hyerim yang dirangkum kedua tangannya barusan. Tentu Hyerim kaget, Si Gadis pun menatap Luhan jengkel. Sedang Luhan tengah menggertakan giginya.

“Hah! Kau bilang aku barang dan binatang?” suara lembut Luhan yang tadi-tadi selayak hilang diganti dengan suara intonasi tinggi dengan wajah merah padam.

Dengan santai dan cuek, Hyerim mengangguk-angguk dengan wajah tanpa dosanya. “Ya, semacam itu. Kau ini, ‘kan rusa peliharaanku.” ujarnya dengan bahu terangkat acuh.

Makin saja gertakan gigi Luhan tambah keras. Tangannya ikut terkepal, ingin sekali menonjok Hyerim tapi ia tahan hasratnya. Jadi tangan kanan Luhan hanya berakhir terbuka di depan wajah Hyerim dan bergerak menutup agak kuat seakan ingin mencakar wajah perempuan marga Kim ini. Akhirnya, Luhan menarik tangannya dan menatap Hyerim agak tajam.

“Hei, kau harus beryukur karena kau perempuan. Wah! Tuhan sangat menyayangimu. Kalau tidak—”

Tangan kanan Luhan sudah terkepal lagi dan melayang ke arah wajah Hyerim tapi tak sampai mengenai wajah Si Gadis dan layangannya terhenti tepat satu jengkal di depan wajah Hyerim. Hyerim hanya menelengkan kepala dengan wajah tak acuhnya.

“—kalau tidak, kau sudah merasakan pukulan yang merupakan siksa duniawi.”

Sebab utaran Luhan yang terdengar menggelikan diliang dengarnya, Hyerim hanya mendecih sembari buang muka dan memangku tangan di atas perutnya. Enggak berniat merespon, Hyerim menyambar tas dan bangun dari duduknya.

“Sudahlah. Ayo kita pulang.”

Hyerim main mengayunkan tungkai. Sedang Luhan menatapi punggungnya dan mendengus keras sebelum akhirnya mengekori.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

“Sehabis ini kau mau minum soju?” vokal Hyerim terdengar seraya melirik profil samping Luhan, minta persetujuan. Keduanya sedang berjalan menuju pintu keluar rumah sakit.

Tatapan Luhan yang tadinya lurus-lurus ke depan, lalu dia pun melirik Hyerim sekilas dengan agak picingan. “Kita baru saja minum-minum, masa kau mau—“ kata-katanya terpotong saat Luhan menatap arah depan lagi, bibirnya mengatup dengan muka terkejut.

Hyerim yang ada di sebelahnya jadi bingung dengan kerutan dalam-dalam. Ikutlah dirinya melirik arah pandang Luhan dan kekagetan ikut menghampirinya, bahkan mulutnya sampai terbuka.

“Kang Haneul?” ceplos Hyerim masih kaget pada lelaki Kang tersebut yang sedang menyender di samping mobilnya dengan senyum menawan serta tangan tersaku di celana kainnya.

Lelaki marga Kang itu melambai masih dengan senyum. “Hyerim-ssi, masuklah,” tawarnya dengan kepala bergerak ke mobilnya.

Spontan Hyerim menganga tak percaya, kemudian menatap Luhan yang terlihat tak suka. Luhan pun balik menatapnya tajam juga lurus-lurus. Secara tiba-tiba, Luhan menyambar tangan Hyerim dan menariknya jalan bersama. Sedang Hyerim masih terkejut akan dua aksi yang mengejutkannya.

Aura mencengkam terasa saat Luhan melewati Haneul. Jelas betul Kang Haneul meliriknya dengan kurva menyungging kepenuh artian. Luhan tak kalah juga meliriknya tajam. Tahu-tahu saja, tangan Haneul mencegat dengan megenggam gandengan Hyerim dan Luhan. Sontak mata Hyerim melotot melihatnya.

Rasanya darah mendidih sampai keubun-ubuh Luhan, dirinya merasa giginya menggertak lalu membalik badan menatap Haneul yang berlagak santai. “Kang Haneul, bisa kau lepas?” kata Luhan dengan aura tajamnya.

Sementara Hyerim jadi bingung dengan situasi sekarang. Apalagi Haneul balas menatap Luhan santai, namun sahabatnya itu malah menatap Si Lelaki Kang tajam. Saking kelewat santai dengan kuluman senyum yang dibuatnya, Luhan ingin sekali menampar Kang Haneul detik ini.

“Luhan-ah,” Haneul panggil namanya dengan informal, membuat Luhan membuka mulut dan memasang wajah meringis tak percaya. Tetapi, Haneul setia memasang tampang santai. “Aku hanya ingin mengantar Hyerim pulang. Tidak boleh?”

Wajah Luhan jadi berubah menahan amarah, dirinya menelengkan kepala dan memberikan tatapan intimidasinya. “Tentu tidak boleh. Aku tidak—“

Sedari barusan diam, Hyerim menatap Luhan binggung dan lantas menyela pria Lu ini, “—Apa hakmu tidak mengizinkan?”

Spontan kedua lelaki yang akan bersiteru ini menatap Hyerim yang menatap Luhan kesal. Haneul menampilkan senyum puas. Luhan mengatup bibir dengan wajah geramnya. Sedang Hyerim menatap Luhan datar.

Ya! Luhan. Kalau kau ingin pulang bersama denganku karena aku memilih naik mobil dibanding bus, bilang saja. Tak usah berdalih tak mengizinkanku pulang bersama Haneul,” imbuh Hyerim keras dan sarkas, dirinya menghempaskan genggaman Luhan dengan kasar kemudian menatap Haneul.

“Haneul-ssi, terima kasih. Aku akan pulang bersama denganmu. Kau sudah jauh-jauh ke sini,” mimik Hyerim berganti sumringah dengan senyum cerianya.

Melihat prilaku gadis bermarga Kim ini, Luhan mendesah kelewat tak habis pikir. “Dia punya kepribadian ganda atau bagaimana?” gumam Luhan dengan wajah memberengutnya.

“Ah, Kim Hyerim-ssi, tak apa. Aku melakukannya karena kau yang paling cantik di reuni SMA kita hari ini,” jawab Haneul dengan wajah menunduk dan kaki kiri bergoyang-goyang. Persis orang kasmaran.

Mendengar ungkapan itu, Hyerim merasa wajahnya kaku. Bahkan jantungnya serasa berhenti berdetak. Pipinya mendadak panas. Astaga, perlukah Hyerim tekankan bahwa dia dulu sangat mengidolakan Kang Haneul? Maka dari itu, Si Gadis sekarang menunduk. Sementara Luhan melongo mendengar ungkapan saingannya semasa SMA itu, sampai-sampai mulutnya menganga.

“Ah, kau bisa saja,” sahut Hyerim merona. Diam-diam, Luhan melihatnya dan tanpa sadar sudah menggertakan gigi. Waktu berikut, kembali Hyerim mendongak dengan senyum. “Baiklah. Aku ikut pulang bersamamu, walau sebenarnya tak enak tapi—“

Mata Hyerim melebar. Mata Luhan juga melotot saat Haneul main menarik tangan kanan Hyerim dan megenggamnya. Hyerim mengalihkan fokus mata ke arah lelaki bernama lengkap Kang Haneul ini dengan wajah tololnya.

Seuntas senyum Haneul lihatkan bak selembut salju. “Tidak merepotkan kok. Aku melakukannya karena hmmm…” jaka satu ini mendongak sejenak dengan gumaman panjang sampai kembali menatap Hyerim dengan senyum lebar kasmarannya. “… karena kau cantik.”

Sialan, Hyerim serasa ingin menangis dipuji begitu terus bahkan bibirnya kelu sekali padahal ingin melafal terima kasih. Sedangkan Luhan, dia dari tadi ingin sekali menonjok Kang Haneul tetapi menahannya. Tak lucu, sudah babak belur malahan menimbulkan keributan lagi.

Tatkala Haneul menariknya untuk masuk mobil, Kim Hyerim menahan langkah dulu dan menatap Luhan yang langsung menatapnya juga. “Mau ikut tidak? Kau tidak malu wajahmu babak belur seakan habis tawuran?” tawar Hyerim, harusnya kelihatan prihatin tapi malah kelihatan sarkastik.

Luhan tak memberi respon, malahan membuang muka ke arah lain dan berdehem dengan mensakukan tangan di celananya. Hyerim pun mendengus akan lakon pemuda satu ini.  Giliran Haneul yang menatapnya, senyumannya enggak luntur sama sekali.

“Benar, Luhan. Tidak mau ikut? Kalau ya, terima kasih. Kita bisa berduaan.”

Berduaan. Kata itu membuat Luhan membelokan kepala ke arah Haneul dengan mata melotot. Pikirannya bercabang ketidak-tidak, apalagi Si Kang satu itu tersenyum penuh arti dan Hyerim juga malah ikut-ikutan tersenyum begitu. Luhan jadi panik seketika. Keduanya pun membalik badan dan hendak memasuki mobil. Kalutnya Luhan makin menjadi.

