Posted in AU, Chapter, Comedy, Fanfiction, FF : This Love, PG-15, Romance, Sad

FF : This Love — Chapter 11 [Our Love Meant to Be Eternally — END]

this-love-our-love-meant-to-be-etenally-redo

This Love Chapter 11

˹Our Love Meant to Be Eternally˼

©2017 HyeKim’s Fanfiction Story

Starring With : Luhan as Luhan || Hyerim (OC) as Kim Hyerim

Genre : AU, Romance, slight!Sad, a bit Comedy || Lenght : Chapter || Rating : PG-15

Poster By : Kyoung @ Poster Channel

Previous in This Love (Prolog — Chapter 10) :

⇒ Click This ⇐

Summary :

Ketika 2 pasukan tentara dari negara berbeda disatukan dalam lika-liku hubungan cinta. Keduanya dipertemukan namun jarak yang memisahkan serta restu dari orang tua pun menjadi penghalang. Hanya sepenggal kisah antara Luhan, salah satu pasukan khusus dari China dan Hyerim, seorang dokter tentara dari Korea Selatan. Bagaimana kelanjutan kisah keduanya?

Note :

FF ini terinspirasi dari kisah cinta Yoon Myeong Ju dan Seo Dae Young dari drama korea populer descendant of the sun serta lirik dari soundtrack drama tersebut. Namun dari segi cerita yang ada sudah diubah oleh saya sendiri. Bila ada adegan yang dicetak miring/italic itu menandakan sebuah kilas balik/flashback.

Disclaimer :

This is just work of fiction, the cast(s) are belong to their parents, agency, and God. The same of plot, character, location are just accidentally. This is not meaning for aggravate one of character. I just owner of the plot. If you don’t like it, don’t read/bash. Read this fiction, leave your comment/like. Don’t be plagiat and copy-paste without permission.

HAPPY READING

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║


When I feel you in my heart

Then I hear your voice from your eyes

I’ll always love you

And I’m waiting for you until the end of time

Here I am, way to you

[Gummy – You’re My Everything (English version – ost.descendants of the sun)]


Hening. Mungkin hanya itu pendeskripsian yang terjadi diantara Luhan dengan Hyerim yang masih saling tatap dan larut akan obsidian masing-masing. Kadang kala angin dengan nakal menerpa keduanya juga menyebabkan helaian rambut Hyerim dimainkan oleh angin tersebut hingga berkibar dan berantakan. Sesekon hingga beberapa sekon terbuang cukup lama, ujung bibir Hyerim tertarik sedikit demi sedikit membentuk sebuah senyuman manis yang menyebabkan Luhan salah tingkah.

Oreonmaniya… (lama tidak berjumpa)” adalah kalimat pertama Hyerim masih dengan senyum terpatri di bibirnya. Luhan yang sepertinya kaget akan ada kalimat yang terlontarpun sedikit melebarkan mata dan menatap Hyerim yang sekarang memiringkan sedikit kepalanya sambil menatap Luhan. “… kekasihku.” itulah kalimat yang Hyerim lanjutkan dan sukses membuat Luhan seperti orang bodoh seketika.

“A… p… a? Katamu?” ucap Luhan tak percaya dan merasa ada yang salah dengan telinganya.

“Hmmm.” respon berupa gumamanlah yang Hyerim berikan dengan bahu terangkat juga raut acuh. Lalu dirinya mengangkat kepala kembali agar menatap Luhan yang masih tergagap, lantas Hyerim pun memenggal kata kembali. “Ini sudah bulan kelima, kamu tahu pasti apa itu.” setelahnya Hyerim membalikan badan untuk pergi dengan Luhan yang memandangi punggungnya.

Dengan binar mata penuh harap kepada punggung Hyerim yang kian menjauh, Luhan pun bergumam. “Apa kamu memilihku?”

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

“Aku tidak pernah tahu pasti yang terjadi pada Letnan Kim. Dirinya banyak sekali menghabiskan waktu dengan rekan kerjanya seperti para dokter relawan atau pasukan khusus yang lain, dirinya sangat menikmati waktunya. Ada rumor juga bahwa Letnan Kim akan keluar dari militer.”

Lian menelisik sekitar dengan kepala ke kanan juga kiri pada tempat yang ia pijaki. Dirinya kemudian menghela napas didetik berikutnya. Bulan kelima tiba yang Lian ketahui adalah sebuah pilihan antara Hyerim dan Luhan. Cinta mereka yang belum ada beres-beresnya hingga kini. Dan ucapan Jei beberapa waktu lalu terngiang diotaknya lagi. Hyerim, sungguhkan gadis itu rela melepaskan seragamnya?

Seakan panjang umur, sosok Hyerim yang berkicamuk dalam otak Lian pun menampakan batang hidungnya di hadapan gadis Wu itu. Sontak tungkai Lian berhenti serta menatap profil Hyerim dari samping. Merasa ada yang memperhatikan, Hyerim pun menoleh ke arah Lian lantas mengulas senyum setelah merasa kaget mendapati sosok Lian di situ.

“Ei, Lian, ada apa?” tanya Hyerim dengan senyum simpulnya namun Lian hanya menatap lurus kepadanya.

Singkat cerita, gadis yang sama-sama memiliki profesi sebagai dokter itu pun mendudukan diri di sebuah tenda dengan posisi berhadapan. Nampak jelas Hyerim menuangkan teh ke cangkir Lian dengan gerakan canggung. Setelah menyuguhkan teh dan mulai menggerakan cangkirnya untuk meminum teh yang ia sajikan, sebuah konversasi diantara dua perempuan itu tampak memulai garis startnya.

“Aku mendengar kamu akan melepas seragammu,” adalah Lian yang memulai pertama konversasi diantaranya dan Hyerim, gadis bermarga Wu itu meraih cangkir yang dituangkan teh oleh Hyerim barusan lantas menyesapnya.

Hyerim yang tadinya dengan tenang menyesap tehnya tampak memberhentikan kegiatannya itu, di depan bibirnya terdapat cangkir teh yang masih tersisa. Setelah berdehem pelan, cangkir teh tersebut pun ia taruh kembali ke tatakan hingga menimbulkan suara tabrakan antara cangkir dan tatakan. Pertama, Hyerim membetulkan posisi duduknya dan menatap lurus Lian yang menggerakan tangan untuk menaruh cangkirnya, mengikuti Hyerim. Sekon selanjutnya, kelereng hitam keduanya saling tukar pandang dan diakhir oleh Hyerim yang menarik napas kemudian membuangnya perlahan.

“Ya, aku mengajukan surat pengunduran diri,” bibir berlapis lipstick merah jambu itu pun berucap diiringi seulas senyum tipis, gerakan selanjutnya yang diambil oleh Hyerim adalah kembali mengambil cangkirnya lalu meminum tehnya hingga habis tak tersisa.

Di lain sisi, Lian menyarangkan tatapan penuh arti pada Hyerim yang sedang sedikit membungkukan badan untuk menaruh cangkirnya kembali ke atas tatakan. “Bukannya aku tidak senang bila apa yang kamu lakukan untuk bersatu dengan Luhan, hanya…” tampak Hyerim menatapnya penasaran dan Lian menggigit bibir bawahnya sejenak lalu menghembuskan napas. “… apa kamu tidak akan menyesal?”

Langsung saja ujung bibir Hyerim tertarik membentuk sebuah senyum tipis, tubuh gadis itu pun kembali tegak dan duduk menyender pada sandaran kursi. Dengan wajah cantik yang melihatkan ketenangan, bibirnya kembali bersuara.

“Aku tidak akan menyesal, Wu. Ayahku yang mengajukan pilihan. Luhan dan diriku pun diberi batas lima bulan untuk hal itu. Luhan lebih mencintai seragamnya dibanding diriku, aku tahu itu,” sejenak kepala Hyerim menunduk dengan ukiran senyum tipis dan Lian yang ada di depannya hanya tersenyum penuh arti. Kepala Hyerim pun kembali terangkat serta mulutnya mulai berfrasa kembali. “Sementara aku lebih menyukai Luhan dibanding seragamku.”

Senyum Hyerim yang kian melebar itu menyadarkan Lian. Gadis berdarah Korea yang tengah duduk di hadapannya ini tidak menyesal hanya untuk bisa terus bersama lelaki yang ia cintai. Walau pilihannya adalah untuk melepas sesuatu yang sulit ia dapatkan pada awalnya untuk memulai sebuah karir. Seragam militernya.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

“Sepertinya kalian tidak bisa dipisahkan,” bariton milik Komandan Kim Jaehyun terdengar tepat di hadapan Luhan dan Hyerim yang berdiri dengan posisi istirahat di tempat, sontak keduanya mengangkat kepala menatap Komandan Kim yang tampak menghela napas dan melirik ke arah lain.

