Posted in Chapter, Comedy, Fanfiction, FF : Friendzone : When The Love Blossom, Fluff, Friendship, Romance, Teens

FF — Friendzone : When The Love Blossom [Keping 5 : Kiss]

Friendzone-WTLB-Cover

Friendzone : When the Love Blossom

KEPING 5 : Kiss ┘

Starring By

Lu Han & OC`s Kim Hyerim

Actor Kang Haneul, Shinee`s  Choi Minho, OC`s Bae Minri, WJSN`s Xuan Yi/Oh Sun Ee, EXO`s Oh Sehun as special appearance

Story with Romance, Comedy, Friendship, Fluff rated by T  type in Chapter

Poster by ByunHyunji @ Poster Channel

`Luhan dan Hyerim sudah bersahabat selama 17 tahun. Keduanya berjanji tidak akan saling menikahi, juga kalau satu dari keduanya menikah, salah satunya akan menyanyi dipernikahan tersebut. Tapi memangnya persahabatan antara lelaki dan perempuan akan bertahan lama? Terlebih Hyerim baru saja diselingkuhi. Sedang Luhan, suka berperan menjadi pelindung Hyerim dan selalu meminta pendapat Si Gadis untuk masalah perempuan`

Disclaimer :  Beberapa adegan di fiksi ini terinspirasi dari drama Korea Fight For My Way dan tweet @plotideas. Namun isi cerita serta konflik yang ada sungguh berbeda.  Semua yang tercantum dari cerita ini sungguh tidak nyata. Tidak ada niatan untuk menjelek-jelekan satu organisasi/perorangan. Semua cast milik orang tua, agensi, dan Tuhan YMA—terkecuali untuk OC. Penyebarluasan, duplikasi isi cerita tanpa sepengetahuan/izin penulis, juga menghina/menjelek-jelekan isi cerita merupakan tindakan yang sangat dilarang.


When the love blossom in our friendship


Previous Story : Keping 0 — Introduction  ∞ Keping 1 — The Cheating Boyfriend Keping 2 — After Broke Up Keping 3 — High School ReunionKeping 4 — Kang Haneul

© 2017 Storyline by HyeKim

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Kim Hyerim mengamati ponselnya lalu menghela napas dengan wajah cemberutnya. Pesan Line untuk Sang Pacar belum juga direadread, padahal sehabis sekolah Hyerim ingin mengajak pacarnya—yakni; Minho, ngedate. Udah lama mereka gak menghabiskan waktu sore bersama untuk sekedar ke perpustakaan bareng atau berbagi permen kapas. Dan tambahan lagi, Minho kayak main petak umpet di sekolah, dari tadi batang hidungnya belum juga Hyerim lihat. Huh, resiko pacaran sama anak kelas sebelah ya gini, enggak bisa langsung tatap muka di kelas pas sekolah kalau pesan tak kunjung direspon.

Tungkai Hyerim berpijak di tangga sekolah dan berusaha memfresh otak untuk tak memikirkan Minho dan Line yang tak kunjung dijawab—gimana mau dijawab, diread aja enggak, dengan memasukan ponsel ke saku rok seragam dan mulai melangkah di tangga.

“Umppphh…”

Mata Hyerim melebar dengan kerut bingung saat telinganya mendengar suara err… yang agaknya ambigu. Dengan merapatkan buku tulis yang dipegang ke dada dan meremasnya lantaran jantung Hyerim yang berdegup karena suara itu, Si Gadis mulai mendekat ke sumber suara ambigu dengan perlahan.

Sumpah. Ingin saja Kim Hyerim menemui malaikat maut sekarang juga. Tubuh gadis ini kaku. Suara ambigu yang dia dengar nyatanya suara orang yang berciuman. Well, lumrah aja anak SMA Yeonsu diam-diam ciuman di tangga daripada kena sabet penggaris Guru Jung—yang notabene guru konseling. Tapi, brengsek sekali pemandangan di depan Hyerim sampai-sampai tubuh gadis Kim ini lemas dan…

‘Buk!’

Dengan keterpakuan dan wajah tololnya, buku yang Hyerim pegang sampai jatuh menyapa lantai tangga. Sontak pasangan yang bercumbu itu saling melepas diri dan menoleh ke arah Hyerim. Melihat Hyerim, keduanya terkejut bukan main sampai rahang mereka berdua seakan ingin copot.

“Hyer—im…” imbuh Choi Minho dengan mimik kaget tak bisa berkutik.

O, udah paham bukan kenapa Hyerim sampai beraksi kaku luar biasa hingga ingin mati rasanya? Ya, benar! Yang sedang bercumbu mesra di depan matanya ini pacarnya sendiri, Choi Minho dan—

Hyerim menoleh ke oknum wanita jalang yang berani-beraninya seenak jidat mencium bibir pacarnya. Dari name tag jalang satu itu yang tengah menundukan kepala, tertulis Bae Minri. Senyum meringis perih Hyerim terlihat. Nyatanya Bae Minri itu busuk, dia sok baik dan manis di kelas padahal menikung Hyerim dari belakang. Tak tahan, Hyerim langsung beranjak setelah memungut bukunya. Keparatnya, air matanya ngapain harus nampak di pelupuk segala sih?

Sedang Minri, ia menyenggol lengan Minho sampai keduanya saling lirik bingung campur kaget dan resah. “Minho-ya, gimana? Mau menyangkal saja?”

Cowok marga Choi itu lebih resah dengan menggigit bibir bawahnya. “Menyangkal bagaimana, sayang? Hyerim melihat dengan jelas!” paniknya lalu mengejar Hyerim. Minri pun melihati punggung Minho hingga akhirnya memutuskan mengikuti pria tersebut.

Kembali lagi pada Kim Hyerim. Dara manis itu menghapus kasar likuid yang berani-beraninya hendak turun ke pipinya. Ranumnya juga ikut-ikut bergetar. Rasanya hatinya kesayat-sayat pisau, perih bukan main, pun diafragmanya ikut naik-turun tak menentu menyebabkan napasnya tak teratur.

“Kim Hyerim!” vokal nyaring Choi Minho memasuki selaput telinga Hyerim dan dara ini hanya menatapnya sekilas kemudian menggas langkah lebih cepat.

Pada intinya, Hyerim ingin menetralkan diri dulu baru menghajar habis-habisan Minho lalu melabrak mampus Minri. Lagian, untuk apa Minho mengejarnya? Mau sok-sokan drama dengan minta maaf dan bilang enggak akan mengulanginya lagi? Satu kata aja; busuk!

Dimasa serong-menyerong langkahnya yang terhuyung, tubuh Hyerim malahan berakhir menabrak seseorang yang ada di hadapannya. Untungnya ekuilibriumnya gak hilang. Kan konyol kalau Hyerim sampai jatuh merangsek di lantai koridor kemudian memecah tangis—omong-omong air matanya sudah nampak sekali sekarang, ugh.

“Hyerim,” tubuhnya merasakan rangsangan goyang jadilah Hyerim tersentak juga mengerjap, menatap lebih jelas oknum yang dia tabrak detik lalu sekaligus orang yang lagi menggoyangkan tubuhnya. “Kau kenapa?” oh nyatanya Luhan yang Hyerim tabrak dan pria ini menyarangkan tatapan khawatir.

Sorot iris Hyerim menusuk iris Luhan lesu, ingin meralisasikan tangis tapi malah berujung tertahan hingga rongga dadanya sesak. “Hyerim!” dibelitan sesak Hyerim, suara pacar bajingannya malahan menyapa telinganya.

