Posted in Chapter, Comedy, Family, Fanfiction, Marriage Life, PG-17, Romance

FF : Beauty and The Beast Chapter 15 [Maze of Love]

beautyandthebeast2

Beauty and The Beast Chapter 15

└ Maze of Love┘

©2017 HyeKim’s Fanfiction Story

Starring With :

ex-EXO`s Luhan as Luhan —  OC`s Hyerim as Kim Hyerim — Kyuhyun Super Junior as Cho Kyuhyun — Nana After School as Im Jinah

A story with Romance, Comedy, Marriage Life, Family rated by  PG-17 saved in Multi Chapter

`Beauty and The Beast adalah cerita dongeng yang dulu selalu menghiasi masa kecil seorang Kim Hyerim. Hyerim dulu sempat berkata ingin menjadi Belle, si cantik yang jatuh cinta pada beast. Si pangeran yang dikutuk jadi monster. Apa yang akan Hyerim lakukan bila hal tersebut terjadi padanya?`

Disclaimer :  This is a work of fiction. Any similarity of plot, character, location are just accidentally. This contain is not meaning for aggravate one of character/organization. All cast belong to God, their parents, and their agency. But the storyline is mine. Plagiarism, copy-paste without permission, and be a silent readers  are prohibited. Leave this story if you don’t like it.


Sekali lagi, dirinya sudah terjebak dalam labirin cinta bodoh yang memenjarakannya.


PREVIOUS :

| Teaser —  #10 | — #11  #12 —  #13 #14

HAPPY READING

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

“Luhan! Luhan! Lihat kelinci itu lucu, ya?” suara cempreng seorang gadis belia mengintrupsi seorang pria di sebelahnya.

Luhan—bocah delapan tahun itu—menatap kelinci yang ditunjuk Jinah—sahabatnya—dengan manik membulat dan mengikuti penggerakan si kelinci ke sana-ke mari.

“Iya. Dia lucu, sepertimu.” sahut Luhan membuat Jinah tertawa.

Gadis sebayanya itu memukul lengan Luhan dengan rona kemerahan di pipinya.

“Aku tahu aku lucu kok.” ujar Im Jinah, lantas bangkit dari posisi jongkoknya sambil menjulurkan lidah.

Ikut-ikutan Luhan berdiri dari posisi jongkoknya, tungkainya berayun menyusul Jinah.

Sambil menatap samping wajah gadis Im yang kelewat jelita itu, Luhan mengulas senyum dan berkata: “Selain lucu, Jinah juga cantik. Aku akan menikahimu nanti kalau sudah besar.”

Kata-kata tersebut membuat Jinah mempause langkah dengan wajah tercenggang. Di sebelahnya, Luhan ikut berhenti dengan mengernyit.

Pipi Jinah sudah sebelas-dua belas dengan apel saat berbalik menatap Luhan dengan kelabakan, sebelum kekehannya mengudara dengan gigi rapinya terlihat.

“Hahaha! Tapi aku maunya menikah dengan Kyuhyun oppa!” kata Si Gadis Belia itu sebelum berlari dan menghambur kepada ibunya yang sedang melaksanakan piknik keluarga bersama keluarga Luhan.

Seusai acara keluarga itu, Luhan yang duduk di kursi belakang sendiri, menutup jendela mobil setelah melambaikan tangan pada Jinah dan kedua orang tuanya. Luhan banting punggungnya ke kursi dengan bibir mengerucut.

“Ada apa gerangan dengan jagoan ayah?” bariton ayahnya yang sedang menyupir dan menatapnya dari kaca spion, menyita fokus Luhan ke sosok paruh baya tersebut dengan masih cemberut.

“Jinah bilang tidak mau menikah denganku kalau sudah dewasa nanti.” ujar Luhan kecil, tangannya melipat di atas dada dengan buang muka.

Ujarannya membuat ibunya yang sedang minum, tersedak sementara ayahnya malah tertawa.

“Kalau dia cinta sejatimu, dia pasti akan menikah denganmu bagaimanapun caranya kalian pasti berjodoh, seperti ibu dan ayah.” ayahnya berfrasa dengan senyum hangat dan menatapnya dari kaca spion depan.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Tatap penuh intimidasi dengan sarat tanya yang kentara, melayang dari iris Cho Kyuhyun pada sosok Im Jinah—gadis yang dengan eloknya meminum cangkir mocha latte-nya berkawani majalah, tepat berada di depannya.

Oppa,” vokal Jinah, tahu-tahu memecah dengan menyingkirkan majalah serta-merta menatap Kyuhyun dengan agak risih. Diteguk dulu mocha latte-nya sebelum berfrasa, “Jangan melihatiku seperti itu. Aku malah akan berpikir bahwa kau menyukaiku. Bila begitu, aku akan merasa menyesal sudah menghapuskan perasaanku padamu.” Jinah selipkan tawa penuh sarat guraunya.

Banding balik dengan kegurauan yang Jinah bina, Cho Kyuhyun—pemuda nan duduk di depan Si Gadis Im yang merupakan sobat kecilnya—mengernyit dengan tatap tak suka.

“Kau tidak berubah, Im Jinah,” akhirnya Kyuhyun berkelakar, lekat menatap figur Jinah yang sudah memfinishkan tawa serta menatapnya intens.

Kyuhyun mendengus. “Kau tidak berubah. Hatimu tidak menentu. Tidak cukupkah dirimu mempermainkan Luhan dahulu? Kau menyukaiku. Tapi saat Luhan mengatakan menyukaimu, kau menerimanya, memperalat pemuda polos dimabuk cinta itu untuk semakin dekat denganku. Sekarang, kau kembali disaat semua sudah berubah. Disaat Luhan sudah membencimu sementara dirimu sekarang malahan mencintainya?” ditekan mati-matian nada Kyuhyun yang nyaris mengeluarkan hardikan, tangannya pun turut mengepal.

Tampak Jinah menunduk, napasnya terhela. Ya, Cho Kyuhyun benar. Dia hanya berupa jalang tidak tahu diri. Menerima lelaki yang menyukainya hanya karena lelaki tersebut adalah sepupu dari lelaki yang dia sukai.

Leher Jinah menegak kembali, intens menatap Kyuhyun dengan terselip memelas.

“Aku ke mari bukan untuk membahas masa lalu kita, oppa.” ucapnya, dibenarkan lah posisi duduknya menjadi lebih nyaman.

Sekon bergulir dengan Kyuhyun yang mencetak paras bingung penuh tanya, Jinah malahan sibuk memutar-memutar bola matanya, dibelit keraguan untuk melontar kalimatnya lagi.

Tak tahan, lidah Kyuhyun pun bergerak. “Kau ingin menanyakan—“

“—Oppa, apa Luhan benar-benar sudah menikah?” serobot Jinah, binar maniknya berkilat-kilat menghunus Kyuhyun.

Sontak bibir Kyuhyun bungkam seribu bahasa, bahkan netranya tak sanggup mengerjap sama sekali.

Melihat keterpakuan Kyuhyun, mulailah spekulasi Jinah berputar-putar dalam benaknya. Obsidiannya seakan ingin menangis kini, pun mukanya dipenuhi harapan.

“Aku melihat foto pernikahan di meja kerja Luhan,” rasa sakit membongkar ingatan akan bingkai foto yang didapatinya di meja kerja Luhan, berusaha Jinah redam dengan mengulas senyum sinis. “apakah itu sungguhan? Luhan telah menikah? Kenapa gadis itu… sangat… cantik?” berusaha kembali, Jinah meredam rasa amarahnya nan meletup sebab akan siluet wajah Hyerim di bingkai foto pernikahan di meja kerja Luhan, melintasi benaknya.

Keterpakuannya dihentikan Cho Kyuhyun, hela napasnya sedang terjadi dengan menarik pasokan oksigen ke runggunya kembali beberapa menit kemudian.

Dengan senyum tipis, anggukan Kyuhyun teraksi. “Ya,” serta-merta menorehkan luka dalam pada Jinah yang ranumnya gemetar kini. “tapi pernikahan mereka tidak akan bertahan lama.” ucap Kyuhyun, mengedikan bahu lantaran tempo itu teringat memergoki Hyerim dan Luhan yang berdebat dan mengatakan pernikahan mereka palsu: sebatas kontrak.

