Posted in Chapter, Comedy, Fanfiction, FF : Friendzone : When The Love Blossom, Fluff, Friendship, Romance, Teens

FF — Friendzone : When The Love Blossom [Keping 6 : The Jerk Guy With His Wolf]

Friendzone-WTLB-Cover

Friendzone : When the Love Blossom

KEPING 6 : The Jerk Guy With His Wolf ┘

Starring By

Lu Han & OC`s Kim Hyerim

Actor Kang Haneul, Girls Generation`s Seohyun, EXO`s Baekhyun  as special appearance

Story with Romance, Comedy, Friendship, Fluff rated by T  type in Chapter

Poster by ByunHyunji @ Poster Channel

`Luhan dan Hyerim sudah bersahabat selama 17 tahun. Keduanya berjanji tidak akan saling menikahi, juga kalau satu dari keduanya menikah, salah satunya akan menyanyi dipernikahan tersebut. Tapi memangnya persahabatan antara lelaki dan perempuan akan bertahan lama? Terlebih Hyerim baru saja diselingkuhi. Sedang Luhan, suka berperan menjadi pelindung Hyerim dan selalu meminta pendapat Si Gadis untuk masalah perempuan`

Disclaimer :  Beberapa adegan di fiksi ini terinspirasi dari drama Korea Fight For My Way dan tweet @plotideas. Namun isi cerita serta konflik yang ada sungguh berbeda.  Semua yang tercantum dari cerita ini sungguh tidak nyata. Tidak ada niatan untuk menjelek-jelekan satu organisasi/perorangan. Semua cast milik orang tua, agensi, dan Tuhan YMA—terkecuali untuk OC. Penyebarluasan, duplikasi isi cerita tanpa sepengetahuan/izin penulis, juga menghina/menjelek-jelekan isi cerita merupakan tindakan yang sangat dilarang.


When the love blossom in our friendship


Previous Story :  Keping 0 — Introduction  ∞ Keping 1 — The Cheating Boyfriend Keping 2 — After Broke Up Keping 3 — High School Reunion Keping 4 — Kang Haneul Keping 5 — Kiss

© 2017 Storyline by HyeKim


║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Seperti  hari-hari kemarin, Hyerim terbangun di pagi hari dan mulai menyeduh kopi sebagai pembuka hari. Dirinya sedang menyesap cairan kofein tersebut saat tak sengaja melihat kotak bekal warna biru langit di meja makan. Walau ingatannya kadang cuman seperempat, Hyerim ingat kotak tersebut bukan punyanya. Setelah meminum habis kopi dan menaruh di tempat cuci piring, Hyerim mendekat ke kotak bekal yang ternyata ditempeli post it merah jambu.

Tadi pagi aku berkunjung. Sangat kepagian karena aku ingin mengunjungi nenek yang lagi sakit di Busan jadi aku tidak membangunkanmu. Oh, ya, karena ibuku datang, kita punya banyak makanan. Makanya aku membagikannya padamu. Bagi-bagi juga ke Luhan, ya.

Salam,

Sun Ee❞  

Hyerim mengembungkan pipinya dengan napas berhembus lalu menaruh asal post it tersebut di meja makan. Dia menyerong pandang ke dua kotak bekal biru langit yang Sun Ee tinggalkan. Dengan berat hati, diambil lah kotak tersebut seraya melangkah ke luar rumahnya.

“Ini karena makanan dari Sun Ee. Sungguh, aku tidak mau tatap muka dulu dengan orang satu itu,” gerutu Hyerim dengan wajah resahnya.

Bayangin aja, tadi malam keduanya baru berbicara topik akan ciuman pertama mereka. Kemudian Hyerim mengungkit ciuman pertama mereka itu Luhan yang lakukan. Tapi dasar tolol dan pikunnya Luhan, dia malah lupa. Membuat Hyerim jadi ekstra malu buat tatap muka.

‘Ding! Dong! Ding! Dong!’

Dengan tidak sabaran, Hyerim memencet bell rumah Luhan berkali-kali. Tapinya tak kunjung juga dibukakan. Ke mana sih pria satu itu? Membuat Hyerim menghela napas saja, mana belum mandi dan dirinya juga lapar.

“Si Brengsek ini buat emosi saja pagi-pagi,” imbuh Hyerim jengkel dengan wajah kesal.

Tidak punya opsi lain, Hyerim menarik ke atas penutup keyboard untuk memasukan passcode rumah Luhan. Walau yakinnya Luhan sudah mengubah passcodenya, Hyerim kukuh saja memasukan passcode rumah Luhan yang dia tahu dan mungkin aja udah diubah—mengingat Hyerim kadang seperti kucing yang keluar-masuk seenak jidat saat tahu code rumahnya.

“Enam belas, dua puluh, kosong, empat,” gumam Hyerim yakin campur ragu mengetikan angka tersebut.

Dengan ragu, ditutup lah tutup keyboard  passcode untuk mengklik oke. Menanti dengan harap, bunyi ‘klik!’ diiringi pintu terbukalah nan menyambut Hyerim. Passcode yang dia masukan, benar. Mimik Hyerim berganti takjub dengan mulut terbuka.

“Woah,” dara Kim ini menggeleng-geleng takjub, “Dia kira aku ini pacarnya? Passcode rumahnya harus penggabungan tanggal lahirku dan dirinya gitu? Heol, daebak. (Dih, menajubkan)”

Ya, for your information; enam belas, dua puluh, kosong, empat alias 162004 adalah penggabungan tangal lahir Hyerim dan Luhan yang kebetulan sama-sama lahir april. Enam belas itu tanggal lahir Hyerim. Dua puluh itu tanggal lahir Luhan. Kosong empat berarti bulan April yang merupakan bulan keempat—dimana Kim Hyerim dan Luhan sama-sama lahir dibulan ini. Dan dih sekali, Luhan memakai angka tersebut untuk passcode rumahnya dan bahkan gak diganti-ganti.

Tungkai Hyerim sudah masuk ke dalam rumah. Dia menyerong kepala menyisir sekitar. Eksitensi Luhan tidak didapati. Dengan gontai, gadis Kim ini main masuk lebih dalam dan kebetulan lah saat itu terdengar suara berisik dari kamar mandi.

Naega sarange ppajin geolkkayo. Nae du nuni mareul handaeyo ~,”

Kepala Hyerim telah tertoleh ke pintu kamar mandi dengan tatapan datarnya. O, ternyata Si China Gila ini sedang mandi dengan konser dadakan menggunakan suara soaknya. “Ck, sudah kubilang jangan nyanyi sambil mandi. Kayak suaranya bagus aja.” sungging sarkas Hyerim di bibirnya.

Sementara Luhan sibuk bershower ria dengan konser recehnya di kamar mandi, Hyerim meletakan kedua kotak bekal pemberian Sun Ee di meja makan. Well, Hyerim bawa juga jatah makanannya ke sini. Hitung-hitung sarapan bareng juga Hyerim baru kepikiran mau meminta bantuan Luhan. Tak lama, Luhan beres juga mandi dan keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di pinggang dan telanjang dada. Jangan lupakan nyanyian soaknya dinada tinggi dengan kepalan tangan kanan depan mulut—ceritanya menjadi micnya.

“Lalililala dumbhead. I wanna don’t stop. I wanna don’tYa! Ya! Kamjagiya! (Heh! Heh! Kagetnya)” nyanyian pemuda Lu itu beralih jadi teriakan serta seruan saat melihat Hyerim sedang kacak pinggang menatapnya tajam.

Diurutlah dadanya yang berdentum kaget oleh Luhan. Lalu dia menatap Hyerim tajam. “Kenapa main masuk?” hardiknya tak suka.

Hyerim menelengkan kepala dengan raut tak acuhnya. “Ada makanan dari Sun Ee. Aku mengirimnya ke sini sekalian sarapan. Lagian passcode rumahmu itu tanggal lahir kita berdua,” vokal Hyerim dengan wajah mencebiknya.

Napas Luhan terbuang berat, setelahnya berjalan ke arah meja makan yang dipunggungi Hyerim. Diamati olehnya kotak bekal pemberian Sun Ee sebelum finalnya dia buka. “Wah, daging sapi. Ibu Sehun dan Sun Ee pasti yang memasaknya.” Luhan berkata dengan mata berbinar. Dari semua daging sapi di bumi, Luhan paling suka buatan ibu teman sekembarnya itu.

Kepala Hyerim mengangguk menimpali kata-kata Luhan. Atensinya sudah tersita ke arah dapur dan lekas menggeret tungkai ke sana. “Aku ingin mengambil gelas dan piring,” katanya riang menuju dapur yang sama-sama menyatu dengan meja makan.

Saat sampai di counter, dengan kaki jinjit, Hyerim membuka lemari atas counter dan mulai menjangkau benda yang ada di situ. Giginya menyatu dengan kaki mulai gemetar karena benda yang mau diambil belum juga terambil.

“Aduh, kenapa susah sekali?” gerutu pelan Hyerim mulai pegal jinjit dan tangannya yang bergerak-gerak dalam lemari juga mulai putus asa.

Hap. Akhirnya satu piring terambil menyebabkan Hyerim memasang tampang gembira dan mulai menariknya keluar. Akan tetapi, perempuan Kim ini tidak tahu menahu bahwa barang yang dia tarik ini menyenggol piring lainnya dan ikut-ikutan tertarik juga. Luhan yang tadinya sibuk menyicip-nyicip masakan Ibu Sun Ee, mengalihkan fokus ke Hyerim sebab lama menunggu piring untuk makan. Kala itu lah Luhan mendapati piring yang hendak beruntun jatuh menimpa gadis ayu tersebut. Refleks mata Luhan membola.