“Hei! Aku ikut!” seru Luhan dengan wajah memberengut dan menunjuk-nunjuk punggung keduanya. Lekas dirinya menderap langkah lebar-lebar dengan rahang mengatup keras.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Hening dari tadi jadi membuat atmosfer canggung dalam mobil Haneul. Si Pemilik tentu ada di balik stir kemudi dan di sebelah tempat duduk supir, terdapat Hyerim. Sedangkan Luhan duduk di jok belakang dengan menatap dua manusia di depannya tajam dengan tangan terlipat depan dada.

“Hyerim-ssi,” Kang Haneul memecah hening dengan memanggil perempuan di sebelahnya serta meliriknya sekilas.

Lantas Hyerim menoleh ke arahnya. Sungguh Luhan ingin menarik bibir Hyerim yang lagi tersenyum manis dan kelebaran.

“Ya?” tuh lihat, bahkan suara Si Dara Kim terdengar bak salju saking lembutnya. Mendengarnya, Luhan kepalang sebal.

“Aku dengar kau ini penggemarku saat SMA,” ujar Haneul dengan senyum malu dan wajah seri-seri. Memperhatikan, Luhan memicing curiga.

Hyerim salah tingkah dengan terseyum malu-malu dan mengangguk pelan akhirnya. “Emmm, begitulah,” jawabanya dan langsung menatap arah depan lagi dengan wajah gugup.

Haneul terlihat menahan senyumnya, agak juga menunduk malu-malu. Jadilah Luhan jengah setengah mati. “Senangnya aku mempunyai penggemar secantik dirimu.”

Sedang Luhan menganga, Hyerim bersemu seketika dan menunduk dalam. Bahkan cewek satu itu sempat-sempatnya menyelipkan helai rambut di belakang telinga dengan gaya malu-malunya. Nyaris aja Luhan melayang tonjok pada perempuan marga Kim itu.

“Oh ya. Mau tidak kau memberi nomor ponselmu padaku, Hyerim-ssi,” ucap Haneul sembari meronggoh sakunya kemudian menyodorkan ponsel.

Terkejut tentu saja dialami Hyerim yang mengerjapkan mata beberapa kali, mencoba mengorek kuping apakah salah dengar atau tidak. Sebab Hyerim tak mengambil jua ponselnya, Haneul sedikit menggoyangkan tangannya dengan fokus tetap ke jalanan. Hyerim mengedip serta tersadar, langsung dia mengambil ponsel Haneul dan mulai menggerakan jari dengan semat senyuman diranum. Sedang Luhan sudah geram setengah mati dengan death glare bergilir pada Haneul dan Hyerim.

Sambil mengetik nomornya di kontak baru ponsel Haneul, Hyerim bervokal, “Aku akan memberikan nomorku. Dan sekalian juga untuk berterimakasih karena sudah mengantar, aku akan menghubungimu untuk mentraktir.”

Menjijikan sungguh, pemandangan yang Luhan lihat. Hyerim yang tersenyum-senyum dan Haneul yang bersemu dengan melirik Hyerim sekilas. Memangnya dia obat nyamuk ya di sini? Dengan rahang mengatup dan kegeraman, dengan nekat Luhan menyeruak di antara Hyerim dan Haneul lantas berteriak.

“AWAS! ORANG! ORANGGGG!”

Sontak Haneul membulatkan mata dan memandang penuh ke arah depan. Lantaran badan Luhan yang jadi penghalang karena menongol di antara bangku supir dan bangku di sebelah supir, Haneul dan Hyerim pun kaget tatkala ada penghalang diantara keduanya. Bahkan ponsel Haneul sampai jatuh dari tangan Hyerim.

‘CKRITTTTT!’

Pedal rem diinjak mendadak membuat tubuh Hyerim dan Haneul terdorong ke depan secara otomatis akibat efek berhenti tiba-tiba. Luhan juga nyaris terjungkang karena posisinya. Setelah menyebabkan Hyerim serta Haneul nyaris jantungan, Luhan menarik tubuh dan menempel lagi di jok belakang dengan senyum miring nan licik.

“Orang? Mana orangnya?” gumam Haneul bingung dan menggerakan kepala untuk meneliti arah depan.

Hyerim juga ikut-ikutan bingung dan berusaha mencari eksitensi orang yang dimaksud Luhan. Tapi tentu saja hasilnya nihil maka keduanya menoleh ke Luhan, meminta penjelasan. Sedang lelaki Lu itu hanya memasang tampang sok lugu.

“Tadi aku melihat orang kok,” sanggahnya kelihatan yakin dengan kepala angguk-angguk. Luhan menggerakan bola mata dan tampak berpikir. “Apa mungkin hantu?” gumamnya pada diri sendiri, sok-sokan bingung.

Melihat Luhan yang begitu, Hyerim menggeleng-geleng dengan tatapan datar lalu membalikan badan ke arah depan lagi, begitupula Haneul. Tahu ponsel Haneul jatuh ke bawahnya, Hyerim pun mengambilnya.

“Huh, tadi aku tinggal tekan tombol save number jadi harus diulang lagi.” gerutu Hyerim lalu mulai mengetik ulang nomornya.

Di sisi lain, Kang Haneul menatap Luhan yang tampak menyeringai dari spion depan. Mata Haneul menyipit lalu berusaha tak acuh dan mulai menjalankan mobilnya lagi.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

“Terima kasih, Haneul,” kata Hyerim saat tubuhnya sudah keluar dari mobil Haneul dan menghadapnya sembari tersenyum.

Haneul balas senyum Hyerim tak kalah manis. Sedang Luhan yang ada di sebelah Hyerim, menatap keduanya lagi-lagi datar, sudah tak tahan sebenarnya melihat keduanya saling tatap dengan senyum kemanisan yang overdosis.

“Ya, selamat malam, Hyerim. Mimpikan aku, ya,” ucap Haneul dengan senyum tipis dan mengangkat tangan tuk melambai.

Ucapan Haneul membuat Hyerim terkekeh. “Tentu karena kau tak bisa mampir ke rumahku. Jadi kau harus mampir kemimpiku.”

Utaran gadis di sebelahnya menyebabkan Luhan menatapnya dengan mulut menganga dan mata melebar. “Ya! Kau ingin mengajaknya mampir ke rumah? Untuk apa? Mengajaknya makan ramen?” nada Luhan tinggi selayak menghardik.

Hyerim mendelik kesal ke pemuda satu ini yang tampak marah, dan well, Hyerim jadi jengkel juga. “Iya, aku ingin mengajaknya makan ramen!” tantang Hyerim dengan mata melotot.

Mata Luhan ikut-ikutan melotot. Walau bukan orang Korea, Luhan paham apa maksud makan ramen antara gadis dan pria. Itu modus terselubung untuk menggoda. Kepala Luhan bergerak-gerak mengedar pandang ke sana-sini. Dan Hyerim hanya tersenyum kecut dengan Haneul yang tersenyum menahan tawa. Tahu-tahu, Luhan mengambil ponsel dari saku celana dan mulai mengotak-atiknya dengan tampang serius.

“Akan kuberitahu ayahmu. Lihat saja, aku akan meneleponnya dan mengatakan kau akan mengajak pria makan ramen di rumahmu setelah tinggal sendiri di Seoul. Aduh, mana nomor ayahmu.” kata Luhan serius dengan mata membelalak menscroll down kontak ponselnya.

Lantas Hyerim menyambar tangan Luhan yang mengukung ponsel, pria marga Lu ini sontak menoleh ke arahnya yang tengah memasang tampang bengis.

“Kau gila, ya?” desis Hyerim dengan mata lasernya. Diam-diam, Kang Haneul menyelipi senyum memperhatikan keduanya.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Pagi telah datang bahkan langit sudah mulai terang, pukul delapan pagi terpampang sekarang. Dan sudah dari pagi-pagi buta, Kim Hyerim mematut diri. Dirinya lagi duduk di depan meja rias dengan wajah sumringah luar biasa. BB Cream ia oles di wajahnya dengan senyum terkembang sangat lebar.

“Kim Hyerim, kau sungguh penggemar beruntung!” ucap Hyerim menggebu lalu terkekeh-kekeh sendiri dengan badan gerak-gerak layak cacing kepanasan.

Well, singkatnya begini. Semalam saat hendak tidur, Hyerim mendapat pesan dari nomor Kang Haneul. Nyaris dirinya jatuh kesandung kakinya sendiri karena loncat-loncat membaca pesan Haneul yang mengajaknya pergi hari ini. Bayangin saja, semasa SMA, Hyerim sangat suka sekali kelihaian Haneul di lapangan hijau, dan sekarang diajak jalan berdua yang lebih condong ke—ekhem—kencan. Lucky fans, bukannya begitu?