Kepala Hyerim otomatis menoleh dan dilihatkan tubuh Minho yang terseok-seok melangkah ke arahnya. Gara-gara teriakan hebohnya, murid-murid lain jadi bergumul melihati pemandangan ini. Ditambah sosok jalang perebut pacarnya—Bae Minri, ikut-ikutan muncul.

Tak ingin kelihatan sebagai cewek lemah apalagi harus nangis dengan menyedihkan setelah adegan busuk yang dia lihat. Dengan penuh tekad, Hyerim menyerong kembali kepala dan tatapannya pada Luhan yang sedang kebingungan.

Ya, Luhan,” panggil Hyerim menyebabkan Luhan menatapnya bertanya. “Aku berhutang padamu setelah ini. Lagipula ini bukan pertama kali kita melakukannya.”

Kata-kata Hyerim dengan mimik penuh tekad bulatnya itu membuat Luhan binggung, apalagi agak ambigu. Bukan pertama kalinya melakukannya? Emangnya apaan? Belum sempat Luhan respon atau Minho maupun Minri yang mendekat ke Hyerim untuk berdalih dusta, dara Kim itu menarik kerah Luhan lalu memajukan wajahnya mengikis spasi antaranya dan Luhan.

Timing rasanya berhenti, bukan untuk Luhan saja tapi semua orang. Refleks tungkai Minho dan Minri berhenti berderap dengan mata seakan mau copot dari tempatnya dan wajah sangat-sangat kaget terbingkai. Bahkan para murid yang kebetulan menonton gratis adegan kejut jantung itu, ada yang sampai membekap mulut.

Sedang Hyerim, dia hanya menutup rapat matanya, tak peduli keadaan sekitar. Dan Luhan, dia melebarkan mata tak bisa berkutik. Bagaimana bisa berkutik? Ranumnya dan ranum Hyerim sedang saling sapa—menciptakan sebuah ciuman yang membuat kupu-kupu dalam diri Luhan bahkan Hyerim, mabuk tak kepayang diiringi juga jantung sialan yang malahan berdisko ria.

O, Kim Hyerim merasa puas saat membuka mata—masih mempertahkan ciumannya dan Luhan, tuk melirik Minho dan mendapati pacarnya—coret, sudah menjadi mantannya. Yup, Hyerim memutuskannya sepihak dalam hati saat mencium Luhan, tengah menatapnya dan Luhan dengan melongo parah seakan jiwanya terbang ke langit ketujuh. Sementara Bae Minri sialan hanya menggigit bibir bawah bingung.

Tetapi ditengah rasa puas Hyerim. Dia tidak tahu bahwa Choi Minho tetaplah Choi Minho, Si Lelaki Busuk penuh tipu muslihat nan dusta. Setelah adegan ciuman Hyerim dan Luhan, esoknya Minho malah menyebar fitnah bahwa Hyerim ketahuan selingkuh dengan Luhan dan main memutuskannya. Minho menyebar cerita palsu bin busuk bahwa ia berusaha mengejar Hyerim untuk intropeksi dan memperbaiki segalanya, tapinya Hyerim malah berakhir mencium Luhan di koridor.

Menyangkal? Of course, Hyerim melakukannya. Tapi ada yang percaya? Nol lah jawabannya! Lantaran Choi Minho itu jago akting dan pura-pura enggak ada hubungan dengan Bae Minri, Si Tukang Tikung. Apalagi adegan Hyerim dan Luhan ciuman dengan Minho yang mengejarnya itu dilihat banyak murid. Ketimbang fakta, mereka lebih percaya apa yang dilihat walau realitanya dusta, bukannya begitu?

║█║♫║█║ —  Friendzone : When The Love Blossom  ║█║ ♪ ║█║

“Hyerim kita memang yang terbaik!” sorakan Oh Sun Ee dengan jempol terangkat itu disambut cengiran oleh Hyerim.

Sementara Oh Sehun dan Luhan yang ada di meja makan, cuman menatap datar dan menggeleng. Omong-omong, Sehun dan Sun Ee sedang mampir ke rumah Hyerim diwaktu sarapan. Mendadak Sun Ee semangat empat lima saat Hyerim memberitahu akan kencan dengan Kang Haneul, lalu secara tiba-tiba muncul diwaktu sarapan. Sedang Luhan, dia hanya numpang makan. Ya, hitung-hitung irit dengan dalih Sun Ee dan Sehun yang berkunjung.

Terlihat Sun Ee lagi memoles wajah Hyerim dengan senyum lebar-lebar. Dan cewek Kim itu hanya duduk manis di depan meja rias sambil tersenyum tak kalah lebar.

“Aih, dulu kau ini sangat suka Kang Haneul. Eh sekarang diajak kencan. Lucky fans tidak ketulungan!” imbau Sun Ee selagi membedakkan wajah ayu Hyerim dengan tubuh sedikit menunduk.

Kelopak Hyerim nan tertutup pun terbuka, lekas senyumnya terkulum. “Tentu saja. Akhhh, aku senang sekali!” tubuhnya goyang-goyang kecacingan, dan Sun Ee malah ikut menyambutnya serupa dengan pekikan-pekikan heboh.

Di ruang makan yang cuman dibatasi oleh tirai—yang omong-omong sekarang dibuka dan jadinya melihatkan adegan Hyerim dan Sun Ee dengan jelas, Luhan mengorek kuping dengan telunjuk serta wajah risih. Sehun juga risih, tapi dia lebih kalem dengan terus menyantap sarapan dengan enjoynya.

“Errr, Kim Hyerim sialan itu malahan teriak-teriak. Senang sekali ingin dipacari playboy cap teri Yeonsu,” rutuk pelan Luhan dengan bibir merengut kesal. Fyi, playboy cap teri Yeonsu itu sebutan Kang Haneul yang suka gonta-ganti cewek semasa SMA.

Pemuda Oh di sebelah Luhan, memberikan lirikan dengan alis berjungkit tak acuh. “Hem, ya namanya juga fans. Ya pasti gitu, Lu. Tahu, bukan bahwa Hyerim suka sekali mendukung Haneul ketimbang dirimu yang notabene kapten tim,” Sehun berujar dengan volume pelan, takut Hyerim memergoki dan memberi respon yang makin memperkeruh Luhan yang jengkel.

Tuh, ‘kan mata Luhan mendelik karena Sehun mengungkit kesukaan Hyerim pada Haneul sebagai penggemar. “Ck! Baru saja putus dari Jisoo. Sekarang sudah diobral Haneul. Maunya apa sih perempuan satu itu,” gerutuan Luhan disertai tatapan laser pada Hyerim yang tengah mengobrol ria bin semangat dengan Sun Ee.

Anehnya, Sehun malah menunduk dengan tawa tertahan yang ditutupi tangannya. Sontak Luhan menyarangkan tatapan heran padanya. Lekas Si Oh ini menatap Luhan geli, “Setidaknya Hyerim lebih laku daripada kau, Luhan,” ucapnya yang lantas terkikik pelan.

Kelereng Luhan melotot, kemudian melayangkan pukulan di udara ke arah Sehun dengan mimik jengkel. “Ya! Mengaca! Kau juga belum laku. Sun Ee pun juga,” gigi Luhan menggertak kesal.

Sehun menelengkan kepala dengan wajah sombongnya, “Aku? Belum laku? Hey, aku ingin mengungkapkan perasaan pada Irene Bae, rekan kerjaku, hari ini. Sun Ee? Dia lagi didekati oleh teman seniornya yang mapan. Hyerim? Sedang pendekatan  dengan Haneul. Kau? Kau dengan siapa? Jomblo menyedihkan memang!”  sajakan Sehun difinali muka mengoloknya yang membuat kekesalan Luhan kian numpuk.