Asap kesedihan di wajah dan pandangan Jinah, lekas terhapuskan bak tertiup angin topan tatkala ketertarikan membelengungi sebab ucapan Kyuhyun yang tampak cuek.

“Dan ngomong-ngomong,” Kyuhyun lurus-lurus menatap Jinah, mengulas senyum tipis. “Kim Hyerim, istri Luhan, memang cantik.”

Bertambah jua lah ketertarikan Jinah tatkala didapati wajah kasmaran Cho Kyuhyun saat membahas istri Luhan. Well, Jinah tidak bodoh, dia tahu bahwa Cho Kyuhyun tengah jatuh cinta pada istri sepupunya sendiri.

Jinah memasang senyum yang terlihat menyeramkan dengan binar mata penuh kemisteriusan seraya mengelus ujung dagunya.

“Hmmm… sementara?” alis Im satu ini terangkat sebelah. “dan kulihat, kau menyukai istrinya Luhan, bukankah begitu?”

Reaksi Cho Kyuhyun ialah mata membelalaknya yang direspon senyum mengolok Jinah. Jinah pun memangku tangan, pun dagunya terangkat.

“Tidak perlu menyangkal, aku juga orang yang pernah jatuh cinta kepada seseorang. Jatuh cinta padamu dahulu membuatku selalu memasang raut bodoh seperti tadi ketika membicarakanmu,” mendadak Kyuhyun diserang kekakuan, bibirnya terkunci rapat sedang Jinah kian menarik senyum sarkasnya. “meski aku tidak paham akan ucapanmu, oppa. Aku jadi tahu, Luhan kemungkinan tidak mencintai istrinya. Aku akan memenangkannya kembali. Sementara kau akan memenangkan hati istrinya,”

Lalu, Im Jinah mengangkat tubuh, kode akan hengkang saat ini juga dari restoran milik Kyuhyun apalagi tasnya sudah ia sambar dengan melempar senyum penuh arti.

“Terima kasih atas jamuannya di restoranmu, oppa. Aku pastikan Luhan akan bertekuk lagi padaku.” tutupnya, berbalik dan lantas merajut langkah dengan senyuman lebar.

Namun, sebelum Jinah benar-benar raib dari pandangannya, Cho Kyuhyun mengeluarkan momentumnya:

“Aku hanya akan menunggu, Jinah. Aku tidak akan mengacaukan pernikahan mereka. Cintaku tidak seambius punyamu yang malahan bisa menciptakan bencana.”

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Liburan singkat di Pantai Eurwangni nyatanya bukan ide yang buruk. Keluarga Kim—ditambah Si Pria Dingin bernamakan Luhan itu—telah menyelesaikan liburan mereka. Mobil yang dikemudikan Luhan tersebut berlabuh di pekarangan rumah susun tempat Kim sekeluarga bernaung. Canda-tawa menggelegar dari Luhan dan Taehyung yang main turun sambil merangkul akrab. Sedang Kim Hyerim tengah membantu Sang Ayah turun.

Dilayangkan tatapan sinis Hyerim pada kedua spies jantan yang malah sibuk bersiteru—entah bersiteru apa, Hyerim tidak mau tahu-menahu sebab yang dipersiterukan hanyalah hal temeh selayak biasanya.

Hey!” sembur Hyerim, geliginya berkeletak. “kalian jangan main pergi saja! Bantu bawakan barang!”

Hyerim papah Sang Ayah dengan melingkarkan tangan beliau di bahunya, selagi dara satu ini menghunus Luhan dan Taehyung agar bergegas mengambilkan barang di mobil. Keduanya menghadapa ke arah Hyerim yang tengah mencibir sambil memapah ayahnya yang mengulas senyum tipis.

“Siap, nenek lampir-ku sayang!” ucap Taehyung, sok-sokan hormat nan mana mengundang tawa Luhan meledak sembari memandang profil sampingnya bersama senyuman geli.

Lekas ucapan adiknya, disambut Hyerim oleh dengusan serta-merta maniknya nan berputar. “Cepat, atau kupukul kau,” kemudian Hyerim pun berpas-pasan dengan Luhan, bergerling maniknya ke arah Luhan dengan tajam. “Kau juga ikut kerja!”

Singkatnya, dikawani canda-gurau khas keduanya, Luhan berserta Taehyung selesai membereskan barang yang mereka bawa ke pantai hari ini. Tentu, Hyerim membantu setelah menyeduhkan teh manis kepada ayahnya.  

DUK!

“Ups, nuna maaf. Hahaha.” Taehyung tergelak setelah meminta maaf sebab tak sengaja—walau sebenarnya sengaja—membuat kepala kakaknya berciuman dengan tas barang yang ia tenteng.

Hyerim mengelus kepalanya, dwimaniknya mendelik dan lekas-lekas dia bawa tubuhnya berdiri mengejar Sang Adik yang main lari.

YA! KIM TAEHYUNG! AWAS KAU!” jerit Hyerim dan disambut tawa jahil Taehyung yang bisa-bisanya melongok ke belakang—tepat ke arah kakaknya—dengan lidah menjulur.

Di sisi lain, Luhan hanya mencetus geleng dengan decakannya menonton adegan kekanak-kanakan saudara Kim yang tidak selalu ada habisnya. Pria Lu ini baru meletakan barang-barang dari tas yang dia jinjing ke dapur, setelah akhirnya pandangnya bertumbu pada sosok ringkih Ayah Hyerim di sofa ruang tengah.

Benak Luhan bermuara diingatan saat di pantai tadi, sosok ayah istrinya mengingatkannya akan sosok mendiang ayahnya. Sifat hangatnya, kelakarnya, sorot maniknya.

“Luhan.” suara berat tersebut membuat Luhan tersentak dengan manik membulat tatkala Tuan Kim memergokinya dengan seulas senyum hangat. “Ke mari lah, duduk di sini. Pekerjaanmu sudah selesai, ‘kan?”

Lambai tangan tersebut seakan membius Luhan yang tersenyum canggung sebelum menggeret tungkai mendekat serta-merta membanting bokong di sebelah Tuan Kim yang menyesap tehnya khidmat.

Kecanggungan merayapi sementara di sisi dalam penjuru rumah, persiteruan Hyerim dan Taehyung masih berkesinambungan dan gelombang suara keberisikan atas persiteruan itu sampai ke gendang Luhan, pun Tuan Kim. Luhan yang diserang canggung hanya bungkam dengan menggaruk tengkuk.

“Aku sebenarnya terkejut saat tahu kau ingin menikahi putriku….” tukas Tuan Kim, cangkirnya yang sudah kosong dia taruh di tatakan. Atensi Luhan kini berpusat ke arahnya dengan saliva terteguk lebih dahulu. “Aku tidak tahu apa yang membuatmu tertarik pada putriku. Aku khawatir karena tahu sifatmu seperti apa selama kerja denganmu,” seloroh Ayah Hyerim, melempar senyum tipis ke arah Luhan yang merespon dengan senyum canggung. “Tapi kurasa kau tertarik karena sifat berani putri sulungku itu dan kau tidak buruk. Kau memiliki sifat hangat.”

Tuan Kim menatap Luhan dalam berserta senyuman hangatnya sebelum menepuk-nepuk bahu Si Jaka selayak ayahanda kepada putranya. Luhan terenyuh, kian meningkat rindunya pada mendiang ayahnya yang dahulu sangat dekat dengannya.

“Aku harap kau bisa mengabulkan permintaan ayah—”

“A—a—yah?” potong Luhan, terkejut dengan mata membulat.

Di sampingnya, Tuan Kim menatapnya dengan dahi berkerut. “Lho? Kenapa? Kau ini, ‘kan menantuku. Jadi kau bisa memanggilku ayah, bukan?”

Netra Luhan mengerjap-ngerjap mendengarnya. Sudah lama tidak ada sosok dibalik label ayah dikehidupannya, yang mana membuat dadanya sesak kini.

“Baiklah, ayah.” ucap Luhan, canggung sambil menelengkan kepala dan memberikan garukan di sana.