“Bisa dibilang selama ini aku egois dengan tidak mendukung hubungan kalian,” seketika bola mata Hyerim berkaca-kaca kala mendengarnya. “Aku hanya terlalu menyayangi putri semata wayangku, menginginkan hal terbaik untuknya. Ingin melihatnya tumbuh menjadi seorang yang berguna bagi negara, menjadi seorang perwira juga dokter dalam militer. Aku bangga padanya.”

Bola mata Hyerim makin berkaca-kaca dengan wajah haru, apalagi Komandan Kim mengatakannya dengan raut sendu. Sementara Luhan hanya bergeming di tempatnya.

“Aku tahu betapa sulit dirinya menggapai mimpi sebagai dokter juga tentara yang kuinginkan. Bila dirinya main melepaskan seragamnya, pengorbanannya selama ini menjadi perwira akan melayang begitu saja,” lantas Komandan Kim Jaehyun pun melayangkan tatapan pada Hyerim yang bahkan sekarang bibir gadis itu bergetar, hatinya seakan tercubit menyadarkan dirinya bahwa keegoisan ayahnya karena tahu betapa sulitnya ia menjadi seorang tentara perwira seperti sekarang ini.

Senyum tipis tercetak di wajah Komandan Kim terkhususkan untuk putrinya, tatapan lembutnya pun tak lepas untuk Hyerim. “Hyerim-ah, aku tahu selama ini mimpimu hanyalah sebagai dokter, bukan begitu?” nada bicara Sang Ayah mulai merendah.

“Tapi dirimu tahu aku ingin kamu menjadi tentara sepertiku, maka kamu pun berusaha menjadi apa yang kuinginkan. Maka tak heran bukan aku tak mau dirimu melepas seragammu begitu saja? Selalu kuingatkan menjalani sekolah kemiliteran untuk menjadi tentara khususnya perwira sangatlah sulit, mana mungkin setelah dirimu kesulitan aku rela dirimu melepasnya.”

Tampak Hyerim membuang pandangan ke arah bawah dan mulai mengontrol perasannya. Sementara Luhan hanya melirik putri dan ayah tersebut bergantian dengan senyum tipis terkisar penuh arti. Komandan Kim Jaehyun pun menghela napas lalu pandangannya menerawang ke arah atas.

“Tapi karena rasa sayangku itu, diriku egois. Maka…” Komandan Kim memejamkan mata sesaat lalu sekon mendatang membukanya kembali, beliau pun menyarangkan tatapan bergantian kepada Hyerim juga Luhan. “… lima bulan, selama lima bulan aku berikan waktu pada kalian untuk memikirkan dan berdiskusi bila kalian mau. Tentang hubungan kalian, siapa yang mengalah dan siapa yang tetap memakai seragamnya.”

Frasa yang dikumandangkan Komandan Kim membuat sentakan kaget pada diri Luhan maupun Hyerim yang langsung membulatkan obsidian keduanya untuk menatap komandan pasukan khusus itu. Dan tampak Komandan Kim balas menatapnya lembut dengan senyum tak kalah lembut, seakan membuktikan restu yang ia berikan kali ini sungguh-sungguh.

“Aku tak mau kalian berhubungan jarak jauh selamanya. Seorang tentara seperti kalian harus sedia selalu di negara masing-masing. Bila kalian menikah, jarang sekali kalian bersama. Itulah yang selama ini kupikirkan. Tapi caraku egois dengan menyuruh Kapten Lu yang melepas seragamnya…” sebentar Komandan Kim menatap Luhan seakan meminta maaf dan terlihat pemuda itu tersenyum tipis merasa hal tersebut bisa ia mengerti. “… tapi kali ini, aku akan membiarkan kalian memilih.”

Beberapa sekon sudah terbuang setelah perkataan itu. Hyerim memandang ayahnya dengan mata berkaca-kaca lalu dengan secepat kilat menghambur kepelukan Sang Ayah sambil menangis haru.

“Ayah…” lirihnya ditengah tangisannya yang mulai meloloskan isakan. Komandan Kim pun membalas pelukan putrinya dan memberikan elusan lembut dipunggung Hyerim. “Terima kasih.” ujar Hyerim tulus membuat hati Kim Jaehyun tersentuh dan bibirnya melengkung menciptakan sebuah senyuman.

Luhan yang tadi hanya membisu pun menatap Komandan Kim yang lantas balik menatapnya. Keduanya pun bersitatap lalu saling melempar senyum. Sejurus kemudian Luhan mengubah posisi istirahat di tempatnya dengan mengangkat tangan untuk hormat pada Letjen Kim Jaehyun.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Penantian serta hubungan kaku yang selama ini terjadi akhirnya membuahkan hasil yang sukses menciptakan senyum lebar nan bahagia dari seorang Luhan. Lima bulan dirinya dan Hyerim memiliki hubungan yang digantung tak pasti. Keduanya jarang bersitatap juga berbicara dan terus memikirkan sebuah keputusan untuk hubungan keduanya. Tapi sekarang keputusan itu ada, Hyerim akan mengalah untuknya dan gadis itu tampak tak menyesal sama sekali. Sekarang tampak Luhan sedang memandangi cincin ditelapak tangan kanannya.

Sebuah tepukan terjadi dibahu kiri Luhan diiringi sebuah suara. “Hoi! Kenapa senyum-senyum begitu layaknya orang sinting?” kepala Luhan pun menoleh dan mendapati Yixing sebagai oknum yang menepuk bahunya barusan.

Sebelum merespon, Luhan menggerakan jarinya untuk mendekap cincin tersebut lalu mutlak memutar tubuh menghadap Yixing. “Aku tersenyum karena aku bahagia.”

Alasan klise hingga dahi Yixing mengernyit dan memberikan tatapan penuh tanda tanya, tangannya pun berkacak pinggang detik ini. Sebentar Luhan membuang muka ke arah samping dengan senyum lebar lalu kembali menatap Yixing yang makin memandangnya heran, tangan Luhan pun terulur dan perlahan jari-jarinya bergerak untuk membuka dekapannya. Sebuah cincin dengan setengah hati pun terpampang di sana dan Yixing tambah mengerutkan dahi dalam, tak paham sama sekali.

“Apa maksudnya ini—”

“Aku akan melamar Hyerim,” segera Luhan menyerobot dibanding Yixing terus seperti orang bodoh yang tersesat karena tak paham akan keadaan yang menimpa Luhan.

Langsung saja aksi Yixing selanjutnya adalah membuka mulut lebar-lebar seakan rahangnya akan copot detik itu juga, pemuda itu pun menatap Luhan dengan mata yang juga melebar pertanda kaget.

“A..p…a… katamu?” Yixing memastikan dengan nada gagap mengundang Luhan menunduk dan tersenyum menahan tawa lalu kembali menatap Yixing yang masih melihatkan wajah kelewat bodohnya. “Me… la… mar? Memangnya—”

Luhan langsung mengangguk mantap dengan tangan terlipat di depan dada, dirinya pun memenggal kata yang sedang Yixing ucapkan. “Ya, kita memiliki restu yang sah sekarang.”

Mulut Yixing mengatup rapat dengan air wajah kagetnya kala telinganya dimasuki perkataan Luhan tadi. Namun didetik berikutnya, Yixing mengulas senyum bahagia disertai pukulan pelan di bahu Luhan.

“Akhirnya kalian bisa menjalani hubungan yang jelas,” ujar Yixing menambahi kekehan setelahnya, kepala Luhan pun mengadah ke arah Yixing lalu melempar senyum yang ditujukan untuk membalas senyuman sahabatnya itu.

“Ya, kita tunggu 157 hari lagi untukku benar-benar menikah dengannya,” otaknya langsung memutar adegan yang ia sebutkan secara otomatis, membuat Luhan menyunggingkan senyum sangat lebar.

Di hadapannya, Yixing menepuk-nepuk bahunya sebagai ucapan selamat juga bentuk aspresiasinya untuk menyemangati Luhan. Dirinya yang notabene sebagai diary berjalan jalinan kasih Hyerim dan Luhan, sangat bahagia mendengar akhir bahagia untuk pasangan itu.

Gerakan tangan Yixing terhenti, lalu ia menatap Luhan disertai mulutnya yang meloloskan pertanyaan. “Apa Hyerim akan kembali ke Korea? Dia melepas seragamnya ‘kan?”

Kepala Luhan terputar hingga menatap lurus Yixing, kemudian gerakan yang terjadi pada kepala pemuda Lu itu adalah sebuah anggukan. “Ya, dia akan kembali ke Korea besok.”