Ingin melupakan kekesalannya dan menahan hasrat tidak menyumpal mulut Sehun, lelaki darah China ini menyibukan diri menyantap sarapannya lagi. Diam-diam menoreh tatapan penuh jengkel pada Kim Hyerim yang sekarang sibuk menyisir rambut.

“Pakai jepit ini. Sepertinya bagus!” seru Sun Ee pada Si Gadis Kim sambil menyodorkan jepit. Hyerim menatapnya lalu mengambil benda tersebut yang lekas dijepit di surainya. “Wah! Lihat, kau cantik!” puji Sun Ee dengan tepuk tangan singkat.

Selagi Hyerim mengulum cengiran-cengiran di depan cermin, Luhan makin menyendok makanannya penuh jengkel.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

“Guk, guk, guk,”

“Dokter Lu,”

‘Bruk!’

Tubuh Luhan terdorong jiwa raganya sampai tersentak dan agak menubruk meja. Salah sendiri melamun jadinya begitu saat suara anjing pasiennya megonggong dan dipanggil oleh perawat yang ada di klinik tempatnya kerja. Mata pria Lu ini mengedip-ngedip dahulu, barulah menyerong kepala ke anjing yang ada digendongan pasiennya, lantas mengulum kurva senyumannya.

“Ah, hallo Berly. Maaf tadi aku melamun,” akhirnya Luhan menyapa ramah anjing nan digendong pemiliknya itu, lengkap dengan senyum lebar juga lambaian tangannya.

Lantas kepala Luhan berbelok pada perawat yang barusan memanggilnya, “Hyerim-ah, tolong bawakan vitamin untuk Berly, sama seperti yang minggu kemarin. Hari ini hari terakhir Berly melakukan rawat jalan pada kakinya yang cedera.”

Titahan Luhan tak langsung dilaksanakan oleh perawat tersebut yang harusnya balik badan dan mengambil vitamin yang dimaksudkan. Pasalnya begini, Luhan menyebut Hyerim, yang mana membuat Si Perawat mengerut binggung. Sepele sih, tapi ya agak ganjal.

“Dokter Lu,” Si Perawat memanggil membuat atensi Luhan terengut ke arahnya dari tulisan tangannya. Dokter hewan ini menatapnya penuh tanya apalagi titahannya belum dilaksanakan. Dengan senyum tak enak, perawat ini berkata, “Namaku Hyerin, bukan Hyerim. Eheheh, Park Hyerin.”

Ayat kata Hyerin—Sang Perawat, menyebabkan Luhan memasang tampang super tololnya. Obsidiannya mengerjap dungu. Apa-apaan otak dan mulutnya refleks segala mencakapkan nama Hyerim. Huh, perempuan itu sih berlalu lalang dalam benaknya sebab Luhan terus kepikiran Hyerim yang kencan dengan Haneul.

Mulut Luhan terbuka beberapa saat lantas angguk-angguk dengan pandang ke arah lain, malu ingin menatap Hyerin. “Ahhh…” desah Luhan, sok-sokan baru ingat dan pikun. Kemudian menatap Hyerin dengan untas tipis dibibir. “… maaf, habisnya tertukar, eheheh. Hyerin-ssi, ambilkan vitamin yang kumaksud.”

Ye, (Baik)” respon Hyerin dengan tubuh membungkuk dan berlalu pergi.

Setelahnya, Luhan menatap pemilik Berly dengan senyum-senyum lalu terlarut kembali dengan aksara kata yang tadi tertunda ia tulis. Mengumpat pula Luhan dalam hati pada Kim Hyerim yang berani-beraninya menghantui dirinya sampai salah ucap nama.

Singkatnya sih, Luhan sedang istirahat sekarang. Dia berlabuh di sebuah kursi di bistro mini yang ada di klinik. Cup kopi menemaninya, Luhan pun menyesapnya beberapa liter lalu menaruhnya di atas meja bundar di depannya. Napas Luhan terhela, tangannya meronggoh saku celana guna mengambil ponsel. Tak lama, Luhan sudah berselancar ke SNS. Akun yang dia buka ialah instagram.

“Apaan ini?” gumam Luhan, wajahnya kelihatan gak suka dengan alis terangkat.

Timeline teratas instagramnya langsung menampilkan foto dari akun Kim Hyerim. Setelah melihatnya, decakan Luhan tersua dengan kepala geleng-gelengnya. “Ckckckck, norak sekali,”

 

BVlnazRgPA6

Liked by suneeoh_, oohsehun, 167 others

kimhyrm taken by : @_knghaneul the great photo in this great day with you ♥

View 7 comments

suneeoh­_ Wah! Pajak jadiannya jangan lupa ya :p

oohsehun Habis putus, dapat yang baru. Kim Hyerim emang beda ya. By the way, diriku juga baru jadian nih hahahaha. @suneeoh­­_ coming soon! ­

suneeoh­_ Apaan sih? ( ̄ー ̄) dasar ember! @oohsehun

real__pcy Aduh Hyerim, hahahaha. Apa kabar @7_luhan_m?

oohsehun Kabarnya baik, dia kan jomblo menyedihkan. Hahahah @real__pcy

suneeoh­_ Kalau saja ini twitter, aku ingin meretweetnya, hahahah @oohsehun @real__pcy

seokkim LOL, sedih sekali jadi Luhan. Tapi memang benar begitu ahahah. Ikut nimbrung guys @suneeoh_ @oohsehun @real__pcy

 

Melihat konversasi super nyebelin itu membuat Luhan dongkol, sedongkol-dongkolnya. Giginya menggertak-gertak, lalu jarinya mulai beraksi dengan amarah menggebu-gebu.

“Pertama, Kim Hyerim, aku tidak suka kau kencan dengan Kang Haneul. Kedua, lihat saja mereka yang mengejekku!” gebu Luhan akan gerutuannya yang penuh emosi.

 

Load more  comments

7_luhan_m Ngapain ngetag diriku segala? Kurang kerjaan? Kurang minum? Atau rindu padaku? @suneeoh_ @oohsehun @real__pcy @seokkim

real__pcy Hai, Luhan! @7_luhan_m cepat nyusul @kimhyrm ya!

seokkim Iya, jangan jomblo terus dong! @7_luhan_m @real__pcy

7_luhan_m Berisik! @real__pcy @seokkim

 

Pegangan Luhan pada ponselnya makin mengerat, sebal tentunya. Gertakan pada giginya makin menjadi-menjadi. Disaat-saat kesal diolok-olok, netra Luhan mendapati Haneul muncul di kolom komentar.

 

Load more  comments

_knghaneul The great pic of the goddess from heaven ㅋㅋㅋ ^^

_knghaneul Who is she? The person in this photo. Oh, she is my sunshineㅋㅋㅋ

_knghaneul  Why you smile make me dazzled? ㅋㅋㅋ

 

“Uhuk, uhuk. Ya Tuhan, apa-apaan sih Kang Haneul. Menjijikan,” membacanya, Luhan jadi tersedak sampai menepuk-nepuk dada. Tatapannya sangat jijik pada komentar Haneul dengan gelengan kepalanya.

“Ckckckck,” decakan Luhan terdengar.

Tangannya yang satunya mengambil cup kopinya dan menyesapnya setengah lalu menaruh kembali di atas meja. Tatapannya gak beralih dari layar ponsel.