Tuan Kim kembali mengembang senyum. “Ayah ingin kau menjaga Hyerim dan juga Taehyung,” sorot matanya menerawang ke depan, dapat Luhan lihat kesenduan terpancar dari paras samping Ayah Taehyung. Dan ditiming sama terdengar kelakaran berisik dari kedua anaknya.

NUNAAA!!! SAKIT!!! JANGAN CEKIK AKUUU!!”

Yang mana membuat Tuan Kim tersenyum, meski berbanding balik dengan sendu yang wajahnya lihatkan.

“Penyakit ayah makin parah, Luhan,” penukasan beliau kentara sedih, pun putus asa, membuat Luhan terenyuh bahkan bisa merasakan kesedihannya. “Jadi, tolong jagalah Hyerim dan Taehyung.” seraya mengatakannya, Tuan Kim menatap Luhan, meraih tangan kanan pemuda itu dengan senyum putus asa dan kilatan obsidian berkaca-kaca yang sarat akan permohonan. “Ayah meminta tolong padamu.”

Dan Luhan mati-matian menahan air mata sebelum akhirnya mengangguk singkat dengan senyum yakin.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Saat mobilnya memasuki pekarangan luas rumahnya yang gelap gulita sebab belum ada siapapun yang menyalakan lampu. Luhan malahan termenung setelah mematikan mesin mobil, sementara di sebelahnya Kim Hyerim sudah terlelap. Pikiran pemuda Lu ini tengah berkicamuk, membuatnya mengembuskan napas dengan memejam erat netranya, pun keningnya berkedut.

“Penyakit ayah makin parah, Luhan. Jadi, tolong jagalah Hyerim dan Taehyung. Ayah meminta tolong padamu.”

Selagi frasa tersebut bergendang dalam kepalanya, Luhan memejamkan netra dan lagi-lagi mengembuskan napasnya berat. Diliriknya Hyerim yang tertidur pulas dengan wajah kelelahannya, niat Luhan ingin menjambaknya untuk membangunkan Si Gadis jadi lenyap lantaran teringat perkataan Sang Ayahanda dara Kim ini.

Maka, Luhan tarik dirinya setelah melepas safety belt ke arah Hyerim. Dia tilik paras tenang istrinya ini dari dekat, dan membuatnya bergeming atau Luhan salah? Karena adrenalinnya seperti memuncak tak karuan hanya mendengar napas teratur Kim Hyerim dalam tidurnya yang bahkan menyentuh wajahnya yang tepat berada di depan wajah gadis Kim ini sambil memiringkan kepala.

Tersadar, Luhan menggeleng-geleng dan berdecak. “Ck. Karena percakapan dengan ayahnya malahan membuatku terdoktrin perasaan-perasaan aneh pada kambing dungu yang satu ini.”

Setelah bersarkasme seperti itu, Luham lepas safety belt milik Hyerim sebelum akhirnya keluar dari mobil dan membuka pintu mobil di sebelah tempat duduk gadis yang dia sebut-sebut kambing dungu itu, dan lantas membawa Hyerim dalam gendongan gaya bridalnya.

Aroma tubuh Hyerim menusuk indera Luhan disaat tubuh gadis yang tertidur dalam gendongannya itu menempel sempurna dengan badannya. Aroma yang entah kenapa memabukan untuknya, aroma yang dihirup Luhan tiap kali mendaratkan ranum di bibir Sang Gadis.

“Ah, dia ini pakai parfume apa sih? Baunya khas sekali.” gumam Luhan, tatapannya sekilas melirik Hyerim dan dimasa sama pun dirinya sampai di depan kamarnya dengan Hyerim.

Pintu kamar Luhan buka, dengan agak tergopoh dirinya membawa Hyerim ke ranjang dan tumben-tumbennya bersikap lembut menaruhnya di atas sana. Wajah lelah perempuan Kim ini membuat Luhan sedikit tidak tega—ingat sedikit!—membiarkannya tidur di lantai atau sekedar membangunkannya untuk berganti pakaian.

Luhan tarik selimut untuk membalut tubuh Hyerim yang lekas bergerak dan menyamping ke arahnya, permpuan satu ini masih tertidur dan tampak mulutnya bergerak-gerak—mungkin dalam mimpinya dia sedang menyumpah-serapahi seseorang—dan hal tersebut membuat Luhan mendengus menahan tawa serta tersenyum tipis menatapi wajah Hyerim yang baru ia sadari nyatanya sangat cantik—atau mungkin efek lampu tidur yang baru Luhan nyalakan dan menimpa wajahnya serta membuat Hyerim terlihat begitu cantik?

Luhan menutup mata, menggeleng-geleng dengan gumaman. “Itu efek lampu. Itu efek lampu.” peringatnya.

Waktu berikut, Luhan sudah selesai bergosok gigi dan memakai piyamanya. Perlahan, dirinya menaiki ranjang yang diisi Hyerim yang posisinya sudah tidak menyamping ke arah tempatnya tidur dan jadi berbanding balik memunggunginya. Luhan berdecak saat mendapati rambut gadis itu berantakan dan menghalangi wajah jelitanya.

Tubuh Luhan condong ke arah Hyerim, pun lengannya terjulur serta jemarinya bergeliya ke helai surai Si Gadis yang berantakan menutupi pahat sempura parasnya yang jelita.

“Rambut ini menghalangi wajahmu, kambing dungu. Wajah yang tumben-tumbennya cantik karena tertimpa cahaya lampu tidur.” imbuh Luhan, tangannya sibuk membenarkan helai rambut Hyerim hingga muka jelitanya terlihat kembali dengan jelas.

Refleks Luhan menyungging senyum kala retinanya disapa paras jelita yang tengah terlelap itu. Melihat seorang perempuan tertidur di sebelahnya, pun dengan status pernikahan—walau tersirat janji di atas kertas yang dinamakan kontrak. Luhan jadi teringat ucapan ayahnya kala dirinya masih belia dahulu, oleh sebab itulah dirinya bergeming sekarang.

“Hahhh…” desah Luhan, tersenyum getir. “Ayah bilang bila cinta sejati, bagaimanapun akan bersatu seperti ayah dan ibu,” kemudian otaknya bernari diingatan Jinah yang bersitatap dengannya kembali. “Cinta sejati, ya? Aku tidak percaya sama sekali dengan itu, Yah. Lihat, bahkan aku menikah dengan seorang gadis karena kontrak dan bahkan… tidak saling mencintai.”

Usai bersajak demikian, Luhan tenggelamkan badannya dalam selimut, menyampingkan tubuh yang menyebabkan dirinya saling memunggungi dengan Hyerim. Netra Luhan terpejam, dirinya terbang ke dunia mimpi yang mana menyesakan dada kala dalam mimpinya dirinya masih belia, bermain bersama ayahnya dengan Jinah yang mengekori bersama senyuman cerahnya yang menyejukan hati.

Luhan sibuk bermuara dalam mimpinya, sampai tidak sadar Kim Hyerim yang masih tertidur membalikan tubuh dan memeluknya erat dari belakang. Perempuan berkeluarga Kim itu melalukannya tanpa sadar dari alam mimpinya.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Dentang alrm layaknya kicauan burung di pagi hari dan sukses membuat Luhan terbangun dari alam mimpinya. Pria tampan itu menguap, mengerjap-ngerjap sebelum akhirnya berniat bergerak kala merasakan tubuhnya terhalang sesuatu—lebih tepatnya ada yang memblock penggerakannya dari belakang.

“Argh!” erang Luhan, setengah mendesis sebal dan memutar kepala ke belakang untuk melihat apa yang memblock penggerakannya dan lekas membuat kurvanya membulat dengan wajah kaget.

YAAAAAA! KIM HYERIM!” jerit pemuda China itu sampai terlonjak jatuh ke atas marmer kamarnya dan membuat bunyi ‘duk’ menggema hingga Kim Hyerim terbangun dari tidurnya dengan kaget.

Netra dara Kim yang kini mendudukan diri di ranjang, tengah mengerjap-ngerjap dengan rasa linglung. Sedangkan Luhan sedang mengusap bokong karena terjatuh dengan bokong menyentuh lantai terlebih dahulu.

Tangan Hyerim menggosok-gosok matanya, dengan mata menyipit pula dirinya menatap Luhan yang ada di bawah dengan mengernyit.