“Kim Hyerim, awas!” pekikan Luhan tergaumkan dan timbal balik Hyerim hanyalah kebingungan ditatapan jua matanya serta masih setia menarik piring yang akan jatuh beruntun.

Tatkala itulah kegesitan Luhan beraksi, dirinya beranjak cepat dan tak sampai lima detik sudah ada di hadapan Hyerim. Memutar tubuh serta mendekap Sang Gadis ke dada bidangnya nan terekspos, untuk Luhan lindungi. Dan sekon itulah…

‘Prang! Prang! Prang!’

Piring dari lemari counter berjatuhan beruntun dan pecah terbelah tatkala menyapa lantai. Kian eratlah Luhan mendekap Hyerim yang wajahnya sudah tenggelam di dada Luhan yang sedang toples. Brengseknya jantung Si Dara Kim malahan berketuk-ketuk keras disaat-saat begini. Ketika sudah gak ada piring yang pecah lagi, Luhan melonggarkan dekapan dan mengecek Hyerim yang terlihat terkejut. Hyerim balas menatap, membuat kedua obsidian Luhan dan Hyerim bersibobrok. Waktu kok rasanya berhenti begitu saja dengan harmoni indah seirama dari rongga dada keduanya. Sialan, Hyerim merasa gila saat berhadapan dengan Luhan yang telanjang dada dan berjarak dekat dengannya. Apalagi tetesan partikel air terdapat di ujung surai jaka satu ini bahkan menetes di sekitar dadanya. Sepertinya Kim Hyerim hilang akal lantaran melafal frasa seksi untuk pendeskripsian Luhan kala ini.

Sedang Luhan, mati-matian dirinya menelan saliva. Dia mengaku ketagihan nyicip bibir Hyerim karena Si Gadis suka sekali pakai liptint stroberi yang mana Si Pria Lu ini suka dengan stroberi. Tapi, yakinkan Luhan buat waras lagi, bisa? Sebab sekarang dirinya terpana lagi pada ranum Hyerim yang omong-omong tidak dipoles liptint stroberi sama sekali.

Seketika, diluar sadar, Luhan menghapus sedikit spasinya dengan Hyerim dengan memiringkan wajahnya ke arah wajah dara satu ini. Saking terpana, Hyerim sendiri tak sadar sampai napas Luhan sudah berhembus tepat di hadapan mukanya, menggelitik sensasi aneh pada kupu-kupu yang ada di tubuhnya.

Penggerakan Luhan dipause dengan kepala dimiringkan selayak mau mencium. Keduanya mematung diposisi begitu. “Kau…” tahu-tahu Luhan beraksara dengan bisikannya, spontan Hyerim menatap tepat dimatanya. Lagi-lagi netra keduanya bertabrakan. “… jangan lagi ke sini kalau ingin memecahkan piring.”

Keterpanaannya sirna, Hyerim langsung mendelikan mata dan mendorong diri menjauh dari dekapan Luhan. Sementara Luhan masih menyandar pada counter sambil menatapnya yang memangku tangan di depan dada.

“Dih, bagaimana bisa aku tidak ke sini bila kode rumahmu saja tanggal lahir kita berdua?” kelit Hyerim tajam dan buang muka sehabisnya.

Luhan membenarkan posisi tubuhnya lebih tegak dan agak menjauh dari counter. “Lalu aku harus ubah jadi apa? Satu, satu, satu? Sama saja membuat pencuri masuk!”

O, ya, Hyerim baru ingat. Saking pikunnya, Luhan memasang kode termudah untuk rumahnya, yakni; satu, satu, satu. Eh, sialnya, malahan ada pencuri masuk. Untung cuman barang murahan seperti arloji, beberapa lembar won, dan sepatu kets Luhan aja yang keambil. Hyerim udah menatap Luhan lagi dan mengibas-ngibaskan tangan kanan dengan wajah tak mau tahu.

“Ah terserah. Aku mau makan saja.” imbuhnya kemudian menghampiri meja makan dan menarik kursi lekas membanting bokong di sana. “Ambilkan piring dan gelasnya. Aku tidak sampai barusan. Pecahan yang berserakan akan kubereskan nanti sehabis makan.”

Walau kesannya dijadiin babu, Luhan nurut saja dibanding kena bom pukul atau tendang. Omong-omong, luka tendang Hyerim masih berdenyut di kaki Luhan. Kekuatan cewek satu itu bukan main-main walau bukan pengajar taekwondo kayak Luhan. Tatkala Luhan sudah menghampiri dengan menyerongkan piring pada Hyerim serta diterima oleh Sang Gadis, Hyerim bervokal sambil sibuk mengalaskan makanan ke piring.

“Ngomong-ngomong, jangan telanjang dada lagi di depanku,”

Diberikan lirik sekilas pada Luhan yang sudah duduk nyaman di sebelahnya. Respon pemuda itu ialah raut bersirat tanya kenapa. Hyerim nan sedang menyendok makannya, balas menatapnya dalam. Dalam hati jawaban akan sirat tanya Luhan itu ialah; ‘Kau itu terlihat seksi bila begitu sampai jantungku mau copot,’ tapi, ya kali aja Hyerim menjawab begitu. Pamornya masih tinggi!

Dengan raut santainya tanpa menatap Luhan, Hyerim menyahut, “Tidak sopan berpakaian begitu. ABSmu aja tidak menggoda.”

Lantas Hyerim menyibukan diri dengan lauk-pauk sarapannya tanpa mengidahkan Luhan nan spontan menatapi tubuh telanjang dadanya. “ABSku bagus kok.” gumamnya nyaris membuat Hyerim tersedak. Untung tidak terlihat oleh kacamata kornea Luhan saat Hyerim buru-buru ambil minum dan meneguknya.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

“Aduh, Kim Hyerim. Sudah, tidak usah tarik-tarik segala! Kau sudah memaksaku tadi di dalam. Aku mau kok dan tidak akan kabur!”

Baru juga selesai sarapan khidmat dalam hening. Eh, sehabisnya setelah beres mencuci alat makan yang kotor dan menyapu bekas pecahan piring yang jatuh, Hyerim membujuk—lebih tepatnya memaksa Luhan buat menemaninya dandan. Menolak mentah-mentah sudah Luhan lakukan. Namun, tahu tidak apa yang Hyerim lakukan setelahnya? Cewek galak satu itu menjambaki Luhan supaya mau nurut. Sakit? Tolol aja yang percaya kalau Luhan gak kesakitan disaat surainya aja ada yang rontok karena jambakan Hyerim. Memang, sahabatnya itu super antimainstream. Luhan bersumpah, enggak mau mengencani cewek semodel Kim Hyerim.

Dengan mengamit keras-keras tangan Luhan dan menggeretnya ke pintu rumahnya, Hyerim menyahut seraya menekan passcode rumah miliknya. “Kau mau membodohiku, huh? Aku sudah mengenalmu selama tujuh belas tahun. Tu—juh—be—las! Jika aku tidak menggeretmu begini. Kau akan ngibrit lari saat keluar rumah.” ucap Hyerim tegas membuat Luhan memasang tampang memelas.

Iya, sih, ucapan Hyerim itu benar. Luhan yang berat hati nerima titahan Hyerim buat menemani Si Gadis dandan, udah punya plan lari sekencang-kencangnya saat keluar rumah. Suara ‘klik’ mewakili pintu rumah Kim Hyerim terbuka pun terdengar, keduanya pun langsung masuk serta melepas alas kaki.

Setelah mengunci rapat pintu rumah dan membawa kuncinya untuk dibawa bareng ke kamar mandi dengannya yang mau mandi, barulah Hyerim melepas amitan kerasnya pada tangan Luhan. Spontan Luhan mengibas-ngibaskan tangannya yang barus lepas dari Hyerim dan memberikan tiupan-tiupan—sakit lho ya, omong-omong, ingat kekuatan Hyerim itu dahsyat.

“Aku mau mandi. Kau tunggu saja di sini. Terserah ingin memakan cemilan apapun. Asal jangan makan coklat larva yang ada di kulkas. Jika iya, kubunuh kau!” ancam Hyerim dengan menyarangkan lirikan ganas bin seramnya. Luhan bergidik ngeri melihatnya.

Dengan tatapan mengancam tajam dengan agak menunduk, Hyerim mengarahkan telunjuk kanan kepada Luhan. “Awas juga kalau kau kabur. Kupotong kakimu nanti.”

Ancaman dengan intonasi bukan main-main itu membuat Luhan ngeri. Ditendang Kim Hyerim aja nyerinya luar biasa, apalagi jikalau tungkainya dipotong. Bisa-bisa Luhan nangis seember penuh. Punggung Hyerim udah lenyap di balik pintu kamar mandi. Luhan pun membanting bokong ke sofa. Dirinya menyomot kue kering yang ada di toples meja nan berposisi di depan sofa. Lalu meraih remote televisi, menyalakan, lekas terlarut pada acara yang tersaji dengan mengunyah kue kering.

“Ahahahaha.” tawa Luhan menggema sampai memukul-mukul lengan sofa melihat acara talk show pagi.

Tanpa sengaja, irisnya malahan menangkap ponsel Hyerim yang nganggur di meja yang berisikan toples yang dia bobol. Tangan Luhan rasanya gatal. Setelah menghabiskan kue kering yang dia tampung di lengan, Luhan mengambil ancang tuk mengambil ponsel Hyerim seraya melirik kamar mandi nan setia meloloskan bunyi shower—pertanda aman bahwa Hyerim masih mandi dan dirinya bisa mengobrak-abrik ponsel gadis satu itu.

“Ahh,” desah Luhan lega dengan menempel ke punggung sofa ketika berhasil mengambil ponsel Hyerim.