“Kim Hyerim memang kelainan selera dari dulu. Dua mantannya saja tukang selingkuh. Sekarang malahan sama playboy cap teri Yeonsu.”

Luhan tak habis pikir sama sekali dengan selera Hyerim, sungguh. Setelahnya, Luhan menyesap kopinya hingga habis. Masih pula berselancar di dunia maya. Entah kurang kerjaan atau apa, Luhan malahan menscroll feeds instagram Hyerim. 

Fakestagram-kimhyrm

Tahu-tahu, dengusannya tercuat melihat Kang Haneul menspam semua foto Hyerim dengan like. Dasar blak-blakan sekali playboy satu itu.

“Huh, like semua foto juga diriku bisa,” gerutu Luhan dengan mata membara.

Kelewat kesal, mungkin. Atau bisa jadi tak suka, Luhan mentap dua kali semua foto instagram Hyerim yang belum dia like. Bodo amat spam, cewek satu itu aja enggak protes, ‘kan saat Haneul spam fotonya dengan like. Maka Luhan juga tidak jadi masalah dong. Lagian ngelike foto sahabat sendiri, emangnya salah? Kalau Haneul agaknya salah, Hyerim bisa makin percaya diri aja kalau dirinya benar-benar naksir pada Hyerim.

‘Ting!’

Saat udah beres spam, notifikasi instagramnya bunyi. Mata Luhan pun melebar saat melihat Hyerim mementionnya di satu foto. Tahu sadar atau enggak, Luhan sudah tersenyum layak orang bodoh seraya melihat notifikasi.

 

Load more  comments

kimhyrm Jadiaan apanya? Kau yang jadian, hahaha @suneeoh­_ // Ssshhhh, berisik sekali menghina orang jomblo di komen fotoku -_- by the way Sehun, selamat, jangan lupa teraktir! @oohsehun @real__pcy @seokkim // Hahahaha so cheesy, thanks for you praise man 🙂 @_knghaneul // Ya, Luhan. Terima kasih spam likenya, kau kesurupan ya? Dan benar jangan jadi jomblo menyedihkan terus dong =)) @7_luhan_m

 

Dengusan Luhan yang kelewat tak habis pikir campur kesal itu tercuatkan. Dengan ranum mencebik, dirinya melempar ponsel ke meja lalu menatapinya berapi-api. Napasnya tak teratur saking amarahnya dipuncak.

“Hah, hah… kenapa mereka tak habis-habisnya menghinaku, hah? Dan juga, aish, Kim Hyerim. Dirinya tak usah kencan-kencan segala, bisa tidak sih?”

Oktaf Luhan naik diakhir kata menyebabkan orang-orang yang ada di bistro tersentak serta menatapinya aneh jua bingung. Namun Luhan tak mengidahkan, dia malah menyerong kepala ke kanan dan kiri dengan resah, kemudian mengacak rambut frustasi. Detik berikut, tangan Luhan tergerak mengambil ponselnya lagi dan mulai menggerakan jari dengan wajah menggebu.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

‘Ting!’

Suara ponsel yang ada di tas tangannya mengalihkan atensi Hyerim yang tengah fokus menonton film di bioskop mobil—bioskop outdoor dimana para penontonnya menonton dari mobil masing-masing. Lekas Sang Gadis pun mengambil ponselnya tanpa mengalihkan mata dari adegan layar tancap bioskop. Sedangkan Haneul, jaka satu itu lagi di luar untuk membeli popcorn. Lock password ponselnya sudah Hyerim buka, fokus retinanya terarah ke layar ponselnya sekarang. Saat membuka aplikasi Line, kening Hyerim berkerut bingung, pun wajahnya juga begitu.

Sehabisnya, mimik Hyerim berubah jadi mencebik, “Aih, orang ini. Selalu saja meganggu.” gerutunya pada pesan Line yang baru saja ia buka.

Tak niat membalas, makanya Hyerim menyambar tasnya guna mengamankan handphonenya di sana lagi. Tetapi, notifikasi Linenya nyaring beruntun tatkala Hyerim baru saja mau memasukan ponsel ke tas. Jengkel terlihat di parasnya, kurva bibir Hyerim tertarik ke bawah dengan membinarkan kesalnya. Tidak punya pilihan daripada diusik Si Setan Peganggu yakni pengirim pesan Line padanya, Kim Hyerim membuka ponsel lagi dan membaca Line dari sender yang sama.

Lu Han :

❝ Belikan aku es krim, soju, bir, ayam, dan kue beras. Jangan lupa!❞

[13.10]

Lu Han :

❝ Kenapa hanya diread? Balas pesanku!❞

[13.20]

Lu Han :

❝ Kim Hyerim. Balas! Baca! Gerakan jarimu! Tak usah malas❞

[13.20]

Lu Han :

❝ Sehabis kencan. Ke rumahku, oke? Kita minum-minum❞

[13.20]

Lu Han :

❝ Menjijikan sekali update instagrammu. Apalagi Kang Haneul mengomentarinya dengan rayuan basi -_- kalian tak cocok berkencan❞

[13.21]

Lu Han :

❝ Dan juga aku bukan jomblo menyedihkan. Kau yang membuatku seperti ini❞

[13.23]

Lu Han :

❝ Kau di mana, sih? Katakan padaku! Aku tak tenang karena kau kencan dengan lelaki macam Kang Haneul. Juga kau tak membalas pesanku. Aku akan menghampirimu sekarang! Kukacaukan kencanmu!❞

[13.28]

Lu Han :

❝ Balas pesanku! Belikan pesananku. Saat pulang mampir ke rumahku. Jangan kencan dengan Kang Haneul!❞

[13.28]

Lu Han :

line_birzzle_005_o

[13.28]

 

Entah mengapa, Hyerim layak diterror oleh Line Luhan. Kepalanya menggeleng-geleng dengan napas terhela berat setelahnya. “Dia ini sinting atau ingin mati?” ucap Hyerim penuh rasa dongkol.

Dengan dongkolnya, Hyerim membalas pesan Line Luhan dengan wajah memberengut dan sentuhan pada keyboard touchscreennya dengan sangat keras saking dongkol yang sudah mencapai klimaks.

 

Kim Hyerim :

❝ Kau mau mati, brengsek? Aku sedang di bioskop mobil. Oh, pernah lihat tidak adegan romantis ciuman dalam mobil saat melihat adegan ciuman di film? Hmmm… aku dan Haneul sedang melakukannya tadi makanya Linemu lama kubalas. Sudah ya, aku tak ingin membahas masalah ciuman pada anak idiot sepertimu❞

                                                                           [13.32 — Sent]           

Kim Hyerim :

tumblr_nflhy0aWYK1qi0qpyo1_1280

[13.34]

 

Dimerdekai tombol send yang amat keras lah pesan Line penuh dusta itu—well, dustanya cuman bagian ciuman aja sih. Lengkung kulumannya terbinar licik, lalu Si Marga Kim ini menyeringai puas dan memasukan ponsel ke tas dengan lagak santai. Dia senyam-senyum dengan pangkuan tangan depan dada menatap adegan ciuman di film yang tersajikan. Kikikan Hyerim lepas memikirkan reaksi Luhan.

“Aku yakin dirinya jantungan di tempat.” gumam Hyerim dilanjutin dengusan menahan tawanya.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Di sisi Luhan, sesuai prediksi Hyerim. Pemuda itu melebarkan mata dengan jantung yang seakan mau copot. Berciuman. Garis bawahi, ya, berciuman! Dengan reaksi bergetar pada tubuhnya, Luhan mengedar pandang resah ke sana-sini kemudian membaca kembali pesan Line Hyerim.