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Suasana damai dengan semilir angin yang tenang, juga cuaca panas yang mulai menjadi sahabatnya kini akan ia tinggalkan. Tidak ada lagi bangunan bernuansa klasik serta gothik di perkotaan yang akan ia jelajahi nanti. Pemandangan alam yang terlukis indah pun tak bisa dihadiahi dikelereng hitamnya. Semuanya akan tergantikan dengan suasana padat perkotaan dengan interior modern gedung pencakar langit.

Tungkai milik Wu Lian berdiri di sebuah bebatuan yang berada di ujung tebing yang melihatkan lukisan gunung yang berjajar rapi menciptakan pemandangan indah. Sinar mentari yang mulai melihatkan warna oranyenya itu menampar wajahnya menyebabkan matanya menyipit memandangi Sang Mentari.

Kepalanya memutarkan memori yang menghantarkannya kala pertama datang ke Urk. Saat ia berjalan tak tahu arah untuk menemui Yixing namun malah berakhir menabrak seorang pria yang merupakan pasukan Korea Selatan, pria yang menarik perhatiannya itu karap melakukan sebuah panggilan telepon. Lalu matanya kembali menangkap sosok pemuda itu dari jarak yang lumayan jauh, sedang bercengkrama dengan sosok dara manis bernama Kim Hyerim—yang saat itu merupakan mantan kekasih Luhan. Keduanya akrab menyiptakan konversasi hangat dengan berdiri di jajaran tenda yang berdiri. Saat mengetahui info bahwa keduanya calon pengantin, hatinya tercubit namun semuanya terluluh lantahkan kala Hyerim dan Luhan kembali memandu kasih disertai awal hubungannya dengan pria itu. Choi Minho, itulah namanya. Selain menciptakan pengalamannya sebagai dokter relawan di negara konflik seperti Urk, negara indah ini pun menciptakan jalinan kasihnya dengan pemua itu.

Langkah kaki terdengar dari arah belakang Lian, gadis berdarah China itu pun lantas memutar tubuh tatkala menangkap signal seseorang menghampirinya. Sosok pemuda yang tadi memenuhi lingkup otaknya pun menampakan diri dengan senyum lebar.

“Kamu pasti akan merindukan Urk dan pasti lebih merindukan diriku nantinya,” itulah ujaran pertama Minho yang masih mempertahankan kepercayaan diri membentur langitnya itu.

Di depannya, Lian hanya mendengus lalu menggeret kaki satu langkah ke hadapan Minho. “Aku akan menunggu dan terus menunggu untuk kamu datang kepadaku nanti. Juga jangan terluka bila tidak ada aku, aku tak bisa menyelamatkanmu ketika aku tak ada didekatmu.” pandangan bola mata Lian lurus akan hasrat keseriusan membuat Minho tak dapat menahan tawanya dengan membuang muka ke arah kiri sejenak.

“Iya, iya, aku tidak akan terluka,” yakin Minho dengan cengirannya itu, tangannya pun terjulur untuk mengacak-acak rambut Lian. Akan tetapi Si Gadis masih menatapnya tak yakin dengan mata memincing tajam.

Telunjuk Lian terangkat serta berhenti di depan wajah Minho, matanya pun masih mempertahankan diri dengan memincing tajam. “Awas saja! Bila kamu terluka dan tidak bisa kembali dengan selamat, aku tidak akan memaafkanmu!”

Gemas adalah pendiskripsian Minho pada Lian sekon ini, dirinya pun menurunkan tangannya dari surai gadis bermarga Wu itu ke pipinya lalu menyarangkan cubitan gemas di pipi Lian. “Iya, iya, lama-lama bawelmu itu melebihi Hyerim saja.”

Dan respon Lian hanyalah bibir mengerucut dan membuang muka dari Minho. Minho pun sekarang kembali mengacak juga mengelus surai lembut gadisnya, dirinya pasti akan sangat merindukan gadis ini juga nantinya. Kala atmosfer hangat itu masi tercipta, angin tak santai bersemilir hebat membuat selendang pink fanta milik Lian yang tergantung di lehernya, terbang.

“Heh! Selendangku!” ujar Lian panik sambil menunjuk-nunjuk selendangnya yang terbang di udara, matanya membelalak kaget.

Namun dengan cekatan juga keuntungan tubuh jangkungnya, Minho dengan mudah meraih selendang itu yang sekon ini sudah ia pegang di tangan kirinya. Paras Lian yang tadi panik pun berubah menjadi air wajah lega, hembusan napas lega dari mulutnya pun karap ia lakukan.

“Syukurlah bisa kamu tangkap, sini kembalikan,” ucap Lian diiringi kedua kaki menjinjit dan tangan terulur, berusaha mengambil selendangnya. “Ya! Choi Minho!” pekik Lian dengan wajah jengkel.

Karena yang Minho lakukan adalah menjinjitkan tubuh juga agar Lian tidak bisa meraih selendangnya itu, senyum jahil tersungging di paras tampan Minho. “Kamu pendek sih,” ledeknya membuat Lian menatapnya datar. “Ayo, ambil selendangmu, aku tak akan main mengembalikannya.”

Tubuh Minho sangat gesit untuk menjauh dari Lian sambil mengibar-ngibarkan selendang Lian di tangannya dengan gerakan diputar-putarkan. Mata Lian menyipit dengan wajah sebal, lalu ia buru-buru melangkah cepat sambil setengah berlari. Dan Minho pun terus melangkah mundur dengan wajah jahilnya yang masih terfigurkan. Akhirnya terjadi aksi-aksi kejaran diantara keduanya. Menghantarkan rasa hangat senyaman mentari yang masih mempertahankan sinarnya. Keduanya mencoba membunuh waktu untuk perpisahan di esok hari.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Cheers!” seruan yang dibarengi tabrakan berbagai gelas dengan wine itu terdengar, kemudian sekumpulan orang tersebut sibuk mengkonsumsi anggur berkadar alkohol itu.

Kemudian salah satu dari mereka menurunkan gelasnya kemudian mendecah, lalu dirinya pun menatap rekan-rekannya yang lain. “Tidak dirasa kita akan pulang ke Korea besok.” ucapan Taemin itu disambut yang lain dengan anggukan kepala sedih.

Lalu pria Lee itu menancapkan tatapan pada sosok Hyerim yang sedang menuangkan anggur kembali ke gelasnya. “Hei Kim Hyerim, apakah ini terakhir kalinya kita semua memanggilmu Letnan?” kembali Taemin berucap sambil menunjuk Hyerim dengan tangan yang memegang gelas bertampung setengah winenya.

Sejurus kemudian pandangan obsidian itu langsung terpaku pada sosok Hyerim yang menarik bibir untuk tersenyum. “Ya, ini terakhir kalinya aku memakai seragam ini,” jawab Hyerim dengan gerakan bola mata tertuju pada seragam yang ia kenakan.

Terlihat dari kuruman itu, Jinki menatapnya sedih dan di belakangnya pun berdiri Sersan Kimbum juga Kopral Jung. Ketiganya menatap Hyerim sedih. “Letnan, kalau begitu siapa yang makan bersamaku lagi nanti?” Jinki lah yang pertama berujar dengan wajah jenakanya yang kentara ingin menangis.

Kopral Jung pun ikut mengangguk dengan gerakan juga wajah mendramatisir. “Iya, nanti di medicube tidak ada dokter tentara yang cantik lagi. Di klinik di Paju juga kita hanya disambut dokter tentara lelaki yang tegas serta kaku.”

“Benar, kita tidak bisa diperiksa dengan tangan halus Letnan Kim lagi,” Sersan Kimbum menambahkan, Hyerim sendiri hanya terbahak namun hatinya pun terselipi rasa sedih.

Ketika tawanya terhenti dengan kepala menunduk juga mata meneteskan air mata—bukan pertanda sedih namun karena banyak tertawa, Hyerim mengusap air matanya itu dengan senyum tipis. Tiba-tiba sebuah tangan yang berpemilikan Jung Soojung itu merangkul bahu Hyerim, wajah Si Gadis Jung itu menghantarkan kegembiraan.

“Sudah, sudah, jangan sedih, kalian bisa ke rumah sakit untuk diperiksa Hyerim,” ucap Soojung sambil mengibas-ngibaskan tangannya yang tidak merangkul Hyerim.

“Mahal, tahu! Rumah Sakit Haemyung itu mahal!” sambar Kopral Jung dengan wajah mencibir.

“Dasar tidak modal.” tiba-tiba salah satu dokter relawan menyahut. Gelak tawa kembali terdengar kemudian pesta perpisahan untuk yang besok terbang ke Korea pun dilanjutkan.