“Kau kenapa berisik sekali pagi-pagi? Membangunkanku dengan lebih baik, bisa tidak? Ah… monster memang beda, ya?” lisan Hyerim berkata kesal dengan finish yang sarkastik, ujung kurvanya menyeringai sinis pada Luhan yang malahan buang muka bersama wajahnya yang kemerahan.

Well, kuping memerah Luhan kentara sekali membuktikan bahwa dirinya tadi terkejut karena mendapati Hyerim memeluknya dari arah belakang dalam tidurnya, namun Kim Hyerim yang tak tahu-menahu malahan menatap aneh pemuda brengsek yang berani-beraninya mengganggu tidur khusyuknya.

Masih buang muka, “Ti—ti—tidak! Tidak ada, hanya terkejut dan lupa bahwa kau kutidurkan di kasur tadi malam.” itulah yang diucapkan Luhan yang menit berikut buru-buru bangkit dan menuju kamar mandi dengan sedikit membanting pintunya.

Hyerim melongo, terbuka lebar jua mulutnya dengan tatapannya bersarang pada pintu kamar mandi dengan heran. Tercuatlah gelengan Hyerim, selimut dia singkirkan dan tungkainya mulai menyentuh lantai kamar sebelum mengambil ponselnya yang dipenuhi notifikasi sejak senja kemarin yang belum dirinya buka.

Yoo Ara :

Ingat kencan buta hari ini setelah kelas ^^

Hyerim berdecak dengan geleng-geleng, entah mengapa teman-temannya sepertinya semangat empat lima sekali perihal dirinya yang ikut serta kencan buta. Well, Hyerim sih pura-pura tolol kalau banyak yang suka dengan paras jelitanya secara diam-diam namun kalah telak saat tahu bahwa Hyerim memiliki adik protektif macam Kim Taehyung dan akhirnya menikah.

“Huh, okey, kencan buta.” gumam gadis manis tersebut dengan mengangguk-angguk kemudian melangkah ke arah lemari.

Terpampang lah beberapa pakaian yang menusuk iris Hyerim, membuat otaknya berkedut keras memikirkan pakaian mana yang pantas untuk hari ini. Kemudian sebuah dress beratasan merah jambu dengan bagian lengan yang agak lebar dipadukan rok putih selutut, menyita perhatiannya, pas dengan musim semi sambil ditambahkan coat coklat muda kekuning-kuningannya. Hyerim mengulas senyum, mengangguk, lantas mengambil pakaian tersebut.

Gemiricik air shower dari kamar mandi memberi isyarat bahwa Si Monster Sialan itu belum selesai mandi, maka Hyerim berniat memilah beberapa make upnya dengan mentester beberapa liptint dan yang lainnya, intinya dia juga ingin tampil bagus hari ini.

CKLEK.

Daun pintu kamar mandi terbuka, sosok Luhan dengan rambut basah dan jubah mandi tengah melenggang ke tengah kamar tidurnya dengan Hyerim serta tanpa sengaja mendapati pemandangan gadis itu tersenyum-senyum di depan meja rias selagi memilih-milih aksesoris. Tingkah laku istrinya yang tidak biasa membuat Luhan mengerutkan dahi dimasa menggerakan tangan dengan handuk kecil mengeringkan surainya yang basah.

Menyorotkan padang bertanya, Luhan mengimbuhkan, “Kau kelihatan antusias sekali hari ini. Ada apa? Tidak biasa kau memilih—” pandangan Luhan bergerling ke pakaian Hyerim yang diletakan di atas ranjang, kepalanya ditelengkan. “—pakaian yang bagus, lalu—” tatapan Luhan tertuju pada Hyerim lagi, kian heran. “—memilih make up yang bagus. Seperti ingin kencan saja.”

Komentaran Luhan hanya ditimpali Hyerim dengan gumaman serta kedikan. Dara satu ini meletakan beberapa aksesoris berupa: anting berbentuk bunga berwarna silver, kalung choker dengan hati berwarna putih, dan jam tangan keluaran massimo dutti yang dihadiahkan ibu Luhan pada pernikahannya dengan suami gadungannya itu. Berikutnya, Kim Hyerim main masuk ke kamar mandi tanpa mengatakan sepatah katapun untuk menyahuti rinci komentaran Luhan.

Oleh sebab itu, Luhan lah yang silih berganti menatapi daun pintu kamar mandi dengan heran.

“Dia tidak sungguh kencan, ‘kan? Kalau iya, lihat saja, Kim Hyerim. Akan kucekik dirimu!” geligi Luhan menggertak sembari mengatakan hal tersebut.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Tatkala waktu kelasnya berakhir, dengan super antusias—apalagi dandanan Hyerim membuat gadis ayu itu makin bersinar hari ini—Yoo Ara menarik Kim Hyerim keluar kelas, diekori Joohee, Yeoreum, dan Nara—yang aslinya tidak ikut blind date dan akan berpisah dengan keempatnya nanti—memasang muka tak segairah ketiga kawannya—well, wajah Hyerim malah seperti risih karena lengannya dicekal Ara.

Sunbae!” pekik—sapa—Joohee tatkala melihat Hyunwoo dan kawan-kawan.

Nara yang memasang wajah datar pun mulai mengangkat tangan dan melambai lesu. “Sudah ya, aku pergi dulu. Semoga kencannya lancar, dan kuharap tidak dikacaukan oleh seseorang.” singgung Nara, obsidiannya mendelik ke Hyerim.

Tentu Hyerim paham bahwa maksud Nara adalah Luhan, tapi Hyerim yakin bahwa pria sialan itu tidak akan tahu bila Kwon Nara tidak ember, jikalau tahu memang Luhan akan mengacaukan kencan butanya? Hyerim bisa menyemprotnya atas nama kontrak, bukan?

Singkatnya, Hyerim bersama karibnya telah berembuk dengan Hyunwoo dan kawan-kawan. Namun, ada yang kurang, Hyerim dan teman-temannya berjumlah empat orang, tetapi Hyunwoo dan teman-temannya berjumlah tiga orang.

Keganjalan itu membuat Yeoreum menelengkan kepala dengan menggaruk belakang kepala. “Sunbae, untuk kencan sepertinya kita kekurangan lelaki.” kata Yeoreum, bibir bawahnya dia gigit dengan menatap para seniornya ragu-ragu.

Daniel—salah satu karib Hyunwoo—menyungging senyum simpul sebelum akhirnya menatap Kim Hyerim yang dalam hati dia kagumi penampilannya yang lima kali lipat kecantikannya oleh make up yang digunakan salah satu primadona satu angkatan dibawahnya itu.

“Iya kita kekurangan personil. Dan ada alumni yang dulu sangat dekat denganku. Dan mati-matian kita semua menahan kesal karena dihasil kocokan kita, Hyerim lah yang terpilih,” seloroh Daniel yang merupakan penyebab Hyerim membulatkan matanya. Sementara itu dirinya lanjut bercakap dengan senyuman. “Kau akan berpasangan dengan alumni Chung-Ang dikencan buta ini, Hyerim-ah.”

Kerjap-mengerjap sedang terjadi di kelopak mata Hyerim. Si Kim satu ini pun mengangguk kikuk dengan senyum seirama. “Ah, baiklah.”

“Kalau begitu ayo kita berangkat!” tukas Junsu—karib Hyumwoo dan Daniel. Tungkainya bergeser ke arah Yeorum, terulas senyum manis dengan mengedipkan mata serta-merta dirinya merangkul gadis itu yang lekas merona. “Pasanganku hari ini Yeoreum. Hyunwoo dengan Ara, dan Daniel dengan Joohee. Selama jalan, maaf Hyerim, kau yang aslinya sudah menikah malah harus jalan sendiri diantara para pasangan untuk sementara.”

Dan cerocosan Junsu disambut gelakan tawa oleh yang lainnya termasuk Hyerim sendiri.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Hembusan angin kipas angin di ruang tengah kediaman keluarga Kim menjadi kawan acara belajar Taehyung yang dimentori Luhan. Sesuai janjinya, sisa libur musim seminya, Taehyung habiskan dengan belajar setelah liburan satu hari di pantai.

“Jadi kau sudah paham tentang rumus geometri dan aritmatika?” bariton Luhan mengudara ditengah suasana panas di musim semi ini, sampai-sampai keringat nampak di pelipisnya, pun Taehyung.