Sekali lagi, Luhan melirik kamar mandi. Sip, aman. Luhan langsung menggerakan jempol untuk memainkan smartphone tersebut. Langsung ia disambut untuk memasukan kode sandi. Alis Luhan berjungkit dengan dahi berlipat, menerka sandi yang akan dipasang Hyerim.

“Enam belas, dua puluh, kosong, empat?” dengan asalnya bergumam seraya menelengkan kepala.

Luhan betul-betul mengetik angka tersebut—yang ngomong-ngomong penggabungan tanggal lahir Hyerim dan dirinya, sekaligus juga sandi rumahnya. Mulut Luhan membulat, begitupula matanya.

“Woah. Nenek lampir satu ini. Mengolokku yang memakai kata sandi penggabungan ulang tahunku dengannya, tapi sandi ponselnya saja penggabungan tanggal lahir kita berdua juga. Ckckck, memangnya kita berkencan, apa?” takjub Luhan dalam kelongoannya plus juga berdecak sembari geleng-geleng.

Mulailah Luhan berselancar ke sana-sini. Hal pertama yang dia buka itu adalah Line. Luhan dipampangi lagi oleh kotak memasukan sandi. Spontan dirinya berdecak kesal karena Hyerim nyatanya super ketat masalah barang elektronik. Luhan memasukan kata sandi; enam belas, dua puluh—tanggal lahir Hyerim dan dirinya. Tapinya, Luhan meleset, kata sandi salah menyebabkan dirinya memiringkan kepala sambil memeras otak.

“Hmm… apa, enam belas, kosong empat?” yang tak lain tanggal lahir Hyerim. Namun lagi-lagi Luhan salah password membuatnya mendesis sebal. “Kalau gitu apa? Masa iya dua puluh, kosong empat, tanggal lahirku?” walaupun tak yakin dan asal menggumam saja, Luhan benar-benar mengetik begitu pada kolom sandi.

Woah. Ajaib. Demi Dewa. Luhan sampai melongo karena sandi akun Line tersebut benar! Gila saja Kim Hyerim, dirinya memakai ulang tahun Luhan sebagai sandi aplikasi di seluruh ponselnya.

“Kenapa dia sama denganku? Aku juga memakai tanggal ulang tahunnya untuk sandi ponsel dan semua aplikasi ponselku agar tidak lupa.”

Luhan membuka kartu sendiri akan sandi ponsel dan segala jenisnya yang menggunakan ulang tahun Hyerim. Hokinya, Hyerim enggak ada di sebelahnya buat mengolok. Intinya sih, keduanya sama-sama aja, sama-sama memakai tanggal lahir satu sama lain, mana sama-sama lahir bulan April. Aduhnya, mereka jatuhnya kayak pacaran kalau gini.

Sambil menyiul santai dan berwajah tenang, Luhan menscrollscroll kotak-kotak pesan Hyerim. Tahu sih, chatchat yang ada di situ privasi semua. Tapinya Luhan cuman nyari satu nama lho, ya. Ta-da! Ketemu juga display name Kang Haneul. Menggebu jadi ditingkat atas, Luhan segera membuka Line dari kontak Haneul.

Kang Haneul :

❝ Manis❞  

[23.28]

Kang Haneul :

❝ Besok malam pukul tujuh bisa menyisihkan waktu untukku?❞  

[23.28]

Kang Haneul :

❝ Aku mau mengajakmu ke pesta di restoran temanku. Aku sudah book dan aku ingin menyampaikan sesuatu padamu besok :)❞  

[23.28]

Kang Haneul :

❝ Maybe a propose? Hahah. Intinya dandan yang cantik walau you always so gorgeous❞  

[23.29]

Kang Haneul :

❝ Nice dream sunshine❞  

[23.29]

Luhan tersedak ludah sendiri sampai terbatuk-batuk membaca pesan dari Haneul itu. Kemudian wajahnya merengut jijik menatap bait-bait kata dari pria Kang itu, lantas berdecak. “Ckckckck, itukah alasan Si Nenek Lampir ingin dilihati dandan olehku. Propose? Serius saja Kang Haneul ingin melamar. Hah! Aku tak percaya!”

Desah Luhan tak percaya. Melihat Hyerim masih sibuk mandi. Luhan pun membuka aplikasi lain yaitu instagram. Tanpa sengaja dirinya melihat update foto dari akun Seohyun.

seojuhyun_s_BToW46QlltT

Liked by taeyeon_ss, yura_936, 187 others

seojuhyun_s I’m waiting for tonight propose and our sweet revenge, my beloved sky❣

View 9 comments

taeyeon_ss Wah, yang mau dilamar nih!

seojuhyun_s Jangan lupa datang, taetae! Akan ada tontonan gratis yang menarik juga selain lamaran ^^ @taeyeon_ss

taeyeon_ss Aduh, kau sungguh mau balas dendam ya? Oke, lah. Hahahah. Aku datang kok, by the way @seojuhyun_s

yura_936 Aku datang malam ini, kok! Tenang!

seojuhyun_s Kutunggu. Jangan lupa rekam semuanya, ya! :p biar kukenang malam ini selamanya. Manis dan pahit untukku dan untuk si jalang ^^ @yura_936

chorongpark_1 Sky? Sepertinya tahu. Pelit sekali tidak mau kasih tahu siapa calonmu!

seojuhyun_s Kalau tahu, tutup mulut sampai nanti malam, ya! Aku saling follow dengan orang itu, soalnya, ewww 😦 @chorongpark_1

_bombomyoon Eh? Kalian masih nyambung? Kukira sky-mu berpaling ke lain hati hahahah.

seojuhyun_s Ke siapa? ‘Orang itu’? ^^ Mana mungkin, setelah aku dipukuli oleh orang gila semacam itu, Bomi-ya ¬_¬ ngomong-ngomong, datang ya malam iniㅋㅋㅋ @_bombomyoon

Entah Luhan memang benar tolol atau gimana. Dirinya tidak bisa menangkap kata-kata Seohyun dengan klonannya di instagram. Dirinya memiringkan kepala dengan wajah mengerut bingung. Dendam? Lamaran? Orang itu? Si Jalang? Dipukuli orang gila? Sky? Emang Seohyun, mantan gebetannya ini taken, ya? Luhan aja baru tahu.

Sky? Siapa itu Sky?” bingung Luhan dalam gumamannya.

Bukan masih naksir Seohyun, entah kenapa Luhan rasa ada yang ganjal, membuat hatinya enggak enak. Dimasa-masa begini, bunyi kenop pintu kamar mandi terdengar. Buru-buru Luhan mengunci ponsel Hyerim setelah mengeluarkannya dari instagram, lekas menaruhnya di atas meja. Luhan langsung berakting memakan kue kering sambil nonton TV saat Hyerim dengan bathrobenya berjalan ke arah kamar dengan mengeringkan rambut menggunakan handuk serta melirik sekilas ke arahnya.

Singkatnya, Hyerim sudah mengganti jubah mandinya jadi dress biru langit dengan corak putih. Sedang Luhan santai saja mengemil keripik dari toples meja Hyerim. Si Gadis memutar tubuh dengan senyum, lalu bersuara.

“Luhan, bagaimana ini?”

Menyebabkan Luhan mengalihkan atensi ke arahnya dengan mulut mengunyah keripik. “Eoh, keunyang, (biasa aja)” komentarnya kemudian memasukan keripik yang ada di telapak tangannya ke mulut.

Waktu berikutnya, Hyerim mengenakan pakaian yang beda. Kayak tadi, dia pun menyerong diri untuk berputar dan mengutar tanya pada sahabatnya yang malahan asyik dengan keripik dan televisi.

Ya, kalau yang ini gimana?”

Kembali Luhan menatapnya dan berkomentar hal yang sama. “Eoh, keunyang, (biasa aja)”

Lagi dan lagi, Hyerim sudah ganti-ganti pakaian dan bertanya, “Luhan, gimana?” dan jawaban jaka satu itu cuman, “Eoh, keunyang, (biasa aja)” terus dan terus aja begitu. Merasa stock pakaiannya udah setengah Hyerim coba dan ditanyai, dia pun jadi jengah setengah mati. Matanya menatap Luhan sebal lalu teriakannya menggelegar.

“HEIII! KAU INI APA-APAAN? DARI TADI JAWABANMU ‘BIASA AJA’ TERUS-TERUSAN! KAU KE SINI UNTUK MEMBOBOL KERIPIKKU, HAH? ATAU BALAS DENDAM KARENA DIGEREGET UNTUK MENILAI DANDANANKU?” murkanya Hyerim kelihatan jelas di mukanya, tangannya terpangku depan dada dengan napas yang terhela berat—pokoknya jengkel bukan main.

Tentunya Luhan enggak terima diteriaki, dia pun berdiri dengan berkacak pinggang. Dagunya ikut terangkat dengan wajah yang sama jengkelnya kayak Hyerim.

“Heh, aku menjawab jujur, tahu. Semuanya biasa aja karena kau itu cantik mau pakai apapun!” imbuh Luhan dengan intonasi tingginya.

Sekon berikut, mulutnya bungkam saat sadar sudah mengatakan apa. Turut Luhan menundukan kepala. Sedangkan Hyerim melongo mendengar ungkapan blak-blakan kelewat jujur dari pria China satu ini. Tolol, Luhan, tolol. Hanya frasa begitu yang terngiang diotak Luhan sekarang.

Tahu-tahu, Si Dara mendesah tak habis pikir. “Kau mau mati, ya?” delik Hyerim dengan tangan terlipat.