Namun ditengah-tengah acara, Hyerim izin undur diri untuk mengganti pakaian dan pergi karena sudah memiliki janji. Dirinya meninggalkan pesta itu untuk menemui seseorang yang berharga untuknya karena keduanya akan dipisahkan jarak lagi. Luhan.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Karena Urk adalah negara tropis, mentari sering kali menyebalkan untuk terus menyinari negara itu. Waktu sudah lumayan sore, namun mentari dengan warna keoranyean itu masih setia terpancar. Terlihat sebuah menara yang berdiri lebih menjulang di tengah-tengah bangunan gothik di bawahnya, menara dengan sebuah lonceng itu pun melihatkan sosok pemuda yang berdiri di sana.  Luhan dengan seragam meliternya itu menyandar dengan tangan terulur di pagar besi pembatas di menara itu, kepalanya terangkat menatap lonceng yang bergoyang-goyang pelan karena ulah angin yang nakal.

“Sekarang giliranmu yang menungguku,” seketika sebuah suara menyerobot gendang telinga Luhan, lantas ia menoleh ke sumber suara. Terlihat sosok Hyerim dengan rambut terikat setengah menyisakan rambutnya yang memanjang.

Langkah Hyerim mulai tertata untuk mendekati Luhan, baju militernya sudah berubah dengan kemeja warna ungu maroon dan celana jins pendek berwarna biru muda.

Lontaran ucapan Hyerim menyebabkan dengusan Luhan lolos, lalu tersenyum geli pada gadis Kim di hadapannya. “Ya, dan apakah dirimu balas dendam untuk ke sini sangat lama?”

Tangan Hyerim terlipat di bawah dada, dirinya menelengkan kepala dengan bola mata bergerak-gerak. “Hmmm, bisa dibilang begitu.” bahunya ia angkat acuh lalu ia menatap Luhan dengan tatapan jahil.

“Ckckckck, bagaimana bisa aku melamar wanita pendendam sepertimu,” Luhan mulai berdecak dengan kepala geleng-geleng.

Alis Hyerim ia jungkitkan kala decakan Luhan memasuki telinganya. “Huh melamar?” dirinya berusaha mengorek kuping, mengingat lamaran beberapa bulan lalu yang Luhan lakukan dan malah besoknya hubungan keduanya kandas.

Luhan balas menatap Hyerim yang sedang meniliknya, dengan senyum miring. “Siapa juga yang mau melamarmu?” bibir Hyerim langsung tertekuk mendengarnya, cepat-cepat Luhan menambahkan. “Aku ingin mengancammu untuk menikah denganku, karena bila dilamar aku bisa saja ditolak dan aku tidak mau ditolak sama sekali.”

Kata-kata Luhan bukan membuat Hyerim terbang tinggi ke awang-awang, tapi membuat rasa geli menyelimutinya lantas perempuan bernama lengkap Kim Hyerim itu mendecih tak habis pikir. “Cih,” matanya menatap Luhan tajam. “Gombalanmu tetap receh seperti biasa.”

Dan tanggapan Luhan hanyalah sebuah kekehan dengan mata menerawang ke langit senja. Lalu fokus kelereng hitamnya itu jatuh kembali pada sosok Hyerim yang dari tadi menatapnya datar. Hening menyelimuti keduanya, hanya suara semilir angin lembut yang menampar wajah keduanya yang terdengar berisik serta rasa hangat yang mulai minim karena mentari mulai tenggelam di ufuk barat secara perlahan. Langkah sepatu pentofel Luhan membuat Hyerim mengedipkan matanya yang dari tadi tidak ia kedipkan. Finishnya langkah Luhan ketika ia berjarak beberapa jengkal di depan Hyerim, kedua mata itu saling tatap dengan dalam. Menghantarkan rasa rindu karena perpisahan yang akan terjadi besok.

“Kim Hyerim…” Luhan mulai memenggal kata membuat Hyerim tambah menatapnya ditambahi binar penasaran. “Walau jarak sering membunuh jalinan kisah kita, apa kamu mau hidup bersama—”

“—Tidak,” dengan cepat Hyerim menyambar dengan wajah tanpa dosa, nyaris saja Luhan menjatuhkan kotak cincin yang ia genggam di balik punggung, wajah pemuda itu melongo parah kala acara lamarannya tercut begitu saja. “Selama gajimu belum naik.”

Wajah tolol Luhan berubah dengan raut datar, bibirnya meloloskan desisan pada Hyerim yang menatapnya santai. “Ya! Gaji, gaji, gaji. Gaji tentara China itu lumayan, memang kamu ini ingin gaji bera—”

“—Aku ingin menikah dengan elite, kalau bisa kita menikah di katerdal yang mewah dan mobil pengantin kita itu lamborgini aventador sv warna hitam. Kan keren sekali! Terus kita honeymoon di Barcelona! Gajimu kurang cukup untuk itu.” lagi-lagi Hyerim berujar semangat dan memenggal kata-kata Luhan.

Dengan wajah memelas, Luhan menatap Hyerim risih. “Sejak kapan kamu ini jadi matrealistis begini?”

Hyerim balas menatap Luhan santai dengan cengirannya. “Pernikahan itu momen bahagia satu sekali seumur hidup, jadi aku ingin yang wah! Kita kalahkan seleb-seleb yang sudah menikah seperti Lee Minjung dan Lee Byunghun, Lee Sungmin dan Kim Saeun, Goo Hyesun dan Ahn Jaehyun, juga Eugene dan Ki Taeyoung. Kalau bisa kita undang idol saja ke pernikahan kita untuk bernyanyi, Twice ‘kan sedang populer, kita undang saja. Atau Gfriend? Aku suka lagu-lagu mere—Aw!” Hyerim meringis sambil mengelus jidat saat Luhan menyentilnya untuk menghentikan delusionalnya itu.

“Ck! Kamu ini, mau menikah denganku atau tidak? Ingin kutodongkan senjata agar kamu ingin menikah denganku?” sembur Luhan kesal tapi Hyerim masih cemberut serta tangannya mengelus-elus keningnya yang jadi korban sentilan Luhan.

Kan aku sudah terlalu antusias memikirkannya,” cibir Hyerim membuat bola beriris milik Luhan memutar. “Ya sudah, aku mau menikah denganmu,” ujar Hyerim dengan wajah terpaksa tapi membuat Luhan tersenyum senang. “Tapi aku terpaksa, sungguh aku menikah paksa!” seru Hyerim nyaring sampai-sampai Luhan mengorek-ngorek kupingnya dengan jari telunjuk juga wajahnya terlihat risih.

“Hei!” desis Luhan sambil mendorong dahi Hyerim dengan telunjuknya, gadis itu pun tambah memberengut. “Besok kamu akan kembali ke Korea, baik-baiklah denganku. Pasti frekuensi merindukanku akan meningkat nantinya.”

“Dih, percaya diri sekali kau!” sambar Hyerim cepat dengan muka jijik namun Luhan hanya mengangkat bahu, detik berikutnya pemuda itu mengeluarkan kotak cincin yang dari tadi dirinya sembunyikan. “Buatku?” tanya Hyerim ketika melihat kotak itu.

“Bukan, tapi untuk letnan yang nanti berubah status menjadi dokter berkepala batu,” ucapan Luhan itu membuat bibir Hyerim tertarik mencipatkan senyuman.

Tanpa menunggu lama, Luhan membuka kotak tersebut dan menarik cincinnya keluar. Cincin berbentuk setengah hati itu akhirnya tersematkan di jari manis Hyerim, terlihat gadis Kim itu menatap cincin ibu Luhan dengan senyum senang.

“Aku harap anak kita nanti memakai cincin seindah ini saat menikah,” mendengar kata anak membuat Luhan menggaruk teguk resah.

“Sudah, jangan bahas anak dulu sebelum aku khilaf membuatnya sekarang juga bersamamu.” Luhan mengibas-ngibaskan tangannya dan Hyerim langsung menatapnya judes dengan cibiran mesum.

Konversasi keduanya pun terhenti sampai disitu. Langit senja dengan warna minim keoranyean mentari pun terlihat indah dengan semilir angin yang semerdu simfoni. Ditengah suasana damai serta sunyi di atas menara itu, bibir milik Luhan berpangutan mesra dengan Hyerim. Tangan pemuda itu memeluk pinggang Hyerim membuat tubuh keduanya berhimpitan, tangan Hyerim pun juga memeluk pinggang Luhan. Lumatan ditengah ciuman itu terjadi diiringi suara lonceng menara yang menggema di seluruh penjuru.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

-157 days latter, Seoul, South Korea-

Rumah sakit Haemyung tampak sibuk dikarenakan baru saja ambulan yang menampung korban kecelakaan bruntun itu sampai di rumah sakit. Beberapa dokter melangkah lebar dan mulai menangani pasien yang diiring menuju ruang Unit Gawat Darurat.