Pemuda Kim di sebelahnya mengangguk. “Sudah paham, hyung. Ah, kuyakin nilai ujianku akan bagus untuk mengikuti suneung.” lisan Taehyung berkata yakin.

Walaupun iparnya kelihatan super yakin, Luhan malah menoyor kepalanya membuat Taehyung kaget dan menatapnya dengan manik membola.

Luhan memicing. “Kau jangan percaya diri dulu! Coba ingat, kau paham tentang materi ini setelah kuulang berapa kali? Kau harus tetap giat, jangan puas karena sudah menang satu kali.”

Cengiran Taehyung menghiasi karena hampir saja Luhan meletup-letup beberapa waktu lalu sebab dirinya tidak paham-paham. Dengan siulan, Taehyung mengerjakan soal yang Luhan berikan.

Hyung…” tetap bertumpu pada soal dengan menunduk serta tangannya sibuk menulis, Taehyung memanggil Luhan dan sukses mengalihkan atensi Luhan padanya dengan satu alis terangkat. “aku takut. Aku rasa ayah makin hari makin parah tapi ayah selalu pura-pura tegar. Donor yang dibutuhkannya belum juga ditemukan.”

Aktifitas Luhan menggerak-gerakan pulpen yang dijepit di jari tengah dan jari telunjuknya, terhenti lantaran perkataan Taehyung yang kini mengulum senyum getir. Luhan menatap adik dari Kim Hyerim itu, miris dengan senyum tipis dan lantas benaknya terbang pada perkataan Tuan Kim yang mengamanatkan Luhan untuk menjaga kedua anaknya.

Tepukan disarangkan Luhan di bahu Taehyung, tak lupa jua senyuman menenangkannya diulas oleh Luhan agar pemuda SMA tingkat tiga itu tenang meskipun Luhan juga merasakan keresahan yang serupa.

“Tenang saja. Kau percaya Tuhan, bukan? Kau percaya juga keajaiban, bukan? Semua bisa—ah tidak, semua akan datang pada ayahmu.”

Hati Taehyung menghangat, walaupun resah masih membelitnya, cuatan angguknya dia lakukan dengan senyum tipis membuat Luhan mengacak-acak rambutnya.

Berniat memutuskan atmosfer sedih itu, Luhan menepuk-nepuk punggung Taehyung dengan bola maniknya bergerling ke soal-soal yang ada di atas meja.

“Sudah, lanjutkan soalmu. Nanti kita antarkan ayah ke rumah sakit untuk terapi.”

Setelahnya, Taehyung pun kembali tenang mengerjakan soalnya, sangat tenang bahkan tak bergendang dengan siulan. Sedangkan Luhan yang duduk di sebelahnya, tampak terpekur dengan ponsel di genggaman yang ia tatapi lekat bersama perasaan gundahnya.

‘Kutunggu kau, Luhan. Kuharap kau datang hari ini.’

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Cafeteria yang terletak di daerah Itaewon itu menjadi tempat pilihan kelompok kencan butanya Hyerim. Berhadap-hadapan dengan pasangan kencan buta masing-masing, kursi di depan Hyerim lah yang masih kosong karena Si Alumni yang jadi pasangannya tak kunjung datang.

Daniel melirik arlojinya, lehernya menjenjang ke arah pintu masuk. Jamuan minuman yang dipesan oleh ketujuhnya sudah nyaris habis, dan mereka berencana jalan-jalan di sekitar Itaewon namun terpaksa menunggu alumni yang menjadi pasangan Hyerim.

Sunbae,” dengan senyum canggung, Hyerim bervokal membuat Daniel beralih dari daun pintu masuk ke cafe ke arahnya. “Apakah alumni itu tidak jadi datang?” tanya Hyerim hati-hati.

“Dia pasti datang kok!” tukas Junsu menggantikan Daniel dengan yakin. “Aku juga kenal dirinya yang mengambil S2 di Chung-Ang tahun lalu, dirinya bukan tipe yang akan membatalkan janji.” Junsu menyeruput kopi hitamnya yang tinggal setengah liter.

Daniel menimpali dengan anggukan. “Sunbaenim bilang dirinya mengajar matematika dulu untuk kenalannya yang akan ikut suneung, jadi sedikit terlambat. Tapi aku sudah mengirim pesan padanya untuk datang kok.”

“Selamat datang, Tuan.”

Dan jauh di daun pintu, seorang pemuda tampan baru memasuki cafe dengan sapaan pelayan wanita yang menyambutnya. Daniel lekas melongok ke arah daun pintu, cengirannya mengembang, lengannya terangkat melambai-lambai.

“Sunbaenim, yeoggiseo! (Di sini)” pekik Daniel berusaha membuat senior yang merupakan alumni yang akan menjadi pasangan Hyerim, melihat ke arahnya.

Para gadis—kecuali Hyerim yang malah sibuk berkaca dengan kamera ponsel yang dia sembunyikan di balik meja cafe—nampak terpesona dengan dwimanik berbinar-binar pada alumni yang tengah mengukir langkah mendekat ke meja mereka.

Omo! Omo! Dia tampan sekali!” ujar Yeoreum, tangannya sibuk memukul-mukul lengan Joohee yang ada di sebelahnya.

“Pas sekali mendapatkan Hyerim sebagai pasangan.” kelakar Joohee dengan tatapan iri tersirat pada Hyerim yang dia lirik sekilas, walaupun, well, dia akui bahwa Hyerim dan alumni ini akan menjadi pasangan sempurna dengan poin penampilan keduanya: jelita dan tampan.

Alumni tersebut menebar senyum ke arah para gadis setelah mendapatkan pelukan hangat dari Hyunwoo, Junsu, dan Daniel yang terlalu erat memeluknya. Kemudian fokusnya terjatuh pada Hyerim yang masih menunduk dengan ponsel di bawah meja sebagai kaca.

Si Alumni yang sudah tahu bahwa pasangannya adalah Hyerim—gadis yang satu-satunya memiliki kursi kosong di depannya—membulatkan netra, menyipit, lalu melebar lagi, bahkan sampai mengusak-usak kelopak mata memastikan penglihatannya benar atau salah.

“Kim Hyerim, itukah dirimu?” silabel itu lolos dari pria yang baru datang tersebut dengan raut tak percaya.

Bukan hanya dirinya yang memasang wajah tak percaya, yang lain juga saling pandang dengan melongo sebab Daniel dan kawannya tidak pernah membocorkan nama pasangan Si Alumni di kecan buta ini.

Tersentak, Hyerim buru-buru mengangkat kepala dan netranya lekas membola dengan mulut membuka-menutup saking kejut merayapinya.

“Cho Kyuhun-ssi?” silabel nama itu lolos dengan refleks juga dari lisan Hyerim ditengah keterbelitannya dalam kekagetan.

Pun, lantas membuat yang lain kian melongo. Daniel pun menatap gantian Kyuhyun yang berdiri di depannya dan Hyerim yang duduk di pojok depan tepat di sebelah Ara seraya telunjuknya menunjuk bergilir Hyerim serta Kyuhyun.

“Kalian saling kenal?”

Oh, ya, bagaimana tidak saling kenal jika nyatanya mereka ini adalah sepasang ipar? Dan terpaksa kini menjadi pasangan kencan buta. Diam-diam Kyuhyun tersenyum samar dengan hati berbunga-bunga, dirinya menatap Daniel dengan mengulum senyum simpul.

“Tentu. Dia pernah kerja di restoranku dulu.” dusta Kyuhyun.

Hyerim pun hanya mengerjap-ngerjap kaget akan kebohongan yang Kyuhyun sajakan, namun pria itu meliriknya dengan satu kedipan mata.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Sesuai agenda yang sudah dirancang, sehabis Luhan mengajari Taehyung, dirinya pun sukarela jua mengantarkan ayah mertuanya untuk terapi. Tuan Kim pun dituntun dengan hati-hati keluar mobil oleh kedua pria tersebut, diam-diam beliau melengkungkan sebuah senyuman hingga akhirnya proses terapinya dilaksanakan.