Kemeja putih berpaduan dengan jins biru, juga make up natural dengan surai panjang yang tergerai merupakan penampilan Hyerim sekarang. Cantik? Jangan tanya, jelas sekali cantik. Kuluman senyum Hyerim terpatri, sentuhan liptintnya ia lakukan sebagai penutup dan mengecap bibirnya sebentar.

“Nah selesai!” ujar Hyerim riang dengan senyuman lebar. Dia menyambar tas selempang putihnya—yang merupakan pemberian Luhan, kemudian melangkah keluar rumah sewanya.

Saat Hyerim sedang menutup pintu, Luhan yang rumahnya berhadap-hadapan dengannya keluar dari rumahnya dan mendapati punggung gadis di depannya ini bersiap pergi. “Hei, kau mau ke mana?” tanya Luhan langsung dengan alis terangkat sebelah.

Tubuh Hyerim berbalik dan berhadapan dengan Luhan yang keheranan, gadis ini tersenyum dengan paras penuh misteri. “Rahasia.” jawabannya agak terdengar layak bisikan dengan mata mengedip.

Diberi respon begitu, Luhan hanya mencibir. Baru saja Luhan ingin berfrasa ria lagi, dari bawah gang tangga rumah mereka, Kang Haneul keluar dari mobilnya yang baru menepi, dengan menawannya. Pria bermargakan Kang ini melihat sepasang sahabat yang berdiri hadap-hadapan di atas tangga yang ada di depannya, lekas dirinya tersenyum hangat bak biasanya.

“Kim Hyerim,” panggilan Haneul menyapa telinga Hyerim dan Luhan yang langsung menoleh ke arahnya yang lagi melambai.

Raut wajah Hyerim langsung semangat sekali dengan senyum lebar-lebar. Kontras dengan Luhan yang melongo lalu menatap gantian Haneul dan Hyerim dengan wajah jengkel. “Jangan bilang kau akan pergi dengan—“

Kata-kata Luhan terputus saat Hyerim menatapnya dengan cengiran dan menyarangkan pukulan ringan di pinggangnya dengan gestur gemulai. “Rusaku sayang. Emmm, ralat, rusa peliharaanku, aku ingin kencan, oke? Jaga rumah baik-baik.” kata Hyerim sok manis kemudian mengacak rambut Luhan yang melongo dengan mulut nganga.

Dengan langkah gontainya, Hyerim menuruni tangga menuju Haneul. Senyuman Si Gadis belum luntur, padahal dari sudut Luhan, senyuman Hyerim yang begitu sangat menjijikan. Hyerim sudah ada di depan Haneul dengan saling lempar senyum. Luhan di posisinya pun lagi-lagi jadi pengamat dan sedang berkacakak pinggang dengan geleng-geleng bersama wajah menjijikannya.

“Haneul-ssi, karena kemarin kau sudah mengantarku pulang maka aku akan mengajakmu makan,”

Mulailah Hyerim berkata dengan aksen feminimnya yang tak seperti biasa, sempat-sempatnya juga dia menyelipkan helai rambut di belakang telinganya sambil menunduk malu-malu. Luhan tentu melihatnya, spontan juga bola matanya berputar jengah akan lakon Hyerim.

Sedang Haneul, ia ikut-ikut tersenyum seri-seri bahkan memberanikan diri mengulurkan tangan mengelus surai Hyerim. “Baiklah. Karena kemarin malam kau mengatakan ramen, kita makan ramen saja, bagaimana?”

Mendengarnya, Luhan membuka mulut lebar serta mendadak resah. Cowok satu ini menggerak-gerakan kepala mengedar pandang ke sana-sini. Sialan sekali Kang Haneul itu. Sedang Hyerim yang seri-seri karena skinship elus rambut, mengerjapkan mata dengan wajah tololnya.

“Ya?” sahut Hyerim dengan mata mengerjap dan Haneul yang di depannya hanya tersenyum menahan tawa serta menarik tangannya dari rambut Hyerim.

Masih tolol, Hyerim belum juga bergerak ketika Haneul beranjak serta membukakan pintu jok di sebelah supir. Hyerim menatapi lelaki itu yang menatapnya sambil menggerakan kepala mengodekan Hyerim untuk masuk.

“Masuklah. Makan di mana saja, yang penting kita kencan.”

Kencan. Enam huruf, satu kata yang membuat Hyerim kayak berbunga-bunga sampai mengembang senyum lebar dan refleks melangkah mendekati Haneul yang secara gentle membukakan pintu untuknya. Dengan gaya ayunya, Hyerim masuk ke mobil dan senantiasa Haneul menutup pintu dengan machonya, lantas beralih ke pintu sebrang tempat supir. Sebelum memasuki mobilnya, Haneul menatap Luhan yang masih ada di tangga depan rumahnya dan tampak lelaki Lu itu mematung. Lempar senyum penuh arti dilakukan Haneul pada Luhan yang spontan melolot, kemudian Haneul membuka pintu mobilnya dan masuk ke sana. Tatkala mobil Haneul berjalan menjauh, Luhan mencerna semuanya secara rapi diotak.

Kepala Luhan ia telengkan ke kanan dengan wajah kosong, “Tunggu… mereka sungguh kencan?” gumam Luhan dengan tololnya, lantas kata-kata Haneul pada Hyerim sebelum pergi terngiang diotak Luhan; ‘Yang penting kita kencan’.

Lekas netra Luhan membola, tubuhnya jadi gerak-gerak resah. “Ehhh… tidak, tidak! Sialan, Kim Hyerim, kau tidak boleh kencan dengannya!” teriakan Luhan pecah dengan muka geram kemudian mulai menuruni tangga dengan napas memburu.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

“Bibi, ramennya dua dan satu botol soju, ya!” vokal Hyerim riang tanpa membuka buku menu sama sekali.

Bibi pelayan pun menuliskan pesanan gadis ini kemudian membungkuk setelah berkata untuk menunggu pesanannya. Atensi Hyerim teralih kembali ke Haneul, keduanya saling lempar senyum lagi. Well, sesuai rencana awal, mereka berdua memang makan dengan Hyerim mentraktir. Haneul bersikukuh pingin makan ramen, maka plan Hyerim ialah membawa pemuda itu ke restoran langanannya.

“Emmm… Haneul-ssi,” panggil Hyerim ditengah-tengah diam-diaman keduanya, gadis Kim ini tampak menggerakan badannya canggung tanpa niat balas menatap Haneul yang menatapnya bertanya. “Apa kau sudah punya pacar?” tanya Hyerim dan baru berani menatap pemuda di depannya ini.

Saat baru ingin menjawab, botol soju pesanan mereka datang dan jadilah jawaban Haneul tertunda dengan ucapan terima kasih mereka berdua pada bibi pelayan. Saat bibi pelayan pergi, Hyerim pun membuka botol soju dan menuangnya ke gelasnya dan Haneul, langsung pula Si Gadis meneguk soju sambil memejam mata penyalur gairahnya.

“Ahhh,” desah Hyerim nikmat seraya menaruh gelas sojunya. Tampak Haneul juga baru beres meneguk sojunya dan memejamkan mata sambil mendesah. Tatkala Haneul telah melekatakan gelasnya, Hyerim menghunus pandang penasaran. “Jadi… tentang pertanyaanku tadi, apa kau sudah punya pacar?”

Teringatlah Haneul pada jawabannya yang belum sempat ia lontarkan, dia pun menatap Hyerim penuh rahasia yang mana membuat Hyerim makin kepo saja. Senyum penuh makna Haneul mengembang menggelitik Hyerim melebarkan mata kian menanti jawaban.

Tahu-tahu, pemuda Kang ini menggeleng dengan kepala menunduk serta senyum tipis. “Belum,”

Sebab akan jawabannya, mata Hyerim melebar—kalau tadi penasaran, sekarang antusias, lalu kembali Hyerim menuang soju dan meminumnya, dirinya jadi semangat empat lima. Kepala Haneul mendongak disaat Hyerim masih meminum soju, dirinya melihatkan wajah berseri.

“Aku belum punya pacar karena aku menunggumu, Kim Hyerim.”

Ungkapan blak-blakan Haneul menyebabkan Hyerim tersedak soju yang lagi dia minum. “Uhuk, uhuk,” botol sojunya ia letakan kemudian Hyerim menepuk-nepuk dadanya.

Aduh, apa tadi? Menunggu Hyerim? Hyerim enggak salah dengar, ‘kan? Sialan, hatinya jadi berdesir tak karuan gini. Melihat gadis di depannya ini tersedak, Haneul menatapnya khawatir lalu mengulurkan tangan untuk menepuk-nepuk bahu Hyerim.

“Hyerim, kau baik-baik saja?” tanya Haneul dengan bola mata lekat akan khawatirnya itu.