“Soojung, kamu tangani pasien itu,” seorang dokter berparas cantik itu berujar sambil menunjuk dengan dagu pasien yang ia maksud. Soojung pun mengangguk menuruti titahan Hyerim. “Hyeyeon-ah, bantu aku bawa pasien ini.” kembali Hyerim berujar pada seorang suster.

Tak lama, ranjang dorong berisikan korban yang memiliki luka paling parah pun didorong menuju UGD. Hyerim yang merupakan penanggungjawab pasien itu mulai menilik masalah yang dialami Si Pasien. Saking parahnya, napas pasiennya itu terlihat dangkal dan mulai berhenti. Tak mau kehilangan, Hyerim menarik diri ke atas ranjang dorong dan setengah berjongkok di atas tubuh pasiennya lalu mulai melakukan pertolongan pertama dengan CPR yang dipraktikan dengan memompa dada pasien.

“Cepat! Cepat!” teriak Hyerim pada perawat yang mendorong ranjang. Mereka pun langsung meningkatkan stamina untuk lebih cepat menuju UGD.

Disaat keadaan cemas seperti itu, seluet bayangan dokter wanita lain menghampiri Hyerim. Wanita itu menawarkan bantuan. “Ingin kubantu, Hyerim-ah? Sepertinya pasien ini butuh operasi.” tawaran yang terlontar dari dokter itu membuat Hyerim menoleh padanya dan mengangguk pelan dengan senyumannya.

“Tentu saja Lian.” jawab Hyerim pada wanita tadi, Wu Lian yang sudah tersenyum dan ikut bergabung untuk menuju UGD.

Ujung mata Hyerim melirik Lian yang ikut mendorong ranjang pasien. Hyerim tersenyum tipis, wanita Wu itu sudah tujuh bulan pindah ke Korea dan menjadi rekan kerja paling dekat dengannya di Rumah Sakit Haemyung.

“Lian juga sama sepertiku, dirinya mengalah dengan karirnya di rumah sakit yang sudah menjadi naungannya sejak magang untuk pindah ke Korea agar bisa bersama dengan Minho…” Hyerim memulai narasinya dalam hati.

Lalu mereka pun sampai ke UGD. Hyerim dengan cepat turun dari atas tubuh pasien dan mulai mengambil pakaian operasi. Lian dan perawat lainnya pun bergerak gesit juga untuk menyelamatkan pasien itu.

Ditengah kegiatannya menggerakan alat medis dengan menggunakan pakaian operasi berwarna biru langit dengan masker itu pun, Hyerim kembali bernarasi dalam hati. “… sungguh aku iri dengan Minho dan Lian, hari ini mereka bisa bertemu langsung karena masa dinas Minho di Urk sudah berakhir dan lelaki itu sudah sampai di Seoul malam ini.”

Dan seperti prediksi Hyerim, malamnya, Lian dan Minho bertemu di cafe dengan sebotol soju menemani. Keduanya melepas rindu sambil menuangkan soju di gelas masing-masing.

“Bagaimana kabarmu?” tanya Minho kepada Lian yang masih meneguk sojunya.

“Baik sekali,” jawab Lian setelah selesai meneguk sojunya dan menatap Minho dengan senyum lebar.

Minho tampak menggerakan tangan menyemil kue beras yang ada di atas meja lalu meletakan setengah tangan di ujung meja dengan tubuh menyamping. “Ya, pasti kamu merindukanku,” ujarnya percaya diri seperti biasanya. Lian hanya tersenyum dengan bahu terangkat acuh. “Hyerim dan Luhan akan menikah, bagaimana kalau kita juga menyusul?”

Ucapannya membuat Lian tersedak soju dan menatap Minho kaget tapi lelaki itu tampak santai menyemili kue beras. Tapi terlihat pipi Lian memerah dengan kepala mengangguk untuk menerima ajakan Minho.

“Intinya aku iri dengan mereka yang pasti bertemu romantis malam ini,” Hyerim bernarasi lagi didalam hati, dirinya duduk di depan laptop sambil memandangi emailnya, Luhan mengiriminya foto-foto terakhirnya di Urk kemarin dan itu cukup membuat Hyerim tersenyum pada foto yang berupa obat rindunya pada pria itu.

“Pria yang mengancamku untuk menikah dengannya itu belum memberiku kabar padahal dirinya sama-sama pulang bersama Minho. Dia langsung pulang ke Beijing,” tubuh Hyerim memutar kursi pegasnya lalu meraih beberapa dokumen lantas melihatnya dengan lekat. Surat pengunduran diri untuk Rumah Sakit Haemyung dan surat lamaran untuk Haidan Clinic Center, rumah sakit yang dulu menaungi Lian.

“Aku pun akan menyusulnya ke China. Huh lagi-lagi aku yang mengalah, dasar laki-laki tidak tanggung jawab! Walaupun sedih harus meninggalkan ayahku di sini, tapi besok malam aku akan terbang ke Beijing untuk menemui lelaki kurang hajar itu,”

Bandar Internasional Incheon masih tampak ramai meski malam sudah datang dengan langit gemerlap tergantung bulan dan sedikit bertabur bintang. Sosok Hyerim dengan coat coklat tua dan beberapa koper tampak berdiri untuk memasuki ruang tunggu pesawatnya. Di depannya, berdiri beberapa orang yang mengantarnya malam ini. Terdapat Sang Ayah, Jieun yang merupakan sahabatnya selama di militer, Soojung dan Taemin yang merupakan teman dekatnya di Rumah Sakit Haemyung, juga pasangan Lian dan Minho. Jieun pun memeluk erat Hyerim dengan mata berkaca-kaca.

“Aku akan merindukanmu, sama-sama di Korea saja jarang berjumpa karena kamu keluar dari militer bahkan saat sama-sama di militer pun sama. Apalagi jauh.” Jieun mulai melonggarkan pelukannya dan tampak Hyerim tersenyum tipis sampai Jieun benar-benar melepaskan pelukan.

“Aku juga akan merindukanmu, Ji…” kemudian tatapannya melayang ke arah yang lain. “… Taemin oppa dan Soojung, jangan lupakan salamku ke yang lain. Lian juga, biasakan diri ya untuk berbicara Korea lebih banyak dengan yang lain,” ketiganya tersenyum tipis dan mengangguk. “Dan Minho-ya, jaga baik-baik Lian, jangan seperti Luhan yang tega membiarkanku berangkat sendiri begini dan sampaikan salam pada rekan militer yang lain terkhusus Jinki.”

Mendengarnya membuat Minho mendengus dan mengangkat jari telunjuknya ke ujung pelipis dan menggerakannya ke depan—seakan mengatakan siap, dengan senyum lebarnya. Terakhir tatapan Hyerim terfokus pada sosok ayahnya yang tersenyum hangat.

Appa…” getarnya suara Hyerim terdengar dengan mata berkaca-kaca lalu menghambur pada pelukan ayahnya yang langsung menerimanya sukacita dan mengelus-elus punggung putri tunggalnya. “Maaf bila aku banyak salah selama ini, aku akan merindukanmu dan pasti terus menghubungi ayah.”

Letjen Kim mengangguk dan menepuk-nepuk punggung putrinya, sekon selanjutnya Hyerim pun mulai melepaskan pelukannya dan mengusap kasar air mata yang hendak jatuh. Tangan Kim Jaehyun pun mengelus sebentar surai Hyerim diiringi senyum hangatnya.

“Jaga dirimu di sana, saat kamu dan Luhan menikah, baru aku akan datang juga aku akan mengunjungimu sesekali. Jangan lupa mengunjungi ayah di sini.” tanpa menunggu lama pun, Hyerim mengangguk dan kembali matanya berkaca-kaca, ada hasrat ingin menghambur ke dalam pelukan Sang Ayah tetapi ia urungkan ketika interkorm bandara menyuarakan penumpang pesawat yang dinaiki Hyerim untuk memasuki ruang tunggu.

“Aku akan berkunjung bersama Luhan, saat peringatan kematian ibu pun aku akan datang.” lalu Hyerim meraih kopernya dan mulai membalikan badan, sebelum benar-benar berbalik dan menghilang ke ruang tunggu, Hyerim melambai sambil berucap dengan mata berkaca-kaca. “Aku pergi, terima kasih sudah mengantarku, aku akan merindukan kalian.”

