Posted in AU, Chapter, Comedy, Fanfiction, FF : This Love, PG-15, Romance, Sad

FF : This Love — Chapter 10

ir-req-this-love-21

This Love Chapter 10

©2017 HyeKim’s Fanfiction Story

Starring With : Luhan as Luhan || Hyerim (OC) as Kim Hyerim

Genre : AU, Romance, slight!Sad, a bit Comedy || Lenght : Chapter || Rating : PG-15

Poster By : IRISH @ Poster Channel

Previous in This Love (Prolog — Chapter 9) :

⇒ Click This ⇐

Summary :

Ketika 2 pasukan tentara dari negara berbeda disatukan dalam lika-liku hubungan cinta. Keduanya dipertemukan namun jarak yang memisahkan serta restu dari orang tua pun menjadi penghalang. Hanya sepenggal kisah antara Luhan, salah satu pasukan khusus dari China dan Hyerim, seorang dokter tentara dari Korea Selatan. Bagaimana kelanjutan kisah keduanya?

Note :

FF ini terinspirasi dari kisah cinta Yoon Myeong Ju dan Seo Dae Young dari drama korea populer descendant of the sun serta lirik dari soundtrack drama tersebut. Namun dari segi cerita yang ada sudah diubah oleh saya sendiri. Bila ada adegan yang dicetak miring/italic itu menandakan sebuah kilas balik/flashback.

Disclaimer :

This is just work of fiction, the cast(s) are belong to their parents, agency, and God. The same of plot, character, location are just accidentally. This is not meaning for aggravate one of character. I just owner of the plot. If you don’t like it, don’t read/bash. Read this fiction, leave your comment/like. Don’t be plagiat and copy-paste without permission.

HAPPY READING

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║


Every time I see you

When I see your eyes, my heart keeps fluttering

You’re my destiny. The only person I want to protect until the end of the world

 [Chen ft. Punch ─  Every time (ost. Descendants of The Sun)]


Tes. Tes. Tes. Dari setetes menjadi dua hingga akhirnya beribu-ribu buliran air mata membasahi pipi tirus Hyerim. Berkali-kali juga punggung tangan Hyerim menyeka air mata tersebut dengan kasar. Jangan menangis, kamu sudah memilih begini. Kata-kata tersebut terus dikumandangkan oleh hati Hyerim. Bibir bawah Hyerim digigit olehnya sangat kuat, tidak membiarkan satu isakan lolos barang sekalipun. Punggungnya langsung menyender di tembok sebuah bangunan dan tangannya sedang meronggoh saku celananya untuk mengambil ponselnya.

“Hallo.” suara Jieun menyapa telinga Hyerim tatkala panggilan tersebut terjawab. Hyerim memejamkan mata dengan dada sesak luar biasa menahan isakannya.

“Jieun, kamu benar…” ucap Hyerim lalu membuka mata kembali dan tampak dadanya naik turun diiringi napasnya yang tersenggal. “Kesedihan dan kebahagian itu hidup berdampingan.” Hyerim mengusap kasar air mata yang merembet turun.

Jieun terkekeh pelan lantaran tak peka akan keadaan Hyerim. “Kamu ini lebih perasa ya sekarang? Jangan terlalu dibawa hati gurauanku tadi.”

Dengusan Hyerim tercipta disertai sesegukannya. “Tapi perkataanmu benar, aku dan Luhan sudah berakhir.”

Di sebrang sana, Jieun yang sedang merajut langkahnya sampai menghentikannya. Tubuhnya terasa tertampar sesuatu mendengar ucapan Hyerim tadi. “Lagi? Kalian berakhir? Kamu sedang bercanda ya? Kalian kan─”

“Orang lain benar. Harusnya kita tidak saling tertarik dari awal karena pekerjaan kita.” Hyerim tersenyum meringis dengan pedihnya. Jieun pun melihatkan tatapan prihatinnya walau Hyerim tidak bisa melihatnya.

“Hyerim-ah…” panggil Jieun lirih. Hyerim menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha menguatkan diri walau air mata kembali merembes keluar.

“Mungkin Luhan bukan jalan juga takdirku, Ji.”

Helaan napas Jieun terdengar lalu dirinya mengangguk perlahan disertai senyuman tipisnya pertanda salut akan sahabatnya yang berusaha tegar. “Setidaknya masih banyak lelaki yang melemparkan diri padamu.” gurau Jieun yang sekarang sukses membuat Hyerim tertawa pelan walau terkesan terpaksa.

“Ya, aku tinggal menyeleksi mereka.”

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Sudah menginjak hari ketiga pasal hubungan Luhan dan Hyerim berakhir. Selama itulah Luhan tidak pernah melihat Hyerim meskipun seluet punggung gadis tersebut. Letjen Kim sudah kembali ke Korea kemarin malam dan sudah mengetahui akan putusnya hubungan Luhan dan putrinya. Semenjak Luhan memutuskan hubungannya dengan Hyerim. Dirinya tidak lagi menginjakan kaki di pangkalan militer Korea Selatan ketika jam makan siang. Meganggu Hyerim disela jam kosongnya untuk sekedar mengajak gadis tersebut meminum kopi bersama. Juga merelakan jam tidurnya saat malam hari demi kencan diam-diam di dekat gudang makanan yang berbatasan dengan kedua pangkalan militer tersebut dan diakhiri dengan kecupan sayang di dahi Hyerim darinya sebagai salam perpisahan. Serta tidak lagi mendapati wajah cerah Hyerim menyapanya ketika menoleh ke pagar pembatas. Hati kecil Luhan tidak bisa berbohong bila dirinya merindukan gadis tersebut.