Batuk Hyerim mereda akhirnya, cewek Kim ini menatap Haneul lekat tanpa berkedip lantaran ucapan pemuda ini sekon lalu. Sedang Haneul tersenyum melihat Hyerim yang udah enggak apa-apa, dia menarik tangan yang menepuk bahu-bahu Si Marga Kim ini dengan mimik leganya.

“Ah syukurlah kau tidak apa-apa,”

Senyum bak pangerannya membuat hati Hyerim jadi guling-guling, apalagi fakta Haneul mengkhawatirkannya terus juga—

“Ekhem,” dengan aksi canggungnya, Hyerim meloloskan deheman lalu menyelipi senyuman. “Maaf tadi hanya terkejut.” ujarnya dengan kepala menunduk malu.

Sebelum momen canggung ini berlanjut, untungnya pesanan ramen mereka datang. Kedua manusia yang sudah kepalang lapar ini menyambutnya sukacita dan mulai memakan ramen tersebut. Akhirnya, mau Hyerim atau Haneul, larut memakan ramen ditengah hening. Hanya ada suara seruput nikmat dari ranum keduanya saja. Tahu-tahu dimasa-masa nikmat akan ramen, Haneul memberhentikan makannya sejenak dan menatapi Hyerim yang masih larut sama ramennya. Tahu-tahu saja, Haneul menyentuh tangan Hyerim yang nganggur di atas meja.

Kaget tentu saja dialami Hyerim yang langsung menelan bulat-bulat ramennya dan menatap Haneul, lagi-lagi tanpa sanggup berkedip. Aduh, gak perlu acara mengingat segala, ‘kan kalau Haneul dulu idola Hyerim semasa sekolah? Back tim sepak bola sekolah yang jagonya gak kepalang. Jago juga buat cewek histeris selain mengiring bola.

Mata Haneul nan lembut bertemu mata Hyerim yang kelewat bingung. Shit! Hyerim ingin menjerit, saat Haneul mengelus tangannya yang dia pegang. Tapi Hyerim berusaha keras jaga image dan berakhir hanya menjilat bibir bawahnya gugup.

“Hyerim-ssi, sebenarnya aku…” lafal aksara Haneul menggantung. Dan dalam menantinya, Hyerim mengedip-ngedipkan dwimaniknya penasaran.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Sahabat dan saingannya kencan? Jawabannya; enggak setuju sama sekali. Itulah yang dipikirkan Luhan. Well, childish sih kalau udah lulus SMA aja momok saingan antaranya dan Haneul masih dibawa-bawa. Dari dulu, Luhan memang menaruh rasa tak sukanya pada Haneul. Dia—Luhan, ‘kan kapten sepak bola, penyerang pula. Eh, Haneul yang cuman back dan enggak menyandang embel-embel kapten malahan lebih populer darinya. Kesal? Banget! Apalagi Kim Hyerim jadi wakil ketua fansclubnya Kang Haneul semasa SMA, kesalnya Luhan kian menumpuk aja.

Jadi, jangan tanya ekspresi dan respon Luhan ketika tahu Hyerim dan Haneul kencan hari ini. Memberengut, tertekuk, emosi, marah, ingin mengumpat dengan kata-kata kasar dan mengabsen nama binatang itu ingin Luhan realisasikan sekarang juga. Tungkai Luhan berayun gusar di pendestrian, kepalanya mengedar menyensor sana-sini dengan gusarnya juga.

“Kedai ramen, kedai ramen,” gumam Luhan menggebu, diafragmanya ikut naik-turun tak menentu, layak orang emosi. “Bila ke kedai ramen pasti Hyerim ke sini,” ucap Luhan yakin kala dirinya berada di satu kedai ramen langanannya dengan Hyerim.

Dipandangi dengan kobar yakin lah kedai di depannya, lantas Luhan mengangguk-angguk dengan menggebu. Layak pencuri, dirinya melangkah pelan-pelan—tepatnya mengendap-endap dengan pandang juga muka waspada ke dalam kedai ramen. Saat sudah ada di dalam kedai, kepala Luhan mengedar dan sibuk mencari sosok Hyerim dengan pandang elang.

“Mana sih nenek lampir satu i—“

“—Hyerim-ssi, sebenarnya aku…”

Pas-pasan ketika Luhan menggertu, suara Haneul yang sampai ketelinganya membuat gerutuannya terpotong. Segera Luhan menoleh ke sumber suara, akhirnya dia pun menemukan Hyerim yang duduk membelakangi tempatnya dengan Haneul duduk di depan gadis garis Kim itu. Tempat duduk keduanya ada beberapa meter dari Luhan, makanya cowok satu ini agak mendekat dan menunduk menyembunyikan diri di balik meja kosong yang ada di belakang dua insan itu. Seperti agen gadungan, Luhan menyembulkan kepala memperhatikan fokus kepada Hyerim maupun Haneul.

“… sebenarnya aku… menyukaimu,”

Bukan cuman Luhan yang kaget. Diberi pengakuan kelewat blak-blakan begitu, Hyerim juga kaget dengan mata melebar dan wajah tolol. Rasanya Luhan pingin ngelabrak segera lelaki garis Kang itu sekarang, tetapi dirinya sekon ini hanya bisa sabar dengan tangan terkepal dan mata berapi-api. Sedang Haneul kian erat menggengam tangan Hyerim dan bahkan memberi sentuh elusan lembut segala di sana.

Senyum nan ditampilkan Hyerim tampak kaku. Ingin hasrat menarik tangannya yang ada dalam genggam Haneul, tapi rasanya enggak rela juga. Aduh mana tatapan lelaki satu ini membius sekali.

“Haneul-ssi, maksudmu apa?” tanya Hyerim lambat-lambat. Dirinya tak berani menatap Haneul, maka dari itu dwimaniknya bergerak melirik objek lain.

Napas Haneul terhela lalu menarik tangannya yang megenggam Hyerim. Selayak lega, Hyerim menarik tangannya dari atas meja dan menautkannya jadi satu di atas paha, kepalanya agak menunduk masih tak berani menatap langsung Kang Haneul.

Ikut-ikutan pula Haneul menunduk, ada gugup campur ragu diparasnya. “Aku hanya menyukaimu, itu saja,” kemudian lelaki ini kembali menatap Hyerim yang kebetulan baru berani menatapnya, sebab dari ini pandangan mata keduanya saling sapa.

“Aku tidak suka saat kau dekat-dekat dengan Luhan. Apalagi rumah kalian hadap-hadapan. Aku… tidak suka. Aku ingin kau jauh-jauh dari Luhan karena aku…” mendadak lelaki bernama Kang Haneul ini jadi gugup, kepalanya ia miringkan ke kanan dengan tenggorokan rasanya tercekat, ragu ingin bersua apa.

Mendengar namanya dimention segala, Luhan berikan tatapan datar dan lasernya pada Haneul. Amarahnya sudah sampai ubun-ubun. Dih, Haneul pikir Luhan juga suka melihatnya dekat-dekat Hyerim? Omong-omong ya, yang lebih berhak melarang Hyerim tak boleh dekat cowok ini-itu, ‘kan Luhan dibanding Haneul. Siapa juga Kang Haneul? Tolong ya, Luhan sudah bersahabat dengan Hyerim semenjak ingusan, selayak dari orok, sudah tujuh belas tahun! Huh, rahang Luhan jadi mengatup keras menahan emosi lantaran sebal setengah mati, pun tatapannya makin berapi-api saja pada Kang Haneul.

Di sisi Hyerim, perempuan ini tak tahu harus beraksi bagaimana. Lain sisi seperti terbang ke awang-awang ditembak oleh Haneul. Tapinya, disudut lain, enggak suka juga harus disuruh jauh-jauh dari Luhan. Tujuh belas tahun bersama itu enggak bentar, meski suka adu cekcok.

“Haneur-ah,”

Keparat, aduh, Hyerim keceplosan memanggil Haneul dengan sapaan akrab saking gugupnya. Lihat, Haneul jadi berbinar antusias. Hyerim sendiri menggigit bawah ranumnya sembari memejam mata. Sementara Luhan melongo sebagai pengamat ilegal.

Berusaha meminalisir rasa gugup, Hyerim berlagak cool dan mulai berdehem. “Ermmm… emmm… ekhem,” sehabisnya tersenyum sebiasa mungkin walau realitanya kaku-kaku jua. “Maksudku Haneul-ssi,” koreksi Hyerim.

Mungkin sebab koreksian dari Hyerim, pemuda bermargakan Kang ini berani kembali tuk meraih tangan Hyerim serta menggenggamnya erat bahkan menariknya ke dadanya. Gerak aksinya menimbulkan kejut pada Hyerim nan tersentak.

“Jangan panggil aku seperti itu, aku lebih suka kau memanggilku dengan santai. Saat kau mengucap ‘Haneur-ah’, rasanya jantungku berdegup kencanggg sekaliiii,” aksen bicara ayat kata akhirannya nampak dilebih-lebihkan, menimbulkan rasa risih tertoreh pada Kim Hyerim—terbukti dari senyum kaku Si Dara.