“Perpisahan meskipun tidak abadi dan bersifat sementara pasti akan terasa sedih. Selalu begitu,” dalam hati narasi Hyerim kembali tersuarakan dan dirinya sekarang sudah berada di dalam pesawat dan mendapat tempat duduk di dekat jendela, kepalanya tertoleh memandangi landasan udara hingga pesawatnya terbang dan pandangan iris kehitamannya itu disuguhi pemandangan malam negaranya pada malam hari. Hyerim tersenyum tipis dan memilih untuk tidur serta berusaha bahagia karena akan bertemu sosok Luhan.

“Beijing dan Seoul itu beda tipis sebenarnya…” pagi harinya, Hyerim sampai di Beijing dan mulai menggeret langkah keluar pesawat bersama kopernya. Kepala gadis Kim itu menoleh ke sana-ke sini mencari sosok pemuda Lu itu. “… keduanya ibukota dan sama-sama padat, tapi mungkin lebih padat Beijing karena masyarakat Tiongkok yang lebih banyak.”

Waktu seakan berhenti untuk Hyerim, tubuhnya kaku dan organnya seakan tak bekerja. Dengan jarak yang lumayan, obsidiannya melihat sosok bertubuh tegap dengan coat berwarna biru itu menatapnya dengan senyuman menawan yang membuat Hyerim lupa caranya bernapas.

“Luhan…” gumam Hyerim pelan lalu tanpa sadar sudah mengiring langkah mendekati sosok Luhan yang masih setia tersenyum untuk menyambutnya.

Akhirnya keduanya berdiri berhadapan dengan saling melempar pandangan, dalam keheningan ditengah sibuknya bandara, beribu kata rindu itu terbisikan didalam hati. Keduanya pun akhirnya menyunggingkan senyum setelah sekian lama tidak bertatap muka dan hanya bervideo call sesekali juga berteleponan dan bertukar pesan di line atau SMS.

“Merindukanku?” yang pertama kali membuka suara untuk menyapa adalah Luhan dengan wajah super percaya dirinya itu dan tak lupa senyum miring menggodanya.

Tentu hal itu menyebabkan Hyerim mendengus tapi tak menyangkal bahwa ia merindukan sosok Luhan. Anggukan terjadi dikepala Hyerim dan persetan dengan tempat ramai lalu lalang orang yang sekarang menjadi tempat keduanya berada, sekejap saja Hyerim sudah menghambur ke dalam pelukan Luhan yang makin tersenyum lebar.

“Gadis yang tidak lebih indah dari bintang di langit ini merindukanmu. Gadis kepala batu yang berganti status dari letnan menjadi dokter biasa. Gadis yang sering membuatmu khawatir juga gadis yang terpaksa mau menikah denganmu.”

Kekehan tanpa suara dari Luhan pun lolos, sekon selanjutnya pelukan itu melonggar dan terlihat Hyerim mendongakan kepala untuk menatap Luhan. Senyum terlihat di paras Luhan yang selanjutnya menggerakan wajah mendekat ke wajah Hyerim serta mengecup sebentar bibir gadis itu.

“Siap untuk bertemu calon mertuamu terkhususnya ibuku?” tanya Luhan dengan senyum miring untuk menggoda Hyerim dan Hyerim balas menatap Luhan serta terasa tertantang.

“Tentu, ayo kita bertemu orang tuamu.” balas Hyerim dengan nada tertantang. Dan Luhan sendiri pun terlihat tersenyum sambil mendesis.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

“Astaga, tak kusangka perempuan yang suka Luhan ceritakan lebih cantik dari perkiraanku,” ujaran Ibu Luhan itu terdengar sambil tersenyum lembut pada Hyerim yang tampak menundukan kepala malu sehabis dipuji.

“Kudengar kau mantan dokter tentara, ya? Dulu pangkatmu letnan satu ‘kan?” kali ini ujaran Ayah Luhan yang merupakan pensiunan jendral itulah yang terdengar. Sekilas ujung kelereng Hyerim melirik pria paruh baya dengan senyum selembut milik ayahnya itu, lalu gadis berdarah Korea itu mengangguk.

“Ya Tuhan, ternyata dirimu gadis berani ya yang mengalah untuk bersama putraku yang manja itu,” terlihat Ibu Luhan melirik Luhan yang melemparkan tatapan datar.

“Ibu, aku tidak manja,” terlihat Luhan memelas namun ibunya malah buang muka dan tersenyum pada Hyerim yang tersenyum menahan tawa. “Itu ‘kan dulu saat aku masih kecil, sekarang aku tidak manja.”

Tapi Sang Ibu tidak mempedulikannya dan masih tersenyum-senyum pada Hyerim. “Padahal wajah Hyerim cantik, kenapa mau ya dengan Luhan?” lagi-lagi tatapan Luhan pun datar bahkan lebih datar dari barusan.

Hyerim pun gatal untuk tidak tertawa, kekehannya lolos lalu melirik Luhan dari ujung mata sebelum berucap merespon ujaran Ibunda Luhan. “Banyak sekali pria yang melemparkan diri padaku, sayangnya aku malah berakhir dengan pria sekerempeng ini yang suka sekali kena anemia.”

Terbahaknya Ibu Luhan juga Hyerim membuat Luhan dongkol sampai ubun-ubun, sementara Sang Ayah hanya geleng-geleng dan tersenyum menahan tawa. Luhan pun mendengus tak habis pikir sambil mendelik tajam pada Hyerim yang masih tertawa puas bersama ibunya.

“Sayangnya?” ulang Luhan dengan mata memincing.

Tawa Hyerim terhenti diikuti Ibu Luhan, gadis Kim itu menatap Luhan dengan mimik tanpa dosa. “Ya, sayangnya aku malah berjodoh denganmu.” ditekankan sekali ucapan ‘sayangnya’ oleh Hyerim seakan menegaskan dirinya kecewa mendapatkan pemuda seperti Luhan.

Dongkolnya diri Luhan makin menumpuk. Tapi konversasi hangat kembali terjadi. Orang tuanya banyak mengobrol dan bertanya pada Hyerim. Dari tentang pekerjaan gadis itu, keluarganya terkhususkan ayahnya yang merupakan komandan pasukan khusus, jalinan kasihnya—bagian ini yang paling Luhan tak suka lantaran ibunya malah mengatakan kenapa Hyerim putus dengan dokter secerdas Taemin dulu, lalu berlanjut kehobi dan yang lainnya. Walau dongkol menjadi sasaran bully terus-menerus, namun bibir Luhan melihatkan senyum tipis, merasa senang ayah dan ibunya menyukai Hyerim. Atmosfer hangat itu terhenti ketika Ayah Luhan bersuara.

“Sayang, kita berikan waktu kepada Hyerim dan Luhan, lagipula kita ‘kan sudah makan malam bersama tadi.” Ayah Luhan menyentuh bahu istrinya dan mengajaknya untuk ke kamar dan mengistirahatkan diri. Sebelum konversasi hangat terjadi, mereka memang sudah melaksanakan makan malam bersama untuk menyambut Hyerim.

Ibu Luhan menoleh pada Sang Suami, diberikan olehnya anggukan lantas dirinya kembali menoleh pada Hyerim serta Luhan. “Kita tidur duluan, ya. Kalian nikmati waktu bersama dan jangan lupakan rencana pernikahan kalian bulan depan.” ucapan terakhir ibu dari Luhan itu disertai kedipan matanya pada Hyerim. Kemudian kedua orang tua Luhan itu sudah memasuki kamar.

Tiba-tiba Hyerim merasakan sentuhan di pinggangnya, sebuah colekan yang berasal dari jari telunjuk Luhan. Kepala Hyerim memutar ke sebelah kiri untuk menatap Luhan yang tersenyum miring dengan jempol terarah ke balkon rumahnya yang luas dan berada di luar, gerakan bola matanya pun tertuju pada tempat itu.

“Ayo kita tidur, tempat tidurnya lebih sempit dan tidak seluas kasur kamarku dan kamar tamu yang disediakan untukmu.” wajah dan tatapan menjijikan Luhan yang membuat Hyerim kesembelit itu hanya direspon dengusan oleh gadis berprofesi dokter itu.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Kemping, mungkin terdengar konyol tapi itulah yang terjadi di sini. Tenda berukuran tidak kecil maupun besar berwarna biru itu terbangun di balkon luas rumah keluarga Lu. Di dalamnya terdapat Hyerim dan Luhan yang tidur tengkurap bersebelahan. Selimut besar berwarna coklat kekuning-kuningan membalut tubuh keduanya. Sosok Hyerim tampak sibuk dengan ponselnya membuat Luhan yang merasa dikacangi pun bosan.