Sekarang Luhan sedang berada di kantin barak dan menyantap makanannya tanpa selera dengan pandangan kosong. Di depannya, Yixing hanya menatapnya penuh arti. Ketika tahu hubungan sahabatnya itu kandas kembali, Yixing hampir menjedotkan kepala Luhan ke wastafel kamar mandi barak dan itu memang hampir terjadi. Dirinya tak habis pikir saja, ketika Luhan rela berkorban melepas karirnya tapi yang didapatkan hanyalah sebuah akhir dari segalanya.

“Aku dengar Kapten Lu sudah putus dengan Letnan Kim,” bisik Sersan Jun kepada Jackson yang langsung mengangguk-angguk. Di sebelah mereka terdapat jejeran rapi anggota pasukan khusus yang lainnya sedang menatap Luhan penuh minat.

“Artinya aku punya kesempatan mendekati Letnan Kim!” seru Sersan Jun pelan sambil menggepalkan tangan kanan dan menariknya ke bawah diiringi raut riang. Di sebelahnya terdapat Kopral Dong menatapnya tidak suka.

“Heh! Letnan Kim mana mau denganmu!” sahut Kopral Dong tak terima dan Sersan Jun menatapnya marah.

“Tentu saja mau. Kapten Lu wajahnya biasa-biasa saja dan buktinya Letnan Kim mau,”

“Jadi maksudmu, Kapten Lu itu wajahnya jelek?” sahut salah satu dari pasukan tersebut membuat Sersan Jun salah tingkah.

“Bukan begitu, bukan,” tawa renyah keluar dari mulut Sersan Jun sambil menggaruk belakang kepalanya. Jackson yang melihati dari tadi hanya mendengus geli.

“Intinya Letnan Kim tidak mau dengan kalian semua. Dia sulit didapatkan.” Jackson akhirnya buka suara kemudian membuang pandang dari yang lainnya.

Disaat para pasukan membicarakan Hyerim dengan kecantikannya tersebut. Hanya Yixing dan Luhan yang berhadap-hadapan sambil memakan makan siangnya dengan tenang. Yixing duluanlah yang menghabiskan makanannya lalu menunggu isi piring Luhan habis. Akhirnya Luhan menyelesaikan makan siangnya dan meminum air mineral. Beberapa pasukan pun sudah menyelesaikan makanan mereka dan memilih meninggalkan kantin. Hingga tersisa sepasang sahabat tersebut.

“Ada apa menatapiku terus? Sudah berpindah haluan menjadi homoseksual?” tanya Luhan setelah menaruh gelasnya di atas meja kemudian tersenyum menahan tawanya karena candaan yang dilemparkannya. Yixing tampak mendengus geli mendengarnya.

“Sangat bodoh bila aku begitu sementara hatimu milik wanita Korea yang bersebelahan dengan pangkalan kita,” entah Yixing sedang menyindir Luhan yang berpura-pura sok tegar akan perpisahan ini atau hanya mengingatkan perilaku bodoh Luhan yang main melepaskan Hyerim begitu saja. Intinya Luhan hanya diam dan tersenyum tipis akan ucapan sahabatnya itu.

“Mulai sekarang aku harus merombak hatiku,” ucap Luhan tenang dengan senyuman yang sama tenangnya.

Yixing membungkukan sedikit badannya kemudian menatap Luhan lekat. “Kamu sungguh ingin melupakannya?” kembalilah Luhan diam diiringi kedua tangan ia amit menjadi satu di atas meja dengan senyum tipisnya. “Kamu tidak bisa menjawabnya berarti kamu masih mencintainya.”

“Memang masih,” jawab Luhan cepat lalu membuang napasnya lelah. “Tapi dirinya berkata karena mencintaiku hatinya menjadi sakit. Aku tidak mau seperti itu.” Luhan kembali mengingat kata-kata Hyerim ketika memutuskan hubungan keduanya.

Mendengarnya membuat Yixing membatu tanpa tahu harus merespon perkataan Luhan seperti apa. Lalu Luhan pun berucap kembali. “Mulai sekarang kita akan hidup dengan jalan masing-masing tanpa status melebihi sebuah teman.”

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

“Kamu sibuk ya akhir-akhir ini?” tanya Minho ketika mengunjungi Lian yang sedang sibuk dengan beberapa obat-obatan. Lelaki ini menerobos masuk medicube China seenak jidatnya. Perilaku tersebut memang sudah mendarah daging dalam diri Minho sepertinya.

Lian hanya menggumam menjawab pertanyaan Minho tanpa mengalihkan perhatiannya dari obat-obatan yang ia susun. “Aku kira kamu masih mau perang dingin masalah pekerjaanku,” sindir Minho karena Lian belum juga membahas percakapan dirinya dan Minho beberapa hari yang lalu.