Tawa pelan bin kaku Luhan dengan wajah tak habis pikir, terlakoni. Kepalanya mencuatkan geleng-geleng. “Ha-ha-ha, berdegup katanya? Aish, baru dipanggil begitu saja jantungnya lemah. Bagaimana denganku, huh? Hyerim sering main memelukku, bahkan pernah men—“

Tiba-tiba Luhan menjilat bibirnya sendiri dengan mimik gugupnya. Kok jadi ingat ‘itu’ segala? Luhan memalingkan wajah yang seketika memerah karena malu yang dia buat sendiri sebab mengingat dirinya dengan Hyerim pernah ber—

“Ash, Si Kang Sialan itu baru dipanggil akrab saja sudah berdegup-degup. Si Kim Hyerim Sialan itu suka main memeluk, mengelus rambutku, bertingkah imut, menarik atau menggenggam tanganku. Dan diriku… diriku…” monolog Luhan terputus kembali dengan wajah kebakaran jenggot. Frustasi, dirinya mengacak-acak rambut sendiri. “… diriku juga… merasakan jantungku berdetak keras karenanya.” dengan gumaman pelan, monolognya finish dengan wajah sebelas-dua belas dengan kepiting rebus.

“Haneul-ssi, aku memang penggemarmu sebagai back tim sepak bola yang tampan…” tahu-tahu fokus Luhan sudah jatuh lagi pada dua manusia marga Kim dan Kang itu, matanya membola mendengar kata tampan lolos dari bibir Hyerim. “… tapi untuk masalah menyukaimu sebagai lelaki. Aku—“

“—Aku akan membuatmu menyukaiku, bagaimanapun caranya.” penggal Haneul menyebabkan bibir Hyerim terkunci rapat dengan tubuh kaku.

Tubuh Luhan sama-sama kaku juga mendengarnya. Bingkai ketidakpercayaan terlihat rinci diwajah tampannya, dirinya melongo abis-abisan. Serius? Kang Haneul ingin membuat Hyerim menyukainya? Kemudian keduanya sungguh berkencan? Kok seram sekali Luhan memikirkannya, sungguh.

Tahu-tahu saja, tangan kanan Haneul menyentuh pipi Hyerim. Kedua insan ini pun saling pandang dengan lembut. Larut serta terlena sampai Hyerim tak menghiraukan tatkala Haneul mulai mencondongkan wajah dengan mata terpejam ke arahnya. Malahan dara Kim ini terlarut ikut memejamkan manik dengan refleks. Namun keterlalutan tak berlaku pada Luhan sebagai pengamat. Sontak dirinya berdiri dari tempat persembunyiannya, wajahnya sudah merah padam penuh emosi, pun tangannya terpangku di pinggang.

Ya! Ya! Ya! Kim Hyerim! Sialan kau! HEEEEIIII!” teriakan Luhan melolong keras-keras.

Tidak hanya Hyerim dan Haneul yang tersentak dan langsung membuat spasi lebar kembali, orang-orang di kedai juga ikut-ikutan tersentak bahkan sampai ada yang tersedak. Dengan tungkai tergeret lebar-lebar, Luhan mendekati dua manusia tersebut dengan amarah. Kemudian melayangkan tatapan bengis bergantian pada Hyerim juga Haneul, yang masih diselimuti kaget. Hyerim menatap Luhan kesal.

“Luhan, apa yang kau lakukan di sini?” seru Hyerim, intonasinya nyaris menggelegarkan teriakan kalau tak menahan diri juga mengingat ada di sebuah kedai ramen.

Belit marahnya Luhan luntur langsung. Tatapan berapi-apinya lenyap tertelan entah ke mana. Tangannya yang berkacak pinggang pun mulai turun. Pun kepalanya buang muka ke arah lain, intinya gugup ditodong tanya begitu. Di lain sisi, Kang Haneul menatapnya terganggu dan menyelipi tanya yang sama perihal kenapa Luhan bisa di sini.

Mata Hyerim memicing curiga pada Luhan yang buang muka. “Jangan bilang kau mengikutiku kencan.”

Tertangkap basah. Luhan memalingkan wajah menatap Hyerim lagi dengan mata membelalak. Sementara Si Gadis memiringkan kepala curiga menatapnya. “Ahnii… (enggak)”

Luhan berdalih dengan kepala bergerak-gerak resah, Hyerim pun melipat kaki kanannya berpangku di atas kaki kiri dengan tangan terlipat depan dada, tak luput dengan picingan obsidiannya yang curiga.

Na… —nado… ramyeon… (aku juga ingin ramen)” alis Hyerim berjungkit tak paham mendengarnya.

Dengan paras gugupnya, Luhan menyambung katanya lagi dengan pita suara lebih percaya diri. “Nado ramyeonrago! (Kubilang aku juga ingin ramen)” dagunya menunjuk ramen Hyerim yang menganggur di atas meja.

Dengan kerefleksannya, Hyerim menatap ramennya yang sepertinya mulai dingin. Kang Haneul ikut jua menatap ramen dan Luhan bergantian dengan bingung. Tangan Hyerim ditarik Luhan membuat perempuan itu berdiri dan menatapnya tak nyaman. Baru lidah Hyerim ingin bersilat melolongkan aksara protes, Luhan sudah lebih dahulu berfrasa.

“Aku juga ingin ramen! Aku sudah menyelamatkanmu kemarin sampai rela babak belur! Aku juga merasakan jantungku berdegup setiap kau menyentuhku, bahkan memandangku dengan… errr…. i….mutnya! Lalu, aku tak suka kau dekat-dekat dengan Kang sialan ini yang merupakan sainganku saat SMA. Ya! Kim Hyerim! Kau tak boleh kencan dengannya, kau juga barusan hampir berciuman dengannya. Tak lupakah dirimu bahwa ci—“

Semprot-semprotan kelewat kesetanan Luhan mengambang karena satu aksara yang tak sanggup ia lafal. Sedangkan Hyerim yang dijejali semprot-semprotan edan Luhan, hanya menatap pemuda Lu ini tanpa berkedip dan melongo tak percaya. Kang Haneul juga tertawa tanpa suara sambil menunduk dan menutup mulutnya, entah mengapa kedengarannya geli menggelitik saja semprotan Luhan.

Ya!” frasa Hyerim akhirnya lalu menyentak tangan Luhan yang mencengkamnya. Dirinya mendelik ke pemuda ini dengan decihan lolos, lantas memangku tangan depan dada dengan ranum mencebik. “Kau habis obat atau apa?” utar tanya Hyerim sok prihatin menatap Luhan yang memilih menghindari tatapannya.

“Intinya aku ingin ramen! Karena aku juga menyelamatkanmu kemarin.” Luhan menyajakan kata tanpa menatap Hyerim balik, pun mimiknya kelewat gugup bin malu. Aduh, jantung brengseknya malahan berdentum-dentum segala karena uneg-uneg hatinya yang tersalurkan pada Hyerim.

Tatapan Hyerim terbinar tak percaya pada Luhan dengan aksi geleng-geleng bersama tangan terlipat di depan dada. “Ckckckck.” decak Sang Gadis Kim.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Singkatnya, Luhan ikut makan ramen juga akhirnya. Sebab akan tempat duduk Hyerim dan Haneul yang hanya memuat dua orang, ketiganya pindah tempat ke sebuah meja panjang di sebelah pojok dengan duduk saling sebelahan—dengan Hyerim yang duduk di tengah-tengah dua lelaki tersebut. Ramen sudah tersaji di hadapan ketiganya, well, meski ramen Haneul dan Hyerim yang sudah dingin habis-habisan. Terlihat Luhan memakan ramennya super nikmat bin menghayati, Hyerim melihatinya dengan decakan tanpa suara.

“Kim Hyerim-ssi,” vokal Haneul menggelegar, merengut atensi Hyerim ke arahnya. Tampak Kang satu ini menelan sisa ramen di mulutnya gugup. “Tentang pengakuanku tadi—“

Luhan lekas memasang kuping sampai-sampai aktifitas menyeruput ramennya terhenti tetapi dia mempertahankan posisi menunduk pada mangkuknya—sok-sokan makan. Sedang Hyerim menelan bulat-bulat ramennya dengan mata membelalak dan mengerjap dungu.

“—apa kau akan menjawabnya sekarang?” muka Haneul diselimuti gugup plus ragu-ragu. Apalagi Hyerim yang seakan bimbang dan berpikir keras-keras. Ludah Haneul, ia teguk susah payah. “Aku tahu ini terlalu awal. Tapi aku sudah memendam rasa ini selama sebelas  tahun lamanya. Semenjak kita masuk SMA, aku sudah suka padamu.” terpatri senyum malu Haneul yang menunduk dengan wajah berseri.