“Ber—ci—u—man,” eja Luhan lamat-lamat dengan tatapan horror pada ponsel. Sehabisnya irisnya tertuju pada stiker yang Hyerim kirimkan. “Still single?” gumam Luhan kosong dengan alis berjungkit, kemudian menggeleng-geleng pelan dengan perasaan horror.

Ya! Kim Hyerim,” Luhan memanggil nama Sang Sahabat meski anggan semata untuk dijawab, intinya vokalnya penuh hasrat penekanan. “Kau menghina dan berciuman dengan brengsek itu?” ucap Luhan pada foto profile Line Hyerim yang ia lihat sekon sekarang, tatapannya seakan mau menangis. Tahu deh, ingin menangis karena diejek atau karena Hyerim ciuman sama Haneul.

“Heh,” desah Luhan lesu dengan gestur tubuh serta sorot mata nan lesu juga.

Ponselnya tergeletak malang di atas meja sebab kelesuan yang menerjang Luhan. Jari-jari Luhan mulai menyelip disela surainya lalu mengacak-acak ria rambut belah tengah warna blonde Si Pria Lu yang memberi gigitan di bawah ranumnya.

“Apa aku perlu mencari di semua biokop mobil, hah? Haruskah?” ucap Luhan frustasi dengan gestur tubuh bergerak resah.

Ditengah resahnya, bayangan Hyerim yang mengalungkan tangan ke leher Haneul lalu keduanya mengikis spasi sambil memejamkan mata dan memiringkan kepala kemudian berciuman disertai lumatan yang membuai panjang, malahan melintas dibenak Luhan. Sontak netra lelaki China ini melebar sampai seakan mau copot, perlahan kepalanya menggeleng dengan wajah horror.

“Tidak, TIDAKKK! Sialan, Kim Hyerim!” saking tidak warasnya, teriakan Luhan melolong otomatis. Lagi-lagi urat malunya seakan putus dengan sikap tak acuh pada orang-orang yang menatapnya seakan orang gila.

“Dokter Lu,” tahu-tahu perawat datang menghampiri Luhan ke bistro. Luhan pun balas menatapnya setengah berantakan. Perawat tersebut tersenyum risih. “Waktu istirahat anda sudah habis. Nona Cheonsa dengan anjingnya, Baekhee datang lagi. Katanya Baekhee tidak napsu makan dua hari terakhir.”

Berusaha menetralkan benaknya, Luhan mengangguk-angguk. Sekilas melihat ke sekitar dengan tebal muka, meski orang-orang di bistro menatapnya jijik. Lalu dirinya pun bangkit untuk menemui pasiennya.

“Baiklah, Hyerim. Bantu aku, ya.” kata Luhan pada Si Perawat tatkala melewatinya.

Perawat tersebut menatap punggung Luhan yang udah ada beberapa meter di depannya. “Namaku Hyerin, Dokter. Park Hyerin.” katanya tapi tak diidahkah oleh Luhan yang punggungnya mulai menjauh.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

‘Klek!’

Kepala Hyerim berbelok ke jok sebelah—jok kemudi, saat pintunya dibuka. Senyum Hyerim yang penuh kelicikan itu terhapus jadi senyum manis bak bidadarinya tatkala Haneul memasukan tubuhnya ke dalam mobil dengan soft drink, popcorn, dan beberapa makanan ringan. Haneul sudah duduk dan menutup pintu, dia pun balas menatap Hyerim lalu menyodrokan satu popcorn ke arah Sang Gadis dengan kulum senyum hangat selayak biasa.

Lekas, Hyerim menerimanya seraya menggumam, “Terima kasih,” sehabisnya fokus kembali kepada film sambil menyemil popcorn. Ya hitung-hitung mengganjal perut juga karena cacing-cacing di perutnya udah aja minta jatah.

Di sebelah dara yang tengah menahan lapar, Kang Haneul memakan makanan ringan dan menyeruput soft drinknya. Lantas dia pun melirik Hyerim nan terlarut pada scene romantis tontonan keduanya di bioskop sekon ini.

“Hyerim-ssi, sepertinya aku akan menculikmu sampai malam. Tidak kebaratan?” utar tanya atau mungkinnya sebuah permintaan dari Haneul dengan cengirannya.

Pintaan Haneun menyebabkan Hyerim menoleh ke arahnya dengan tatapan bingung. Dia pun menimbang sebentar lalu mengangguk perlahan. “Ah, ya. Boleh.” kemudian menyungging senyum tipis kesan paksaan.

Haneul tampak gembira sampai menggepalkan tangan kanan dan menarik-nariknya dengan wajah ceria. Sementara gadis marga Kim di sebelahnya sudah larut pada film dengan menyeruput minumannya. Lantas dimenit kedepan, keduanya menonton dengan serius.

“Hyerim-ssi, apa kau suka kencan hari ini? Dari pagi hari kita bersama,” menjelang akhir film, Haneul bervokal lagi dengan lirikan dari ujung mata pada Hyerim.

Hyerim pun balas meliriknya dan disajikan Haneul yang tersenyum manis kepadanya. “Hmmm…” gumam Hyerim dengan bola mata berputar dulu dan kembali menatap Haneul. “… ya, aku suka.” kepala Hyerim mengangguk-angguk dengan senyum.

Respon Hyerim membuat Haneul jadi ultra semangat dengan menyilangkan tangan di belakang kepala sebagai bantal. Senyumannya tertarik sempurna. “Sehabis ini aku ingin mengajakmu makan malam dan akan memberikanmu hadiah saat sampai di rumahmu.”

Ayat kata pemuda Kang ini mengundang Hyerim menatapnya dengan menyelipi binar netra penasarannya. Tapi Hyerim tahu kalaupun bertanya hadiah apa yang ingin Haneul berikan, pasti pria tersebut tak akan menjawabnya. Hadiah? Apa kira-kira? Hanya hati Hyerim lah yang berani bertanya sambil menelengkan kepala.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Sudah malam dan makin malam. Dan Luhan kian resah. Dia bolak-balik di depan pintu rumahnya sendiri sembari menggigiti ujung jempol kirinya dengan ponsel di tangan kanan. Sesekali jua melirik pintu rumah Hyerim yang tak berpenghuni.

“Aih,” desah Luhan frustasi dengan mengacak rambutnya. Setelahnya melirik pintu rumah Hyerim lagi, napasnya sekarang terhela.

Inginnya, Luhan mengobrak-abrik seantreo Seoul, kalau bisa Korea Selatan untuk menemukan Kim Hyerim dan menggeretnya jauh-jauh dari Kang Haneul. Apalagi Hyerim mengatakan ciuman. Shit! Pokoknya bila hal itu sungguh terlaksana. Luhan menghentikan jalan mondar-mandirnya dan menuju akun Line-nya, mulailah jari-jarinya menari di layar ponsel.

 

Lu Han :

s9vgrjoqqqfiavanki1p

                                                                                   [21.50]

Lu Han :

❝ Bila kencan dengannya, aku cocok tidak? Bibirnya siapa tahu lebih manis daripada punyamu❞

                                                                            [21.50 — Sent]

 

Dengan seringaiannya, Luhan mengklik tombol send dengan wajah puas.       Fyi, Luhan mengirim foto wali anjing yang menjadi pasiennya di klinik; Yoon Cheonsa, pemilik anjing lucu bernama Baekhee.