Penggerakan Lian terhenti sesaat kemudian menatap Minho yang sedang bersender di kaca pembatas ruang obat. Lian menyunggingkan senyumannya lalu berkata. “Aku tidak membahasnya karena aku sudah tidak ragu,” diam-diam Minho tersenyum mendengarnya. “Jikalau kamu terluka, maka tugasku sebagai dokter akan kulaksanakan sebaik mungkin.” Lian melanjutkan dengan senyum yakinnya.

Mendengar perkataan kekasihnya membuat Minho tersenyum senang kelewat lega. Dikiranya tiga hari ini dengan alasan sibuk, Lian menghindarinya kerena gelisah akan pekerjaannya. Langkah kaki Minho mendekati Lian lalu mengusap rambut gadisnya.

“Tentu karena kamu ibu dokterku.” perkataan Minho itu membuat Lian menunduk dan tersipu malu, padahal perkataan tersebut sering terucap dari bibir Minho.

Saat atmosfer mesra itu masih berjalan, tiba-tiba Minho menghentikan usapan lembutnya dan membuat Lian menatapnya lalu mendapati Minho seakan teringat sesuatu. “Ehm… Wu,” Lian memiringkan sedikit kepalanya mendengar Minho memanggilnya begitu. “Kamu sudah tahu belum bahwa Hyerim dan Luhan sudah putus?” tanya Minho dengan nada hati-hati dan dirinya langsung mendapati bola mata Lian melebar dengan mulut terbuka.

“Putus?” ulang Lian hampir memekik, Minho pun mengangguk pelan. “Ya Tuhan, kenapa mereka putus lagi?” ujar Lian dengan raut kecewanya.

Minho mengedikan bahunya dan menyahut. “Kamu tahu sendiri jalanan kisah mereka itu menyulitkan dan mereka membuatnya tambah sulit.”

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Setelah selesai bertemu dengan Minho, Lian langsung mencari Hyerim ke mana-mana. Pantas saja selama tiga hari ini dirinya tidak menemukan Hyerim berkunjung ke pangkalan militer China tuk sekedar menjenguk Luhan. Bahkan Yixing dan Luhan pun tidak memberitahu hal ini. Akhirnya Lian menemukan sosok Hyerim sedang membawa satu kardus coklat beberapa meter di depannya, langsung saja Lian berlari mendekatinya.

“Heh! Kim Hyerim!” seru Lian sambil mengatur napas seusai berlari dan menyentuh bahu Hyerim membuat Hyerim menoleh padanya.

Lian membungkukan badan sebentar dengan napas tersenggal lalu menegakan tubuhnya ketika merasa sudah tidak lelah. Hyerim sekarang sedang memandangnya heran. “Kamu… putus dengan Luhan?” tanya Lian hati-hati sambil menatap Hyerim harap-harap cemas.

Senyum tipis terukir diwajah Hyerim, dirinya sudah mulai terbiasa menghadapi singgungan nama Luhan juga kata putus yang dilontarkan orang-orang padanya. “Aku mengatakan padanya, mari kita putus. Maka menurutmu aku putus dengannya atau tidak?”

Tampak Lian mendesah keras dengan mata terpejam sesaat, kemudian dirinya menatap Hyerim seakan memohon. “Aku sungguh-sungguh.”

“Aku juga sungguh-sungguh,” balas Hyerim cepat lalu dirinya menyingkirkan tangan Lian dari bahunya menggunakan gerakan bahunya ke atas membuat tangan Lian tersingkir begitu saja. “Sudahlah aku tidak ada waktu membahas masa laluku. Aku harus membagikan roti ke anak-anak di desa.” lalu Hyerim undur diri dari hadapan Lian, sementara Lian menatapnya dengan miris.

“Kalian berdua patut diberi oscar. Padahal sakit hati tapi berlagak baik-baik saja.” gumam Lian diiringi punggung Hyerim menghilang total dari pandangan matanya.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Hyerim sampai di tempat tujuannya. Di sebuah desa yang sedang mengalami kelaparan, desa yang sama yang dikunjungi dirinya bersama Luhan saat itu. Hyerim langsung membuang jauh-jauh ingatannya akan Luhan dan kembali membagikan roti-roti tersebut. Dirinya tak sendiri dan ditemani Jinki yang membagikan roti di lain sisi. Di saat aksi sibuknya membagikan roti, seorang anak perempuan mendekati Hyerim dan menarik-narik ujung bajunya. Hyerim menoleh dan melemparkan senyumannya lantas berjongkok.

“Ada apa?” tanya Hyerim menggunakan bahasa Urk dengan logat anehnya karena baru beberapa minggu terakhir ini dirinya mempelajari bahasa tersebut.

Si Anak Perempuan menyunggingkan senyum cerahnya lalu melihatkan sebuah kertas yang ia sembunyikan di balik punggung, kertas tersebut dilihatkannya pada Hyerim yang penasaran. Namun ketika mata Hyerim menelisik gambar tersebut yang diwarnai dengan crayon. Itu adalah gambarnya dan Luhan─ditandai dengan dua orang dewasa berbeda kelamin dengan warna baju dan gestur menyerupai dirinya dan Luhan tatkala pertama kali ke desa ini. Di samping gambar keduanya terdapat gambar anak-anak yang saat itu Hyerim berikan roti. Terdapat tulisan you are my everything yang sangat berantakan dan ejaan yang salah di kertas tersebut.