Omong-omong, Si Gadis Kim mencoba menampik rasa hangat di hati ditambah pipinya rasanya panas kalau pamornya tidak tinggi selayak aksinya sekarang. Luhan pun angkat wajah, meski malu mati-matian dan menatap Hyerim takut-takut. Kepala Hyerim angguk-angguk paham dengan wajah begitu.

“Baiklah. Berarti aku cantik pakai apapun. Aku akan mencoba baju yang kusuka saja.” putus Hyerim kemudian merajut langkah kembali ke kamarnya dan mulai asyik tenggelam dalam pakaiannya dan merancang plan mematut diri nanti malam.

Sedangkan Luhan. Pria satu ini menyisir rambutnya dengan jari-jari tangan kemudian menggelengkan kepala. Disarangkan sebuah cubitan di pipi kirinya cukup keras.

“Huh, Luhan. Kau ini kenapa, sih? Sadar, Hyerim itu nenek lampir menjengkelkan yang pernah kau temui. Aihh.” gerutu Luhan, bermonolog ria dan menampar pipinya agak keras lalu mengusap-usapnya karena nyeri dengan wajah kesakitan. Setelahnya banting punggung lagi ke sofa, mencoba merefresh otaknya yang penat.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Waktu berjalan seperti dipersingkat. Seketika malam udah tiba begitu saja seperti sekon ini. Luhan yang lagi-lagi kepaksa jadi penilai penampilan, cuman memasang tampang malas dan mengekori Hyerim yang sudah siap dengan tampilan terbaiknya. Seperti biasa, Si Gadis membenarkan lagi tataan rambutnya sambil tersenyum manis. Lalu mengambil liptint stroberi andalannya dari tas tangannya—omong-omong tas yang Hyerim pakai sekarang ini pemberian Luhan tempo itu. Setelahnya acara memoles ranumnya dilakukan Hyerim. Saat merasa semua totally perfect, Hyerim memutar atensi ke Luhan dan memberi tepukan dengan kurva menyemat senyum manis.

“Terima kasih sudah menemaniku dandan. Ayo keluar,” ajak perempuan bernamakan Kim Hyerim ini seraya meraih kenop pintunya dan menapaki luar rumahnya dengan kaki jenjang beralas heels putihnya.

Masih saja Luhan bertampang jengah diikuti kerucutan masam di kurva bibirnya, dia pun menggeret diri keluar lantas menutup pintu rumah Hyerim. Dimasa keduanya mengayunkan tungkai di tangga, Hyerim melirik Luhan dan mensajakan tanya.

“Eh, menurutku penampilanku ini bagaimana?”

Spontan Luhan membelokan kepala ke arah sahabatnya selama tujuh belas tahun ini, tungkainya refleks berhenti diikuti pula Hyerim nan sama-sama mempause langkah. Diamati lekuk paras perempuan bermargakan Kim ini, pun Luhan menelengkan kepala seraya memasang mimik susah melontar frasa yang mau ia lafal.

“Emmm… kau… emmm… agak… bersinar, ya… begitu,” dengan lagak tolol khasnya, sajak kata Luhan ragu-ragu dengan muka tiba-tiba merah. Tangannya jadi terangkat menggaruk kepala, bingung.

Well, jujur aja ya, Luhan terpana setengah mati pada Hyerim. Bahkan pompaan jantungnya meningkat gila-gilaan sebab pahatan Hyerim sungguh… bagaimana ya mendeskripsikannya? Sedang Hyerim, kerut keningnya terlukis bertanya sebab oleh komentar tak jelas dari pria Lu ini.

“Maksudmu… bersinar?” ulang Hyerim, lambat-lambat tak paham. Ragu, Luhan mengangguk. Hyerim malah kian tak paham. “Bersinar gimana?” tanya Hyerim minta deskripsi jelas tak ambigu. Apalagi wajah tolol kebingungan Luhan membuat hasrat menampar pria ini jadi timbul.

Luhan menggaruk-garuk kepala dengan linglungnya. Diamati lagi paras Hyerim. Sialan, make up apa sih yang Hyerim pakai? Kok gadis ini seperti bidadari dikacamata kornea Luhan? Ugh, Luhan rasa otaknya error.

“Ya, kau ini bersinar. Ya begitu, bersinar sekali—“

Tiba-tiba saja suara lain menyahut, “—Maksudmu cantik?” menyebabkan kepala Luhan dan Hyerim terstir ke bibir suara.

Figur Kang Haneul ada di situ dengan suits putihnya dengan tangan membawa kotak, senyumnya tersemat manis sampai Hyerim terbuai melihatnya. Lelaki Kang ini melambai pada Hyerim.

“Hyerim, kau sungguh cantik malam ini,” pujian yang dilontar Haneul membuat Hyerim menunduk dengan sunggingan malu-malu di ranum. Luhan melihatnya dari ujung dwimanik dengan datarnya.

Perlahan, Hyerim melangkah ke tempat Haneul. Langsung jua melupakan eksitensi Luhan yang lagi-lagi berperan jadi obat nyamuk dan mengamati dengan malas. Sah sudah Hyerim di depan Haneul, sempat-sempatnya menyelipkan segala helai rambut di belakang telinga dengan wajah kasmaran. Jikalau cuman dirinya dan Hyerim saja di sini sekarang, Luhan sudah menampar gadis tersebut.

“Terima kasih, Haneul-ssi,” respon Hyerim lalu menautkan jari-jari tangan serta menunduk dengan kulum senyum malu-malunya.

Enggak tahan dibanding emosi, Luhan mengiring diri masuk ke rumahnya dan sempat-sempat membanting pintunya. Tentu aksinya tidak diidahkan Kim Hyerim ataupun Kang Haneul. Gimana mau diidahkan, diketahui aja enggak karena keduanya punya dunia sendiri sekarang.

“O, ya,” pekik Haneul teringat sesuatu lalu memposisikan diri jongkok di hadapan Hyerim, membuat Sang Gadis melebarkan obsidian tak mengerti dan menatapinya.

Haneul sendiri sibuk membuka kotak yang dia bawa lalu mengeluarkan isinya. Melebar lagilah cengkeng mata Hyerim tatkala sebuah sepatu heels—yang kelihatannya mahal dari penampilannya, dikeluarkan dari kotak. Iris Hyerim teralih ke Haneul, pria tersebut lagi mendongak menatapnya dengan senyum lebar.

“Ini untukmu,” ujar pemuda Kang ini.

Refleks Si Gadis Marga Kim menunjuk dirinya sendiri dengan kelongoan. Segera pula Haneul menjawab dengan mengangguk lalu sibuk menunduk melepas heels di kaki Hyerim dan digantikan oleh heels hadiahnya. Sambil menguntas senyum puas, Kang Haneul mengamati kaki Hyerim yang sudah dialasi heels pemberiannya.

“Kakimu cantik. Kau harus pakai yang cantik juga,”

Seraya berdiri, Haneul bersajak begitu dan menusuk irisnya ke paras Hyerim. Gadis Kim ini malah terpaku, bingung harus bagaimana dan menyahut apa. Tahu-tahu, tangan Haneul terulur bahkan mengamit tangan Hyerim. Tersentak, Hyerim menatap gantian pangutan tangan dan wajah Haneul yang menggerakan kepala mengajak pergi.

Kapsida. (Ayo pergi)” ajak Sang Jaka yang udah lebih dahulu mengurai langkah. Hyerim pun mengekori secara otomatis.

Tanpa keduanya ketahui saja, Luhan diam-diam memperhatikan di balik tirai jendela. Matanya setajam elang memperhatikan dua punggung tersebut yang kemudian hilang di balik mobil nan mulai melaju di aspal. Dengusan Luhan tercuat, dengan jengkel pula menutup tirai secara kasar.

“Sepatu? Oh, oke. Aku bisa membelikannya sepatu kali-kali. Tas saja aku bisa membelikannya.” gumam Luhan dengan tangan terlipat depan dada dengan wajah memberengut seraya angguk-angguk. Rasanya ada api cemburu dalam hatinya, walau jatuhnya terkesan childish.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

“Hyerim, kau duduk saja di sini. Aku ingin mengumumkan sesuatu tentang kisah cintaku. Stand by aja di sini, oke?” imbau Haneul sambil mendorong pelan tubuh Hyerim duduk di satu meja.

Gadis Kim ini nurut saja sembari menatapinya. Senyum hangat Haneul terlukis dengan tangan berada di bahu Hyerim, ia menatap gadis ayu ini penuh yakin. “Aku mau melamarmu,” lafal katanya nyaris membuat Hyerim tersedak liur sendiri, tetapi jadi berakhir meloloskan deheman singkat dengan wajah kaget.

Mwo—ra—go? (Apa katamu)” konfrimasi Hyerim, takut-takut telinganya salah.

Haneul hanya memberi tepukan di kedua bahunya serta menegakan tubuh. Cowok satu ini mengulum senyum misteriusnya. “Tunggu saja.” katanya setengah berbisik, mana pakai wink segala membuat Hyerim jadi gugup, ‘kan.

Punggung Haneul menjauh. Sesuai imbauannya, Hyerim menurut untuk duduk. Masa-masa kebelakang, mereka berdua sudah makan malam sambil bercengkrama dengan kenalan Haneul yang lain. Saat ditanyai siapa sosok Hyerim, Haneul menjawab bahwa Hyerim temannya—padahal Hyerim udah takut aja kalau-kalau Haneul mengaku pacarnya, untung otak Kang satu itu sedang waras. Hyerim menyisir pandang ke sekitar, melihat para kenalan Haneul yang pemuda itu undang. Entah ya, Hyerim rasa konyol kalau Haneul main melamarnya dan menyiapkan hal ginian segala bahkan mengundang para kenalannya. Tidak sengaja manik Hyerim mendapati sosok yang dikenalinya, matanya langsung memicing.