Di tempatnya dengan peran penguping, Luhan sok-sokan batuk tersedak dengan kepala menunduk yang menoleh ke Haneul, cowok China ini juga pura-pura menepuk-nepuk dada. Di sisi dara manis berkeluarga Kim, dirinya jadi memasang tampang tak enak karena pikirannya buntu.

“Aku…” mulai Hyerim berucap meski mengambang, ia menjilat bibir atasnya dengan bingung luar biasa. Tetapi Haneul menatapnya kelewat penuh harap.  “akan memikirkannya. Mungkin aku akan memberikan jawabannya nanti.” Hyerim melafal frasanya hati-hati dengan senyum ragu.

Biasanya pedas apapun enjoy dinikmati mulut Luhan, tapi kali ini beda, dirinya kepanasan akan ramen yang pedasnya enggak seberapa sebab akan Hyerim yang ingin menimbangkan hubungannya dengan Haneul ketahap lebih lanjut. Sialan, Luhan jadi mendesis kepedasan sambil mengibas-ngibaskan tangan di dekat mulut.

“Ya Tuhan, panas sekali. Pedas, huh,” gerutu Luhan kemudian mendelik ke arah Hyerim dan Haneul yang saling pandang lembut, lagi-lagi pandang-pandangan begitu. Luhan tak suka sama sekali membuatnya mencebikan bibir.

Senyum bahagia Haneul mengembang, “Mohon pikirkan matang-matang, ya! Kalau bisa cepat-cepat saja. Aku sudah menanti hari ini, Hyerim-ah,”

Otomatis mata Luhan melotot mendengar panggilan akrab Haneul, apalagi Hyerim cuman tersenyum tipis layak gak terganggu dipanggil akrab. Aduh, baru saling panggil akrab aja Luhan udah sebal setengah mati. Apalagi kalau ada embel-embel; sayangku, cintaku, putriku, istriku, permaisuriku. Luhan bisa-bisa menampar bibir Kang Haneul bolak-balik.

Tiba-tiba, Haneul mengulurkan tangannya dan ancang-ancang megenggam tangan Hyerim yang ada di atas meja. Hyerim tak sadar, tapinya mata Luhan siaga. Ada percik tak suka bila melihat tangan Hyerim main disentuh-sentuh Haneul, maka dari itu, Luhan menarik kursi Hyerim ke arahnya.

‘SRETTT!’

Buah hasil dari kursi yang diduduki Hyerim tergeser ke arah Luhan. Gadis bernama Kim Hyerim itu terkejut, pastinya. Bahkan tubuhnya terhuyung nyaris jatuh mengenaskan di atas lantai. Haneul juga melebarkan mata saking kagetnya. Hampir terkena serangan jantung, kepala Hyerim terstir menoleh ke belakangnya—tepat Luhan berada dan pura-pura sibuk menyumpit ramen dengan lagak bebas dosa.

Tatapan Hyerim terpancar sebal, “Kamjagiya! Jugullae? (Kagetnya! Kau mau mati?)” hardik Hyerim dengan gigi menggertak.

Dialihkan kepalanya ke Hyerim dengan lagak santai, pun Luhan menyungging senyum seirama. “Kalau aku mati, kau menangis keras,” refleks teraksi dengusan keras Hyerim namun dirinya tak menyangkal—well, ujaran Luhan benar sih. Luhan menatap ramen Hyerim lalu kata-katanya ia kesinambungkan, “Makan ramenmu. Udah dingin, nanti tambah dingin.”

Memonyong-monyongkan sebentar bibirnya dikarenakan kesal, Hyerim pun akhirnya memutar kembali tubuhnya menghadap ramennya. Mulailah gadis ayu ini menyibukan diri dengan sumpit juga ramennya yang totally dingin sekon ini.

“Ck, ngapain harus tarik-tarik kursi segala sih?” gerutu Hyerim pelan meski masih dapat didengar Luhan yang berakting tuli.

Pria marga Lu ini melirik Haneul yang melongo, dengan smirk liciknya sebab spasi antara Haneul dan Hyerim sangat lebar, sedangkan Luhan lah yang kebagian dekat dengan Hyerim. Diam-diam, Luhan mencuri pandang pada samping wajah Hyerim dan tersenyum-senyum tak jelas setelahnya.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Mobil berkepemilikan Kang Haneul itu berlabuh dekat gang tangga rumah Hyerim. Lekas lah setelah itu, tiga manusia di dalam mobil pun turun. Dengan gaya gentlenya, Haneul membukakan pintu Hyerim yang duduk di sebelah supir. Si Gadis menyambutnya dengan senyum hangat yang sama-sama tersemat diranum Haneul. Luhan yang turun dari kursi belakang, hanya mendengus keras dan menatap jijik pemandangan itu.

“Terima kasih, Haneul. Kalian juga sampai sore-sore begini mau menungguiku mengajar,” ucap Hyerim tak enak dan memberi lirikan sekilas pada Luhan. Lirikan datar yang omong-omong berbeda dengan imejnya yang manis pada Haneul.

Well, setelah makan ramen, Hyerim punya jam mengajar di lembaganya. Kebetulan juga Haneul ada operasi dengan pasiennya—dirinya dokter bedah, omong-omong. Sedangkan Luhan, kebetulan free, klinik dokter hewannya dan tempat mengajar taekwondonya memang libur di hari rabu. Sengaja juga Luhan mengambil jatah free satu hari. Free sih free, tapi buat Hyerim gondok saja. Gimana enggak? Luhan menguntit Hyerim ke lembaga ngajarnya dan menunggu di luar kelas. Sebab awal mulanya, hanya karena Haneul yang bilang akan menjemput Hyerim. Jadilah Luhan nebeng saat Haneul menjemput Hyerim sehabis dara itu berkerja.

“Ahhh, aku tidak menungguimu kok. Meski menunggu aku juga senang saja,” respon Haneul dengan kekehan. Lantas Luhan menghadiahinya tatapan horror karena merasa tertohok menunggui Hyerim.

Setelah sedetik terbuang,  tangan Haneul terjatuh di puncuk kepala Hyerim serta memberikan tepukan dengan senyum mematikan yang pasti membuat seluruh kaum hawa guling-guling—tak terkecuali Hyerim yang omong-omong terpana sekon ini.

“Berikan jawabanmu secepatnya, oke? Aku menunggu,” vokal Haneul nan selembut salju itu membuat hati Hyerim terenyuh-enyuh. Duh, duh, mana Haneul idolanya masa SMA. Hati Hyerim makin porakporanda aja.

Kepalang kesal, Luhan mengatup rahang keras dan menggertakan gigi. Tangan Luhan menyambar tangan Hyerim, bodo amat walau kasar sampai sahabatnya itu tersentak dan rintihan lolos otomatis. Luhan main menggeret Hyerim membuat punggungnya disarangkan tatapan jengkel dari manik Hyerim. Lagi-lagi, Haneul hanya melongo melihat lakon Luhan.

Ya! Luhan, kau kenapa sih?” imbuh Hyerim dengan intonasi keras. Diafragmanya turut andil naik turun, berusaha Hyerim meminalisir rasa kesalnya dengan menetralkan napasnya.

Tubuh Luhan diiring berbalik olehnya, menimbulkan rasa kaget pada Hyerim yang ia geret. Sejenak Luhan melempar tatapan menakutkan pada Hyerim yang refleks berjengit ngeri. Kemudian tatapan menakutkannya tertoreh pada Haneul yang mengerutkan dahi dengan mata memicing menatap Si Marga Lu ini.

“Kang Haneul, kumohon cepat pulang. Malam akan segera datang, aku dan Hyerim punya privasi yang tak bisa kau ganggu,” titah Luhan dengan suara tegas.

Si Bodoh ini berkata privasi antaranya dengan Hyerim? Sontak Hyerim menatapnya tak habis pikir sama sekali. Privasi apaan sih maksudnya? Luhan buat Hyerim jengkel saja sih hari ini. Dari tiba-tiba muncul di tempat ramen, menungguinya kerja layak satpam keliling, main menariknya dan mengatakan keduanya punya privasi. Sementara Haneul tersenyum tipis menahan kekehannya.

“Privasi?” ulang pria bernama Kang Haneul itu kemudian menelengkan kepalanya dan dengan paras santai melanjutkan, “Bila kau paham privasi. Kau juga tak mungkin menempeli Hyerim. Memangnya kalian punya privasi apa sih?”

Mendengar aksara Haneul, Luhan mendesah keras dan menampilkan tampang jengkel. Sebelum lidahnya bercakap, Hyerim keburu menyela. “Benar,” dan gadis Kim ini menatap Luhan kelewat jengkel, pria ini pun menatapnya dengan kerutan di dahi. “Kau melangkahi privasi diantara kita berdua.”