 

“Tapi aku percaya kamulah takdirku, Lu. Layaknya bintang jatuh yang membuatku menemukan dirimu, hanya dirimu dihatiku. For me, you’re my everything.”

 

Ah Hyerim jadi teringat kata-katanya sendiri, ingin sekali dirinya tertawa miris lantaran mengkhianati kata-katanya sendiri karena mengatakan mungkin sekarang Luhan bukanlah takdirnya. Hyerim menatap anak perempuan yang memberikannya gambar tersebut dan tersenyum tipis lalu mengacak-acak rambut anak itu.

“Gambaranmu bagus.” ujar Hyerim dengan nada sedikit tersendat karena bahasa Urknya belum lancar dan Si Anak mengatakan terima kasih dalam bahasa Urk dengan senyum senangnya.

Hyerim kembali berdiri lalu menatap gambaran tersebut terlebih pada gambarannya dan Luhan yang bersebelahan dan diberi tanda hati ditengah-tengahnya. Kata-kata you’re my everything membuat Hyerim tersenyum miris. Mau bagaimanapun dirinya harus tetap melupakan Luhan.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Gambaran dari anak perempuan dua hari yang lalu, Hyerim taruh di ujung meja kerjanya meski sudah sedikit lusuh. Kini Hyerim sedang berkulat dengan daftar obat-obatan yang baru datang dari Korea. Dengan teliti Hyerim mencoret kertas tersebut menggunakan tanda x pada nama obat yang sudah sampai.

‘Bak!’

Kagetlah Hyerim tatkala kedua tangan kekar menyentak meja kerjanya hingga barang-barang di atasnya sedikit bergetar. Hyerim mengadahkan kepalanya dengan iris mata tajam menatap Minho yang malah menampilkan muka tanpa dosa dengan cengiran bodoh setelah nyaris membuat Hyerim jantungan.

“Hyerim,” Minho menyapa dengan nada riang namun yang ia dapatkan dari Hyerim malahan putaran bola mata malas. “Sepertinya kamu sibuk.”

Minho mencuri-curi waktu melirik kertas daftar nama obat-obatan yang Hyerim pegang akan tetapi Hyerim menarik kertas tersebut lalu mengubah posisi duduknya jadi menyamping. Seakan hukum yang haram bagi Minho untuk melihat satu gores tulisan di daftar tersebut. Minho hanya memandang datar Hyerim akan aksinya.

“Hyerim…”

Mwoya? (apaan sih)” jawab Hyerim ketus dengan delikan tajamnya.

Tubuh Minho ia gerakan menjadi membungkuk dengan kedua tangan menopang dagu di atas meja. Sekilas Hyerim meliriknya kesal. “Lian ingin memberikanmu cefotaxime yang kamu minta.”

Tanpa melirik Minho dan sibuk menulis, Hyerim menjawab. “Dia punya kaki kan? Jadi berikan cefotaxime itu ke sini atau tidak kusumpahi dirinya terkena virus M3.”

Lidah tajam Hyerim beraksi membuat Minho mendesah menahan rasa kesalnya. Memang dua hari lalu, Hyerim meminta Lian untuk memberikannya cefotaxime dari China karena persediaan di Korea sedang habis. Hyerim hanya ingin berjaga-jaga bila saja virus M3 tersebut tersebar kembali sementara medicube Korea sudah kehabisan cefotaxime itu.

“Tadi itu aku dan Lian sedang berkencan.”

Hyerim mendengus mendengarnya. “Ingin pamer masih bisa menjalin kasih?” ucap Hyerim merasa tersindir dan Minho malah terkekeh mendengarnya.

“Bukan, hanya ingin menjelaskan…” Hyerim mengacanginya untuk menyuruh Minho lanjut bicara sementara dirinya menulis laporan tentang obat-obatan yang diterima untuk diberikan kepada Taemin. “Kamu tahu pantai yang dikelilingi tebing-tebing tinggi di pinggir jalan kan?”

Pertanyaan Minho membuat gerakan menulis Hyerim terhenti sesaat karena teringat kencan malam romantis di atas kapal bersama Luhan. Namun itu hanya sesaat kala Hyerim kembali menulis. “Hm.” respon Hyerim dengan gumamannya.

“Kami kencan di situ dan tahu-tahu aku dipanggil komandan batalion,” kata terakhir Minho disuarakan dengan nada lesu dan Hyerim tertawa mengejek akan hal itu. “Lalu Lian mengatakan ingin memberikan cefotaxime padamu dan tetap ingin lanjut kencan denganku. Maka dari itu sebelum ke pangkalan Taebaek, aku ke mari untuk menyuruhmu ke tempat kencanku untuk mengambil cefotaximenya. Setelah selesai dengan komandan, aku bisa lanjut kencan.”

Hyerim menghela napasnya diiringi tugas mendatanya selesai. Dirinya mengangkat wajah menatap Minho yang entah kenapa malah menatapnya penuh harap.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Choi Minho menyusahkan. Tak lupa juga dengan Wu Lian. Pasangan yang buat repot. Memangnya pergi ke pantai yang Minho maksud itu mudah apa? Hyerim harus menggunakan perahu menuju ke sana. Air yang terbelah dengan perahu Hyerim sangatlah jernih bahkan perahunya seakan mengambang tanpa adanya air. Sampai akhirnya Hyerim tiba di pantai yang menjadi tujuannya dan ujung matanya mendapati punggung seseorang yang tak asing. Ketika menyadari siapa pemilik punggung tersebut, Hyerim melebarkan mata dengan mulut sedikit terbuka.