Selagi menunggu, Kim Taehyung terus-menerus berceloteh dengan terduduk di sebelah Luhan. “… hyung, kau kali-kali harus bermain sepak bola dengan teman-temanku. Ada sahabatku yang pintar bermain sepak bola, namanya…”

Namun, cerocosan Taehyung tak diidahkan oleh Sang Ipar, Luhan terfokus kepada ponselnya dengan dirayapi oleh aksi gemingnya. Bait-bait hangul tertera di box pesan, membuat Luhan mengembuskan napas—kentara frustasi.

‘Aku tahu aku bodoh, tapi bisakah kau temui diriku? Aku menunggumu di taman yang dulu sering kau kunjungi dengan ayahmu untuk bermain sepak bola. Aku tidak akan pergi sampai kau datang’

Ditengah kegundahannya, sebuah suara menyita atensi Luhan, pun Kim Taehyung yang lekas bungkam dari segala cerocosannya dengan memandang jendela di hadapan keduanya yang duduk di ruang tunggu.

“Ya Tuhan! Hujan! Gunturnya mengagetkanku saja.” ujar Taehyung, tangannya menepuk-nepuk dada sebagai tanda kagetnya tatkala guntur mengaum-ngaum beberapa sekon lalu.

Gemericik air hujan mulai membasahi Seoul, semula perlahan menjadi deras seiring waktu. Refleks Luhan menggigit ranum bagian bawahnya, otaknya hanya dihantui oleh pesan-pesan Jinah yang sudah menyerupai kaset rusak dalam otaknya. Aku tidak akan pergi sampai kau datang.

Tiba-tiba Luhan beranjak, membuat Taehyung mengernyit menatap suami kakaknya yang kentara tengah digerudung keresahan.

“Taehyung,” Luhan melirik sekilas adik istrinya itu, sebuah senyum tipis terulas. “aku ada urusan mendadak. Jadi… emmm… aku harus pergi.”

Acara pamitan itu melihatkan gestur Luhan yang kikuk, kebingungan: antara pergi atau tidak namun tungkai jaka satu itu finalnya mengurai langkah pergi dengan punggung yang nampak digelut resah dan hanya mampu ditatapi bingung oleh Kim Taehyung.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Hiruk pikuk keramaian sebuah restoran menjadi salah satu tempat bersinggahnya Hyerim bersama Kyuhyun dan kawan-kawan kencan buta mereka. Layaknya para remaja, mereka heboh dengan saling bercengkrama mengenai tipe ideal dan sebagainya ditemani oleh samgyeopsal dan soju.

Daniel menjentikan jemari dengan muka berbinar, memaksa para kawannya memberikan atensi padanya.

“Ayo kita lakukan love shot!” usulnya dengan netra berbinar-binar dan segera ditimpali anggukan oleh yang lain dengan semangat—kecuali Hyerim yang mengangguk dengan ala kadarnya.

Yeah, Kim Hyerim ditempat pertama tidak begitu niat mengikuti kencan buta dan sekarang dihadapi keadaan bahwa Cho Kyuhyun—lelaki yang duduk di hadapannya dan malahan menebar senyum manis—adalah patner kencan butanya, dan ugh, Kyuhyun inikan sepupu suaminya. Bagaimana Hyerim bisa nyaman?

“Boleh, boleh,” cecar Ara, kelihatan semangat dengan tangan memegang botol soju yang sudah ludes. “Untuk pasangan pertama kita serahkan kepada botol soju ini untuk memilih.”

“Setuju!” timpal Hyunwoo, mengangkat jempol kanannya. “Dan yang dapat giliran pertama harus melakukan love shot level dua!”

Sarannya disambut pekikan heboh bertanda setuju dari yang lain dan lagi-lagi hanya Hyerim yang kelihatan tidak nyaman dengan menggigit bibir bawahnya. Begini, love shot sendiri adalah tegukan dengan cara menyilangkan tangan ke lawan minum. Sementara bila love shot level dua adalah tegukan dengan cara memutar tangan di kepala lawan minum. Jika terpilih, Hyerim harus melakukan love shot level dua dengan Kyuhyun yang tampak kalem sejak tadi mengubris cecaran yang lain.

Sungguh, Kim Hyerim tidak berharap mendapatkan urutan pertama dimana sekarang jantungnya bergemuruh keras layaknya gong yang dipukul-pukul dengan asa si mocong botol soju yang telah diputar Ara dan dilihat oleh tatapan berbinar oleh yang lain, tidak berakhir menunjuk dirinya—

“HYERIM DAN KYUHYUN!” teriak yang lain kompak dengan kepala berbelok ke pasangan yang dimaksud.

—namun asa seorang Kim Hyerim tidak terwujud kala mocong botol soju memilihnya. Kyuhyun nampak meliriknya dengan senyum tipis, sedang Hyerim memucat dengan tubuh kaku.

Di lain sisi, Joohee sudah menuangkan dua botol berisikan soju dan menyodorkannya pada dua insan tersebut. “Cepat lakukan love shot level dua, bagi kalian mantan boss dan pekerjanya.”

Kata-kata Joohee ditanggapi tawa oleh Kyuhyun, diterimanya gelas kecil berisi minuman keras itu dari Joohee, Hyerim pun melakukan hal serupa walaupun keraguan menyerangnya dan menyebabkan wajah gadis ini memucat.

Perlahan, dengan Kyuhyun yang bergerak lebih dulu dan berpindah duduk di sebelah Hyerim, keduanya mulai melakukan love shot level dua itu. Yang lain menontoni dengan antusias, Ara saja sampai menopang dagu dengan mata berbinar-binar.

Canggung, aroma Kyuhyun mulai kental menusuk hidung Hyerim yang tidak berani bersibobrok pandang dengan pemuda Cho ini. Spasi antara keduanya makin mengendor, samping wajah Kyuhyun kini telah berada di samping wajah Hyerim dengan lengan yang berada di samping leher sisi lain Si Gadis, begitupula Hyerim.

Sebelum meneguk, vokal husky Kyuhyun nan selembut salju berbisik tepat di kuping Hyerim. “Jangan canggung. Ini aku, sepupu suamimu. Bersikaplah santai, okey?”

Rasa tenang mulai menyelimuti hati Hyerim yang mengangguk kecil dengan senyuman tipis. Akhirnya, keduanya meneguk gelas soju masing-masing dan segera disambut tepuk tangan heboh oleh yang lain.

Okey, sekarang kita tentukan urutan kedua dan seterusnya!” tukas Junsu semangat, setelah Hyerim dan Kyuhyun menyelesaikan love shot keduanya.

Ditengah keributan kawan-kawannya yang lain dengan perihal urutan love shot, Kim Hyerim berselam jauh ke dalam obsidian Cho Kyuhyun yang setenang samudra dan terbius oleh senyum manis Si Pria, digendangnya pun hanya gemericik air hujan di luar yang terdengar.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Figur cantik seorang Im Jinah memang tak terelakan di hati seorang Luhan, walaupun sosok bertubuh ramping tersebut terguyur air hujan dengan duduk seperti patung di bangku taman kota yang berada di Jung-gu.

Luhan seperti terjebak dalam sebuah labirin, dengan bodohnya terpesona kembali dengan sosok gadis bejat yang berani-beraninya mempermainkan perasaan cinta lugunya dahulu kala. Langkah berat antara mau-tidak mau itu, terukir menuju sosok Jinah yang sedang memeluk diri sendiri dan menggigil di bawah guyuran hujan.

Dirasa adanya sosok kekar mendekat, Jinah—dengan ranum bergetar—mengangkat kepala dan lekas retinanya disuguhi sosok Luhan dengan payung hitamnya tengah memandang dirinya dengan penuh arti serta luka. Tak mengubris luka yang tersirat, Jinah malah mengulum senyum lebar dan berdiri.

“Aku sudah tahu kau pasti datang karena kau pasti masih menyukaiku.” kata Jinah, dipenuhi rasa bahagia dan nyaris melemparkan diri ke dalam pelukan Luhan bila pria itu tidak lekas menghindar ketika melihat gelagat tersebut.

Tanpa memandang Jinah, Luhan berfrasa dengan lugas: “Pulanglah, aku sudah datang. Kau bisa sakit dengan melakukan hal tidak berguna dan tolol.”