Langsung lah Hyerim menyentak tangan Luhan. Dia memberi tatapan kelewat sebalnya pada pemuda berdarah China ini. Lantas Hyerim menyentak kasar kakinya sebelum akhirnya melangkah lebar-lebar menaiki tangga gang rumahnya. Kembali diafragmanya narik turun sebab napasnya tak kepalang teratur. Punggung Hyerim kian mengecil dan akhirnya menghilang di balik rumahnya dengan pintu terbanting keras. Luhan, pun Haneul, mengamatinya.

Desisan kesal Luhan keluar dan dia pun menatap Haneul dengan tatapan laser. “Jangan harap kau mengencani Hyerim,” ancaman ternguarkan dari nada, tampang, sekaligus tatapan Luhan.  

Lawan konversasinya yang tak lain Kang Haneul, menatapnya santai dengan tampang tenang, berbanding balik sekali dengan Luhan. Sempat-sempat juga dirinya memangku tangan di dada.

Let’s see, Luhan-ah. Kim Hyerim itu bukan punyamu, dia akan jadi punyaku.”

Mulut Luhan menganga, pun tangannya berkacak pinggang akan tantangan yang tercetak juga terbinar di wajah dan mata Haneul. “Aku tahu kau brengsek dari dulu. Jangan coba sentuh sahabatku.” peringat Luhan penuh penekanan diakhir-akhir sajakannya.

Tawa renyah Haneul menggelegar hingga kepalanya mendongak. Ketika selesai tertawa dan menatap Luhan kembali dengan geli, Luhan terlihat menatapnya seakan dirinya orang gila.

“Dan dirimu juga jangan bersembunyi terus dibalik kata sahabat.”

Setelahnya, Si Kang sialan bin brengsek ini membalik badan dan memasuki mobilnya yang lantas beranjak pergi. Sedang Luhan, dirinya seakan disiram air es. Wajahnya beku. Bersembunyi dibalik kata sahabat, katanya? Tempat mobil Haneul terakhir terlihat dipandangi Luhan dengan mata berapi-api. Selain sialan dan brengsek, Kang Haneul juga sok tahu dan pintar ternyata.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

‘Klik!’

Pintu rumah Luhan dibuka oleh pria itu yang hendak melayang tungkai keluar namun seketika terpause dengan tampang tanpa ekspresi saat mendapati Hyerim berpijak di depan rumahnya. Sahabat perempuannya selama tujuh belas tahun ini tampak memasang wajah seakan tertangkap basah lalu menunduk dengan memeras tangannya sendiri. Di depannya, Luhan mengamati Hyerim sambil memiringkan kepalanya.

“Ada apa?” tanya Luhan malahan direspon tubuh yang dibanting stir berbalik dan ayunan tungkai nan hendak diaksikan. Tapi, Luhan lebih gesit untuk mencegah Hyerim dengan meraih lengan kanan Sang Gadis. “Kita sudah mengenal selama tujuh belas tahun. Jangan berlagak bodoh. Aku tahu kau bukannya tak sengaja berdiri di depan rumahku, Hyerim.”

Menyerah, Hyerim membalik badannya seiring tangan Luhan yang mengendor dan terlepas dari lengannya. Toh, dirinya sudah ketahuan dan tak bisa berdalih sama sekali. “Aku hanya ingin minta maaf soal tadi sore. Tentang privasi, padahal aku saja sering ikut campur urusanmu.” Hyerim berkata tanpa niat menatap Luhan dengan menunduk.

Mengangalah yang dilakukan Luhan, tidak percaya akan hal yang dia dengar. “Untuk apa minta maaf? Kau kerasukan sesuatu?” tanya Luhan was-was.

Hyerim balas menatapnya lalu membuang pandang. “Ah sudah, lupakan. Sudah malam, aku ingin tidur.”

Barulah Kim Hyerim balik badan dan hendak beranjak, lagi-lagi Luhan mencegat dengan memegang lengannya. Kembalilah Hyerim mengiring badan menghadapnya dengan wajah bertanya.

“Kim Hyerim,”

Saat Luhan memanggil nama lengkapnya ditambah mencengkam tangannya dengan memandangnya lurus-lurus, Hyerim tahu pria ini tengah menjalin atmosfer serius.

“Jangan berkencan dengan Kang Haneul,” keseriusan Luhan jadi dibalas Hyerim dengan desahan keras dan tatapan terganggu. “Jangan kencan dengannya, Hyer. Aku tak suka dengannya. Selain dia sainganku dulu. Kau ingat, bukan? Dulu dia memacari perempuan yang blak-blakan menyukainya padahal dia menyukai satu perempuan yang entah siapa dari tingkat satu.”

Tampang Luhan memelas campur memohon. Respon Hyerim cuman  tatapan datarnya. “Lu, kau masih sama,” mata Hyerim menyipit lantas melepaskan tangan Luhan dari lengannya agak keras. “Kau selalu saja menjelek-jelekan Kang Haneul karena dia sainganmu,” nada Hyerim meninggi dengan tangan berkacak.

Luhan menegakan tubuhnya, memberikan tatapan super seriusnya. “Kali ini beda perkara. Aku tidak suka melihatmu dekat-dekat dengannya, apalagi berkencan!” sama-sama oktaf Luhan naik, jua berkacak pinggang. “Kau saja sering melarangku kencan dengan perempuan ini-itu dan aku nurut. Kenapa kau juga tak mau nurut padaku!”

Dengusan dan desahan Hyerim keluar keras-keras, turut kepalanya menggeleng dengan pemikiran tak mengerti akan Luhan sama sekali. “Dan kali ini juga beda perkara,” tungkai Hyerim maju satu langkah dengan wajah agak terangkat. “Aku tak bertanya padamu masalah Haneul. Sementara kau selalu bertanya padaku tentang perempuan. Maka dari itu kau tidak kencan-kencan karena tak menemukan perempuan yang lebih cantik dariku!”

Bibir Luhan bungkam langsung mendengarnya. Melihat Luhan telah kalah mutlak, Hyerim memutar tubuh lagi dan kali ini lancar tanpa dicegat-cegat. Suara ‘brak!’ mewakili pintu rumah gadis manis itu tertutup dengan bantingan. Luhan pun menatap kosong pintu rumah Hyerim yang ada di depannya.

“Aku hanya tak suka melihatmu dengannya,” mulai Luhan bergumam, tatapannya kian lekat pada pintu coklat di hadapannya. “Aku juga tahu dia sering mempermainkan perempuan. Aku… hanya tak tenang. Aish, semua karena Kang Haneul.” lalu Luhan mengacak rambutnya frustasi dan setelahnya memutuskan untuk masuk kembali ke rumahnya.

║█║♫║█║ —  Friendzone : When The Love Blossom  ║█║ ♪ ║█║

EPILOG

“Kang Haneul, semangat!”

Sungguh, demi apapun hal di dunia ini. Vokal penyemangat untuk Haneul itu mengusik Luhan setengah mati, apalagi yang bersuara begitu ialah Kim Hyerim—yang sudah berlagak layak supporter alay. Melihat sahabatnya itu mendukung orang lain, kegondokan Luhan berada dipuncaknya.

‘PRITTT!’

Disaat-saat Luhan kesal dengan ketidak fokusannya, untungnya peluit ditiup sebelum dirinya menimbulkan masalah. Lantas para anggota tim sepak bola menuju ruang ganti untuk beristirahat, begitupula Luhan. Di tempat Hyerim, gadis tersebut mengambil botol minuman dengan wajah sumringah.

“Untuk siapa?” Sun Ee bertanya sambil menatap Hyerim.

Hyerim balas menatap karibnya itu dengan cengiran, “Untuk Kang Haneul!” ujarnya semangat dan tanpa babibu lagi mulai menggeret kakinya pergi dari tribun penonton menuju ruang ganti.

Langkah Hyerim terajut gontai dengan siulan menemani. Semangat sekali untuk menemui salah seorang idolanya di sekolah ini. Tatkala dirinya sudah di dekat ruang ganti, tak sengaja Luhan yang sedang mengelap keringat dengan handuk, mendapati eksitensi Hyerim. Lekas kerut bingung Luhan terlihat.

“Ngapain gadis itu ke sini?” gumam Luhan dan bingungnya makin numpuk saat Hyerim memberhentikan langkah dan tersenyum lebar-lebar.

Pandangan Luhan bergeser pada objek yang Hyerim lihati dengan senyumannya itu. “Kang Haneul?” ceplos Luhan tak percaya saat tahu bahwa Hyerim menaruh fokus pada figur Haneul yang lagi ngobrol dengan salah satu anggota tim sepak bola.

Kembali retina Luhan merangkum sosok Kim Hyerim yang ancang-ancang ingin beranjak. Dengan kekesalannya, Luhan gesit menghampiri sahabatnya itu dan langsung mencekal tangannya serta menggeretnya ke suatu pojokan. Terkejut? Iyalah, Hyerim terkejut saat Luhan tibat-tiba muncul, main mencekalnya, juga menggeretnya begitu saja. Luhan membalikan badan tatkala beres melangkah.