“Eh… bukannya itu Yura?” bingung perempuan bernama Kim Hyerim ini dengan wajah setengah yakin, setengah ragu. “Yura juga diundang ke sini?” kian nambah aja bingungnya, apalagi matanya mendapati Taeyeon, Chorong, juga Bomi yang sedang ngobrol dengan asyiknya.

“Jika mereka di sini. Seohyun juga ada? Tapi kok batang hidungnya malah enggak ada?” finalnya, Hyerim menggeleng saja. Tak mau memikirkannya dan membanting punggung ke sandaran kursi dan mulai menanti maksud Haneul untuk mengumumkan perihal cintanya—atau mungkin benar-benar melamarnya secara konyol.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Bosan, kesepian, atau mungkin bisa dibilang juga menyedihkan di malam Minggu karena jomblo. Luhan akhirnya keluar rumah juga. Niatnya mau ke bistro, tapi pengeluaran sedang kering, mengingat sekarang akhir bulan. Mau ke kedai ramen, yang ada keingat Hyerim yang sangat suka ramen dan malahan Luhan jadi mau makan bersama gadis itu. Maka dari itu, Luhan hanya menyambar jaketnya untuk menghalau dingin angin malam, menderap langkah mencari cemilan murah meriah sembari memasukan tangan ke saku celana trainingnya.

Eoh, ada sundae di sana,” katanya ketika melihat kedai sundae yang sepi. Buru-buru Luhan melangkah ke sana.

Langsung Luhan disambut oleh penjual sundae, “Annyeonghaseyo, ingin—Eh, Luhan?” kata-kata Si Penjual ini tergantikan oleh pekikan, mana menyebut-nyebut nama Luhan segala.

Segera Luhan menatap Si Penjual Sundae yang menatapnya melongo dan menunjuknya. Luhan merasa familiar dengan muka lelaki sundae ini, berusaha otaknya dia gali guna mengingat-ingat. “Emmm… kau—“

“—Iya, ini aku, Byun Baekhyun! Teman sekelasmu dulu saat SMA!” potong Si Lelaki Sundae dengan senyum ceria. Kata tanya ‘kau siapa?’ yang mungkin menyakitkan karena tak teringat oleh Luhan, untungnya terpotong.

Luhan balas tersenyum walau enggak ada unsur ceria sama sekali dan mulai ingat Si Lelaki Ember di kelasnya dulu yang tak lain Byun Baekhyun ini, yang mengejutkannya jadi penjual sundae sekarang.

“Oh, Baek. Lama tidak berjumpa, bro. Tak menyangka kau jadi penjual sundae,” mulai Luhan melontar kekehan guraunya dengan wajah bercanda.

Baekhyun cuman menanggapinya dengan cengiran kemudian mulai memotong daging-daging babi yang merupakan bahan sundaenya. “Yo. Lama tak jumpa, ya? Gimana kabarmu? Omong-omong aku sudah nikah, lho. Dengan Ji Hera, ingat tidak? Gadis tercantik di kelas kita dulu,” start dongeng Baekhyun, wataknya masih melekat, yakni; bermulut besar dan cerewet.

Hanya mengangguk saja Luhan menimpalinya dan mengamati acara Baekhyun memotong sundae. Kerut heran Luhan nampak saat Baekhyun membuatkan sundae dengan dua porsi. “Kenapa banyak-banyak?” tak tahan, Luhan bertanya juga dengan menatap Baekhyun.

Kembali Baekhyun nyengir kuda dengan tangan setia sibuk pada sundae buatannya meski netranya menatap Luhan—satu bentuk keprofesionalannya, mungkin, selain menghibahi orang lain.

“Siapa tahu kau mau makan bareng Hyerim. Atau sekalian membelikannya sundae,” jelas Si Pria Byun. Wajah, pun senyumannya menggoda.

Luhan tersedak liurnya sendiri, dirinya batuk-batuk dan menepuk-nepuk dada. Baekhyun tak peka dan cuman menatapinya bingung. Setelah netral batuknya, Luhan memberi lirikan pada Baekhyun.

“Untuk apa aku makan dengannya? Atau membelikannya?” ketus Luhan membuat Baekhyun menelengkan kepala.

“Kalian belum juga berkencan?” tanya polos Baekhyun. Hampir lagi Luhan kesedak. Lalu dengan polosnya, Baekhyun menatap Luhan lalu menjentikan jari dengan mulut o-nya. “Oh, kalian sudah menikah, ya?” pekiknya sok tahu.

“Uhuk, uhuk!” lagi, Luhan terbatuk keras dengan memukul-mukul dadanya. Dirinya menatap ganas Baekhyun yang kebingungan. “Sudah, sudah. Jangan bahas Hyerim. Dua porsi sundae untukku dan dirimu saja, eoh? Aku traktir.”

Cengiran mengembang lagi pada Baekhyun. Sumpah, Luhan ingin mencabik-cabik cengiran tersebut. Lalu Baekhyun melihatkan tampang sumringahnya dan mulai fokus lagi ke sundaenya.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Menanti yang dilakukan Hyerim membuahkan hasil juga saat Haneul naik ke panggung dengan menebar senyum. Para hadirin sudah menaruh fokus ke lelaki satu itu tatkala meraih mic dan melakukan testing—kode yang sudah jelas ingin menyampaikan sesuatu.

“Untuk semuanya, terima kasih sudah hadir malam ini,” buka pemuda Kang itu. Serentak, hadirin jadi hening, menanti momen lamaran yang telah Haneul rancang. Tersenyum sejenak, frasanya dia sambung lagi. “Malam ini, aku ingin mengungkapkan sesuatu yang spesial untuk orang yang spesial.”

Orang-orang mulai riuh, beberapa juga ada yang bersorak antusias. Sedangkan Kim Hyerim, gadis satu itu malahan gugup dengan meremas gaunnya dengan tangan yang ada di atas pahanya. Dirinya saja tidak tahu kenapa gugup setengah mati. Maka dara satu ini hanya menunduk seraya memejam kelereng beririsnya.

“Sebuah lamaran,” lafal dari ranum Haneul menarik atensi Hyerim menatapnya lurus-luru serta gugup, gigitan di bawah bibirnya tertorehkan. Pria bernama Haneul itu menebar senyum dengan kepala terstir sana-sini, seakan mencari eksitensi seseorang. “Aku akan melamar seorang gadis yang sudah mencuri hatiku. Bahkan dari tingkat satu SMA,”

Sorakan heboh dengan siulan menggema di sekitar Hyerim. Tapi itu selayak angin lalu, hanya masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri. Remasan di gaun atas pahanya makin kuat, jantungnya maraton gila-gilaan. Serius, Kang Haneul akan melamarnya? Mereka bahkan belum berkencan, hanya berciuman apakah artinya Hyerim mengajaknya kencan?

Kembali kepalanya menunduk dengan manik terpejam kuat-kuat, mulut Hyerim mulai merapal bisikan, “Kumohon, ini terlalu cepat.”

 

Beralih ke tempat sundaenya Baekhyun. Luhan sedang memakan sundae ditemani pemuda Byun itu. Biasanya, Luhan memang suka sekali makan dengan argumen ria bersama Hyerim. Tapi, walau suka kesal dengan gadis itu yang menyebabkan mood makannya turun. Sepertinya lebih parah makan bersama Baekhyun. Mengoceh, mengoceh, mengoceh—itu yang dilakukan Byun Baekhyun. Luhan? Hanya jadi pendengar. Well, kalau disuruh tuli atau mendengar Baekhyun, maka Luhan memilih opsi tuli saja.

“Oh ya, Luhan. Masih ingat Kang Haneul tidak?” sembari menyendok sundae dan mengunyah, Baekhyun berceloteh lagi.

Ujung mata Luhan meliriknya datar dengan menyuapkan sundae secara perlahan ke mulut. Ingat Kang Haneul? Ya, ingatlah! Hyerim, ‘kan sedang didekati pria satu itu dan katanya mau dilamar. Tanpa minat menatap Baekhyun, Luhan menyerong fokus ke sundaenya serta menyendoknya.

Eoh, tentu saja. Mana mungkin aku lupa?” terselipi nada sinis didalamnya dengan mulut mengunyah sundae dengan gerak mulut enggak santai.

“Hmmm… dia itu,” melanjutkan, Baekhyun menyendok sundae dulu dan memakannya lahap, “ingin melamar seorang gadis malam ini. Uh, teganya dia tidak mengundangku. Mentang-mentang anak chaebol[1]  dan aku cuman penjual sundae biasa, dia tidak mengundangku, ckckck. Aku tahu berita ini dari Jonghyun, Lee Jonghyun, teman sekelas perempuan yang mau dia lamar.”

Niatnya tidak peduli, tapi Luhan rasa adanya keganjalan. Baru mau menyendok makanannya kembali, Luhan mengerut kening bingung dan menyerong kepala ke pemuda penjual sundae ini dengan tanda tanya besar di mukanya.

“Lee Jonghyun?” beo Luhan, heran tingkat maksium dengan intonasi agak tinggi. Tanpa ragu, Baekhyun mengangguk dengan mata tertuju pada sundaenya dan menelan sisanya yang di mulut. “Tapi, ‘kan, Jonghyun tidak sekelas dengan kita,” imbuh Luhan, makin tak paham.

Bila yang dimaksud Hyerim, harusnya bukan ada di kelas Jonghyun dong, cewek yang ingin dipersunting Kang Haneul. Sekarang Baekhyun balas menatap Luhan, mendapati pria China ini linglung, Baekhyun lantas sama-sama bingung juga.

“Lho? Memangnya kau tahu siapa perempuan yang Haneul suka?” mata Baekhyun melebar, antusias.