Perahu Hyerim sudah menepi diiringi langkah kakinya yang turun dan mulai berjalan di atas pasir pantai yang berada di ujung tebing-tebing yang mengelilinginya. Langkah kaki yang tercipta dari kaki Hyerim sangatlah perlahan dengan hati-hati serta raut ragu. Punggung yang menarik perhatian Hyerim tampak memutar tubuhnya membuat paras pemilik punggung tersebut terungkap, muka yang ia tampilkan kelewat jengkel.

“Heh Yixing! Kenapa lama, aku ini sudah haus─” muka kelewat jengkel milik Luhan─Si Pemilik Punggung tersebut, langsung luntur tergantikan dengan raut gugupnya dan suaranya yang seketika memelan dan tertelan entah ke mana, bibirnya bungkam mendapati sosok Hyerim di hadapannya.

Atmosfer yang tercipta menjadi aneh dengan keheningan yang menyelimuti. Hanya tabrakan antara air dan perahu yang Hyerim tumpangilah yang terdengar. Hyerim memandang Luhan tanpa ekspresi begitupun sebaliknya. Luhan menggepalkan tangan kanannya lalu menoleh ke samping kiri untuk mengalihkan pandangan dari Hyerim.

“Ahh, sepertinya kita dibodohi oleh mereka.” Hyerim berkata diakhiri tawa sinisnya ketika menyadari Minho dan Yixing, mungkin juga Lian, merencanakan pertemuannya dengan Luhan.

Luhan kembali menatap Hyerim. Tatapan keduanya sama seperti saat Hyerim tiba di Urk. Sayu, dalam, juga mengandung banyak arti. Hyerim meremas ujung bajunya agar rasa sesak yang tiba-tiba menggerogotinya terminalisir.

“Ya dan sepertinya aku harus pergi,”

Luhan mulai melangkah menjauh namun tangan kanan Hyerim menahannya serta menarik Luhan kembali ke hadapannya. Hyerim menatap Luhan dengan bola mata bergetar dan mulai berkaca-kaca, hatinya tergetar kembali melihat Luhan lagi.

“Ada apa Letnan?” sapaan Luhan membuat Hyerim makin tercebik. Tak tahulah Hyerim bahwa Luhan sedang mengutuk hatinya yang malah bergetar dan kembali jatuh cinta pada sosok dirinya.

Tangan Hyerim yang mencengkam baju seragam Luhan perlahan turun disertai kepalanya menunduk sambil tangannya meronggoh saku celananya. Luhan memperhatikan gerak-gerik Hyerim kemudian Hyerim kembali mengangkat kepalanya dengan senyum tipis dan menarik tangan kanannya serta membuka kepalan tangan Luhan yang langsung melihatkan telapak tangan pria tersebut.

“Aku ingin mengembalikan cincin ibumu,” ucap Hyerim diiringi tangan yang tadi meronggoh sesuatu di saku celananya dan ternyata Hyerim mengambil cincin yang sekarang ia letakan di telapak tangan Luhan.

Cincin milik ibunya yang Luhan berikan kepada Hyerim untuk melamarnya, ia tatapi dengan penuh arti. Sementara Hyerim sudah menjauhkan tangannya dari tangan Luhan yang masih menatapi cincin dengan bentuk setengah hati itu, lalu Luhan mengangkat kepalanya menatap Hyerim sambil tersenyum tipis.

“Terima kasih.”

Hyerim meringgis mendengarnya lalu menatap Luhan dalam dan berkata. “Kita layaknya orang asing yang saling jalan melewati hanya karena satu perkataan yang membuat seribu kenangan manis diluluh lantahkan entah ke mana.”

Luhan hanya membatu dengan pandangan kosong ketika mendengar perkataan Hyerim. Tatkala Luhan masih setia membisu, Hyerim kembali berkata. “Semua perpisahan tidak ada yang indah sepertinya. Apalagi perpisahan dengan cinta yang masih mengering.”

Senyum sinis Hyerim lihatkan ketika selesai mengatakan hal tersebut. Kemudian Luhan menatap kornea mata Hyerim, menyelami obsidian indah milik Hyerim membuat getaran dihatinya makin menggila. Tatapan keduanya bertemu dan seakan dunia berhenti detik ini. Tiba-tiba saja Luhan menarik Hyerim dan mendekapnya serta tangannya yang ia letakan di belakang kepala Hyerim ia gerakan agar kepala Hyerim terarah ke dadanya supaya mendengar detak jantungnya. Wajah Hyerim jelas terkejut dengan mata melebar.

“Kau dengarlah ini untuk terakhir kalinya, aku mencintaimu sampai disini.”

Layaknya ada batu keras yang menghantam hati Hyerim seusai perkataan Luhan barusan. Sampai disini? Namun jantung Luhan masih ia rasakan bertalu-talu layaknya kesetanan. Luhan berbohong. Luhan berusaha menyembunyikan isi hatinya. Dan perlahan air mata Hyerim turun dengan bibirnya yang bergetar.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Asap obat nyamuk yang berfungsi mengusir nyamuk di kamar barak tersebut terlihat menemani malam sunyi Luhan, kapten pasukan khusus dari China yang berada di Mohuru, Urk. Luhan tampak berbaring sambil meletakan lengannya di atas keningnya dengan pandangan menerawang sambil memikirkan sesuatu.