Penasaran dengan reaksi Hyerim? Gadis itu dengan kalemnya lagi duduk dalam mobil Haneul setelah candle light dinner di restoran yang ada di Namsan Tower. ‘Kling!’ bunyi notifikasi ponselnya lekas membuat Hyerim mengambil benda kotak tersebut yang ada di dalam tasnya.

“Kau sibuk terus dengan ponselmu kalau kulihat,” Haneul memberi komentar dan menyebabkan Hyerim menoleh padanya dengan cengiran.

Display name Luhan udah terpampang, reflekslah napas Hyerim terhela dengan bola mata berputar. Malas jugalah menerima pesan tak penting dari tadi dari Si China Gila itu. Tapinya, bukan kata-kata sarkasme yang ingin tertoreh di keyboard handphonenya sebab akan dongkol dikirim pesan terus. Mata Hyerim melotot horror melihat pesan Luhan. Scroll up, scroll down terus-terusan dengan melihati foto perempuan yang err—lumayan manis dengan anjing lucu menemani—totalitas fotonya jadi kian manis. Ranum Hyerim sudah mencebik dengan muka tak suka, lantas mengetik dengan perasaan menggebu.

Sedang Luhan, dia tersenyum-senyum tidak jelas dengan kedua tangan di belakang sembari megenggam ponsel dengan tungkai berjalan bolak-balik dengan langkah santai. Tahu-tahu, ponsel dari mode vibratenya, bergetar. Buru-buru dengan perasaan semangat menggebu, Luhan membuka pesan Line dari Hyerim.

Kim Hyerim :

❝ Cocok? : ) Sudah berapa kali kubilang. Cari gadis yang lebih cantik dariku, dasar idiot. Bibirnya manis? O, mungkin efek liptint stroberi juga. Aku punya banyak liptint stoberi. Jangan bicara hal tolol❞

[21.58]

 

Segera Luhan cekikikan sendiri dengan gelinya. Dirinya berhasil memancing Kim Hyerim. Luhan pun mulai mengetik balasannya dengan senyum menyeringainya.

 

Lu Han :

❝ Tapi kau saja dengan Kang Haneul. Kalau tidak ingin aku kencan dengannya. Jangan kencan juga dengan Haneul, apalagi ciuman segala❞

                                                                           [22.03 — Read]

Iris Luhan menatapi lekat bait pesannya untuk Hyerim yang sudah dapat titel read. Dengusannya terlaksana dengan mulut bergerak selayak berdumel. “Ck, hanya diread saja.”

Baru Luhan mau menyumpah serapahi Kim Hyerim dengan kata-kata binatang dan sebagainya, deru mesin mobil menyentil telinganya lekas kepalanya berbelok ke bawah gang tangga rumahnya. Dengan ingatan yang cukup bagus, Luhan tahu betul mobil yang baru berlabuh depan gang rumahnya itu milik Kang Haneul. Oleh sebab itulah, mata Luhan melebar dan fokus memperhatikan.

Selayak biasa, Haneul turun duluan dan gentlely ngebukain Hyerim pintu dengan menyemat senyum hangatnya. Hyerim pun turun dengan senyum manis yang brengseknya dilihat kornea Luhan dan langsung menjadi masalah karena jantungnya lompat-lompat. Kedua insan itupun saling hadap-hadapan kala ini, masih jua Luhan jadi pengamat dari atas tangga.

“Haneul-ssi, terima kasih untuk hari ini,” kata Hyerim tulus, tanggannya bergerak menyelipkan helai rambut di belakang telinga kanan dengan senyum bak bidadarinya.

Terlihat Haneul berseri serta menunduk dengan kaki kanan goyang-goyang dan kedua tangan teramit di belakang. “Ah, tidak usah terima kasih segala,” ujar Haneul dan menusuk irisnya kepada muka Hyerim. “Dan Hyerim-ssi…” aksaranya mengambang dengan jeda beberapa detik, “bisakah kau jawab perasaanku kemarin padamu?”

Topik yang sungguh membuat Luhan penasaran parah dengan telinga lebih jernih. Di sisi Hyerim, perempuan bermarga Kim tersebut menelan ludah dan jadi linglung sendiri. Beda perkara saat menjadi penggemar, dia bisa blak-blakan bilang suka Haneul. Tapi sebagai laki-laki? Hyerim bukan tipe murahan yang suka main-main dalam sebuah perasaan.

“Itu…” ragu, bibir Hyerim jadi kelu dengan digigit di bagian bawahnya.  

Paham Si Gadis Kim tengah ragu, Haneul pun mengangguk. “Aku yakin kau pasti bingung setengah mati,” meski hanya ucapan biasa, Hyerim tahu Haneul kecewa makanya ia pun menatapnya bersalah dengan senyum serupa. “Maka aku akan memberikanmu hadiah yang aku bilang agar kau yakin.”

Belum sempat mencerna, eh, Haneul malahan mengikis spasi dengan cepat. Sejengkal sudah jarak keduanya dan lantas Haneul memiringkan kepalanya kemudian plum keduanya saling sapa, menghantarkan sengatan pada diri Hyerim—atau lebih tepatnya membuat Hyerim kaku. Ciuman tersebut hanya sekedar saling sentuh, tadinya, sebab Haneul mulai menekan bibir Hyerim meski aksesnya masih tertutup dan juga mulai melayang lumatan walau tak tebalas oleh partner ciumannya.

tumblr_mwzblai6dw1s2mfkeo2_r1_500

Di tempatnya, Luhan melongo parah dengan muka terbuka lebar. Tangannya terkepal dengan gemetar. Emosi? Bodoh, enggak usah ditanya! Tungkai Luhan mulai melangkah lebar menuruni tangga, pun mulutnya melolongkan teriakan.

YA! KANG HANEUL BIADAB!” telunjuk pria Lu ini terarah pada Haneul dengan mata berapi-api. Jaraknya sudah dekat dengan kedua orang nan tengah bercumbu itu.

Merasa namanya tersuakan apalagi dilengkapi titel biadab, Kang Haneul melepas cumbuannya pada plum Hyerim yang masih kaku tanpa bisa bergerak, lalu menatap Luhan yang telah sah ada di sebelahnya, dengan tatapan datar. Segera Luhan menarik lengan Hyerim sampai perempuan tersebut berdiri tepat di sebelahnya, gadis satu itu tersentak karena barusan jiwanya sedang pergi ke langit ketujuh dan sekon ini tengah menyarangkan tatapan bingung pada profil samping Luhan.

Diafragma Luhan naik turun tak menentu, napasnya juga begitu, pun matanya setia mengobarkan api. Haneul sendiri berkacak pinggang dengan wajah ogah-ogahan. “Kau tidak boleh main mencium gadis seperti itu. Di tempat terbuka pula. Dasar brengsek.” hardik Luhan, menekan diri agar tidak menonjok.

Dengan wajah santai, Haneul merespon, “Kau memang selalu ikut campur. Harusnya kau pergi saja dari kehidupan Hyerim bila jadi lintah sok mengatur,” sarkas Haneul dengan menyelipi senyum sarkastik.

Bukan cuman Luhan, Hyerim juga melebarkan mata mendengarnya. Baru Luhan ingin membalas, Hyerim keburu menyela dengan harmoni hati-hati. “Haneul-ssi, Luhan bukan lintah. Dia sudah seperti keluarga. Dia sahabatku selama tujuh belas tahun. Jadi kadang, ya, walau sering melangkahi privasi, kita memang suka sedikit ikut campur.”