“Kau ngapain di sini?” imbuh Luhan tak suka, terlihat jelas juga di wajahnya.

“Apa ada yang melarangku ke sini?” tantang Hyerim dengan sorot tajam. Sehabisnya, dirinya memangku tangan di depan dada. “Aku ingin memberi minuman untuk Kang Haneul, ada yang salah huh?”

Gigi Luhan menggertak mendengarnya, “Jangan beri dia minum!” diafragma Luhan naik-turun dengan oktaf tinggi. Hyerim menyarangkan tatapan bingungnya. “Aku juga ingin minum!” buru-buru Luhan merebut botol minuman dari tangan Hyerim dan meneguknya sampai habis dalam sekali teguk.

Menyaksikan adegan tersebut, Hyerim hanya terperangah dengan muka cengo. Setelah Luhan selesai minum dan mengusap mulutnya dengan punggung tangan, Hyerim baru mengedipkan matanya beberapa kali dan tersadar.

Ya! Kau sinting, ya?” teriak Hyerim kesal.

Hendak Hyerim  melayangkan tonjokan pada Luhan, tapi sayangnya Si Lelaki sudah membaca aksi yang ingin dia lakukan. Maka dari itu, Luhan lebih dulu mencekal tangan Hyerim lalu menarik perempuan tersebut hingga berputar lantas memojokannya pada tembok di belakang Luhan beberapa menit lalu. Napas keduanya saling berhembus dengan spasi yang minim, wajah keduanya sangat dekat. Hyerim merasa adrenalinnya memuncak dengan dentum gila-gilaan di rongganya. Tak beda jauh, Luhan bahkan sampai meneguk ludah saking mabuk tak kepayang kupu-kupu di perutnya. Dan, aduh, mata Luhan salah fokus pada bibir Hyerim yang dipoles liptint stroberi. Mana plum satu itu dekat sekali jaraknya dengan dirinya, satu gerakan, bibir keduanya saling sapa.

“Kau tahu bukan aku suka stroberi,” saking enggak fokus, Luhan mulai ngelantur hingga Hyerim mejungkitkan alisnya. Dengan tatapan terpana pada ranum Hyerim, kembali Luhan berucap. “Bibirmu manis, tahu.”

Seketika tubuh Hyerim kaku dan tambah tak sanggup berkutik saat matanya dengan manik Luhan bersibobrok. Kemudian lelaki ini memiringkan kepalanya dan mulai membabat spasi diantara keduanya, napas Luhan berhembus tepat di wajah Hyerim, sensasi aneh jadi menyelimuti lalu—

“Haneur-ah, lihat! Mantanku! Baru juga putus satu minggu lalu, sudah cium-ciuman lagi dengan cowok lain. Ck! Memang jalang!” suara khas Choi Minho terdengar dari satu sudut tatkala tak sengaja melihat Hyerim dan Luhan. Yeah, mantan yang dia maksud adalah Kim Hyerim. Dirinya tampak berkacak pinggang dengan decakan serta gelengan.

Haneul yang diajak ngomong cuman menatap pemandangan ambigu itu—Luhan yang membelakangi keduanya dengan memiringkan kepala pada Hyerim yang tersudut di tembok, gimana enggak ambigu?—datar dan banyak arti.

“Ya, kau benar.” Haneul hanya merespon kata-kata Minho demikian, kemudian angkat kaki dari sana dengan Minho yang menatapnya bingung sebelum akhirnya ikut beranjak.

Kembali ke sisi Luhan dan Hyerim. Kesadaran Hyerim kembali, dia membelalakan mata kemudian menendang tulang kering Luhan. “Akh!” pekik Luhan nyeri dan refleks menjauh dari Hyerim dengan wajah kesakitan memegangi kaki kanannya.

Napas Hyerim terhembus setelah dia tahan sedari tadi gara-gara aksi Luhan yang nyaris menciumnya, kemudian memberikan tatapan mematikan pada Luhan yang lagi mengecek sasaran tendang Hyerim dengan wajah meringis dan desisan sakitnya.

“Dasar gila! Ingin mencuri ciumanku hah?” hardik Hyerim dengan napas tersenggal. Tak ingin memikirkannya lebih lanjut dan malahan menimbulkan emosi, Hyerim buru-buru merajut langkah lebar-lebar dengan kekesalan.

Punggung Hyerim yang perlahan menjauh ditatapi Luhan yang masih membungkuk memegangi tulang keringnya dengan wajah meringis sakit. “Duh, habisnya, ‘kan bibirmu manis, Hyer. Aku ingin mencobanya,” gumam Luhan dengan polos bin bodohnya. Detik berikutnya, Luhan melayangkan tamparan pada pipi kirinya. “Ck, Luhan. Kau berpikir apa tadi?” rutuknya pada diri sendiri, diwaktu berikutnya, Luhan menyarangkan pukulan di kepalanya agar kembali waras.

—To Be Continued—

blog-divider-wreath-elements-06-2013-smaller

LOLOL, EPILOGNYA APAAN BANGET EUYYY. LUHAN KAMU KENAPA NAK, MABOK BIBIR HYERIM? WKWKWKWK. Btw, kalian harus penasaran sama alesan Hyerim-Minho putus pas SMA dulu, karena ada cluenya sih ya nih :v Dan tolooonggggg fokus sama kata-kata Luhan yang ini; “…. tak lupakah dirimu bahwa ci—“ what the heck hayoooooooo XD hubungan Hyerim-Luhan ini emang ambigous sesuai judul lagu yang aku sisipin di chapter ini wkwkwkwkwk.

CIYE LUHAN JELES. CIYE HANEUL SUKA HYERIM. CIYEE HYERIM DUGGUN DUGGUN KARENA HANEUL. CIYEE HANEUL NYINDIR LUHAN BUAT GAK NGUMPET MULU DIBALIK KATA SAHABAT. BERBAGAI CIYEEEE UNTUK MEREKA XD XD

Ciyee juga yang udah baca, jangan lupa komennya ya ciyee XD XD

Jodohnya Luhan,

Hyekim

 
Advertisements

Author:

A tinkerbell who dream to be Luhan's future wendy — Also an amature author, k-drama trash, k-running man freak, eternal ELF, ahjussi and korean actor addict in the same time — Adorable since 2001

8 thoughts on “FF — Friendzone : When The Love Blossom [Keping 4 : Kang Haneul]

  1. Annyeong
    Sumpah ini si luhan kalo dah jeles lucu banget yaa
    Bayangin mukanya dia yg unyu2 gitu jadi emosian saking jelesnya
    Daaan ya elaaaaaaa si haneul gombal gembelnya kena banget eaaa. . . Si hyerim juga mah jadi cewe baperan amat. Tar si haneul cuma main2 lagi. Tar sakit ati lagi.
    Iya yaaaa SAHABATnya mereka tuh sesuatu. Kapan sadarnyaa siiih??? Gemes aku tuuh

    Liked by 1 person

    1. Halllooowwwww. XD XD

      Iyap, Luhan gemesin banget. Tapi sayang pea, gak nyadar kalo dia itu cemburu to the max wkwkwk
      Hyerim wajar baper, semacem ada kakel/kating yg kita cemcemin lalu tiba-tiba ngegembelin, pasti baper maksimal tanpa mikir ini beneran ato kagak XD XD

      SAMTING, YANG GEREGET MALAH KITANYA YA AHAHAH

      Liked by 1 person

    1. Wkwkwk Hyerim mesti jeles ya, biar ngerasain. Tapi kalo udah saling ngerasain, pertanyaannya, mereka bakal saling sadar gak ya LOL /plak

      Duhhh beauty and the beast yaaa, aku mau lanjut tapi otakku krisis mau nulis huhuhu maapin ya, tapi aku usahin mau lanjut nanti, keknya ff ini dulu yg weekly update 😅😅😅

      Like

  2. HEUHEUHEUHEUEHEU SUMPAH BARU BISA BACA FF YANG INI SEKARANGGGGG!!!!

    LOVE THIS FF SO MUCH ELSA SUMPAH DEH, AKU PALING SUKA FF PRENJON GINIIIII KEKNYA HAMPIR SEMUA FF AKU ADA PRENJONNYA PASTI TAPI INIIII GEMESINNNNNN BANGETTT… AND YES MILIH FMW BUAT JADI INSPIRASI ADALAH PILIHAN PALING TEPAT. DONG MAN SAMA AERA WHYYYYY :”””””” GABISA MOVE DARI TU DRAMA

    POKOKNYA GILAKKK KEREN BANGETTT LOVE PARAH ❤ THANKS UDH NULIS FF INI SAA!! AND SEMANGAT BUAT FF LAINNYA YANG MENTOK YAAAA!! ME JUGA WRTER BLOCK BUAT BANYAK FF :"""

    MUCH LOVE, EURI :*

    Like

Write ur Love Letter . . . <3

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s