“Aku ingin tahu, kira-kira apa yang membuatmu masuk militer?” tanya Hyerim ketika dirinya sedang berjalan bersama Luhan di tengah padang ilalang sambil bergandengan tangan.

Keduanya menghentikan langkah dengan Luhan yang bergumam sambil berpikir dengan bola mata bergerak-gerak. Setelah tahu ingin menjawab apa, Luhan menoleh pada Hyerim sambil tersenyum.

“Kamu sendiri, apa yang membuatmu masuk militer?” Hyerim mencibir kesal karena Luhan malah balik bertanya.

“Aku sebenarnya mempunyai impian menjadi dokter untuk menyembuhkan semua orang sakit yang ada di dunia ini. Layaknya prinsip seorang dokter, semua jiwa itu murni. Akan tetapi…” Hyerim berhenti sejenak sambil menerawang ke rumput ilalang yang bergerak-gerak karena ulah angin. “Ayahku senang dan ingin aku berprofesi sepertinya. Membela tanah air dengan mengabdi secara tulus pada negara. Dan ketika dipikir lagi, itu tidak ada salahnya.”

Luhan mengangguk-angguk dengan pandangan ke depan saat ini, dirinya membuang napasnya dan berkata untuk menjawab pertanyaan Hyerim sekon lalu. “Bila aku sih karena memang mencintai profesi ini. Tak peduli bila pada akhirnya aku harus gugur di manapun. Aku hanya nyaman dengan profesiku sekarang. Melindungi banyak orang di negaraku karena seragam yang kupakai.”

“Kamu ini perwira yang cerdas, Lu. Karirmu dimiliter pasti bagus dan dirimu mencintai profesimu.”

Luhan tersenyum lebar menanggapi ucapan kekasihnya kemudian menatap Hyerim lembut. “Maka dari itu aku tidak mau melepas seragamku sebelum waktunya.”

 

Mata Luhan terpejam sesaat mengingat untaian kata yang dikeluarkannya saat bersama Hyerim dulu. Tidak mau melepas seragam? Luhan merasa menjadi orang munafik saat ini. Selain karena dirinya yang main mengajukan surat pengunduran, dirinya juga berbohong pada Hyerim untuk berhenti mencintai gadis itu.

“Hahhh…” Luhan mendesah frustasi sambil menutupi wajah dengan kedua telapak tangan dan menggosok-gosoknya. Lalu pandangan Luhan terpaku pada cincin couple yang ia taruh di naskas di sebelah ranjangnya. Yang seharusnya menjadi cincin pernikahannya dengan… Hyerim.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

“Kau dengarlah ini untuk terakhir kalinya, aku mencintaimu sampai disini.”

Hyerim tersenyum kecut ketika ucapan Luhan seakan menjadi kaset rusak diotaknya. Jadi Luhan berniat melupakannya? Sebenarnya itu hal yang sudah benar dan Hyerim harusnya ikhlas apalagi kali ini dirinyalah yang memilih mengakhiri semuanya. Hyerim menopang dagunya dengan satu tangan dan tampak mendesah frustasi.

“Jika dirimu berhasil menghapusku dalam hatimu. Sedangkan aku setiap melihatmu, aku malah jatuh cinta padamu lagi.” gumam Hyerim kemudian memejamkan matanya sejenak.

Hyerim akhirnya memilih membaringkan tubuhnya di ranjang serta menatap langit-langit baraknya. Pandangannya kosong. Ucapan Luhan masih setia menjadi kaset rusak dibenaknya membuat Hyerim memukul-mukul kepala agar ucapan itu lenyap hingga hilang tak berbekas dari sudut otaknya. Ketika sedang diambang frustasinya, ponsel Hyerim berdentang dan dengan malas juga berusaha meminalisir rasa frustasinya, Hyerim mengambil ponselnya yang terdapat pesan masuk.

‘Besok ayah akan kembali ke Urk. Ada obrolan pribadi yang harus kita bicarakan, Hyer.’ [From : Ayah, 09.45 PM]

Mata Hyerim terpejam sesaat membacanya. Ayahnya akan ke Urk lagi dan membicarakan sesuatu? Memangnya tentang apa lagi sekarang?

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Malam kian larut hingga terbitlah pagi hari dengan sinarnya yang hangat. Sempat terlintas dibenak Hyerim bahwa ayahnya sangat menghamburkan uang untuk bolak-balik ke Urk. Namun opini yang hinggap dikepalanya ia hapuskan dibanding berpusing ria memikirkan hal yang tak seharusnya terlalu ia geluti. Hyerim melangkahkan kakinya menuju ruangan Sang Ayah menggunakan seragam militernya. Ia pun sampai di dekat pintu masuk ruangan tersebut hingga ujung matanya menangkap sosok lain yang menggunakan seragam militer─namun berbeda tipe, menyebabkan matanya membola sekon ini dengan raut wajah tak terdeteksi tatkala mengenali sosok berseragam militer China itu. Luhan─sosok yang membuat Hyerim terkejut itu, memutar tubuh dan seketika menyunggingkan senyuman kaku melihat Hyerim menyarangkan pandangan ke arahnya.