Punggung Luhan hendak menyapanya, langkah pemuda itu hendak membeber spasi jauh dengannya. Tetapi Jinah tak ingin, lekas dirinya mencegat Luhan yang sudah setengah berbalik dengan mencengkram lengannya, perlahan tatapan Jinah berubah sayu.

“Jangan munafik, Luhan!” kelakar Jinah, rasanya likuid hangat hendak mengucur berbaur dengan bulir air hujan. Sedang yang namanya dicatut dalam kelakarannya, tengah bergetar lah tubuhnya tanpa menatap Jinah yang ranumnya bergetar. “Aku tahu kau ke sini karena masih mempunyai rasa untukku, bukan begitu?”

Hati Luhan tertohok, meski penolakan besar juga mendominasi. Dirinya melirik sinis Jinah, rasa nyeri menggerogotinya melihat gadis Im ini terluka dan rapuh. Sekali lagi, dirinya sudah terjebak dalam labirin cinta bodoh yang memenjarakannya. Namun, bak langit dan bumi antara hati dan lakonnya, Luhan menepis kasar lengan Jinah yang mencengkramnya dengan tatapan dingin.

“Jangan berbicara omong kosong, Im Jinah,” ujar Luhan, nadanya menusuk dengan tatapan sedingin es. “Sudah kubilang aku bukan bonekamu!” hardik Luhan, tak enyah merasa lelah.

Lelah merasa dimainkan, lelah karena perasaannya yang campur aduk.

Jinah mengukir senyum pedih sebelum akhirnya dengan lancang merangsek ke pelukan Luhan sambil menumpahkan air mata.

“Aku mencintaimu, meski terlambat. Tapi kau masih mencintaiku, ‘kan? Aku menyesal, Lu.” tuturnya dengan diafragma naik-turun, menghantam keras hati Luhan yang bergeming. “Aku menyesal.” Jinah mengulang.

Kepalan tangan Luhan tercipta. Setelah berperang lama dalam dirinya, Luhan menyentak Jinah, menjauhkan gadis itu dari tubuhnya dan lekas berbalik dengan langkah lebar-lebar. Perasaannya kacau, dan ditengah kekacauan ini dirinya hanya ingin melihat Kim Hyerim, ingin mengganggu gadis itu atau sekedar melihat parasnya.

BRUK.

Mata Luhan membelalak, perlahan tubuhnya berbalik untuk melihat tempat Jinah barusan berpijak dan lantas mendapati tubuh gadis itu sudah ambruk dengan kesadaran melayang ditengah guyuran hujan. Luhan menganga, bingung hingga akhirnya melangkah mendekati Jinah dengan rasa khawatir.

“JINAH!” teriaknya kemudian membawa tubuh gadis itu ke dalam pelukan dan gendongannya, serta-merta Luhan melihatkan wajah khawatirnya.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Oppa, oppa, aku ingin itu!”

Kim Hyerim yang sedang berjalan berdampingan dengan Cho Kyuhyun hanya melirik malas Ara yang berkata manja pada Hyunwoo agar Hyunwoo mau memainkan mainan mesin capit dengan harapan mendapatkan boneka kelinci yang lucu.

Berbeda dengan pasangan-pasangan lain yang telah berpencar, Hyerim dan Kyuhyun kebanyakan bungkam dan tidak tahu harus bagaimana. Udara dingin yang menusuk pori-porinya sore ini, membuat Hyerim memeluk lengannya sendiri dan tingkahnya itu ditangkap oleh iris Kyuhyun.

Segera, Kyuhyun melepaskan sweaternya dan melampirkannya di pundak Hyerim membuat gadis itu menatapnya dengan membelalak. Kyuhyun menyematkan senyum simpul.

“Pakai saja,” kata Kyuhyun, lembut. “aku tahan banting masalah dingin.”

Tak enyah, hati Hyerim menghangat, dicengkramnya sweater tersebut dengan senyum malu-malu, pun kepalanya menunduk.

“Terima kasih, Kyuhyun-ssi.”

Setelahnya, keduanya berjalan kembali mengitari arena time zone dengan melihat ke sekeliling, alih-alih mencoba satu permainan seperti pasang kekasih yang sedang berkencan. Hyerim kelewat canggung dan Kyuhyun yang kelewat tidak pemaksa.

“Apa Luhan tahu?” Kyuhyun mengutarkan pertanyaan yang menggambang tak jelas, Hyerim jadi menatap profil sampingnya dengan mengernyit. Sembari menatap iris Sang Gadis, Kyuhyun berkesinambung berucap akan maksud tanyanya. “Apa Luhan tahu masalah kencan buta ini?”

Pertanyaan tersebut disambut dengan senyum canggung Hyerim, dara ini pun menggeleng perlahan kemudian menggaruk tengkuk.

“Dia bisa marah—eh tapi, tidak juga sih, intinya ya… begitu.” sajak Hyerim, berbelit dengan senyum kikuk.

Kyuhyun pura-pura paham meski well, dirinya memang paham. Keduanya hanya menikah kontrak, jadi tidak masalah dengan perihal begini. Tapi dia jelas tahu akan perasaan yang bersemi dalam diri Hyerim atau mungkin… Luhan? Entah, dirinya hanya menunggu, karena kontrak tersebut bisa saja tetap dipatuhi, bukan? Meskipun jahat sekali pemikirannya.

Selagi memikirkan hal begitu, keduanya melintasi mesin penjapit lain dan tiba-tiba Kyuhyun mempause langkah dengan fokus pada mesin tersebut. Di sebelahnya, Kim Hyerim tentunya menghentikan langkah juga dengan pandang bertanya tetapi lekas paham kala menyorot arah pandang Kyuhyun.

Telunjuk Cho satu ini melayang, tertuju pada mesin capit. “Kau suka boneka yang mana? Akan kudapatkan. Aku raja mesin capit, lho.” agak menyombong, Kyuhyun berfrasa dengan senyuman sedikit angkuh.

Alis Hyerim berjungkit. “Yang benar?” selorohnya dengan intonasi merendahkan. “Kalau begitu aku ingin semua boneka berwarna pink yang ada di sana. Apa kau bisa mendapatkannya untukku?”

Dengusan Kyuhyun tercuat, senyuman percaya dirinya terbit. “Tentu saja, akan kudapatkan untuk patner kencan butaku ini.” imbuhnya, dengan berani pula mengacak-acak rambut Hyerim sebelum menggeser diri ke mesin capit.

Skinship tadi membuat Hyerim meneguk ludah, surainya dia sentuh dan elus dengan rasa kurang nyaman. Dirinya menatap punggung Kyuhyun yang sekon ini terpekur fokus pada sasaran mesin capitnya, hingga finalnya Hyerim membawa diri ke sebelah pemuda itu.

“Woah! Woah! Daebak!” sorak Hyerim dengan wajah terkagum-kagum saat mesin capit itu mencapit satu boneka kelinci warna pink yang kini berada di genggamannya.

Hyerim menganga, Kyuhyun sendiri pun tersenyum puas sebelum kembali bermain.

“Yang itu! Yang itu! Itu pink!”

Dan boneka teddy bear berwarna pink tersebut, berada di kukungan tangan Hyerim sekon ini, dan gadis tersebut berbinar-binar kagum menatap Kyuhyun yang sudah fokus memainkan mesin capit lagi.

“Woah! Yang itu! Itu!”

“Aaaa~, lucunya, aku suka boneka ini!”

“Ya ampun, kau mendapatkannya lagi!”

“Seluruh boneka warna pink sudah kau ambil, kecuali yang itu!”

“Woah! Kau mendapatkannya juga!”

Dan komentar-komentar kagum Hyerim merembet dengan kian banyaknya boneka dalam genggamannya. Dara Kim ini tampak kegirangan membuat Kyuhyun tersenyum lebar pertanda senang. Tanpa sadar, Hyerim melompat-lompat layak anak TK, obsidiannya menatap Kyuhyun dengan senyuman lebar.

“Kyuhyun-ssi! Terima kasih!”

Tak kuasa Kyuhyun tak menahan kekehannya, kembali lengannya terjulur mengacak rambut Hyerim membuat dara satu itu seakan tersadar dan bergeming, manik keduanya bertabrakan kini.