“Kamu melihat apa sih?” dipilihlah oleh Luhan untuk angkat suara karena bosan sekaligus kesal karena dirinya seakan obat nyamuk saja di sebelah Hyerim, Luhan pun berusaha melirik informasi dari ponsel calon istrinya itu dan setelah mendapatkannya, keningnya terlihat mengernyit. “Disneyland?” alis Luhan pun berjungkit.

“Hm,” entah Hyerim irit bervokal ria atau apa, gumaman hanyalah respon darinya untuk Luhan. Jempolnya sibuk menscroll layar ponselnya.

“Ingin ke Disneyland?” lontaran pertanyaan Luhan kali ini sukses menarik Hyerim dari ponselnya dan menoleh ke pemuda itu. Gadis yang merupakan mantan letnan itu pun menyengir lebar.

“Karena ke Barcelona tidak cukup menggunakan gajimu juga tak mungkin kamu berhutang kepadaku untuk menggunakan uangku dulu, jadi kita honeymoon ke Disneyland saja!” kata Hyerim semangat serta menggebu-gebu, tapi Luhan malah mendesis mendengarnya.

“Kamu kira aku tidak bisa membawamu ke Barcelona? Walau ke Eropa mahal, aku bisa menggunakan beberapa uangku yang sudah aku tabung,”

Namun sayangnya Hyerim menggeleng kuat-kuat dan kembali menyarangkan tatapan antusias pada Luhan. “Aku ingin ke Disneyland Tokyo!”

Tangan Luhan menopang pipinya serta menatap lurus Hyerim yang ada di sebelahnya, tatapannya pun heran seirama dengan parasnya yang sama bingungnya. “Tokyo? Di Hong Kong ‘kan ada Disneyland,”

“Tidak mau, aku ingin bertemu Furukawa Yuki bila ke Tokyo,” tatapan Hyerim mulai menerawang sambil tersenyum-senyum membayangkan wajah tampan aktor Jepang itu.

Di sebelah Hyerim, Luhan sudah menatap gadis itu datar dan diunsuri rasa kesal juga. Dirinya mendengus keras. “Ya! Memangnya Si Furukawa itu lebih tampan dariku?” sembur Luhan, bisa dibilang sedikit cemburu.

Tatapan menerawang Hyerim pun terhenti, dirinya kembali menatap lekat Luhan lalu tanpa bebannya mengangguk. “Tentu saja, tapi masih lebih tampan Song Joongki sih. Ck! Padahal aku ini berkencan dengan tentara juga, kenapa dapat tentara yang tidak setampan Song Joongki? Kapten Yoo Shijin ‘kan tampan sekali dan tidak kerempeng.”

Lantas mata Luhan menyipit sesudah Hyerim menggerutu seperti itu. Tangannya sudah tak menopang dagunya, lalu wajahnya mulai mendekati Hyerim yang kembali sibuk dengan ponselnya.

“Memangnya lelaki di sampingmu ini tidak tampan hah? Tidak tampan?” wajah Luhan tersodorkan ke arah Hyerim dengan mata terpejam dan bibir dimajukan.

Hyerim kembali mengabaikan ponselnya dan melirik Luhan, dirinya meneliti wajah kekasihnya itu. Kemudian mendesis geli dan tangan kanannya pun mendorong wajah Luhan. “Tidak, tidak tampan.”

Respon Hyerim membuat Luhan kesal lalu melipat tangan di atas karpet yang melapisi lantai tenda, lalu meletakan dagunya di atas lipatan tangannya itu. Kembali aksi kacang Hyerim terlemparkan untuk Luhan yang kembali bosan.

“Ngomong-ngomong…” Hyerim kembali buka suara lalu melirik Luhan yang sudah menatapnya duluan. “… kamu berbohong! Katanya ibumu perfeksionis, nyatanya tidak. Dasar pembual!” gerutu Hyerim dengan binar mata jengkel dan bibir mencibir.

Gerutuan Hyerim malah menyebabkan Luhan terkekeh dengan wajah ringan dosa, tempo itu memang Luhan berniat menggoda Hyerim saja karena ibunya bukan tipe pilih-pilih untuk urusan menantu asal gadis yang Luhan pilih adalah gadis baik-baik.

“Hanya ingin menggodamu saja, sayang,” disarangkan pula oleh Luhan cubitan di pipi Hyerim dengan gemas dan tampak gadis berwajah jelita itu memberengut kesal merasa dibodohi oleh Luhan. Jujur saja  karena ujaran Luhan tentang ibunya yang perfeksionis itu membuat Hyerim gugup setengah mati.

Tangan Hyerim menepis tangan Luhan yang mencubit pipinya lalu dirinya buang muka dari pemuda bermarga Lu itu. “Untung saja ibumu baik sekali bahkan menyetujui aku dengan Taemin oppa saja.”

Luapan kekesalan Luhan yang sudah reda langsung muncul lagi, sementara Hyerim dengan santainya kembali tenggelam bersama barang elektroniknya itu disertai jari yang menari-nari di layar sentuh ponselnya.

“Aku curiga dirimu sedang bertukar pesan dengan Taemin, Taemin itu.” tatapan mata Luhan memincing.

“Memang,” balas Hyerim cepat tanpa menoleh pada Luhan yang sekarang membuka mulut lebar. “Taemin oppa bogoshippo, saranghaeyo,” Hyerim menggumamkan isi pesannya yang mana membuat gigi Luhan menggertak kesal.

Dengan cepat serta dicampuri rasa kesalnya, Luhan merebut ponsel Hyerim dan menatap layarnya dengan mata melotot. Kelereng milik pemuda itu menilik tulisan yang tertera di layar ponsel kekasihnya itu.

‘Oppa, bisa fax kan tentang virus HIV? Soalnya lebih lengkap data di rumah sakit dibanding internet, tapi kadang aku masih bingung dengan bahasa mandarin dan aku sudah agak lupa dengan virus itu yang katanya akhir-akhir ini banyak penderitanya yang datang ke rumah sakit tempatku bekerja nanti’

Sialan Kim Hyerim, Luhan dibohongi juga digoda oleh kekasihnya itu. Kala Luhan melirik Hyerim, gadis yang memiliki watak kepala batu itu nampak terkekeh dengan kepala menunduk dan tangan kanan membekap mulut. Kembali gigi Luhan menggertak.

“Dasar kamu ini nakal sekali, ya Hyerimku sayang,” kata Luhan lalu melempar ponsel Hyerim yang untungnya tertangkap tangan gadis itu. Ponsel miliknya itu Hyerim kunci dan ia taruh di sampingnya.

“Kamu ini cemburuan sekali sih,”

“Seperti dirimu tidak cemburuan saja,”

“Ya, ya, ya,” Hyerim berujar malas dengan bola mata memutar-mutar lalu menatap Luhan lurus.

Beberapa saat keduanya terpana dengan larut akan tatapan masing-masing. Jantung keduanya pun mengalami percepatan gila-gilaan. Walau angin malam berhembus kencang menyebabkan hawa dingin, anehnya Hyerim maupun Luhan malah merasa hangat. Seketika Luhan menangkup pipi Hyerim dan menarik wajah gadis itu mendekat ke arahnya.

“Setelah mengalami banyak hal denganmu, aku menyadari sesuatu,” dimulai oleh Luhan sebuah frasa dengan nada lembut yang menggetarkan jiwa Hyerim. “Kita ditakdirkan untuk saling jatuh cinta selamanya, cinta kita berdua dimaksudkan untuk menjadi abadi.”

Frasa manis Luhan dengan intonasi lembutnya menyebabkan perasaan hangat menjalar keseluruh tubuh Hyerim sampai ke pipi gadis itu yang sudah terlihat merona. “So cheesy!” desis Hyerim dengan kepala setengah menunduk.

Sekon mendatang, tangan Hyerim malah berkulat di surai Luhan untuk mengacak-acaknya sebentar lalu kembali ia tarik tangannya itu. Masih dengan Luhan yang menangkup kedua pipinya, Hyerim pun merespon ucapan manis Luhan beberapa waktu lalu.

“Selama ini aku selalu mencintaimu dan menunggumu sampai waktu berakhir sekalipun. Sampai akhirnya aku menyadari bahwa inilah jalanku untukmu. Aku merasa hampa tanpa dirimu, aku harap dirimu menyadari itu, Luhan. Aku harap mimpiku menjadi nyata, untuk terus bersamamu. You are my everything,”

Terlihat Luhan baru mengedipkan matanya saat sajakan frasa Hyerim dihentikan, lelaki itu tertawa mendengus sambil menunduk lalu kembali mengangkat wajah. Tangan yang menangkup wajah Hyerim ia gerakan salah satunya untuk mengelus paras jelita gadisnya ini.