Luhan menatap samping wajah Hyerim sejenak dan beralih lagi pada Haneul dengan tampang percaya diri serta mengangguk setuju. Dirinya merasa puas bahwa faktanya Hyerim membelanya. Haneul yang berkacak pinggang terlihat menunduk dulu sebelum akhirnya menghela napas berat, dia menatap Hyerim lekat dan memelas.

“Hyerim-ah, kau yakin adanya sahabat antara lelaki dan perempuan? Bila kalian Sehun dan Sun Ee, aku percaya saja karena mereka kembar lima menit. Kalian? Hubungan darah saja tidak ada. Sahabat itu hanya momoknya untuk mempertahankanmu. Tahu-tahu dia malahan akan menikahimu nanti,”

Mulut Hyerim membuka dan menutup cengo, refleks dia pun menyangkal dengan gelengan kuat-kuat. Singungan akan pernikahan jadi mengingatkan Hyerim pada janjinya dan Luhan untuk tidak saling menikahi.

“Ah, tidak mungkin. Kita pernah janji untuk tidak saling menikahi. Dia ini sudah seperti oppaku, keluargaku. Orang tua kami juga sudah seperti sepupu.”

Hyerim memasang wajah untuk meminta pengertian Haneul. Tanpa tahu, Luhan sedang menatapnya dalam dari samping. Well, dia awalnya setuju saat dibela Hyerim namun kenapa malah serasa dicubit akan kata-kata Hyerim terakhir kali.

“Aku tidak mau jadi saudaramu,” kata Luhan tiba-tiba, tanpa mengalih atensi dari Hyerim membuat dirinya jadi pusat pandang sekarang. Nampak Hyerim terkejut. “Dan aku tak suka kau kencan dengannya.”

Sekilas, Hyerim melirik Haneul dulu seraya menggigit sejenak bawah bibirnya lalu menatap Luhan bingung. “Apa maksudmu? Dan kau tidak pernah ikut campur urusan asmaraku selama ini,”

Bahu pria bermarga Lu ini terangkat, tak tahu juga dengan raut tak acuh. “Entah. Aku hanya merasa tidak sanggup lagi dibilang seperti keluarga olehmu. Dan aku tak suka saat kau harus kencan dengan pria. Selama ini aku baik-baik saja, tapi sekarang tidak. Aku juga tidak mau berbagi bibir manismu dengan orang lain.”

Nyaris, Haneul tersedak ludahnya sendiri maka dari itu dia meloloskan batuk-batuk palsu sekarang sambil menggepal tangan kanan yang ia taruh di depan mulut dengan menunduk. Mata Hyerim pun  membola sekarang. Sedangkan Luhan malah memasang wajah polos tanpa ekspresi tanpa tahu pengungkapan blak-blakan bin tololnya itu berarti apa, well, seperti biasanya aja.

Hyerim menekuk wajah tak enak, apalagi ambigu tentang berbagi bibir. “Maksudmu apa?” desis Hyerim penuh penekanan dan melirik Haneul sekilas dengan malu.

Luhan menelengkan kepala dan masih berlagak polos menatap Hyerim. “Entah, itu suara hatiku.”

Bodoh. Hyerim berdesir sekarang, seakan dihatinya ada sesuatu yang bermekaran. Entah apa itu. Keduanya saling tatap dengan terpaku. Dan Kang Haneul diam-diam menatapi dengan penuh arti.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Setelah keterpakuan lama lantar pengakuan polos tapi tersirat tolol punya Luhan, Haneul memutuskan pulang dan membuat Hyerim serta Luhan pun beranjak untuk memasuki rumah masing-masing. Keduanya sedang berdiri saling hadap-hadapan di depan rumah mereka masing-masing. Tahu-tahu, Hyerim memasang wajah memberengut kesal kemudian melayangkan tendangan super dahsyat pada tulang kering Luhan.

“Akh!” bukan main sakitnya, Luhan merintih keras dengan mimik kesakitan sambil memegangi samsak tendang Hyerim di tubuhnya. Ikutan kesal, Luhan menatap Hyerim marah. “Apa-apaan—“

“—Membagi bibir? Kau kira bibirku punyamu, hah? Mimpi!” sela Hyerim dengan seruan dioktaf tinggi.

Jujur, Luhan merasa pipinya panas disinggung kata-kata tololnya tadi yang refleks dari hatinya. Tapi gak mau kalah dengan terlihat bodoh, Luhan balas berseru. “Ya! Dan kenapa bibirmu murahan sekali, hah? Sudah berciuman di bioskop mobil dan sekarang berciuman di depan mobil! Aku tak suka melihatnya!”

Tangan Hyerim berkacak di pinggang dengan memiringkan kepala ke kanan. “Lalu? Kau lebih suka aku berciuman begini?”

Dan dengan secepat kilat, Hyerim memajukan wajah ke wajah Luhan. Menghilangkan jarak dan suara ‘cup’ manis terdengar dari ciuman singkat Hyerim yang menempelkan sebentar bibirnya ke bibir Luhan.

lee-jong-suk-and-han-hyo-joo-kissing

Sontak netra Luhan melebar, sedang Hyerim menyeringai setelah memberi kecupan singkat tersebut dengan kepala lebih dimiringkan.

“Hei, Kim Hyerim,” panggil Luhan dengan mata melotot tatkala sadar. “Kau gila?” ucap Luhan dengan teriakan tertahan.

Hyerim mengangkat bahu cuek dengan wajah nan seirama. “Ya, tidak sih. Hanya memberi sedikit pelajaran untuk jomblo menyedihkan,”

Lagi-lagi olokan jomblo menyedihkan, membuat Luhan mengatup rahangnya keras. Dagunya pun agak terangkat dengan tatapan tajam. “Heh, aku ini jomblo menyedihkan karenamu! Aku tidak bisa memilih gadis maka selalu tergantung pada pilihanmu! Kau selalu bilang, cari gadis yang lebih cantik darimu. Padahal dirimu saja tidak sebanding dengan ujung kuku Song Hyekyo!”

Mulut Hyerim melihatkan celah, kesal sudah diubun-ubun. “Apa kau bilang? Mau kucium lagi supaya mulutmu tidak menghinaku, hah?” sembur Sang Gadis yang lalu mendekatkan sedikit wajahnya dengan mata melolot.

Refleks Luhan agak menjauhkan wajah dengan menahan napas. Sialan, harmoni acak tercipta di dadanya. “Heh! Kau memang selalu mencuri ciumanku! Aku ingat sekali ciuman pertama kita di koridor sekolah…”

Sungguh, mengingatnya membuat Luhan gagap setengah mati, seperti sekarang contohnya dengan menggantungkan kata dan bibirnya bergetar. “… kau sudah membuatku dicap sebagai selingkuhanmu. Lalu kau main menciumku. Kim Hyerim, neo… (kau)” telunjuk Luhan menunjuk Hyerim dengan gemetar dan gigit merapat keras. “… neo jinja micheosseo! (kau benar-benar gila) Mana ada bibir perempuan murahan seperti itu, apalagi ciuman itu… ciuman itu……”

Napas Hyerim terhela keras melihat Luhan gagap setengah mati. “Keugae nae chokisseu-ya! (Itu ciuman pertamaku)” akhirnya klimaks juga ucapan dengan nada agak tinggi.

Chokisseurago? (Ciuman pertama katamu)” alis Hyerim berjungkit dengan wajah sarkastik, kontras dengan wajah kepiting rebusnya Luhan yang memilih menatap arah lain. “Kau sungguh lupa? Ciuman pertama kita itu saat kau tiba-tiba menciumku!” seru Hyerim dengan wajah tak terima.