Setengah ragu, setengah yakin, anggukan Luhan teraksikan dengan melafal, “Kim Hyerim,” dengan polosnya.

Semulanya mata Baekhyun melebar. Namun, sekon ini terganti jadi menyipit sebab akan gaungan kekehannya sembari memukuli meja yang jadi tempatnya makan menggunakan tangan kirinya. Kian bingung saja Luhan dibuatnya.

Ya, hahaha,” setelah tawanya mereda, Baekhyun menyahuti kata Luhan setengah tertawa.

Disarangkan sebuah pukulan di lengan kanan Luhan oleh pria Byun yang tengah tertawa haha-hihi ini. “Aduh,” refleks Luhan mengaduh dengan muka meringis dan memegang sasaran pukul Baekhyun. Lalu menatap Si Byun ini tak terima.

“Hei! Kim Hyerim itu punyamu. Ada lagi perempuan lain yang dia suka sejak tingkat satu. Hmmm… kalau tidak salah ingat sih, perempuan itu juga berurusan denganmu,” kedik bahu Baekhyun, malas juga memikirkannya dan memilih sibuk dengan sundaenya yang sudah setengah.

Bila Byun Baekhyun dengan kalemnya bisa tidak peduli dan mengedikan bahu tak acuh. Maka beda perkara dengan Luhan. Dia peduli! Karena Hyerim sedang didekati lelaki brengsek satu itu.

“Kalau begitu, siapa gerangan perempuan itu?” dengan menelengkan kepala, Luhan bergumam pelan tetapi sepelan-pelannya, sampai juga ke telinga Baekhyun.

Byun satu ini melekat fokus ke profil samping Luhan. Sekali lagi dengan mulut penuh, dia beraksara, “Itu lho. Seingatku dia primadona kelas 12-3. Kau pernah menembaknya saat selesai bertanding sepak bola.”

Sontak mata Luhan melebar, ingatannya tergali kuat ke memori yang diaksarakan Baekhyun itu.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

“Dengan segenap jiwa, hati, dan raga. Kupersembahkan cincin brilian ini untuknya,” pidato Haneul di panggung masih terlaksana. Sekarang, dia menunjukan kotak cincin nan terbuka serta melihatkan cincin brilian cantik di dalamnya.

Semua orang yang hadir terpukau, ramai bisik-bisik bahwa yang menerima cincin tersebut pasti sangat beruntung. Di tempatnya duduk, gadis bernama komplit Kim Hyerim itu makin saja gugup. Dari tadi, dia memejam mata, menarik napas, dan mengeluarkannya.

“Dan sekarang…” aksara Haneul mengatung. Hadirin kian antusias. Hyerim memejamkan mata, menahan napas, memegang erat kain gaunnya yang di paha. “… maukah kau menikah denganku…” lagi, kalimatnya dipause segala, tegang jadi terselimuti dalam hening.

 

Sky, sky, bila diartikan dalam bahasa Korea…” pindah tempat ke Luhan, pria itu mengangguri sundaenya yang masih setengah dan malah dicomoti oleh Baekhyun sekarang. Dirinya sedang menggumami kata ‘sky’ karena ingat update instagramnya Seohyun.

Masih mencomoti sundaenya Luhan dan mengunyah, Baekhyun menyahut dengan fokus pada sundae milik Luhan, “Heh. Kau ini bodoh, ya? Sky itu bahasa Inggris yang artinya—“

“—Haneul! (langit)” pekik Luhan dengan manik melebar, pun tangannya menjentik.

Kepala Baekhyun mengangguk-angguk, masih rakus saja mengambili sundae milik Luhan dan memakannya penuh ke mulutnya. “Nah itu. Haneul (langit), artinya langit.”

Tunggu sebentar, dalam bahasa Korea, sky itu Haneul. Dan update instagram Seohyun itu berisi ‘my sky’ yang artinya ‘sky-ku’ atau bisa dilafal jadi; ‘Haneul-ku’. Lalu Seohyun adalah primadona kelas 12-3, yang dulu Luhan tembak sehabis pertandingannya. Kemudian, Baekhyun bilang, Haneul akan melamar gadis primadona 12-3 yang dulu ditembak Luhan sehabis bertanding sepak bola. Lalu Seohyun mengatakan ‘propose and revenge’ yang berarti ‘lamaran dan dendam’ dicaption instagramnya. Ditambah lagi, komentar-komentar di instagram Seohyun yang berisi; ‘Akan ada tontonan gratis yang menarik juga selain lamaran’ ‘ Aduh, kau sungguh mau balas dendam ya?’ ‘Jangan lupa rekam semuanya, ya! :p biar kukenang malam ini selamanya. Manis dan pahit untukku dan untuk si jalang ^^ ’ 

Cengkeng mata Luhan sudah lebar, saking lebarnya seakan mau copot dari persarangannya. Kembali dirinya mengebrak meja, bahkan lebih keras dibanding sebelumnya, pun giginya menyatu dengan amarahnya. Baekhyun tersentak tatkala Luhan mengebrak meja, dan menatapinya takut, mengira Luhan marah karena dirinya mengambili sundae punyanya.

Aish… Kang Haneul, Seo Joohyun! Dasar lelaki brengsek dan serigala! Mereka mau mempermalukan Hyerim! Sial.” mata Luhan berkobar marah, dengan gigi mulai menggertak.

Menyaksikannya, Baekhyun mengerjap-ngerjap lalu menjentikan jari. “Matta (benar). Seo Joohyun! Dia yang Kang Haneul lamar malam ini. Lamarannya saja di restoran milik Seohyun. Restoran Briliant Blue di daerah Seocho!”

Kepala Luhan banting stir penuh amarah ke Baekhyun. Mata jaka Lu ini melotot horror, setelahnya mengayunkan tungkai lebar-lebar karena marah. Kepalan tangan di kedua tangannya sudah tercipta dengan napas tersenggal. Melihat makin jauh punggung Luhan, Baekhyun cuman melongo kemudian melambai singkat.

“Hei, Luhan! Terima kasih sudah mentraktriku dan sisa sundaemu buatku, ya!” seru Baekhyun ceria. Lalu mulai makan sundae lagi, namun setelahnya teringat sesuatu dan sontak membeku dengan mata melebar. “Tunggu! Luhan, ‘kan, belum bayar, aishh!” umpatnya kesal, detik berikut memakan sundae setengah hati.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

“… maukah kau menikah denganku…” mata Hyerim tertutup rapat, dengan tangan mengatup di atas pahanya, jantungnya bertalu. “… Seo Joohyun.” Haneul berkesinambungan mengucapkan nama yang lekas memberi efek serangan mini di dada Hyerim.

Hyerim mendongak, dengan dungu mengerjap. Tepuk tangan sudah terjadi di sana-sini disertai sosok Seohyun dengan eloknya berjalan ke atas panggung, menerima uluran tangan Haneul dengan saling melempar senyum. Kosong, sakit, atau mungkin bisa dikata juga merasa dikhianati. Hyerim hanya termenung dengan menatapi adegan tersebut kosong.

“Cincin ini kuberikan hanya untukmu.”

Mata Hyerim baru mengedip saat Haneul mengucap begitu dan menyematkan cincin dalam kotaknya ke jari manis Seohyun. Keduanya saling lempar senyum dengan gemuruh tepuk tangan dari semua orang—terkecuali Hyerim yang setia terpaku. Dirinya tidak tahu harus mendeskripsikan perasaannya bagaimana. Hyerim memang menyukai Haneul, sebatas sebagai idola. Tapi akhir-akhir ini, pria tersebut mendatanginya, mengajaknya pergi, dan menciumnya juga. Apa ada sisihan rasa yang Hyerim taruh? Hatinya remuk! Diberikan sebuah harapan tetap saja sakit, mau yang memberi harapan itu orang yang disukai atau tidak.

“Aku sudah menyukai Seohyun sejak tingkat satu SMA,” dengan mengedar pandang, Haneul berucap lagi. Ada bilah sakit lagi sebab dibohongi, Hyerim tersenyum miris bahwa Haneul berbohong sudah suka padanya sejak tingkat satu. “Dan aku sangat bahagia bisa melamarnya sekarang.”

Sorak sorai makin riuh dengan tepuk tangan turut andil. Ada juga yang merekam momen bahagia ini. Bahagia, kecuali Hyerim yang merasa ditipu. “Dasar pria brengsek dan serigala.” gumam Hyerim penuh amarah dengan kepalan tangan tercipta.

Ya, Kang Haneul hanyalah seorang brengsek. Sedangkan Seo Joohyun adalah serigalanya. Pasangan ini sungguh bejat, tak beda halnya dengan Kim Jisoo dan Eun Yeonseong—mantan pacar Hyerim dan selingkuhannya, bila masih ingat. Hyerim berniat beranjak serta meninggalkan pesta lamaran bejat ini, akan tetapi derap langkah Haneul dan Seohyun sudah mendekatinya dengan menyungging ranum meremehkan. Ingin hasrat menampar atau menendang, tapi Hyerim urungkan, itu sama saja dengan menjatuhkan harga diri. Makanya, Kim Hyerim cuman berdiri tenang dengan wajah stay cool.

“Wah, Hyerim-ah, kau pasti terkejut,” adalah sapaan Seohyun dengan senyum sok ramahnya. Dasar serigala berwajah malaikat! Busuk! Untung Luhan dulu tak jadi pacaran dengannya.

Sapaan Seohyun direspon senyum tipis Hyerim, masih dengan pamor mempertahankan stay coolnya. “Aku terkejut kalian merencanakan ini. Dendam, huh?” kelit Hyerim sinis dengan satu alis terangkat.