“Gombalan dirimu ternyata lebih receh dariku,” ujar Luhan membuat Hyerim mendesis serta mendengus. “You are more than my everything, you are my whole world, darling.”

Lidah Hyerim tak kuasa menahan decakannya. “Tetap saja gombalanmu yang lebih receh,” namun hatinya menghangat dengan ribuan kupu-kupu menggelitik runggu, pipinya pun mulai merona dan jempol tangan kanan serta kiri Luhan pun mengelus-elus pipi Hyerim.

Posisi keduanya tak berubah, masih dengan wajah penuh kebahagiaan keduanya melempar senyum lebar. Sampai Luhan mendekatkan wajahnya ke wajah Hyerim yang masih ia tangkup pipinya. Kembali bibir keduanya bersentuhan, walau bukan kali pertama, sentuhan yang berasal dari pangutan mesra itu membiaskan rasa hangat serta memompa jantung menjadi berdetak sangat cepat. Luhan mulai melumat bibir Hyerim dan tangannya mulai tersingkir dari pipi gadisnya itu, respon Hyerim adalah balas melumat bibir Luhan yang akhirnya meraih teguk Hyerim untuk memperdalam ciuman keduanya. Kepala mereka pun memiring ke kanan dan kiri secara berlawanan, lidahnya keduanya berbelit dengan saliva yang saling bertukar. Secara tiba-tiba tanpa melepas ciumannya, Luhan mendorong tubuh Hyerim hingga berguling dan berakhir ia tindih dengan posisi Hyerim berbaring di bawahnya. Ciuman itu terus berlanjut dan makin dalam, Luhan sendiri menggerakan tangan untuk meraih resleting tenda dan menutup pintu tendanya itu. Pangutan keduanya tidak terlepas sedikitpun dan malah mulai terdengar decakan dari ciuman Luhan dan Hyerim.

“Eung Lu, menikah dulu baru lakukan hal lebih padaku! Dasar idiot!” Hyerim berseru sambil mendorong wajah Luhan dan memasang wajah jengkel, namun yang Luhan lihatkan hanyalah wajah tanpa dosa dengan senyum lebar.

“Asalkan malam ini kamu tidur di pelukanku lagi karena tempatnya sangat sempit jadi sangat nyaman untuk tidur berdempetan.” Hyerim mendengus karena merasa Luhan sudah sinting sekarang, tapi walau begitu ia tersenyum dan mengangguk.

Kembali Luhan mendekatkan wajah dan membuat bibirnya menjamah bibir Hyerim. Lumatan kembali terjadi masih dengan posisi Luhan menindih tubuh Hyerim walau keduanya tak akan melakukan hal apapun sebelum mengumandangkan janji suci bulan depan. Setelah melewati banyak hal, keduanya pun akhirnya bersatu.

Isn’t it clear to see

You belong with me

We are meant to be

In love eternally

My love

—THE END, THIS LOVE HAS ENDED—

—JUST WAIT FOR SEASON 2; APPOINTMENT OF THE SUN—

Summary :

Ketika empat insan yang saling mencintai, harus merasakan ujian cinta kala Sang Mentari tak terus menyinari cinta keempatnya. Hyerim dan Lian adalah gadis berprofesi dokter, keduanya menikah dan bertunangan dengan Luhan serta Minho yang merupakan tentara berposisi kapten pasukan khusus dari China dan Korea. Awal mula ujian ini ketika Hyerim sulit menghubungi Luhan di Urk—negara tempat kerja suaminya yang sedang mengalami konflik, juga keresahan Lian ketika Minho dikerjakan di tempat yang tidak ia ketahui, ditambah adanya orang ketiga dipernikahan Hyerim dan Luhan. Akankah matahari terus menunjukan sinarnya untuk cinta keempatnya? Atau malah meredup?


YA TUHAN, AKHIRNYA AKU TUTUP BUKU JUGA ATAS THIS LOVE SEBELUM KAYAKNYA AKAN BERGELUT SIBUK DENGAN REALITA HWHWHWHW. Sedih juga ya ini udah nangkrak lama tapi gak aku post padahal udah tamat lho di fileku sejak lama, sekitar kapan ya :/ Januari aja aku udah mulai deh kalau gak salah buat ngetik chapter 11, sayang aja melor karena ada season 2nya yang belum siap. Biasanya aku publish itu udah siap beberapa chapter eheheh, gak mau kejadian kayak dulu, siapnya cuman 2 chapter doang atau belum ada chapter lanjutannya. Gimana, minat sama season 2nya? Aku tau kok, ini maksa banget endingnya—lebih tepatnya dengan plot maksa dicepetin kan, ya?— tadinya cuman mau 10 chapter, karena This Love ini perchapternya mengutip ost.dots yang ada 10 biji. Oh sayang, malah jadi 11 chapter dan untung oh untung, gummy – you’re my everything ada yang English Ver dan beda translatenya sama yang ver Korea. Jadilah bisa 11 biji meski harusnya mah ada ya 12 chapter atau epilog, tapi ah sudahlah :((( kan ada season duanya nanti ehehehhe. Ada yang pernah ngira gak Hyerim yang bakal ngalah? Hahaha, aku sih kalau gak di sad endingin FF ini ya salah satu mesti ngalah kan? Sesuai kata bapaknya Hyerim, masa mereka mau LDR-an terus? Sederhananya itu aja sih wkwkwkwk. Btw, SongSong couple kan mau nikah bulan depan nihhhhh…. kan mereka cinlok dari dots, doain aja ya HyerLu (Hyerim-Luhan) juga kapalnya berlayar setelah epep ini tamat /ga/iyain aja kebanyakan delulu/

Sampai bertemu di season 2nya, ya ^^ dan sampai bertemu di projectku yang lain ehehehe.

Salam sayang,

Hyekim

Advertisements

Author:

❝The writer is the engineer of the human soul.❞ — Joseph Stalin ¦¦ Literally a korean trash, Luhan's tinkerbell, and Shownu's baby — ©2001

10 thoughts on “FF : This Love — Chapter 11 [Our Love Meant to Be Eternally — END]

  1. Haahh…
    Finaly, gak sad sad amat sih. Tapi emang gitu, harus ada yang ngalah. kalo di dots kan itu cuman masalah gengsi bapaknya Myeong Ju. Tapi kalo HyerLu kan lebih ke birokrasi aturan aturan lembaga. makanya lebih mumet.

    Okeh Elsanim, thankyou udah ngewarnain hari hari capekku di office dengan ff unyu ini, season 2nya ta’ tunggu. Plis kabarin yah, yah, yah, yah? /si shannon kambuh maksanya/

    ehtrus apalagi ya?
    Met menikmati reallife, jangan kelamaan plis, /maksa lagi/
    Himnebuseyo all da time.
    *bow

    Sincerely,
    Shannon

    Liked by 1 person

    1. Ini sad tapi hepi kok wkwkwk. Akhirnya ada yang sepaham sama aku. Selama ini pada komen kenapa bapaknya hyerim susah banget ngasih restu dan kenapa gak dua-duanya aja keluar 😂😂😂 masalahnya di dots emang gengsi bapak myeongju, tapi di indo sendiri kata papaku loh yg TNI, sebenernya daeyoung-myeongju kalo di indo emang gak bisa nikah. Kata papaku sm mamaku, kalo sama-sama TNI dan pangkat si istri lebih tinggi dibanding suami, itu gak boleh katanya. Kalo masalah Luhan-Hyerim, ya kalo gak ngalah, susah lah ya, kalo semisal Luhan yang keluar…. emang rela dia lepas seragam? :”))) jadi perwira itu susah loh, banyak beribu orang yang mau masuk jadi TNI dan masuk jadi perwira, dan banyak yang gagal dibanding yang lulus huhu. Jadi lebih alternatif ya Hyerim yang lepas seragam, kenapa? Doi kan bisa jadi dokter setelah keluar dan alasannya udah jelas, dia sebenernya emang mau jadi dokter biasa tapi karena ayahnya mau dia jadi tentara, dia nurut.

      Intinya kubahagia ada yang sepaham sama aku masalah ribetnya kisah cintrong hyerlu di sini 😂😂😂

      Eheh sama-sama kak. Makasih juga ya udah baca ffku yang gak seberapa ini. Aku seneng loh weheheheheh. Tar S2nya kalo udah ada, aku kasih tau kok

      Insya Allah gak lama bikos aku balik Indo pasti merasakan derita asam manis anak SMA kelas 11 dengan lebih nanonano 😂😂😂

      Like

Write ur Love Letter . . . <3

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s