Keduanya membatu di tempat dengan muka tak terdeteksi juga keheningan yang mungkin tak berujung. Namun satu hal yang keduanya ketahui, mereka kembali jatuh ke lubang yang sama bernama jatuh cinta ketika saling melempar sebuah tatapan.

“Apa ini kutukan?” gumam Luhan pelan seraya menerawang ke lantai. Sementara Hyerim masih setia bergeming.

“Kenapa dirimu di sini?” Hyerim bertanya ketika sebelumnya memperbaiki posisi berdirinya. Lantas Luhan pun kembali menatapnya tepat diobsidian indah milik gadis tersebut, membuat darah dalam tubuhnya terpompa menuju jantungnya yang langsung membentuk sebuah irama indah kesekian kalinya.

“Letjen Kim ingin berbicara denganku.”

Mendengar hal itu mengundang pikiran negatif diotak Hyerim yang tampak berpikir keras kala ini. Namun sebelum hepotitis yang ingin ia cetuskan keluar diotaknya, suara derap langkah kaki yang kian mendekat terdengar memecahkan kecanggungan mantan kekasih tersebut disertai suara berat nan wibawa khas Letjen Kim Jaehyun.

“Ah ternyata kalian sudah menunggu…” beliau berucap dengan mengulas senyum tipis melihat putrinya bersama mantan kekasihnya. Keduanya langsung berdiri tegak dan hendak memberi hormat bila tangan kanan Letjen Kim tidak terangkat untuk melarangnya. “… lebih baik langsung saja masuk ke ruanganku.”

Letjen Kim pun memimpin setelah sebelumnya membuka pintu ruangannya dan mengiring tubuhnya masuk. Kemudian Hyerim pun menghela napas dan hendak masuk menyusul ayahnya, tetapi langkahnya terpause ketika Luhan juga tak berkutik tatkala menyampai langkah di daun pintu. Hyerim pun melirik pria tersebut yang juga meliriknya. Jangan bertanya, tatapan keduanya bertemu kembali. Sayu dan dalam. Setelah saling pandang, keduanya menoleh ke depan kembali dan mulai  memasuki ruangan Letjen Kim. Keduanya pun terlihat tak terusik akan perasaan cinta yang masih berkicamuk dalam hati. Mereka, yakni Hyerim dan Luhan, berencana akan merombak hati mulai dari detik ini.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

-5 Months Latter-

Waktu itu tidak terasa dan mungkin bergulir sangat cepat layaknya berlari. Mungkin itu bisa didefinisikan oleh seorang Wu Lian saat ini. Tak terasa lima bulan sudah berlalu atau lebih tepatnya tujuh bulan bila dihitung dengan dua bulan kebelakang ini selama dirinya ada di Urk. Tujuh bulan sesuai dengan kontraknya, dirinya bersama rekan relawan yang lain akan kembali ke China.

“Yah, padahal aku sudah betah sekali di sini,” eluhan yang berasal dari Jei―salah seorang rekan Lian, yang sedang menata kopernya pun terdengar. Dirinya seakan tak semangat mengepak barang-barangnya.

“Bagaimanapun juga kita harus pulang, jangan beriming-iming karena kita dekat dengan camp Korea Selatan, kau jadi bisa bertemu kembaran Song Joongki!” sahutan salah satu dokter lelaki bernama Kun pun terdengar diiringi tatapan sinisnya pada Jei yang langsung mencibir.

Keduanya pun adu mulut membuat Lian terkekeh geli kemudian dirinya kembali mengepak barangnya ke koper, karena dua hari kedepan, dirinya berserta tim relawan akan kembali pulang menggunakan penerbangan jam lima sore. Seketika Lian bergeming mengingat sesuatu. Kepalanya terangkat dari koper berserta barangnya, lalu dirinya melirik Jei dan Kun yang masih adu mulut.

“Jei…” tiba-tiba Lian memanggilnya dengan nada pelan, panggilannya sukses membuat adu mulut kedua dokter itu terhenti dan Jei pun lantas menatapnya. “Kamu sering mengintip camp Korea Selatan kan akhir-akhir ini?” tanya Lian agak ragu dan respon dari Jei adalah anggukan dengan senyum malu lantaran mengintip camp tersebut dengan iming-imingnya menemukan kembaran Song Joongki.

Sebelum berucap kembali, Lian menautkan jari-jarinya dan mengeratkannya dengan resah disertai mata menerawang ke bawah. “Apa kamu tahu bagaimana keadaan Letnan Kim Hyerim?” tanya Lian kembali dengan nada ragu dan tatapan mata yang juga ragu.

Terlihat Jei sedikit kaget ditanyakan hal tersebut, lalu dirinya menghela napas sambil menunduk. “Letnan Kim…”

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Memang waktu itu sangat tidak terasa, entah sudah kali berapanya Luhan menyambut pagi di Urk. Pagi kembali datang dengan sinar mentari yang sangat hangat untuk memeluk tubuhnya yang terasa sepi. Luhan berjalan keluar baraknya sambil memandang sekitar yang mengingatkannya akan berbagai kenangan.

“Kapten, hormat,” ujar seorang anggotanya yang langsung mengangkat tangan untuk hormat tatkala berpas-pasan dengan Luhan dan balasan Luhan hanya tersenyum simpul lantas mengangguk, setelahnya Si Anggota menurunkan tangan dan kembali berjalan melewatinya.