Haneul dan Seohyun, keduanya mendengus menahan tawa. “Ya, Kim Hyerim. Apa kau pikir selama ini aku menyukaimu?” imbuh Haneul, mukanya kelihatan bejat dengan senyum remehnya. Hyerim bersumpah sangat ingin menamparnya. “Aku tidak pernah menyukaimu. Aku hanya menyukai Seohyun dari dulu. Dan aku sangat benci saat Luhan, salah satu sainganku, malahan menyukai Seohyun. Oke, aku menyerah karena Seohyun juga suka padanya. Tapi apa? Saat Seohyun dipukuli, dia malah memilihmu! Ahhh, dia harus diberi pelajaran. Dia harus tahu bagaimana rasanya orang yang dia sukai memilih lelaki lain lalu main dicampakan.”

Rahang Hyerim mengatup, kepalan tangannya mulai gemetar. Sabar. Konsep itu dia pupuk dalam hati. Seohyun, Si Serigala yang ada di sebelah lelaki brengseknya, mengulum senyum sok manis.

“Ngomong-ngomong, bisa kau berikan sepatu yang kau pakai? Itu buatku.” mata dara Seo ini menunjuk sepatu yang mengalasi kaki Hyerim, pun Hyerim menatapnya juga lalu menarik napas serta membuangnya perlahan, berusaha menahan diri.  

Dimasa Hyerim masih memilih bergeming, Kang Haneul bercakap lidah kembali. “Lepaskan sepatu itu, cepat. Luhan, Si Brengsek itu, bersedia membelikanmu sepatu, kok. Aku yakin.”

Desahan keras napas Hyerim terlaksana. Sungguh dirinya tak tahan Luhan dihina begitu. Yang semestinya dicap brengsek ialah Kang Haneul. Gadis Kim ini mengangkat kepala, terlihat kepercayaan diri di mukanya. Lalu Hyerim mendengus keras.

“Bila kau menyebut Luhan brengsek. Maka kau sebut dirimu apa? Serigala juga seperti gadismu ini? Wow! Kalian memang bukan manusia,” sungging bibir Hyerim terlihat meremehkan. Kemudian, cewek ini melepas sepatunya dengan dihentakan.

Melihat lakon Hyerim, Seohyun membuang napas keras, tak habis pikir. Netranya beralih ke Hyerim, sangat tajam. “Ya! Kau hanya menyeker tanpa sepatu. Tidakkah aku terlalu baik membalaskan dendamnya? Tempo itu, wajahku bonyok. Tahu tidak, sih, bahwa aku harus membiarkan biru-biru dan sisa darah di ujung bibir melekat bekasnya selama satu minggu?” hardik Seohyun dengan semburat muka kesalnya.

Hyerim balas menatapnya sama tajam. “Kau kira dendammu sukses?” imbuh Hyerim kemudian terkekeh sumbang. “Aku tidak sepertimu saat itu. Sakit hati karena orang yang kau sukai memilih orang lain. Lagipula aku sudah diselingkuhi dua kali, aku tak peduli dengan permainan semacam ini. Lalu, apa aku sama sepertimu yang malu saat wajahmu bonyok saat itu? Oh, sayangnya tidak. Berjalan tanpa alas kaki yang bukan milikku itu lebih tenang. Ini tidak seberapa.”

Kata-kata Hyerim yang menantang itu membuat bibir Seohyun bergetar menahan amarah, kobar api terpampang dikorneanya. Tahu-tahu, Hyerim mengambil gelas di atas meja di sebelahnya dan memecahkannya ke lantai.

“Ahhh!”

Semua hadirin yang sejak tadi hening menyaksikan, memekik kaget bahkan ada yang sampai membekap mulut ketika Hyerim menginjak pecahan gelas yang dia pecahkan dan menyebabkan darah mulai nampak. Seohyun dan Haneul terkejut melihatnya dengan mata membola dan mulut terbuka. Sedang Hyerim, dirinya tampak santai tersenyum.

“Lihat. Meski begini, aku tidak sepertimu yang menyimpan dendam. Tidak akan. Karena rasa sakitmu hari itu, aku tidak merasakannya. Kakiku terluka bukan karena melepaskan sepatu yang kau rampas. Tapi karena aku melukainya.” kelit Hyerim tajam lalu membalik badan serta pergi, tak mengidahkan cecer darah dari telapak kakinya. Orang yang menyaksikannya hanya melongo terkejut.

Tapi tak ada yang tahu, Hyerim diam-diam memejam mata dengan mengepal tangan kanan. Menahan likuid di pelupuknya, menetralkan dadanya yang sakit tak kepalang. Bagaimanapun, dia hampir jatuh pada Kang Haneul dan merasa dikhianati. Tetapi setidaknya, responnya pada Seohyun tadi sudah lebih dari cukup untuk mempertahankan harga dirinya.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Ya! Kim Hyerim!”

Setelah berlari dari halte bus ke restoran milik Seohyun lalu ke tempat Hyerim sekarang berada. Dengan ngos-ngosan, Luhan masih sempat berteriak dan menghampiri Hyerim yang berdiri di depannya sekarang. Gadis itu menghubunginya beberapa saat lalu untuk menjemput. Ya untungnya Luhan sudah sampai depan restoran Seohyun, jadi cepat ke depan bank, tempat Hyerim berdiri sekarang.

Hyerim menatapi Luhan yang sedang menetralkan napas, dirinya merasa heran. “Cepat sekali dirimu datang.”

Napas Luhan masih tak teratur. Cowok ini melihat mata Hyerim yang memerah, sudah dipastikan cewek ini menangis sebelum dirinya hadir. Tak tahan, Luhan main menarik Hyerim ke dekapannya, membuat gadis Kim ini terkejut dengan mata membelalak.

“Kau… kenapa—“

“—Sudah kubilang, Kang Haneul itu brengsek. Kenapa masih mau berurusan dengannya? Dia suka dengan Seohyun. Kau dibodohi selama ini! Huh, dia harusnya jadi aktor saja!”

Bibir Hyerim bungkam akan kata Luhan nan memotong ucapannya. Lelaki Lu ini memasang tampang amarahnya, kemarahannya malah jadi terlampiaskan dengan memeluk erat Hyerim.

“Heh, pelukanmu terlalu kuat,” dalam dekapan Luhan, Hyerim berkata—lebih tepatnya protes sih, karena wajahnya menggambarkan begitu.

Tapinya Luhan enggak peduli dan tetap mengeratkan pelukan. “Ini lampiasan amarahku pada Haneul,” kelitnya dengan bibir mengkerut kesal.

“Kenapa juga kau harus marah?” gumam Hyerim bingung. “Ngomong-ngomong, jantungmu berisik sekali, sih. Dag-dig-dug.” Hyerim menggumam lagi, dirinya tentu jelas mendengar degup jantung Luhan karena posisinya yang tepat di depan dada Luhan.

Sontak mata Luhan membola, merasa tertangkap basah dan melepaskan pelukannya pada Hyerim. Bingung, tatapan itulah yang Hyerim berikan. Sedangkan Luhan sedang berusaha mengalihkan tatapan ke arah lain dengan gugupnya. Hyerim menelengkan kepalanya, setelahnya menggeleng.

“Kau aneh sekali hari ini,” ujar Hyerim. Malas memikirkan Luhan yang masih tak mau balas menatapnya, Hyerim mengayunkan tungkai, tapinya dia lupa akan kakinya yang nyeker dan terluka. “Akh.” jadilah rintihannya lolos dengan muka kesakitan.

Radar Luhan nyala lagi. Dengan khawatir, dirinya mengamati Hyerim dan mengetahui fakta bahwa cewek satu ini terluka bahkan berdarah.

Ya!” tak tahan, Luhan berseru kemudian meraih lengan Hyerim dengan memperhatikan luka Si Gadis. Hyerim pun cuman menatapnya yang lagi menunduk khawatir. “Aish, Kang Haneul sialan itu. Sepatu yang dia berikan pun, diminta kembalikan. Ck, aku ingin menghajarnya sekarang.”

Napas Hyerim terbuang berat, dirinya berfrasa berusaha tetap kalem. “Sudah lah. Lagian toh ini lukanya, aku yang menciptakannya sendiri. Untuk harga diriku.”

Kepala Luhan belok lagi menatap Hyerim yang tengah buang muka darinya, lelaki ini menilik mukanya lekat dengan ekspresi dalam. “Harga diri pantatmu! Untuk apa melukai kakimu karena bajingan gila itu dan gadis serigalanya?” hardik Luhan emosi.

Hyerim memejam mata pening dengan dahi berkerut. Rasanya air mata ingin menetes mengingat apa yang dilakukan Kang Haneul dan Seo Joohyun—Si Lelaki Brengsek dan gadis serigalanya, kepadanya. Kaca-kaca udah nampak di obsidiannya, tapi Hyerim mencoba menghalau tangis dengan menarik dan membuang napas panjang, meski akibatnya jadi memberikan sesak di dada. Di sisi Luhan, dia menggeleng tak habis pikir kemudian melepaskan sepatu sendalnya dengan mendorongnya ke arah Hyerim.

“Ini, pakai sepatuku! Cepat!” titah Luhan dengan nada tinggi, lalu menyambung, “Kalau ingin menangis, ya menangis. Jangan ditahan! Kau benar-benar idiot, Kim Hyerim! Kau bisa memilih lelaki atau tidak sih? Kenapa berurusan dengan yang brengsek terus?! Aku lelah melihatnya!”

Napas Hyerim terengah seraya diafragmanya naik turun. Walau enggan, likuid membanjiri pipi juga. Ranum bergetarnya mulai bersajak dengan oktaf tinggi, “Untuk apa kau memberikan sepatumu, hah?!” ditendang kembali sepatu Luhan ke arah pria tersebut.