Lantas Luhan menatapnya dengan cengkeng mata melebar, syok mendengar seruan Hyerim. Hah? Kapan emangnya dirinya mencium Hyerim duluan? Yang ada dirinya hampir mencium Hyerim dekat lapang sepak bola dulu karena ketagihan bibir Sang Gadis yang main nyosor menciumnya di koridor.

Naega eonjae? (Memangnya kapan)” teriak Luhan memecah malam. Dih, Hyerim ngarang cerita saja, membuatnya sebal dan menggertakan gigi dengan tatapan super tajam.

Mimik Hyerim berubah jadi agak lesu dan kepalanya teralih ke kiri. “Lupakan.” tubuh Hyerim berbalik, menekan passcode rumah lalu masuk dengan bantingan pintu.

Di lain sisi, Luhan menatapnya bingung bin linglung. Berarti ciuman pertama mereka bukan di koridor? Kalau begitu, kapan? Luhan saja tidak ingat, otaknya buntu meski diperas kuat tuk berpikir sambil memiringkan kepala. Tujuh belas tahun bukan waktu yang bentar, membuat kenangan yang dilalui itu sangat banyak dan kadang ada yang terlupakan jadinya. Tanpa Luhan tahu, Hyerim di dalam rumah sudah merangsek di atas lantai dengan punggung menyender ke pintu.

Dengan kosongnya, Hyerim menggumam, “Apa dia sungguh lupa ciuman itu?”

Dan Luhan yang masih bingung juga ikut bergumam, “Aku… mencium Hyerim? Kapan?”

║█║♫║█║ —  Friendzone : When The Love Blossom  ║█║ ♪ ║█║

EPILOG

“Sayang, masakanmu enak,” puji anak lelaki berusia sebelas tahun itu dengan nada sok manja dan memukul pelan bahu anak perempuan di sebelahnya.

Dia sok akting gini daripada kena pukul. Padahal emang akting sih. Kan main rumah-rumahan dengan makanan dari batu-batuan. Si Anak Perempuan menatapnya dengan senyuman lebar sampai matanya kayak bulan sabit.

“Aih, kau bisa saja. Kalau begitu mana hadiah yang kau janjikan?” tagih anak perempuan bernama Kim Hyerim ini sambil mengadahkan telapak tangannya ke anak lelaki sebayanya yang bernama Luhan.

Luhan terlihat berpikir dengan mengadahkan kepala dan menggaruk dagunya. Bingung juga mengasih hadiah apa. Lalu dirinya ingat sesuatu. Minggu lalu, ibunya sedang nonton sebuah acara veriaty show yang bertema pernikahan dan tanpa sengaja Luhan ikut menonton di sebelah. Saat itu Si Pemeran Istri minta hadiah sambil menunjuk bibir dan lantas suaminya memberikan kecupan di bibir. Sontak mata Luhan melebar serta berbinar, kemudian menatap Hyerim yang masih menanti hadiahnya.

Dengan pikiran polosnya, Luhan main mendekatkan wajahnya dan menyebabkan kecupan terjadi di bibirnya dan Hyerim. Anak perempuan yang dapat ciuman dari Luhan itu hanya terkaget-kaget dengan mata melebar. Setelah semenit, Luhan menjauhkan wajah dan menebar senyum polos.

“Itu hadiah dariku.” ujar anak cowok satu itu tanpa dosa dengan cengiran lebar tanpa tahu Hyerim yang menatapnya tanpa ekspresi itu sedang mengalami kontraksi hebat di jantung.

—To Be Continued—

blog-divider-wreath-elements-06-2013-smaller

HARAP NGAKU YANG SEMANGAT BACA KARENA SUBTITLENYA KISS, NGAKU AJA NGAKU AHAHAHAHAHA. YA LORDDD, INI HYERIM-LUHAN, DUA MAKHLUK INI MAKIN GEMEZIN ASTAGAAAA. AMBIGOUS SEKALI KALIAN BERDUA YA TUHAN : (((

Ternyata mereka sudah saling sosor semenjak umur 11 LOL. DAN UDAH KUBILANG, ‘KAN KALIAN HARUS KEPO PERIHAL HYERIM-MINHO TUH PUTUS KARENA APA. IYESS, KARENA BERHUBUNGAN SAMA SUBTITLE CHAPTER INI. DAN BTW, AKU KOK NGERASA CHAPTER 8-9NYA FRIENDZONE : WHEN THE LOVE BLOSSOM ITU KIAN HAMBAR YA 😦 gak tau deh pas aku post tar ngecewain atau gak. Awalnya serius gak mau Luhan…. (kurahasiain LOL) kek ‘gitu’ dulu di chapter 8 & 9. Tapi ya, ini aku ngaur ke mana-mana T-T efek baca imagine bentuk FF yang buat ini baper sama scene-scenenya, ya jadinya gini T-T

Btw, liat Haneul so kiyowo di Running Man dan membuatku falling in love so hardly with him again, jadi gak tega nistain dia di FF ini bft. Tapi udah terlanjur 😦 mianek Haneul, aku sayang kamoh kok :((( dan lagi, cast di sini yang dapet peran nyebelin, aku gak berniat ngebenci mereka, seriusan huhuhu 😦 aku suka random aja milihnya wkwkwkwk. Rata-rata mereka bias aku ahahahaha.

Sudahlah, komenan kalian selalu kutunggu lho! ❤

P.S : YAWLAHHH FOTO CIUMANNYA ITU HANEUL SAMA JIWON YALORD YALORRDDDD. DAN KENAPA ANE GATEL JUGA NYELIPIN KISSING DI W : TWO WORLDS, AHAHAHAHAHA.

P.P.S : ITU FAKE INSTAGRAMNYA HYERIM HASIL ISENG, TADINYA GAK MAU BUAT GITU WKWKWKW. TAPI BIARLAH, ISENG-ISENG BERHADIAH, SIAPA TAW HADIAHNYA PIRING CANTEQ (?)

Salam sayang,

HyeKim a.k.a calon istri Haneul (?) yang mau ditinggal wamil eyaks -_-

 

Advertisements

Author:

❝The writer is the engineer of the human soul.❞ — Joseph Stalin ¦¦ Literally a korean trash, Luhan's tinkerbell, and Shownu's baby — ©2001

7 thoughts on “FF — Friendzone : When The Love Blossom [Keping 5 : Kiss]

  1. Hay Elsa
    Ceritanya daebak banget,,
    Akunya sampai senyum* sendiri bacanya
    😂
    Maafnya chapter lalu aku ngak comen hehehe mian,

    Ditunggu kelanjutannya thor,
    Jangan lama* ya
    Fighting untuk karya* nya 💪

    Liked by 1 person

  2. elsanim…..

    aku ninggu nih , kapan keping 6nya publish??
    trus chap 9 this love juga ditunggu…
    trus ,, /kebanyakan shann-_-/ yang the wonderful series jugaaa…
    plisss yaa, ya, ya,… aku udah nunggu nih… hhehehhe

    tengkiyu els…
    himneyoo…
    *bow

    Liked by 1 person

    1. Sabar ya kak. Aku nulisnya satu-satu, revisinya juga. Gak tiap minggu juga aku jadwalin. Karena gak semuanya udah aku tulis jadi. Utang ffku juga banyak selain tiga ff itu, kadang berbulan-bulan malah:)

      makasih ya udah nunggu dan suka karyaku. Aku usahain dipublish kalo masih mau setia nunggu walau lama

      Like

Write ur Love Letter . . . <3

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s