Di tangan Luhan yang terkepal tersedia kerikil yang ia lempar tangkap sambil bersiul pelan, hingga tak menyadari tungkainya mengiring tubuhnya ke daerah perbatasan antara pangkalan militernya dengan pangkalan militer Korea Selatan. Pangkalan yang sudah jarang sekali ia injaki bila tidak ada hal yang mendesak. Tungkai yang ia gunakan untuk berdiripun seketika berhenti, kepalanya tertoleh dan lantas netranya menerima pemandangan pangkalan yang dulu selalu ia kunjungi bila ada waktu. Gerakan tangan Luhan yang melempar tangkap kerikil pun terhenti, kerikil tersebut ia genggam dengan erat seakan pelampiasan beribu rasa yang tak sanggup tertuah dalam sebuah ucapan dalam hatinya. Beribu rasa yang membuat rahangnya mengeras dan bola matanya memandang objek yang tersedia dengan sayu.

“Ini sudah bulan kelima…” gumam Luhan pelan dengan senyum tipis yang sangat hasrat dengan keterpaksaan. Netranya pun menatap dalam pangkalan sosok gadis yang sangat ia kasihi. “… apakah dirimu benar-benar akan pergi meninggalkanku?” Luhan mengangkat kepalanya lebih tegak untuk memperhatikan camp milik Korea Selatan itu.

Obsidian hitamnya masih setia menatap objek yang ia perhatikan itu dengan sayu dan dipenuhi rasa rindu yang terpancar. Tatkala masih larut akan aksi memperhatikannya, sosok gadis yang masih sering menghantui benak Luhan pun terlihat keluar dari salah satu tenda yang ada di camp militer Korea Selatan. Rupa itu masih sangat jelita bahkan makin jelita meskipun sekarang rautnya terlihat lelah ditandai helaan napas yang tadi keluar dengan beratnya juga badan yang sedikit tertunduk lesu. Bibir yang sering dilapisi liptint berwarna merah jambu itupun mengerucut, membuat Luhan tersenyum gemas melihatnya.

Kim Hyerim, gadis itu seketika membelokan arah pandang ke sampingnya─tempat di mana Luhan berpijak dan dari tadi memperhatikannya secara tak langsung. Tubuh Hyerim seketika menegak dengan raut wajah tegang serta bibir yang hanya membentuk seuntai garis─tak ada senyum ataupun kerucutan. Obsidian pekat milik Luhan juga Hyerim bertabrakan sekon ini, bola mata keduanya melihatkan pantulan masing-masing. Tubuh keduanya kaku dalam atmosfer tak nyaman serta hening lantaran tidak ada orang, atau mungkin keduanya hanya merasa dunia milik berdua tatkala bertatapan dalam seperti ini. Namun jantung keduanya berdentum keras ketika saling menjatuhkan diri pada lawan masing-masing.

“Kenapa ketika saat kembali melihatmu, aku kembali jatuh cinta?” gumam keduanya dalam hati.

─To Be Continued─


Entah napa. Dari semua chapter, aku rasa ini paling hambar huhuhu ciyusly deh u,u gak tau kenapa jadi aneh dan maksa karena aku mau ngeluarin season 2nya—yang sepertinya bakal lebih panjang chapternya— yang masih jadi 3 chapter dan itu chapter 3 masih dikit banget. Jadi, S2 belum konfrim kapan tayangnya LOL. Penasaran gak kelanjutan Hyerim-Luhan gimana? Bapaknya Hyerim bilang apa coba hayooo WKWKWKWK. Bagi, kalian yang bingung karena belum dapet PW, ayoooo berhenti menjadi tak nampak /apa/ karena aku gak beberin rinci loh apa yang terjadi di chapter sebelumnya, gimana Luhan bisa sekarat lalu still alive dan gimana ceritanya Hyerim sama Luhan putus :v biasanya aku ngepassword chapter akhir tetapi karena berbagai alesan, ane pun gak ngepw chapter akhir dan gantinya dipassword di chapter 9 yang aku lihat penuh geregetan gitu yha ahahahaha.

See you tomorrow in last chapter ^^

Advertisements

Author:

❝The writer is the engineer of the human soul.❞ — Joseph Stalin ¦¦ Literally a korean trash, Luhan's tinkerbell, and Shownu's baby — ©2001

8 thoughts on “FF : This Love — Chapter 10

  1. Keduanya sama-sama menyiksa diri. Putus tapi masih cinta. Letjen kim ngomongin apa yah sama hyerim dan luhan ? Penasaran.
    Ditunggu next chapternya aja lh.

    Like

  2. “Kita layaknya orang asing yang saling jalan melewati hanya karena satu perkataan yang membuat seribu kenangan manis diluluh lantahkan entah ke mana.”

    Aishhh.
    Na michigetda jinjaya…

    Baper lagi… baper lagi…
    Endingnya gak ketebak.
    Hebat Els, jeongmal curious.
    /iniapasih, bahasanya mixed up gini/
    Nanti kalo season 2 nya rilis, kabarin juseyo. hhaha…
    Himnebuseyo…

    Sincerely,
    Shannon

    Like

Write ur Love Letter . . . <3

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s