Hidung gadis ini mulai tersumbat, brengsek, air mata kian menyusuri pipi. “Kenapa juga kau menyuruhku menangis? Aku tidak suka menangis di tempat umum! Tapi kau terus-terusan menyuruhnya! Dan terus, kenapa juga kau mesti bermasalah dengan pria yang kupilih? Ini tentang percintaanku!” jerit Hyerim lantas memejamkan mata, isakannya lolos.

Luhan jadi terpaku lalu membuang napas lelah. Sedang Hyerim mulai menunduk dalam, tidak mau melihatkan wajah menangisnya pada Luhan. Detik berikut, lelaki marga Lu ini melepas jaketnya lalu meletakannya di atas kepala Hyerim. Sontak lolongan isak dari Si Gadis, terpause.

“Menangis saja, aku tidak melihatnya, kok,” ujar pemuda China tersebut dan membuang muka ke samping. Sesuai ujarannya, dia tak berniat melihat Hyerim yang tengah menangis.

Isakannya memang terhenti, namun likuidnya masih turun. Hyerim menarik hidungnya yang tersumbat dan merah. Jaket Luhan yang menutupi kepalanya, dibawa turun ke bahunya dan finalnya tersampir di situ. Sorot Hyerim menatap Luhan dengan mata masih meloloskan air mata, serta Si Pria nan setia melihat arah lain. Tiba-tiba saja, Hyerim merangsek memeluk Luhan, membuat Luhan tersentak dan mulai kembali pompaan terjadi di rongga dada.

“Aku menangis lagi karenamu! Kau harus memelukku seperti saat itu! Karena suruhanmu, aku menangis!” serak Hyerim dengan menguatkan pelukannya.

Matanya mengerjap dulu, baru kepala Luhan menoleh dengan tatapan jatuh ke Hyerim. “Ya! Jantungku berdegup lagi. Jangan memelukku!” gugup Luhan dengan risih di wajah, berusaha melepas diri tapinya ada rasa tak rela. Aneh, bukan? Ada sensasi candu sendiri disentuh Hyerim.

Tidak mengacuhkan, Hyerim malah menyembunyikan wajah di dada Luhan, tidak peduli juga kalau tetesan dari matanya membasahi baju Si Pria. Hanya saja, Hyerim nyaman begini.

“Biarkan saja! Memangnya jantungmu saja yang berdetak? Punyaku juga! Tapi kau selalu main menyentuhku. Menyebalkan.”

Opsi lain tidak ada, apalagi Hyerim menggerutu begitu. Akhirnya Luhan pun balas memeluk Hyerim dan memberi tepuk di punggung sahabatnya ini. “Aish, kau ini.” Luhan menggumam.

Nyatanya, memang jantung keduanya membentuk harmoni bersama.

║█║♫║█║ —  Friendzone : When The Love Blossom  ║█║ ♪ ║█║

EPILOG

Pria berseragam SMA itu berpeluh keringat serta lagi melaju lari sambil sesekali melirik ke belakang. Tahu-tahu, dirinya menghentikan lari saat melihat sosok familiar yang melewatinya. Tanpa pikir-pikir lagi, pria bernama Luhan ini main menarik Hyerim—sosok familiar yang lewat.

“Hei, apa-apaan kau ini?” hardik Hyerim dengan wajah sebal saat Luhan main memojokannya lagi ke tembok.

Luhan melepas cengkramannya dan memberi spasi lebar diantara keduanya. Hyerim masih menyarangkan tatapan jengkel dan mengusap-usap lengan yang dicengkram Luhan tadi. Tatapan lurus-lurus diberikan Luhan ke mata Hyerim, menyebabkan jungkitan alis Hyerim terlaksana.

“Ada apa?” ketus Sang Gadis.

Napas Luhan terbuang, lalu merespon. “Ada perempuan yang menembakku! Aku harus bagaimana?” ekspresinya panik membuat Hyerim mengerut bingung. “Dia Shin Arial. Anak blasteran itu, lho. Aku cocok tidak dengannya? Dia main menembakku. Sementara aku harus minta pendapatmu, tapi dia malah memaksaku untuk menjawabnya sekarang juga. Makanya aku lari mencarimu.”

Hyerim melongo lalu membuang napas tak habis pikir dan menggeleng. “Ckckck, kau ini. Kukira ada apa! Sialan, masalah perempuan lagi,”

Sebal, Hyerim menyarangkan tendangan ke kaki Luhan dan membuat pemuda itu merintih dengan wajah sakit serta refleks memegangi kakinya. “Aduh.”

Memangku tangannya di dada, Hyerim mengangkat dagu angkuh. “Walau dia blasteran, tapi masih cantik diriku. Cari gadis yang lebih cantik dariku, bisa? Jangan terima dia.” kemudian Hyerim pergi meninggalkan Luhan yang menatapi punggungnya.

“Ck, dia cantik apanya?” gerutu Luhan dengan tangan mengelus kakinya lalu merintih lagi karena kedahsyatan tendangan Hyerim. “Baiklah, aku tolak saja Arial. Ck, aku harus nurut dengan nenek lampir satu itukan?” anehnya, Luhan nurut dengan saran Hyerim.

—To Be Continued—

blog-divider-wreath-elements-06-2013-smaller

[1]chaebol = sebutan untuk anak dari kalangan kaya/kolongmerat.

WANJAY, APA-APAAN INIIIIIIIIIIII WKWKWKWK. Awalnya ide Haneul cuman maen-maen sama Hyerim itu udah muncul sebelum episode Moobin cuman maen-maen ke Aera. TAEQ saia merasa ditikung wkwkwkwkwk. Dan….

AMPUN HANEULKUUUUU, DIA WAMIL HARI INI, SO, JANGAN BENCI DIA KARENA EPEP MURAHAN INI. JANGAN BENCI SEOHYUN JUGAK, DIA TERLALU CANTIK UNTUK DIBENCI. KALOK SEBATAS KESEL-KESELAN MAH GAK APA WKWKWKWK.

DAN UNTUK HYERIM, PLISS MBAK, ENTE DAPET COWOK ENGGAK BENER MULUK. OPEN UR EYES, ADA COWOK SENDERABLE YANG SEDIA SELALU BERSAMAMU DALAM SUKA MAUPUN DUKA, SIAPA LAGI KALAU BUKAN LUHAN. AYOLAHHHHHHHH HYER KAMU INI MASA GAK SADAR SIH? WKWKWK.

Btw, maaf baru update sekarang gak tiap minggu seperti rencana karena chapter 10nya belum kelar. Aku post FF ini kalau 1 chapternya udah kelar. Lagi, kayaknya aku bakal lama update, jangan berubah jadi rentenir yang tiap hari nagih yhaaa ~ aku juga makhluk hidup seperti kalian, banyak yang mau aku kerjain. Kesannya sok sibuk? Ya tapi aku gak selalu nulis FF tiap hari ditambah aku persiapan pulang ke Indonesia setelah 2 tahun tinggal di Spanyol. Riweuhnya pasti tau gimana, ‘kan? Maka minggu lalu aku cepet-cepet tutup buku sama This Love. Beauty and The Beast aja belum sempet aku update.

Ayo, jangan jadi siders ya. Kalau mau jadi siders, ya gak apa, itu pilihan kalian~ aku gak maksa kalau semisal tetiba FFnya di PW wkwkwkwk.

.HyeKim
Advertisements

Author:

❝The writer is the engineer of the human soul.❞ — Joseph Stalin ¦¦ Literally a korean trash, Luhan's tinkerbell, and Shownu's baby — ©2001

4 thoughts on “FF — Friendzone : When The Love Blossom [Keping 6 : The Jerk Guy With His Wolf]

  1. Aigooooo….
    Biasanya orang itu gak peka sama apa yang dialamin orang lain,lah ini mereka berdua malah gak peka sama diri sendiri…..
    Adeuh kapan sih kalian bakal nyadar euyyyy…
    Next,fighting…
    And then kapan nih beauty and the beast bakal dilanjutin,kangen tuh ff….

    Like

  2. Dear Elsanim,
    Heoll…
    Aku kan ceritanya cinta mati juga sama Kang Haneul, tapi itu, di ff ini kok agak bikin kesel? ehehehehhe…

    Tapi LuHyer kok sama sama lelet ngerti perasaan masing masing?
    Jadi gemes kan…
    Kita bisa dengan mudah bilang kita tau kapan orang lain jatuh cinta, tapi saat kita yang jatuh cinta, gak bakal mudah buat kita ngakuin kalo kita jatuh cinta.

    aihh…
    sebel deh, emang kapel astral banget tingkahnya…]

    yaudahlah, aku tunggu keping 7nya.
    Himneyo~

    Sincerely,
    Shannon

    Like

  3. JSDJAKJAJSHDAJLSLK GEMAY IH.
    BOROBORO NYETEL SOUNDTRACK ‘LET’S NOT FALLIN’ LOVE’ PUNYANYA BANG JIDI DKK.
    Liriknya pas bgt astagaa

    Ini juga kenapa HyerLu makin gemesin. I can’t breath huhuuhu:((
    Nikah ajalah kleyand berdua wkwk

    Els, Stuck on you again nih akunya huhu. Gataw kenapa kalo aku baca ff punya kamu tuh ngena bgt serasa baca imagine wkkwkwkw /lebayde/

    …….Wait for the next chapter……

    Like

  4. Unch unch. Kapan mereka pacarannn. Geregetan sm mereka deh, ga peka banget dua”nya. Padahal orang laen bahkan udh ngira mereka pacaran/nikah. Next juseyooo

    Like

Write ur Love Letter . . . <3

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s