Oppa. Panggil seperti itu. Bukankah kita sedang berkencan sekarang, Kim Hyerim sayang?” guyon Kyuhyun, terkekeh lepas setelahnya dengan masih mengacak surai Hyerim yang membelalak dengan rona merah yang kentara jelas.

“A—iya… oppa.” Hyerim mengimbuhkan panggilan tersebut yang mana membuat perasaan gembira dengan kupu-kupu menggelitik runggu, membelit seorang Cho Kyuhyun yang telah menjauhkan tangan dari surai legam Hyerim.

Baru saja Hyerim mengembuskan napas lega karena Kyuhyun menjauhkan diri dari rambutnya. Ponselnya berdering, panggilan dari adiknya lah yang mengganggu kencan butanya membuat Hyerim mengerutkan dahi dan segera mengangkatnya.

“Halo? Taehyung? Ada apa?” tanya Hyerim karena dirinya dapat merasakan suasana di sebrang tidak baik-baik saja lantaran ribut-ribut tak jelas menyusup ke gendangnya, mau tak mau menggerayangkan pemikiran negatif dalam benaknya.

Dan pemikiran negatif itu benar-benar terjadi, menghantamkan batu ke jantung Hyerim, bahkan seakan jantungnya bergelinding jatuh ke ginjal. Tubuhnya lemas seketika dengan mimik tanpa ekspresi hanya karena perkataan Taehyung yang berisikan:

“Nuna, kau ada di mana? Ayah…” perkataan Taehyung tersendat, jelas sedang menahan tangisan yang hendak pecah. “… ayah collapse dan… keadannya kritis sekarang.”

Ponsel dalam genggaman Hyerim meluncur menabrak lantai saat itu juga.

—TO BE CONTINUED—

PREVIEW NEXT CHAPTER & Author’s Note

Hellowwww, budayakan baca author’s note dulu yaaa sebelum ke preview (kurang baik apa aku coba ini tukang ngasihin preview sekarang). Aku mau minta maaf sebesar-besarnya karena baru bisa update, banyak rintangan hingga kabar Luhan dating—ehm untuk ini, kalian jangan kecewa, FF Luhan masih akan aku tulis dan tentunya dengan cast Kim Hyerim yang mendampingi, jadi aku mah tergantung, pembaca masih bisa baca FF Luhan gak? Aku liat masih ada yang nagih FF ini ya jadi allhamdulilah. Tapi btw, di sini ada yang Monbebe? Fansnya Monsta X? KALO ADA, HOREEE! Aku Monbebe lho sekarang :p bukan karena Luhan dating, bukan, dari dulu juga aku bukan EXO-L (bisa liat di Q & A chapter 14 bahwa fandomku ELF dan ngestan pake banget sama Luhan, sekarang nambah jadi Monbebe) dan bila kalian monbebe apalagi stan Shownu, aku mulai nulis FF dengan cast Shownu dan mungkin semua member Monsta X bcs i luv all of them T~T

Oiya balik ke FF, aku beneran naik ulur banget ngerjain ini. Udah ada setengah, eh Luhan dating. Jadilah begini, dan aku lagi sibuk ngerjain next project yang akan tayang september nanti dan FF ini (Beauty and The Beast) akan kuselesaikan secepatnya (cieee ada yang sedih gak? Hahaha) soalnya untuk mengejar beberapa projectku dan beberapa ffku yang udah dipost bakal aku selesein juga. Pegantinya FF apa? Castnya siapa? Masih Luhan-Hyerim (jangan kecewa kalo udah ngeship mereka lol) lalu genrenya akan banding balik sama Beauty and The Beast, yaitu: Romance—Action—Politic—Melodrama. Yang mau try something new dengan membaca yang berbeda dari FF ini, boleh menanti kok (kayak ada yang mau baca aja lol) dan aku ingin big thanks sekali sama Monsta X yang ngerilis single jepang kemarin yang berjudul Spotlight jadi aku semangat ngerjain FF ini. Lho kok gitu? Ya aku ngerjainnya dengan mood yang semangat sambil dengerin lagunya pas jamkos di sekolah huahahaha. Terima kasih lah pada Monsta X ya kalian yang menantikan FF ini /slapped/ tapi keademan dengan suara syahdu Shownu dan suara merdu Kihyun di reffein Monsta X – Spotlight kepotong karena aku offin lagunya dan berganti, temen cowokku duduk di sebelah aku dengan lagu dangdut -_____- wtf.

Sudah curcolnya. Jangan lupa komen ya. FF ini 2 chapter kedepan akan ada yang di PW dan aku post di blog lho XD

Sekarang, cek ke preview~

“Nona sakit, Tuan. Dia sakit jantung koroner dan membutuhkan donor.”

“A… yah…”

“Dan aku baru menyadari, ketika kau merasa di titik paling bawah dan sedih, kemudian seseorang muncul di benakmu. Itu pertanda kau jatuh cinta padanya. Ya meskipun berat mengakuinya, aku jatuh cinta padanya…”

“Baekhyun-ah, Jinah datang lagi. Dia cinta pertamaku dan aku merasa hatiku kacau. Tapi… saat aku melihatnya, melihat Kim Hyerim menangis. Aku merasa sakit dan tambah sakit ketika melihat bukan aku yang menenangkannya.”

“Kenapa kau datang lagi, Jinah-ya? Apa yang kau inginkan dari anakku?”

Advertisements

Author:

❝The writer is the engineer of the human soul.❞ — Joseph Stalin ¦¦ Literally a korean trash, Luhan's tinkerbell, and Shownu's baby — ©2001

11 thoughts on “FF : Beauty and The Beast Chapter 15 [Maze of Love]

  1. Yeeyyy! Akhirnya ff ini di up juga!^^ aku kangen sama kambing dungunya luhan 😂 gkgkgk panggilan itu lucu banget. Aku merasa jinah itu gak tahu diri dan gak tau malu setelah apa yg dia lakukan ke luhan 😒 terus juga kenapa luhan seperti menutupi perasaan yg mulai tumbuh dihatinya? Akui saja hyerim emang cantik! 😁 aku ga mau luhan terpengaruh oleh jinah…😂 Semangat terus ka~!^^

    Like

  2. Buzettttt akhirnya update jugaaa. Seneng sih FFnya bakal diselesaiin secepatnya yg artinya FF ini bakal lebih cepet di update. Tapi sedih juga bakal pisah sm beauty and the beastt. Masih bakal ada project lain yg castnya Hye-Lu kan?? Yah pokoknya FFnya selalu ditungguu~ 🤓❤

    Like

  3. Akhirnya update juga yey🤗🤗.
    Dari sekian lama nunggu muncul juga.. sumpah aku penasaran sama lanjutannya.. mau liat luhan cemburu wkwk gasabar liat luhan bilng cinta sama hyerim 😍
    Mereka harus hepi ending pokonya wkwk
    Semangat buat upadatenya ya 😆😆

    Like

  4. Dan aku salah satu fans yg sempet berenti baca ff dengan cast luhan.
    Tapi sekarang udah mulai laaah menerima apa adanya hiks

    Dan aku baca di part 15 kan emejing banget looh yaah baca mundur. Tapi gpp deeeeh.

    Seruuuu dan adaaaaa oppakuh tercayang. Kyuuuuuuuu. Aaaakkh seketika kangen banget sama dia. Apa kabarmu di sana oppa????

    Aku salah satu sparkyu wkwkwk/gaknanya/

    Udah aaah tar komen aku jadinya drabble saking kebanyakan wkwkwk

    Lanjuuut baxa niiih

    Like

  5. eonni fanficnya bagus banget diantara semua ffnya luhan yang eonnie buat aku paling suka yang ini,ceritanya bagus bikin penasaran dan bikin baper …. luhannya lucu ditambah kisahnya sama hyerim ….. tetep lanjutin ya ff beauty and the beast nya fighting!!!

    Liked by 1 person

    1. Haduh aku terharu walau aslinya fanfic ini bukan andelan aku hahahah 😿😿😿😿 makasih ya udah baca hehehe. Dilanjut mah tetep tapi lagi masa hiatus sejenak, mau nulis kok semacem phobia sama ms.word huhu

      Btw yg pake nama ova sama luv tuh kamu juga ya?

      Like

Write ur Love Letter . . . <3

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s